PENGEMBANGAN MATERI MEMBACA LEVEL ADVANCED
BERBASIS INTERKULTURAL UNTUK PEMBELAJAR BIPA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah
Disusun oleh : Hastri Eva Febriantari
071224066
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
i
PENGEMBANGAN MATERI MEMBACA LEVEL ADVANCED
BERBASIS INTERKULTURAL UNTUK PEMBELAJAR BIPA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah
Disusun oleh : Hastri Eva Febriantari
071224066
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
MOTTO
“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam
segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan kepada:
♥ Tuhan Yesus Kristus
♥ Kedua orang tuaku tercinta Bapak Lelono Sapto Budoyo dan Ibu Rustini.
♥ Adikku tercinta Krisna Adi Wirawan
♥ Pakde Dadik
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain atau bagian karya orang lain, kecuali yang disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 12 Desember 2011 Penulis
vii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Hastri Eva Febriantari
Nomor Mahasiswa : 071224066
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :
PENGEMBANGAN MATERI MEMBACA LEVEL ADVANCED BERBASIS
INTERKULTURAL UNTUK PEMBELAJAR BIPA
Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencamtumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal 12 Desember 2011
Yang menyatakan
viii
ABSTRAK
Febriantari, Hastri Eva. 2011. Pengembangan Materi Membaca Level Advanced Berbasis Interkultural untuk Pembelajar BIPA. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.
Penelitian ini bertujuan menghasilkan produk materi membaca untuk pembelajar BIPA level advanced berbasis interkultural. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah (1) materi pembelajaran membaca berbasis interkultural seperti apa yang sesuai dengan pembelajar BIPA level advanced, (2) bagaimana mengembangkan materi pembelajaran membaca berbasis interkultural untuk pembelajar BIPA level advanced.
Pengembangan produk ini diawali dengan kegiatan analisis kebutuhan. Kegiatan analisis kebutuhan dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kebutuhan pembelajar asing dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Informasi tersebut diperoleh melalui kuesioner yang dibagikan kepada pembelajar asing level advanced dan wawancara dengan salah satu pengajar bahasa Indonesia di Wisma Bahasa Yogyakarta. Topik yang dikembangkan adalah legenda, puisi, batik, cerita rakyat, cerpen, dan novel.
Pengembangan materi membaca ini dilakukan dengan menggunakan model pengembangan Dick & Carey. Langkah-langkah pengembangan materi meliputi (1) analisis kebutuhan, (2) analisis instruksional untuk mengidentifikasi spesific skill, prosedur, learning task, (3) analisis karakteristik pembelajar, (4) me-rumuskan tujuan-tujuan performatif, (5) mengembangkan instrumen asesmen, (6) mengembangkan strategi instruksional, (7) mengembangkan dan menyeleksi bahan atau materi, (8) mendesain dan evaluasi formatif, dan (9) revise instruction.
Untuk mengetahui kelayakan produk,dilakukan uji validitas. Uji validitas dilakukan dua tahap, yaitu (1) penilaian oleh pengajar bahasa Indonesia bagi penutur asing dari Wisma Bahasa Yogyakarta, dan (2) penilaian oleh dosen ahli dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pengajar bahasa Indonesia bagi penutur asing dari Wisma Bahasa. Data hasil uji validitas tersebut digunakan untuk merevisi produk yaitu materi membaca.
ix
ABSTRACT
Febriantari, Hastri Eva. 2011. Development of Reading Materials Advanced Level Based on Intercultural for BIPA Learner. Thesis. Yogyakarta: Indonesian, Local Language, and Literature Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education. Sanata Dharma University.
This research aims at producing reading materials advanced level for BIPA learners based on intercultural. The problems formulated in this research are (1) which reading materials based on intercultural that is suitable for advanced learners of BIPA, (2) how to develop reading materials based on intercultural for advanced learners of BIPA.
The development of this product is started by need analysis. This need analysis activity is conducted to acquire the information about the needs of the foreign learners in learning Bahasa Indonesia. The information needed is acquired by distributing the questioners to advanced level of foreign learners and interviewing one of Bahasa Indonesia teachers from Wisma Bahasa Yogyakarta. The topic developed are legend, poem, batik, folklore, short story, and novel.
This development reading material is uses Dick & Cery development model. The steps of this method are (1) need analysis, (2) instructional analysis, (3) analysis of the characteristics of learner, (4) formulating performative goals, (5) developing assesment instruments, (6) developing instructional strategies, (7) developing and selecting learning materials, (8) designing and conducting formative evaluation, and (9) revise instruction.
For checking this research expediency, conducts a validity test. This test is done into two steps, (1) evaluation from the teacher of Bahasa Indonesia for foreign speakers from Wisma Bahasa, and (2) evaluation from lecturer of Sanata Dharma University Yogyakarta and teachers of Bahasa Indonesia for foreign speaker from Wisma Bahasa Yogyakarta. The data collected from this research is used to revise the product of this research, reading materials.
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Pengembangan Materi Membaca Level Advanced Berbasis Interkultural Untuk
Pembelajar BIPA di Wisma Bahasa Yogyakarta. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.
Skripsi ini dapat penulis selesaikan berkat bimbingan, bantuan, doa, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang penulis sebutkan berikut ini.
1. Setya Tri Nugraha, S.Pd., M.Pd., sebagai dosen pembimbing tunggal yang dengan sabar membimbing, memberikan masukan, dan memotivasi penulis sehingga skripsi ini terselesaikan.
2. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Universitas Sanata Dharma.
3. Dr. Yuliana Setiyaningsih, M.Pd., sebagai Kaprodi PBSID yang telah memberi izin dan kesempatan untuk melakukan penelitian di lapangan.
4. Tutyandari, S.Pd., sebagai Ketua Jurusan yang telah memberi izin dan kesempatan melakukan penelitian di lapangan.
5. Seluruh dosen PBSID yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan wawasan kepada penulis.
xi
7. Keluarga besar Wisma Bahasa Yogyakarta atas keramahan dan bantuannya pada penulis dalam melakukan penelitian.
8. Kedua orang tuaku Bapak Lelono Sapto Budoyo, Ibu Rustini, dan adikku Krisna Adi Wirawan yang selalu memberikan motivasi, kasih sayang, perhatian, dan doa sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
9. Yosep Doni Prasetyo, yang selalu sabar, memberikan motivasi dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
10.Keluarga Pedan: Pakde Dadik, Om Joni, Bulik Ning, Galuh, Tyas, terima kasih untuk dukungan, perhatian dan doa sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
11.Teman-teman penelitian: Aning, Erni, Efis, Yakub, dan Thio, terimakasih untuk dorongan, bantuan, kerja sama dan kebersamaan kita selama menyelesaikan skripsi ini.
12.Sinta, Luisa, Erni, Aning, Master, Nia, Imah, Tutik, Mbak Santi, Kinanthi terima kasih untuk persahabatan dan kebersamaannya selama ini. Senang bisa mengenal kalian. Semoga persahabatan kita akan terus terjalin.
13.Adik-adik kos “Narliem”: Linda, Clara, Dini, Cecil, Shela, Ajeng, Anita, Ana, Endang, Natrin, terima kasih untuk kebersamaan dan kekeluargaan yang terjalin selama ini di kos Narliem.
14.Semua teman-teman PBSID angkatan 2007 khususnya kelas B, terima kasih untuk kebersamaannya selama ini.
xii
Agnes, Andi terima kasih untuk kebersamaan dan pertemanan yang terjalin selama ini.
