HASIL PENELITIAN
6.5 Keluhan Muskuloskeletal Penguji OSCE Reguler
Proses menguji yang dilakukan dengan posisi duduk lama di ruangan, umumnya didominasi oleh aktivitas yang melibatkan kontraksi otot yang bersifat statis karena penguji OSCE saat mendengar, melihat dan menilai peserta ujian tetap berada di tempat duduknya. Sikap kerja seperti ini dilakukan penguji OSCE reguler selama kurang lebih 10 jam, yang dapat mengakibatkan kekuatan otot
berkurang, bertambah panjangnya waktu laten kontraksi dan kurangnya koordinasi sehingga timbul keluhan muskuloskeletal (Suma’mur, 2009).
Keluhan muskuloskeletal dihitung berdasarkan selisih skor keluhan dari pengisian kuesioner Nordic Body Map sebelum dan sesudah perlakuan berdasarkan empat skala likert. Pada penelitian ini proses menguji pada tahap satu didominasi oleh aktivitas dengan sikap kerja statis. Melalui proses menguji yang diselingi dengan peregangan, sikap kerja statis menjadi dinamis. Peregangan otot yang dilakukan memberikan efek berkurangnya keluhan muskuloskeletal. Hasil uji paired-sample t test sebelum perlakuan antara tahap satu dan perlakuan pada tahap dua menunjukkan bahwa kedua perlakuan tersebut tidak berbeda bermakna dengan nilai p>0,05. Ini membuktikan bahwa kondisi penguji OSCE reguler dilihat dari faktor keluhan muskuloskeletal sebelum proses menguji adalah sama. Hasil uji beda terhadap rerata skor keluhan muskuloskeletal setelah proses menguji menunjukkan bahwa kedua perlakuan pada tahap satu dan tahap dua tersebut berbeda bermakna dengan nilai p<0,05. Ini membuktikan bahwa kondisi penguji OSCE reguler dilihat dari faktor keluhan muskuloskeletal setelah proses menguji adalah berbeda. Hal ini terlihat dari rerata skor keluhan muskuloskeletal pada tahap satu (tanpa intervensi ergonomi) yaitu 39,25 dan pada perlakuan pada tahap dua (dengan intervensi ergonomi) yaitu 14,02.
Tingginya keluhan muskuloskeletal pada tahap satu disebabkan karena sikap kerja statis dalam waktu yang lama berakibat penumpukan sisa-sisa metabolisme seperti asam laktat karena tidak optimalnya sirkulasi tubuh. Hal ini disebabkan oleh karena penekanan kapiler-kapiler otot akibat kontraksi otot statis
(Suma’mur, 2009). Kadar asam laktat yang tinggi juga menggambarkan ketidakmampuan sistem energi aerobik, sehingga suplai energi bergeser ke sistem anaerobik. Keadaan ini menyebabkan peningkatan produksi asam laktat dalam jaringan dan menurunkan asam laktat dalam hati karena terhambatnya glikolisis (Citrawati dkk, 2001)
Peregangan menyebabkan keluhan muskuloskeletal menurun sebesar 64,28%. Penurunan ini disebabkan karena pada saat diberikan peregangan, perbaikan sirkulasi darah berakibat otot dapat pulih kembali dan dapat membangun zat-zat yang diperlukan bagi otot, dalam hal ini adalah pendaur-ulangan asam laktat sisa metabolisme otot untuk diubah menjadi karbon dioksida (CO2), air, dan glikogen serta protein yang akan dimanfaatkan kembali. Nala (1998) menyatakan bahwa proses pemulihan berusaha untuk mengembalikan kondisi tubuh ke kondisi semula. Disini diupayakan agar darah yang terkumpul di otot skeletal lebih cepat bersirkulasi menuju hati, jantung dan paru. Hal ini berfungsi pula untuk membersihkan sisa hasil metabolisme berupa tumpukan asam laktat yang berada di dalam otot dan darah. Asam laktat ini merupakan limbah hasil metabolisme sel otot sebagian besar (65%) akan didaur ulang dengan cara oksidasi (sistem aerobik) menjadi karbondioksida dan air. Sisanya diubah menjadi glikogen hati dan darah (20%) serta protein (15%) dimanfaatkan kembali untuk menjadi energi. Itu bisa terjadi melalui proses pemulihan, yang salah satunya adalah dengan cara melakukan berbagai gerakan aktif yang ringan seperti jalan atau menggerak-gerakkan tubuh serta anggota tubuh atas dan bawah (lengan dan tungkai) secara ringan setelah melakukan aktivitas fisik.
