• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi

ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

8. Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi

Kemudahan untuk mendapatkan fasilitas transportasi pada dasarnya adalah tergantung kondisi dan kebutuhan. Masyarakat pedesaan hanya menggunakan transportasi untuk hal-hal yang memang penting dan mungkin terbilang tidak terlalu sering. Artinya hanya sebatas untuk pengangkutan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka, berbeda dengan masyarakat perkotaan yang selalu menggunakan kendaraan kemanapun mau pergi. Bahkan untuk masyarakat perkotaan tidak jarang mereka masih sangat banyak yang lebih memanfaatkan berjalan kaki, dari pada menggunakan kendaraan. Atau kendaraan mereka pada umumnya masih sepeda motor dan sepeda dayung. Dengan demikian, ini juga hal yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat kota dan masyarakat desa. Adanya polusi menjadi jawaban dari bagian pertanyaan untuk sebuah kendaraan ini. Oleh karena itu, masyarakat pedesaan masih sangat kental dengan kesederhanaannya dalam hal apapun termasuk dari segi fasilitas transportasinya.

71 BAB V

KESIMPULAN 5.1. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini dapat dipaparkan oleh peneliti sebagai berikut: 1. Tingkat kesejahteraan para petani kopi yang ada di kabupaten Dairi adalah masih tergolong sedang, yaitu berada pada nilai skor 14-19. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa masih banyak hal-hal yang harus diperbaiki dan peningkatan pembangunan desa tersebut guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani kopi di kabupaten Dairi. 2. Pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi juga masih tergolong rendah

bagi tingkat kesejahteraan para petani kopi di Kabupaten Dairi. Hal ini merupakan bagian dari analisis yang sangat sederhana dimana setiap makhluk yang hidup pasti akan menyisihkan sebahagian anggarannya untuk konsumsi baik untuk sandang, pangan maupun papan. Namun, untuk masyarakat pedesaan mereka memiliki pola konsumsi yang masih sangat sederhana dan tidak hedonis berlebihan seperti masyarakat perkotaan pada umumnya.

3. Mayoritas keadaan tempat tinggal masyarakat petani kopi di Kabupaten Dairi adalah ada yang memiliki rumah semi permanen dan yang tidak permanen. Kesederhanaan yang mereka miliki dari segi tempat tinggal masih sama seperti masyarakat pedesaan pada umumnya.

4. Fasilitas tempat tinggal pada umumnya adalah hanya sekadar TV, kipas angina, dan radio. Dengan demikian, walaupun menurut BPS fasilitas

72 tempat tinggalnya masih terbilang kurang, namun berdasarkan kondisi kehidupan para petani kopi di Kabupaten Dairi ini, fasilitas tempat tinggal bukan merupakan hal yang utama, oleh karena itu seadanya adalah cukup bagi mereka.

5. Pengeluaran rumah tangga untuk kesehatan adalah cukup rendah terhadap tingkat kesejahteraan para petani kopi di Kabupaten Dairi. Satu hal yang harus dipahami bahwa ketika hasil dari penelitian ini menyatakan tidak memiliki pengaruh, bukan berarti para petani kopi tidak menyisihkan anggarannya untuk kesehatan. Namun, hal yang paling mendasar adalah bahwa mereka memiliki tingkat kesehatan yang cukup baik sehingga mereka dapat menggeser penggunaan anggaran untuk kesehatan tersebut ke anggaran lainnya yang seyogianya lebih dibutuhkan.

6. Kemudahan untuk medapatkan pelayanan kesehatan bukan merupakan hal yang tergolong tinggi. Namun, pelayanan kesehatan di daerah pedesaan berbeda jauh dengan pelayanan kesehatan di daerah perkotaan. Daerah pedesaan masih tergolong minim untuk pelayanan kesehatan, sedikit lambat, namun pada umumnya tidak terlalu mahal seperti di daerah perkotaan.

7. Pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan memiliki tingkat yang paling tinggi jika dibandingkan dengan alokasi anggaran untuk yang lainnya terhadap tingkat kesejahteraan para petani kopi di Kabupaten Dairi. Salah satu anggaran yang paling mendominasi dalam penggunaannya adalah anggaran untuk pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai sesuatu yang

73 sangat penting yang anggarannya melebihi anggaran yang digunakan untuk konsumsi. Hal ini menjadi dasar pemikiran peneliti bahwa bahkan para petani kopi saja masih memiliki pemikiran yang begitu baik mengenai pendidikan. Pendidikan yang mereka harapkan mampu meningkatkan harkat, drajat, dan martabat mereka melalui para generasi mereka ataupun anak-anak mereka yang sangat mungkin untuk memiliki kesejahteraan hidup yang lebih baik.

8. Kemudahan untuk memperoleh fasilitas transportasi bukanlah hal yang menjadi masalah, sekalipun bukan tergolong tinggi. Namun demikian, fasilitas transportasi ini bukan merupakan yang paling diutamakan. Kebanyakan dari para petani kopi hanya menggunakan fasilitas transportasinya untuk kegiatan ataupun pekerjaan yang penting saja. Bukan sebagai alat untuk meningkatkan status sosial seperti yang diterapkan oleh masyarakat perkotaan.

9. Dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat dipahami bahwa mayoritas dari petani di Kabupaten Dairi adalah masih memiliki ketertarikan yang sangat tinggi untuk mengemban ilmu pengetahuan. Hal ini dapat diketahui tingkat kemampuan mereka untuk menyisihkan anggaran untuk pendidikan lebih tinggi jika dibandingkan dengan jumlah anggaran yang lainnya. Kemudian, ini menunjukkan bahwa setiap dari para petani kopi di Kabupaten Dairi tersebut memiliki antusiasme terhadap pendidikan dimana dapat diketahui dari kemauan mereka untuk turut membantu dalam pengisian kuesioner untuk penyelesaian penelitian ini.

74 10. Kesejahteraan kehidupan petani di Kabupaten Dairi pada dasarnya tidak

sebatas di ukur dari tingkat pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi, kesehatan dan pendidikan. Tetapi lebih dari itu, masih banyak faktor lain yang bisa dijadikan sebagai parameter untuk melakukan pengukuran mengenai kesejahteraan kehidupan para petani kopi di Kabupaten Dairi, misalnya kondisi lingkungan, kondisi kepmimpinan daerah, dan bahkan hubungan diantara masyarakat petani di Kabupaten Dairi tersebut.

5.2. Implikasi

Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa setiap bagian dari manusia memiliki kemampuan dalam mengalokasikan anggaran rumah tangga yang dimilikinya. Tidak terkecuali kepada para petani kopi di Kabupaten Dairi, maka mereka mampu mengalokasikan setiap anggarannya sesuai dengan porsinya masing-masing. Satu hal yang menjadi dasar dalam penelitian ini adalah bahwa anggaran yang dimiliki dalam sebuah rumah tangga tentunya akan dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhannya. Maka dari itu pengaruh anggaran rumah tangga untuk konsumsi, kesehatan dan pendidikan terhadap kesejahteraan petani kopi di Kabupaten Dairi akan menjadi pertimbangan yang lebih baik lagi dalam proses penyusunan anggaran untuk kebutuhan rumah tangga. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara umum bahwa konsumsi, kesehatan, dan pendidikan tetap menjadi fokus utama dalam pengalokasian anggaran yang mengindikasikan bahwa sebuah rumah tangga tersebut sudah memiliki kehidupan yang sejahtera atau belum.

75 Selanjutnya dalam setiap penerapannya, pengalokasian untuk setiap anggaran tersebut sangat penting dengan asumsi untuk mengkoordinir pemasukan dan pengeluaran mereka. Tidak hanya terbatas pada bentuk usaha yang bersifat besar, tetapi juga mereka para petani berhak memiliki pemahaman yang lebih baik terkait dengan penyusunan anggaran rumah tangga mereka.

