HASIL PENELITIAN A. Temuan Hasil Analisis Kritis Deskriptif
3) Peran Keluarga dalam Pendidikan Agama pada Anak
Maka keutuhan pribadi muslim yang dinasihatkan oleh Luqman adalah pribadi beriman, taat beribadah, teguh pendirian, pandai bergaul, ramah dan mempunyai kepedulian terhadap masyarakat.
Pada umumnya para pendidik muslim menjadikan nasihat Luqman terhadap anaknya, sebagai dasar pendidikan Islam. Pribadi Luqman sebagai sosok seorang bapak yang terpilih untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya, yang seluruh penampilan iman, Islam dan akhlaknya dapat diserap oleh anaknya pada tahun-tahun pertama dari umurnya (0-6 tahun).
Intisari dari nasihat Luqman adalah tentang pembinaan iman, (tauhid), amal saleh (ibadah), akhlak terpuji dan kepribadian yang sehat, kuat dan penuh kepedulian terhadap masyarakat.
Para pendidik muslim masih perlu mengkaji dan mengolah prinsip-prinsip pendidikan Luqman dengan berbagai teori pendidikan dan psikologi yang ada, untuk kemudian keluar dengan suatu teori pendidikan Islam yang mudah dilaksanakan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.40
3) Peran Keluarga dalam Pendidikan Agama pada Anak
Begitu besar dan ampuh arti agama bagi manusia dalam kehidupannya. Fungsi agama bagi manusia antara lain adalah:
a) Agama memberikan bimbingan dalam hidup manusia.
38
Samsul Nizar, Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), Cet. I, h. 70-71
39
Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya…, h. 412
40
b) Agama menolong dalam menghadapi kesukaran. c) Agama menentramkan batin manusia.41
Agama memberikan bimbingan hidup dari yang terkecil sampai yang terbesar, mulai dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan hubungan dengan Allah, bahkan dengan alam semesta dan makhluk hidup lain.
Kesukaran yang paling sering dihadapi oleh manusia adalah kekecewaan. Jika kekecewaan sering dihadapi akan membawa orang kepada perasaan rendah diri, pesimis, dan apatis dalam hidupnya dan akan menggelisahkan batinnya. Jika kekecewaan menimpa orang yang benar-benar menjalankan agamanya, ia tidak akan putus asa, tapi akan bersikap tenang, ingat kepada Tuhan, dan dapat menganalisa faktor-faktor penyebab kekecewaan sehingga dapat menghindari gangguan perasaan atau gangguan jiwa akibat kekecewaan itu.
Bagi jiwa yang gelisah, agama akan memberi jalan dan siraman penenang hati. Tidak sedikit orang yang kebingungan dalam hidup selama tidak beragama, tetapi setelah mengenal dan menjalankan agama, ketenangan jiwa pun datang. Agama sangat penting bagi manusia dalam menjalani hidup, baik bagi orang tua, maupun bagi anak. Bagi anak-anak, agama merupakan bibit terbaik yang diperlukan dalam pembinaan kepribadiannya.42
Dalam Islam penyemaian rasa agama dimulai sejak pertemuan ibu dan bapak yang membuahkan janin dalam kandungan, yang dimulai dengan doa kepada Allah. Selanjutnya memanjat doa dan harapan kepada Allah, agar janinnya kelak lahir dan besar menjadi anak saleh.
Begitu si anak lahir, dibisikkan ketelinganya kalimat adzan dan iqamah, dengan harapan kata-kata thayibah yang pertama kali didengar anak kemudian ia akan berulang kali mendengarnya, setiap waktu shalat tiba, baik
41
Zakiah Daradjat, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: PT. Gunung Agung, 1982), Cet. VI, h. 56-62
42
Zakiah Daradjat, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: PT. Gunung Agung, 1982), Cet. VI, h. 56-62
didengar di rumahnya atau pun di luar rumah. Kata-kata thayibah dan kata-kata lain yang berisikan jiwa agama, akan sering didengar oleh anak melalui ibunya, waktu ia disusukan, dimandikan, ditidurkan dan diganti pakaian oleh ibunya. Ia mendengar kata-kata thayibah ketika sedang memperoleh pemenuhan kebutuhan pokok. Pengalaman yang seperti itu akan menyuburkan tumbuhnya rasa agama dalam jiwa anak, dan akan tetap hidup dalam jiwanya. Jika ia melihat ibu dan bapaknya shalat, ia pun akan menyerap apa yang dilihatnya, lebih-lebih lagi jika disertai dengan kata-kata yang bernafaskan agama.
