• Tidak ada hasil yang ditemukan

10 Keluarga yang Terbuka pada Kehadiran ALLAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "10 Keluarga yang Terbuka pada Kehadiran ALLAH"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 1 DAFTAR ISI

Béwara

E D I S I N O . 1 5

Pengganti Ongkos Cetak: Rp 6.000,00/eksemplar

Langganan 6 eksemplar: Rp 36.000,00 - Langganan 12 eksemplar: Rp 72.000,00

Cara berlangganan yaitu: mengisi formulir berlangganan yang tersedia di Sekretariat Paroki atau kirim email ke [email protected] disertai dengan bukti pembayaran. Tuliskan Nama, Alamat, Telepon dan Alamat Email. Pembayaran tunai disetorkan di Sekretariat, atau transfer ke rekening: BCA cab. A. Yani, no. 437 1800 144 a/n Andreas R. M/Sandra S. H.

IKLAN / UCAPAN

Majalah Béwara Paroki Santa Odilia menyediakan ruang / halaman yang dapat digunakan sebagai sarana promosi Perusahaan, Produk, Jasa yang Anda miliki atau untuk memberi Ucapan Khusus/

Syukur kepada pihak lain. Informasi selanjutnya hubungi nomor 0895 2644 3548.

Tidak menerima iklan bernuansa politik dan unsur SARA. Isi iklan di luar tanggung jawab Redaksi Béwara

Wartawan Béwara pada penugasan selalu dibekali tanda pengenal dan tidak diperkenankan menerima/meminta apapun dari narasumber.

Foto & Konsep: Harsono.

Grafis: Sandra S. Hariadi Model: Evan dan Cindy

Komunikasi Berbagi Menguatkan Iman Kristiani

DESEMBER 2017

Berita Warga Gereja Santa Odilia

32 TTS Berhadiah Sapaan Gembala

Warta Utama 3 Semper Reformanda

Berita Paroki

13 Raker DPP Paroki St. Odilia Penyusunan RKA 2108 12 Setetes Darah untuk Sesama 6 OMK Jaman Now!

4 Orang Muda, Temukan Kegelisahanmu!

Seputar Keuskupan

18 Peran Serta Umat Keuskupan Bandung dalam Pilkada 2018

Psikologi

26 Hadirnya Anggota Keluarga Baru

Karikatur 27 Kang Uyo & Neng Odil Katekese

10 Keluarga yang Terbuka pada Kehadiran ALLAH

Profil Kita 24 Lingkungan Griya Caraka, Meneladani Kemartiran St. Stefanus 25 B. Bambang Bremani, Kisah dan Perjuangan Pesta 80 Tahun PSO

Biografi 23 Santo Stefanus Saksi Kristus Pertama

OMK 28 OMK Antapani Timur Pelayanan Sejak Usia Muda

Bina Iman Anak 30 Apakah Bina Iman dan Remaja Itu?

Catatan Lepas 31 Ziarah Ke Patung Yesus di Vung Tau, Vietnam

Religiusitas

9 Pendarasan Adorasi, “Jezu Ufam Tobie!”

14 Pelayan Tak Lazim dalam Komunitas St. Stefanus

Berita Wilayah

19 Salam Keluarga OMK BER-CAH-aya Keluarga

20 Peranan OMK dalam Gereja Rumah Tangga

(4)

EDITORIAL

Béwara

Komunikasi Berbagi Menguatkan Iman Kristiani Berita Warga Gereja Santa Odilia

TEAM REDAKSI

Béwara diterbitkan oleh Seksi Komunikasi Sosial

Paroki Santa Odilia Pelindung

Pst. E. Bambang Adhi P., OSC Penanggungjawab

Pst. Suryo, OSC Pemimpin Redaksi

Raymon Mudrig Wakil Pemimpin Redaksi

Yulianus Suhartono Bendahara Anastasia K.Y

Staf Redaksi

Agustina Utami, Aninditya Regina, Anthonius Iwan Adhipraja, Firta Yolin,

Laurensia Bertha, Oetomo, Patricia Astrid, Sandra S. Hariadi,

Sisvo Bernardus Fotografer Benedictus, Harsono

Editor

Firta Yolin, Rendra Dwi Jadmaka, Sandra S. Hariadi

Desain/Tata Letak Yoseph Kebe

Iklan Anastasia K.Y

Karikatur Roni Y. Nurak

Tata Usaha Sandra - 0895 2644 3548

Alamat Redaksi Jl. Cikutra 7, Bandung 40124

Telp: 022-7271501 0895 2644 3548 Email & Website [email protected]

www.odiliacicadas.net

Sampurasuuuun...

Selamat Tahun Baru Liturgi 2018.

Gereja adalah kita, dan kita adalah kumpulan umat beriman. Di dalam Gereja selain ada aspek religiusitas, juga sarat aspek organisatorial. Gereja Katolik Roma adalah satu-satunya organisasi dengan skala mendunia dan sangat teratur.

Soliditas dan kelanggengan organisasi Gereja kita bukan karena pertama-tama kontribusi talenta-talenta hebat. Sebab jika demikian, maka kemajuan Gereja akan dengan mudahnya diklaim oleh mereka sebagai hasil karya pribadi-pribadi. Kemajuan Gereja justru adalah sumbangan karya-karya yang didedikasikan bagi Tuhan dalam

kerendahan hati.

Hanya dalam kerendahan hati maka Roh Kudus dapat hadir dan berkarya melalui tangan-tangan manusia. Dan hanya karena Roh Kuduslah, maka hasil-hasil pekerjaan kita bisa menjadi buah-buah Roh. Buah Roh adalah Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan, Kesetiaan, Lemah Lembut, dan Penguasaan Diri.

Fokus Pastoral 2018 adalah Pastoral Wilayah. Gereja ingin secara nyata melihat dan menghadirkan buah-buah Roh di dalam keluarga-keluarga di Wilayah dan Lingkungan.

Kegiatan dan segala program kerja hanya akan berarti bila mampu menghadirkannya. Mari kita mengupayakannya bersama di tempat masing-masing.

Selamat berkarya!

Redaksi

(5)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 3 Sapaan Gembala

Semper Reformanda

Pastor D. N. Tri Suryono, OSC

P

erubahan tata kehidupan dunia yang semakin cepat mau tidak mau berpengaruh juga dalam kehidupan beriman.

Semangat “semper reformanda”

(senantiasa diperbaharui) menjadi semangat dalam Gereja untuk tetap peka terhadap situasi dunia dan tetap bisa terlibat di dalamnya. Cara beriman pun harus senantiasa diperbaharui, sehingga antara beriman dan hidup

keseharian tidak terpisah.

Semangat inilah juga yang mendorong Paroki kita untuk mau terus berbenah. Ada banyak hal baru dicanangkan dan mulai dilakukan seiring dengan perayaan Pesta 80 tahun Paroki yang telah lewat. Yang sangat menonjol adalah usaha Gereja mengurangi sampah plastik (kemasan air mineral dan yang lain) dalam kegiatan-kegiatannya. Bukan hanya di tingkat Paroki, tetapi harus sampai di Lingkungan.

Bahkan seharusnya sampai di tingkat individu. Satu persatu, kesadaran ini harus ditumbuhkan.

Pembaharuan juga meliputi aspek Fokus Pastoral. Dalam Rapat Rencana Kerja Anggaran DPP yang dilangsungkan 18- 19 November yang lalu, telah dirumuskan arah Dasar Pastoral Paroki Odilia untuk 2018. Secara umum Lingkungan dan Wilayah akan mendapatkan prioritas lebih dalam hal kegiatan. Harapannya

agar semakin banyak keluarga yang terlayani dan terlibat. Lebih khusus, Orang Muda Katolik dan pendampingan BIA di tingkat bawah mendapatkan prioritas.

Perhatian terhadap orang muda ini juga sejalan dengan Pastoral Keuskupan Bandung. Kegiatan yang berpusat di Paroki akan dikurangi dan lebih fokus di Lingkungan dan Wilayah.

Tentunya perubahan model pastoral semacam ini akan membawa dampak juga dalam hal keterlibatan dan pembiayaan.

Dengan fokus yang tidak bersifat sentaralistik (Paroki), diharapkan semakin banyak orang yang terlibat di dalamnya. Pengurus DPP sungguh harus menjadi fasilitator dan bukannya pelaksana kegiatan. Seksi-seksi di Paroki harus bisa memfasilitasi dan mendampingi kegiatan pastoral di tingkat bawah. Mereka diharapkan memang menjadi

“tenaga pastoral” Paroki, bukan hanya semacam pengurus suatu organisasi. Pun juga demikian dengan para imamnya. Para imam diharapkan semakin mengenal umatnya supaya semakin “berbau domba”.

Potensi sumber daya manusia di Paroki kita yang sungguh besar (Data SIMU terakhir November: jumlah umat di atas 10.000 jiwa) menjadi harapan perubahan model berpastoral

ini. Peran serta umat tentunya tidak terbatas hanya dalam keterlibatan kehadiran saja, tetapi juga kiranya turut terlibat dalam hal finansial untuk pembiayaan setiap kegiatan. Memang tidak diadakan cara khusus untuk menggalang dana Paroki. Iuran di lingkungan dan kolekte Gereja tetap menjadi dasarnya.

Perubahan pemahaman bahwa Gereja menumpuk uang memang harus dirubah. Kita beruntung bahwa administrasi Keuangan di Paroki tergolong akuntabel dan kredibel. Harapannya di tingkat bawah (Lingkungan dan Wilayah juga kategorial lain) demikian juga adanya.

Kita berharap semoga dengan

“perubahan” model pastoral ini, tahun depan Paroki kita semakin semarak dan bertumbuh. Semakin banyak jiwa-jiwa terlayani dan terselamatkan.(*)

(6)

WARTA UTAMA WARTA UTAMA

Orang Muda,

Temukan Kegelisahanmu!