Pada peregangan di sela proses menguji akan memberikan peluang kepada penguji OSCE reguler untuk melakukan istirahat aktif sehingga mengurangi keluhan muskuloskeletal. Temuan ini juga didukung oleh Sutajaya (2006) yang menyatakan bahwa peregangan disela waktu pembelajaran menurunkan keluhan muskuloskeletal mahasiswa dalam proses perkuliahan.
6.6 Penurunan Kebosanan, Kelelahan dan Keluhan Muskuloskeletal Meningkatkan Kinerja Penguji OSCE Reguler
Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi perbedaan yang signifikan (p <0,05) pada rerata skor kebosanan, kelelahan dan keluhan muskuloskeletal. Rerata skor kebosanan perlakuan tahap satu yaitu 39,724 dan perlakuan tahap dua yaitu 26,415. Terjadi penurunan rerata kebosanan sebesar 33,5%. Rerata skor kelelahan tahap satu yaitu 44,050 dan tahap dua yaitu 23,525. Terjadi penurunan kelelahan pada perlakuan dua sebesar 46,59%. Rerata skor keluhan muskuloskeletal perlakuan tahap satu yaitu 39,25 dan perlakuan tahap dua yaitu 14,02. Terjadi penurunan rerata keluhan muskuloskeletal sebesar 64,28%. Proses ujian OSCE reguler dengan orientasi ergonomi yaitu dilakukan peregangan dan diberikan teh manis dapat menurunkan kebosanan, kelelahan dan keluhan muskuloskeletal para penguji OSCE reguler di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram.
Kinerja penguji OSCE reguler dinilai baik pada akhirnya adalah jika dapat melakukan penilaian dengan obyektif. Hal ini dapat tercermin dari: 1)lembar penilaian terisi penuh, 2) terdapat feedback yang dituliskan pada lembar penilaian
terutama pada saat tidak meluluskan peserta ujian, 3) dapat mempertanggungjawabkan apa yang dinilai saat rapat akhir penentuan kelulusan, 4) sedikit atau bahkan tidak ada komplain dari peserta ujian yang dirugikan akibat kesalahan penilaian saat nilai diumumkan.
Pada tahap satu yaitu menguji OSCE tanpa orientasi ergonomi (tanpa peregangan dan tanpa pemberian teh manis) masih banyak ditemukan pada lembar penilaian mahasiswa yang tidak lulus namun tidak dituliskan oleh penguji sebab ketidaklulusannya, dalam hal ini penguji tidak memberikan feedback pada lembar penilaian. Pada saat rapat penentuan kelulusan, banyak diantara penguji yang lupa dasar menetapkan tidak lulus kepada peserta ujian karena tidak menuliskan feedback di lembar penilaian.
Pada tahap dua yaitu menguji OSCE dengan orientasi ergonomi (dengan peregangan dan dengan pemberian teh manis) semua lembar penilaian dan lembar feedback bagi yang tidak lulus terisi penuh. Selain itu semua penguji dapat mempertanggungjawabkan yang dinilai saat rapat akhir penentuan kelulusan. Terjadi peningkatan kinerja penguji yang signifikan akibat penerapan prinsip ergonomi dalam menguji OSCE reguler di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram. Peningkatan Kinerja tersebut terjadi karena Proses menguji OSCE reguler berorientasi ergonomi yaitu dengan peregangan dan pemberian teh manis dapat menurunkan kebosanan, kelelahan dan keluhan muskuloskeletal para penguji OSCE reguler.
Kebosanan, kelelahan dan keluhan muskuloskeletal selama menguji disebabkan karena penguji duduk lama kurang lebih 10 jam, pekerjaan yang
monoton harus menguji enam puluh orang berbeda dengan meteri observasi yang sama. Jika dibiarkan, keadaan tersebut mengakibatkan penguji tidak objektif dalam menilai peserta ujian. Intervensi ergonomi yaitu peregangan otot dan pemberian teh manis dapat menurunkan kebosanan, kelelahan dan keluhan muskuloskeletal sehingga tubuh tetap bugar, penguji dapat fokus dan dapat konsentrasi dengan baik. Akibatnya penguji penuh semangat menjalankan tugasnya. Efek dari hal tersebut adalah produktivitas meningkat sehingga kinerja meningkat
BAB VII