16.Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Walaupun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 12 Desember 2011 Penulis
xiii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR BAGAN ... xvi
DAFTAR TABEL ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Pengembangan ... 4
1.4 Spesifikasi Produk ... 4
1.5 Pentingnya Pengembangan ... 5
xiv
1.7 Sistematika Penyajian ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 8
2.2 Kajian Teori yang Relevan ... 10
2.2.1 Materi Pembelajaran ... 10
2.2.2 Materi Pembelajaran Membaca... 11
2.2.3 Jenis, Prinsip, Kriteria, dan Langkah-langkah Pengembangan Materi ... 11
2.2.4 Analisis Kebutuhan ... 13
2.2.5 Pengertian BIPA, Level Pembelajar, Prinsip Pengajaran BIPA ... 14
2.2.6 Kemampuan Membaca ... 16
2.2.7 Multikulturalisme dalam Pembelajaran BIPA ... 26
2.2.8 Interkulturalisme dalam Pembelajaran BIPA... 31
BAB III METODE PENGEMBANGAN 3.1 Model Pengembangan ... 40
3.2 Prosedur Pengembangan ... 41
3.3 Uji Coba Produk ... 42
3.4 Desain Uji Coba ... 43
3.5 Jenis Data ... 43
3.6 Instrumen Pengumpulan Data ... 44
3.7 Teknik Analisis Data ... 46
BAB IV HASIL PENGEMBANGAN 4.1 Paparan dan Analisis Data Hasil Analisis Kebutuhan... 49
xv
4.1.2 Paparan Hasil Wawancara... 57
4.2 Hasil Penilaian Produk Pengembangan ... 60
4.2.1 Paparan Analisis Data Hasil Uji Produk Pertama... 60
4.2.2 Paparan Analisis Data Hasil Uji Produk Kedua... 64
4.3 Revisi Produk Pengembangan... 67
BAB V PENUTUP 5.1 Kajian Terhadap Produk yang Dibuat ... 69
5.1.1 Kajian Produk Materi Membaca Level Advanced Berbasis Interkultural Untuk Pembelajar BIPA ... 69
5.2 Implikasi ... 72
5.3 Saran-saran ... 73
5.3.1 Pemanfaatan Produk... 73
5.3.2 Keperluan Pengembangan Lebih Lanjut ... 74
5.3.3 Saran untuk Penyusun Materi Membaca BIPA ... 74
DAFTAR PUSTAKA ... 76 PRODUK MATERI MEMBACA LEVEL ADVANCED BERBASIS
INTERKULTURAL UNTUK PEMBELAJAR BIPA
LAMPIRAN
xvi
DAFTAR BAGAN
xvii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Kisi-kisi Penilaian Terhadap Produk Membaca ... 43
Tabel 3.2 Kisi-kisi Pedoman Wawancara ... 44
Tabel 3.3.1 Data Umum Pembelajar ... 45
Tabel 3.3.2 Survei Kontak Bahasa ... 45
Tabel 3.3.3 Pilihan Metodologi Pembelajaran ... 45
Tabel 3.4 Kriteria Penilaian Produk ... 46
Tabel 3.5 Kriteria Revisi Komponen ... 47
Tabel 4.1 Survei Kontak Bahasa ... 51
Tabel 4.2 Kompetensi yang Dipilih Pembelajar ... 53
Tabel 4.3 Pilihan Metodologi Pembelajaran ... 54
Tabel 4.4 Data Hasil Penilaian Silabus oleh Pengajar di Wisma Bahasa ... 61
Tabel 4.5 Data Hasil Penilaian Materi oleh Pengajar di Wisma Bahasa ... 62
Tabel 4.6 Data Hasil Penilaian Silabus oleh Dosen Ahli Bahasa Indonesia dan Pengajar Bahasa Indonesia di Wisma Bahasa ... 64
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Izin Penelitian Lampiran 2 Pedoman Wawancara
Lampiran 3 Kuesioner Analisis Kebutuhan
1
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dikemukakan: (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan pengembangan, (4) spesifikasi produk yang diharapkan, (5) pentingnya pengembangan, (6) definisi istilah, dan (7) sistematika penyajian.
1.1Latar Belakang Masalah
BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) merupakan tempat bagi peminat bahasa Indonesia untuk belajar bahasa Indonesia. Keindahan alam, keragaman budaya, letak geografis, dan investasi perusahaan asing menjadi alasan utama, mengapa banyak orang asing ingin belajar bahasa Indonesia (Iskandarwassid, 2008:262). Orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia berasal dari berbagai negara seperti Australia, Jerman, Amerika, Jepang, Arab dan masih banyak yang lain.
mengatakan bahwa performansi adalah teori penggunaan bahasa dan penggunaan aktual bahasa. Chomsky juga membedakan antara kompetensi dan performansi sebagai berikut:
“Pengetahuan seseorang mengenai kaidah-kaidah suatu bahasa” dan “ Penggunaan aktual bahasa tersebut dalam situasi-situasi nyata”, atau antara “kompetensi” dan “performansi”. (dalam Tarigan, 1990: 22-23)
Maka, ketika belajar bahasa, pembelajar harus mempraktikkan bahasa yang sudah dipelajari untuk mengetahui kemajuan dan pemahaman pembelajar serta mengetahui penguasaan pembelajar terhadap bahasa target yang sedang dipelajari. Dengan mempraktikkan bahasa, pembelajar sekaligus mempraktikkan budaya. Sesuai dengan pendapat Kramsch (1993, dikutip dari Crozet dan Liddicoat, 1999 dalam Riesky “Pemahaman Budaya dalam Pembelajaran Bahasa [Asing]”) menyatakan bahwa setiap kali kita menggunakan bahasa secara bersamaan pula kita mempraktikkan budaya.
sendiri sehingga pemberian materi budaya baik untuk menguasai bahasa Indonesia.
Wahyana (dalam makalah Rita, 2001:111) mengindikasikan bahwa penutur asing sering menghadapi kesulitan memahami makna sebuah cerpen atau puisi yang bermakna konotatif. Dengan demikian materi yang bermuatan budaya diberikan kepada pembelajar yaitu dengan karya sastra karena dalam karya sastra terdapat budaya khusus dan budaya umum.
Belajar bahasa berarti belajar budaya pemilik bahasa target sehingga dalam pembelajaran BIPA khususnya keterampilan membaca, budaya baik dijadikan materi untuk pembelajaran BIPA sehingga pembelajar tidak hanya mengetahui tentang bahasa, tetapi juga penggunaan bahasa sesuai konteks sosial budayanya. Hal tersebut sesuai dengan kompetensi komunikatif Hymes (1971), Canale dan Swain (1980), Saville-Troike (1982: 25), Canale (1983), Bachman (1990) (dalam Prosiding: Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing IV, 2003: 81), mengatakan bahwa kompetensi komunikatif tidak hanya mencakup pengetahuan tentang bahasa, tetapi juga mencakup kemampuan menggunakan bahasa itu sesuai dengan konteks sosial budayanya. Dan untuk mencapai kompetensi komunikatif tersebut pembelajar perlu meningkatkan kemampuan penggunaan bahasa sesuai dengan konteks sosial budayanya, maka materi pembelajaran BIPA pun tidak boleh lepas dari konteks sosial budaya, baik budaya pembelajar maupun budaya bahasa target.
diwujudkan dengan judul “ Pengembangan Materi Membaca Level Advanced Berbasis Interkultural untuk Pembelajar BIPA”.
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
1) Materi pembelajaran membaca berbasis interkultural seperti apa yang sesuai untuk pembelajar BIPA level advanced?
2) Bagaimana mengembangkan materi pembelajaran membaca berbasis interkultural untuk pembelajar BIPA level advanced?
1.3Tujuan Pengembangan
Dari rumusan masalah tersebut maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian pengembangan ini adalah:
1) Mengetahui dan mendeskripsikan materi pembelajaran membaca berbasis interkultural yang sesuai level advanced sehingga dapat membantu keterampilan membaca pembelajar BIPA.
2) Membuat, menyusun, mengembangkan materi membaca level advanced berbasis interkultural untuk pembelajar BIPA.
1.4Spesifikasi Produk yang Diharapkan
CD/softcopy untuk memfasilitasi pembelajaran BIPA serta buku kerja yang dikhususkan penggunaannya untuk pembelajar BIPA level advanced.
1.5Pentingnya Pengembangan
Pengembangan materi pembelajaran membaca level advanced berbasis interkultural penting dilakukan karena hal-hal berikut ini:
1) Materi pembelajaran membaca untuk pembelajar level advanced berbasis interkultural masih sedikit sehingga sangat dibutuhkan dalam pembelajaran BIPA.
2) Materi pembelajaran membaca untuk pembelajar level advanced sangat diperlukan untuk mencapai keterampilan membaca pembelajar BIPA.
3) Dengan pengembangan materi membaca berbasis interkutural ini dapat membantu pembelajar BIPA untuk lebih memahami perbedaan budaya bahasa target dan pembelajar melalui membaca.
4) Memberikan referensi kepada peneliti lain yang akan melakukan penelitian sejenis.
1.6Definisi Istilah
1) Pengembangan
2) Materi
Materi adalah keseluruhan bahan yang akan diajarkan kepada siswa sebagai dasar untuk mengembangkan kompetensi dasarnya (Widharyanto, 2003: 51).
3) Membaca
Membaca adalah kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks (Iskandarwassid, 2008: 246).