Oleh: Anthonius Iwan Adhipraja

Istimewakah orang muda di mata Gereja? Ya, sangat istimewa! Semua imam di seluruh dunia memulai karya imamatnya saat mereka muda, sama seperti Tuhan Yesus yang dipanggil dan memulai karya mukjizatnya pada umur 30 tahun, yaitu saat mengubah air menjadi anggur.

N

ah, bagi kamu, ya kamu, yang berumur 13- 35 tahun, dan belum menikah, banggalah karena kamu adalah Orang Muda Katolik.

Istimewanya lagi, Gereja sedang bersiap menyambut Tahun Kepemudaan pada 2019 nanti. Kita tahu, tahun keluarga berlangsung selama tiga tahun dari 2016- 2018, tepat setelah Bapa Suci mengadakan

Sinode Keluarga tahun 2014 dan 2015 yang hasilnya dirangkum dalam imbauan apostolik Amoris Laetitia.

Pada Oktober 2018 nanti, Paus Fransiskus akan mengadakan sinode dengan tema “Orang Muda, Iman dan Panggilan Hidup”. Tema ini dipilih untuk mengungkapkan perhatian Gereja bagi pastoral orang muda sebagai tindak lanjut hasil sinode tentang keluarga. Sinode ini diharapkan dapat menemani orang muda dalam perjalanan hidup mereka menuju pada kematangan, melalui proses discernment (kearifan untuk membedakan baik dan buruk) dan menemukan arah hidup mereka sehingga mereka dapat mencapainya dengan penuh kegembiraan. Orang muda perlu disiapkan sebagai generasi yang akan mengambil bagian dalam membangun Gereja dan masyarakat.

Kamu juga bisa ambil bagian secara aktif dalam sinode ini dengan mengisi survei yang ditujukan bagi orang muda melalui tautan: https://goo.gl/m1ePe9

Pada satu kesempatan, Paus Fransiskus berpesan pada orang muda,”Untuk kaum muda semuanya, tinggalkan jejak di bumi ini. Jejak yang baik. Kalian harus meninggalkan jejak kalian dan bukan jejak yang diberikan orang lain pada kalian.” Jejak ini bisa didorong oleh suatu kegelisahan karena kaum muda melahirkan kegelisahan, namun atas semua itu, Yesus adalah jawabannya.

“Kaum muda-mudi, saya tahu ada sesuatu yang

menggerakkan hatimu dan yang membuat kalian gelisah. Kalian memiliki kemudaan, dan kemudaan melahirkan kegelisahan. Namun apa kegelisahan kalian? Apakah kalian tahu atau tidak? Apakah kalian ingin tahu apa kegelisahan kalian?“ kata Paus Fransiskus dalam pesan itu. Paus lalu mengatakan, kaum muda mesti menemukan Yesus untuk

mendapatkan jawaban atas semua kegelisahan itu.

“Dia,” lanjut Paus, “tidak pernah meninggalkan orang-orang yang kecewa dan putus asa.”

Bagaimana Keuskupan Bandung menyikapi kaum muda? Bapa Uskup Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC. sudah terlebih dulu mengambil inisiatif dengan mengadakan sinode khusus untuk Orang Muda Katolik pada 2016 lalu. Sinode ini pada

dalam tiga tahap.

Tahap pertama diadakan pada 22–24 April 2016 yang dihadiri oleh 1.162 orang muda. Tahap ini diselenggarakan di tingkat paroki, sekolah, kategorial, dan Gereja Mahasiswa. Tahap ini

bertemakan “Quo Vadis Orang Muda Katolik”. Tahap kedua diselenggarakan di tingkat dekanat pada 18–19 Juni 2016 mengambil tema “Orang Muda, Pergilah Keluar” yang dihadiri oleh 370 orang muda.

Sedangkan tahap ketiga merupakan puncak dari sinode mengusung tema “Jadilah Saksi Kristus”

diselenggarakan di Wisma Aloysius, Gambung pada Paus Fransiskus menemui kaum muda pada sebuah kegiatan..(AFP/Vatican Radio)

(7)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 5 WARTA UTAMA

Ch. Ichlas Bachtiar, Wakil Ketua DPP St. Odilia. (dok. pribadii) Vikjen Keuskupan Bandung, Pastor Hilman Pujiatmoko Pr,

memotong tumpeng peringatan HUT RI ke 72 di Paroki Katedral St. Petrus Bandung. (IG @gerejakatedralbandung)

12–14 Agustus 2016.

“Orang muda adalah aset Gereja terbesar kini dan akan datang. Remaja dan kaum muda dipersiapkan Gereja untuk menjadi pemimpin yang matang secara iman,” demikian dikatakan Pastor Yustinus Hilman Pujiatmoko Pr, Vikjen Keuskupan Bandung, saat ditemui Béwara di ruang kerjanya. Saat ini Pastor Hilman sedang disibukkan menjadi bagian dari Tim Tindak Lanjut Sinode OMK. “Saya terlibat langsung bersama kaum muda dalam rapat-rapat dan kegiatan,” ujarnya.

Bagaimana dengan Paroki Santa Odilia (PSO)?

Pastor Kepala Paroki Emanuel Bambang Adhi Prakosa, OSC, mengatakan punya beberapa strategi pastoral untuk OMK. “Strateginya adalah melibatkan umat Lingkungan dan Wilayah. Umat dan pengurus Lingkungan atau Wilayah ambil bagian dan ikut mendampingi OMK. Yang punya dan tahu OMK adalah Lingkungan dan Wilayah, dengan demikian mereka diajak peduli baik OMK atau umat serta pengurusnya. OMK Wilayah atau Lingkungan mulai disapa dan diberi porsi di wilayahnya,” jelas Pastor Adhi. Pastor berharap OMK bisa mewujudkan harapan Uskup untuk dapat berakar, mekar, dan berbuah dalam empat pilar gereja: liturgi, persaudaraan, pewartaan, dan pelayanan.

Sejalan dengan pemikiran Pastor Adhi, Wakil Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santa Odilia Christoforus Ichlas Bachtiar mengatakan arah pelayanan Gereja ke depan akan fokus ke wilayah- wilayah. “OMK itu nanti aktif di wilayah-wilayah, bukan di paroki-paroki. Di Paroki nantinya adalah Seksi Kepemudaan bersama dengan Koordinator- koordinator OMK Wilayah,” ujar Ichlas. “Saat ini, di PSO total ada 3.100 OMK per 17 November 2017. Kami punya Sistem Informasi Manajemen Umat (SIMU). Di situ jelas bisa dilihat berapa orang yang berusia 13-35 tahun dan belum menikah,” terangnya.

Menurut Ichlas, orang muda itu harus selalu

diajak, dilibatkan dan diarahkan. Orang muda punya kreatifitas dan idealisme yang tinggi, perlu ada yang membimbing dan mengayomi. “Waktu saya jadi Korwil (Koordinator Wilayah) Ujung Berung, OMK di sana bilang, “Tenang pak, saya bantu.” Dan betul, mereka aktif terlibat di kegiatan-kegiatan wilayah,”cerita Ichlas. Sekarang ini, OMK selalu diundang di rapat tiga bulanan DPP. “Saya selalu berusaha melibatkan mereka. Mereka juga datang, hanya saja masih kurang menghargai waktu karena datangnya terlambat.”

Saat ini, dari delapan wilayah, satu wilayah belum ada pengurus OMK. Yang sudah ada pengurus OMK adalah Kebun Kangkung, Ujung Berung, Arcamanik,

Cinunuk, Rancaekek, dan Antapani. “Wilayah Cikutra malah belum ada pengurusnya,” tuturnya. Menurut Ichlas, Korwil punya peran penting untuk dapat mendorong dan mendukung OMK wilayahnya masing-masing. Tantangannya sekarang adalah bagaimana Gereja dapat menjadi lebih menarik dan nyaman bagi kaum muda, dan bagaimana Gereja dapat melaksanakan kaderisasi kaum muda yang terencana, terstruktur, dan berkesinambungan.

Bagi kaum muda, seperti yang disampaikan Paus Fransiskus, “Temukan kegelisahanmu dan lihatlah Yesus di ujung sana adalah jawabannya.” Mulailah dengan mendoakan Doa Sinode Kaum Muda 2018 berikut: Tuhan Yesus yang mencintai orang muda, Tuhan Yesus yang dipanggil pada usia muda, Semoga kami mampu berjalan bersama untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Biarlah kami bergandengan tangan untuk mengatasi persoalan-persoalan kami, teman-teman kami dan lingkungan kami. Kami hadir dan Kau ciptakan untuk semua. Amin. (*)

(8)

WARTA UTAMA

Oleh: Daniel Setiawan

OMK Zaman Now!

S

ejalan dengan fokus Pastoral 2018 mendatang dengan tema Pastoral Wilayah, Paroki St.

Odilia memberikan perhatian lebih kepada wadah pengembangan iman khususnya Orang Muda Katolik (OMK) dan Bina Iman Anak (BIA). Béwara hendak menggali bagaimana visi ini bisa disambut oleh umat dan menghasilkan buah yang baik. Untuk itu, beberapa ketua OMK wilayah menyumbangkan pemikirannya melalui kuesioner yang kami edarkan.

Responden kuesioner ini adalah beberapa ketua OMK wilayah di antaranya: Alexander Deonanda Koordinator OMK Wilayah Ujungberung, Theresia Novianty Koordinator OMK Wilayah Rancaekek, Evan Adrianto Koordinator OMK Wilayah Arcamanik, dan Lambertus Febrian Koordinator OMK Wilayah Antapani.

Butuh atau Tidak

Bagaimana sebenarnya anak muda kita memandang organisasi OMK?

A. Apa pentingnya perkumpulan dan kegiatan dalam wadah OMK bagi Orang Muda Katolik?

1. Sebagai wadah bagi orang muda untuk saling kenal, bersosialisasi, dan sharing.

2. Menjadi sarana untuk lebih mengenal hidup pelayanan (Gereja dan sesama) dan lebih dekat dengan Yesus.

3. Membangun skill individu: bekerja dalam

kelompok, yang akan berguna ketika memasuki dunia kerja.

