• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemampuan Teknologi

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Pengembangan Kapasitas TKPKD Dalam Implementasi Program BPNT Di

2. Kemampuan Teknologi

Kemampuan tim koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah Dinas Sosial Kabupaten Bone dalam menjalankan tugas dengan menggunakan teknologi seperti komputer, wifi, dan website yang tersedia. Sebagaimana yang diketahui, pada website resmi Dinas Sosial Kabupaten Bone masih sedikit informasi yang dapat diperoleh terkait program-program kebijakan yang ada di Kabupaten Bone. Beberapa indikator yang digunakan dalam mengukur kemampuan teknologi, yaitu pengembangan jaringan kerja.

3. Kemampuan sumber daya, sarana, dan prasarana

Kemampuan “capital” yang diwujudkan dalam bentuk dukungan sumber daya, sarana, dan prasarana yaitu kemampuan yang berupa ketersediaan sumber daya berupa ketersediaan peralatan, bahan-bahan yang diperlukan, dan anggaran yang tersedia. Indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan dukungan sumber daya, sarana, dan prasarana diantaranya yaitu pengadaan kelengkapan peralatan kerja dan perencanaan kebutuhan.

B. Konsep Implementasi Kebijakan 1. Studi kebijakan publik

Kebijakan publik diketahui sebagai disiplin ilmu yang dapat dikatakan masih baru yang muncul di Amerika Utara dan Eropa pasca Perang Dunia II dikarenakan banyak para mahasiswa ilmu politik mencoba untuk mencari pemahaman baru dan berusaha untuk mengkaji mengenai hubungan sebenarnya antara pemerintah dengan warga negaranya. Dari sini mahasiswa ilmu politik mencari pendekatan yang kemudian akan dipadukan antara penelitian dan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan keadilan, pembangunan sosial, ekonomi, serta pembangunan politik. Dari kajian ini, terdapat beberapa perubahan dan penilaian kembali (reassessment) yang memunculkan pendekatan baru terkait fenomena politik yang berfokus pada tingkah laku mikro manusia dan psikologi warga negara pemilih, karakteristik masyarakat dan budaya, serta sifat sistem politik nasional dan global (Suratman, 2017:2).

Studi kebijakan publik pada awalnya hanya terbatas pada masalah-masalah pertahanan, hubungan luar negeri, hukum dan ketertiban saja. Akan tetapi seiring perkembangan teori dan dilakukan pengkajian ulang, kebijakan publik saat ini telah melampaui masalah-masalah tersebut. Misalnya pendidikan, transportasi, industri, dan masih banyak lagi. Kebijakan publik terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu formulasi kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan. Namun, dari ketiga tahapan tersebut, tahapan implementasi kebijakan dianggap tahapan yang paling krusial dikarenakan implementasi menentukan apakah kebijakan tersebut merupakan problem solving yang tepat atau sebaliknya.

Dalam banyaknya bentuk implementasi kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah, berbagai macam kendala tidak dapat dihindari pada saat pelaksanaan yang dapat diketahui dengan melakukan pengawasan dan evaluasi selama proses dari awal hingga akhir. Misalnya saja pada implementasi desentralisasi yang mempunyai tujuan untuk membangun partisipasi masyarakat serta mengundang keikutsertaan publik seluas-luasnya dalam proses formulasi, implementasi, hingga evaluasi selama kegiatan dilangsungkan (Usman, 2011:45). Dalam hal ini, partisipasi masyarakat tentu menjadi bahan baku utama terbentuknya suatu kebijakan. Akan tetapi, bentuk pelaksanaan desentralisasi di Indonesia saat ini dapat dikatakan masih jauh dari pengharapan publik yang sebenarnya yang dimana pelaksanaan desentralisasi tersebut hanya menguntungkan kaum elit massa dan penguasa lokal saja (Simanjuntak, 2015:111).

