• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORETIS

B. Kemampuan Pemacahan Masalah

1. Pengertian Kemampuan Pemacahan Masalah

Menurut (Arigiyati dan Istiqomah, 2016: 134) masalah merupakan perbedaan yang terjadi antara situasi sekarang dengan tujuan yang diinginkan, akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh (Sugiyono, 2013: 52) bahwa masalah merupakan kesenjangan antara kejadian nyata dengan apa yang diharapkan.

Masalah juga dapat diartikan sebagai harapan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Pemecahan masalah merupakan bagian dari kemampuan kognitif yang membutuhkan keterampilan dan kreativitas untuk menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Karakteristik kognitif pada anak usia 4-5 tahun mencakup: 1) mampu berhitung 1-10, 2) mengetahui lima benda, 3) mampu meminta

saran dan menggunakan solusi, 4) mampu mengelompokkan benda berdasarkan kareakteristiknya, 5) mampu merencanakan dan menggunakan gambar, bangunan, maupun gerakan untuk mengungkapkan pemikirannya(Veronica, 2019: 48). Untuk menyelesaikan masalah dibutuhkan pengalaman, informasi, dan konsep yang diperoleh sebelumnya. Komponen tersebut kemudian dipadukan untuk menemukan ide dan cara menyelesaikan masalah.

Kemampuan pemecahan masalah berkaitan dengan perkembangan kognitif pada anak. Perkembangan kognitif lebih mengarah pada kemampuan dalam memahami sesuatu yang sedang terjadi. Kemampuan kognitif pada anak merupakan kemampuan anak dalam berpikir serta pemecahan masalah yang memudahkan peserta didik memperoleh pengetahuan yang luas. Anak dapat menerapkan kemampuan tersebut dalam kehidupannya apabila diberikan stimulasi yang tepat.

Pemecahan masalah diartikan sebagai kegiatan yang berkaitan dengan pemilihan solusi yang tepat untuk melakukan tindakan dan merubah situasi saat ini menuju situasi yang diharapkan (Utami dan Pusari, 2018: 73). Pemecahan masalah pada anak usia dini harus dilakukan secara berkesinambungan dan dipadukan dengan kegiatan pembelajaran sehingga kemampuan berpikir anak dapat berkembang. Anak usia dini berpikir dengan melihat lingkungan serta kejadian disekitarnya berdasarkan sudut pandang mereka.

Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu aspek perkembang anak usia dini yang harus dilatih dan dikembangkan, karena anak akan dihadapkan dengan berbagai situasi yang membutuhkan kemampuan pemecahan masalah.

Pemecahan masalah mendorong anak untuk mencari dan menyelesaikan masalah tanpa bantuan dari orang tua maupun pendidik.

Kemampuan pemecahan masalah pada anak usia dini mampu untuk mengembangkan kemampuannya dalam berpikir. Kemampuan pemecahan masalah erat kaitannya dengan kemampuan intelektual yang akan berkembang secara optimal apabila diberikan stimulasi yang tepat. Anak usia 4-5 tahun berada pada masa praoperasional dimana pengetahuan yang dimiliki anak berasal dari ide atau pemikiran yang muncul secara tiba-tiba sehingga, anak lebih sering mengajukan berbagai pertanyaan. Aktivitas tersebut menjadi wadah bagi anak untuk membangun pengetahuan serta memuaskan rasa ingin tahu.

Kemampuan anak dalam memecahkan masalah diperoleh dari kegiatan yang berhubungan dengan fisik dan psikis yang harus dikembangkan melalui kegiatan yang bersifat menyelidik (Lestariningrum dan Wijaya, 2020: 107). Sejalan dengan hal tersebut Piaget menyebutkan bahwa kemampuan kognitif anak akan berkembang ketika membangun pengetahuan dengan mengeksplor dan menyelidiki lingkungan sekitarrnya (Widiastuti dkk, 2018: 242). Kegiatan penyelidikan yang dilakukan oleh anak akan memperluas wawasan serta penemuan berbagai konsep pengetahuan baru.

Mengembangakan kemampuan pemecahan masalah pada anak usia dini dapat dilakukan dengan memberikan waktu serta kesempatan untuk mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi (Amiliya, 2020: 81). Anak akan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dengan mudah ketika memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik.

Berdasarkan beberpa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah merupakan tingakat pencapaian anak yang melibatkan kemampuan berpikir untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Kemampuan

berpikir diperlukan untuk memperoleh, menerima, dan mengolah informasi agar dapat diterapkan dalam memecahkan masalah.

2. Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah

Kemampuan pemecahan masalah pada anak usia dini menurut Brewer dan Scully mencakup beberapa indikator yaitu: kemampuan dalam mengobservasi, mengelompokkan, menghubungkan, membandingkan, melakukan percobaan, menyimpulkan, dan menggunakan informasi (Syaodih dkk, 2018: 31). Kemampuan pemecahan masalah pada anak usia 4-5 tahun dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini meliputi: 1) mengenal benda berdasarkan fungsi, 2) menggunakan benda-benda sebagai permainan simbolik, 3) mengenal konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari, 4) mengetahui konsep banyak dan sedikit, 5) mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri yang terkait dengan berbagai pemecahan masalah, 6) mengamati benda dan gejala dengan rasa ingin tahu, 7) mengenal pola kegiatan dan menyadari pentingnya waktu, 8) memahami posis/kedudukan dalam keluarga, ruang, dan lingkungan sosial. Indikator tersebut dapat tercapai apabila diberikan stimulasi yang tepat bagi peserta didik (Permendikbut, 2014). Setiap peserta didik memiliki tingkat kemampuan yang berbeda-beda, karenanya pendidik harus memberikan stimulasi yang sesuai dengan karkteristik serta tahapan usia peserta didik.