4) Interkultural
Interkultural adalah proses, sebuah aksi antarindividu milik kelompok yang berbeda atau sama dan antara kelompok yang berbeda bertujuan untuk mempromosikan fertilisasi silang di semua batas, antara "mayoritas" dan "minoritas", "dominan" dan "subbudaya", lokalitas, kelas, agama, disiplin dan genre, sebagai sumber budaya, sosial, kewarganegaraan dan ekonomi inovasi (Intercultural_ Methodolguide_final.pdf)
1.7Sistematika Penyajian
Bab I berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan pengembangan, spesifikasi produk yang diharapkan, pentingnya pengembangan, definisi istilah, dan sistematika penyajian.
kemampuan membaca; multikulturalisme dalam pembelajaran BIPA; interkulturalisme dalam pembelajaran BIPA.
Bab III berisi model pengembangan, prosedur pengembangan, uji coba produk, desain uji coba, jenis data, instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Bab IV berisi paparan dan analisis data hasil analisis kebutuhan yang meliputi: analisis data kebutuhan pembelajar dan hasil wawancara, hasil uji produk pengembangan yang meliputi: paparan analisis data hasil uji produk pertama dan paparan analisis data hasil uji produk kedua.
8 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Dalam bab ini dibahas mengenai kajian teori yang relevan dengan pengembangan produk yang mencakup: (1) penelitian terdahulu yang relevan, (2) kajian teori yang relevan.
2.1Penelitian Terdahulu yang Relevan
Berdasarkan penelusuran pustaka, penulis menemukan empat penelitian pengembangan yang relevan dengan penelitian ini. Penelitian pertama dilakukan oleh Hermawati (2004) dengan skripsinya yang berjudul Pengembangan Media Gambar dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Pembelajar Asing Tingkat
Dasar (Beginner) di Puri Bahasa Yogyakarta. Dalam penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media gambar untuk pembelajaran bahasa Indonesia bagi pembelajar asing tingkat dasar di Puri Bahasa Yogyakarta. Hasil penelitian ini adalah produk yang berupa media gambar untuk pembelajar bahasa Indonesia tingkat dasar.
Penelitian kedua dilakukan oleh Lasubu (2004) dengan skripsinya yang berjudul Pengembangan Materi Pembelajaran Membaca Dalam Bidang Studi Bahasa Indonesia Untuk Siswa Kelas 1 di SMU Tiga Maret (GAMA) Berdasarkan
yang berupa materi pembelajaran membaca yang disusun berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi versi 2002.
Penelitian ketiga dilakukan oleh Pardiyono (2009) dengan skripsinya yang berjudul Pengembangan Media Audio dan Audiovisual untuk Keterampilan Menyimak Kelas X SMK Bopkri Banguntapan Bantul Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) media audio dan audiovisual apa saja yang sesuai dengan kompetensi dasar menyimak kelas X SMA Bopkri Banguntapan Bantul dan (2) tersusunnya media audio dan audiovisual untuk keterampilan menyimak siswa kelas X SMA Bopkri Banguntapan Bantul. Hasil penelitian ini adalah produk yang berupa media audio dan audiovisual untuk keterampilan menyimak.
Penelitian keempat dilakukan oleh Subakti (2010) dengan skripsinya yang berjudul Pengembangan Materi Menulis Narasi, Deskripsi, Eksposisi, dan Argumentasi untuk Siswa Kelas XI SMK Marsudi Luhur II Yogyakarta. Penelitian ini mempunyai tujuan yaitu tersusunnya materi pembelajaran menulis narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi untuk siswa kelas XI SMK Marsudi Luhur II Yogyakarta. Hasil penelitian pengembangan ini adalah produk berupa materi pembelajaran menulis narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi untuk siswa kelas XI. Pada penelitian ini produk pengembangan belum diujicobakan pada kegiatan kelas yang sesungguhnya.
2.2Kajian Teori yang Relevan
2.2.1 Materi Pembelajaran
Materi adalah benda, barang, segala sesuatu yang tampak; sesuatu yang menjadi bahan untuk diujikan, dipikirkan, dibicarakan, dilarang dsb (KBBI, 2008:997). Sejalan dengan pengertian di atas Widharyanto (2003: 51) memberikan pengertian bahwa materi pembelajaran adalah keseluruhan bahan yang akan diajarkan kepada siswa sebagai dasar untuk mengembangkan kompetensi dasarnya. Berbeda dengan Abdul majid (2009: 174) memberikan definisi bahan atau materi ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Menurut Wina Sanjaya (2008: 141) Materi pelajaran adalah (learning materials) adalah segala sesuatu yang menjadi isi kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan pendidikan tertentu. Berbeda dengan pendapat Iskandarwassid (2008: 171) materi ajar atau bahan ajar adalah seperangkat informasi yang harus diserap peserta didik melalui pembelajaran yang menyenangkan.
Menurut Djago Tarigan dan H.G Tarigan, materi yang baik adalah materi yang berguna bagi siswa baik sebagai pengembangan pengetahuannya dan keperluan bagi tugasnya di lapangan.
yang diajarkan kepada siswa untuk mengembangkan kompetensi dasarnya. Materi pembelajaran penting dalam pembelajaran agar pembelajaran dapat berjalan. Dalam pengembangan materi perlu memperhatikan kebermanfaatan bagi siswa sehingga perlu pemilihan materi yang sesuai.
2.2.2 Materi Pembelajaran Membaca
Materi Pembelajaran adalah keseluruhan bahan yang akan diajarkan kepada siswa sebagai dasar untuk mengembangkan kompetensi dasarnya (Widharyanto, 2003:51). Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis (Tarigan, 1983:7).
Dari hal di atas, dapat disimpulkan bahwa materi pembelajaran membaca adalah keseluruhan bahan yang diajarkan kepada siswa untuk memperoleh pesan
atau informasi melalui bahasa tulis. Sebuah bahan ajar paling tidak mencakup (a) petunjuk belajar (petunjuk siswa/guru), (b) kompetensi yang akan dicapai, (c)
informasi pendukung, (d) latihan-latihan, (e) petunjuk kerja (LK), (f) evaluasi.
Ada beberapa prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pembelajaran (Depdiknas, 2008:5). Prinsip-prinsip itu antara lain:
1) Relevansi/ kesesuaian. Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapakan dikuasai berupa mengahafal fakta, maka materi yang harus diajarkan berupa fakta.
2) Konsistensi/ keajegan. Jika kompetensi yang dikuasai peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga empat macam. 3) Adequacy/ kecukupan. Materi yang diajarkan hendaknya cukup
Setelah diketahui kriteria pengembangan materi, maka perlu memperhatikan langkah-langkah pengembangan materi. Menurut Iskandarwassid (2008: 221) langkah-langkah menyusun materi antara lain:
1) Mengidentifikasi nama unit atau topik yang akan diajarkan
2) Mengidentifikasi generalisasi dan konsep yang dipakai dalam tiap unit atau topik
3) Mengidentifikasi konsep-konsep dan subkonsep yang meliputi generalisasi
4) Menyusun generalisasi dan konsep berdasarkan urutan logis 5) Mengembangkan kerangka rencana untuk setiap unit pelajaran
2.2.4 Analisis Kebutuhan
Menurut Siahaan (dalam Subakti, 2010: 22), analisis kebutuhan adalah suatu usaha untuk mencari dan menggambarkan kebutuhan bahasa yang dimiliki atau diinginkan pelajar. Analisis kebutuhan dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal pembelajar, kebutuhan dan minat pembelajar. Dengan tiga hal itu mempermudah dalam menyusun bahan atau materi yang sesuai dengan karakteristik pembelajar.
Analisis kebutuhan perlu dilakukan karena dapat mengidentifikasi: (1) persyaratan-persyaratan komunikasi yang harus dicapai pembelajar, (2)
pembelajaran yang sesuai karakteristik pembelajar, dan (5) partner of learning pembelajar.
2.2.5 Pengertian BIPA, Level Pembelajar BIPA, Prinsip Pengajaran BIPA
Dalam GBPP BIPA 2005, BIPA adalah bentuk singkat dari bahasa Indonesia untuk penutur asing. Sejalan dengan itu, pengajaran BIPA berarti pengajaran bahasa Indonesia yang dilakukan terhadap para penutur asing. Istilah penutur asing yang dimaksud dalam hal ini adalah penutur bahasa selain bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Melayu. Misalnya, penutur bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, dan Arab dapat disebut sebagai penutur asing. Level Pembelajar BIPA terdiri dari tiga tingkatan antara lain:
1) Tingkat dasar adalah pembelajar yang belum memiliki kemampuan berbahasa Indonesia atau memiliki sedikit kemampuan dasar berbahasa Indonesia.
