OMK dengan sifat dinamisnya dapat menjadi katalisator bagi anggota keluarga untuk saling rekat satu sama lain.
Ketiga, dalam mewartakan injil (kerygma). OMK merupakan ujung tombak keluarga dalam hal kepandaian mereka beradaptasi dengan kondisi yang serba
terbuka dan lebih cepat menyerap informasi daripada orangtua mereka. OMK dapat menjadi mediator yang menghubungkan keluarga dengan dunia luar - berdialog dengan dunia luar - dengan tidak meninggalkan tanggungjawab pribadi serta pertimbangan hati nurani yang menjadi landasan moral bersikap dan bertindak. Ketika dunia luar mengintervensi keluarga dalam
Peran OMK dalam Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica)
OMK, NGAPAIN?
“Berkaitan dengan gereja muda, OMK, saya pribadi agak
miris dengan situasi sekarang.Tantangannya luar biasa, terutama tentang teknologi informasi yang lebih menarik ketimbang beraktifitas di gereja atau di keluarga. Anak tidak pernah di rumah, pulang hanya sekedar mandi, minta uang kemudian berangkat lagi, entah ke mana. Yang membuat khawatir karena langkahnya nggak jelas: anak saya sebenarnya ngapain?
Bagaimana merangkul mereka sebagai bagian keluarga di paroki maupun di keluarga kita masing-masing sebagai ecclesia
domestica?”KELU ARGA
Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 21
beragam bentuk dan media, keluargapun berdaya untuk mengintervensi dunia luar dengan teladan hidup Kristiani yang dimediasi oleh OMK.
Keempat, dalam pelayanan (diakonia). Semangat pelayanan harus dimulai dari dalam keluarga.
OMK dapat memulai inisiatif melayani sesama dalam keluarga.
Oleh karena itu, diperlukan kepekaan untuk melihat kebutuhan orang lain di dalam keluarga dan kesediaan utuk memberikan diri sepenuhnya bagi sesama yang membutuhkan.
Sedangkan semangat pelayanan ke luar dapat dimulai dengan terlibat di kegiatan lingkungan atau kelompok kategorial.
Keempat pilar tugas gereja
‘dibalut’ dalam semangat memberi kesaksian iman (martyria) yang bagi OMK dapat mengambil kesempatan untuk menjadi saksi iman melalui usaha dan kerja keras dalam pendidikan dan pekerjaan.
Berbagai potensi yang dimiliki oleh OMK untuk mengambil bagian dalam tugas Gereja
tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik dari keluarga - terutama orangtua, maupun Gereja.
Dengan tetap memperhatikan kondisi keluarga yang khas/
berbeda satu sama lain, ada beberapa kisah dalam Kitab Suci yang dapat menjadi bahan refleksi dan mewakili kondisi batin keluarga-keluarga saat ini, antara lain: kisah mengenai orangtua yang dapat menjadi saluran berkat bagi OMK untuk menjadi pemimpin masa depan dalam Kitab Kejadian tentang Yakub dan Esau (Kejadian 27:1-40). Dikisahkan bahwa Yakub mendapat tawaran untuk merelakan makanan, demi masa depan. Bagaimana Yakub akhirnya mendapat berkat dari bapanya, tampaknya memang dengan cara yang amat licik.
Tetapi yang dipuji dalam kisah itu tentu bukan sekedar kelicikan Yakub terhadap saudaranya, Esau, melainkan bahwa berkat itu ternyata harus dengan cekatan dan lihai diperjuangkan oleh siapapun. Kisah ini sarat dengan peran orangtua yaiyu bapak menjadi saluran berkat bagi anak dan ibu menjadi pendukung terlaksananya karya keselamatan melalui anak-anak mereka.
Di samping itu, orangtua dapat menjadi pendidik dan pemberi sarana kepada OMK
untuk menemukan ‘panggilan hidup’. Peran ini dapat ditemukan dalam kisah Musa (Keluaran 2:11-22). Musa kecil menikmati pendidikan tinggi di lingkungan kerajaan. Pola komunikasi yang luas dan terbuka, dialog yang pribadi dan saling memberikan informasi, tanggap terhadap kebutuhan sesama karena saling membutuhkan merupakan lahan yang subur dalam kehidupan keluarga. Ketegangan dalam suasana istana akhirnya membuat Musa meninggalkan suasana mapan. Ia memasuki padang gurun, yang kemudian menjadi ajang perjuangannya.
