• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemandirian Desa

2. Kawasan Strategis Prioritas Pembangunan Ekonomi Peruntukan Industri Pembangunan ekonomi daerah di era otonomi menghadapi berbagai

4.2.4 Isu Strategis di tingkat Kabupaten Gresik

4.2.4.7 Kemandirian Desa

Kemandirian Desa merupakan salah satu isu strategis dan proritas pembangunan nasional dalam agenda untuk mengembangkan wilayah untuk mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan. Kondisi pembangunan kewilayahan saat ini memperlihatkan bahwa sumbangan Pulau Jawa dan Sumatera masih dominan dan tidak mengindikasikan pergeseran. Di tahun 2019, kontribusi ekonomi Pulau Jawa sebesar 58,29% dan Pulau Sumatera sebesar 21.53% terhadap PDB nasional. Ketimpangan antarwilayah pulau masih sangat tinggi sedangkan ketimpangan antarprovinsi di dalam wilayah pulau bervariasi, dimana yang paling tinggi adalah di Pulau Jawa-Bali dan Kalimantan. Demikian pula ketimpangan antardesakota dalam wilayah pulau paling tinggi adalah di Pulau Jawa-Bali, Nusa Tenggara dan Sulawesi.

Pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 sasaran pembangunan kemandirian Desa adalah mengurangi jumlah Desa Tertinggal sampai 5000 Desa dan meningkatkan jumlah Desa Mandiri sedikitnya 2000 Desa pada tahun 2019. Pada tahun 2015-2018, tercatat penurunan Desa tertinggal mencapai 6.518 Desa sedangkan peningkatan Desa Mandiri mencapai 2.665 Desa. Sementara pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 perkembangan status pembangunan Desa dicanangkan sebagaimana berikut:

Tabel 4.33 Target Perkembangan status pembangunan Desa Tahun 2024

No Sasaran Baseline 2019 Target 2024

1 Perkembangan status pembangunan desa (desa)

Desa Mandiri: 5.559 Desa Mandiri: 10.559 (naik 5000) Desa Berkembang:

54.879

Desa Berkembang:

59.879 (naik 5000) Desa Tertinggal:

13.232

Desa Tertinggal: 3.232 (turun 10.000) 2 Penurunan angka

kemiskinan desa (%) 12,85% 9,9%

3 Penetapan batas

administrasi desa/kelurahan (desa)

202 desa 10.394 desa

Penetapan pembangunan kemandirian Desa sebagai prioritas pembangunan nasional diikuti dengan program aksi dna langkah strategis yaitu melanjutkan pemanfaatan dana desa untuk pengurangan kemiskinan dan kesenjangan di perdesaan dengan langkah strategis sebagaimana berikut:

1. Memperbaiki pelayanan dasar bagi warga desa, seperti air bersih, sanitasi, dan listrik desa.

2. Mengembangkan ekonomi produktif dan industri perdesaan, terutama digerakkan oleh BUMDES dan pelaku-pelaku UMKM/ Koperasi di desa untuk mengembangkan sentra-sentra ekonomi baru di perdesaan.

3. Mengembangkan kawasan perdesaan dan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan lokal dengan mempromosikan produk unggulan yang berbasis sumber daya ekonomi lokal

4. Meningkatkan kapasitas dan tata kelola pemerintahan desa, sehingga lebih adaptif untuk melakukan inovasi, partisipatif inklusif, transparan, serta akuntabel.

5. Mengoptimalisasikan distribusi pendamping desa untuk mendorong upaya percepatan pembangunan desa yang tepat sasaran.

6. Memperkuat fungsi pendamping desa dalam melakukan monitoring dan evaluasi pembangunan desa secara efektif dan efisien.

7. Mendorong dijitalisasi desa sebagai media pembelajaran daring, sumber informasi pembangunan desa, serta akses ke pasar daring

Program aksi lain pembangunan kemandirian desa adalah mengembangkan potensi ekonomi daerah untuk pemerataan pembangunan antarwilayah yang diikuti dengan langkah strategis mengembangkan sektor ekonomi dan produk unggulan yang menciptakan nilai tambah bagi daerah dan warganya, terutama di daerah tertinggal, kawasan perbatasan, desa dan kawasan perdesaan, serta kawasan transmigrasi.