2) Tingkat menengah adalah pembelajar BIPA yang sudah menguasai percakapan sehari-hari dalam bahasa Indonesia.
3) Tingkat mahir adalah pembelajar BIPA yang sudah menguasai empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis dengan baik
Karakteristik pembelajar BIPA berbeda dengan penutur asli Indonesia, sehingga perlu memperhatikan hal di bawah ini:
2) Tujuan : pembelajar BIPA memiliki tujuan yang beragam (berwisata, bekerja, meneliti, studi)
3) Usia : usia pembelajar beragam sehingga perlu mendapat perhatian dalam pembelajaran BIPA. Pendekatan pembelajar muda berbeda dengan pembelajar yang tua.
4) Tempat : tempat mempengaruhi keberhasilan pengajaran. Pembelajar dapat langsung mempraktikkan di luar kelas.
Dalam pengembangan materi membaca khususnya bagi pembelajar BIPA perlu memperhatikan hal-hal seperti (1) tujuan pembelajar BIPA belajar bahasa Indonesia, (2) gradasi kesulitan materi, (3) variasi materi (4) konteks materi, dan (5) integrasi materi (materi berbahasa, kebahasaan, dan budaya).
Kelima hal di atas penting dalam pengembangan materi membaca karena menentukan keberhasilan pembelajaran dan pengajaran BIPA. Selain itu pengajaran BIPA berbeda dengan pengajaran bahasa Indonesia penutur asli. Saran teoritis untuk pengajar dalam mengorganisasikan materi pembelajaran BIPA:
1) Difokuskan pada pemerolehan bahasa; bukan pembelajaran bahasa. 2) Menciptakan situasi yang alamiah
3) Difokuskan pada latihan terus menerus sebagai penajaman.
2.2.6 Kemampuan Membaca 2.2.6.1Pengertian Membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process) (Tarigan, 1983: 7). Sedangkan menurut Iskandarwassid (2008: 246) membaca adalah kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks. Membaca sebagai keterampilan mencakup tiga komponen yaitu (1) pengenalan terhadap aksara serta tanda-tanda baca, (2) korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik dan formal, (3) hubungan lebih lanjut dari A dan B dengan makna atau meaning.
2.2.6.2Tujuan Membaca
Menurut Tarigan, tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Di bawah ini ada tujuh tujuan membaca yaitu:
1) Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh; apa yang telah dibuat oleh tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh tokoh. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or fact).
2) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa yang dipelajari atau dialami oleh tokoh dan merangkumkan hal-hal yang dilakukan oleh tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).
3) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita. Ini disebut membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization) 4) Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh
5) Membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify).
6) Membaca untuk menilai, membaca untuk mengevaluasi (reading to evaluate).
7) Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast).
Tujuan utama pengajaran membaca untuk pembelajar BIPA adalah membekali pembelajar kecepatan dan ketepatan membaca serta memahami maknanya. Untuk melatih ketepatan membaca, pengajar harus selalu menjadi contoh yang tepat. Selain itu wacana atau bacaan harus diseleksi dahulu untuk melatih pemahaman pembelajar. Tujuan pembelajaran membaca tingkat mahir yaitu:
1) Menemukan ide pokok dan ide penunjang 2) Menafsirkan intisari bacaan
3) Membuat intisari bacaan
4) Menceritakan kembali berbagai jenis bacaan (narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi).
2.2.6.3Jenis-jenis Membaca
Membaca ditinjau dari segi terdengar atau tidaknya suara pembaca ketika melakukan kegiatan membaca, menurut Tarigan (1983: 22) dapat dibagi atas: 1) Membaca Nyaring
pembaca dapat menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis, baik yang berupa pikiran, perasaan, sikap, ataupun pengalaman penulis. Keterampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah berbagai kemampuan, diantaranya adalah:
a. menggunakan frase yang tepat,
b. menggunakan intonasi suara yang wajar, c. dalam posisi sikap yang baik,
d. menguasai tanda-tanda baca, e. membaca dengan terang dan jelas,
f. membaca dengan penuh perasaan, ekspresif, g. membaca dengan tidak terbata-bata,
h. mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya, i. kecepatan bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya, j. membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan, k. membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri. 2) Membaca Dalam Hati
Membaca dalam hati adalah membaca yang dilakukan tanpa menyuarakan isi bacaan yang dibaca. Membaca dalam hati dibagi menjadi dua yaitu membaca ekstensif dan membaca intensif.
membaca ekstensif adalah memahami isi yang penting dengan cepat. Membaca ekstensif masih dibagi lagi, yaitu:
a) Membaca Survei
Membaca survei adalah kegiatan membaca untuk mengetahui sekilas terhadap bahan bacaan yang akan dibaca lebih mendalam. Membaca survei merupakan pendahuluan dalam membaca ekstensif. Yang dilakukan orang ketika membaca survei adalah sebagai berikut:
(1) Memeriksa, meneliti indeks, daftar kata yang terdapat dalam buku. (2) Melihat-lihat, memeriksa, meneliti judul-judul bab yang terdapat
dalam buku- buku yang bersangkutan.
(3) Memeriksa, meneliti bagan, skema buku yang bersangkutan. b) Membaca Sekilas
Membaca sekilas atau membaca cepat atau skimming adalah membaca yang membuat mata kita bergerak dengan cepat melihat, memperhatikan bahan tertulis untuk mencari atau mendapatkan informasi.
c) Membaca Dangkal (Superficial reading)
Membaca dangkal pada dasarnya bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu bahan bacaan. Membaca dangkal ini biasanya dilakukan seseorang untuk kesenangan, mengisi waktu senggang.
a) Membaca Telaah Isi (1) Membaca Teliti
Membaca ini sama pentingnya dengan membaca sekilas, maka seringkali kita membaca dengan teliti bahan-bahan yang disukai.
(2) Membaca Pemahaman
Adalah membaca yang bertujuan untuk memahami standar-standar atau norma kesastraan, resensi kritis, drama tulis, pola-pola fiksi. (3) Membaca Kritis
Adalah sejenis membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan hanya mencari kesalahan.
(4) Membaca Ide
Adalah sejenis kegiatan membaca yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat dalam bacaan.
(5) Membaca Kreatif
Adalah membaca yang tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat, makna antar baris, tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan sehari-hari.
b) Membaca Telaah Bahasa (1)Membaca Bahasa
(2)Membaca Sastra
Dalam membaca sastra dipusatkan pada penggunaan bahasa dalam karya sastra. Seorang pembaca dapat mengenal serta mengerti seluk beluk bahasa dalam suatu karya sastra maka semakin mudahlah dia memahami isinya serta menikmati keindahannya.
Semua jenis membaca di atas dapat digunakan dalam pengajaran BIPA hanya saja disesuaikan dengan kemampuan pembelajar. Untuk pembelajar level Advanced hampir semua jenis membaca dapat dipakai dalam pembelajaran membaca, karena pembelajar tingkat mahir sudah menguasai bahasa Indonesia dengan baik.
2.2.6.4Metode Pengajaran Membaca 1) Metode Membaca Langsung
Metode ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan membaca secara komprehensif, membaca kritis, dan mengembangkan perolehan pengalaman siswa berdasarkan bentuk dan isi bacaan secara ekstensif. 2) Metode SQ3R
3) Metode Membaca- Tanya Jawab/ MTJ atau Request
Metode ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan membaca komprehensif, memahami alasan pengambilan kesimpulan isi bacaan, dan peramalan lanjut berkenaan dengan isi bacaan.
4) Metode Membaca dan Berpikir Secara Langsung/ MBL
Metode ini bertujuan untuk melatih siswa berkonsentrasi dan berpikir keras untuk memahami isi bacaan secara serius.
5) Metode Penghubungan Pertanyaan-Jawaban/ PPJ
Metode ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memperoleh berbagai informasi dari berbagai sumber yang berkaitan dengan berbagai bidang. Pertanyaan dapat disusun guru atau dapat memanfaatkan daftar pertanyaan yang ada dalam bacaan.
6) Metode Pengelompokan dan Pemetaan Isi Bacaan/ PPIB
Digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menyusun dan memahami bagan, mengelompokkan, memetakan isi bacaan.
Metode-metode di atas digunakan untuk pembelajaran membaca. Pemilihan metode di sesuaikan dengan pembelajar karena karakteristik pembelajar BIPA berbeda.
