• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

5. KELUARGA BERENCANA a. Konsep dasar

1) Pengertian

Keluarga berencana (KB) adalah suatu upaya yang dilakukan manusia untuk mengatur secara sengaja kehamilan dalam keluarga secara tidak melawan hukum dan moral pancasila untuk kesejahteraan keluarga (Maritalia, 2017).

Menurut Marmi (2016), Keluarga berencana (KB) adalah mengatur jumlah anak sesuai dengan keinginan dan menentukan kapan ingin hamil. Jadi, KB (family planning, planned parenthood) adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai alat kontrasepsi, untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.

2) Macam – Macam KB

a) Metode Kontrasepsi Sederhana (Tanpa Alat) (1) Metode Kalender/ Pantang Berkala

(a) Pengertian

Menurut Maritalia (2017), Metode kalender atau pantang berkala merupakan metode dimana pasangan suami istri menghindari berhubungan seksual pada siklus subur seorang wanita. Ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) terjadi 14 hari sebelum menstruasi (pada siklus menstruasi yang teratur). Pembuhan bisa terjadi akibat hubungan seksual yang dilakukan 4 hari sebelum atau setelah perkiraan siklus ovulasi. Untuk pasangan yang memilih metode kontrasepsi ini, maka berpantang melakukan hubungan suami istri 4 hari sebelum dan setelah siklus tersebut.

(b) Manfaat

Menurut Marmi (2016), Manfaat dari metode kalender/ pantang berkala yaitu:

i) Manfaat kontrasepsi yaitu sebagai alat pengendalian kelahiran atau mencegah kehamilan. ii) Manfaat konsepsi dapat digunakan oleh para

melakukan hubungan seksual saat masa subur/ ovulasi untuk meningkatkan kesempatan bisa hamil.

(c) Keuntungan

Menurut Marmi (2016), Keuntungan dari metode kalender/ pantang berkala yaitu:

i) Metode kalender atau pantang berkala lebih sederhana.

ii) Dapat digunakan oleh setiap wanita yang sehat. iii) Tidak membutuhkan alat atau pemeriksaan

khusus dalam penerapannya.

iv) Tidak mengganggu pada saat berhubungan seksual.

v) Kontrasepsi dengan menggunakan metode kalender dapat menghindari risiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi.

vi) Tidak memerlukan biaya.

vii) Tidak memerlukan tempat pelayanan kontrasepsi. (d) Keterbatasan

Menurut Marmi (2016), Keterbatasan dari metode kalender/ pantang berkala yaitu:

i) Memerlukan kerja sama yang baik antara suami istri,

ii) Harus ada motivasi dan disiplin pasangan dalam menjalankannya,

iii) Suami istri tidak dapat melakukan hubungan seksual setiap saat,

iv) Pasangan suami istri harus tahu masa subur dan masa tidak subur,

v) Harus mengamati siklus menstruasi minimal enam kali siklus,

vi) Siklus menstruasi yang tidak teratur (menjadi penghambat),

vii) Lebih efektif bila dikombinasi dengan metode kotrasepsi lain,

(e) Keefektifan

Akan lebih efektif bila dilakukan dengan baik dan benar. Sebelum menggunakan metode kalender ini, pasangan suami istri harus mengetahui masa subur. Padahal, masa subur setiap wanita tidaklah sama. Oleh karena itu, diperlukan pengamatan minimal enam kali siklus menstruasi. Selain itu, metode ini juga akan lebih efektif bila digunakan bersama dengan metode kontrasepsi lain. Bedasarkan penelitian dari dr. Johnson dan kawan-kawan di Sidney, metode kalender akan efektif tiga kali lipat

bila dikombinasikan dengan metode simptotermal. Angka kegagalan penggunaan metode kalender adalah 14 per 100 wanita per tahun (Marmi, 2016). (f) Penerapan

Hal yang perlu diperhatikan pada siklus menstruasi wanita sehat, adalah Pre ovulatory infertility phase (masa tidak subur sebelum ovulasi, Fertility phase (masa subur). Post ovulatory infertility phase (masa tidak subur setelah ovulasi).