4. Sebagai wadah untuk saling membangun dan menguatkan.

B. Apabila sudah terlibat, apa makna OMK untuk pribadi Anda?

1. Keluarga kedua. Tempat untuk mengembangkan talenta, bercerita, tempat untuk menuangkan kreativitas, untuk berlatih berorganisasi.

2. Bagaimana dan sejauh mana saya bisa terlibat dalam karya pewartaan Tuhan dalam komunitas (sesama), tentunya didasari oleh semangat cinta kasih untuk mengenal Yesus lebih dekat melalui komunitas.

3. Keluarga kedua. Tempat membahas segala aspek masalah, mulai dari masalah yang berkaitan dengan OMK hingga masalah pribadi. Dan tentunya bertambah teman bermain.

C. Apa saja manfaat dalam kegiatan OMK yang tidak ada di organisasi lainnya?

1. Wadah berkumpul bersama saudara seiman yang rentang umurnya beragam. Sangat menarik.

2. Sarana belajar memimpin, belajar melayani dengan ATAS: Evan Adrianto ketua pelaksana RELOAD 4 memberikan plakat RELOAD 4 (29/7/2017) di Arcamanik Bandung. (Dok. Pan.

Reload)

(9)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 7 WARTA UTAMA

rendah hati, bisa mengenal kategorial Gereja, hidup saling menghargai dan memahami (dalam lingkup organisasi), mengenal Yesus jauh lebih dekat lagi dengan retret, rekoleksi, dan lainnya.

3. Cara bekerja sama dengan orang yang lebih tua, cara berkomunikasi, rasa kekeluargaan dan rasa pelayanan untuk Gereja.

Keterlibatan dalam OMK secara implisit sudah dirasakan sebagai panggilan dan sekaligus menjadi sarana bagi kaum muda Katolik, dalam membangun iman pribadi sekaligus memperkaya berbagai softskill.

Potret OMK Zaman Now

Sayangnya, perjalanan OMK Paroki St. Odilia tidak selalu mulus. Berikut gambaran potret dinamika OMK di berbagai wilayah:

D. Bagaimana kondisi OMK di Wilayah/Lingkungan Anda saat ini?

1. Ujung Berung: cukup baik. Anggota sangat semangat dan antusias di setiap acara.

2. Rancaekek: semakin sepi, karena semakin

kurangnya kesadaran kaum muda untuk ikut terlibat.

3. Arcamanik: sedang dalam proses menambah anggota-anggota muda yang siap melayani Gereja, serta membuat acara-acara rutin seperti latihan koor dan jalan bersama.

4. Antapani: masih kurang aktif secara keseluruhan dikarenakan pemuda-pemudi secara umum memiliki minat yang berbeda, tidak adanya suatu tempat yang dapat menyatukan, dan juga pengurus masih kurang aktif untuk berkomunikasi karena kesibukan. Namun demikian, ada juga OMK di beberapa lingkungan cukup aktif, seperti yang ada di lingkungan Antapani Barat dan Antapani Timur. Tugas para pengurus OMK kini dan selanjutnya ialah kembali memperkuat tali persatuan yang sudah ada.

E. Apakah tantangan dalam mengumpulkan teman- teman muda?

1. Ujung Berung: terkendala transportasi, sehingga harus saling jemput. Jarak antar rumah OMK berjauhan melihat wilayah Ujung Berung ada 14 lingkungan, wilayah yang sangat luas.

2. Rancaekek: dalam mencari waktu dan tempat untuk berkumpul. Tempat berkumpul biasanya di Gereja St. Albertus Magnus IPDN Jatinangor, dan umumnya waktu petang. Teman- teman muda yang mayoritas SMP dan SMA sulit mendapat ijin untuk keluar petang hari..

3. Arcamanik: membuat kegiatan di OMK lebih menarik daripada mereka pergi ke mall atau

kegiatan lainnya. Usaha menemukan cara mengubah pandangan anak muda agar tertarik kegiatan yang berhubungan dengan Gereja.

4. Antapani: menghadapi berbagai alasan serta kegiatan-kegiatan pribadi.

F. Apakah menemui kesulitan mengadakan acara?

1. Ujung Berung: dalam hal dana. SDM, birokrasi tentang surat ijin, dan proposal kegiatan, tempat karena harus menyesuaikan dengan jadwal gereja jemaat Kristen lainnya (FKEG di Zipur).

2. Rancaekek: ijin dari ketua wilayah, orangtua teman muda agar dapat ikut serta dan pastor paroki.

Khususnya dalam hal alokasi dana.

3. Arcamanik: bermacam aspek, mulai dari jumlah panitia yang terkadang minim dan juga dana. Namun memiliki solusi untuk berjualan dalam lingkup wilayah untuk mencari dana tersebut.

4. Antapani: kurang lebih sama seperti yang ada di nomor sebelumnya.

G. Teman muda yang enggan bergabung bersama. Apa alasannya?

1. Ujung Berung: sibuk, tidak ada kendaraan, tidak ada yang mengantar, malu belum ada teman di OMK, hujan.

2. Rancaekek: tiga alasan yaitu beberapa teman muda yang sudah kuliah merasa bahwa yang boleh tergabung dalam OMK hanyalah SMP dan SMA, sehingga merasa terlalu tua untuk bergabung.

Padahal usia OMK adalah 13 – 35 tahun; beberapa orangtua teman muda masih menganggap bahwa OMK itu tidak terlalu penting sehingga tidak diijinkan berkumpul; malu atau belum percaya diri untuk bergabung.

4. Arcamanik: rata-rata bermasalah dengan pembagian waktu. Dan ada juga beberapa yang

Acara Reload 2 di Bandung (25/5/2017) sebagai rangkaian acara pre event Camping Rohani. (Dok. Pan.Reload)

(10)

WARTA UTAMA

menganggap kegiatan OMK tidak menarik dan tidak keren.

Ini adalah potret tantangan zaman sekarang.

Ketika pilihan semakin banyak dalam hidup dan banyak di antaranya menawarkan sensasi yang memikat, sehingga semakin sulit membedakan mana yang lebih bernilai. Akhirnya alasan seperti kesibukan dan tidak menarik sering kali menghalangi kaum muda untuk berkumpul dan bersekutu.

Tidak adanya tempat berkumpul juga seringkali menjadi salah satu masalah yang sering muncul di wilayah OMK yang masih berkembang. Namun, OMK mulai mengubah cara pandang kaum muda dengan membuat acara-acara baru yang menarik dan keren, dengan melibatkan kaum muda sebagai

panitia maupun peserta. Jenjang umur orang muda yang berjauhan menjadi salah satu faktor untuk menambah kekompakan OMK, karena perbedaan umur menjadi halangan untuk berkomunikasi dan masuk ke dalam lingkungan dengan umur yang berbeda.

Mari Membangun OMK

Bicara tentang potensi anak muda kita sebenarnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Banyak kegiatan yang ditangani oleh OMK selama ini dan memang mereka telah menunjukkan kreatifitas dan kinerjanya.

Namun memang masih ada beberapa OMK wilayah yang perlu mendapat perhatian.

H. Apa yang bisa dibantu oleh para orangtua untuk

menggiatkan OMK?

1. Ujung Berung: menjadi penasehat dan

penyemangat anggota OMK, pendamping di setiap acara OMK.

2. Rancaekek: orangtua memberi support dalam setiap acara agar dapat berjalan dengan baik;

membantu OMK dapat mencapai visinya untuk terlibat dalam karya pelayanan; memotivasi agar dapat mencetak pribadi-pribadi yang unggul dalam hidup menggereja dan bernegara.

3. Arcamanik: bantuan/dukungan seperti menemukan solusi masalah yang belum pernah anak muda alami, contohnya cara berkomunikasi dengan orang, dan menjadikan penghubung antar orangtua.

Yang terpenting mendukung 100% anaknya untuk melakukan pelayanan untuk Gereja dalam wadah OMK.

Ke depannya, diharapkan baik orangtua maupun Gereja memberikan dukungan bagi kaum muda

untuk mengikuti dan aktif dalam OMK. Dukungan berupa motivasi bagi kaum muda untuk mengikuti OMK maupun acara yang diadakan oleh OMK.

Sedangkan Gereja dapat mendukung dalam hal perijinan, tempat, dana, maupun pelatihan bagi OMK agar dapat semakin bertumbuh dalam iman serta siap memasuki lingkup yang lebih besar, yaitu hidup bermasyarakat.

Dalam beberapa kesempatan, Pastor Adhi pernah berkelakar, “Kalau kita buat acara untuk orang tua, anak-anak ditinggal di rumah. Tapi kalau acara anak-anak, pasti orangtua ikutan ingin lihat.”

Anak-anak muda adalah masa depan Gereja. Adalah tanggung jawab seluruh warga Gereja agar mereka hidup dan berkarya dalam Gereja Katolik. Terutama para orangtua yang dalam janji perkawinan mereka berkomitmen untuk mendidik anak-anak yang dipercayakan Tuhan secara Katolik.(*)

OMK seluruh wilayah Paroki Santa Odilia menyaksikan acara RELOAD 3 di Jatinangor, Bandung (17/6/2017) sebagai rangkaian acara pre event Camping Rohani. (Dok. Pan.Reload)

(11)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 9 RELIGIUSITAS

“Barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap Tubuh dan Darah Tuhan” (I Kor 11:21).

SEREM

, takut ...!”, begitu mungkin respon Jemaat Korintus saat mendengar teguran keras Rasul Paulus.

Sampai sekarangpun teguran ini tetap berlaku. Kita diingatkan untuk menyambut Komuni Kudus secara pantas, sebab yang kita sambut itu Tubuh Tuhan Yesus Kristus sendiri, Sang Raja Alam semesta.

Sadar akan hal ini, Gereja memberikan aneka aturan dalam menyambut Komuni Kudus. Ada aturan, satu jam sebelum sambut komuni kita berpuasa dengan tidak makan/

minum. Hal ini diatur dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) nomor 919.