2.2.6.5Teknik pengajaran Membaca Level Advanced
Banyak teknik yang digunakan dalam pembelajaran BIPA, tetapi teknik-teknik itu di sesuaikan dengan kemampuan pembelajar BIPA. Untuk tingkat dasar tidak semua teknik dapat diaplikasikan seperti pada pembelajar tingkat mahir.
2.2.6.6 Metode dalam Pengajaran Bahasa
Metode adalah keseluruhan rencana pengaturan penyajian bahan yang tertata rapi berdasarkan pada suatu pendekatan tertentu (Widharyanto, 2003: 20). Dalam pengajaran membaca untuk pembelajar BIPA, metode mengandung pengertian berbagai metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan membaca pembelajar BIPA. Metode pengajaran bahasa bermacam-macam diantaranya:
1) Metode Terjemahan Tatabahasa
Metode ini memusatkan diri terhadap pengembangan apresiasi siswa tentang kesusastraan bahasa yang dipelajari sambil mengajarkan bahasa tersebut.
2) Metode Langsung
Metode ini memungkinkan siswa secara langsung dapat mempersepsikan arti atau pengertian bahasa sasaran.
3) Metode Audio-lingual
4) Metode Diam
Dalam metode ini lebih menekankan bahwa pembelajar lebih aktif dalam kegiatan berbicara dan berinteraksi. Kesalahan pembelajar dianggap sebagai bagian yang wajar dari pembelajaran.
5) Sugestopedia
Metode ini menekankan pada penciptaan suasana yang gembira dan kesantaian psikologis, menciptakan rasa terbuka, spontan orang dewasa terhadap pembelajaran.
6) Community Language Learning
Metode ini guru melihat pembelajar sebagai personal yang ingin untuk belajar. Diharapkan guru dapat membantu pembelajar agar bisa merasa aman serta dapat mengatasi kekhawatiran. Menggunakan silabus yang berorientasi pada pembelajar/siswa.
7) Total Physical Response Method
Metode ini menekankan pada kebebasan siswa tidak boleh mempengaruhi peranan guru. Bahan dan metode tidak didasarkan pada analisis kebutuhan. 8) Pendekatan Komunikatif
Pendekatan ini menekankan kompetensi komunikasi, yang bertentangan dengan kompetensi linguistik; menekankan pada fungsi bahasa dan bukan bentuk bahasa.
juga kesulitan dalam memahami isi yang ada dalam karya sastra. Didalam karya sastra banyak mengandung budaya Indonesia sehingga dengan itu pembelajar tidak hanya belajar keterampilan membaca tetapi juga budaya melalui karya sastra.
2.2.7 Multikulturalisme dalam Pembelajaran BIPA
Pendidikan multikultural merupakan proses atau strategi pendidikan dalam konteks keberagaman budaya yang melibatkan pluralitas kebangsaan, bahasa, etnik, dan kelompok sosial. Pendidikan multikultural ini diarahkan pada terwujudnya pengetahuan, kesadaran, dan sikap budaya yang mempertimbangkan keberagaman dan perbedaan budaya (Saha, 1997 dalam Setya Tri Nugraha “Multiculturalism-Based Approach dalam Pengembangan Kurikulum BIPA”. Makalah KIPBIPA VII ). Berikut karakteristik kurikulum multikulturalisme dalam konteks pembelajaran BIPA:
1) Kurikulum BIPA seharusnya merefleksikan pola pembelajaran budaya dan mengakomodasi keberagaman karakteristik pembelajarnya dan masyarakat (sekolah). Pembelajar BIPA mempunyai keunikan budaya dan karakteristik etnik yang berbeda sehingga harus direspon secara positif dalam proses belajar dengan aktivitas kooperatif agar mereka mampu mengembangkan sikap positif terhadap perbedaan etnik dan budaya (termasuk budaya mereka dengan budaya target).
budaya dan tipe belajar pembelajar yang berasal dari etnik dan kelompok sosial yang berbeda. Kurikulum multikultural yang berhasil senantiasa membantu pembelajar BIPA untuk menyadari dan mampu mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap budaya serta memanfaatkannya dalam lingkungan budaya target.
3) Kurikulum multikultural hendaknya menyediakan kesempatan terus-menerus bagi pembelajar untuk mengembangkan a better sense of self. Perkembangan ini merupakan proses yang berlangsung terus-menerus dari awal masuk mengikuti pembelajaran BIPA . Untuk itu, program pembelajaran BIPA harus dirancang agar proses ini tetap terjaga. Terdapat tiga rancangan program untuk hal ini yaitu:
a. Pembelajar BIPA difasilitasi dengan program untuk mengembangkan identitas diri mereka. Termasuk di dalamnya, program untuk mengatasi gegar identitas ketika memasuki budaya dan lingkungan sosial yang baru. Program ini biasanya dilaksanakan di awal-awal mereka mengikuti pelatihan/ pembelajaran.
c. Program pembelajaran yang membantu pengembangan self-understanding perlu dikembangkan dalam kurikulum multikultural untuk kelas BIPA. Program ini diarahkan untuk membantu mereka memahami keberadaan diri mereka di tengah perbedaan budaya dan etnis, dan bagaimana mereka menempatkan budaya dan etnis mereka dalam konteks beriringan dan bersinggungan dengan budaya dan kelompok etnis yang lain, serta membantu mereka memahami makna etnisitas dan budaya dalam hidup keseharian mereka. Program ini biasanya dilakukan dengan live-in atau social gathering dengan kelompok-kelompok budaya target.
4) Kurikulum yang berbasis multikulturalisme hendaknya menekankan pada nilai, sikap, dan perilaku budaya yang mendukung pluralisme etnis dan keberagaman budaya.
5) Kurikulum multikultural hendaknya membantu pembelajar BIPA dalam memahami dan merefleksi bahwa keberagaman budaya merupakan bagian integral dari kehidupan plural. Tujuan utama kurikulum ini adalah memperbaiki atau meningkatkan human dignity dan menerima keberagaman sebagai suatu yang bernilai dan tak terelakkan dalam kehidupan manusia.
keterampilan partisipasi sosial, dan mewujudkan individu yang demokratis dalam konteks pluralitas.
Hughes (dalam Setya, makalah KIPBIPA) mengajukan beberapa alternatif strategi pembelajaran multi budaya dalam pembelajaran bahasa atau bahasa kedua yaitu:
1) Comparison Method
Pembelajaran dimulai dengan penyajian satu atau lebih bentuk budaya target yang benar-benar berbeda dengan budaya pembelajar. Setelah penyajian ini, diskusi difokuskan pada alasan-alasan perbedaan-perbedaan budaya tersebut dapat mengakibatkan masalah/kesalahpahaman budaya.
2) Culture Assimilator
Culture assimilator merupakan deskripsi singkat dari suatu critical insident (peristiwa-peristiwa yang berpotensi mengakibatkan kesalahpahaman) dalam interaksi lintas budaya yang memungkinkan disalah artikan oleh pembelajar. Dalam teknik ini, pengajar memberikan deskripsi dari suatu critical insident disertai dengan beberapa alternatif penjelasan dan pemecahannya. Pembelajar diminta untuk memilih satu alternatif penjelasan dan pemecahannya. Bila jawaban pembelajar salah, maka mereka harus berusaha mencari informasi yang benar dengan diskusi dengan kelompok lain. 3) Culture Capsule
Presentasi tersebut juga dilengkapi dengan berbagai pertanyaan yang memungkinkan terjadinya diskudi antarpembelajar.
4) Audiomotor unit or Total Physical Respon
Metode ini biasanya dirangkaikan dalam pembelajaran menyimak. Pembelajar diminta untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang mereka dengar dan atau lihat. Hal ini dilakukan agar pembelajar secara langsung mengalami suatu aktivitas budaya tertentu.
5) Newspaper
Pembelajar diminta untuk membandingkan berbagai aspek budaya mereka dengan budaya Indonesia sebagaimana yang terlihat dalam surat kabar. Berbagai bagian surat kabar akan menunjukkan adanya berbagai perbedaan budaya, misalnya dalam headlines, iklan, editorial, dan karikatur.
