• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keluarga sebagai Wadah Pertama Pendidikan Anak

HASIL PENELITIAN A. Temuan Hasil Analisis Kritis Deskriptif

1) Keluarga sebagai Wadah Pertama Pendidikan Anak

Dalam kegiatan pendidikan, keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama. Dalam lingkungan keluarga terletak dasar-dasar pendidikan. Dalam keluarga pendidikan berlangsung dengan sendirinya sesuai dengan tatanan pergaulan yang berlaku di dalamnya, artinya tanpa harus diumumkan atau dituliskan terlebih dahulu agar diketahui dan diikuti oleh seluruh anggota

1

Hasil wawancara penulis dengan Prof. Dr. Zakiah Daradjat pada hari Senin 04 April 2011 pukul 17:18-18:08 WIB di kediaman beliau, juga pada hari Rabu 12 April 2011 pukul 11:10-11:50 WIB di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), Cet. III, h. 63-66

keluarga. Dalam keluarga pula diletakkan dasar-dasar pengalaman melalui kasih sayang dan penuh kecintaan, kebutuhan akan kewajiban dan nilai-nilai kepatuhan. Justru karena pergaulan yang demikian itu berlangsung dalam hubungan yang bersifat pribadi dan wajar, maka penghayatan terhadapnya mempunyai arti yang amat penting.3

Pembentukan identitas anak menurut Islam, dimulai jauh sebelum anak diciptakan. Islam memberikan berbagai syarat dan ketentuan pembentukan keluarga, sebagai wadah yang akan mendidik anak sampai umur tertentu yang disebut baligh-berakal. Beberapa syarat dituangkan dalam al-Qur’an dan Hadits dalam pembentukan keluarga di antaranya, yaitu:

a) Larangan menikah dengan wanita yang dalam hubungan darah dan kerabat tertentu, 4 seperti disebut dalam al-Qur’an surat an-Nisaa’: 22 -23:

Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau. Sungguh, perbuatan itu sangat keji dan dibenci (oleh Allah) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).”5

Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan,

3

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam…, h. 66

4

Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: CV. Ruhama, 1995), Cet. II, h. 41-44

5

Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009), h. 81

anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa kamu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau,

Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (an-Nisaa: 23)6

b) Larangan menikah dengan orang yang berbeda agama. Disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah: 221:

Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik, meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran. (al-Baqarah: 221).7

c) Larangan menikah dengan orang yang berzina. Diutarakan dalam

al-Qur’an surat An-Nuur: 3.

Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan

6

Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya…, h. 81

7

laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin. (QS. An-Nuur: 3).8

d) Kriteria pemilihan pasangan. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Dari Abu Hurairah r.a. katanya, bersabda Rasulullah SAW: mengawini wanita itu karena salah satu dari empat sebab: hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka hendaklah anda peroleh yang taat kepada agamanya, yang jadi pilihan anda. (HR. Abu Hurairah).9

Setelah syarat-syarat bagi kedua calon suami-istri dipenuhi, maka dilaksanakanlah pernikahan menurut ketentuan yang diwajibkan Allah. Setelah mereka diikat oleh tali perkawinan, maka masing-masing pasangan suami-istri mempunyai hak dan kewajiban yang ditentukan. Mereka dibekali dengan beberapa petunjuk dalam mendayungkan bahtera rumah kehidupan dengan kasih sayang dan kepatuhan kepada ketentuan Allah, agar mereka memperoleh ketentraman dan kebahagiaan (sakinah). Firman Allah SWT:

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu hidupmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum: 21).10

Nabi Muhammad SAW memberikan petunjuk do’a ketika akan melakukan hubungan intim antara suami-istri:

8

Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya…, h. 350

9

A. Razak, dan Rais Lathief, Terjemahan Hadis Shahih Muslim, Jilid II,(Jakarta: Pustaka al-Husna: 1980), Cet. I, h. 203

10

Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya salah seorang di antara kamu ingin menggauli istrinya

lalu membaca doa: (artinya: Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah setan dari kami dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugerahkan pada kami), maka jika ditakdirkan dari pertemuan keduanya itu menghasilkan seorang anak, setan tidak

akan mengganggunya selamanya”. (HR. Muttafaq Alaih).11

Setelah terbentuk keluarga muslim yang memenuhi persyaratan yang ditentukan Allah, dan siap mendapatkan keturunan, ada beberapa petunjuk dan pedoman yang membantu terciptanya kehidupan sakinah, selanjutnya

adalah petunjuk do’a yang baik diucapkan dari Allah, yaitu:

Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa. (QS. Ali Imran: 38).12 a) Masalah Kejiwaan

Masalah kejiwaan menampilkan diri dalam berbagai bentuk, ada yang dalam ketidaktenteraman batin, cemas, gelisah, takut, sedih, marah, bimbang, tertekan, frustasi, rasa rendah diri, rasa sombong, tidak percaya diri, pesimis, putus asa, apatis dan sebagainya. Keadaan tidak tenteram boleh jadi disertai dengan tidak dapat tidur, hilang nafsu makan, sulit buang air, atau tidak mampu mengendalikannya.

Keadaan yang tidak tenteram dapat mempengaruhi kemampuan berpikir, sehingga orang menjadi pelupa, tidak dapat berkonsentrasi, sulit melanjutkan pemikiran yang teratur, malas, lesu, bosan, cepat lelah, mudah dipengaruhi orang, sulit berprestasi, baik dalam belajar maupun dalam bekerja dan sebagainya. Hal ini dapat pula mempengaruhi kesehatan badan, misalnya pusing, sakit kepala, tekanan darah tinggi atau darah rendah, sesak

11

Ibnu Hajar Atsqalani, Tarjamah Hadits Bulughul Maram Terj. Dari Bulughul Maram min Adilatil Ahkaam oleh Masdar Helmy, (Bandung: CV. Gema Risalah Press, 2009), Cet. V, h. 426-427

12

nafas, pencernaan tidak teratur, sering ditimpa penyakit, sakit jantung, wasir, lumpuh pada sebagian anggota tubuh seperti tangan, kaki, jari, lidah (jadi bisu), mata (jadi tidak melihat karena keadaan kejiwaan yang tidak sehat). Pengaruh kejiwaan terhadap kelakuan, orang menjadi jahat, nakal, tidak berperasaan, tidak tahu malu, atau berbagai pelanggaran hukum, pelanggaran terhadap ketentuan agama, dan berbagai penyimpangan lainnya. Hal-hal ini adalah gejala kejiwaan yang sering terjadi pada orang-orang yang tidak mampu menyesuaikan diri, kurang kuat imannya, tidak tenteram batinnya, dan karena berbagai sebab lainnya. Faktor-faktor terjadinya masalah kejiwaan antara lain adalah:

(1) Terdapat dalam diri sendiri. Misalnya kegoncangan perasaan yang dialami oleh remaja yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan dengan cepat, perubahan kelenjar yang mengalir di dalam tubuhnya, pertumbuhan kecerdasan yang mendekati selesai dan perubahan sikap sosial dan perkembangan kepribadian.

(2) Faktor luar, di antaranya perubahan nilai dan keadaan sosial-ekonomi yang menyebabkan orang kehilangan pegangan atau tidak mudah menyesuaikan diri.

b) Peranan Ibu dalam Keluarga

Keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika suasana dalam keluarga itu baik dan menyenangkan, maka anak akan tumbuh dengan baik pula. Jika tidak, maka akan terhambatlah pertumbuhan anak. Peranan ibu dalam keluarga amat penting. Ibulah yang mengatur, membuat rumah tangganya menjadi surga bagi anggota keluarga, menjadi mitra sejajar yang saling menyayangi dengan suami.

Sebagai istri, hendaklah ia bijaksana, tahu hak dan kewajibannya yang telah ditentukan oleh agama. Untuk mencapai ketenteraman dan kebahagiaan dalam keluarga diperlukan istri yang salehah, yang dapat menjaga diri dari kemungkinan salah dan kena fitnah, mampu

menenteramkan suami apabila gelisah, serta dapat mengatur keadaan rumah, sehingga tampak rapi. Membuat seluruh anggota keluarga senang dan nyaman berada di rumah. Istri yang bijaksana mampu mengatur situasi dan keadaan, hubungan yang saling melegakan dalam keluarga.

Langkah penciptaan suasana yang baik antara lain adalah menciptakan suasana saling pengertian, saling menerima, saling menghargai, saling mempercayai dan saling menyayangi di antara suami-istri dan antara seluruh anggota keluarga. Dengan adanya pengertian, penerimaan, penghargaan, kepercayaan dan kasih sayang yang dilandasi oleh keimanan yang mendalam, yang terpancar dalam kehidupan sehari-hari, maka akan dapat dihindarkan berbagai masalah negatif yang kadang-kadang terjadi dalam tindakan dan sikap masing-masing atau salah seorang (suami-istri).