(2) Metode Suhu Basal Tubuh (a) Pengertian

Suhu Tubuh Basal adalah suhu terendah yang dicapai oleh tubuh selama istirahat atau dalam keadaan istirahat (tidur). Pengukuran suhu basal dilakukan pada pagi hari segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas lainnya (Marmi, 2016).

(b) Manfaat

Menurut Marmi (2016), manfaat dari metode suhu basal tubuh yaitu:

i) Manfaat konsepsi

Bagi pasangan yang menginginkan kehamilan.

ii) Manfaat kontrasepsi

Bagi pasangan yang menginginkan menghindari atau mencegah kehamilan. (c) Keuntungan

Menurut Marmi (2016), keuntungan dari metode suhu basal tubuh yaitu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pada pasangan suami istri tentang masa subur/ ovulasi, membantu wanita yang mengalami siklus haid tidak teratur mendeteksi masa subur/ ovulasi, dapat digunakan sebagai kontrasepsi ataupun meningkatkan kesempatan untuk hamil, membantu menunjukkan perubahan tubuh lain pada saat mengalami masa subur/ ovulasi seperti perubahan lendir serviks, metode suhu basal tubuh yang mengendalikan adalah wanita itu sendiri. (d) Efektifitas

Metode suhu basal tubuh akan efektif bila dilakukan dengan benar dan konsisten. Suhu tubuh basal dipantau dan dicatat selam beberapa bulan berturut-turut dan dianggap akurat bila terdeteksi pada saat ovulasi. Tingakat keefektian metode suhu tubuh basal sekitar 80 persen atau 20-30 kehamilan per 100 wanita per tahun. Secara teoretis angka kegagalannya

adalah 15 kehamilan per 100 wanita per tahun. Metode suhu basal tubuh akan jauh lebih efekstif apabila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain seperti kondom, spermisida ataupun metode kalender atau pantang berkala (calender method or

periodic abstinence) (Marmi, 2016).

(3) Metode simptotermal (a) Pengertian

Metode simptotermal merupakan metode keluarga berencana alamiah (KBA) yang mengidentifikasi masa subur dari siklus menstruasi wanita. Metode simpotermal mengombinasikan metode suhu basal tubuh dan mukosa serviks. Akan tetapi, ada teori lain yang menyatakan bahwa metode ini mengamati tiga indikator kesuburan yaitu perubahan suhu basal tubuh, perubahan mukosa/ lendir serviks dan perhitungan masa subur melalui metode kalender (Marmi, 2016).

(b) Manfaat

Menurut Marmi (2016), metode simptotermal memiliki manfaat sebagai alat kontrasepsi maupun konsepsi yaitu untuk menghindari

kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seksual ketika berpotensi subur (pantang saat masa subur), dan sebagai konsepsi atau menginginkan kehamilan dengan melakukan hubungan seksual ketika berpotensi subur.

(c) Keuntungan

Keuntungan dari metode simptotermal yaitu tidak ada efek fisik seperti obat-obatan, alat, bahan kimia atau operasi yang dibutuhkan, aman, konomis, meningkatkan hubungan kerja sama antar pasangan, dapat langsung dihentikan apabila pasangan menginginkan kehamilan, tidak memerlukan tindak lanjut atau alat kontrasepsi lain setelah belajar metode simptotermal dengan benar (Marmi, 2016).

(d) Keterbatasan

Keterbatasan dari metode simptotermal yaitu, tidak cocok digunakan oleh wanita yang mempunyai bayi, berpenyakit, pascaperjalanan maupun konsumsi alcohol, metode simptotermal kurang efektif karena pengguna harus mengamati dan mencatat suhu basal tubuh maupun perubahan lendir serviks, metode simptotermal memerlukan

kerja sama antara pasangan suami istri, penggunaan harus mendapatkan pelatihan atau instruksi yang benar (Marmi, 2016).