6) Projected Media
Penggunaan films, slide, dan filmstrips yang berisi informasi budaya akan sangat menarik perhatian pembelajar untuk mempelajari berbagai aspek budaya Indonesia (target). Pemakaian video yang dihasilkan oleh pembelajar ketika melakukan perjalanan akan menjadikan pembelajaran lebih interaktif. 7) The Cultural Island
Henrichen (dalam Setya makalah KIPBIPA) mengajukan dua metode pembelajaran budaya dalam konteks multikultural yaitu:
1) Culture assimilators dilakukan dengan menghadirkan dekripsi singkat mengenai berbagai situasi budaya yang memungkinkan pembelajar dapat berinteraksi dengan orang lain yang berlatar belakang budaya yang berbeda. Deskripsi ini kemudian disertai dengan berbagai interpretasi makna yang tersirat di dalamnya agar berkembang wacana diversity di dalamnya. Pembelajar dapat memilih interpretasi tersebut atau mengajukan interpretasi baru yang akan menunjukkan kepekaan antarbudaya mereka.
2) Cultoons method merupakan metode audio visual yang berkaitan dengan aspek – aspek budaya yang berbeda yang dihadirkan dalam pembelajaran. Pembelajar diberi sajian beberapa kisah kesalahpahaman antarbudaya atau pengalaman gegar budaya untuk kemudian dianalisis secara mendalam dari sudut pandang multikultural. Dalam situasi ini, pembelajar diminta memberikan evaluai dan refleksi atas reaksi – reaksi yang muncul mengenai kepantasan (appropriateness) budaya yang terjadi.
2.2.8 Interkulturalisme dalam Pembelajaran BIPA
genre, sebagai sumber budaya, sosial, kewarganegaraan dan ekonomi inovasi (Intercultural_ Methodolguide_final.pdf)
1) Tujuan Interkultural
Tujuan utama pembelajaran antarbudaya adalah pengembangan kompetensi antarbudaya. Menurut Paige (1997), pembelajaran itu akan mencakup:
a. Belajar tentang diri sebagai budaya
b. Belajar tentang budaya dan dampaknya terhadap komunikasi manusia, perilaku, dan identitas.
c. Belajar budaya umum, yaitu belajar tentang universal, fenomena lintas budaya seperti penyesuaian budaya.
d. Belajar budaya spesifik, yaitu belajar tentang budaya tertentu, termasuk bahasanya.
e. Bagaimana belajar, yaitu, menjadi bahasa yang efektif dan belajar budaya.
2) Kompetensi Interkultural
3) Prinsip Interkultural
Ada tiga prinsip dalam pendidikan interkultural, di antaranya:
a. Pendidikan interkultural menghormati identitas budaya pembelajar. Prinsip pertama bisa dicapai melalui:
a) Penggunaan kurikulum, pengajaran, dan bahan ajar yang membangun pengetahuan dan pengalaman pembelajar, memasukkan sejarah, pengetahuan dan teknologi, sosial, ekonomi, dan budaya, membantu pembelajar untuk memahami dan mengapresiasi warisan budaya, bertujuan mengembangkan pembelajar untuk menghormati identitas budaya, bahasa dan nilai dalam masyarakat, menggunakan sumber lokal atau daerah.
b) Pengembangan metode pengajaran yang menggunakan media seperti bercerita, drama, puisi, dan lagu, berdasarkan praktik, partisipasi dan pembelajaran yang kontekstual termasuk aktivitas yang berkolaborasi dengan institusi budaya, kunjungan ke tempat-tempat bersejarah dan monumen, dan menghasilkan aktivitas yang berhubungan dengan masyarakat, budaya, dan kebutuhan ekonomi.
budaya dari kelompok mayoritas, memfasilitasi perbedaan sebagai alat di kelas untuk kebaikan pembelajar.
b. Pendidikan interkultural memberikan pembelajar pengetahuan budaya, keterampilan budaya untuk meningkatkan keaktifan dan partisipasi dalam masyarakat. Prinsip kedua bisa dicapai melalui:
a) Jaminan yang sama dan kesempatan yang sama dalam pendidikan melalui penghilangan bentuk deskriminasi dalam pendidikan, tindakan yang memfasilitasi pendidikan yang terintegrasi dengan kebutuhan budaya, memberikan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran, memberikan lingkungan pembelajaran yang tidak mendiskriminasi dan tenang.
b) Penggunaan kurikulum, pengajaran, dan bahan ajar yang menanamkan pengetahuan tentang sejarah, adat istiadat, bahasa dan budaya yang ada pada kelompok minoritas dan mayoritas, bertujuan menghilangkan prasangka tentang budaya dari negara lain, melibatkan variasi budaya melalui perspektif perbedaan budaya, menciptakan penguasaan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dan memungkinkan pembelajar memperoleh informasi, memahami situasi di mana mereka tinggal, mengekspresikan kebutuhan mereka, dan ambil bagian dalam kegiatan masyarakat.
keterampilan budaya seperti berkomunikasi atau berhubungan dengan masyarakat.
d) Definisi yang jelas dan kebutuhan yang tepat dari hasil pembelajaran termasuk pengetahuan, keterampilan, tingkah laku, dan nilai.
e) Pengajaran bahasa yang tepat: Setiap pembelajar harus memperoleh kesempatan untuk berkomunikasi, mengekspresikan diri mereka, mendengarkan dan menggunakan dalam percakapan dalam bahasa ibu mereka, bahasa nasional mereka, satu atau lebih bahasa asing.
c. Pendidikan interkultural memberikan pembelajar pengetahuan budaya, keterampilan budaya sehingga memungkinkan pembelajar menghormati, memahami, dan memiliki rasa kesetiakawanan di antara individu-individu, etnik, sosial, budaya , agama, dan bangsa. Prinsip ketiga dapat dicapai melalui:
a) Pengembangan kurikulum yang berkontribusi untuk menemukan perbedaan budaya, kesadaran nilai positif dari perbedaan budaya, dan menghormati warisan budaya, pengetahuan tentang warisan budaya melalui pengjaran sejarah, geografi, bahasa, seni, estetika. Memahami dan menghormati budaya orang lain, nilai dan cara hidup mereka baik budaya dari negara yang sama dan budaya dari negara lain, memahami pentingnya kerjasama internasional, menghormati perbedaan pola pikir.
melalui: pertukaran pelajar, pengajar, yang berbeda negara dan budaya, kemampuan untuk memecahkan masalah.
c) Pengajaran bahasa asing dan memperkuat komponen budaya dalam pembelajaran bahasa. (UNESCO, Guidelines on Intercultural Education)
Pada tahun 1970-an Hymes (1972) memperkenalkan konsep kompetensi komunikatif (CC) ketika ia berpendapat bahwa, dalam rangka memahami pemerolehan bahasa pertama, perlu untuk mempertimbangkan kompetensi tidak hanya bagaimana gramatikal tetapi juga kemampuan untuk menggunakan bahasa yang tepat, sehingga menempatkan penekanan pada kompetensi sosiolinguistik di antara penutur asli. Ide ini diambil oleh Canale dan Swain (1980) di Amerika Utara dan Van Ek (1986) di Eropa, yang diterapkan untuk akuisisi bahasa asing dan mengubahnya menjadi sebuah konsep dasar dalam pengembangan pengajaran bahasa komunikatif. Tujuan dari metodologi komunikatif adalah untuk memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk berkomunikasi dalam sosial dan budaya cara yang tepat, dan, dalam proses belajar, fokus ditempatkan pada fungsi, bermain peran dan situasi nyata antara aspek lainnya.
1) Kompetensi gramatikal meliputi pengetahuan unsur leksikal dan aturan morfologi, sintaksis, semantik kalimat tata bahasa, dan fonologi. 2) Kompetensi sosiolinguistik terdiri dari dua set peraturan yang
berbeda: sosial budaya dan wacana. Yang pertama berfokus pada sejauh mana proposisi tertentu dan fungsi komunikatif sesuai dalam konteks sosial budaya tertentu, dan sejauh mana sikap yang tepat dan mendaftar atau gaya yang disampaikan oleh bentuk gramatikal tertentu dalam konteks sosial budaya tertentu. Aturan wacana adalah terkait dengan kohesi dan koherensi kelompok tuturan.
3) Kompetensi strategis terdiri dari strategi komunikasi verbal dan nonverbal bahwa pembicara dapat resor ketika kerusakan dalam komunikasi terjadi karena variabel kinerja atau kompetensi mencukupi. Strategi ini mungkin berhubungan dengan kompetensi gramatikal (bagaimana parafrase, bagaimana untuk menyederhanakan, dll) atau untuk kompetensi sosiolinguistik (misalnya, bagaimana alamat orang asing ketika yakin status sosial mereka).
CC, masing-masing disebut juga kompetensi. Pada kenyataannya, mereka adalah enam sudut pandang dari fenomena yang kompleks, yang tumpang tindih dan salingbergantung:
1) Linguistik kompetensi: Kemampuan untuk menghasilkan dan menafsirkan ucapan-ucapan bermakna yang dibentuk sesuai dengan aturan dari bahasa yang bersangkutan dan memiliki makna konvensional mereka... bahwa makna yang penutur asli biasanya menempel pada ucapan ketika digunakan dalam isolasi.