2. Definisi kebijakan publik

Kebijakan publik adalah paradigma administrasi publik yang berfokus pada keseluruhan proses kebijakan, mulai dari perumusan, pelaksanaan, pengawasan, hingga penilaian kinerja. David Easton (dalam Suratman, 2017:10) mengemukakan bahwa kebijakan publik merupakan bentuk pengalokasian nilai-nilai secara sah atau paksa kepada seluruh masyarakat. Akan tetapi, pendapat Easton dianggap tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya fungsi pemerintah.

William N. Dunn dalam bukunya (2003:132) berpendapat bahwa public policy merupakan pola ketergantungan yang kompleks dari beberapa pilihan yang saling tergantung, termasuk keputusan untuk tidak bertindak, yaitu dibuat oleh pemerintah.

Jika dipahami, defenisi Thomas R. Dye dan William N. Dunn hampir sama yang dimana keduanya mengatakan pemerintah dapat mengambil keputusan untuk tidak mengambil tindakan.

Keban sendiri menjabarkan arti dari segi kebijakan publik bahwa public policy dapat difokuskan berbagai konsep, konsep filosofis menganggap kebijakan publik sebagai serangkaian prinsip atau kondisi yang diinginkan, konsep sebagai suatu produk yaitu kebijakan publik merupakan serangkaian kesimpulan maupun rekomendasi, konsep sebagai suatu proses yaitu kebijakan publik dipandang sebagai suatu cara yang dimana melalui cara tersebut tiap-tiap organisasi mampu mengidentifikasikan apa yang diharapkan kedepannya, dan konsep sebagai suatu kerangka kerja yaitu memandang kebijakan publik sebagai sebuah proses tawar menawar dan juga negosiasi untuk merumus isu-isu beserta metode atau cara pengimplementasiannya (2008:55). Jenkins juga memberikan pendapat bahwa kebijakan publik merupakan suatu rangkaian keputusan yang berkaitan yang ditetapkan oleh satu orang atau sekumpulan aktor politik yang erat kaitannya dengan tujuan tertentu yang disertai dengan cara untuk mencapainya dalam situasi yang dimana keputusan-keputusan itu pada dasarnya masih dalam batas-batas kewenangan dan juga kekuasaan dari aktor politik (dalam Suratman, 2017:11).

Seiring perkembangan zaman dan semakin banyaknya muncul permasalahan di masyarakat memunculkan berbagai defenisi-defenisi baru terkait kebijakan publik. Hal ini dikarenakan defenisi kebijakan publik yang terdahulu dianggap tidak efektif dan efisien dalam memecahkan masalah yang terjadi dalam masyarakat. Agustino

(2008:7) menjelaskan bahwa kebijakan publik yaitu suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang telah diusulkan sebelumnya oleh seseorang, kelompok, maupun pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu yang dimana terdapat hambatan atau kesulitan dan kemungkinan atau kesempatan yang sebagaimana kebijakan tersebut mampu mengatasi masalah untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Penjelasan tersebut saat ini dianggap mampu menjawab pertanyaan apa arti sebenarnya dari kebijakan publik.

Berdasarkan dari berbagai defenisi kebijakan publik yang telah dikemukakan oleh pakar diatas, maka kebijakan publik dapat diartikan sebagai regulasi atau peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah selaku pembuat kebijakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi pada masyarakat. Kebijakan publik juga merupakan suatu keputusan yang diambil oleh seseorang, kelompok, maupun pemerintah dalam upaya mengatasi masalah-masalah yang terjadi di lingkungan masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu. Kebijakan juga tidak selalu diwujudkan dalam bentuk pernyataan tertulis (undang-undang/peraturan), tetapi juga dapat berupa tindakan atau aksi dari pemerintah (Suratman, 2017:12).

