BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Jumlah Pasien
3. Keluhan Pasien
Nyeri perut merupakan keluhan utama yang dirasakan oleh seseorang yang menderita apendisitis akut. Pada awalnya nyeri dapat terjadi pada perut bagian atas, kemudian nyeri bermigrasi perlahan dan melokalisasi di perut bagian kanan bawah (Old, Dusing, Yap, and Dirks, 2005). Rasa nyeri yang dirasakan pasien dapat berupa rasa nyeri yang ringan hingga berat dan rasa nyeri ini dapat bertambah hebat apabila pasien bergerak. Selain rasa nyeri di bagian perut, keluhan lain yang biasa dirasakan oleh penderita apendisitis akut adalah demam ringan (37,50-38,50C), mual, muntah, diare, konstipasi, dan kadang juga disertai dengan hilangnya nafsu makan (Ishikawa, 2003 dan Kozar and Roslyn, 2003).
4. Penatalaksanaan terapi
Operasi pengangkatan apendiks atau operasi apendisitis merupakan penatalaksanaan utama bagi seseorang yang mengalami apendisitis akut. Operasi ini dapat berupa operasi apendisitis akut terbuka atau laparaskopi apendisitis. Persiapan sebelum operasi pada pasien terdiri dari hidrasi yang memadai dan pemberian antibiotika profilaksis. Pada pasien yang menjalani operasi apendisitis akut diberikan antibiotika profilaksis, seperti sefositin atau sefotetan untuk mencegah terjadinya infeksi setelah operasi. Antibiotika profilaksis dihentikan pemberiannya 24 jam setelah operasi dilakukan. Jika ditemukan perforasi atau gangraen pada apendiksnya, pemberian antibiotika dapat dilanjutkan lebih dari 24 jam setelah operasi hingga pasien sudah tidak mengalami demam dan mempunyai jumlah leukosit yang normal (Humes and Simpson, 2006 dan Kozar and Roslyn, 2003).
D. Operasi Apendisitis Akut
Operasi apendisitis merupakan penanganan apendisitis yang dilakukan dengan jalan operasi untuk mengangkat atau membuang apendiks (Kozar and Roslyn, 2003). Operasi apendisitis akut harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih buruk. Hal ini dikarenakan apendisitis akut mempunyai risiko untuk berkembang menjadi apendisitis perforasi pada setiap 12 jam berikutnya setelah timbulnya gejala (Busch, et al., 2011, Papaziogas, et al., 2009, dan Ditillo, et al., 2006). Perforasi atau pecahnya apendiks ini dapat memungkinkan terjadinya komplikasi seperti peritonitis umum atau abses.
Operasi pada kasus apendisitis akut dapat dilakukan dengan 2 teknik, yaitu operasi apendisitis akut terbuka dan laparaskopi apendisitis. Operasi apendisitis akut terbuka maupun laparaskopi apendisitis menggunakan antibiotika profilaksis pada 1 jam sebelum operasi dimulai. Antibiotika profilaksis yang diberikan dapat berupa sefositin atau sefotetan dalam dosis 1-2 gram. Sedangkan bagi pasien yang
mengalami alergi terhadap antibiotika golongan β-laktam dapat diberikan kombinasi gentamisin dan metronidasol, masing-masing dalam dosis 1,5-2 mg/kgBB dan 500 mg (Kanji and Devlin, 2008, Omran, 2008, dan Kernodle and Kaiser, 2000).
Operasi apendisitis terbuka dilakukan dengan membuat sebuah sayatan dengan panjang sekitar 2-4 inci pada bagian kanan bawah abdomen dan appendiks dipotong melalui lapisan lemak dan otot apendiks atau usus buntu. Kemudian apendiks diangkat atau dipisahkan dari usus. Sedangkan laparaskopi merupakan teknik yang paling sederhana untuk penanganan apendisitis. Dokter bedah akan
membuat 1 hingga 3 sayatan kecil di perut. Sebuah pipa semprot dimasukkan ke dalam salah satu celah, dan gas CO2 memompa abdomen. Kemudian sebuah laparascope dimasukkan ke celah yang lain. Peralatan bedah ditempatkan di bagian terbuka (celah) yang kecil dan digunakan untuk mengangkat apendiks (Kozar and Roslyn, 2003).