2) Kompetensi sosiolinguistik: Kesadaran cara-cara dimana pilihan bentuk bahasa...ditentukan oleh kondisi seperti pengaturan, hubungan antara mitra komunikasi, komunikatif niat [Ini] kompetensi mencakup hubungan antara sinyal linguistik dan kontekstual mereka atau situasional makna.
3) Wacana kompetensi: Kemampuan untuk menggunakan strategi yang tepat dalam pembangunan dan interpretasi teks.
4) Strategis kompetensi: Jika komunikasi sulit kita harus mencari cara “mendapatkan kami berarti di’ atau mencari tahu apa seseorang yang berarti” ini adalah strategi komunikasi, seperti mengulang, meminta klarifikasi.
40 BAB III
METODE PENGEMBANGAN
Dalam bab ini dibahas mengenai: (1) model pengembangan, (2) prosedur pengembangan, (3) uji coba produk, (4) desain uji coba, (5) jenis data, (6) instrumen pengumpulan data, dan (7) teknik analisis data.
3.1Model Pengembangan
Model Pengembangan penelitian ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Walter Dick dan Lou Carey. Model ini terdiri dari sepuluh langkah yaitu:
1) analisis kebutuhan untuk menentukan tujuan dan topik-topik yang disampaikan pembelajar
2) analisis intsruksional untuk mengidentifikasi spesific skill, prosedur, learning task yang berperan dalam pencapaian tujuan
3) analisis karakteristik pembelajar yang akan mengikuti proses belajar dan konteks berlangsungnya pembelajaran.
4) merumuskan tujuan-tujuan performatif yang teramati dalam tindak berbahasa pembelajar
5) mengembangkan intstrumen asesmen yang terkait dengan pengetahuan dan keterampilan dalam tujuan performatif
6) mengembangkan strategi instruksional
9) revise instruction
Model Dick & Cery dipilih untuk penelitian pengembangan ini dengan pertimbangan bahwa (1) model ini dimulai dengan analisis kebutuhan sehingga tujuan dapat tercapai dengan maksimal dan (2) model ini memperhatikan karakteristik pembelajar. Secara skematis model Dick & Cery digambarkan dalam bagan di bawah ini.
Bagan 3.1
Model desain sistem instruksional dari Dick and Cery (Sanjaya, 2008 : 76)
3.2Prosedur Pengembangan
Prosedur yang dilaksanakan menggunakan prosedur yang dikemukakan
(1) mengembangkan produk dan (2) menguji keefektifan produk dalam mencapai tujuan. Tujuan pertama disebut sebagai fungsi pengembangan dan fungsi kedua disebut fungsi validasi. Prosedur penelitian dan pengembangan sebagai berikut
1) Melakukan penelitian pendahuluan dan pengumpulan informasi (kajian pustaka, pengamatan kelas, persiapan laporan tentang pokok persoalan)
2) Melakukan perencanaan (pendefinisian keterampilan, perumusan tujuan, penentuan urutan pembelajaran, dan uji coba skala kecil)
3) Mengembangkan bentuk produk awal (penyiapan materi pembelajaran, penyusunan
4) Melakukan uji lapangan permulaan. Pada tahap ini data wawancara, observasi, dan kuesioner dikumpulkan dan dianalisis).
5) Melakukan revisi terhadap produk utama 6) Melakukan uji coba lapangan utama.
7) Melakukan revisi terhadap produk operasional. 8) Melakukan uji lapangan operasional.
9) Melakukan revisi terhadap produk akhir.
10)Mendesimilasikan dan mengimplementasikan produk akhir. (Sukmadinata, 2008: 169-170)
3.3Uji Coba Produk
level advanced. Selain itu uji coba ini dimaksudkan agar mendapat tanggapan berupa saran, kritik dari dosen guna mengetahui kelayakan produk yang dibuat.
3.4Desain Uji Coba
Subjek uji coba terdiri dari dosen ahli bidang perancangan materi pembelajaran, pengajar di bidang pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur Asing, dan apabila waktu cukup orang asing yang sedang belajar bahasa Indonesia. Subjek uji coba menilai produk dari kisi penilaian. Berikut kisi-kisi penilaian produk:
Tabel 3.1 Kisi-kisi Penilaian Terhadap Produk Materi Membaca
No. Butir-butir penilaian Jumlah
1. Ketepatan teks dengan topik 1
2. Ketepatan pengalokasian waktu 1
3. Kesesuaian media dengan materi pembelajaran 1 4. Kesesuaian materi dengan tujuan instruksional 1 5. Kesesuaian tingkat kesulitan bahan pembelajaran dengan
level pembelajar. 1
6. Kejelasan petunjuk-petunjuk kegiatan pembelajaran dan
soal-soal dalam setiap unit materi pembelajaran 1 7. Ketercapaian aspek membaca dalam materi 1 8. Kesesuaian latihan-latihan dengan materi
9. Kesesuaian catatan budaya (culture note) dan refleksi dengan
materi 1
10. Kemenarikan desain materi 1
3.5Jenis Data
diajukan kepada dosen ahli dan pengajar bahasa Indonesia yang kemudian dijelaskan secara kualitatif. Data kualitatif berupa informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan pengajar bahasa Indonesia, kuesioner analisis kebutuhan, dan instrumen penilaian yang berupa tanggapan, masukan dari subjek uji coba.
3.6Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data yang akan digunakan adalah panduan wawancara dan kuesioner. Wawancara ditujukan untuk pengajar pembelajar level advanced. Wawancara dilakukan secara formal kepada salah satu pengajar BIPA. Kuesioner yang digunakan berupa kuesioner yang diberikan pembelajar BIPA level advanced. Kuesioner ini diberikan kepada pembelajar sebelum penelitian untuk mengetahui kebutuhan pembelajar.
Tabel 3.2 Kisi-kisi Pedoman Wawancara
No. Butir-butir Pertanyaan Jumlah
1. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran (membaca)
1 2. Metode dan teknik yang dipakai pengajar dalam
pembelajaran (membaca)
1 3. Cara menentukan kebutuhan siswa dalam pembelajaran
membaca
1
4. Dasar penentuan pembelajaran BIPA 1
5. Jenis bacaan/ simakan yang diberikan kepada pembelajar BIPA
1 6. Bentuk teks apa saja yang diberikan kepada pembelajar
BIPA
1 7. Media yang digunakan pengajar BIPA dalam
pembelajaran membaca
1 8. Evaluasi pembelajaran membaca bagi pembelajar BIPA
level Advanced
1 9. Kemampuan membaca/menyimak pembelajar level
advanced
10. Bagaimana menyikapi perbedaan budaya dalam kelas 1 11. Cara untuk mengintegrasikan budaya dalam konteks
pembelajaran bahasa
1 12. Apa pengajar menemukan pembelajar sulit menerima
budaya baru dan cara mengatasinya
1
Tabel 3.3 Kisi-kisi kuesioner Analisis Kebutuhan Pembelajar Asing Level Advanced di Wisma Bahasa Yogyakarta
Tabel 3.3.1 Data umum Pembelajar
No. Butir-butir data Jumlah
1. Nama 1
2. Umur 1
3. Sejarah belajar bahasa 1
4. Tujuan belajar bahasa Indonesia 1 5. Dengan siapa akan berinterakasi 1 6. Tingkat (level) penguasaan bahasa Indonesia 1
7. Latar belakang pendidikan 1
8 Bahasa lain yang dikuasai 1
9. Dimana bahasa Indonesia akan digunakan 1 Tabel 3.3.2 Survei Kontak Bahasa
No. Butir-butir pernyataan Jumlah No. Instrumen 1. Berkaitan dengan iklan 4 1, 2, 3, 4 Tabel 3.3.3 Pilihan Metodologi Pembelajaran
No. Butir-butir pernyataan Jumlah No. Instrumen
Belajar di kelas
Mengerjakan tugas rumah (PR) Aktivitas di kelas
8. 9.
