• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Tinjauan Pustaka

8. Kemampuan Awal

Setiap individu mempunyai kemampuan belajar yang berlainan. Kemampuan awal siswa adalah kemampuan yang telah dipunyai oleh siswa sebelum ia mengikuti pembelajaran yang akan diberikan.

Kemampuan awal ini menggambarkan kesiapan siswa dalam menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh guru.

Kemampuan awal siswa penting untuk diketahui guru sebelum ia mulai dengan pembelajarannya, karena dengan demikian dapat diketahui apakah siswa telah mempunyai pengetahuan yang merupakan prasyarat

(prerequisite) untuk mengikuti pembelajaran dan sejauh mana siswa telah mengetahui materi apa yang akan disajikan.

Setelah mengetahui kemampuan awal siswa dan sejauh mana siswa telah mengetahui materi apa yang akan disajikan, guru akan dapat merancang pembelajaran dengan lebih baik, sebab apabila siswa diberi materi yang telah diketahui maka mereka akan merasa cepat bosan.

Gagne dalam Sudjana (2005: 158) menyatakan bahwa kemampuan awal lebih rendah dari pada kemampuan baru dalam pembelajaran, kemampuan awal merupakan prasyarat yang harus dimiliki siswa sebelum memasuki pembelajaran materi pelajaran berikutnya yang lebih tinggi, sehingga seorang siswa yang mempunyai kemampuan awal yang baik akan lebih cepat memahami materi dibandingkan dengan siswa yang tidak

mempunyai kemampuan awal dalam proses pembelajaran. Reigeluth dalam Hamzah (2009: 59) mengidentifikasi tujuh jenis kemampuan awal yang dapat digunakan untuk memudahkan perolehan, pengorganisasian, dan pengungkapan kembali pengetahuan baru. Ketujuh jenis pengetahuan awal itu adalah sebagai berikut.

a. Pengetahuan bermakna tak terorganisasi (arbitraly meaningful

knowledge) sebagai tempat mengaitkan pengetahuan hafalan (yang tak bemakna) untuk memudahkan retensi.

b. Pengetahuan analogis (analogic knowledge), yang mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lain yang amat serupa, yang berada di luar isi yang sedang dibicarakan.

c. Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (superordinte knowledge) yang dapat berfungsi sebagai kerangka kaitan lanjut bagi pengetahuan baru. d. Pengetahuan setingkat (coordinate knowledge), yang dapat memenuhi

fungsinya sebagai pengetahuan asosiatif dan/atau komparatif.

e. Pengetahuan tingkat yang lebih rendah (subordinate knowledge), yang berfungsi untuk mengkonkritkan pengetahuan baru atau juga

penyediaan contoh-contoh.

f. Pengetahuan pengalaman (experienitial knowledge) yang memiliki fungsi sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah, yaitu untuk mengkonkritkan dan menyediakan ontoh-contoh bagi pengetahuan baru.

g. Strategi kognitif, yang menyediakan cara-cara mengolah pengetahuan baru,mulai dari penyandian, penyimpanan, sampai dengan

pengungkapan kembali pengetahuan yang telah tersimpan dalam ingatan.

Ketujuh jenis kemampuan awal ini dapat di klasifikasikan menjadi 3 yaitu kemampuan yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut.

a. Pengetahuan yang akan diajarkan,

b. Pengetahuan yang berada di luar pengetahuan yang akan dibicarakan, c. Pengetahuan mengenai keterampilan generik (generic skills).

Klasifikasi pertama, yang berkaitan dengan pengetahuan yang akan diajarkan, meliputi pengetahuan yang lebih tinggi, pengetahuan setingkat, pengetahuan lebih rendah, dan pengetahuan pengalaman. Klasifikasi kedua, yang berkaitan dengan pengetahuan yang terjadi di luar pengetahuan yang dibicarakan, meliputi pengetahuan bermakna tak terorganisasi dan pengetahuan analogis. Klasifikasi ketiga, yang berkaitan dengan pengetahuan tentang keterampilan generik adalah strategi

kognitif.

Menurut Hamzah (2009: 60), apabila dilihat dari tingkat penguasaannya, kemampuan awal bisa diklasifikasikan menjadi 3, yaitu sebagai berikut. a. Kemampuan awal siap pakai, mengacu pada kemampuan yang

manapun dari ketujuh kemapuan awal yang diidentifikasi oleh Reigeluth, yang benar-benar telah dikuasai oleh siswa, dan dapat digunakan kapan saja dan dalam situasi apapun.

b. Kemampuan awal siap ulang, mengacu kepada kemampuan-

kemampuan awal yang manapun dari ketujuh kemampuan awal yang diidentifikasi Reigeluth yang sudah pernah dipelajari siswa, namun belum dikuasai sepenuhnya atau belum siap digunakan ketika

diperlukan. Karena belum menjadi miliknya, maka siswa masih sangat tergantung pada adanya sumber-sumber yang sesuai (biasanya buku teks) untuk dapat menggunakan kemampuan ini.

c. Kemampuan awal pengenalan, mengacu pada kemampuan-

kemampuan awal yang manapun dari ketujuh kemampuan awal yang diidentifikasi Reigeluth yang baru dikenal. Mungkin karena baru pertama kali dipelajari oleh siswa sehingga perlu diulangi beberapa kali agar menjadi siap guna. Kemampuan ini masih belum dikuasai dan masih sangat tergantung pada tersedianya sumber-sumber. Kemampuan awal siswa dapat diukur melalui tes awal, interview, atau cara-cara lain yang cukup sederhana. Hal ini sejalan dengan pendapat Rusman (2011: 158), kemampuan awal siswa ditentukan dengan

memberikan tes awal. Pengetahuan tentang kemampuan awal ini penting bagi guru agar dapat memberikan porsi pelajaran yang tepat, tidak teralu sukar, dan tidak terlalu mudah. Pengetahuan tentang kemampuan awal juga berguna untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, misalnya apakah perlu dipersiapkan pembelajaran atau penggunaan metode tertentu.

Menurut Rusman (2011: 158), untuk menentukan tingkat kemampuan awal, maka pengumpulan data siswa dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu sebagai berikut.

a. Pretest, dilakukan untuk mengetahui student achivement, yaitu apa yangsudah diketahui dan apa yang belum diketahui tentang rencana pokok bahasan yang akan diajarkan. Misalnya, dengan mengukur sampai di mana pengetahuan sisa tentang definisi dan konsepnya. b. Mengumpulkan data pribadi siswa (personal data) untuk mengukur

potensi siswa dan mengelompokkannya ke dalam kategori siapa-siapa yang termasuk fast learnesrs dan siapa-siapa yang termasuk slow learners. Caranya dapat dengan mengadakan intellegency test. Misalnya, mengukur kesanggupan siswa dalam membuat alasan/sanggahan, kemampuan mengungkapkan kembali, keterampilan mengolah data, dan sebagainya.

Berdasarkan pemaparan yang telah dikemukakan, maka dapat

didefinisikan bahwa kemampuan awal siswa adalah kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti pembelajaran yang akan diberikan. Kemampuan awal siswa dapat ditentukan dengan memberikan tes awal. Hasil dari tes ini kemudian akan dipertimbangkan dan

dibandingkan dengan indeks prestasi dari nilai yang dicapai pada sebagian besar mata pelajaran yang sudah ditempuh sebelumnya, kemudian bisa ditarik kesimpulan rata-ratanya. Kesimpulan yang diperoleh, kemudian digunakan pengajar agar dapat menyesuaikan kecepatan mengajar dengan potensi mereka.

Dokumen terkait