• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUMAH DOME UNTUK KORBAN BENCANA GEMPA

Dalam dokumen ProdukHukum PekerjaanUmum (Halaman 40-55)

YOGYA

Anjar Pramularsih* Abstract

Domse New Ngelepen Village merupakan salah satu kawasan permukiman bagi korban bencana gempa bumi di Yogyakarta yang dirancang sebagai perumahan tahan gempa. Ciri khas perumahan ini adalah pemilihan bentuk dome sebagai bentuk bangunan, baik rumah penduduk maupun bangunan fasilitas umum dan sosial. Secara struktural bentuk dan struktur bangunan ini cukup kuat terhadap gaya gempa di daerah zona gempa ini. Secara arsitektural bangunan ini cukup kontroversial dengan kondisi iklim, cuaca dan ranah arsitektural daerah. Dari sisi sosial budaya kemasyarakatan, permukiman ini juga perlu dikaji lebih lanjut mengenai perilaku warga penduduk permukiman ini.

Keyword : denah, dome, estetika, gempa, rumah, siteplan, struktur

Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter menggunjang kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada hari Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.54 WIB. Gempa bumi ini menyebabkan kerusakan dan korban yang cukup besar di sejumlah kabupaten di kawasan DIY dan Jateng, antaralain : Sleman, kulon Progo, Kotamadya Yogyakarta, Gunung Kidul, Bantul, Klaten, Sukoharjo, Magelang, Purworejo, Boyolali, Wonogiri, Kebumen, Temanggung dan Karanganyar. Bencana ini mengakibatkan kerusakan 616.458 unit bangunan permukiman di DIY dan Jateng, yang terdiri dari 259.334 rumah rata dengan tanah serta 357.124 rumah rusak sedang dan ringan (Sumber : Kompas, 2 Juni 2007). Daerah yang paling banyak terjadi

* Pelaksana Bidang Teknik Konstruksi, Pusbiktek

Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

Lebar jalan utama 5 meter, sedangkan lebar jalan lingkungan 3,6 meter. Bangunan social umum, berupa : masjid, taman kanak-kanak, dan poliklinik terletak di sebelah utara tengah perumahan, tegak lurus dengan gerbang utama perumahan.

Denah Bangunan

Denah rumah dome berbentuk lingkaran dengan diameter 7 meter, terbagi atas 2 lantai. Lantai 1 terbagi atas 4 ruang yang

sama besar, yang berfungsi sebagai : 1 ruang tamu, 2 ruang tidur yang berseberangan, dan 1 ruang dapur. Lantai 2 merupakan ruang keluarga, seluas ¾ luas ruangan dengan void di atas ruang tamu. Void ini selain berfungsi sebagai sirkulasi udara dan cahaya (paru-paru rumah) juga memberikan efek memperluas ruang tamu.

Layout Siteplan

Gambar 2. Denah lantai 1 Gambar 3. Denah lantai 2

R. Keluarga Void 7 meter 7 m et er Kamar

Tidur KamarTidur Dapur Ruang Tamu Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

menyesuaikan dengan estetika desain dome awal. Ruang ruang di lantai satu dipisahkan dengan sekat dinding bata dan lantai dari ubin. Ruangan di lantai dua di dak menggunakan material kayu, berupa ruangan yang terbuka dan dibatasi dengan railing kayu (pengaman) serta void di atas ruang tamu sebagai sirkulasi udara. Sehingga masih ada interaksi antara aktifitas di lantai 1 dengan lantai 2. Tangga akses ke lantai 2 juga terbuat dari kayu. Pada musim panas suhu di lantai 1 cukup dingin, tapi di lantai 2 lebih panas karena atap kubahnya tidak terlalu tinggi dan tidak ada plafond. Untuk mengurangi panas dipasang lubang udara (exhaust fan) di tengah-tengah kubah.

Bentuk dan Estetika Bangunan

Sesuai dengan namanya, rumah dome, rumah ini berbentuk kubah setengah bola (batok kelapa) dengan diameter 7 meter dan tinggi bangunan 6,15 meter. Di puncak kubah ada lubang angin sebagai lubang sirkulasi udara dari luar bangunan ke dalam bangunan dan sebaliknya.

