BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.2.6 Kemampuan Membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process) (Tarigan, 1983: 7). Sedangkan menurut Iskandarwassid (2008: 246) membaca adalah kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks. Membaca sebagai keterampilan mencakup tiga komponen yaitu (1) pengenalan terhadap aksara serta tanda-tanda baca, (2) korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik dan formal, (3) hubungan lebih lanjut dari A dan B dengan makna atau meaning.
Membaca pada intinya adalah kegiatan memperoleh informasi dari bacaan. Membaca juga tidak hanya mengenal tanda-tanda baca tetapi juga makna yang terkandung dalam bacaan. Dalam pembelajaran membaca, tentu terdapat prinsip seperti yang dituliskan oleh Iskandarwassid (2008) prinsip pembelajaran keterampilan membaca ada dua yaitu (1) reading for pleasure, maksudnya adalah membaca untuk memperoleh kesenangan dan (2) reading for information, yaitu membaca untuk memperoleh informasi sehingga pembelajaran membaca pada intinya adalah untuk kesenangan dan mendapat informasi.
2.2.6.2Tujuan Membaca
Menurut Tarigan, tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Di bawah ini ada tujuh tujuan membaca yaitu:
1) Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh; apa yang telah dibuat oleh tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh tokoh. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or fact).
2) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa yang dipelajari atau dialami oleh tokoh dan merangkumkan hal-hal yang dilakukan oleh tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).
3) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita. Ini disebut membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization) 4) Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh
merasakan seperti cara mereka itu. Membaca untuk menyimpulkan, membaca referensi (reading for inference).
5) Membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify).
6) Membaca untuk menilai, membaca untuk mengevaluasi (reading to evaluate).
7) Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast).
Tujuan utama pengajaran membaca untuk pembelajar BIPA adalah membekali pembelajar kecepatan dan ketepatan membaca serta memahami maknanya. Untuk melatih ketepatan membaca, pengajar harus selalu menjadi contoh yang tepat. Selain itu wacana atau bacaan harus diseleksi dahulu untuk melatih pemahaman pembelajar. Tujuan pembelajaran membaca tingkat mahir yaitu:
1) Menemukan ide pokok dan ide penunjang 2) Menafsirkan intisari bacaan
3) Membuat intisari bacaan
4) Menceritakan kembali berbagai jenis bacaan (narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi).
2.2.6.3Jenis-jenis Membaca
Membaca ditinjau dari segi terdengar atau tidaknya suara pembaca ketika melakukan kegiatan membaca, menurut Tarigan (1983: 22) dapat dibagi atas: 1) Membaca Nyaring
Membaca nyaring adalah suatu kegiatan membaca dengan menyuarakan tulisan yang dibacanya dengan ucapan dan intonasi yang tepat agar pendengar dan
pembaca dapat menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis, baik yang berupa pikiran, perasaan, sikap, ataupun pengalaman penulis. Keterampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah berbagai kemampuan, diantaranya adalah:
a. menggunakan frase yang tepat,
b. menggunakan intonasi suara yang wajar, c. dalam posisi sikap yang baik,
d. menguasai tanda-tanda baca, e. membaca dengan terang dan jelas,
f. membaca dengan penuh perasaan, ekspresif, g. membaca dengan tidak terbata-bata,
h. mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya, i. kecepatan bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya, j. membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan, k. membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri. 2) Membaca Dalam Hati
Membaca dalam hati adalah membaca yang dilakukan tanpa menyuarakan isi bacaan yang dibaca. Membaca dalam hati dibagi menjadi dua yaitu membaca ekstensif dan membaca intensif.
a. Membaca ekstensif berarti membaca secara luas. Obyeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin. Tuntutan
membaca ekstensif adalah memahami isi yang penting dengan cepat. Membaca ekstensif masih dibagi lagi, yaitu:
a) Membaca Survei
Membaca survei adalah kegiatan membaca untuk mengetahui sekilas terhadap bahan bacaan yang akan dibaca lebih mendalam. Membaca survei merupakan pendahuluan dalam membaca ekstensif. Yang dilakukan orang ketika membaca survei adalah sebagai berikut:
(1) Memeriksa, meneliti indeks, daftar kata yang terdapat dalam buku. (2) Melihat-lihat, memeriksa, meneliti judul-judul bab yang terdapat
dalam buku- buku yang bersangkutan.