Adapun arah kebijakan pembangunan berbasis kewilayahan yang terkait dengan kemandirian desa adalah Pembangunan desa terpadu yang mencakup peningkatan kapasitas aparatur desa dalam hal pemanfaatan dana desa dan tata kelola asset desa; penguatan pendamping desa dan peran serta masyarakat desa yang inklusif; serta penetapan batas desa, pengembangan desa wisata, desa digital dan produk unggulan desa; transformasi ekonomi desa dan peningkatan peran badan usaha milik desa; perbaikan pelayanan air minum, sanitasi dan listrik desa.

Arah kebijakan ini dicapai melalui strategi

a. pengembangan ekonomi wilayah/lokal melalui penyediaan sarana prasarana perekonomian dengan memperhatikan karakteristik aktivitas ekonomi di masing-masing wilayah termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia, baik di daerah tertinggal, kawasan perbatasan, desa dan kawasan perdesaan, serta kawasan transmigrasi, dan

b. pemenuhan pelayanan dasar di seluruh wilayah, terutama di daerah tertinggal, kawasan perbatasan, desa dan kawasan perdesaan, serta kawasan transmigrasi.

Kemandirian desa secara nasional masih sangat rendah. Berdasarkan data IDM, desa dengan status mandiri hanya sebanyak 313 Desa dari 69.460 (92,68%) yang melaporkan atau sebesar 0,45%. Desa dengan status maju mencapai 4.784 Desa atau masih 6,89%. Status Desa didominasi desa berkembang 30.345 Desa atau sebesar 43,69% diikuti desa tertinggal sebanyak 27.163 Desa atau 39.11%.

Sebanyak 6.855 Desa masih berstatus sangat tertinggal. Jika kemandirian Desa adalah sasaran utama dalam pembangunan Desa maka 99,55% target pembangunan Desa belum tercapai. Pada lingkup Jawa timur, sebanyak tercatat 7.720 Desa (99,54%) dari 7.724 Desa telah melaporkan data IDM pada tahun 2019 dari 30 Kabupaten/Kota dengan total 603 Kecamatan. Kemandirian desa Jawa Timur masih sangat rendah. Berdasarkan data IDM, desa dengan status mandiri hanya sebanyak 69 Desa dari total 7.720 Desa atau tidak lebih dari 1%. Secara nasional, Kontribusi Desa status Mandiri di Jawa Timur menyumbang 22% dari total 313 Desa Mandiri di seluruh Indonesia. Kondisi Desa Maju sebanyak 989 Desa atau 12,81% atau dua kali lipat di atas kondisi nasional 6,89%. Desa berkembang mendominasi dengan jumlah 5.006 Desa atau 68,84% di atas persentase nasional sebesar 43,69%. Jumlah Desa tertinggal masih sangat tinggi mencapai 1.572 Desa atau sebesar 20,36% di bawah nasional 39,11%. Sedangkan kondisi sangat tertinggal hanya mencapai 84 Desa atau 1,09% jauh di bawah nasional sebesar 9,87%.

Kemandirian Desa juga menjadi salah satu prioritas pembangunan di Kabupaten Gresik. Secara normatif, dalam Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2017 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Gresik Tahun 2016-2021, Pemerintah Daerah telah meletakkan kemandirian desa sebagai salah satu prioritas pembangunan dearah. Arah kebijakan dan Strategi Pembangunan kemandirian Desa di Kabupaten Gresik dijabarkan sebagaimana berikut:

Tabel 4.34 Matrik Kebijakan dan Strategi Pembangunan Desa dan Kawasan Perdesaan Kabupaten Gresik

No Arah Kebijakan Strategi

1. Membangun desa, desa membangun

1. Penguatan kapasitas kelembagaan dan sumber daya aparatur pemerintah desa melalui pendampingan perencanaan (RPJMDesa, RKPDesa, APBDesa, dan Data

Potensi Desa), pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban penyelenggaraan pemerintahan dan rencana pembangunan;

2. Reformasi pelayanan publik di perdesaan melalui pemerataan jaringan internet dan ketersediaan piranti Teknologi Informasi dan Komunikasi;

3. Pengembangan usaha ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal dukungan finansial secara stimulan dan kemudahan akses terhadap lembaga keuangan formal guna pengembangan usaha atau kewirausahaan, bantuan modal, pemanfaatan teknologi, dan akses pemasaran didukung penguatan BUMDesa dan BUMaDes.