Finishing kubah dilakukan dengan melapisi dinding kubah beton dengan acian halus dan di cat tembok warna putih. Pemilihan warna cat ini menimbulkan dampak silau dan mencolok pada siang hari dan suasana yang lebih panas, karena halaman sekitar rumah masih belum ada penghijauan yang berarti. Pada malam hari warna putih ini membantu penerangan, sehingga bias lebih hemat energi pemakaian listrik. Bukaan berupa pintu dan jendela kaca yang menjadi satu-satunya ornamen fasad bangunan ini. Bahan material bukan ini dari kayu yang dipelitur sehingga menampakkan warna asli alami kayu. Pintu berupa pintu panil kayu, pintu dan jendela dilengkapi dengan b o u v e n l i g h t k r e p y a k s e h i n g g a memungkinkan adanya aliran udara dalam rumah. Pada jalur kusen pintu dan jendela dibuat tali air yang akan mengalirkan air di badan kubah pada musim hujan, namun metode konstruksi ini tidak terlalu efektif untuk mencegah air hujan masuk ke dalam bangunan. Oleh karena itu ada beberapa modifikasi oleh penduduk yang menambahkan shading/ atap tambahan di atas bukaan (pintu dan jendela) yang disainnya menyesuaikan dengan bentuk dan tampilan dome. Pada dasarnya ada kesepakatan antara arsitek bangunan dalam hal ini lembaga Domes for the World, Wango dengan penduduk yang menghuni bahwa sedapat mungkin tidak mengubah fasad dan bentuk dome itu sendiri sebagai cirri khas Wango, perubahan dan

penambahan fasad bangunan harus Gambar 5. . Rumah Dome

Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

Fasilitas Sosial dan Umum Perumahan

Permukiman ini dilengkapi dengan 1 buah masjid, 1 buah taman kanak-kanak berikut taman bermain, 1 buah puskesmas, 6 kamar mandi komunal, dan 1 buah kandang hewan komunal.

Keberadaan kandang hewan komunal ini dibutuhkan oleh penduduk karena sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah petani. Ide ini muncul kemudian dari para penduduk sendiri karena fasilitas ini sangat dibutuhkan.

Fungsi masjid sebagai tempat ibadah pun berkembang sebagai tempat berkumpul warga untuk berdiskusi, karena permukiman ini belum ada gedung serba guna dan semacamnya untuk menampung aktifitas warga.

Tahap Pembangunan

P e m b a n g u n a n p e r m u k i m a n i n i dilaksanakan secara serentak, rumah-rumah, fasilitas umum, saluran sanitasi dan jalan sehingga pembangunan permukiman ini bisa selesai dalam waktu cepat.

a.Pengukuran tapak permukiman sesuai dengan rencana siteplan.

Pengukuran tapak ini menyesuaikan dengan site plan yang sudah ada, meliputi perletakan rumah-rumah dome, fasilitas umum dan sosial, jaringan sanitasi, dan jaringan jalan.

Gambar 6. Masjid perumahan Domes New Ngelepen

Gambar 7. Taman kanak – kanak dan Puskesmas perumahan Domes New Ngelepen

Gambar 8. Pengukuran Site

Gambar 9. Pelaksanaan rencana site plan di lapangan Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

Tahap pertama pekerjaan pondasi ini adalah membuat galian melingkar diameter 7 meter, sedalam 40 cm, sloof melingkar setinggi 20 cm. Kemudian di cor beton trasram 1 : 2 : 3. Bagian tengah lingkaran sebagai landasan lantai dome dipadatkan dengan tanah urug, kemudian diberikan tulangan, anyaman besi d = 12 mm kemudian di cor sehingga terbentuk plat beton yang nantinya berfungsi sebagai lantai rumah dome.

Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

c.Pembuatan cetakan dome

Setelah pondasi plat beton yang berbentuk lingkaran selesai dikerjakan, dipasang bahan cetakan dome yang terbuat dari bahan karet membal dan liat, seperti balon udara. Balon karet ini kemudian dipompa hingga membentuk kubah setinggi ± 6 meter, sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Bahan ini cukup kuat dan pejal, sehingga pekerja dapat menaiki balon ini untuk memasang rangka tulangan besi.

Tahap pekerjaan pembuatan cetakan dome ini juga dilakukan secara serentak sejumlah dome yang akan dibangun.

d.Pemasangan tulangan dinding dome Pemasangan tulangan bangunan dilakukan setelah balon dome sempurna bentuknya dan kuat sehingga tulangan dinding tidak berubah bentuk. Besi tulangan yang digunakan adalah besi d = 10 mm.