(e) Efektifitas

Angka kegagalan dari penggunaan metode simptotermal adalah 10-20 wanita akan hamil dari 100 pasangan setiap tahunnya. Hal ini disebabkan kesalahan dalam belajar, saran, atau tidak ada kerja sama pasangan. Namun, studi lain juga menyatakan angka kegagalan dari metode simptotermal hanya 3% apabila di bawah pengawasan yang ketat (Marmi, 2016).

(4) Metode pengamatan lendir serviks (metode ovulasi) (a) Pengertian

Metode mukosa seviks atau metode ovulasi merupakan metode keluarga berencana alamiah (KBA) dengan cara mengenali masa subur dari siklus menstruasi dengan mengamati lendir serviks dan perubahan rasa pada vulva menjelang hari-hari ovulasi (Marmi, 2016).

(b) Manfaat

Manfaat dari metode Metode mukosa serviks bermanfaat untuk mencegah kehamilan yaitu

dengan berpantang senggama pada masa subur. Selain itu, metode ini juga bermanfaat bagi wanita yang menginginkan kehamilan (Marmi, 2016).

(c) Kelebihan

Kelebihan dari metode simptotermal yaitu mudah digunakan, tidak memerlukan biaya, metode mukosa serviks merupakan metode keluarga berencana alamiah lain yang mengamati tanda-tanda kesuburan (Marmi, 2016).

(d) Keterbatasan

Kelebihan dari metode simptotermal yaitu mudah digunakan, tidak memerlukan biaya, metode mukosa serviks merupakan metode keluarga berencana alamiah lain yang mengamati tanda-tanda kesuburan (Marmi, 2016).

(e) Efektifitas

Keberhasilan metode ovulasi billings ini tergantung pada instruksi yang tepat, pemahaman yang benar, keakuratan dalam pengamatan dan pencatatan lendir serviks, serta motivasi dan

kerja sama dari pasangan dalam

metode mukosa serviks sekitar 3-4 perempuan per 100 perempuan per tahun. Teori lain juga mengatakan, apabila petunjuk metode mukosa serviks atau ovulasi billings ini digunakan dengan benar maka keberhasilan dalam mencegah kehamilan 99 persen (Marmi, 2016). (5) Metode amenore laktasi

(a) Pengertian

Metode amenore laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method (LAM) dalah metode kontrasepsi sementara yang mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif, artinya hanya diberi ASI saja tanpa tambahan makanan dan minuman lainnya. MAL atau LAM dapat dikatakan sebagai metode keluarga berencana alamiah (KBA) atau natural family planning, apabila tidak dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain (Marmi, 2016).

(b) Keterbatasan

Keterbatasan dari MAL, yaitu memerlukan persiapan dimulai sejak kehamilan, metode ini hanya efektif digunakan selama 6 bulan setelah melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui

secara eksklusif, tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk hepatitis B ataupun HIV/ AIDS, tidak menjadi pilihan bagi wanita yang tidak menyusui, kesulitan dalam mempertahankan pola menyusui secara eksklusif (Marmi, 2016).

(c) Efektifitas

Efektivitas MAL sangat tinggi sekitar 98 persen apabila digunakan secara benar dan memenuhi persyaratan sebagai berikut: digunakan selama enam bulan pertama setelah melahirkan, belum mendapatkan haid pasca melahirkan dan menyusui secara eksklusif (tanpa memberikan makanan atau minuman tambahan) (Marmi, 2016).

(d) Indikasi

Metode Amenore Laktasi dapat digunakan oleh wanita yang menyusui secara eksklusif, ibu pascamelahirkan dan bayinya berumur kurang dari 6 bulan, wanita yang belum mendapatkan haid pasca melahirkan (Marmi, 2016).