E. Keterangan Empiris
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan, masukan, maupun salah satu sumber informasi untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien operasi apendisitis akut.
21
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian non-eksperimental sebab observasinya dilakukan secara apa adanya, tanpa ada manipulasi atau intervensi serta perlakuan dari peneliti (Notoatmodjo, 2010).Rancangan penelitian termasuk dalam deskriptif evaluatif karenabertujuanuntukmengumpulkan informasi aktual secara rinci sehingga dapat melukiskan fakta atau karakteristik populasi yang ada, mengidentifikasi masalah yang terjadi, kemudian melakukan evaluasi atau penilaian dari data yang telah dikumpulkan (Hasan, 2002). Penelitian ini bersifat retrospektif, yaitu pengambilan data dilakukan dengan melakukan penelusuran data masa lalu pasien yang menjalani operasi apendisitis akut di RS Panti Rapih pada catatan rekam medis yang diperoleh dari Instalasi Rekam Medis RS Panti Rapih.
B. Definisi Operasional
1. Pasien adalah seseorang yang menjalani operasi apendisitis akut di RS Panti Rapih tahun 2009, menggunakan antibiotika profilaksis dan memiliki data rekam medis yang lengkap.
2. Operasi adalah operasi apendisitis akut yang berlangsung di RS Panti Rapih tahun 2009.
3. Antibiotika profilaksis yang dimaksud yaitu antibiotika yang digunakan sebelum maupun sesudah operasi apendisitis akut yang bertujuan untuk mencegah infeksi setelah operasi.
4. Catatan rekam medik adalah catatan pengobatan dan perawatan pasien yang memuat data nomor rekam medik, usia, jenis kelamin, diagnosis sebelum dan sesudah operasi, tanggal operasi, jam operasi, jenis tindakan operasi, data laboratorium, instruksi dokter, catatan keperawatan, catatan penggunaan obat, lama keperawatan, riwayat pengobatan yang diterima, dan pemeriksaan fisik pasien seperti tekanan darah, nadi, dan suhu badan.
5. Pedoman wawancara adalah susunan garis-garis besar pertanyaan yang digunakan sebagai alat bantu untuk melakukan wawancara mendalam.
6. Jenis antibiotika profilaksis yang dimaksud yaitu macam antibiotika yang digunakan sebagai profilaksis, misalnya sefositin, sefotetan, kombinasi gentamisin dan metronidasol.
7. Waktu pemberian adalah berapa jam pemberian antibiotika profilaksis sebelum operasi atau setelah operasi.
8. Cara pemberian adalah intravena atau per oral.
9. Lama pemberian yaitu jumlah hari dimana pasien mendapatkan antibiotika profilaksis.
10.Keluhan pasien adalah segala sesuatu yang dirasakan pasien terkait dengan timbulnya gejala apendisitis akut.
11.Lama keluhan yaitu jumlah jam atau hari dimana pasien merasakan timbulnya gejala apendisitis akut.
12. Lama perawatan pasien yaitu jumlah hari dimana pasien dirawat, dihitung mulai dari pasien masuk ke rumah sakit sampai dengan keluar atau pulang dari rumah sakit.
C. Subyek Penelitian
Subjek penelitian yang termasuk dalam kriteria inklusi adalah pasien yang menjalani operasi apendisitis akut di RS Panti Rapih tahun 2009 dan menggunakan antibiotika profilaksis. Sedangkan kriteria eksklusinya adalah operasi apendisitis akut yang dilakukan bersama dengan prosedur operasi lainnya.
D.Bahan Penelitian
Bahan penelitian yang digunakan adalah:
Data yang terdapat dalam kartu rekam medik pasien di RS Panti Rapih tahun 2009, resep, kartu permintaan obat dari bangsal, dan kartu permintaan obat dari kamar bedah.
E.Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah: 1. Lembar kerja untuk pengumpulan data.