Cara mengetahui peningkatan kemampuan berbahasa
3.7Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari kuesioner analisis kebutuhan dan instrumen penilaian produk pengembangan yang diajukan kepada dosen ahli dan pengajar bahasa Indonesia yang kemudian dijelaskan secara kualitatif. Data kualitatif diperoleh dari informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan pengajar bahasa Indonesia, hasil instrumen penilaian produk pengembangan yang berupa tanggapan, masukan dari subjek uji coba. Peneliti menganalisis data dari kuesioner dengan mencari persentase jawaban. Kuesioner dihitung dengan menggunakan rumus:
Untuk penilaian produk pengembangan materi membaca level advanced berbasis interkultural yang dilakukan oleh salah satu dosen pengembangan materi pembelajaran bahasa Indonesia dan pengajar di Wisma Bahasa Yogyakarta dinilai berdasarkan kriteria penilaian berikut:
Tabel 3.4 Kriteria Penilaian Produk Pengembangan
Interval Persentase Tingkat
Pencapaian Nilai Kualifikasi
90% - 100% 5 Sangat baik
80% - 89% 4 Baik
Jumlah jawaban siswa
65% - 79% 3 Cukup baik
55% - 64% 2 Kurang baik
0 % - 54% 1 Sangat kurang
(Pardiyono, Nugroho Yogo, 2010:61)
Untuk mendapatkan persentase dari nilai yang ditentukan dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
Jumlah Skor yang diperoleh
--- X 100% Jumlah Skor Maksimal
Setelah mendapatkan persentase skor penilaian, dicari interval persentase yang sesuai untuk penentuan nilai final untuk merevisi produk pengembangan. Hal itu berlaku untuk hasil penilaian produk materi membaca level advanced yang diberikan oleh dosen Universitas Sanata Dharma dan pengajar Wisma Bahasa Yogyakarta. Berikut kriteria yang digunakan untuk mengetahui komponen-komponen dalam materi membaca direvisi atau tidak.
Tabel 3.5 Kriteria Revisi Komponen Materi Pembelajaran
Interval Persentase ini harus dipertimbangkan untuk dilakukan revisi. Pertimbangan didasarkan pada beberapa hal, yaitu penilaian produk pengembangan oleh dosen dan pengajar di Wisma Bahasa Yogyakarta terhadap uji coba.
55% - 64% 2 Kurang baik. Komponen yangmendapat nilai ini perlu dilakukan revisi.
49 BAB IV
HASIL PENGEMBANGAN
Pada bab ini akan diuraikan tentang hasil pengembangan yaitu (1) paparan dan analisis data hasil analisis kebutuhan yang meliputi: (a) analisis data kebutuhan pembelajar dan (b) hasil wawancara dan (2) hasil penilaian produk pengembangan yang meliputi (a) Paparan analisis data hasil uji produk pertama, (b) Paparan analisis data hasil uji produk kedua, dan (3) revisi produk pengembangan.
4.1Paparan dan Analisis Data Hasil Analisis Kebutuhan
Peneliti melakukan pengumpulan data menggunakan dua instrumen yaitu kuesioner analisis kebutuhan dan wawancara yang berupa daftar pertanyaan dengan pengajar BIPA. Kuesioner diberikan kepada lima pembelajar level advanced di Wisma Bahasa dan Wawancara dilakukan dengan pengajar BIPA level advanced di Wisma Bahasa.
4.1.1 Analisis Data Kebutuhan Pembelajar
Peneliti menganalisis kebutuhan pembelajar dari hasil kuesioner dan hasil wawancara dengan pengajar BIPA. Hasil analisis tersebut digunakan untuk mengembangkan materi membaca yang sesuai dengan kebutuhan pembelajar.
dengan siapa pembelajar akan berinteraksi, level pembelajar, latar belakang pendidikan pembelajar, bahasa lain yang dikuasai, dimana bahasa Indonesia akan digunakan.
Kuesioner survei kontak bahasa terdiri dari 12 kompetensi yang ingin dicapai oleh pembelajar level advanced. Pada kuesioner survei kontak bahasa pembelajar memilih kompetensi yang ingin dicapai sangat dibutuhkan, dibutuhkan dan tidak dibutuhkan oleh pembelajar BIPA level advanced. Peneliti akan mengembangkan enam topik sehingga pembelajar diminta menuliskan enam kompetensi yang ingin dipelajari atau diminati pembelajar.
Pilihan metodologi pembelajaran terdiri 12 pertanyaan. Dalam kuesioner juga terdapat pertanyaan tentang pendapat pembelajar mengenai perbedaan budaya. Kuesioner diisi oleh lima pembelajar level advanced. Pembelajar berasal dari negara yang berbeda-beda. Dari tabel data umum pembelajar diperoleh identitas pembelajar sebagai berikut:
1.
Latar belakang pendidikan : S1, S2, S3 (in process) Tujuan belajar bahasa Indonesia : Penelitian, disertasi
3.
4.
5.
Dari tabel survei kontak bahasa diperoleh hasil sebagai berikut Tabel 4.1 Tabel Survei Kontak Bahasa
No.
Kompetensi yang Ingin
Dicapai
Latar belakang pendidikan : S2 (International Studies) Tujuan belajar bahasa Indonesia : untuk bekerja
Institusi : Wisma Bahasa
Nama : Yuka Fukushima
Negara asal : Jepang
Usia : 22 tahun
Latar belakang pendidikan : S1 di Jepang Tujuan belajar bahasa Indonesia : untuk belajar
Institusi : Wisma Bahasa
Nama : Lian Gouw
Negara asal : Amerika
Usia : 76
Latar belakang pendidikan : -
Tujuan belajar bahasa Indonesia : membaca komprehensif, menulis, berbicara lancar
majalah
3. Membaca poster 40% 40% 20%
4. Menonton iklan di televisi
- 40% 40%
5. Menceritakan tentang
tempat wisata (pegunungan dan pantai)
di pulau Jawa
40% 60% -
6. Menceritakan tentang gotong royong
20% 60% 20%
7. Menceritakan tentang upacara perkawinan di Indonesia
40% 60% -
8. Menceritakan tentang cerita rakyat di Indonesia
20% 60% 20%
9. Menceritakan tentang legenda di Indonesia
60% 40% -
10. Membaca atau menyimak puisi
40% 20% 40%
11. Membaca atau menyimak cerpen
60% 40% -
12. Membaca atau menyimak novel
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa jumlah tertinggi kontak bahasa yang menurut pembelajar sangat dibutuhkan dan dibutuhkan adalah 60%. Hasil analisis dari kontak bahasa, kompetensi yang ingin dicapai pembelajar meliputi membaca atau menyimak novel, membaca atau menyimak cerpen, dan
menceritakan tentang legenda di Indonesia. Dari kolom kontak bahasa ada beberapa kompetensi yang dipilih atau diminati pembelajar.
Tabel 4.2 Kompetensi Yang Dipilih Pembelajar
No. Kompetensi yang Ingin Dicapai Persentase
1. Membaca iklan di Koran 40%
2. Membaca iklan di majalah 20%
3. Membaca poster 40%
4. Menonton iklan di televisi -
5.
Menceritakan tentang tempat wisata (pegunungan dan pantai) di pulau Jawa
40%
6. Menceritakan tentang gotong royong 40%
7. Menceritakan tentang upacara perkawinan di Indonesia 20% 8. Menceritakan tentang cerita rakyat di Indonesia 60% 9. Menceritakan tentang legenda di Indonesia 80%
10. Membaca atau menyimak puisi 60%
11. Membaca atau menyimak cerpen 80%
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa kompetensi yang dipilih pembelajar adalah membaca atau menyimak novel, membaca atau menyimak cerpen, membaca atau menyimak puisi, menceritakan tentang legenda di Indonesia, dan menceritakan tentang cerita rakyat di Indonesia.
Dari tabel 4.1, kompetensi yang ingin dicapai oleh pembelajar adalah membaca atau menyimak novel, membaca atau menyimak cerpen, dan menceritakan tentang legenda di Indonesia. Dan dari tabel 4.2, kompetensi yang ingin dicapai dan dipilih pembelajar adalah membaca atau menyimak novel, membaca atau menyimak cerpen, membaca atau menyimak puisi, menceritakan tentang legenda di Indonesia, dan menceritakan tentang cerita rakyat di Indonesia. Sehingga berdasarkan kompetensi yang dicapai pembelajar dari kedua tabel di atas, peneliti akan mengembangkan lima kompetensi tersebut menjadi enam topik yaitu legenda, puisi, batik,cerita rakyat, cerpen, dan novel.
Tabel 4.3 Pilihan Metodologi Pembelajaran
No. Butir Pernyataan Ya Tidak
1. Aktivitas belajar di dalam kelas: a. Individu
b. Berpasangan
c. Dalam kelompok kecil d. Dalam kelompok besar
100% 2. Durasi mengerjakan pekerjaan rumah