3. Definisi implementasi kebijakan

Implementasi merupakan salah satu kajian studi kebijakan yang membahas tentang sebuah proses dari pelaksanaan suatu kebijakan. Implementasi pada dasarnya merupakan tahap lanjutan dari formulasi kebijakan yang dimana terjadi suatu proses pelaksanaan dari kebijakan untuk mencapai tujuan. Tahap implementasi kebijakan tidak akan dilaksanakan apabila sasaran dan tujuan belum ditetapkan dalam proses

formulasi kebijakan. Secara etimologis, kata implementasi diambil dari bahasa Inggris, implement. Van Matter dan Van Horn (dalam Suratman, 2017:25) mengemukakan bahwa implementasi kebijakan merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, pemerintah, maupun pihak swasta yang diberikan arahan untuk mencapai tujuan dari keputusan. Suratman juga berpendapat bahwa implementasi kebijakan adalah meletakkan tujuan-tujuan dari para policy adopters ke dalam berbagai tindakan usaha untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan (2017:28).

Suratman dalam bukunya (2017:28) juga mengungkapkan bahwa implementasi juga sering diartikan sebagai aktivitas yang terbagi menjadi empat komponen utama, yaitu:

1. Spesifikasi yang jelas terkait tugas dan tujuan yang akurat dalam merefleksikan maksud kebijakan;

2. Suatu rencana manajemen yang mengalokasikan tugas-tugas dan standar-standar kinerja kepada sub-sub unit;

3. Suatu sarana obyektif untuk mengukur kinerja sub-sub unit; dan

4. Sistem manajemen pengendalian dan saksi sosial yang mencukupi bagi bawahan yang diserahi tanggung jawab untuk mencapai kinerja tersebut.

Dari penjelasan singkat diatas, dapat ditarik maksud intinya bahwa implementasi kebijakan adalah suatu bentuk usaha atau kegiatan yang dilakukan baik secara individu maupun berkelompok sebagai bentuk pelaksanaan atas keputusan-keputusan yang telah ditetapkan sebelumnya untuk mencapai tujuan tertentu.

4. Model-model implementasi kebijakan dari generasi ke generasi

Pada hakikatnya implementasi kebijakan terus berkembang dari generasi ke generasi. Dari penelitian yang dilakukan pada generasi tersebut, para ahli selalu menemukan kelemahan implementasi kebijakan yang berdampak pada gagalnya implementasi suatu kebijakan. Dalam perkembangan studi implementasi kebijakan, terdapat tiga pendekatan dari implementasi kebijakan, yaitu top-down, bottom-up, dan

hybrid atau sintesis.

1) Model top-down

Pendekatan top-down menguasai awal perkembangan studi implementasi kebijakan. pendekatan top-down mengacu pada model rasional yang dimana model ini berisi pemikiran bahwasanya implementasi menjadikan seseorang melakukan apa yang diperintahkan dan untuk mengontrol urutan tahapan dalam suatu sistem (Parson, 2005:25). Model rasional mengesampingkan pertimbangan mengenai seberapa nyatanya orang berperilaku secara aktual dan lebih berusaha untuk memahami hubungan logis yang berkaitan antara input (masukan), proses, dan output (Suratman, 2017:81).

2) Model buttom-up

Model buttom-up muncul di generasi kedua dari model implementasi kebijakan publik yang lahir sebagai kritik terhadap model sebelumnya yang tidak menjelaskan peran aktor dan unsur lain dalam proses implementasi. Beberapa kritik mengenai model top-down yaitu implementasi dianggap hanya sebagai proses administratif dan mengabaikan aspek-aspek politik, penekanan secara

langsung (eksklusif) terhadap aktor kunci yaitu pembuat kebijakan, dan model

top-down mengabaikan realitas modifikasi kebijakan/distorsi di tangan

implementor (Suratman, 2017:114).