Tahap pertama penulangan adalah pelapisan secara menyeluruh kulit balon dengan kawat kasa (wire mesh). Setelah kawat kasa terpasang, besi tulangan dipasang menyelimuti lapisan luar balon dome dengan pola vertikal dan horisontal

Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

45

e.Pengecoran lapisan beton ke tulangan dinding dome

Tahap pekerjaan ini dilakukan setelah semua tulangan dan kusen terpasang pada cetakan balon dome. Beton yang digunakan adalah campuran beton 1 : 3, trasram (kedap air). Alat yang digunakan seharusnya adalah model alat penyemprot khusus bertekanan tinggi, namun dikarenakan alat ini tidak ada di lapangan (produk luar negeri), maka pekerjaan pengecoran ini dilakukan secara manual oleh para pekerja.

dari bawah ke atas, seperti pola sarang laba-laba. Tulangan dinding ini disambung dengan tulangan dari pondasi sehingga secara struktural menyatukan antara struktur bawah (pondasi) dengan struktur atas (dinding).

Pada tahap ini juga dilakukan pemasangan kusen pintu, jendela, dan bovenlight. Perancah yang digunakan untuk pemasangan tulangan ini adalah material bambu, bahan yang murah dan mudah didapat di daerah ini.

Kusen-kusen dipasang menempel kulit balon cetakan dome dengan bantuan perancah sesuai dengan letak yang telah ditentukan dalam gambar kerja, dan menyatu pula dengan tulangan besi dinding dome yang sedang dikerjakan.

Gambar. 20. Pola tulangan besi dinding bangunan dome

Gambar 21. Proses pemasangan kusen dan tulangan besi dinding dome

Gambar 22. Kusen dan tulangan besi dinding dome yang sudah terpasang di lapisan balon

Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

Setelah pengecoran selesai, konstruksi beton dibiarkan mengering dan kuat. Proses perkuatan ini memerlukan waktu 5 7 hari, tergantung cuaca. Selama masa pengeringan dan perkuatan beton ini, lapisan cetakan balon tidak boleh dilepas untuk mengantisipasi perubahan bentuk dome. Selain itu, cetakan balon ini juga berfungsi sebagai perkuatan struktur beton yang masih lemah. Setelah kering betul ( 5 7 hari ) cetakan balon dome bisa dilepas. Cetakan ini bisa digunakan lagi untuk konstruksi berikutnya, dengan catatan balon tersebut tidak bocor.

Gambar. 23 – 26. Pengecoran dinding bangunan dome

Gambar 27. Dinding beton bagian dalam setelah kering

Gambar 28. Dinding beton bagian luar setelah kering Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

Tahap selanjutnya adalah pengacian lapisan beton. Permukaan beton dinding luar sangat kasar, perlu tahap penyelesaian dengan pengacian.

f .Pekerjaan dinding penyekat ruang dalam dome

Ruang dalam dome terbagi atas 2 lantai. Lantai 1 terdiri atas 2 ruang tidur, 1 ruang tamu, dan dapur kecil. Lantai 2 merupakan ruang terbuka tanpa sekat dengan void ke arah ruang tamu. Material yang digunakan adalah kayu untuk konstruksi lantai 2 dan bata merah untuk struktur dinding lantai 1. Kayu dipilih sebagai struktur atas karena bebannya ringan dan lebih ekonomis dibandingkan struktur beton bertulang. Gambar 29 - 30. Tahap pengacian dinding bangunan

Gambar 31. Ruang dalam dome

Gambar 32. Pemasangan kusen pintu

Gambar 33. Pemasangan alur dinding penyekat

Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

Tahap awal pekerjaan adalah penempatan kusen pintu kamar sesuai dengan posisi di denah. Kemudian dibuat alur dinding sekat sesuai denah sebagai kepala/ patokan pekerjaan. Satu hal yang ditekankan disini adalah bahwa struktur ini ditujukan sebagai struktur tahan gempa. Salah satu cara perkuatannya adalah meletakkan angkur besi di struktur dinding bata setiap 3 lapis bata vertikal dan interval jarak 50 cm secara selang seling. Begitu juga dengan angkur pada pertemuan dinding luar dengan dinding dalam (penyekat). Hal ini dimaksudkan untuk membentuk sistem struktur yang lebih rigid

Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dan ketelatenan pekerja tukang batu, mengingat banyaknya angkur besi yang dipasang. Selain itu ada jeda pengerjaan setiap ketinggian dinding ± mencapai 1 2 m, struktur dibiarkan mengeras dan kuat, baru dilanjutkan lagi untuk lapisan bata selanjutnya.

