• Tidak ada hasil yang ditemukan

JENJANG PENDIDIKAN 2010 2011 2012 7 – 12 SD 93,3 97,93 98,22 13 – 15 SMP 89,06 87,79 88,5 16 – 18 SMA 56,75 61,09 65,43

Sumber : Sulut Dalam Angka 2013

Angka Partisipasi Murni (APM) digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan yang sesuai. Adapun Angka Partisipasi Kasar (APK) digunakan untuk mengetahui banyaknya anak yang bersekolah di

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 10 suatu jenjang pendidikan tertentu pada wilayah tertentu. Tabel APM dan APK adalah sebagai dapat dilihat dalam Tabel 2.5.

Tabel 2.5

APM dan APK Provinsi Sulawesi Utara Menurut Jenjang Pendidikan JENJANG

PENDIDIKAN APM APK

SD/MI 88,01 104,92

SMP/MTs 82,27 93,84

SMA/MA 51,4 75,7

Sumber: Sulut Dalam Angka 2013

Angka Partisipasi Sekolah (APS) ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang telah bersekolah di semua jenjang pendidikan. Makin tinggi APS berarti makin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah. Nilai ideal APS adalah 100% dan tidak akan terjadi lebih besar dari 100%, karena murid usia sekolah dihitung dari murid yang ada di semua jenjang pendidikan pada suatu daerah. Oleh karena itu angka 98,22 itu sudah menunjukkan angka yang sangat tinggi. Namun angka 65,43 pada kelompok umum 16-18 bukan berarti rendah tingkat pendidikannya, melainkan

kemungkinannya adalah tingginya tingkat migrasi sekolah bagi penduduk usia sekolah 16–

18.

Angka APM dan APK menunjukkan penegasan bahwa walaupun tingkat partisipasi anak untuk mengikuti pendidikan sudah tinggi, namun masih juga terjadi perpindahan pendidikan. Hal ini dimungkinkan apabila di daerah tertentu tidak memiliki sekolah yang menjadi rujukan calon siswa. Sedangkan data tersebut juga memberikan pemahaman bahwa peluang untuk tidak melanjutkan pendidikan hingga SMA/MA masih terbuka.

Perbandingan jumlah murid untuk setiap tingkatan pendidikan di Provinsi Sulawesi Utara adalah seperti termuat pada Tabel 2.6.

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 11 Tabel 2.6

Perbandingan Jumlah Murid di Provinsi Sulawesi Utara

Kabupaten/Kota SD SMP SMU SMK Madrasah

Ibdyah Madrasah Tsanawiyah Madrasah Aliyah Minahasa 6.349 5.033 2.504 1.609 56 108 0 Minahasa Selatan 4.736 3.509 1.666 1.724 9 32 0 Minahasa Utara 4.735 3.249 1.804 832 16 13 0 Manado 9.781 7.092 3.578 2.434 332 351 276 Tomohon 1.566 1.953 555 469 10 25 7 JUMLAH 27.167 20.836 10.107 7.068 423 529 283

Sumber: Manado dalam Angka 2013

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) digunakan sebagai alat ukur untuk melihat dampak kemajuan pembangunan, IPM menggunakan empat indikator yaitu Angka Harapan Hidup, Angka Melek Huruf, rata-rata lama sekolah dan pengeluaran per kapita riil. Secara nasional tahun 2012 Provinsi Sulawesi Utara berada di posisi ke-2 nasional dengan IPM 76,95 lebih tinggi dibandingkan IPM tahun 2011 sebesar 76.54. Kondisi IPM antar provinsi di Pulau Sulawesi dapat dilihat pada Tabel 2.7. IPM Provinsi Sulawesi Utara di Indonesia selalu berada di peringkat ke dua setelah Provinsi DKI Jakarta dan di atas Provinsi Riau, DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, dan provinsi lainnya.