3) Model hybrid atau sintesis

Model ini muncul di generasi ketiga yang telah mengembangkan sebuah model proses implementasi yang lebih jelas dan spesifik yang terintegritas yang menjadi pertimbangan dan menjadi variabel-variabel utama dalam penelitian dengan pendekatan top-down dan buttom-up menjadi single framework (Suratman, 2017:129). Model ini menggunakan teori komunikasi yang menyediakan alat untuk memahami hubungan dalam implementasi kebijakan antar pemerintahan (p.130).

C. Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kabupaten Bone Penanggulangan kemiskinan menjadi tugas utama pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik dari segi kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi. Sebagaimana keputusan presiden yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 166 pasal 1 ayat (1) Tahun 2014 tentang program percepatan penanggulangan kemiskinan menyebutkan bahwa penanggulangan kemiskinan merupakan suatu kebijakan dan program pemerintah serta pemerintah daerah yang dilakukan dengan cara sistmatis, terencana, dan bersinergi dengan dunia usaha dan masyarakat untuk mengurangi jumlah penduduk atau masyarakat miskin dalam rangka untuk meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat.

Tim koordinasi penanggulangan kemiskinan merupakan suatu upaya pemerintah membentuk suatu tim pengawas dan pengendalian terhadap pelaksanaan program bantuan sosial. Pembentukan TKPK didasari hukum Peraturan Presiden Nomor 15 Pasal 15 tahun 2010 tentang percepatan penanggulangan kemiskinan yaitu dalam upaya meningkatkan koordinasi penanggulangan kemiskinan di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota, maka dibentuk Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang selanjutnya disebut TKPK. Selain itu, Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah juga tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 tahun 2010 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi dan Kabupaten/Kota yaitu:

 Pasal 7 ayat (1) mengemukakan bahwa Gubernur dalam melaksanakan percepatan penanggulangan kemiskinan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) membentuk TKPK Provinsi;

 Pasal 7 ayat (2) mengemukakan bahwa Bupati/Walikota dalam melaksanakan percepatan penanggulangan kemiskinan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) membentuk TKPK Kabupaten/Kota. Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan terbagi dalam dua peranan yaitu (1) koordinasi yaitu penyusunan SPKD, penyusunan renstra SKPD, perancangan RKPD, dan penyusunan renja SKPD; dan (2) pengendalian yaitu pengendalian pemantauan dan evaluasi kelompok program oleh SKPD, penyusunan laporan hasil pemantauan dan evaluasi secara periodik, dan pengendalian penanganan pengaduan

masyarakat.

Adanya TKPKD disini diharapkan mampu mendorong proses perencanaan dan penganggaran sehingga menghasilkan anggaran yang efektif untuk penanggulangan, mampu melakukan koordinasi dan pemantauan program penanggulangan kemiskinan di Daerah, dan juga mampu menyusun Laporan Pelaksanaan Penanggulangan Kemiskinan Daerah (http://www.tnp2k.go.id). TKPKD ditunjuk untuk memantau seluruh kegiatan penyaluran bantuan sosial. TKPKD memiliki tugas diantaranya yaitu:

1. Memantau situasi dan kondisi kemiskinan di Daerah

2. Menganalisis besaran pengeluaran pemerintah daerah sehingga efektif untuk penanggulangan kemiskinan (APBN dan APBD)

3. Mengkoordinasi pelaksanaan dan pengendalian program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan di Daerah.

TKPKD Kabupaten Bone telah disusun dan disahkan oleh Bupati Bone dalam Keputusan Bupati Bone Nomor 361 tahun 2018 tentang perubahan lampiran keputusan Bupati Bone Nomor 74 Tahun 2018 tentang pembentukan tim koordinasi program bantuan sosial pangan berupa beras sejahtera dan bantuan pangan non tunai Kabupaten Bone Tahun 2018. TKPKD di ketuai oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bone dan sekretaris oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bone.