(3) Memeriksa, meneliti bagan, skema buku yang bersangkutan. b) Membaca Sekilas
Membaca sekilas atau membaca cepat atau skimming adalah membaca yang membuat mata kita bergerak dengan cepat melihat, memperhatikan bahan tertulis untuk mencari atau mendapatkan informasi.
c) Membaca Dangkal (Superficial reading)
Membaca dangkal pada dasarnya bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu bahan bacaan. Membaca dangkal ini biasanya dilakukan seseorang untuk kesenangan, mengisi waktu senggang.
b. Membaca Intensif adalah membaca dengan penuh penghayatan untuk menyerap apa yang seharusnya kita ketahui. Yang termasuk dalam membaca intensif adalah:
a) Membaca Telaah Isi (1) Membaca Teliti
Membaca ini sama pentingnya dengan membaca sekilas, maka seringkali kita membaca dengan teliti bahan-bahan yang disukai.
(2) Membaca Pemahaman
Adalah membaca yang bertujuan untuk memahami standar-standar atau norma kesastraan, resensi kritis, drama tulis, pola-pola fiksi. (3) Membaca Kritis
Adalah sejenis membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan hanya mencari kesalahan.
(4) Membaca Ide
Adalah sejenis kegiatan membaca yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat dalam bacaan.
(5) Membaca Kreatif
Adalah membaca yang tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat, makna antar baris, tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan sehari-hari.
b) Membaca Telaah Bahasa (1)Membaca Bahasa
Tujuan utama membaca ini adalah memperbesar daya kata (increasing word power) dan mengembangkan kosa kata (developing vocabulary).
(2)Membaca Sastra
Dalam membaca sastra dipusatkan pada penggunaan bahasa dalam karya sastra. Seorang pembaca dapat mengenal serta mengerti seluk beluk bahasa dalam suatu karya sastra maka semakin mudahlah dia memahami isinya serta menikmati keindahannya.
Semua jenis membaca di atas dapat digunakan dalam pengajaran BIPA hanya saja disesuaikan dengan kemampuan pembelajar. Untuk pembelajar level Advanced hampir semua jenis membaca dapat dipakai dalam pembelajaran membaca, karena pembelajar tingkat mahir sudah menguasai bahasa Indonesia dengan baik.
2.2.6.4Metode Pengajaran Membaca 1) Metode Membaca Langsung
Metode ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan membaca secara komprehensif, membaca kritis, dan mengembangkan perolehan pengalaman siswa berdasarkan bentuk dan isi bacaan secara ekstensif. 2) Metode SQ3R
Tujuan penggunaan metode ini adalah untuk membentuk kebiasaan siswa berkosentrasi dalam membaca, melatih kemampuan membaca cepat, melatih daya peramalan berkenaan dengan isi bacaan, dan mengembangkan kemampuan membaca kritis dan komprehensif.
3) Metode Membaca- Tanya Jawab/ MTJ atau Request
Metode ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan membaca komprehensif, memahami alasan pengambilan kesimpulan isi bacaan, dan peramalan lanjut berkenaan dengan isi bacaan.
4) Metode Membaca dan Berpikir Secara Langsung/ MBL
Metode ini bertujuan untuk melatih siswa berkonsentrasi dan berpikir keras untuk memahami isi bacaan secara serius.