Jika suara hati mencecar diri penuh dosa sehingga

merasa tidak pantas menyambut Komuni, Gereja menawarkan Sakramen Pengakuan Dosa. Lewat Sakramen ini kita akan menerima pengampunan. Kerahiman-Nya mengubah diri yang hina ini menjadi istana-Nya yang kudus.

Bandingkan, kandang hina di Betlehem diubah menjadi ‘istana’

tempat Yesus dilahirkan dan para raja menyembah.

Latihan rohani satu lagi yang bisa menjadikan diri semakin layak menyambut Sakramen Maha Kudus adalah dengan berdiam hening di ruang Adorasi.

Santo Yohanes Paulus II merasa

perlu membudayakan kebiasaan adorasi yang telah berabad-abad dilakukan para kudus, seperti Santo Yohanes Maria Vianney.

Makanya, tanggal 2 Desember 1981 Paus Yohanes Paulus II meresmikan ruang Adorasi Abadi di Basilika Santo Petrus Vatikan.

Saat itu, ia juga menghimbau agar di setiap paroki di seluruh dunia diselenggarakan gerakan Adorasi Abadi.

Sesuai himbauan Bapa Paus yang Santo itu, Keuskupan Bandung sekarang telah mempunyai dua Gereja Paroki

Pendarasan Adorasi,

“JEZU UFAM TOBIE!”

yang mempunyai ruang Adorasi Abadi. Pertama Gereja Paroki Pandu, dan yang kedua Gereja Santa Odilia Cicadas. Namun sejak diresmikan oleh Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC. 1 Oktober lalu, ruang adorasi yang

ada di Gereja Paroki Santa Odilia belum secara penuh digunakan.

Baru beberapa kelompok yang sempat memanfatkannya, salah satunya kelompok calon pelayan tak lazim pembagi komuni periode 2017/2020.

“Jezu Ufam Tobie ... Yesus Engkau andalanku ....!”, begitu pendarasan saya secara pribadi dalam batin di ruang Adorasi pada Jumat malam (17/11), saat saya mendapat kesempatan mengikuti gladi rohani para calon pelayan tak lazim pembagi komuni periode 2017/2020. Bersama seluruh calon prodiakon, saya dilatih agar semakin mampu menghayati kehadiran Tuhan dalam Sakramen Maha Kudus. Hal itu dilakukan antara lain dengan mengikuti Ibadat Tobat, menerima Sakramen Pengampunan Dosa, dan bersembah sujud kepada Sakramen Maha Kudus di Ruang Adorasi dari pukul 18.00 hingga 00.30

Lewat gladi rohani ini

diharapkan para calon pelayan tak lazim pembagi komunisemakin mampu membangun pribadi yang pantas menjalankan tugas suci, membagikan Komuni Kudus, yaitu Tubuh Tuhan Yesus sendiri.

Semoga saya pantas menjalankan tugas suci ini. Mohon doanya (*) Calon Pelayan Tak Lazim Pembagi

Komuni periode 2017/2020 bersembah sujud di hadpan Sakaramen Mahakudus di Ruang Adorasi Paroki St. Odilia - Bandung.

(Dok: Béwara/Y. Suhartono) Oleh: Yulianus Suhartono

(12)

Oleh: Fransiskus Ngadilan

Keluarga yang Terbuka

pada Kehadiran ALLAH

KATE KESE

BAHAN PERTEMUAN UMAT MASA ADVEN 2017

KOMISI KERASULAN KITAB SUCI KEUSKUPAN BANDUNG

Pengantar

Masa Adven bukan sekedar masa persiapan menyambut perayaan Natal yang meriah, namun menghadirkan

kembali pengharapan panjang kedatangan Mesias yang kedua pada akhir zaman (KGK 524).

K

omisi Kerasulan Kitab Suci (K3S) Keuskupan Bandung dalam kata pengantar Bahan Pertemuan Umat mengutip ajaran Santo Bernardus dari Clairvoux, bahwa ada tiga kedatangan Tuhan ke dunia.

Pertama kedatangan Tuhan dalam peristiwa inkarnasi yaitu saat Allah menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus. Lalu yang kedua adalah saat akhir zaman sebagai Raja Semesta Alam. Dan yang ketiga adalah saat Ia hadir dalam hidup kita, yaitu saat kita menerima- Nya, mendengar sabda-Nya dan menjalankan kehendak-Nya.

Tanda penerimaan itu tampak saat kita menerima pembabtisan.

Kedatangan Tuhan dalam bentuk demikian kita rayakan dalam perayaan Natal.

Masa Adven tahun ini hanya tiga minggu, yaitu 3-24 Desember, dan pada sore harinya sudah masuk pada perayaan Natal. K3S Keuskupan Bandung bersama

Komisi Kateketik menyusun buku panduan untuk tiga kali pertemuan dengan masih

berpedoman pada Fokus Pastoral Keluarga dengan pokok renungan:

• Suka Cita atas Hidup Baru (Luk.

2:1-20)

• Tetap Setia dalam Tantangan (Mat.2:13-23)

• Mendidik dalam Kesalehan (Luk.

2: 41-52)

Suka Cita atas Hidup Baru

“Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala- gembala itu kepada mereka.

Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang dikatakan kepada mereka.” Luk. 2:18-20.

Lukas menyampaikan bahwa Mesias yang lahir itu sesuai dengan yang telah tertulis dalam Kitab Suci. Yesus lahir dalam situasi yang miskin, baik materi dan sosial. Ia lahir dalam suasana asing, bukan dalam dekapan kehangatan keluarga besar. Maka tak mudah manusia mengenal Yesus sebagai Sang Mesias tanpa

bantuan Allah.

Ada tiga reaksi atas peristiwa kelahiran Yesus. Yang pertama reaksi para gembala. “Mereka pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti diberitahukan Tuhan kepada kita.”

(Luk.2:15). Setelah menyaksikan sendiri, mereka dipenuhi suka cita dan menjadi pewarta. Yang kedua dari mereka yang mendengar apa yang dikatakan para gembala.

Ayat 8: “Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.” Reaksi ketiga dari Maria. Ia tak mau larut dalam suasana gegap gempita, tidak terlena dalam suka cita.

“Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu dalam hatinya dan merenungkannya.” Luk. 2:19.

Kelahiran senantiasa membawa suka cita luar biasa, sebuah ungkapan syukur atas hidup baru, atas kehidupan yang terus dianugerahkan Allah ke dalam dunia. Inilah sebuah tanda keterbukaan Allah yang hadir dalam keluarga.

Tetap Setia dalam Tantangan

“Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggalah di sana, sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu

(13)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 11

untuk membunuh Dia.” Mat. 2 13.

Injil Matius sebagai “Injil Kerajaan Surga” mengajak kita merenungkan kedatangan Kerajaan Surga dalam diri Yesus Kristus. Dalam pertemuan kedua ini kita merenungkan bahwa Yesus Kristus adalah pemenuhan nubuat dalam Kitab Suci Perjanjian Lama.

Sejak awal kelahiran-Nya, Yesus mengalami ancaman penganiayaan, penyingkiran ke Mesir, pembunuhan anak-anak di Betlehem. Kekuatiran Herodes akan datangnya raja baru yang beritanya dibawa oleh tiga raja membuatnya memerintahkan membunuh semua bayi yang di bawah 2 tahun dengan harapan Yesus ada di antaranya. Setelah Herodes mati, rasa takut tetap ada. Yusup mempunyai firasat bahwa Arkhelaus yang menggantikan ayahnya sama kejamnya. Atas bisikan ilahi ia tinggal di Nasaret di daerah Galilea. “Ia di sebut orang Nasaret.” Mat.3:23.

Pengungsian ke Mesir

menjadikan Yesus senasib dengan banyak tokoh dalam Perjanjian Lama, misalnya Abraham, Yusuf, dan Yakub. Namun ancaman yang dialami Keluarga Kudus tidak membuatnya menjauh dari tradisi hidup beriman, tetapi justru menjadi semakin kuat.

Kita juga belajar dari Yusuf akan kesetiaannya pada Allah yang bersabda lewat mimpi.

Kehidupan keluarga Kristiani jaman sekarang juga tak lepas dari berbagai kesulitan, penganiayaan dan ancaman. Kita mau belajar dari Keluarga Kudus bagaimana dalam kesulitan tetap berpegang pada iman, harapan, dan kasih akan Allah sebagai tumpuan hidup.

Mendidik dalam Kesalehan

“Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat- Nya dan besar-Nya, dan semakin

dikasihi oleh Allah dan manusia.”

Luk.2:52.

Injil Lukas memaparkan adegan terakhir tentang kanak-kanak Yesus, sekaligus pembuka kisah berikutnya. Bait Allah, perjalanan ke Yerusalem, dan relasi Yesus dengan Allah Bapa, merupakan tiga pokok renungan.

Kisah Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah agak mudah untuk dipahami karena mirip dalam hidup kita sehari-hari.

Yusuf dan Maria wajb berziarah seperti yang diatur dalam hukum.

Kesempatan ini merupakan pendidikan keluarga khususnya bagi anak laki-laki untuk meresapi dan mempraktekkan nilai-nilai keagamaan leluhurnya.

Selepas perayaan usai, Yesus tertinggal di Yerusalem. “Segala sesuatu yang ditulis oleh para Nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi.” Luk.18:31. Yusuf dan Maria cemas atas kehilangan anaknya. Secara simbolik Lukas menyebutkan “sesudah tiga hari”

Yesus ditemukan di Bait Allah.

Ia sedang bersoaljawab dengan para alim ulama yang kagum akan kecerdasan Yesus.

Setelah Yesus ditemukan, hal yang mencengangkan yaitu jawaban Yesus,

“Mengapa kamu mencari Aku?

Tidakkah kamu tahu

bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”

Yusuf dan Maria sepenuhnya tahu tentang relasi mesra antara Yesus dan

Bapa-Nya. Jika sehingga secara

manusiawi orang akan marah dan tersinggung, namun tidak demikianlah Maria.