D. Program Bantuan Pangan Non Tunai

Program bantuan pangan non tunai (BPNT) merupakan salah satu program pemerintah dalam menekan laju angka kemiskinan di Indonesia. BPNT adalah

bantuan pangan dari pemerintah yang diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tiap bulannya melalui mekanisme akun elektronik yang digunakan hanya untuk membeli kebutuhan pangan di e-Warong KUBE PKH/pedagang bahan pangan yang bekerja sama dengan Bank Himbara (Himpunan Bank Negara). BPNT itu sendiri bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran serta memberikan nutrisi yang lebih seimbang kepada KPM secara tepat sasaran dan tepat waktu (http://keluargaharapan.com/).

BPNT telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 63 Pasal 2 ayat (2) tahun 2017 tentang penyaluran bantuan sosial secara non tunai menyebutkan bahwa penyaluran bantuan sosial secara non tunai dilaksanakan terhadap bantuan sosial yang diberikan dalam bentuk uang berdasarkan penetapan pemberi bantuan sosial. Penerima BPNT pada dasarnya merupakan kebijakan lanjutan dari program keluarga harapan (PKH) yang dimana sebelumnya penerima PKH mendapatkan beras miskin (raskin) dan juga uang. BPNT termasuk salah satu jenis bantuan sosial non tunai.

Sebagaimana yang dilansir Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (http://rakyatsulsel.com/) tahun 2017 lalu, Kabupaten Bone menduduki peringkat teratas di Sulawesi Selatan dengan jumlah angka kemiskinan mencapai 314.569 jiwa dari 80.157 kepala keluarga (KK). Seperti yang diungkapkan Bapak Faisal selaku Kabid. Penanganan Fakir Miskin bahwa secara keseluruhan terdapat 58.543 KK yang menerima PKH yang mendapatkan bantuan pangan non tunai.

Berdasarkan kutipan (http://snki.ekon.go.id/), terdapat beberapa program utama dari bantuan sosial non tunai dan subsidi yang tergabung ke dalam Kartu Keluarga

Sejahtera, yaitu:

1. Program Keuarga Harapan (PKH), yaitu program bantuan yang ditujukan bagi anak usia sekolah, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan warga lansia (diatas 70 tahun) dengan target PKH sebanyak 10 juta keluarga pada tahun 2018.

2. Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), yaitu program bantuan yang berupa bahan pangan seperti telur, beras, minyak, dan lain-lain.

3. Program Indonesia Pintar (PIP), yaitu pemberian bantuan berupa biaya pendidikan kepada seluruh anak atau siswa usia sekolah (6-21 tahun) yang dikhususkan bagi penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau keluarga pemegang KKS. Pemerintah menargetkan sebanyak 19,7 juta siswa penerima bantuan di seluruh Indonesia.

Selaain itu, Pemerintah juga telah menetapkan mengenai jumlah bantuan yang akan diterima oleh masyarakat miskin (http:www.kemdikbud.go.id/), diantaranya yaitu:

1. Siswa penerima KIP setiap periodenya menerima bantuan sebesar:  Sekolah Dasar sebesar Rp. 450.000,-

 Sekolah Menengah Pertama sebesar Rp. 750.000,-  Sekolah Menengah Atas sebesar Rp. 1.000.000,-

2. Penerima PKH memperoleh uang tunai sebesar Rp. 1.890.000,-/tahun

3. Penerima manfaat BPNT menerima bantuan sebesar Rp. 110.000,-/bulan dalam bentuk non tunai yang ditukarkan dengan beras, telur, minyak, dan lain-lain melalui e-warong (elektronik warung gotong royong).

Berdasarkan beberapa hal yang dipaparkan oleh Pak Anto selaku ketua penyuluhan PKH di Desa Tirong Kecamatan Palakka bahwa pelajar yang menerima KIP mendapatkan bantuan sosial non tunai berupa uang yang disalurkan melalui bank Himbara. Penerima bantuan KIP mendapat bantuan sebanyak 2 kali periode dalam setahun. Selain itu, pemegang kartu KKP (Kartu Keluarga Sejahtera) mendapat tunjangan tiap tahunnya yang dibagi menjadi 2 periode dan disalurkan di bank yang berkaitan. Jika dalam 1 keluarga tersebut terdapat penyandang disabilitas, lansia, balita, atau ibu hamil, maka masing-masingnya menerima bantuan sebesar Rp. 2.400.000,-/tahun. Pendataan KPM juga mengacu pada data yang bersumber dari Basis Data Terpadu (BDT), Badan Sensus Penduduk (BPS), dan data dari BKKBN.