Tabel 2.7

Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Sulawesi 2009 – 2012

IPM 2009 2010 2011 2012 INDONESIA 71,76 72,27 72,64 73,29 Sulawesi Utara 75,68 76,09 76,54 76,95 Sulawesi Tengah 70,7 71,14 71,45 72,14 Sulawesi Selatan 70,94 71,02 71,98 72,7 Sulawesi Tenggara 69,52 70 70,38 71,05 Gorontalo 69,79 70,28 70,63 71,31 Sulawesi Barat 69,18 69,04 69,98 70,73

Sumber: Sulut Dalam Angka 2013

Pada bagian kesehatan, puskesmas merupakan unit pelaksanan teknis yang berada di wilayah kecamatan yang melaksanakan tugas-tugas operasional pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan di tiap kecamatan memiliki peran yang sangat penting

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 12 dalam memelihara kesehatan masyarakat. Fasilitas pelayanan kesehatan di Provinsi Sulawesi Utara dari sisi jumlah dapat dilihat pada Tabel 2.8.

Tabel 2.8

Fasilitas Kesehatan di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2013 FASILITAS KESEHATAN 2010 2011 2012

Rumah Sakit - 37 37

Puskesmas 169 173 185

Puskesmas Pembantu 487 551 554

Puskesmas Keliling Darat 155 164 -

Puskesmas Keliling Laut 28 32 -

Puskesmas Rawat Inap 94 81 -

Poliklinik Desa 207 654 -

Posyandu/Balai Kesehatan

- 2235 2295

Rumah Bersalin - 2 2

Sumber: Sulut Dalam Angka 2013

Sedangkan fasilitas kesehatan di Provinsi Sulawesi Utara berdasarkan data yang diperoleh berdasar wilayah, khusus untuk wilayah yang terdampak bencana adalah sesuai dengan Tabel 2.9.

Tabel 2.9

Fasilitas Kesehatan di Wilayah Terdampak

KABUPATEN/KOTA RS UMUM RS KHUSUS RS SWASTA RS TNI/POLRI JUMLAH Minahasa 2 0 2 0 4 Minahasa Selatan 1 0 2 0 3 Minahasa Utara 1 0 2 0 3 Manado 2 2 5 3 12 Tomohon 0 0 2 0 2

Sumber: Sulut Dalam Angka 2013

Keberagaman agama dan kepercayaan di Provinsi Sulawesi Utara memberikan gambaran bahwa kehidupan toleransi dan keselarasan hidup bermasyarakat telah terbangun sejak lama di Provinsi Sulawesi Utara. Walaupun terdapat dominasi penganut agama yang signifikan di Provinsi Sulawesi Utara namun masyarakat dapat menjaga kerukunan hidup bermasyarakat. Hal ini akan mewarnai budaya khas masyarakat Provinsi Sulawesi Utara, secara tabulatif dapat diinformasikan dalam Tabel 2.10.

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 13 Tabel 2.10

Sarana Peribadatan di Lima Wilayah Terdampak

KABUPATEN/KOTA MASJID GEREJA GEREJA

KATOLIK PURA VIHARA LITANG

Minahasa 39 751 131 1 2 0

Minahasa Selatan 56 401 22 0 0 3

Minahasa Utara 58 484 55 0 0 0

Manado 212 523 21 3 19 1

Tomohon 8 75 16 0 3 0

Sumber: Sulut Dalam Angka Tahun 2013

Motto Sulawesi Utara adalah Si Tou Timou Tumou Tou, sebuah filsafat hidup

masyarakat Minahasa yang dipopulerkan oleh Sam Ratulangi, yang berarti: "Manusia hidup

untuk memanusiakan orang lain" atau "Orang hidup untuk menghidupkan orang lain".

Dalam ungkapan Bahasa Manado, sering kali dikatakan: "Baku beking pande" yang secara

harafiah berarti "Saling menambah pintar dengan orang lain".

Dengan semangat saling memanusiakan tersebut ternyata mampu untuk mempercepat proses penanganan darurat dengan peranserta masyarakat dari berbagai wilayah termasuk wilayah kabupaten/kota tetangga. Peran dari tokoh-totoh masyarakat

dan tokoh agama mampu mengimplementasikan Si Tou Timou Tou menjadi gerakan

persaudaraan untuk membantu sesama yang sedang terkena musibah banjir bandang dan tanah longsor.