Gambar 34. Perkuatan struktur dinding dengan angkur besi

Gambar 35 – 37. Pekerjaan dinding bata penyekat

Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

h.Finishing dome

Secara keseluruhan bentuk dan finishing arsitektural rumah dome ini sudah ditentukan oleh Perencana. Dinding bangunan baik dalam maupun luar di cat warna putih. Lantai 1 menggunakan bahan keramik. Kusen pintu, jendela, dan bouvelight menggunakan kayu kamper di finishing cat melamik, dan kaca bening. g.Pekerjaan struktur lantai 2 dome.

Struktur lantai 2 menggunakan material kayu, baik balok lantai, lantai parquet ( papan kayu), tangga, dan balustrade (pengaman lantai atas). Akses tangga kayu berada di dapur. Pekerjaan pemasangan jaringan elektrikal dan mekanikal juga dilaksanakan pada tahap ini, sehingga pada tahap finishing jaringan-jaringan ini tidak mengganggu estetika bangunan, karena sudah direncanakan dari awal pekerjaan.

Pada bagian puncak dome dipasang lubang angin sebagai jalur sirkulasi udara dari dan keluar bangunan.

Gambar 38. Pemasangan struktur kayu lantai 2

Gambar 39. Pemasangan balustrade - pengaman

Gambar 40. Pemasangan lantai kayu lantai 2

Gambar 41. Interior rumah dome

Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

i. Pelaksanaan pekerjaan jaringan sanitasi dan jalan

Pekerjaan jaringan sanitasi dan jalan ini dilaksanakan bersamaan dengan pembangunan rumah-rumah dome. Perumahan ini menggunakan konsep sanitasi berkelompok terpusat, jadi dibuat kamar mandi umum/ komunal di setiap cluster rumah. Jaringan air bersih dan air kotor dari setiap rumah juga sudah dibangun secara terpusat. Konsep perumahan yang berkelanjutan juga diterapkan dalam pembangunan perumahan ini, bak-bak kontrol dan sumur peresapan di bangun. Selain itu saluran air hujan/ selokan/ got di sepanjang jalan juga terorganisir dengan baik

Jalan utama cukup lebar ± 5 meter, sedangkan lebar jalan sekunder 3,6 meter. Jalan beraspal dalam kondisi baik sampai saat ini.

Gambar 42. Ekterior rumah dome

Gambar 43. Pembangunan septic tank dan salurannya

Gambar 44. Jaringan sanitasi – air kotor

Gambar 45. Lapisan ijuk pada sumur resapan

Gambar 46. Jaringan riol/ selokan jalan

Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

di daerah Yogyakarta. Mengingat rumah ini menyerupai rumah Iglo, rumah penduduk Eskimo di daerah Kutub dengan kondisi iklim yang berlawanan dengan Indonesia. Hal ini menimbulkan reaksi dari berbagai pihak baik masyarakat calon penghuni sendiri, pemerintahan, akademis, praktisi bidang konstruksi maupun dari kalangan pengamat sosial. Membutuhkan sistem adaptasi menyeluruh bagi warga yang menjadi penduduk permukiman tersebut. Mengingat tradisi bermukim penduduk desa yang bersifat agraris di kawasan tropis, dan lingkungan tradisi adat desa Jawa banyak warga yang cukup kesulitan untuk tinggal di permukiman ini. Sebagai contoh, warga yang sebagian besar pencahariannya adalah sebagai petani di sawah dan ladang, mereka membutuhkan kandang tempat ternak mereka, dimana di perumahan ini tidak disediakan lahan yang cukup untuk kandang tersebut. Selain itu modul rumah kubah yang sempit tidak bisa mengakomodasikan kebutuhan akan ruang-ruang fungsional bagi warga. Sistem struktur sosial warga pedesaan yang setiap rumah biasanya dihuni oleh beberapa kepala keluarga yang masih dalam satu garis keturunan, kondisi rumah kubah yang sempit ini tentu saja kurang memadai. Selain itu, bentuk rumah joglo dan limasan yang memiliki ruang terbuka untuk bersosialisasi dengan keluarga dan tetangga juga tidak bisa diselesaikan dalam konsep perumahan dome ini. Saat ini f a s i l i t a s s o s i a l y a n g b i s a m e n g a k o m o d a s i k a n k e b u t u h a n bersosialisasi warganya adalah Masjid desa. Selain berfungsi sebagai sarana ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai tempat pertemuan warganya. Selain itu keberadaan dapur bersih dalam rumah dome ini kurang mengakomodasi perilaku sehari-hari warganya. Penduduk desa masih biasa menggunakan tungku kayu,