(e) Kontraindikasi

Metode Amenore Laktasi tidak boleh digunakan pada pasca melahirkan yang sudah mendapat haid, tidak menyusui secara eksklusif, bekerja dan terpisah dari bayinya lebih dari 6 jam, harus menggunakan metode kontrasepsi tambahan, menggunakan obat yang mengubah suasana hati, menggunakan obat-obatan jenis ergotamine, anti metabolisme, cyclosporine, obat radioaktif, lithium atau anti koagulan, bayi sudah berumur lebih dari 6 bulan, bayi yang mempunyai gangguan metabolisme (Marmi, 2016).

(5) Sanggama Terputus (Coitus Interuptus) (a) Pengertian

Menurut Marmi (2016), coitus interuptus atau senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional/ alamiah, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum mencapai ejakulasi.

(b) Manfaat

Coitus interuptus memberikan manfaat baik secara kontrasepsi adalah alamiah, efektif bila dilakukan dengan benar, tidak mengganggu produksi ASI tidak

ada efek samping, tidak membutuhkan biaya, tidak

memperlukan persiapan khusus, dapat

dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain, dapat digunakan setiap waktu. Manfaat non kontrasepsi adalah adanya peran serta suami dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, menanamkan sifat saling pengertian, tanggung jawab bersama dalam ber-KB (Marmi, 2016).

(c) Keterbatasan

Menurut Marmi (2016), keterbatasan dari metode coitus interuptus, yaitu sangat tergantung dari pihak pria dalam mengontrol ejakulasi dan tumpahan sperma selam senggama, memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual (orgasme), sulit mengontrol tumpahan sperma selama penetrasi, sesaat dan setelah interupsi coitus, tidak melindungi dari penyakit menular seksual, kurang efektif untuk mencegah kehamilan.

(d) Efektifitas

Metode coitus interuptus akan efektif apabila dilakukan dengan benar dan konsisten. Angka kegagalan 4-27 kehamilan per 100 perempuan per tahun. Pasangan yang mempunyai pengendalian diri

yang besar, pengalaman dan kepercayaan dapat menggunakan metode ini menjadi lebih efektif (Marmi, 2016).

b) Metode kontrasepsi sederhana (Dengan Alat) (1) Kondom (Karet Kb)

(a) Pengertian

Kondom adalah salah satu alat kontrasepsi yang terbuat karet/ lateks, berbentuk tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup rapat dan dilengkapi kantung untuk menampung sperma. Kebanyakan kondom terbuat dari karet lateks tipis, tetapi ada yang membuatnya dari jaringan hewan (usus kambing) atau plastik (Marmi, 2016).

(b) Efektifitas

Pemakaian kontrasepsi kondom akan efektif apabila dipakai secara benar dan konsisten setiap kali berhubungan seksual. Angka kegagalan kontrasepsi kondom sangat sedikit yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun. Namun ada yang menyebutkan bahwa efektifitas teoritik: 1 2 kehamilan/ 100 pemakai/ tahun, sedangkan efektifitas praktek: 3 15 kehamilan/ 100 pemakai/ tahun (Marmi, 2016).

(c) Manfaat

Manfaat kondom secara kontrasepsi, yaitu efektif bila pemakaian bener, tidak mengganggu produksi ASI, tidak mengganggu kesehatan klien, tidak mempunyai pengaruh sistemik, murah dan tersedia diberbagai tempat, tidak memerlukan resep dan pemeriksaan khusus, metode kontrasepsi sementara. Sedangkan manfaat kondom secara non kontrasepsi yaitu peran serta suami untuk ber-KB, mencegah penularan PMS, mencegah ejakulasi dini, mengurangi insidensi kanker serviksa, adanya interaksi sesama pasangan, mencegah imuno infertilitas (Marmi, 2016).