2.4 Kondisi Ekonomi

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Propinsi Sulawesi Utara pada tahun 2012 adalah sebesar Rp633,65 miliar yang memberikan kontribusi sebesar 34,53 persen terhadap total penerimaan Provinsi Sulawesi Utara yang sebesar Rp 1,83 triliun. Porsi terbesar dari Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Utara tahun 2012 adalah dari pajak daerah yaitu sebesar 87,56 persen. Rata-rata kenaikan harga barang dan jasa dapat diukur dari besarnya angka inflasi. Inflasi Kota Manado tahun 2012 adalah 6,04 persen, angka ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan angka inflasi nasional yang mencapai 4,29 persen. Bila dilihat per bulan pada tahun 2012, maka inflasi tertinggi terjadi pada bulan Agustus yaitu sebesar

2,16 persen dan inflasi terendah terjadi pada bulan September yaitu sebesar –1,58 persen.

Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Utara tahun 2012 meningkat apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan perhitungan PDRB atas dasar harga

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 14 konstan 2000, laju pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara tahun 2012 sebesar 7,86 persen. Nilai PDRB atas dasar harga konstan tahun 2011 sebesar 19,73 triliun rupiah meningkat menjadi 21,29 triliun rupiah di tahun 2012. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku untuk tahun 2012 sebesar 47,20 triliun rupiah. Menurut lapangan usaha, untuk tahun 2012 sektor konstruksi mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 10,29 persen, dan sektor industri pengolahan mengalami pertumbuhan terendah sebesar 5,14 persen. Seiring dengan meningkatnya perekonomian Sulawesi Utara, PDRB perkapita mengalami peningkatan secara signifikan, dimana untuk tahun 2011 sebesar 18,29 juta rupiah meningkat menjadi 19,96 juta rupiah di tahun 2012.

PDRB menurut penggunaan pada tahun 2012, PDRB yang digunakan untuk konsumsi rumah tangga sebesar 44,33 persen, dimana pengeluaran yang digunakan untuk makanan sebesar 24,75 persen dan bukan makanan 19,58 persen. PDRB Penggunaan tahun 2012 untuk ekspor sebesar 39,84 persen, untuk ekspor antar negara sebesar 25,41 persen dan antar pulau/provinsi sebesar 14,43 persen. Untuk impor sebesar 42,83 persen terdiri dari impor antar negara sebesar 0,08 persen dan antar pulau/provinsi sebesar 42,75 persen. Konsumsi pemerintah masih menjadi komponen penting dalam PDRB Sulawesi Utara. Pada tahun 2012, kontribusi pengeluaran untuk konsumsi pemerintah tercatat sebesar 28,31 persen.

Jumlah penduduk miskin di Sulawesi Utara tahun 2012 tercatat sebanyak 189.100 jiwa, menurun dibandingkan tahun 2011 yang sebanyak 194.900 jiwa. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan provinsi lainnya di Pulau Sulawesi, Sulawesi Utara merupakan provinsi dengan persentase jumlah penduduk miskin terkecil, yaitu sekitar 8 persen.

Provinsi Sulawesi Utara pertumbuhan ekonominya tumbuh sebesar 7,86 persen sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2011 yang tumbuh sebesar 7,39 persen. Sementara untuk laju inflasi, provinsi dengan laju inflasi tertinggi di tahun 2012 adalah Sulawesi Utara (Kota Manado), yakni sebesar 6,04 persen.

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 15 Tabel 2.11

Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sulawesi Utara 2012

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 16

2.5 Kondisi Infrastruktur/Sarana Prasarana Umum

Jalan merupakan prasarana pengangkutan darat yang berfungsi untuk memperlancar kegiatan ekonomi. Makin meningkatnya usaha pembangunan menuntut pula peningkatan pembangunan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar hubungan transportasi antar daerah, terutama daerah pedesaan, daerah perbatasan dan daerah-daerah terpencil.

