BAB IV STUDI KASUS DALAM UPACARA NENGGET
4.2. Keluarga Yang Belum Berhasil Mendapatkan Keturunan
4.2.1. Keluarga M. Ginting dan B. br Sembiring
Keluarga ini menikah pada tahun 2000 pada tanggal 19 oktober 2000, pada awal mereka menikah mereka belum memiliki pekerjaan tetap dan tinggal di rumah orang tua dari pihak laki-laki. Selama dua bulan mereka tinggal di rumah orang tua dari pihak laki-laki, selanjutnya mereka tinggal di rumah kontrakan dan
mulai berusaha sendiri mulai membuka ladang sendiri dan mengusahakan pekerjaan tambahan lainnya seperti membuka warung kecil-kecilan. Dilihat dari keberuntungan rejekinya dapat dikatakan keluarga ini cukup berhasil karena hasil dari pertanian mereka berhasil terus dan usaha kecil-kecilan mereka juga mendapatkan penghasilan yang lumayan membantu. Tetapi dalam mendapatkan keturunan keluarga ini tidak seberuntung seperti mereka mendapatkan rejeki. Keluarga ini juga tinggal di Desa Saran Padang, Kecamatan Dolok Silau, selama satu tahun berumah tangga mereka belum juga diberikan keturunan. Awalnya bagi mereka ini wajar-wajar saja, mungkin belum saatnya hanya itu yang membuat mereka tetap sabar.
Pada saat usia pernikahan mereka memasuki dua tahun, keluarga ini mulai sadar bahwa mereka harus melakukan sesuatu supaya menadapatkan keturunan. Mulailah berobat, awalnya mereka berobat ke dokter sepesialis kandungan tetapi trtap saja tidak berhasil. Bukan hanya satu dokter saja yang mereka datangi melainkan sudah sampai lima dokter yang mereka kunjungi. Hampir sampai satu tahun mereka berobat ke dokter sepesialis kandungan tapi, hasilnya tetap saja tidak ada. Hal ini tidak juga membuat keluarga ini putus asa, mereka tetap mencoba berobat sampai ke pengobatan alternatif segala jenis ramuan sudah di coba, dari yang asin, pahit, manis dan bahkan rasa yang cukup aneh di lidah juga sudah mereka rasakan tetapi hasilnya tetap saja sama. Sampai akhirnya mereka merasa bosan dan berhenti berobat.
Mungkin karena keluarga dari pihak mereka juga sudah putus asa, sempat juga keluarga ini di anjurkan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan atau dari rumah sakit, tetapi mereka tidak mau dengan alasan takutnya nanti anak yang
mereka dapat tidak sesuai denagan apa yang diharapkan. Bukan hanya itu saja bahkan anak dari abang suaminya juga pernah mereka asuh selama setengah tahun, alasan kenapa dibuat seperti ini supaya dapat menjadi pemancing. Mana tau selama mereka mengasuh anak abangnya tersebut keluarga ini mendapatkan keturunan, tetapi hasilnya tetap saja tidak ada. Mulai saat itu keluarga ini mulai berhenti berharap, keluarga dekat lainnya juga sudah pasrah dan menyerahkan semuanya pada yang di atas.
Pada tahun 2004 ada inisiatif dari pihak anak beru untuk melakukan upacara nengget kepada keluarga ini, dan maksud baik mereka diterima oleh pihak kalimbubu. Semua persipan upacara dipersipakan oleh pihak anak beru karena inisiatif untuk mengadakan upacara nengget datang dari pihak anak beru, bahkan hari pelaksanaannya juga mereka yang tentukan sendiri. Malam pada saat pelaksanaan upacara nengget akan dilaksanakan semua para rombongan yang telah diundang datang dan berkumpul di rumah anak beru. Tepat pada pukul satu dini hari rombongan datang dengan membawa segala perelengkapan upacara. Tata cara upacaranya sama seperti upacara nengget lainnya, mereka di siram dengan air suci (lau si malem-malem) secara bergantian oleh para rombongan dan kemudian di pakaikan pakaian adat secara terbalik dan makan bersama. Dalam pelaksanaan upacara ini tidak ada diiringi dengan gendang atau musik.
Setelah pelaksanaan upacara nengget ini selesai seluruh anggota keluarga berharap supaya keluarga yang belum memiliki keturunan tersebut secepat mungkin mendapatkan keturunan sehingga upacara yang mereka lakukan tidak sia-sia begitu saja. Mungkin Tuhan berkehendak lain bukan seperti apa yang mereka harapkan, selama enam bulan mereka menuggu hasil dari upacara nengget
tetapi hasilnya tetap saja tidak ada. Sampai-sampai keluarga yang belum memiliki keturunan tersebut merasa malu dan meminta kepada keluarga besarnya baik itu dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan supaya tidak terlalu memikirkan mereka karena keadan mereka yang belum juga mendapat keturunan. Tetapi yang namanya orang tua tidak akan pernah rela melihat anaknya sedih karena tertekan perasaan oleh beban hidup yang dibawa anaknya apapun akan dilakukannya supaya anaknya bahagia.