Analisis Tahan Gempa

Bangunan rumah dome ditinjau dari studi kelayakan gempa dapat dikategorikan sebagai bangunan yang stabil, bentuk seperti batok kelapa tengkurap. Gaya-gaya geser yang mengenai bentuk ini diteruskan secara merata ke bagian dasar- landasan lingkaran. Dengan perkuatan-perkuatan struktur bangunan yang dilakukan pada tahap pembangunan rumah dome ini, bisa dikatakan bahwa bentuk dan struktur rumah dome ini cukup representatif menghadapi goncangan gempa di wilayah Yogyakarta yang merupakan jalur patahan gempa. Struktur dinding bangunan sendiri yang dilapisi kawat kasa dan diperkuat dengan besi tulangan berpola sarang laba-laba cukup kuat menahan gaya horisontal gempa. Selain itu perkuatan yang dilakukan pada dinding dalam rumah berupa angkur-angkur di setiap layer/ lapisan bata semakin mengokohkan struktur bangunan ini, sehingga struktur ini cukup rigid namun flexible.

Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat

Pemilihan bentuk dome kubah sebagai bentuk rumah merupakan hal yang sangat baru bagi masyarakat Indonesia, khususnya

Gambar 47. Pembangunan jalan perumahan

Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

tapi di rumah dome ini tidak ada dan tidak diperbolehkan untuk menggunakan alat ini. Banyak warga yang masih tetap menggunakan tungku kayu dengan membangun dapur kotor tambahan di halaman belakang yang menyatu dengan rumah dome, sebagai pengembangan bangunan itu sendiri namun dalam taraf semi permanen.

Saat ini perumahan ini telah dihuni hampir 70% yang sebagian besar merupakan warga generasi muda yang sudah bisa menerima perubahan. Mereka saat ini menjadi motor penggerak berbagai macam program pengembangan kawasan permukiman dome ini, yang mana permukiman ini dikembangkan sebagai salah satu desa w i s a t a y a n g d i h a r a p k a n d a p a t meningkatkan pendapatan ekonomi warga permukiman dome ini.

Pengembangan ke depan

Pengembangan ke depan permukiman dome ini adalah lebih pada pengelolaan sebagai kawasan binaan, baik dilakukan oleh warganya sendiri maupun oleh pihak Pemerintah Daerah. Warga permukiman sendiri sudah membuat rencana pengembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan aspirasi warganya guna menunjang aktfitas mereka sehari-hari serta menyikapi kondisi cuaca dan iklim terhadap bangunan rumah dome itu sendiri. Beberapa hal yang dilakukan oleh warga antaralain : membangun kawasan kandang ternak terpusat di salah satu sudut p e r u m a h a n , p e n a m b a h a n d a n pengembangan bangunan seperti atap tambahan di atas kusen pintu dan jendela untuk merespon kondisi bangunan di musim hujan, gerakan penghijauan di kawasan permukiman serta perbaikan saluran air selokan.

Pihak Pemerintah Daerah sangat berperan

penting dalam pengembangan permukiman ini menjadi kawasan desa pariwisata, terkait dengan peraturan-peraturan, promosi ke daerah lain, serta kemudahan-kemudahan fasilitas bagi para pengunjung maupun warga penduduk permukiman, sehingga warga penduduk betah bermukim di permukiman tersebut.

Penutup

Kawasan permukiman ini merupakan salah satu aset pariwisata daerah, perlu dikembangkan cara pengelolaan baik pengelolaan fisik bangunan sendiri maupun tatanan sosial kemasyarakatannya. Perlu dikembangkan dan dilengkapi fasilitas-fasilitas yang bisa mempermudah akses penduduk ke dunia luar dan juga sebaliknya, akses para pengunjung ke kawasan ini.