Kemampuan pemecahan masalah harus diasah dengan menciptakan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.

Anak yang berada pada masa prasekolah memiliki karakteristik yang unik.

Menurut (Papalia dan am Feld, 2008: 324) pada usia 4-5 tahun anak memiliki kemampuan perkembangan kognitif diantaranya: berpikir menggunkan

simbol-simbol, memahami identitas, memahami sebab akibat, dapat mengelompokkan benda, memahami angka, memahami teori pikiran. Usia 4-5 tahun merupakan masa peka bagi anak, pada usia tersebut kemampuan anak untuk mengingat kejadian yang dialami sangat kuat. Karenanya pendidik perlu menerapkan pembelajaran yang mendukung kemampuan tersebut untuk dapat dikembangkan. Pendidik sebagai fasilitator memiliki peran untuk menghidupkan suasana pembelajaran agar peserta didik aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Peran lain yang harus dilaksanakan oleh pendidik adalah memberikan segala kebutuhan peserta didik yang berkaitan dengan pembelajaran. Peserta didik akan termotivasi untuk membangun pengetahuannya melalui pengamatan serta melakukan percobaan sehingga, indikator dari kemampuan pemecahan masalah dapat tercapai secara optimal.

3. Tahap Kemampuan Pemecahan Masalah

Selain pemahaman yang baik, dalam proses pembelajaran penguasaan terhadap pemecahan masalah secara tepat. Menurut (Hamalik, 2020: 152) umumnya tahapan dalam pemecahan masalah, terdiri atas:

a. Mengidentifikasi masalah, peserta didik mengamati dan menyadari akan adanya masalah. Pendidik memberikan stimulasi agar peserta didik mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui dan merumuskan masalah yang ada.

b. Merumuskan hipotesis, pada tahap ini peserta didik megungkapkan berbagai kemungkinan jawaban terhadap permasalahan yang ada untuk diuji kebenarannya.

c. Mengumpulkan data, tahap pengumpulan data memggunakan berbagai cara baik dengan melakukan pengamatan maupun wawancara. Peserta didik melakukan pengamatan terhadap peristiwa disekitarnya untuk memperoleh informasi yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi.

d. Menguji hipotesis, pengujian hipotesis dilakukan berdasarkan data yang sebelumnya telah dikumpulkan.

e. Mengambil kesimpulan, pengambilan kesimpulan ditentukan setelah melakukan pengujian terhadap hipotesis.

f. Penerapan hasil, setelah menguji hipotesis peserta didik selanjutnya menerapkan hasil pemecahan maalah pada situasi baru.

Berdasarkan beberapa tahapan pemecahan masalah di atas, anak usia 4-5 tahun mampu memecahkan masalah dengan menemukan dan merumuskan masalah, mengungkapkan jawaban terhadap masalah, mengumpulkan informasi, melakukan percobaan, dan mengambil kesimpulan.

4. Manfaat Kemampuan Pemecahan Masalah

Kemampuan pemecahan masalah menjadi langkah awal dalam membamgaun pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan peserta didik. Kesuksesan seseorang dalam menjalani kehidupan ditentukan oleh kemampuannya dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah (Arigiyati dan Istiqomah, 2016: 135). Pemecahan masalah memiliki memiliki beberapa manfaat diantranya:

a. Memunculkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan motivasi pada diri anak.

b. Membangun pengetahuan dan keterampilan seperti berhitung.

c. Memuncukan jawaban yang asli dan beragam yang dapat menambah pengetahuan yang dimiliki oleh anak.

d. Meningkatkan penerapan pengetahuan dan ilmu yang diperoleh.

e. Membangun kemampuan anak dalam menganalisis masalah serta menyusun langkah-langkah pemecahan masalah.

Pengalaman yang diperoleh anak dalam memecahkan masalah dapat mengembangkan rasa ingin tahu dan kesabaran yang berkaitan dengan keterampilan berpikir yaitu pemahaman mengenai hubungan sebab akibat. Anak akan belajar cara untuk mencapai keinginan. Kemampuan pemecahan masalah memberikan anak rasa percaya diri dan kepuasan terhadap hasil yang diperoleh.

Kegiatan pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik haruslah mampu untuk melatih kemampuannya dalam menghadapi masalah baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Penyampaian materi pembelajaran yang bersumber dari masalah membuat anak untuk mencari jawaban atau penyelesaian.

Kegiatan tersebut mendorong anak untuk berpikir secara kritis dan sistematis serta anak mampu mengaplikasikan pengetahuan dan konsep yang dimiliki dalam kehidupannya.

Kemampuan pemecahan masalah menurut (Asfar dan Nur, 2018: 30) memiliki beberapa manfaat bagi peserta didik diantaranya:

a. Mampu mengembangkan kemampuan kognitif peserta didik secara umum.

b. Memunculkan kreativitas peserta didik.

c. Kemampuan pemecahan masalah mampu memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari matematika.

Proses yang dilalui anak pada saat memecahkan masalah memberikan dorongan untuk memikirkan alternatif dan memahami masalah yang sedang dihadapi.

Proses pembelajaran pada anak diawali dengan perolehan pengetahuan yang menimbulkan konfik pada diri anak. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar anak seringkali menimbulkan pertanyaan pada diri anak mengapa dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Pertentangan tersebut terjadi karena adanya

perbedaan antara kenyataan dengan apa yang diketahui anak. Secara tidak langsung pengetahuan yang diperoleh anak terbentuk melalui pengalaman yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Penguatan juga diperlukan anak untuk meningkatkan konsentrasi, motivasi, serta keinginan anak dalam belajar.

31

Dokumen terkait