Sampai pada akhirnya bapak (orang tua laki-laki) dari istri yang belum memiliki keturuan tersebut bermimpi bahwa mereka harus melakukan upacara nengget untuk kedua kalinya akan tetapi tata cara upacara nengget yang akan mereka lakukan bukan seperti upacara nengget yang biasa orang Karo lakukan, melainkan harus di gabung dengan tata cara upacara nengget batak Toba. Pada dasarnya pelaksanaan nengget untuk kedua kalinya dilkaukan tidak menjadi masalah bagi mereka tetapi yang menjadi masalah adalah kenapa harus dilkaukan juga dengan memakai adat batak Toba. Padahal keluarga dari pihak perempuan asli bersal dari suku Karo tidak ada sedikitpun percampuran dengan suku Batak Toba. Mungkin karena ini merupakan amanat yang diberikan oleh orang yang telah mendahului mereka maka upacara nengget itu dilaksanakan juga sama seperti apa yang telah dikatakan dalam mimpi tersebut.
Pelaksanaannya ternyata tidak semudah upacara nengget yang biasa dilakukan oleh suku Karo, pelaksanaan nengget yang dilakukan dengan tata cara suku Toba jauh lebih rumit. Biasanya pada pelaksanaan nengget yang dilakukan suku Karo hanya dengan menyediakan satu ekor ayam yang dimasak secara utuh dan ini yang nantinya diberikan kepada keluarga yang belum memilki keturunan
tersebut. Beda dengan Toba mereka harus menyediakan deke boru silalahi (ikan yang khusus diberikan pada perempuan yang bermarga silalahi) ukuran serta beratnya juga tidak boleh sembarangan dan warnanya juga harus benar-benar hitam. Ikan ini nantinya akan di masak secara utuh dan dibalut dengan daun tebu.
Pada saat memasak ikan ini harus benar-benar dijaga agar jangan sampai patah, karena apabila patah atau retak sedikit saja maka ikan ini tidak layak untuk diberikan kepada boru silalahi tersebut. Selain ikan ini masih ada lagi yang harus disediakan yautu nitak, nitak ini adalah makanan yang terbuat dari tepung beras yang dibentuk sedemikian rupa dan bentuknya tersebut juga mempunyai makna tertentu sehingga dalam pembuatannya juga tidak sembarangan orang yang tau. Nitak ini tidak diberi campuran apa-apa hanya terbuat dari tepung beras dan campuran air sedikit. setelah dibentuk sedemikian rupa maka nitak ini dimasak dengan cara dikukus. Nitak ini akan diberika kepada istri dari pasangan yang belum memiliki keturunan bersamaan dengan ikan boru silalahi yang telah dimasak.
Waktu dan tata pelaksanaan dari upacara nengget ini dilakukan sama seperti pelaksanaan upacara nengget yang dilakukan oleh suku Karo. Keluarga yang belum memiliki keturunan di siram dengan air si malem-malem secara bergantian oleh para rombongan. Setelah itu mereka di berikan pakaian adat Toba walaupun tidak lengkap melainkan hanya memakai ulos saja yang diberikan oleh pihak kalimbubu. Penutup dari upacara ini makan bersama dengan para rombongan dan setelah semuanya selesai maka upacara ini dikatan sudah selesai dan para rombongan dapat pulang ke rumah masing-masing. Satu tahun setelah pelaksanaan upacara nengget yang dilakukan oleh pihak kalimbubu tidak juga
mendapatkan hasil seperti apa yang mereka harapkan. Mulai saat itu pihak keluarga sudah mulai putus asa dan merasa tidak ada harapan lagi, dan bahkan keluarga yang belum memiliki keturunan tersebut juga tidak berharap banyak lagi. Segala macam cara sudah dilakukan tetapi hasilnya tetap sama tidak juga berhasil seperti apa yang diharapkan.
Bukan hanya sampai disitu saja usaha yang mereka lakukan bahkan pada saat ada acara (mengangkat tulang-tulang dari kuburan dan dipindahkan ketempat lain yang telah disediakan) kakek (bulang) dari istri yang belum memiliki keturunan, mereka juga sempat di sengget oleh bibinya (saudara perempuan dari ayah) di kuburan. Dengan cara menyiramkan air secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan mereka, disini istri dari yang belum memiliki keturunan tersebut sempat pingsan karena benar-benar terkejut. Setelah si istri ssadar seketika orang yang berada disekitar tempat itu menari dan menarik-narik pasangan yang belum memiliki keturunan tersebut agar ikut menari bersama mereka. Pasangan ini dipasangkan dengan turangkunya yang perempuan dibuat berpasangan dengan turangkunya yang laki-laki, sedangkan yang laki-laki dipasangkan dengan turangkunya yang peremupuan padahal secara adat hal ini dianggap sangat tidak wajar dan dipantangkan.