Tingginya angka kemiskinan di Kabupaten Bone menghambat pemerintah dalam menyalurkan bantuan sosial non tunai. Tentu dapat dilihat dari minimnya sarana dan prasarana pendukung seperti ketersediaan sinyal di desa menjadi faktor penghambat yang menyebabkan kurang maksimalnya kinerja pemerintah (Bustang dkk, 2008:40). Berdasarkan hal tersebut, pemerintah daerah mendapat tugas tambahan untuk meningkatkan sarana dan prasarana. Sebagaimana yang disebutkan dalam Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2012 pasal 6 ayat (1) huruf (e) tentang kerangka nasional pengembangan kapasitas pemerintah daerah menyebutkan bahwa peningkatan kapasitas dari sarana dan prasarana kerja harus sesuai kebutuhan dan tuntutan tugas. Dari sini dapat diketahui bahwa pemerintah sudah selayaknya meningkatkan kapasitas dari berbagai aspek untuk menunjang kinerja TKPKD yang lebih maksimal.

Selain permasalahan diatas, permasalahan yang pada umumnya dapat ditemui di Dinas Sosial Kabupaten Bone terkait penyaluran bantuan sosial nontunai adalah pemerintah daerah masih kurang memberikan sosialisasi kepada masyarakat secara menyeluruh yang mengakibatkan pejabat kementerian harus turun tangan langsung untuk melakukan sosialisasi (http://biz.kompas.com/). Melihat dari situasi ini, hal ini dapat menimbulkan berbagai macam spekulasi dari masyarakat. Pemerintah seharusnya harus lebih memperhatikan kinerja pegawai Dinas Sosial Kabupaten Bone dalam memberikan penyuluhan dan sosialisasi mengenai kebijakan-kebijakan dari pemerintah terutama dalam hal penanggulangan kemiskinan.

Dari masalah yang ditemukan diatas, adanya pengembangan kapasitas sangat dibutuhkan di Dinas Sosial Kabupaten Bone terkait implementasi kebijakan bantuan sosial non tunai untuk masyarakat yang miskin. Pengembangan kapasitas yang dimaksud ialah pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang terdiri dari manusia itu sendiri dan unsur-unsur sumber daya lainnya.

E. Kerangka Pikir

Pengembangan kapasitas dikembangkan sebagai suatu upaya untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam mengimplementasikan kebijakan. sebagaimana yang tercantum dalam (Keban, 2014:203), capacity building merupakan suatu bentuk strategi yang dipilih oleh suatu lembaga atau institusi pemerintah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi sesuai dengan fungsi-fungsinya. Kerangka pikir pada penelitian kali ini mengenai pengembangan kapasitas tim koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah dalam implementasi program bantuan pangan

non tunai di Dinas Sosial Kabupaten Bone yang akan dijabarkan dalam bentuk bagan dibawah ini:

Gambar 2 : Kerangka Pikir F. Fokus Penelitian

Fokus penelitian diambil berdasarkan dari latar belakang yang kemudian dirangkum kedalam rumusan masalah dan dikaji secara mendalam dengan menggunakan teori yang terdapat ditinjauan pustaka. Untuk memahami lebih lanjut, berikut fokus penelitian terkait pengembangan kapasitas tim koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah dalam implementasi kebijakan bantuan pangan non tunai di Dinas Sosial Kabupaten Bone.