Keluarga yang mengarahkan anak-anaknya bagi pelbagai macam kemungkinan seperti ini akan mempersiapkan anak-anak berani menghadapi masa depan yang tidak menentu. Peran orangtua adalah memberikan kesempatan kepada OMK untuk mengatasi persoalan hidup, baik yang bersifat pribadi maupun kelompok/masyarakat, dengan tidak mengintervensi keputusan dan memutus secara sepihak atas nama ‘tanggungjawab orangtua’.
Dan tak kalah penting, orangtua menyertai orang muda dalam menjalankan tugas perutusan di masyarakat. Hal ini dicontohkan oleh ketegaran hati Bunda Maria untuk menyertai Yesus dalam kisah Sengsara/
Jalan Salib. Keputusan pengadilan manusia yang menyalibkan Yesus di Bukit Golgota menguji sifat kemanusiaan Bunda Maria untuk ‘lari’ dari tugasnya dalam menyertai Yesus memenuhi tugas perutusan Allah di dunia, yaitu menebus dosa manusia.
KELUARGA
Salah satu ‘Keluarga Bercahaya’ peserta lomba menghias telur.
(Dok. Pan. 80thn PSO)
KELU ARGA
Berkat kesetiaan dan ketegaran hati Bunda Maria pada kehendak Allah, ketidakadilan dan kedosaan manusia tidak membuatnya berpaling dari tugasnya meski harus turut mengalami penderitaan tak terkira dalam Jalan Salib.
Dengan berbagai dukungan yang diberikan oleh orangtua terhadap OMK, Gerejapun terus-menerus melakukan upaya untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan iman
OMK. Dukungan Gereja yang pertama adalah melibatkan sejak awal orang-orang muda dalam aktivitas-aktivitas dan kepengurusan-kepengurusan Gereja; terlebih mengusahakan bagaimana merangsang orang muda untuk bertanggungjawab terhadap pelayanan gereja.
OMK dilibatkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi sebuah kegiatan dan kepengurusan dari tingkat lingkungan hingga DPP; bukan hanya terlibat sebagai ‘pelengkap’
acara atau kepengurusan.
Sehingga sejak awal OMK belajar memahami seluk-beluk kehidupan Gereja dan menggereja yang pada akhirnya secara aktif mengambil bagian dalam tugas-tugas Gereja di kemudian hari.
Dukungan Gereja yang kedua adalah memberikan pendampingan dan turut mengembangkan kegiatan-kegiatan organisasi OMK di wilayah-wilayah. Kegiatan-kegiatan pastoral paroki secara khusus diarahkan untuk mengembangkan kegiatan OMK di wilayah; dengan mengangkat ciri khas kehidupan OMK yang bertumbuh dan berkembang di wilayah tersebut. Ada harapan bahwa kegiatan OMK di wilayah
tidak meninggalkan nilai-nilai Kristiani yang ditanamkan oleh keluarga serta menghormati kearifan lokal yang dihidupi oleh OMK di wilayah tersebut.
Dari penjabaran di atas, kondisi/tantangan orangtua dan orang muda berjarak satu sama lain dan ruang pribadi semakin besar dapat teratasi bilamana:
pertama, OMK menyadari bahwa mereka memanfaatkan kemampuan dan kesempatan untuk terlibat dalam tugas-tugas Gereja. Kedua, orangtua memberi dukungan secara proporsional terhadap OMK. Terakhir, Gereja memberikan dukungan dengan menempatkan OMK sebagai subyek tata perubahan Gereja yang mampu merespon tantangan zaman. Dengan demikian,
Anggota OMK Ujungberung sebagai panitia lomba volley. (Dok. Pan. 80thn PSO)
Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica) dapat menjadi sarana untuk mewujudkan keselamatan Allah bagi manusia. (*)
Dari berbagai sumber.