2. Pedoman wawancara dengan dua orang dokter bedah di RS Panti Rapih. 3. Pedoman wawancara dengan Kepala Instalasi Farmasi di RS Panti Rapih. 4. Pedoman wawancara dengan Wakil Kepala Kamar Bedah di RS Panti Rapih.
F. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Panti Rapih, Jalan Cik Ditiro No.30, Yogyakarta.
G. Tata Cara Penelitian
Jalannya penelitian meliputi 3 tahap yaitu tahap persiapan, tahap pengambilan data, dan tahap penyelesaian data.
1. Tahap persiapan
Tahap persiapan dimulai dengan studi pustaka mengenai penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien yang menjalani operasi apendisitis akut dan menentukan permasalahan serta cara menganalisis masalah tersebut. Selanjutnya dilakukan pencarian informasi mengenai kemungkinan dapat tidaknya melakukan penelitian di RS Panti Rapih dan mengurus perizinan untuk mendapatkan izin penelitian.
2. Tahap pengambilan data
Pengambilan data diawali dengan penelusuran jumlah subjek penelitian berdasarkan diagnosis yang tertulis pada rekam medis. Dari penelusuran tersebut diketahui jumlah subjek, nomor rekam medis, tanggal operasi, nama dokter, dan jenis kelamin pasien. Setelah diketahui jumlah subjek lalu dilakukan pencatatan data rekam medis pada lembar pencatatan yang berisi nomor rekam medis, diagnosis sebelum dan setelah operasi, tanggal pasien melakukan rawat inap, tanggal pasien dioperasi, jam operasi, tanggal pasien keluar dari rumah sakit, usia,
jenis kelamin, keluhan, riwayat penyakit, data laboratorium, jenis antibiotika profilaksis yang digunakan, waktu, cara, dosis, dan lama pemberiannya.
3. Tahap penyelesaian data
Data yang telah diperoleh dikelompokkan berdasarkan karakteristik demografi pasien (usia, jenis kelamin, keluhan, lama keluhan, dan lama perawatan pasien), pola penggunaan antibiotika profilaksis (jenis antibiotika, waktu, cara, dosis, dan lama pemberian), serta kesesuaian pemilihan dan penggunaan antibiotika profilaksisnya. Faktor-faktor yang mendasari pemilihan antibiotika profilaksis disajikan dalam bentuk narasi dengan menyertakan testimoni yang mendukung.
H. Tata Cara Analisis Hasil
Data yang telah diperoleh dievaluasi menggunakan Standar Pelayanan Medik RS Panti Rapih dan pedoman umum, yaitu WHO Guidelines for Safe Surgery (WHO, 2009), Antimicrobial Prophylaxis in Surgery (Kanji and Devlin, 2008), dan ASHP Therapeutic Guidelines (ASHP, 1999). Kemudian data disajikan dalam bentuk tabel dan atau diagram.
Tata cara analisis sebagai berikut:
1. Jumlah pasien operasi apendisitis akut
Analisis data jumlah pasien operasi apendisitis akut dilakukan dengan menghitung jumlah pasien operasi apendisitis akut selama tahun 2009. Kemudian dari seluruh jumlah pasien yang menjalani operasi apenisitis akut, dihitung jumlah pasien yang menerima maupun yang tidak menerima antibiotika profilaksis.
2. Karakteristik demografi pasien
Analisis data karakteristik demografi pasien dilakukan berdasarkan usia, jenis kelamin, keluhan, lama keluhan, dan lama perawatan pasien.
a. Distribusi pasien pada tiap kelompok usia. Kelompok usia pasien dibagi secara rasional menjadi 7 kelompok dengan menggunakan rumus Struges (Budiarto, 2001), yaitu: kelompok I (8-16 tahun), II (17-25 tahun), III (26-34 tahun), IV (35-43 tahun), V (44-52 tahun), VI (53-61 tahun), dan VII (62-70 tahun). Persentase masing-masing kelompok umur dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien tiap kelompok dibagi dengan jumlah total pasien (n= 82) dan dikalikan dengan 100%.