5) Metode Penghubungan Pertanyaan-Jawaban/ PPJ
Metode ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memperoleh berbagai informasi dari berbagai sumber yang berkaitan dengan berbagai bidang. Pertanyaan dapat disusun guru atau dapat memanfaatkan daftar pertanyaan yang ada dalam bacaan.
6) Metode Pengelompokan dan Pemetaan Isi Bacaan/ PPIB
Digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menyusun dan memahami bagan, mengelompokkan, memetakan isi bacaan.
Metode-metode di atas digunakan untuk pembelajaran membaca. Pemilihan metode di sesuaikan dengan pembelajar karena karakteristik pembelajar BIPA berbeda.
2.2.6.5Teknik pengajaran Membaca Level Advanced
Ada beberapa teknik pengajaran membaca yang digunakan dalam pembelajar BIPA level advanced yaitu: (1) antisipasi/ prediksi, (2) skimming, (3) scanning, (4) parafrase, (5) Melanjutkan wacana, (6) mengurai benang kusut (Scrambled stories)
Banyak teknik yang digunakan dalam pembelajaran BIPA, tetapi teknik-teknik itu di sesuaikan dengan kemampuan pembelajar BIPA. Untuk tingkat dasar tidak semua teknik dapat diaplikasikan seperti pada pembelajar tingkat mahir.
2.2.6.6 Metode dalam Pengajaran Bahasa
Metode adalah keseluruhan rencana pengaturan penyajian bahan yang tertata rapi berdasarkan pada suatu pendekatan tertentu (Widharyanto, 2003: 20). Dalam pengajaran membaca untuk pembelajar BIPA, metode mengandung pengertian berbagai metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan membaca pembelajar BIPA. Metode pengajaran bahasa bermacam-macam diantaranya:
1) Metode Terjemahan Tatabahasa
Metode ini memusatkan diri terhadap pengembangan apresiasi siswa tentang kesusastraan bahasa yang dipelajari sambil mengajarkan bahasa tersebut.
2) Metode Langsung
Metode ini memungkinkan siswa secara langsung dapat mempersepsikan arti atau pengertian bahasa sasaran.
3) Metode Audio-lingual
Metode ini didasarkan pada pandangan behaviorisme yang berpendapat bahwa pembelajaran bahasa adalah pemerolehan seperangkat kebiasaan bahasa yang tepat.
4) Metode Diam
Dalam metode ini lebih menekankan bahwa pembelajar lebih aktif dalam kegiatan berbicara dan berinteraksi. Kesalahan pembelajar dianggap sebagai bagian yang wajar dari pembelajaran.
5) Sugestopedia
Metode ini menekankan pada penciptaan suasana yang gembira dan kesantaian psikologis, menciptakan rasa terbuka, spontan orang dewasa terhadap pembelajaran.
6) Community Language Learning
Metode ini guru melihat pembelajar sebagai personal yang ingin untuk belajar. Diharapkan guru dapat membantu pembelajar agar bisa merasa aman serta dapat mengatasi kekhawatiran. Menggunakan silabus yang berorientasi pada pembelajar/siswa.
7) Total Physical Response Method
Metode ini menekankan pada kebebasan siswa tidak boleh mempengaruhi peranan guru. Bahan dan metode tidak didasarkan pada analisis kebutuhan. 8) Pendekatan Komunikatif
Pendekatan ini menekankan kompetensi komunikasi, yang bertentangan dengan kompetensi linguistik; menekankan pada fungsi bahasa dan bukan bentuk bahasa.
Dalam pengajaran bahasa khususnya keterampilan membaca cenderung menggunakan metode terjemahan tatabahasa karena metode tersebut lebih menekankan pada apresiasi sastra, dan sesuai realitas pembelajar tingkat mahir
juga kesulitan dalam memahami isi yang ada dalam karya sastra. Didalam karya sastra banyak mengandung budaya Indonesia sehingga dengan itu pembelajar tidak hanya belajar keterampilan membaca tetapi juga budaya melalui karya sastra.