Kisah ditutup dengan Yesus pulang bersama kedua orangtua- Nya dan tetap hidup dalam asuhan mereka. Asuhan dalam suasana religius itulah yang membentuk Yesus tumbuh menjadi pribadi yang penuh hikmat serta dikasihi oleh Allah dan manusia.

Kita dapat belajar dari Keluarga Kudus bagaimana mendidik keluarga dalam suasana religius. Kiranya dapat menjadi permenungan bagi keluarga Katolik yang sering menuntut anak-anaknya dalam mengejar prestasi dalam berbagai bidang ilmu dan ketrampilan. Jangan lupa, “kompetensi rohani”

merupakan bagian penting dalam menumbuhkembangkan keluarga Kristiani yang sejati.(*)

Sumber: Masa Adven 2017 - Bahan Pertemuan Umat - K3S Keuskupan Bandung

KATEKESE

(14)

BERITA PAROKI

D

onor darah merupakan proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela yang biasanya digunakan untuk transfusi yang sebelumnya telah diproses dan/atau disimpan di bank darah. Donor darah merupakan proses sederhana akan tetapi memiliki manfaat yang luar biasa untuk orang lain yang membutuhkannya. Waktu yang dibutuhkan untuk donor darahpun tidak lama yakni sekitar 8-10

Oleh: Luciana Septiani D. P. dan Arvin Avelianus

Setetes Darah Untuk Sesama

menit.

Tidak sedikit orang yang keberatan saat mendonorkan darahnya, dan banyak pula yang sebetulnya memenuhi syarat berdonor tetapi kurang memiliki keberanian atau mungkin malas untuk berdonor. Namun, ada sebagian orang yang memiliki niat kuat untuk berdonor terhambat karena tidak memenuhi syarat sebagai pendonor seperti berat badan tidak mencukupi batas

minimal yaitu 45 kg, atau karena faktor lain seperti tekanan darah, dan lainya.

Mudika Santa Odilia bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI)

mengadakan acara donor darah di SD Santo Yusup Cikutra (12/11).

Acara ini merupakan kegiatan rutin Mudika Santa Odilia. Donor Darah ini dilakukan sebagai rasa cinta kasih OMK kepada orang-

orang yang sangat membutuhkan kepedulian kita. OMK mengajak seluruh umat Paroki Santa Odilia untuk ikut berpartisipasi mendonorkan darahnya supaya dapat membantu mereka yang mungkin sedang mempertaruhkan hidupnya demi orang lain.

Jumlah pendonor yang antusias mengikuti kegiatan ini ada 38 orang akan tetapi jumlah labu yang diterima hanya 25 buah.

Hal ini semakin mendorong kami untuk terus mendorong umat agar dapat lebih tergugah untuk mendonorkan darahnya. Perlu kita ketahui bahwa mendonorkan darah tidak hanya bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan darah itu. Tapi kita sebagai

pendonor, turut mendapatkan manfaat besar ketika rutin mendonorkan darah. Sejumlah orang merasa sakit dan lelah sehabis mendonorkan darah.

Percayalah, sakit dan lelah yang dirasakan itu hanyalah perasaan sesaat. Ketika Anda membuang itu jauh-jauh, maka beberapa manfaat kesehatan akan segera Anda dapati selepas mendonorkan darah.

Ayo umat sekalian! Jangan lewatkan donor darah selanjutnya yang akan diselenggarakan pada bulan Februari, Mei, Agustus, November 2018. Bawa serta sanak saudara, rekan, serta umat lingkungannya untuk mendonorkan darah. Karena setetes darah kita berguna bagi mereka.(*)

Para pendonor sedang diambil darahnya oleh petugas PMI Kota Bandung di salah satu ruang kelas SD St. Yusuf, Cicadas - Bandung. (Dok./Luciana & Arvin)

(15)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 13

D

emikian Pastor Adhi berpesan ketika menutup rangkaian acara Raker DPP Santa Odilia di Wisma Shalom (18-19/11). Selain itu ditambahkan pula bahwa kita adalah bagian dari Gereja Katolik yang satu, kudus dan apostolik. Karenanya ada prinsip Subsidiaritas dan Kolegialitas. Subsidiaritas artinya sebuah masalah bila bisa diselesaikan di level bawah tidak perlu dieskalasi ke level di atasnya.

Sedangkan sifat kolegialitas artinya kita bersama-sama dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Karenanya, setiap program yang diajukan sebaiknya bisa bersinergi dengan bidang-bidang yang lain.

Hal ini tampak dalam kerangka formulir Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) yang memiliki format semacam ini: (tabel 1)

Raker DPP kali ini memiliki

agenda menyusun RKA 2018.

Sebanyak 48 dari 53 anggota DPP yang berpartisipasi menyusun dan melaporkan RKA masing- masing bidang dan seksinya.

Sebagian agenda meneruskan kegiatan rutin, namun juga ada yang mengusulkan berbagai ide dan kegiatan yang menarik untuk tahun 2018 mendatang.

Beberapa hal penting adalah sosialisasi tentang kondisi

keuangan paroki yang cenderung defisit, progres pelaksanaan SIMU (Sistem Informasi Manajemen Umat) yang perlu lebih didukung oleh umat, info terkait aset gereja (gedung, makam, dll) dan gedung parkir baru. Kita akan menikmati penggunaan gedung parkir baru pada saat rangkaian perayaan Natal mendatang.

Pada 2018 DKP Keuskupan Bandung memiliki fokus pastoral

“Keluarga yang Berkarya di Masyarakat”. Di Paroki, fokus pastoral adalah “Pastoral

Penyusunan RKA 2018

RAPAT KERJA DPP PAROKI SANTA ODILIA

No Deskripsi

Program Sasaran/Tujua

n Waktu Sinergi dengan Anggaran

biaya Keterangan Penanggung

jawab

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

“Bikin rencana kegiatan itu semakin banyak jumlahnya tidak selalu lebih baik. Tidak perlu banyak tapi yang penting bisa berguna bagi umat dan bisa dilaksanakan. Jangan sampai di awal tahun bikin rencana kegiatan banyak, tapi sejalan dengan waktu banyak

yang skip/tidak terlaksana.”

Wilayah”. Ini berarti pusat

kegiatan dan pembinaan akan mengedepankan kepentingan Wilayah dan Lingkungan. Lebih tajam lagi, berbagai kegiatan dan pengembangan dilakukan dengan fokus OMK dan BIA di tingkat Wilayah dan Lingkungan.

Paroki Santa Odilia memiliki jumlah umat yang besar dan terbagi dalam jumlah Wilayah dan Lingkungan yang banyak.

Karenanya sudah selayaknya fokus kegiatan gereja bukan melulu terpusat di Paroki, tapi sebaiknya terdesentralisasi. Kita akan

merubah pola dinamika gereja dan berharap lebih banyak perhatian diberikan kepada Wilayah dan Lingkungan.

Mari kita semua turut

mensukseskan program-program Paroki Santa Odilia ini agar Gereja kita semakin berkembang dan keluarga-keluarga Katolik semakin bercahaya dalam Iman, Harapan, dan Kasih.(*)

Tabel 1, Kerangka formulir RKA Oleh: Raymon Mudrig

ATAS: Seluruh peserta RKA berfoto bersama disela-sela RKA.

KIRI: Pastor Adhi memberikan presentasi. KANAN: Perwakilan Mudika menyampaikan pertanyaan. (Béwara/Raymon)

BERITA PAROKI

(16)

BERITA PAROKI

S

ebanyak 71 orang dari 85 calon yang berasal dari delapan Wilayah atau 61 Lingkungan se-Paroki Santa Odilia dilantik Pastor Paroki, Romo Emanuel Bambang Adhi Prakosa, OSC. dalam Misa Adven Minggu Pertama, sebagai Pelayan Tak Lazim Pembagi Komuni (2/12).

Mereka dilantik berdasarkan Surat Persetujuan Uskup Bandung No.198.Sps/Mgr/XI/2017 tanggal 28 November 2017.

“Ya, kami bersedia!” demikian suara lantang para calon

Pelayan Tak Lazim menjawab

‘tantangan’ Pastor Paroki perihal kesanggupannya melaksanakan tugas suci.

Butuh Kebulatan Hati

Respon dengan kebulatan hati seperti itu memang syarat mutlak. Alasannya, membagi Komuni itu tugas sangat mulia.

Tidak ada seorangpun yang berhak membagi hosti, kecuali mereka yang tertahbis, seperti

Uskup, Imam, dan Diakon. “Saya sebagai seorang imam tanpa ada wewenang dari Uskup, tidak berhak untuk itu,” ungkap Romo Adhi.

Hal ini ingin mengungkapkan bahwa Gereja Katolik sangat menghormati Sakramen Maha Kudus. Penghayatan akan hal ini senantiasa harus dilatih dan digali oleh seluruh umat lewat ketekunan latihan hidup rohani, terlebih bagi para Pelayan Tak Lazim yang telah dengan lantang berjanji di depan Altar untuk bertugas dalam pelayanan membagi Komuni.

Tidaklah heran pada 25 Maret 2004, Konggregasi untuk Ibadat dan Tata Tertib Sakramen bekerjasama dengan Konggregasi Ajaran Iman menerbitkan instruksi

“Redemptionis Sacramentum”

(Sakramen Penebusan) yang membahas para Pelayan Tak Lazim Pembagi Komuni bertugas, misalnya dalam pelayanan Sabda;

menyampaikan kotbah dalam

perayaan liturgis; termasuk membagikan Komuni Suci; dan mengantar Komuni Suci dalam pelayanan orang sakit, apabila imam berhalangan.

Bekerjalah Sesuai Pedoman

“Para Pelayan Tak Lazim, jangan sampai melampui batas.

Bekerjalah sesuai pedoman. Tugas pelayanan hanya untuk umat di Wilayah Paroki Santa Odilia yang membentang dari Cikutra hingga Rancaekek. Jika ada yang bekerja tidak sesuai pedoman, saya akan usulkan agar Uskup mencabut SK- nya,” tegas Romo Paroki.