b. Distribusi pasien pada tiap jenis kelamin. Jenis kelamin pasien terdiri dari laki-laki dan perempuan. Persentase masing-masing jenis kelamin dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien tiap kelompok dibagi dengan jumlah total pasien (n= 82) dan dikalikan dengan 100%.
c. Distribusi pasien pada tiap keluhan apendisitis akut. Keluhan apendisitis akut terdiri dari nyeri perut di bagian kanan bawah, demam (37,40C - 38,50C), mual, muntah, dan diare. Persentase masing-masing keluhan apendisitis akut dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien tiap kelompok dibagi dengan jumlah total pasien (n= 82) dan dikalikan dengan 100%.
d. Distribusi pasien pada tiap lama keluhan apendisitis akut. Lama keluhan pasien dihitung dari saat timbulnya gejala yang dirasakan hingga sebelum pasien datang ke rumah sakit. Persentase masing-masing lama keluhan apendisitis
akut dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien tiap kelompok dibagi dengan jumlah total pasien (n= 82) dan dikalikan dengan 100%.
e. Rata-rata lama perawatan pasien. Lama perawatan pasien dihitung dari tanggal pasien masuk ke rumah sakit sampai dengan tanggal pasien keluar atau pulang dari rumah sakit. Rata-rata lama perawatan dihitung dengan cara menghitung jumlah keseluruhan lama perawatan pasien operasi apendisitis akut kemudian dibagi dengan jumlah total pasien operasi apendisitis akut (n= 82).
3. Jenis, waktu, cara, dosis, dan lama pemberian antibiotika profilaksis
Analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan berdasarkan jenis antibiotika, waktu, cara dosis, dan lama pemberian antibiotika profilaksis.
a. Jenis antibiotika. Persentase masing-masing jenis antibiotika profilaksis dihitung dengan cara menghitung jumlah kasus pada tiap jenis antibiotika profilaksis dibagi dengan jumlah total kasus (n= 82) dan dikalikan dengan 100%.
b. Waktu pemberian. Waktu pemberian antibiotika profilaksis terdiri dari
≤ 1 jam sebelum operasi, > 1 jam sebelum operasi, dan setelah operasi. Persentase masing-masing kelompok waktu pemberian antibiotika profilaksis dihitung dengan cara menghitung jumlah kasus pada tiap kelompok dibagi dengan jumlah total kasus (n= 82) dan dikalikan dengan 100%.
c. Cara pemberian. Cara pemberian antibiotika profilaksis terdiri dari per oral (PO) dan intravena (IV). Persentase masing-masing kelompok cara pemberian antibiotika profilaksis dihitung dengan cara menghitung jumlah kasus pada tiap kelompok dibagi dengan jumlah total kasus (n= 82) dan dikalikan dengan 100%.
d. Dosis pemberian. Dosis pemberian antibiotika profilaksis ditulis berdasarkan besarnya dosis tiap jenis antibiotika profilaksis yang tercantum pada lembar rekam medis. Persentase masing-masing dosis pemberian antibiotika profilaksis dihitung dengan cara menghitung jumlah kasus pada tiap dosis pemberian dibagi dengan jumlah total kasus (n= 82) dan dikalikan dengan 100%.
e. Lama pemberian. Lama pemberian antibiotika profilaksis terdiri dari pemberian 1 hari dan > 1 hari. Persentase masing-masing kelompok lama pemberian antibiotika profilaksis dihitung dengan cara menghitung jumlah kasus pada tiap kelompok dibagi dengan jumlah total kasus (n= 82) dan dikalikan dengan 100%.
4. Kesesuaian pemilihan dan penggunaan antibiotika profilaksis
Kesesuaian pemilihan dan penggunaan antibiotika profilaksis ditinjau berdasarkan pada jenis antibiotika profilaksis, waktu, cara dosis, dan lama pemberian antibiotika profilaksis yang dibandingkan dengan Standar Pelayanan Medik RS Panti Rapih, WHO Guidelines for Safe Surgery (WHO, 2009), Antimicrobial Prophylaxis in Surgery (Kanji and Devlin, 2008), dan ASHP Therapeutic Guidelines (ASHP, 1999).