Agama bukan ibadah saja. Agama mengatur seluruh segi kehidupan. Semua penampilan ibu dan bapak dalam kehidupan sehari-hari yang disaksikan dan dialami oleh anak bernafaskan agama, di samping latihan dan pembiasaan tentang agama, perlu dilaksanakan sejak kecil, sesuai pertumbuhan dan perkembangan jiwanya. Apabila anak tidak mendapatkan pendidikan, latihan dan pembiasaan keagamaan waktu kecil, ia akan besar dengan sikap acuh atau anti agama.43
Anak mengenal Tuhan, melalui ucapan ibunya waktu ia kecil. Apapun yang dikatakan ibunya tentang Tuhan, akan diterima dan dibawanya sampai dewasa. Oleh karena itu ibu perlu berhati-hati menjawab pertanyaan anak tentang Tuhan atau pokok-pokok keimanan lainnya. Jika ibu salah menjelaskannya, maka konsep agama yang salah itu akan tumbuh dan berkembang dalam jiwa anak nantinya.
Dalam memperkenalkan sifat-sifat Allah kepada anak, hendaknya didahulukan sifat-sifat Allah yang mendekatkan hatinya kepada Allah, misalnya Penyayang, Pengasih, Pemurah, Adil dan sebagainya, pada umur anak belum mencapai 12 tahun.
Kualitas hubungan anak dan orang tuanya, akan mempengaruhi keyakinan beragamanya di kemudian hari. Apabila ia merasa disayang dan diperlakukan adil, maka ia akan meniru orang tuanya dan menyerap agama dan nilai-nilai yang dianut oleh orang tuanya. Jika yang tejadi sebaliknya,
43
maka ia akan menjauhi apa yang diharapkan orang tuanya, mungkin ia tidak mau melaksanakan ajaran agama dalam hidupnya, tidak shalat, tidak puasa dan sebagainya.44
Tidak semua orang tua, terutama ibu, mampu mengajarkan agama kepada anak-anaknya. Tugas pemberian pelajaran dan pengetahuan tentang agama yang lebih luas dan beragam, agalah guru agama di sekolah. Tetapi yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan agama pada anak sekolah bukan hanya guru agama saja. Guru atau pegawai lainnya ada hubungannya dengan anak. Begitu juga dengan iklim yang terdapat di sekolah. Semakin kecil umur anak, semakin besar pengaruh guru terhadap anak.
Dewasa ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak membawa kemudahan hidup, termasuk televisi yang sudah merambah masuk ke rumah-rumah di seluruh pelosok tanah air, mulai dari kota sampai ke desa-desa, bahkan sampai desa terpencil. Maka apa saja yang ditayangkan di TV dapat disaksikan oleh anak-anak, termasuk anak yang masih di bawah umur lima tahun.
Anak akan menyerap apa yang disaksikan lewat layar kaca yang ada di rumahnya, matanya melihat dan menangkap apa yang ditayangkan, dan telinganya mendengar dan menyerap apa yang diucapkan oleh penyair, penyanyi, atau film yang ditayangkan. Semua akan terserap oleh anak dan menjadi unsur-unsur dalam pribadinya yang sedang dalam proses pertumbuhan.
Jika yang ditayangkan oleh TV baik dan menunjang pembentukan iman dan takwa, maka peranannya dalam pembentukan pribadi dan identitas agama pada anak akan besar. Sebaliknya, jika yang ditayangkan tidak mendukung atau merusak nilai-nilai agama, maka anak juga akan menyerap nilai-nilai yang merusak tersebut, selanjutnya pribadinya akan diliputi pula oleh hal-hal yang merusak iman dan penampilan diri anak akan jauh dari agama.
44
Perkembangan sikap sosial pada anak terbentuk mulai di dalam keluarga. Orang tua yang penyayang, lemah lembut, adil dan bijaksana, akan menumbuhkan sikap sosial yang menyenangkan pada anak. Ia akan terlihat ramah, gembira dan segera akrab dengan orang lain. Karena ia merasa diterima dan disayangi oleh orang tuanya, maka akan tumbuh pada dirinya rasa percaya diri dan percaya terhadap lingkungannya, hal yang menunjang terbentuknya pribadi yang menyenangkan dan suka bergaul. Demikian pula jika sebaliknya orang tua keras, kurang perhatian kepada anak dan kurang akrab, sering bertengkar antara satu sama lain (ibu-bapak), maka anak akan berkembang menjadi anak yang kurang pandai bergaul, menjauh dari teman-temannya, mengisolasi diri dan mudah terangsang untuk berkelahi, pribadi negatif, yang condong kepada curiga dan antipati terhadap lingkungannya.45