Pada saat menari mereka dikelilingi oleh bibinya sambil ersurak atau berteriak sehingga suasana menjadi ramai. Pasangan ini tetap diajak menari sampai mereka menjadi seluk atau tidak sadarkan diri. Pada saat pasangan ini tidak sadarkan diri mereka ditanyai oleh bibinya apakah selama ini ada sura-sura (keinginan) yang belum disampaikan oleh bibinya sehingga keluarga ini belum juga mendapatkan keturunan, atau apakah ada perkataan dan tingkah laku bibinya
yang menyakitkan hati pasangan ini. Apabila ada keinginan dari pasangan ini yang belum dismpaikan oleh bibinya maka secepat mungkin sura-sura (keinginan) itu harus disampaikan. Biasanya sura-sura itu berupa cincin yang terbuat dari suasah bagi perempuan dan rawit (pisau) bagi laki-laki. Pada saat itu memang ada sura-sura pasangan ini untuk meminta cincin dari bibinya dan rawit dari mamanya. Satu minggu setelah mereka disengget maka bibinya dan mamanya datang mengantarkan cincin dan rawit tersebut kepada pasangan ini dalam hal ini tidak ada acara khusus dan keluarga yang datang juga hanya sedikit. Dengan tujuan supaya keluarga ini secepat mungkin mendapatkan keturunan seperti apa yang diharapkan oleh semua keluarga. Tetapi semua usaha ini tetap saja tidak berhasil karena sampai sekarang keluarga tersebut masih saja belum memiliki keturunan, padahal mereka telah berkeluarga hampir selama sembilan tahun.
4.2.2. Manfaat Yang Diperoleh Dari Upacara Nengget
Manfaat yang deperoleh keluarga ini dari upacara nengget tidak terlalu banyak, karena setelah beberapa kali mereka disengget mereka tetap saja tidak mendapatkan keturunan seperti apa yang mereka harapkan. Tetapi bagi mereka upacara nengget ini adalah suatu upacara yang cukup membantu bagi keluarga yang belum memiliki keturunan, karena setelah diadakannya upacara nengget ini mereka tidak lagi putus asa dan tidak merasa malu dengan kata lain mereka dapat mengatakan ini sebagai cobaan dan mungkin saja pada saat ini mereka belum beruntung seperti apa yang dialami oleh pasangan ini. Menurut keluarga ini bukan upacara nengget itu yang salah walaupun sudah beberapa kali mereka disengget dan belum mendapatkan keturunan juga, bagi mereka ini hanya sebagai cobaan
dari yang di atas mungkin memang belum saatnya mereka mendapatkan keturunan.
Selain daripada itu manfaat yang diperoleh dari upacara nengget ini adalah bahwa mereka semakin sadar kalau bukan mereka saja yang merasa terbebani karena belum memiliki keturunan, melainkan seluruh keluarga juga ikut merasa terbebani dengan keadaan keluarga ini yang belum juga memiliki keturunan. karena pada masyarakat Karo apabila tidak memiliki keturunan maka tidak akan ada lagi yang akan meneruskan marganya. Tanggapan pasangan ini terhadap upacara nengget sama seperti tanggapan keluarga G. Tarigan, yaitu mengharapkan supaya upacara negget ini tetap ada dan tidak terlupakan karena kemajuan zaman. Dan jangan pernah beranggapan bahwa upacara nengget ini adalah suatu jenis upacara yang menentang ajaran agama.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
Mendapatkan keturunan bagi masyarakat Batak, khususnya pada masyarakat Batak Karo adalah suatau hal yang amat penting. Walaupun dengan perkembangan pemikiran yang semakin maju masyarakat Karo lebih gembira lagi apabila mempunyai anak laki-laki, karena ini berhubungan dengan penerus keturunan dari klannya, dimana masyarakat Karo menganut garis keturunan berdasarkan garis ayah. Namun akibat-akibat biologis dan non-biologis banyak pasangan suami istri yang belum mendapat keturunan walaupun telah bertahun-tahun membina hubungan rumah tangga. Salah satu upacara yang dipercayai dan yang dilakukan masyrakat Karo untuk memperoleh keturunan adalah dikenal dengan nengget, yaitu membuat sumi istri tersebut terkejut.