PENGEMBANGAN KAPASITAS TIM KOORDINASI PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH

Kemampuan Tenaga Kerja

1. Pengadaan pelatihan

(training) dan sosialisasi

2. Pengaturan struktural

manajerial

Kemampuan Teknologi dalam Organisasi/Kelembagaan

Pengembangan jaringan kerja

Kemampuan Capital dalam Bentuk Dukungan Sumber Daya, Sarana, dan Prasarana

1. Pengadaan kelengkapan

peralatan kerja

2. Perencanaan Kebutuhan

IMPLEMENTASI PROGRAM BANTUAN PANGAN NON TUNAI DI DINAS SOSIAL KABUPATEN BONE

1. Kemampuan tenaga kerja (labor) yang dimaksud tim koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah dapat diukur dengan indikator yaitu pengadaan pelatihan

(training) dan sosialisasi, serta pengaturan struktur manajerial.

2. Kemampuan teknologi yang diwujudkan dalam bentuk organisasi atau kelembagaan diukur dengan indikator yaitu pengembangan jaringan kerja, penguatan koordinasi, serta interaksi formal dan non formal.

3. Kemampuan “capital” yang diwujudkan dalam bentuk dukungan sumber daya, sarana, dan prasarana diukur dengan indikator yaitu pengadaan kelengkapan peralatan kerja dan perencanaan kebutuhan.

G. Deskripsi Fokus Penelitian

Deskripsi fokus pada penelitian kali ini adalah sebagai berikut:

1. Pengadaan pelatihan (training) dan sosialisasi yaitu pengembangan kemampuan tim koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah yang diukur dengan aspek peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

2. Pengaturan struktur manajerial yaitu pengembangan kemampuan tim koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah berdasarkan aspek pengelolaan kegiatan kerja, pembagian kerja, dan bagan struktural.

3. Pengembangan jaringan kerja yaitu pengembangan kemampuan tim koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah berdasarkan proses yang dilakukan dalam penguatan koordinasi serta interaksi formal dan non formal.

4. Pengadaan kelengkapan peralatan kerja yaitu pengembangan kemampuan tim koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah mengacu pada indikator tersedianya peralatan kerja yang memadai untuk menjalankan program BPNT. 5. Perencanaan kebutuhan yaitu pengembangan kemampuan tim koordinasi

penanggulangan kemiskinan daerah yang merujuk pada aspek pengalokasian dana kegiatan dalam pemenuhan kebutuhan/ketersediaan barang untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu Dan Lokasi Penelitian

Waktu yang digunakan pada penelitian kali ini adalah kurang lebih 2 (dua) bulan. Sedangkan lokasi penelitian kali ini berlokasi di Dinas Sosial Kabupaten Bone. Alasan penulis memilih lokasi ini dikarenakan Kabupaten Bone termasuk salah satu Kabupaten penerima bantuan sosial terbesar di Sulawesi Selatan.

B. Jenis Dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian kali ini adalah jenis penelitian kualitatif yang merupakan metode penelitian yang dipergunakan untuk melakukan penelitian pada suatu kondisi objek yang bersifat alamiah yang dimana peneliti sebagai suatu instrumen kunci, dan teknik pengumpulan data kali ini dilakukan dengan cara triangulasi, analisis datanya bersifat induktif, serta hasil penelitian kualitatif bersifat deskriptif yang lebih menekankan makna atau arti daripada generalisasi (Sugiyono, 2007). Diadakannya penelitian ini guna memecahkan masalah atau keadaan sebagaimana yang terjadi di lokasi sehingga penulis mampu memberikan fakta yang diberikan yang diperoleh dari hasil penelitian dan menggambarkan secara deskriptif mengenai objek yang diteliti.

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yag menggunakan pendekatan tipe studi kasus. Metode penelitian kualitatif tipe studi

kasus adalah strategi penelitian dimana peneliti menyelidiki secara lebih cermat terkait suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu

Dokumen terkait