4. Pembangunan kawasan perdesaan melalui penataan desa secara terpadu, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup secara berkelanjutan;

5. Mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa sesuai dengan

kebutuhan dan aspirasi masyarakatnya, kearifan lokal yang tertanam, dan

permasalahan riil yang dihadapi desa dalam penguatan layanan pendidikan, kesehatan, dan layanan dasar lainnya dengan

meletakkan kesetaraan Gender sebagai perspektif society enabling & empowering.

6. Meningkatkan keberdayaan masyarakat melalui program-program pembangunan Desa Learning Center, dan fasilitasi pemberdayaan perempuan perdesaan

1. Pembangunan Basis Data terpadu

kependudukan dan catatan sipil yang telah terhamonisasi secara agregat pada jenjang pemerintah desa, intermediary kecamatan, daerah hingga pusat;

2. Percepatan pelayanan dengan mendekatkan basis layanan kepada masyarakat melalui Kecamatan hingga secara bertahap

mengoptimalkan peran Pemerintah Desa sebagai kunci pelayanan didukung

pemenuhan jaringan internet, ketersediaan piranti, peningkatan kapasitas kelembagan dan sumber daya aparatur desa;

3. Pembangunan 1. Pelimpahan kewenangan secara bertahap

berkelanjutan secara

sesuai tematik prioritas tahunan daerah dalam rangka efektivitas dan efisiensi pembangunan.

2. Penguatan sumber daya aparatur kecamatan melalui bimbinagan teknis, lokakarya, dan pelbagai media secara terintegratif antara SKPD ditunjang dukungan anggaran yang mencukupi.

4. Keterbukaan informasi secara aktual dan

Pemerataan jaringan internet di kawasan perdesaan guna menunjang pertumbuhan ekonomi, percepatan pelayanan publik, dan mendukung kemajuan penyelenggaraan

Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah pada jenjang pemerintah desa, intermediary kecamatan hingga satuan kerja perangkat daerah dalam memanfaatkan teknologi informasi guna mendukung kinerja birokrasi dan pelayanan publik;

1. Penyempurnaan klasifikasi dan standardisasi serta harmonisasi

ketersediaan data report based oleh setiap SKPD dan Desa;

2. Pembentukan tim terpadu pembangunan basis data terpadu pada jenjang desa, intermediary kecamatan, hingga SKPD dan meningkatkan kerjasama serta koordinasi dengan Badan Pusat Statistik, Swasta, dan stakeholder terkait aplikatif di jenjang pemerintahan daerah hingga desa;

pelayanan publik yang prima

8. Penguatan nilai-nilai budaya Gresik dalam pengembangan kepariwisataan yang didukung keberlanjutan pembangunan

inftrastuktur pariwisata, kemudahan akses

konektivitas destinasi-destinasi pariwisata, dan promosi pariwisata yang inovatif

Pengarustaamaan nilai-nilai budaya secara

integratif dalam dunia pendidikan dan kolaboratif melalui lembaga kemasyarakatan desa guna menumbuhkembangkan kesadaran sosial masyarakat pada kawasan destinasi pariwisata;

Pada Tahun 2019, capaian kemandirian Desa Kabupaten Gresik telah meningkat massif karena mampu menghapus status 72 Desa tertinggal dan 1 Desa sangat tertinggal. Dari 330 Desa di Kabupaten Gresik sebanyak 14,24% atau 47 Desa telah mencapai status mandiri. Perkembangan ini meningkat drastis dibanidngkan tahun 2018 dimana hanya ada 1 Desa Mandiri yaitu Desa Kedamean, Kecamatan Kedamean. Peningkatan signifkan juga terjadi pada status pembangunan Desa maju dimana tercatat 152 Desa atau 46,06% sebagai kontribusitor terbesar Kemandirian Desa Kabupaten Gresik Tahun 2019.

Peningkatan status Desa Maju melonjak 463% dibandingkan tahun 2018 dimana status Desa Maju hanya sebesar 27 Desa atau 8,18%. Persentase Desa berkembang pada tahun 2019 mencapai 39,7% dengan 131 mengalami penurunan dari Tahun 2018 sebesar 42,8% dari 229 Desa status berkembang. Penurunan ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan status dari hamper setengah Desa berkembang menuju Maju dan Mandiri.