Upacara Nengget adalah : mengadakan kejutan kepada salah satu keluarga yang sudah lama berumah tangga tetapi belum memiliki keturuan. Nengget ini tidak hanya ditujukan pada keluarga yang belum memiliki keturunan akan tetapi upacara ini juga bisa dilakukan pada keluarga yang sudah memiliki keturunan namun semuanya perempuan. Upacara Nengget adalah salah satu jenis upacara religi yang sampai saat sekarang ini masih dilaksanakan atau masih diyakini oleh masyarakat etnik Karo. Pelaksana dari upacara nengget ini bisanya dari pihak kalimbubu, dan anak beru. Selain kalimbubu dan anak beru masih ada lagi yang lebih memiliki peranan yang cukup penting dalam pelaksanaan upacara nengget ini, yaitu turangku atau besan. . Turangku adalah: orang yang tabu untuk bertegor
sapa dalam kehidupan sehari-hari, apabila mereka ingin berbicara harus memakai kata nina turangku atau dusebut sebagai kata istilah. Turangku inilah yang pertama sekali menyiramkan air suci atau lau si malem-malem kepada keluarga tersebut. Padahal sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari turangku ini tidak dapat saling bertegor sapa dengan mereka (keluarga yang di sengget). Hal ini di pantangkan menurut adat karo istilah ini disebut dengan istilah rebu.
Proses pelaksanaan upacara negget dilakukan pada malam hari, tepatnya pada saat keluarga tersebut sedang beristrahat. Pada malam pelaksanaan upacara para rombongan datang dengan membawa segala perlengkapan upacara yang telah ditentukan sebelumnya. Sesampainya di rumah pasangan yang akan disengget, para rombongan masuk kerumah dan menyiramkan lau si malem-malem (air yang dicampurkan dengan beberapa ramuan) kepada pasangan tersebut secara bergantian. Setelah itu pasangan dipakaikan pakaian adat Karo secara terbalik laki-laki dipakaikan pakaian perempuan dan yang perempuan dipakaikan pakaian laki-laki. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama dengan para rombongan lainnya. Apabila setelah pelaksanaan upacara ini keluarga yang telah disengget tersebut belum juga mendapatkan keturunan maka, tidak menutup kemungkinan untuk melakukan upacara nengget untuk kedua kalinya. Adapun yang menjadi tujuan dari pelaksanaan upacara nengget ini adalah untuk memohon supaya keluarga tersebut mendapatkan keturunan.
5.2. SARAN
Untuk dapat terus mempertahankan upacara nengget maka disini penulis menyarankan beberapa hal, diantaranya adalah:
1. Masyarakat Karo harus tetap mempertahankan keaneka ragaman jenis-jenis upacara yang terdapat pada masyarakat Karo supaya tidak punah akibat kemajuan zaman.
2. Masyarakat Karo khususnya di Desa Saran Padang harus tetap mempertahankan upacara nengget supaya tetap eksis walaupun pengobatan modern sudah berkembang pesat.
3. Perlunya pemahaman mengenai upacara nengget, bahwa upacara nennget itu bukan suatu upacara yang ditentang oleh ajaran agama.
4. Memperkenalkan upacara nengget kepada masyarakat awam lainnya di luar etnis Karo, sehingga mereka dapat lebih memahami apa sebenarnya yang menjadi maksud dan tujuan upacara nengget.
DARTAR PUSTAKA
Bangun, Teridah.
1986. Perkawinan Masyarakat Batak Karo.
Jakarta : PT Kesaint Blanc Bungin,Burhan.
2002. Metode penelitian kualitatif.
Surabaya: PT. Raja Grafindo Persada.
Geertz, Clifford.
1992.
Kebudayaan dan agama. Yogyakarta: Kanisius.
H.G, Tarigan.
1990. percikan budaya karo. Bandung :
Yayasan Merga Silima. Koentjaraningrat.
1989.
Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka cipta.
1987.
Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : PT Gramedia 1981.
Sejarah Teori Antropologi. Jakarta : UI Perss
Kessing, Roger M.
1992. Antropologi Budaya: Suatu
Prespektif Kontemporer. Erlangga. Jakarta.
Mauss, Marcel.
1992. Pemberian (bentuk dan fungsi
pertukaran di masyarakat kuno) : Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. Perangin angin, Martin.L
2004. Orang Karo Diantara orang batak.
Jakarta: Sora mido.
Prinst, Darwan. 2004.
Adat Karo. Medan 1984.
Sejarah dan Kebudayaan Karo: Yrama. Jakarta.
Suparlan, Parsudi.
1984. Manusia, Kebudayaan, dan
lingkungannya. Depdikbud. Jakarta. Spradley, James P.
1997. Metode Etnografi. Tiara Wacana
Yogya. Yogyakarta
Saifuddin, Fedyani, Achmad.
2005. Antropologi Kontemporer (suatu
pengantar kritis mengenai paradigma)
Sitepu sempa, sitepu bujur, sitepu A.G.
1996. Pilar Budaya Karo. Medan
Suyono, Ariyono.
1985. Kamus Antropologi. Jakarta:
Akademika pressindo.