Suami akan bekerja dengan tenang dan penuh gairah dalam menghadapi tugasnya, tidak akan berpikir mencari sesuatu yang tidak diridhai Allah SWT. Demikian pula istri, dengan hati lembut yang penuh keimanan, dapat menerangi suasana keluarga sehingga menjadi cerah ceria. Tanah yang subur adalah suasana keluarga dalam penyemaian tunas-tunas muda yang ada dalam keluarga.

(1) Penyusuan dan Pengasuhan Anak

Seorang bayi lahir dalam keadaan lemah dan tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan pokok yang menolongnya dalam kelangsungan hidupnya. Orang pertama dan utama yang dikenal oleh bayi adalah ibunya, yang sejak dalam kandungan telah membantunya untuk tumbuh dan berkembang, baik disadari ataupun tidak oleh ibunya.

Manusia, baik yang kecil maupun yang besar, muda ataupun yang tua, dibekali oleh Allah dengan seperangkat kebutuhan jasmani yang perlu dipenuhi. Jika tidak dipenuhi, misalnya dalam hal makanan dan minuman, maka akan terganggu kelangsungan pertumbuhan jasmaninya. Juga dibekali dengan seperangkat kebutuhan kejiwaan yang jika tidak dipenuhi akan terhambatlah perkembangan rohaninya, mungkin akan mempengaruhi hidupnya, bahkan sampai tua.

Untuk memenuhi kebutuhan jasmani anak yang masih bayi, secara alamiah Allah menciptakan air susu ibu (ASI), yang dipersiapkan bersamaan dengan pertumbuhan janin dalam kandungan. Serentak dengan kelahiran bayi, ASI pun sudah tersedia pada ibu yang melahirkan bayi itu.

Jika sang ibu tidak mau memberikan ASI kepada bayi yang dilahirkannya, maka bayi akan mengalami kegoncangan dan penderitaan. Jika tidak ada pertolongan orang lain, boleh jadi kelangsungan hidupnya akan terganggu, bahkan terhenti. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa tanggung jawab ibu dalam kelangsungan hidup anak yang masih bayi sangat besar.13 Allah berfirman:

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang

patut …” (QS. Al-Baqarah: 233).14

Anak tidak hanya mempunyai kebutuhan jasmani saja, akan tetapi ia juga mempunyai kebutuhan-kebutuhan kejiwaan yang menentukan perkembangan selanjutnya. Ada dua kebutuhan pokok kejiwaan yang harus dipenuhi anak sejak lahir, yaitu kebutuhan akan rasa kasih sayang, dan rasa aman. Setelah anak lahir, membutuhkan pemeliharaan dari orang yang membantunya untuk melindungi dari terpaan udara, baik panas maupun dingin, dan dari berbagai gangguan yang dapat menyakiti atau mengganggunya. Ia memerlukan bantuan dari orang yang mengerti kebutuhannya dan bersedia membantunya setiap saat.

Ibu yang telah melahirkan anak, yang mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan selama anak dalam kandungan, yang secara kodrati diberi oleh Allah perasaan kasih sayang dan kemampuan untuk menyayangi serta kecondongan untuk menolong dan merawat anak. Maka ibu pulalah yang

13

Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah…, h. 45-48

14

memikul tanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan rohani yang paling pokok pada anak.15 Allah memberikan petunjuk dengan firmannya:

Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa

mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan ….”

(QS. Al-Ahqaaf: 15).16

Anak tidak akan mengenal kasih sayang dalam hidupnya jika ketika bayi ibu tidak mampu atau tidak mau menyayangi anak yang membutuhkan kasih sayangnya dan akan megalami penderitaan sepanjang hayatnya. Tanpa kasih sayang ibu, rasa amanpun tidak akan tercapai, karena anak akan dibiarkan tanpa perlindungan terhadap berbagai gangguan dan ancaman bagi kelangsungan hidupnya.

(2) Manfaat Menyusui dalam Membina Rasa Tanggung Jawab Ibu.

Rasa tanggung jawab ibu terhadap masa depan anak tidak terjadi secara otomatis, dengan melahirkan anak. Ada ibu yang merasa anak adalah beban dan penghambat bagi kegiatannya. Ada pula sebagian ibu yang berpendapat bahwa tugas mendidik, merawat, dan menyusukan anak, bukanlah tugas ibu saja, akan tetapi tugas bersama antara ibu dan bapak.