Mendengar penjelasan seperti itu, para Pelayan Tak Lazim masa bakti 2017/2020 merasa semakin diteguhkan. Hal ini terlihat, selama Perayaan Ekaristi mereka nampak aktif terlibat, baik saat menyanyikan lagu maupun saat menanggapi setiap ajakan imam.

Semua disuarakan lantang, menggelegar.

Pelayan Tak Lazim

dalam Komunitas St. Stefanus

Oleh: Yulianus Suhartono

ATAS: Pastor Adhi, OSC memberikan SK Pengangkatan kepada Denny Mamahani, Koordinator PTL-PK.

KIRI: Berkat Pastoral bagi pelayan baru yang baru mengucapkan janji tugasnya.

(Béwara/Yos_Kebe)

(17)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 15

Selepas Perayaan Ekaristi, Felix Suhartono mampu menggiring dan memandu acara ramah tamah di Aula Paroki secara runtut, riang, ringan dan humor berbobot.

Para Pelayan yang habis masa baktinya duduk berbaur dengan para Pelayan Tak Lazim yang baru dilantik. Mereka tampak asyik saling berbagi cerita.

Bekal Perjalanan Hidup Kedua A. Sumeri Chandra yang telah selama enam tahun bertugas sebagai Pelayan Tak Lazim Pembagi Komuni ini pun mengungkap kisahnya. Mantan pegawai Pertamina ini sebelum

purna bakti, bercita- cita bila sudah

pensiun ingin membaktikan diri dalam kegiatan

menggereja untuk

bekal

perjalanan hidup yang kedua.

Bersyukur, ternyata doanya terkabul. Lebih bersyukur lagi, istri tersayang, Ikah Sumekah Sari maupun anak- anak mendukungnya. “Pernah terjadi suatu ketika keluarga ada rencana ingin jalan-jalan ke luar kota. Tetapi tiba-tiba saya ada panggilan tugas memimpin upacara penguburan. Saat itu Istri dan anak-anak dengan suka cita membatalkan acara keluarga,”

ujarnya.

Dipicu Peristiwa Tragis

Lain halnya pengalaman Ktut Sukarno. Ia menjadi Pelayan Tak Lazim Pembagi Komuni sejak Mei 2011 dan tahun ini tidak bisa diperpanjang lagi, karena sudah 2 periode/6 tahun berturut-turut.

Ia merasa sadar diingatkan dan terpanggil untuk lebih melayani Tuhan sebagai Pelayan Tak Lazim Pembagi Komuni, setelah

menghadapi peristiwa

tragis yaitu dalam waktu

empat bulan,

dua orang yang

sangat dicintainya, yaitu istri dan anak laki-lakinya yang dipanggil Tuhan tahun 2010. “Namun lewat pelayanan suci ini, banyak suka cita yang diperoleh!” ungkapnya.

Komunitas Stefanus

Romo Paroki menyampaikan Pelayan Tak Lazim yang baru saja bisa berhimpun dalam suatu komunitas dengan nama Komunitas Stefanus. Harapannya, dalam komintas ini para Pelayan Tak Lazim bisa menggali inspirasi dari Santo Stefanus.

ATAS: Para Pelayan Tak Lazim baru yang penuh sukacita menyambut tiga tahun penugasan melayani Gereja dan umat Paroki St. Odilia, Cicadas Bandung.

BAWAH: Senyum lega para purna tugas “prodiakon”. (Béwara/Yos_Kebe) Ktut Sukarno RTS.(Béwara/Yos_Kebe)

A. Sumeri Chandra. (Béwara/Yos_Kebe)

Kemudian Denny Mamahani selaku Ketua Komunitas Stefanus menyampaikan harapan agar para Pelayan Tak Lazim Pembagi Komuni yang telah dilantik untuk Periode 2017/ 2020 mau melayani umat dengan hati, bukan didorong hasrat memperoleh pujian, melainkan semata- mata melaksanakan panggilan Allah. Makanya, pertemuan secara berkala akan diadakan guna meningkatkan spritualitas pelayanan. (*)

Denny Mamahani menyerahkan salinan SK Pelayan Tak Lazim Pembagi Komuni (Béwara/Yos_Kebe)

BERITA PAROKI

(18)
(19)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 17

(20)

Oleh: Ludowikus Andreano

“Peran Serta Umat Keuskupan Bandung dalam Pilkada 2018”

T

ema di atas diangkat dalam Saresehan Politik Menuju Pilkada Jawa Barat 2018, yang diselenggarakan di Aula Pascasarjana UNPAR di jalan Merdeka, Bandung (12/11). Acara ini menghadirkan pemateri Pst.

Dany Sanusi, OSC., Andreas Doweng Bolo, Mayjen (Purn) Tono Suratman, Hinca Panjaitan yang diwakilkan oleh Bobby Batubara, Hermawan Taslim, Ansel Alaman.

Saresehan ini diselenggarakan oleh Komisi Sosial dan Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Bandung bekerjasama dengan Pusat Studi Pancasila UNPAR dan Tim Tindak Lanjut Sinode OMK Keuskupan Bandung. Turut terundang yaitu Pengurus Sie Kerawam dan Sie HAK Paroki, serta Pengurus RT/RW Katolik.

Keterlibatan umat Katolik dalam kehidupan perpolitikan merupakan

sebuah kewajiban

diri, baik sebagai umat,

maupun sebagai

warga

negara. Kewajiban berpolitik dalam kehidupan merupakan sebuah ‘sakramen’, yaitu

menjadikan politik sebagai tanda dan sarana penyelamatan.

Melihat dinamika yang kerap terjadi membuat kita enggan untuk melibatkan diri dalam kehidupan berpolitik. Seringkali keengganan ini membuat kita berpikir, gugatan dan

ketidakterlibatan kita adalah jalan keluar yang suci. Namun nyatanya, kehidupan politik terus berjalan dengan atau tanpa keterlibatan kita. Terlepas dari baik buruknya, dan bersih kotornya politik, kita tetap diminta untuk berpartisipasi dalam politik, khususnya dalam rangka Pilkada 2018.

Keterlibatan dalam politik, misalnya dapat menjadi pemilih yang bijak, kritis dan terlibat, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Atau menjadi politisi. Vox Point adalah salah satu sarana bagi umat Katolik.

Kita memilih pejabat publik, bukan pejabat Katolik, dan jangan

SEPUTAR KEUSKUPAN

pernah berkata, “Kita minoritas”

melainkan kita adalah bagian integral dari bangsa ini, Indonesia.

Sesuai dengan ajaran gereja dalam Gaudium et Spes 75

“Hendaknya semua warga negara menyadari hak maupun kewajibannya untuk secara bebas menggunakan hak suara mereka guna meningkatkan kesejahteraan umum”.

Sudah saatnya kita berani tampil dalam kancah politik, dengan mengedepankan kebenaran ajaran Gereja dalam rangka mencapai kesejahteraan bersama (Bonum Commune). Saya 100% Katolik, saya 100% Indonesia.

Demikian Rangkuman Sarasehan Politik menyongsong Pilkada Jawa Barat 2018, semoga pencerahan politik yang kita terima ini dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.(*)

Gaudium et Spes 75:

“Hendaknya semua warga negara menyadari hak maupun

kewajibannya untuk secara bebas menggunakan hak suara

mereka guna meningkatkan kesejahteraan umum”

Tono Suratman sebagai salah satu pemateri pada sesi pertama sarasehan.

(Dok: Béwara/Yos_Kebe)

Tri Sulistyo dari Paroki St. Odilia mengemukakan pendapatnya tentang politik umat. (Dok: Panitia Sarasehan)

(21)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 19 BERITA WILAYAH

B

arbeque Party. Ya, itulah kegiatan yang dilaksanakan oleh OMK Ujung Berung dan OMK Cicaheum. RelOAD OMK dan HUT 80 Paroki St. Odilia telah usai, tapi kekeluargaan OMK antar Wilayah tidak boleh usai. Pengurus OMK Ujung Berung dan Cicaheum membuat acara barbeque party di Gereja Zipur Ujung Berung (11/11).

Tenda terpal dipasang di area halaman rumput Gereja, karpet digelar di dalam Gereja, lampu warna-warni menyala, musik dan alunan gitar terdengar sepanjang acara. Hujanpun tidak mematahkan semangat untuk tetap melaksanakan acara ini. OMK Ujung Berung mempersiapkan tempat, logistik, dan sate bbq; sedangkan OMK Cicaheum menyiapkan alat, bahan, dan dagingnya. Ini bukti awal kerjasama OMK kami.

Acara dimulai pukul 17.00, diawali dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan sharing antar OMK. Sesi ini sangat menarik karena kami menjadi tahu kegiatan apa saja yang dilaksanakan OMK, kekurangan dan kelebihan OMK. Kami

bertukar pendapat, mencari solusi bersama, dan merencanakan acara bersama untuk ke depan.

OMK bukan persaingan, ya itulah prinsip kami. “Kekeluargaan OMK yang penting guyub, bisa ketawa bareng.” ucap Marcell.

Acara dilanjutkan dengan barbeque di halaman gereja.

Ada yang membakar sate ayam, daging, sate, baso, sosis, paprika, dan marshmallow. Ada

yang bermain gitar, ada yang nge-games. Canda tawa kami menghangatkan suasana dingin di malam itu. Tak kenal maka tak sayang, pergilah keluar dan carilah teman OMK baru.

Setelah semua matang kami pun makan bersama dengan membuat lingkaran besar dan duduk selang-seling OMK Ujung Berung dan Cicaheum. “Bakarnya dua jam, makanannya hanya 10 menit,” ucap Richard. Sontak semuapun tertawa bersama. Kami sadar acara sederhanapun bisa mengakrabkan yang awalnya tidak saling kenal. Kini kami bersaudara, kami satu keluarga.