(d) Keterbatasan

Menurut Marmi (2016), keterbatasan kondom adalah sebagai berikut:

i) Efektifitas tidak terlalu tinggi.

ii) Tingkat efektifitas tergantung pada pemakaian kondom yang benar.

iii) Adanya pengurangan sesitifitas pada penis. iv) Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan

seksual.

vi) Masalah pembuangan kondom bekas pakai. (e) Kontraindikasi

Menurut Marmi (2016), kontraindikasi kondom meliputi:

i) Setiap pria dapat memakai kondom kecuali dia atau pasangannya rentan (alergi/ sensitif) terhadap lateks.

ii) Memiliki kelainan berbentuk penis (malformasi). iii) Secara psikologi pasangan tidak bisa menerima

metode kondom. (2) Diafragma

(a) Pengertian

Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung seperti topi yang menutupi mulut rahim, terbuat dari lateks (karet) yang diinsersikan kedalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks (Marmi, 2016).

(b) Manfaat

Manfaat dari diafragma/ kap sebagai alat kontrasepsi yaitu efektif bila digunakan dengan benar, tidak mengganggu produksi ASI, tidak mengganggu hubungan seksual karena telah dipersiapkan sebelumnya, tidak mengganggu kesehatan klien,

tidak mempunyai pengaruh sistemik. Sedangkan manfaat sebagai non kontrasepsi untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual, dapat menampung darah menstruasi, bila digunakan saat haid (Marmi, 2016 ).

(c) Keterbatasan

Menurut Marmi (2016), Keterbatasan dari diafragma/ kap adalah sebagai berikut:

i) Efektifitas tidak terlalu tinggi (angka kegagalan 6-16 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama, bila digunakan dengan spermisida). ii) Keberhasilan kontrasepsi ini tergantung pada cara

penggunaan yang benar.

iii) Memerlukan motivasi dari pengguna agar selalu berkesinambungan dalam penggunaan alat kontrasepsi ini.

iv) Pemeriksaan pelvik diperlukan untuk memastikan ketepatan pemasangan.

v) Dapat menyebabkan infeksi saluran uretra

vi) Harus masih terpasang salam 6 jam pasca senggama.

(3) Kap Servik (cervical cap) (a) Pengertian

Kap serviks adalah alat kontrasepsi berbentuk karet penutup yang dipasang dimulut rahim untuk mencegah kehamilan. Karet penutup itu dipasang dengan ditekan pada mulut rahim sebagai selubung mulut rahim (marmi, 2016).

(b) Efektifitas

Efektivitas cervical caps cukup baik, hal ini dibuktikan dengan tingkat kegagalan pada pemakaian cervical caps secara umum berkisar 8-27 kehamilan pada setiap 100 wanita atau berkisar 20%. Untuk lebih detailnya, pada wanita yang belum pernah melahirkan atau mempunyai anak jika menggunakan cervical caps ini tingkat kegagalannya berkisar 16%, tetapi pada wanita yang sudah pernah melahirkan atau mempunyai anak tingkat kegagalannya sekitar 32%. Dari data tersebut, efektivitas cervical caps lebih akurat pada wanita yang belum pernah melahirkan. Hal ini dikarenakan, serviks pada wanita yang sudah pernah melahirkan akan menjadi lebih besar dari ukuran semula karena penagruh proses melahirkan. Sehingga cervical caps

kurang cocok digunakan untuk wanita yang telah melahirkan (Marmi, 2016).

(c) Keuntungan

Menurut Marmi (2016), keuntungan dari kap serviks yaitu:

i) Kap serviks bersifat reversible. Kap servik dapat digunakan lagi setelah dipakai dengan mencucinya menggunakan air hangat dan sabun yang lembut/ tidak bersifat asam. Kap serviks tidak mempunyai efek yang berbahaya terhadap fungsi reproduksi baik wanita ataupun pria. Jika kap serviks tidak digunakan lagi, kemungkinan untuk hamil tetap ada.

ii) Harganya tidak terlalu mahal, namun tidak dijual disembarang tempat.

iii) Ukurannya kecil dan ringan, mudah untuk dibawa kemana-mana.

iv) kap serviks dapat dipakai selama 48 jam karena ukurannya yang kecil sehingga tidak menyebabkan tekanan pada VU dan tambahan ulang spermicide juga tidak dibutuhkan.

v) Metode ini dapat tetap digunakan pada ibu yang sedang menyusui.

vi) Kap serviks aman dan dapat digunakan pada wanita yang merokok. Hal ini dikarenakan wanita yang merokok akan berisiko terganggu kesehatannya jika menggunakan kontrasepsi hormonal. Membantu para wanita untuk lebih mengetahui dan mempelajari anatomi tubuh wanita, khususnya organ reproduksi.