Persentase penggunaan antibiotika profilaksis yang sesuai maupun tidak sesuai dihitung berdasarkan pada jenis antibiotika profilaksis, waktu, cara dosis, dan lama pemberian antibiotika profilaksis. Cara perhitungannya adalah dengan menghitung jumlah kasus pada tiap penggunaan antibiotika profilaksis yang sesuai maupun tidak sesuai berdasarkan pada jenis antibiotika profilaksis, waktu,
cara dosis, dan lama pemberiannya, dibagi dengan jumlah total kasus (n= 82) dan dikalikan dengan 100%.
5. Faktor-faktor yang mendasari pemilihan antibiotika profilaksis
Analisis faktor-faktor yang mendasari pemilihan antibiotika profilaksis dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam terhadap dokter bedah yang menggunakan antibiotika profilaksis, Kepala Instalasi Farmasi, dan Wakil Kepala Kamar Bedah. Alasan pemilihan antibiotika profilaksis disajikan dalam bentuk narasi dengan menyertakan testimoni yang mendukung.
I. Kesulitan Penelitian
Kesulitan dalam penelitian ini adalah adanya data dalam lembar rekam medis yang kurang lengkap sehingga dilakukan konfirmasi menggunakan lembar resep dan kartu permintaan obat dari kamar bedah atau bangsal. Selain itu, waktu efektif pengambilan data singkat (3,5 jam) sehingga peneliti membuat lembar kerja yang berisi tabel-tabel data agar pengambilan data lebih cepat dan teratur.
30
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Jumlah Pasien
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 94 pasien yang menjalani operasi apendistis akut pada tahun 2009 di RS Panti Rapih. Dari 94 pasien tersebut, sebanyak 82 pasien menerima antibiotika profilaksis dan 12 pasien tidak menerima antibiotika profilaksis. Berdasarkan kondisi setelah operasinya, dari 12 pasien yang tidak menerima antibiotika profilaksis terdapat 50% pasien yang luka operasinya tidak baik. Pasien mengeluarkan cairan atau nanah di daerah sayatannya dengan disertai dengan rasa nyeri. Sedangkan dari 82 pasien yang menerima antibiotika profilaksis hanya terdapat 9% pasien yang mengeluarkan cairan atau nanah dengan disertai rasa nyeri pada daerah sayatan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pasien yang tidak menerima antibiotika profilaksis memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya infeksi luka operasi dibandingkan dengan pasien yang menerima antibiotika profilaksis. Pasien yang tidak menerima antibiotika profilaksis tidak mendapat perlindungan dari terjadinya infeksi selama operasi berlangsung hingga operasi selesai dilakukan. Hal ini dikarenakan pada saluran pencernaan, terutama di bagian usus, terdapat sejumlah besar populasi mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan infeksi (Kanji and Devlin, 2008 dan Gorbach, 1991). Oleh sebab itu, antibiotika profilaksis harus selalu digunakan pada operasi apendisitis akut sehingga pasien dapat terlindungi dari hadirnya bakteri penyebab infeksi dan mencegah terjadinya infeksi setelah operasi.
B.Karakteristik Demografi Pasien 1. Usia pasien
Hasil penelitian menunjukkan 82 pasien yang menjalani operasi apendisitis akut berusia antara 8 hingga 68 tahun. Dari 82 pasien tersebut, usia pasien operasi apendisitis akut dikategorikan menjadi 7 kelompok usia dengan menggunakan rumus Struges (Budiarto, 2001), yaitu: kelompok I (8-16 tahun), II (17-25 tahun), III (26-34 tahun), IV (35-43 tahun), V (44-52 tahun), VI (53-61 tahun), dan VII (62-70 tahun). Dari 7 kelompok tersebut, kelompok II (17-25 tahun) merupakan kelompok dengan jumlah pasien terbesar, yaitu 50% (n= 82). Pada urutan kedua terdapat kelompok III (26-34 tahun) sebesar 19% dan di urutan ketiga terdapat kelompok I (8-16 tahun) sebesar 15%, seperti terlihat pada tabel II dan gambar 2.