Gambar 4.41 Status Kemandirian Desa Kabupaten Gresik Tahun 2020

Ditinjau dari persebarannya, kecamatan dengan jumlah Desa Mandiri terbanyak adalah Kecamatan Menganti dengan 13 Desa (27,7%) diikuti Sidayu

dengan 8 Desa (17%) dan Bungah dengan 6 Desa (12,8%). Sementara Dukun, Benjeng, Kedamean, Gresik, dan Tambak tidak memiliki status desa Mandiri. Desa Kedamean, kecamatan Kedamean mengalami penurunan status setelah pada Tahun 2018 menjadi satu-satunya Desa Kabupaten Gresik yang mandiri. Pada sebaran Desa Maju, seluruh Kecamatan telah memiliki Desa Maju dengan jumlah terbanyak pada Kecamatan Dukun dimana 25 Desa (16,4%) berstatus Maju dari 26 Desa di kecamatan tersebut. Jumlah Desa Maju terbanyak selanjutnya dimiliki oleh Kecamatan Balongpanggang dengan 22 Desa (14,5%), Kecamatan Cerme 16 Desa (10,5%). Desa dengan status berkembang terbanyak dimiliki oleh Duduksampeyan dengan 21 Desa berkembang (16%) dari 23 Desa yang ada. Jumlah Desa berkembang terbanyak secara berturut turut adalah Kecamatan Benjeng dengan 15 Desa (11,5%), Kecamatan Manyar dan Sangkapura dengan 14 Desa (10,7%).

Sementara Kecamatan Balongpanggang, Menganti, Kebomas, Gresik tidak memiliki Desa dengan status berkembang.

Sejak Tahun berlakunya UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa, Pemerintah Kabupaten Gresik telah berkomitmen mengalokasi berbagai mata alokasi anggaran ke Desa sesuai dengan ketentuan seperti Dana Desa, alokasi Dana Desa, bagi hasil pajak Daerah dan retribusi Daerah ke Desa, dan Bantuan Keuangan Khusus. Laju penyaluran alokasi anggaran ke Desa realtif meningkat tiap tahun kecuali bantuan keuangan Desa yang menurun drastis pad atahun 2019 sebesar Rp327.4674.122.000 atau 73,44% secara year on year dibandingkan tahun 2018.

Pada tahun 2020, alokasi anggaran kembali menurun Rp.38.176.685.500 atau 32,44% secara year on year dibandingkan tahun 2019. Penurunan alokasi anggaran bantuan keuangan kepada Desa merupakan dinamika dalam pelaksanaan perencanaan pembangunan partisipatif dan politis dimana pada tahun berkenaan lebih banyak dialihkan untuk bantuan sosial dan hibah yang notabene penerimanya juga berasal di desa. Penurunan alokasi bantuan keuangan khusus ke Desa juga berkorelasi kepada kemandirian Desa dengan asumsi bahwa semakin mandiri Desa maka kebutuhan akan bantuan keuangan khusus seharusnya juga berkurang.

Gambar 4.42 Trend Penyaluran Alokasi Anggaran ADD, DD, Bagi Hasil, dan BK Khusus ke Desa Kabupaten Gresik Tahun 2016-2020

Rata-rata alokasi anggaran ke Desa dibandingkan dengan Belanja Daerah selama tahun 2016-2020 mencapai 26% per tahun. Capaian persentase tertinggi pada tahun 2017 sebesar 31,9% sedangkan capaian persentase terendah pada tahun 2020 sebesar 17,6%. Persentase capaian ini dipengaruhi peningkatan belanja Daerah setiap tahun dan pengalokasian anggaran belanja ke Desa meliputi Dana Desa, alokasi Dana Desa, bagi hasil pajak Daerah dan retribusi Daerah ke Desa, dan Bantuan Keuangan Khusus.