Jika ibu sebagai wanita karir atau bekerja di luar rumah seperti sang suami, maka ia ingin bebas dari tugas kerumahtanggaan, pemeliharaan, dan pendidikan anak, seperti halnya dengan suami. Menyusukan anak untuk sebagian wanita mungkin merupakan tugas berat yang tidak menyenangkan.

Jika anak memperoleh ASI langsung dari ibu maka akan berdampak positif dan terpenuhinya kebutuhan jiwa akan kasih sayang dan rasa aman. Barometer yang digunakan anak untuk mengukur berbahaya atau tidaknya

15

Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah…, h. 49

16

sesuatu terhadap dirinya adalah sikap ibunya dalam menanggapi sesuatu.17 ASI memiliki banyak manfaat dan kelebihan karena ASI menjadi makanan bayi ketika masih dalam kandungan dan setelah lahir yang merupakan tindak lanjut dari proses pertumbuhan pasca kelahiran. Di antara manfaat ASI adalah:

a) Bayi langsung mendapat makanan bersih dan steril.

b) ASI tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas bahkan bersuhu sedang sehingga cocok buat anak.

c) Siap saji setiap saat, tidak mengenal surut dan tidak pernah kehabisan. d) ASI tidak mengalami kerusakan karena lamanya penyimpanan, dan tidak

mengalami perubahan dalam kondisi apapun.

e) Cocok dan sesuai kebutuhan perut bayi hingga sampai usia dua tahun. f) Mencukupi kebutuhan bayi yang sedang menyusu.

g) ASI memberi amunisi dan kekebalan tubuh bayi dari berbagai gangguan bakteri dan penyakit.

h) Asi membuat bayi terhindar dari problema kegemukan bagi bayi dan ibu. i) Menyusui bisa membantu dalam mengatur masa kelahitan bagi sebagian

wanita.

j) Menyusui menumbuhkan perasaan kasih saying dan cinta orang tua kepada anak dan menguatkan hubungan batin antara anak dan ibu. k) Menyusui memberi pengaruh pada mental anak hingga menjadi stabil,

penampilan yang tenang dan baik tingkah lakunya, serta bagus dalam pembentukan jaringan otak, emosional, intelejensi dan jasmani.18

Rasa tanggung jawab ibu terhadap masa depan anak terjadi berangsur-angsur melalui pengalaman yang dilalui bersama anaknya. Apabila ibu tidak melakukan perawatan langsung terhadap anaknya, maka kasih sayang kepada anak kurang, bahkan terkadang tidak terasa sama

17

Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah…, h. 51

18

Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi, Begini Seharusnya Mendidik Anak; Panduan Mendidik Anak Sejak Masa Kandungan hingga Dewasa, Terj. Dari buku Kaifa Turrabi Waladan Shalihan,oleh Zaenal Abiddin,(Jakarta: Darul Haq, 2004), h. 108-109

sekali. Bila perawatan, pemeliharaan dan pendidikan, serta menyusui tidak dilakukan oleh ibu, dan ia hanya melihat anaknya sebagai objek yang harus diurus, tanpa ada ikatan batin dengan dirinya, dan tugas tersebut dapat diserahkan kepada orang lain, seperti pembantu, nenek, bibi atau lainnya, tanpa merasa kehilangan sesuatupun, bahkan mungkin tidak terpikir olehnya tentang masa depan anaknya.

Lain halnya dengan seorang ibu yang mengurus dan menyusukan anaknya secara langsung, ia akan merasa tertarik kepada anak yang tumbuh-kembang dari hari ke hari. setiap pengalaman, baik berat maupun ringan yang dilakukan ibu terhadap anak, menimbulkan kesan yang menarik dan merangsangnya untuk memikirkan hari depan anaknya. Lambat laun pemikiran masa depan anak memenuhi relung-relung hatinya. Maka akan berkembanglah rasa tanggung jawabnya terhadap masa depan anak.

Hubungan timbal balik antara ibu dan anak yang disusuinya, ditandai dengan saling menyayangi. Keduanya sama-sama mendapatkan objek yang disayangi dan sama-sama merasakan bahwa dirinya disayangi. Inilah modal penting bagi anak untuk merasa bahagia dalam kehidupannya di kemudian hari.19