Dari kelompok II, dapat diketahui bahwa usia 22 tahun merupakan usia yang paling banyak muncul. Hal ini sesuai dengan National Digestive Diseases Information Clearinghouse (2007) yang menjelaskan bahwa apendisitis akut lebih sering diderita oleh orang yang berusia di antara 10 hingga 30 tahun. Penyebab utama dan tersering apendisitis akut adalah obstruksi pada apendiks oleh adanya fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid, di mana hiperplasia jaringan limfoid banyak terjadi pada masa anak-anak hingga dewasa muda dan menurun secara bertahap setelah usia 30 tahun (Banieghbal and Lakhoo, 2011).
Tabel I. Distribusi jumlah pasien operasi apendisitis akut menurut kelompok usia di RS Panti Rapih tahun 2009
Kelompok Usia Jumlah Pasien % (n= 82)
I (8-16 tahun) 12 15% II (17-25 tahun) 41 50% III (26-34 tahun) 16 19% IV (35-43 tahun) 7 9% V (44-52 tahun) 3 4% VI (53-61 tahun) 2 2% VII (62-70 tahun) 1 1%
Gambar 2. Distribusi jumlah pasien operasi apendisitis akut menurut kelompok usia di RS Panti Rapih tahun 2009
2. Jenis kelamin pasien
Pada penelitian ini, persentase pasien laki-laki yang menjalani operasi apendisitis sebesar 55% (n= 82) dan pasien perempuan sebesar 45%, dengan rasio keduanya adalah 1,22 : 1. Rasio yang hampir sama antara jumlah pasien laki-laki dan perempuan ini menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kesempatan atau faktor risiko yang sama untuk mengalami apendisitis akut (Craig and Santacrose, 2006).
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 8-16 tahun 17-25 tahun 26-34 tahun 35-43 tahun 44-52 tahun 53-61 tahun 62-70 tahun 15% 50% 19% 9% 4% 2% 1% P er se n ta se j u m lah p a si en ( % ) Kelompok usia 8-16 tahun 17-25 tahun 26-34 tahun 35-43 tahun 44-52 tahun 53-61 tahun 62-70 tahun
45% 55%
Gambar 3. Distribusi jumlah pasien apendisitis akut menurut jenis kelamin di RS Panti Rapih tahun 2009
Perempuan Laki-laki Tabel II. Distribusi jumlah pasien apendisitis akut menurut jenis kelamin
di RS Panti Rapih tahun 2009
Jenis Kelamin Jumlah Pasien % (n= 82)
Wanita 37 45%
Laki-laki 45 55%
3. Keluhan pasien
Keluhan yang dirasakan pasien terkait dengan timbulnya gejala apendisitis akut sangat bervariasi. Pada penelitian ini, keluhan yang dirasakan adalah nyeri perut di bagian kanan bawah, demam (37,40C - 38,50C), mual, muntah, dan diare. Keluhan dari pasien ini sesuai dengan gejala-gejala klinis ketika seseorang menderita apendisitis akut, yaitu pasien mengalami nyeri di bagian perut (terutama perut bagian kanan bawah), demam ringan (37,50C - 38,50C), mual, muntah, diare, dan terkadang disertai dengan hilangnya nafsu makan (Ishikawa, 2003 dan Kozar and Roslyn, 2003).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 82 pasien apendisitis akut mengeluhkan rasa nyeri perut di bagian kanan bawah. Nyeri perut di bagian kanan bawah ini berkaitan dengan letak apendiks yang berada di posisi anterior (depan) perut kanan bawah, sehingga ketika apendiks mengalami inflamasi dan
menimbulkan rasa sakit maka pasien akan menderita rasa nyeri di daerah tersebut (Kozar and Roslyn, 2003).
Tabel III. Distribusi jumlah pasien operasi apendisitis akut menurut jenis keluhan di RS Panti Rapih tahun 2009
No. Jenis Keluhan Jumlah Pasien % (n= 82)
1. Nyeri perut bagian kanan bawah Ya 82 100% Tidak 0 0% 2. Demam Ya 45 55% Tidak 37 45% 3. Mual/muntah Ya 34 41% Tidak 48 59% 4. Diare Ya 11 13% Tidak 71 87%