Gambar 4.43 Persentase Alokasi Anggaran ADD, DD, Bagi Hasil, dan BK Khusus ke Desa terhadap Belanja Daerah Kabupaten Gresik Tahun 2016-2020

Sumber pendanaan belanja Desa pada tahun 2018-2019, ditinjau dari dokumen APBDesa dan LKPJ Desa, djelaskan bahwa rata-rata sumber pendanaan tiap Desa di Kabupaten Gresik masih diodminasi oleh Dana Desa dengan persentase 47,25%. Alokasi Dana Desa menjadi kontributor kedua tertinggi dengan persentase mencapai 30,49% sedangkan bagi hasil pajak Daerah dna retribusi Daerah ke desa mencapai 10,23%. Alokasi anggaran transfer dari APBD Kabupaten Gresik lainnya adalah bantuan keuangan khusus yang menjadi sumber pendanaan di Desa dengan persentase 4,25%. Pendanaan yang dihasilkan oleh entitas masyarakat desa sendiri adalah swadaya mencapai Pendapatan Asli Desa (PADes) yang hanya mencapai 3,05%. Selain itu, terdapat sumbangan pihak ketiga yang dapat berupa corporate social responsibility (CSR) mencapai 2,45% serta lain-lain mencakup swadaya masyarakat mencapai 2,29%. Kebanyakan dalam pentanggungjawaban Desa, sumber dana ini tidak diperhitungkan atau tidak dicatat.

Gambar 4.44 Distribusi Kapasitas Fiskal atau Sumber Pendanaan Belanja Desa di Kabupaten Gresik Tahun 2018-2019

Ditinjau dari sumber pendanaan, sebesar 12,04% rata-rata pendapatan Desa bersumber dari pendapatan asli desa, swadaya, dan sumbangan pihak ketiga atau berasal dari lingkup Desa. Sedangkan 87,96% berasal dari pendapatan transfer meliputi Dana Desa, alokasi Dana Desa, bagi hasil pajak Daerah dan retribusi Daerah ke Desa, dan Bantuan Keuangan Khusus. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemandirian fiskal Desa di Kabuapten Gresik masih rendah.

Lebih lanjut, Kemandirian fiskal ditinjau dari perbandingan Pendapatan Asli Desa dan Dana trasnfer diketahui bahwa rata-rata kemandirian fiskal Kabupaten Gresik selama tahun 2018-2019 bernilai 3,31% atau sangat rendah.

Tabel 4.35 Persentase dan Rata-Rata Sumber Pendanaan Belanja Desa di Kabupaten Gresik Tahun 2018-2019

No Sumber Pendanaan Rata-Rata (Rp) Tahun 2018-2019

1 PADes 56.474.755

2 Dana Desa 874.562.500

3 Bagi Hasil 189.447.655

4 Alokasi Dana Desa 564.545.622

5 Hibah dan Sumbangan Pihak ketiga 45.440.554

6 Bantuan Keuangan Khusus 78.656.332

7 Lain-lain (swadaya, dll) 42.365.000

Rendahnya kemandirian fiskal Desa diharapkan semakin membaik seiring dengan pertumbuhan Pendapatan Asli Desa mencapai 2,85% selama 2018-2019 serta efektivitas penetapan target pendapatan Asli Desa yang masih dalam range moderat pada 72,28%. Peningkatan kapasitas fiskal Desa berkorelasi dengan peningkatan alokasi untuk penyertaan modal Bumdes sebagai salah satu instrument untuk meningkatkan pendapatan Asli Desa.

Gambar 4.45 Rata-rata penyertaan Modal Bumdes di tap Desa oleh

Pemerintahan Desa di Kabupaten Gresik Tahun 2017-2019

Rata-Rata penyertaan modal di tiap Desa untuk Bumdes terus meningkat selama 3 (tiga) tahun terakhir dimana rata-rata pertumbuhan penyertaan modal sebesar 9,98%. Rata-Rata peningkatan modal Bumdes terbesar tahun 2018 dengan persentase 12,37% secara year on year sementara pada tahun 2019 meningkat 7,605 dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan rata -Rata penyertaan modal di tiap Desa untuk bumdes merupakan indikator yang positif dan menunjukkan komitmen pemerintah Desa dalam mengembangkan perekonomian Desa melalui tata keloa lembaga ekonomi Desa. Tetapi meninjau efisiensi yang membandingkan pendapatan Asli Desa dan penyertaan modal Bumdes menunjukkan bahwa nilai efisiensi mencapai 31,68% yang bermakna tidak efektif karena kurang dari 60%.

4.2.4.8 Ketahanan Pangan melalui Pembangunan Agropolitan dan