Tabel 2.12

Jalan Kabupaten di Sulawesi Utara

Kabupaten/Kota Panjang Jalan

(Km)

Fungsi Permukaan Jalan

Arteri Kolektor

1. Kabupaten Minahasa 189.131 43.84 145,29

2. Kabupaten Minahasa Selatan 156.900 41,48 115,52

3. Kabupaten Minahasa Utara 166.549 78,34 88,21

4. Kota Manado 68.235 33,91 34,33

5. Kota Tomohon - - -

Sumber: Provinsi Sulawesi Utara Dalam Angka Tahun 2013

Secara umum dapat dikemukakan bahwa kondisi infrastruktur jalan di Provinsi Sulawesi Utara dan khususnya di lima lokasi daerah terdampak bencana bahwa panjang jalan di Kabupaten Minahasa adalah sepanjang 189.131 km, Kabupaten Minahasa Selatan sepanjang 156.900 km, Kabupaten Minahasa Utara 166.549 km, sedangkan Kota Manado sepanjang 68.235 km.

2.6 Bencana Banjir dan Longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014

Bencana banjir dan longsor tanggal 15 Januari 2014 di Kota Manado dan empat

kabupaten/kota lain yang terdampak, mengakibatkan korban 18 jiwa meninggal. BPBD

Provinsi Sulawesi Utara telah mengeluarkan data sebaran daerah terkena dampak bencana di Kota Manado dan empat kabupaten/kota di sekitarnya sebagaimana yang termuat pada gambar tentang area terdampak bencana. Banjir yang umumnya setiap tahun melanda Kota Manado, pada tanggal 15 Januari 2014 telah menenggelamkan sebagian besar Kota Manado.

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 17 Gambar 2.4 : Peta Wilayah Administrasi Provinsi Sulawesi Utara

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 18 Gambar 2.6

Kerusakan akibat banjir bandang yang menghamtam Manado menyebabkan infrastruktur jembatan di Dendengan rusak & mengganggu sistem

transportasi publik (sumber: dokumentasi BNPB)

Secara umum kronologis banjir dan tanah longsor di Kota Manado3 dan wilayah

sekitarnya sesuai dengan laporan dari BNPB sebagai berikut: pada hari Selasa tanggal 14 Januari 2014, terjadi hujan deras disertai angin kencang di wilayah Kota Manado dan sekitarnya sejak pagi sampai tengah malam. Hujan deras disertai angin kencang berlanjut sampai esok harinya tanggal 15 Januari 2014. Curah hujan yang besar telah menyebabkan DAS Sawangan dan DAS Tondano tidak mampu menampung debit air yang besar. Akibatnya pada sekitar pukul 05:30 WITA, air mulai meluap dan secara cepat terjadi banjir di sejumlah wilayah di Kota Manado dan kabupaten/kota sekitarnya. Pada pukul 09:30, banjir bandang disertai arus air sudah meluas ke 10 kecamatan di Kota Manado dan 8 kecamatan di Kabupaten Minahasa, juga mengakibatkan terjadinya tanah longsor di beberapa titik di ruas jalan trans Sulawesi pada Ruas Manado-Tomohon yang merupakan urat nadi perekonomian Provinsi Sulawesi Utara.

Berdasarkan laporan dari BMKG bahwa Bulan Januari merupakan puncak musim hujan di Kota Manado dan sekitarnya seperti di berbagai kota lain di Indonesia. Kondisi musim hujan tersebut ditambah dengan adanya pusat tekanan rendah di utara Provinsi Sulawesi Utara, tepatnya di perairan selatan Filipina (Mindanao Selatan) yang

3

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 19 menyebabkan pengumpulan massa udara di atas daratan Provinsi Sulawesi Utara. Distribusi hujan maksimum berada di lereng-lereng DAS sungai, sehingga meningkatkan debit air sungai (kondisi ini adalah yang tertinggi dibanding kejadian banjir terdahulu). Angka curah hujan di DAS Tondano: 230 mm, sedangkan kondisi aman normal adalah <50mm/hari (di aliran Sungai Tomohon tercatat 200 mm).