Di penghujung acara, ketua OMK Ujung Berung dan OMK Cicaheum (Dion dan Yason) berterimakasih kepada kedua OMK ini. Sedih ketika canda tawa kami di acara seru ini harus segera berakhir. Sebagai tanda terima kasih, Dion dari OMK Ujung Berung memberi hadiah kepada OMK Cicaheum berupa dua kaos.

Acara ini diakhiri dengan foto Oleh: Alexander Deonanda dan Basilius Yason

Salam Keluarga OMK BER-CAH-aya!

(ujungBERung & ciCAHeum)

bersama di dalam Gereja. Semoga ke depannya bisa kumpul dengan OMK Wilayah lainnya.

“BBQnya sukses! Walaupun hujan gede banget dari sore tapi tetap kami terjang demi OMK.

Rame, seruuu, nambah keluarga baru. Next bikin acara kaya gini lagi.” kata Chela.

“Senang sekali bisa diundang OMK Ujung Berung St. Joan de Arc untuk ikut bbq-an. Walaupun ditemani guyuran hujan tetap tidak mengurangi asiknya

berkumpul bersama. Kapan-kapan lagi yaa,” ujar Yosefin.(*)

ATAS: Suasana sharing bersama.

BAWAH: OMK Ujung Berung dan OMK Cicaheum (Dok. OMK Uber/Dion)

(22)

Oleh: Maria Dona

K

eberadaan Orang Muda Katolik (OMK) dalam kehidupan menggereja merupakan topik yang tidak pernah ‘usang’ untuk didiskusikan.

Umumnya, OMK dipahami sebagai individu atau komunitas orang berusia muda (13-35 tahun) yang beragama Katolik. Sifatnya yang dinamis, baik dalam rupa aktivitas maupun gagasan, telah menjadi perhatian Gereja sejak sekitar tahun 1970-an sebagai sebuah kelompok yang strategis, yaitu

‘gereja masa depan’. Sebagai salah satu bagian dari gereja yang

‘bertumbuh dan berkembang’, OMK dibina khusus oleh seksi kepemudaan; yang para anggotanya dapat tergabung dalam Mudika maupun kelompok- kelompok kategorial di paroki.

Kehidupan OMK tidak lepas dari perhatian orangtua dan keprihatinan yang muncul di dalamnya.

Setidaknya ada dua gejala sosial yang umumnya menjadi keprihatinan bersama, yaitu pertama, relasi antara orangtua dan orang muda dalam keluarga inti yang semakin berjarak;

kedua, perkembangan media sosial yang memperbesar ruang pribadi (private) dan memperkecil pertemuan antar pribadi di ruang bersama (public).

Keprihatinan tersebut menutup berbagai potensi OMK untuk

mengambil bagian dalam tugas- tugas Gereja di tingkat keluarga.

Pertama, dalam persekutuan (koinonia). OMK dalam perannya sebagai ‘putra’ atau anak

diharapkan dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap saling mengasihi dalam keluarga. Sama halnya dengan teladan Yesus sebagai Putra Allah yang sejak awal telah menyediakan diri-Nya untuk menggenapi kehendak Bapa dengan mengorbankan diri di salib demi tugas penebusan dosa manusia.

Kedua, dalam liturgi (leitourgia). Allah yang adalah Trinitas (Bapa-Putra-Roh Kudus) telah mengikat setiap anggota keluarga menjadi satu kesatuan.

OMK dengan sifat dinamisnya dapat menjadi katalisator bagi anggota keluarga untuk saling rekat satu sama lain.

Ketiga, dalam mewartakan injil (kerygma). OMK merupakan ujung tombak keluarga dalam hal kepandaian mereka beradaptasi dengan kondisi yang serba

terbuka dan lebih cepat menyerap informasi daripada orangtua mereka. OMK dapat menjadi mediator yang menghubungkan keluarga dengan dunia luar - berdialog dengan dunia luar - dengan tidak meninggalkan tanggungjawab pribadi serta pertimbangan hati nurani yang menjadi landasan moral bersikap dan bertindak. Ketika dunia luar mengintervensi keluarga dalam

Peran OMK dalam Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica)

OMK, NGAPAIN?

“Berkaitan dengan gereja muda, OMK, saya pribadi agak

miris dengan situasi sekarang.

Tantangannya luar biasa, terutama tentang teknologi informasi yang lebih menarik ketimbang beraktifitas di gereja atau di keluarga. Anak tidak pernah di rumah, pulang hanya sekedar mandi, minta uang kemudian berangkat lagi, entah ke mana. Yang membuat khawatir karena langkahnya nggak jelas: anak saya sebenarnya ngapain?

Bagaimana merangkul mereka sebagai bagian keluarga di paroki maupun di keluarga kita masing-masing sebagai ecclesia

domestica?”

KELU ARGA

(23)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 21

beragam bentuk dan media, keluargapun berdaya untuk mengintervensi dunia luar dengan teladan hidup Kristiani yang dimediasi oleh OMK.

Keempat, dalam pelayanan (diakonia). Semangat pelayanan harus dimulai dari dalam keluarga.

OMK dapat memulai inisiatif melayani sesama dalam keluarga.

Oleh karena itu, diperlukan kepekaan untuk melihat kebutuhan orang lain di dalam keluarga dan kesediaan utuk memberikan diri sepenuhnya bagi sesama yang membutuhkan.

Sedangkan semangat pelayanan ke luar dapat dimulai dengan terlibat di kegiatan lingkungan atau kelompok kategorial.

Keempat pilar tugas gereja

‘dibalut’ dalam semangat memberi kesaksian iman (martyria) yang bagi OMK dapat mengambil kesempatan untuk menjadi saksi iman melalui usaha dan kerja keras dalam pendidikan dan pekerjaan.

Berbagai potensi yang dimiliki oleh OMK untuk mengambil bagian dalam tugas Gereja

tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik dari keluarga - terutama orangtua, maupun Gereja.

Dengan tetap memperhatikan kondisi keluarga yang khas/

berbeda satu sama lain, ada beberapa kisah dalam Kitab Suci yang dapat menjadi bahan refleksi dan mewakili kondisi batin keluarga-keluarga saat ini, antara lain: kisah mengenai orangtua yang dapat menjadi saluran berkat bagi OMK untuk menjadi pemimpin masa depan dalam Kitab Kejadian tentang Yakub dan Esau (Kejadian 27:1-40). Dikisahkan bahwa Yakub mendapat tawaran untuk merelakan makanan, demi masa depan. Bagaimana Yakub akhirnya mendapat berkat dari bapanya, tampaknya memang dengan cara yang amat licik.

Tetapi yang dipuji dalam kisah itu tentu bukan sekedar kelicikan Yakub terhadap saudaranya, Esau, melainkan bahwa berkat itu ternyata harus dengan cekatan dan lihai diperjuangkan oleh siapapun. Kisah ini sarat dengan peran orangtua yaiyu bapak menjadi saluran berkat bagi anak dan ibu menjadi pendukung terlaksananya karya keselamatan melalui anak-anak mereka.

Di samping itu, orangtua dapat menjadi pendidik dan pemberi sarana kepada OMK

untuk menemukan ‘panggilan hidup’. Peran ini dapat ditemukan dalam kisah Musa (Keluaran 2:11-22). Musa kecil menikmati pendidikan tinggi di lingkungan kerajaan. Pola komunikasi yang luas dan terbuka, dialog yang pribadi dan saling memberikan informasi, tanggap terhadap kebutuhan sesama karena saling membutuhkan merupakan lahan yang subur dalam kehidupan keluarga. Ketegangan dalam suasana istana akhirnya membuat Musa meninggalkan suasana mapan. Ia memasuki padang gurun, yang kemudian menjadi ajang perjuangannya.

Keluarga yang mengarahkan anak-anaknya bagi pelbagai macam kemungkinan seperti ini akan mempersiapkan anak- anak berani menghadapi masa depan yang tidak menentu. Peran orangtua adalah memberikan kesempatan kepada OMK untuk mengatasi persoalan hidup, baik yang bersifat pribadi maupun kelompok/masyarakat, dengan tidak mengintervensi keputusan dan memutus secara sepihak atas nama ‘tanggungjawab orangtua’.

Dan tak kalah penting, orangtua menyertai orang muda dalam menjalankan tugas perutusan di masyarakat. Hal ini dicontohkan oleh ketegaran hati Bunda Maria untuk menyertai Yesus dalam kisah Sengsara/

Jalan Salib. Keputusan pengadilan manusia yang menyalibkan Yesus di Bukit Golgota menguji sifat kemanusiaan Bunda Maria untuk ‘lari’ dari tugasnya dalam menyertai Yesus memenuhi tugas perutusan Allah di dunia, yaitu menebus dosa manusia.

KELUARGA

Salah satu ‘Keluarga Bercahaya’ peserta lomba menghias telur.

(Dok. Pan. 80thn PSO)

(24)

KELU ARGA

Berkat kesetiaan dan ketegaran hati Bunda Maria pada kehendak Allah, ketidakadilan dan kedosaan manusia tidak membuatnya berpaling dari tugasnya meski harus turut mengalami penderitaan tak terkira dalam Jalan Salib.

Dengan berbagai dukungan yang diberikan oleh orangtua terhadap OMK, Gerejapun terus- menerus melakukan upaya untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan iman

OMK. Dukungan Gereja yang pertama adalah melibatkan sejak awal orang-orang muda dalam aktivitas-aktivitas dan kepengurusan-kepengurusan Gereja; terlebih mengusahakan bagaimana merangsang orang muda untuk bertanggungjawab terhadap pelayanan gereja.

OMK dilibatkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi sebuah kegiatan dan kepengurusan dari tingkat lingkungan hingga DPP; bukan hanya terlibat sebagai ‘pelengkap’

acara atau kepengurusan.

Sehingga sejak awal OMK belajar memahami seluk-beluk kehidupan Gereja dan menggereja yang pada akhirnya secara aktif mengambil bagian dalam tugas-tugas Gereja di kemudian hari.