(d) Kerugian

Menurut Marmi (2016), kerugian dari kap serviks yaitu:

i) Dapat menyebabkan cervicitis.

ii) Ukuran cervical caps yang digunakan sewaktu-waktu harus diubah tergantung pada kehamilannya, abortus/keguguran, operasi pelvic atau perubahan berat badan yang signifikan > 20 lbs (naik/turun).

iii) Membuat infeksi pada saluran perkemihan. iv) Tidak boleh digunakan pada wanita yang sedang

menstruasi.

v) Penggunaannya cukup sulit. Banyak wanita yang mengalami kesulitan dalam memasang/ memasukkan cervical caps kedalam vagina dengan benar.

vi) Beberapa wanita akan merasa nyeri dan pasangannya akan merasa tidak nyaman ketika sedang melakukan hubungan intim.

vii) Cervical caps dapat terlepas sewaktu-waktu dari dalam vagina ketika sedang melakukan hubungan intim ataupun sedang defekasi, dan tidak dapat mencegah penyebaran HIV/ AIDS.

(e) Efek samping

Menurut Marmi (2016), Efek samping dari kap serviks yaitu:

i) Menyebabkan iritasi pada daerah vagina. ii) Menyebabkan infeksi pada saluran kemih.

iii) Menimbulkan rasa tidak nyaman pada pemakaiannya dan juga pasangannnya terutam ketika sedang berhubungan intim.

iv) Menimbulkan rasa nyeri atau sakit pada daerah vaginal.

v) Menimbulkan reaksi alergi terhadap kap-nya dan juga pada spermatisidanya.

(4) Spermisida (a) Pengertian

Spermisida adalah bahan kimia (biasanya non oksinol-9) digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma (Saifuddin, 2010).

(b) Manfaat

Menurut Saifuddin dkk (2010), Manfaat dari spermisida sebagai kontrasepsi yaitu efektif seketika (busa dan krim), tidak mengganggu produksi ASI, sebagai pendukung metode lain, tidak mengganggu kesehatan klien, tidak mempunyai pengaruh sistemik, sudah digunakan, meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual, tidak memerlukan resep ataupun pemeriksaan medik. Sedangkan manfaat non kontrasepsi yaitu memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual HBV dan HIV/AIDS. (c) Keterbatasan

Menurut Marmi (2016), Keterbatasan dari spermisida yaitu:

i) Efektifitas kurang (bila wanita selalu menggunakan sesuai dengan petunjuk, angka kegagalan 15 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun dan bila wanita tidak selalu

menggunakan sesuai dengan petunjuk maka angka kegagalan 29 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun).

ii) Spermisida akan jauh lebih efektif, bila menggunakan kontrasepsi lain (misal kondom). iii) Keefektifan tergantung pada kepatuhan cara

penggunaannya.

iv) Tergantung motivasi dari pengguna dan selalu dipakai setiap melakukan hubungan seksual. v) Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah

spermisida dimasukkan sebelum melakukan hubungan seksual.

vi) Hanya efektif selam 1-2 jam dalam satu kali pemakaian.

vii) Harus selalu tersedia sebelum senggama dilakukan.

c) Metode kontrasepsi hormonal (1) Pil Kombinasi

(a) Pengertian

Pil kombinasi atau combination oral contraceptive adalah pil KB yang mengandung sintetis hormone estrogen dan progesterone yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi

(pelepasan sel telur oleh indung telur) melaui penekan hormone LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa serviks, dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium (Marmi, 2016).