Dampak kejadian bencana di Kota Manado sesuai dengan laporan BNPB sangat terasa di sektor infrastruktur transportasi darat. Jalur jalan utama Trans-Sulawesi (via Tanawangko dan Tomohon) terputus, akses jalan di Kota Manado sebagian lumpuh karena adanya jembatan yang putus, material ikutan banjir serta barang rumah-tangga lainnya,

akses jalan yang menghubungkan Manado – Minahasa Utara tersendat akibat longsor, dan

transportasi umum dalam Kota Manado terhambat karena kemacetan parah di berbagai titik akibat banjir.

Dampak banjir pada jalur komunikasi menurut BNPB adalah komunikasi seluler mengalami gangguan, panggilan telepon susah dilakukan dan sering terputus. Namun demikian, penyebaran informasi terbantu dengan adanya radio, meskipun sempat terganggu. Sedangkan keadaan jaringan listrik padam di seluruh kota Manado sejak pagi hingga sore hari di tanggal 15 Januari 2014. Pemadaman listrik juga terjadi di Kecamatan Airmadidi dan Kabupaten Minahasa Utara selama dua hari.

Keadaan jaringan air bersih di beberapa lokasi dilaporkan adanya kerusakan pada jaringan air PDAM. Para pengguna sumur yang mengandalkan pompa air juga kesulitan memperoleh air saat terjadi pemadaman listrik. Fasilitas perkantoran seperti di Gedung Kantor Walikota Manado terendam banjir setinggi 3 meter. Gedung Dinas Sosial, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Badan Ketahanan Pangan terendam banjir setinggi 3-4 meter.

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 20 Gambar 2.7 Peta Sebaran Dampak Bencana Banjir Bandang Kota Manado

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan Longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 21 Gambar 2.8

Kondisi rumah warga yang tergenang di Kota Manado saat terjadi Banjir Bandang. Tinggi air mencapai atap rumah penduduk atau mencapai

ketinggian hingga 4 m (sumber: dokumentasi BNPB)

Disamping itu terdapat sejumlah gedung pemerintah lainnya yang juga terendam banjir. Hal lain yang terkena dampak dari banjir Manado adalah jaringan air bersih (PDAM) menjadi rusak dan fasilitas layanan kesehatan/puskesmas dan lain-lain terendam dan rusak.

Tim UGM4 mengemukakan bahwa longsor terjadi dengan mekanisme luncuran

tanah berukuran pasir lanauan, dengan bidang gelincir breksi turf di wilayah bagian lereng atas (hulu) dan breksi andesit di bagian lereng bawah (hilir). Kedalaman bidang gelincir breksi andesit tersebut kurang dari 3 m. Luncuran tanah relatif kecil, jarang/tidak rapat, sedikit, kedalaman bidang gelincir kurang dari 3 m, massa yang bergerak pasir lanauan hasil pelapukan breksi andesit. Terjadi longsor yang cukup besar pada tebing jalan yang

mengancam putusnya jalur jalan Manado –Tondano di Kecamatan Airmadidi.

Tim juga mengemukakan bahwa batuan tersusun atas produk dari gunung api muda yang didominasi oleh breksi andesit dan endapan piroklastik. Kemiringan lereng

berkisar antara 40o– 60o. Di DAS ini lebih banyak dijumpai adanya titik longsor terutama

di jalur jalan Manado-Tomohon lebih dari 30 titik longsor. Titik-titik longsor terjadi pada

4

Hasil Fact Finding dan Analisis Penyebab Bencana Longsor dan Banjir Bandang Di Wilayah Manado dan Sekitarnya, Oleh: Dwikorita Karnawati & Wahyu Wilopo, Tim Studi Longsor dan Banjir Bandang, Teknik Geologi,

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan Longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 22 tebing di sepanjang jalan ataupun lembah sungai. Dimensi/ukuran dari titik longsor ini dapat mencapai lebar 50 meter dan tinggi 200 meter. Mekanisme gerakan adalah luncuran

tanah (shallow landslide), dengan massa yang bergerak lempung (di beberapa tempat juga

ditemukan bongkah dan berangkal). Bidang gelincir breksi andesit laharik yang sudah lapuk, namun di beberapa tempat tampak masih segar. Kedalaman bidang gelincir

mencapai 4–5 m. Selain itu juga ditemukan adanya kenampakan alterasi pada batuan dasar

pada beberapa lokasi seperti Desa Tinoor, Tomohon.