Dukungan Gereja yang kedua adalah memberikan pendampingan dan turut mengembangkan kegiatan- kegiatan organisasi OMK di wilayah-wilayah. Kegiatan- kegiatan pastoral paroki secara khusus diarahkan untuk mengembangkan kegiatan OMK di wilayah; dengan mengangkat ciri khas kehidupan OMK yang bertumbuh dan berkembang di wilayah tersebut. Ada harapan bahwa kegiatan OMK di wilayah

tidak meninggalkan nilai-nilai Kristiani yang ditanamkan oleh keluarga serta menghormati kearifan lokal yang dihidupi oleh OMK di wilayah tersebut.

Dari penjabaran di atas, kondisi/tantangan orangtua dan orang muda berjarak satu sama lain dan ruang pribadi semakin besar dapat teratasi bilamana:

pertama, OMK menyadari bahwa mereka memanfaatkan kemampuan dan kesempatan untuk terlibat dalam tugas-tugas Gereja. Kedua, orangtua memberi dukungan secara proporsional terhadap OMK. Terakhir, Gereja memberikan dukungan dengan menempatkan OMK sebagai subyek tata perubahan Gereja yang mampu merespon tantangan zaman. Dengan demikian,

Anggota OMK Ujungberung sebagai panitia lomba volley. (Dok. Pan. 80thn PSO)

Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica) dapat menjadi sarana untuk mewujudkan keselamatan Allah bagi manusia. (*)

Dari berbagai sumber.

(25)

Béwara NO. 15 - DESEMBER 2017 23 BIOGRAFI

SANTO STEFANUS

Saksi Kristus Pertama

Oleh: FIrta Yolin

S

tefanus lahir pada abad pertama. Nama Stefanus berasal dari bahasa Yunani, Stephanos, artinya ‘mahkota’.

Dikenal sebagai protomartir (martir pertama). Menurut Kitab Kisah Para Rasul, Stefanus adalah salah satu dari ketujuh pria yang terpilih untuk membantu Petrus dan para rasul lainnya yang menolong para janda-janda tua serta kaum miskin dalam komunitas jemaat. Pelayanan mereka dikenal sebagai diakon/

diaken. Di antara ketujuh pria tersebut, Stefanuslah yang paling terkenal.

Stefanus dikenal juga sebagai seorang penginjil (evangelis), mengkhotbahkan ajaran-ajaran Yesus kepada penduduk Yerusalem termasuk kepada anggota-

anggota Sinagoga Helenistis. Oleh sebab itu, Tuhan mengadakan banyak mukjizat melalui Stefanus.

Salah satunya adalah apabila ia berkhotbah tentang ajaran-ajaran Yesus, ia berbicara dengan hikmat dan karunia yang mendengarnya menjadi pengikut Yesus.

Akibatnya, para musuh Gereja Yesus marah atas keberhasilan Stefanus.

Dalam Kisah Para Rasul 6, mengisahkan bagaimana kaum Yahudi Libertini marah dan kesal terhadap Stefanus dan iri hati terhadap mukjizat yang dilakukan Stefanus. Mereka menghasut dan membawa Stefanus ke hadapan Sanhedrin atas tuduhan palsu menghujat Musa dan Allah serta berkata-kata menentang Bait Allah

dan hukum Taurat. Atas tuduhan melanggar hukum Taurat, Stefanus menjawab betapa orang-orang Yahudi yang keras kepala bersama imam-imamnya sendiri, kini di bawah Imam Agung Kayafas yang tak menaatinya, membunuh nabi- nabi dan orang benar utusan Allah serta Kristus. Kemudian Stefanus menambahkan bahwa ketika ia menatap ke langit, ia bersaksi melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah (Kisah Para Rasul 7:56).

Mendengar hal tersebut, amarah mereka memuncak.

Mereka menyeretnya ke luar kota dan merajamnya. Jubah Stefanus dilemparkan ke kaki Saulus, yang kemudian dikenal dengan Santo Paulus. Pada saat ia dilempari, Stefanus berdoa, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sebelum meninggal, ia berlutut. Dalam doanya ia memohon kepada Tuhan agar tidak tanggungkan dosa ini kepada mereka. Peristiwa ini terjadi kira-kira setahun setelah Pentakosta pertama (antara tahun 34-35M).

Secara historis, hari

peringatannya dirayakan pada tanggal 3 Agustus, memperingati pertemuan jenazahnya pada masa pemerintahan Kaisar Flavius Agustus Honorius. Tahun 415, makam Stefanus dilihat oleh seorang imam bernama Lucianus di Kafar Gamala, ketika sedang menuju Yerusalem. Sedangkan menurut Gereja Katolik, hari peringatan Santo Stefanus adalah tanggal 26 Desember.(*)

(26)

PROFIL KITA

Meneladani Kemartiran St. Stefanus

Oleh: Laurensia Bertha

LINGKUNGAN GRIYA CARAKA

D

alam rangka

mengembangkan Gereja yang berakar, mekar, dan berbuah, maka lahirlah lingkungan Santo Stefanus Griya Caraka yang merupakan pemekaran dari lingkungan Pratista - Baptista Varani yang beranggotakan 75KK. Lingkungan ini dimekarkan menjadi dua lingkungan yaitu Prastista (Pratista-Parakan Mas) dan Griya Caraka (Griya Caraka- Cingised). Lingkungan Griya Caraka terdiri dari 22 KK dan dipimpin oleh Iwan Agustian Kirana, kesekretariatan lingkungan oleh Rudolf (pendiri lingkungan), bendahara Hardiman, serta seksi liturgi Slamet Daryono.

Lingkungan ini memilih Santo Stefanus yang merupakan martir pertama Gereja sebagai santo pelindung. Santo Stefanus lahir 26 Desember. Nama lingkungan Santo Stefanus pertama kali diperkenalkan kepada warga lingkungan pada 3 Juli 2015 saat doa lingkungan di rumah Fransiskus Widiyanto.

Nama Stefanus berasal dari Bahasa Yunani Stephanos, artinya

“mahkota”, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Aram menjadi Kelil. Kisah Para Rasul pasal 6 mengisahkan bagaimana Stefanus diadili oleh Sanhedrin dengan dakwaan hujat terhadap Nabi Musa dan Allah serta berkata- kata menentang Bait Allah dan Hukum Taurat. Hukuman yang diterimanya adalah dirajam sampai mati (34-35 M). Massa meletakkan jubahnya di kaki seorang muda bernama Saulus dari Tarsus, yang kelak dikenal

sebagai Santo Paulus. Khotbah terakhir yang disampaikan Stefanus ditujukan sebagai tudingan terhadap kaum Yahudi karena telah membunuh nabi-nabi mereka serta menjadi pembunuh Kristus (Kis 7:52). Menjelang ajalnya, Stefanus mengalami suatu teofani (penampakan Allah kepada manusia). Teofani yang dialaminya bersifat unik

karena dia menyaksikan baik Sang Bapa maupun Sang Putera.

“Aku melihat langit terbuka, dan Anak manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” (Kis 7:56) Semangat kemartiran inilah yang ingin diikuti oleh umat Lingkungan Santo Stefanus di daerah Griya Caraka dan Cingised.

Batas lingkungan ini yaitu sebelah Barat lingkungan ini berbatasan dengan Parakansaat, Timur dengan sungai dekat rumah susun Cingised, Utara dengan Lingkungan Arcamanik Selatan dan Selatan dengan rel kereta api.

Walaupun hanya terdiri dari

22KK dengan segala dinamika yang mengharuskan umat pindah tempat tinggal (karena pekerjaan dan lain hal) serta kesibukan pekerjaan, partisipasi umat dalam doa lingkungan yang diadakan satu bulan sekali ini cukup baik. Terlebih jika ada acara besar seperti ziarah ke Gua Maria Cikanyere, Family Gathering dalam rangka memeriahkan

HUT Paroki St. Odilia ke-80, maupun Natal bersama. Semua kegiatan lingkungan disambut baik oleh umat. Dalam acara inilah seluruh umat dapat merasakan kebersamaan dan saling mengenal satu dengan yang lainnya.

Tantangan yang dihadapi lingkungan ini ternyata masih ada umat yang rumahnya tidak bisa ditempati untuk doa lingkungan karena tidak mendapatkan ijin dari penduduk sekitar. Semoga dengan semangat kemartiran Santo Stefanus, suatu saat nanti doa lingkungan dapat terlaksana di rumah tersebut.(*)

Warga Lingkungan St. Stefanus Griya Caraka saat berziarah ke Gua Maria Cikanyere.

(Dok. Lingk. St.Stefanus)

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

 Tentukan invers dari nilai peubah acak transformasi itu, sehingga akan diperoleh duanilai peubah acak lama yang merupakan fungsi dari nilai peubah

SIKLUS HIDUP BEBERAPA PARASIT Cacing Tambang .. )0acing de/asa *ada mukosa usus-. 0acing tambang de/asa melekat *ada villi usus halus dengan bucal ca*sulnya. Tam*ak cacing

Tugas dan tanggung jawab :.. a) Melaksanakan standar pelaksanaan pengujian terhadap hasil produksi tusuk kontak, kabel dan hasil braider serta material yang datang

Telah dirancang suatu system pengendalian Tone control jarak jauh yaitu dengan menggunakan PC Komputer maka si operator dapat mengendalikan peralatan tone control tersebut

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembelajaran matematika, strategi guru dalam pembelajaran matematika, dan kendala-kendala yang terjadi selama proses

Pemeriksaan juga telah di kompirmasi dengan pemeriksa ultrasonografi abdomen di mana di dapat kesan ikterus obstruksi ekstra hepatal yang di duga disebabkan penekanan

Salah satu tujuan dari ketentuan tersebut adalah agar struktur beton bertulang tersebut memiliki keandalan dalam memikul beban gempa, karena baja tulangan ulir mempunyai daya

logam Ni selanjutnya sebagai situs aktif untuk reaksi hidrogenasi (-)-isopulegol menjadi (-)- mentol tidak dapat berlangsung dengan baik.