Selain itu perlu dikaji lebih lanjut mengenai kondisi paska kependudukan permukiman, baik secara fisik bangunan dome maupun sosial ekonomi dan kemasyarakatan penduduknya bila konsep pola kawasan permukiman dome ini akan diterapkan di wilayah lain di Indonesia.

Daftar Pustaka :

Harian Kompas, edisi Sabtu 2 Juni 2007 Hasil wawancara dengan Sakiran, Domes New Ngelepen Blok C 10

www. Wikipedia Indonesia. Com, Gempa Bumi Yogyakarta Mei 2006

Ju rn al Pe ndi di ka n Pr ofe sio na l

Pedoman penulisan bagi Penulis

1.Redaksi menerima naskah tulisan dari dalam maupun luar lingkungan Pusat Pembinaan Keahlian dan Teknik Konstruksi yang kemudian akan diperiksa oleh tim penyunting.

2.Naskah dapat berupa hasil penelitian, kajian, ulasan ilmiah yang belum dan tidak akan dipublikasikan dalam media cetak lain.

3.Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Diserahkan berupa file elektronik disertai dua eksemplar cetakan. Jumlah tulisan maksimum 12 halaman, termasuk abstrak, gambar, tabel dan daftar rujukan.

4.Sistematikan penulisan disusun sebagai berikut : Bagian Awal : judul, nama penulis, abstrak (abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan huruf Italic). Bagian Utama : pendahuluan, tulisan pokok, kesimpulan dan saran. Bagian Akhir : ucapan terima kasih serta keterangan simbol dan daftar pustaka.

5.Judul tulisan sesingkat mungkin, tetapi jelas menunjukkan dengan tepat masalah yang hendak dikemukakan, tidak memberi peluang penafsiran yang beraneka ragam, ditulis seluruhnya dengan huruf kapital posisi tengah.

6.Nama penulis ditulis :

a.Di bawah judul tanpa gelar diawali huruf kapital, di posisi tengah dengan dengan asterik (untuk keterangan) dan tidak diawali dengan kata ”oleh”, apabila penulis lebih dari satu orang, nama-nama tersebut ditulis pada satu baris.

b.Di catatan kaki, nama lengkap disertai keterangan pekerjaan/ profesi/ instansi dan kotanya, apabila penulis lebih dari satu orang, semua nama penulis dicantumkan secara lengkap.

7.Intisari (abstrak) memuat permasalahan, pemecahan, dan hasil yang diperoleh, harus ada kata kunci dan tidak lebih dari 200 kata.

8.Teknik penulisan

a.Naskah ditulis pada kertas ukuran B5 (24x18 cm) ketikan satu spasi dengan 2 kolom, jarak kolom pertama dan kedua 0.75 cm

b.Batas pengetikan : tepi atas 2 ½ (dua setengah) cm, tepi bawah 3 (tiga) cm, sisi kiri 2 ½ (dua setengah) cm dan sisi kanan 2 ½ (dua setengah) cm. Alinea baru dimulai pada satu cm batas tepi kiri, antara alinea tidak diberi tambahan spasi.

c.Menggunakan Font :

 Abstrak, Times New Roman 10 pt italic

 Judul, Times New Roman, huruf besar, 14 pt, bold  Sub Judul, Times New Roman, huruf besar, 14 pt, bold  Isi, Times New Roman, 11 pt

d.Kata asing ditulis dengan huruf italic, bilangan ditulis dengan angka, kecuali pada awal kalimat e.Tabel dan gambar harus diberi keterangan yang jelas. Judul tabel diletakkan di bagian atas,

sedangkan judul gambar di bagian bawah

f.Sumber pustaka terdiri atas nama penulis dan tahun penerbitan. Nama penulis harus sama dengan nama yang tertulis dalam daftar pustaka,

g.Daftar pustaka di tulis dalam urutan abjad nama penulis dan disusun menurut aturan yang sudah baku.

9.Penyunting tidak bertanggung jawab terhadap isi tulisan karangan

10.Penyunting dapat menyesuaikan bahasa dan atau istilah tanpa mengubah isi dan pengertiannya dengan tidak memberitahukan kepada penulis. Penyunting akan berkonsultasi dahulu dengan

Dalam dokumen ProdukHukum PekerjaanUmum (Halaman 40-55)

Dokumen terkait