(b) Efektifitas

Efektivitas pil kombinasi lebih dari 99 persen, apabila digunakan dengan benar dan konsisten. Ini berarti, kurang dari 1 orang dari 100 wanita yang menggunakan pil kombinasi akan hamil setiap tahunnya. Namun pada pemakaian yang kurang seksama, efektivitasnya masih mencapai 93%. Menurut Hartanto (2004), angka kegagalan teoritis POK sebesar 0,1%, sedangkan angka kegagalan POK secara praktik adalah sebesar 0,7-7%. Metode ini juga merupakan metode yang paling reversible, artinya bila pengguna ini hamil bisa langsung, berhenti minum pil dan biasanya bisa langsung hamil dalam waktu 3 bulan (Marmi, 2016).

(c) Manfaat

Manfaat dari pil kombinasi, yaitu Memiliki efektivitas yang tinggi (hampir menyerupai efektivitas tubektomi), bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per 1000 perempuan dalam tahun pertama

penggunaan), Risiko terhadap penggunaan sangat kesehatan kecil, Tidak mengganggu hubungan seksual, Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah anemia), tidak terjadi nyeri haid, Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan, Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause, Mudah dihentikan setiap saat, Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan, Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.(Saifuddi dkk, 2010).

(d) Efek samping

Efek samping dari pil kombinasi yaitu, Peningkatan risiko thrombosis vena, emboli paru, serangan jantung, stroke dan kanker leher rahim, Peningkatan tekanan darah dan retensi cairan, Pada kasus-kasus tertentu dapat menimbulkan depresi, perubahan suasana hati dan penurunan libido, Mual (terjadi pada 3 bulan pertama) dan kembung. , Perdarahan bercak atau spotting (terjadi Pada 3 bulan pertama), Pusing, Amenorea, Nyeri payudara, Kenaikan berat badan (Marmi, 2016).

Indikasi dari pil kombinasi, yaitu Usia reproduksi, Telah memiliki anak atau pun yang belum memiliki anak, Gemuk atau kurus, Menginginkan merode kontrasepsi dengan efektivitas tinggi, Setelah melahirkan dan tidak menyusui, Pasca keguguran, Anemia karena haid berlebihan, Riwayat kehamilan ektopik (Saifuddi dkk, 2010).

(f) Kontraindikasi

Kontraindikasi dari pil kombinasi, yaitu Hamil atau dicurigai hamil, Menyusui eksklusif, Perdarahan pervaginam yang belum diketahui penyebabnya, Penyakit hati akut (hepatitis), Perokok dengan usia>35 tahun, Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan tekanan darah tinggi (>180/110 mmHg), Riwayat gangguan factor pembekuan darah atau kencing manis> 20 tahun, Kanker payudara atau dicurigai kanker payudara (Saifuddi dkk, 2010). (2) Pil Kb Mini ( Minipil Or Progestion Conraceptive)

(a) Pengertian

Pil mini atau pil progrestin kadang – kadang disebut dengan pil masa menyusui. Mini pil adalah pil KB yang hanya mengandung hormon progresteron dalam dosis rendah dan diminum sehari sekali. Berisi

derivat progrestin, noretindron atau norgestrel, dosis kecil, terdiri dari 21-22 pil. Cara pemakaiannya sama dengan cara tipe kombinasi . Dosis yang digunakan adalah 0,03-0,05 mg per tablet. Karena dosisnya kecil maka pil mini diminum setiap hari pada waktu yang sama selama siklus haid bahkan selama haid (Marmi, 2016).

(b) Cara kerja

Menurut Marmi (2016), cara kerja mini pil adalah sebagai berikut:

i) Menghambat ovulasi, karena terjadi penekanan sekresi gonadotropin dan sintesis streroid seks di ovarium (tidakbegitu kuat).

ii) Mengubah dalam fungsi korpus luteum.

iii) Mencegah implantasi karena endometrium mengalami transformasi lebih awal.

iv) Menetraralkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma.

v) Mengubah motilitass tuba sehingga transportasi sperma menjadi terganggu

Dokumen terkait