Titik-titik longsor yang besar, umumnya terjadi pada tikungan alur sungai yang

berada di bagian bawah creek . Zona creek ini merupakan zona akumulasi air permukaan

dan bawah permukaan dari lereng-lereng bukit/perbukitan. Lahan yang longsor umumnya merupakan lahan kebun cengkeh ataupun ladang. Perubahan tata guna lahan di bagian atas lereng juga memicu terjadinya longsor, oleh karena itu perlu adanya sistem drainase yang baik sehingga air tidak masuk ke dalam lereng.

Banyaknya material sedimen yang dibawa oleh banjir dimungkinkan berasal dari hasil erosi tanah ataupun material longsoran dari tebing sungai. Walaupun pada waktu investigasi belum ditemukan longsor yang besar yang menutup alur sungai khususnya di DAS Tondano. Luapan air permukaan ini terjadi karena kurang efektif dan berfungsinya saluran drainase yang ada di lapangan. Namun demikian, perubahan tata guna lahan menjadi lahan perumahan dibagian tengah DAS Tondano akan memberi konstribusi juga terhadap kejadian banjir. Oleh karena itu perlunya penataan wilayah yang tepat dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Pemanfaatan lahan di daerah sempadan sungai sebagai daerah pemukiman juga memicu terjadinya banjir di Manado karena menurunnya kapasitas aliran sungai. Informasi dari BMKG menyatakan bahwa data Curah Hujan (mm) pada tanggal 13-15 Januari 2014 disampaikan dalam Tabel 2.13.

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan Longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 23 Tabel 2.13

Kondisi Curah Hujan Sekitar Kota Manado

NO LOKASI TANGGAL

13 Jan 2014 14 Jan 2014 15 Jan 2014 SEKITAR MANADO Stage of Winangun 1 17 88 Staklim Kayuwatu 5 4 87 Stamet Samrat 11 0 145 DAS SUNGAI BPP Tomohon Utara 27 9 211 Distan Airmadidi 3 90 235

HULU DAS TONDANO

Stageof Tondano 30 0 64

Sumber: BMKG

Berdasarkan data Tabel 2.13 terlihat bahwa curah hujan dalam 24 jam sebelum kejadian cukup tinggi, di mana hujan maksimum terjadi pada daerah aliran DAS yaitu di Airmadidi dan Tomohon. Adapun pada hulu Sungai Tondano dan bagian hilir di Manado curah hujannya lebih rendah dibanding curah hujan yang terjadi pada aliran DAS di Airmadidi dan Tomohon. Kondisi curah hujan 2-3 hari sebelum kejadian masih rendah kecuali di Airmadidi.

Kondisi curah hujan maksimum 24 jam sebelum banjir tanggal 15 Januari 2014 terjadi pada aliran DAS Sungai Tondano di sekitar Airmadidi dan aliran DAS Malalayang di sekitar Tomohon. Curah hujan maksimum tersebut merupakan hujan maksimum yang pernah terjadi pada aliran DAS tersebut. Curah hujan inilah yang memicu meluapnya sungai-sungai yang menuju Kota Manado.

2.7 Upaya Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Provinsi Sulawesi Utara

Menghadapi kondisi bencana banjir dan longsor di Provinsi Sulawesi Utara, beberapa langkah strategis untuk memberikan penanganan kondisi darurat sudah dilaksanakan baik oleh BPBD Provinsi Sulawesi Utara, seluruh jajaran aparat Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Utara, BPBD Kota Manado, Kepolisian, TNI, dan organisasi masyarakat di Kota Manado.

BNPB dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah mendampingi dan memberi perkuatan terhadap Pemerintah Kota Manado sebagai wilayah yang terparah dalam

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan Longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 24 menangani dampak bencana. BNPB juga telah melakukan pengaktifan dan pembentukan Posko Penanggulangan Bencana di Provinsi. BNPB juga melakukan pembentukan Pos Komando di Kabupaten/Kota, posko-posko lapangan (Pos Pengungsian, Pos kesehatan 40

titik, dapur umum) serta media center.

Berkaitan dengan penanganan korban bencana, BNPB melakukan pencarian, penyelamatan, evakuasi korban, penanganan pengungsi, serta mobilisasi personel TNI dan Polri, PNS/SKPD, alat berat, dan perahu karet. Di samping itu BNPB juga melakukan distribusi bantuan dasar antara lain makanan siap saji, ikan kaleng, air mineral, peralatan evakuasi, matras, selimut serta kebutuhan operasional lainnya. BNPB melakukan pembentukan pos pelayanan logistik (obat, MP-ASI, tenaga, dan lain-lain) di dua titik, dan melakukan pembersihan lumpur dan puing.

Upaya tanggap darurat yang telah dilakukan adalah melaksanakan penyelamatan jiwa oleh Tim SAR dibantu TNI dan POLRI serta masyarakat dalam koordinasi Gubernur dan Walikota. Pemenuhan kebutuhan dasar serta pembersihan lumpur dan sampah (debris) sisa banjir serta layanan kesehatan.

BNPB telah memberikan bantuan pendampingan untuk penanganan darurat bencana kepada Provinsi Sulawesi Utara sebesar Rp23.312.039.600,00 dengan rincian sebagai berikut :

1. Dana Siap Pakai (DSP) dalam belanja barang sebesar Rp2.722.500.000,00.

2. DSP dalam bentuk uang sebesar Rp13.900.000.000,00.

3. Bantuan logistik sebesar Rp6.489.539.600,00

4. Bantuan langsung kepada Kota Manado Rp200.000.000,00.

Upaya penanganan darurat yang telah dilakukan dalam rangka bencana banjir adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan Kaji Cepat dengan menurunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) dari masing-

masing instansi terkait;

2. Menyatakan status tanggap darurat dan menentukan masa tanggap darurat selama 14

hari sejak tanggal kejadian, melalui SK Gubernur No. 6 Tahun 2014;

3. Mengaktifkan dan membentuk posko penanggulangan bencana di provinsi melalui SK

Gubernur No. 7 Tahun 2014;

4. Membentuk Pos Komando di kabupaten/kota, pos-pos lapangan (pos pengungsian,

Rencana Aksi Pascabencana Banjir dan Longsor Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 Bab 2 - 25

5. Melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait (BPBD/Dinsos/Dinkes/Dinas PU

serta pemerintah kabupaten dan kota);

6. Pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban dengan mobilisasi alat berat dan

perahu karet;

7. Pendataan dampak bencana (korban dan kerusakan);

8. Peninjauan bersama instansi terkait antara lain; Dinas Sosial, Dinas PU, Dinas

Kesehatan, BPBD Kota Manado, TNI, POLRI, yang dipimpin oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Utara;

9. Mendistribusikan bantuan dasar antara lain: makanan siap saji, ikan kaleng, air

mineral, peralatan evakuasi, matras dan selimut, serta kebutuhan operasional;

10. Mobilisasi dump truck untuk kegiatan pembersihan lumpur, sampah dan puing-puing,

mobil tangki air bersih;

11. Pembersihan lingkungan oleh TNI/POLRI dan masyarakat; Pembersihan lingkungan

oleh TNI/POLRI dan masyarakat; dan

12. Penugasan 5.000 Pegawai Negeri Sipil yang dipimpin langsung oleh Gubernur Provinsi

Sulawesi Utara untuk melakukan kegiatan pembersihan lingkungan.

Dokumen terkait