5.3. Saran

Beberapa saran yang diberikan oleh peneliti terkait dengan penelitian ini diantaranya adalah:

1. Tingkat pendapatan masyarakat petani kopi seharusnya senantiasa ditingkatkan, hal ini dapat diupayakan dengan mengenalkan kepada mereka bagaimana caranya membudidayakan kopi dengan lebih baik dan melakukan kegiatan ekspor dan impor. Dimana, seyogianya dipahami bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki tanah yang sangat subur untuk perkebunan.

2. Konsumsi atau pengeluaran rumah tangga memang seyogianya harus senantiasa di tekan, bukan untuk menjadi mayoritas namun konsumsi juga harus meningkatkan angka harapan hidup petani kopi.

3. Keadaan tempat tinggal juga diharapkan senantiasa lebih baik, bersih dan mampu mendukung kegiatan dan pekerjaan para petani kopi. Tidak harus mewah dan megah tetapi sebaiknya adalah lingkungan hijau, sehat dan memiliki udara yang segar dan jauh dari polusi udara.

4. Fasilitas tempat tinggal merupakan hal yang seharusnya lebih ditingkatkan agar masyarakat petani kopi di kabupaten Dairi tidak tertinggal jauh untuk

76 segala bentuk informasi yang seharusnya bisa diperoleh, jika memungkinkan seharusnya intrnet juga bukan merupakan hal yang asing lagi bagi masyarakat petani kopi.

5. Kesejahteraan masyarakat petani kopi di kabupaten Dairi dapat ditingkatkan dengan cara melakukan pembangunan desa, memberikan penyuluhan dan pemahaman kepada masyarakat desa akan pentingnya pendidikan serta mennjukkan kepada masyarakat tersebut bahwa salah satu elevator untuk meningkatkan kesejahteraan adalah melalui pendidikan. 6. Pelayanan kesehatan seharusnya lebih diupayakan untuk senantiasa

ditingkatkan, walaupun banyak masyarakat desa yang memiliki kesehatan yang baik, namun untuk para bayi yang baru lahir juga membutuhkan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

7. Terkhusus untuk para petani kopi di Kabupaten Dairi, bahwa pendidikan memang merupakan hal yang sangat penting dan bahkan nomor satu untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Maka dari itu tidak ada hal yang salah ketika penggunaan anggaran mayoritas digunakan untuk kepentingan pendidikan.

8. Untuk peneliti selanjutnya yang akan meneruskan penelitian ini, maka akan sangat diharapkan untuk lebih menambah variabel penelitian, kemudian tidak hanya sekadar melakukan penyebaran kuesioner tetapi juga turut serta secara langsung untuk melakukan wawancara kepada para petani kopi di Kabupaten Dairi.

77 9. Untuk setiap peneliti yang akan melanjutkan penelitian ini bahkan dapat

dilakukan pengarahan ataupun pemaparan mengenai cara menghitung ataupun mengalokasikan anggaran rumah tangga yang baik dan benar, sehingga para petani kopi di Kabupaten Dairi tersebut merasakan manfaat dari kegiatan penelitian ini.

10.Seharusnya hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai bahan acuan ataupun pedoman bagi pemerintah untuk senantiasa memberikan kemudahan kepada masyarakat di Kabupaten Dairi terkhusus kemudahan untuk memperoleh pengajaran dan pembelajaran. Mengatasi berbagai permasalahan terkait dengan kesulitan dalam memperoleh dana untuk memperoleh pendidikan di Kabupaten Dairi tersebut.

11.Sangat perlu dilakukan penelitian selanjutnya dengan beberapa variabel yang lebih kompleks terkait dengan kondisi lingkungan, kondisi kepemimpinan di daerah, dan kondisi hubungan diantara para petani kopi di Kabupaten Dairi tersebut.

78 DAFTAR PUSTAKA

Batubara, Martin. Rifai Ahmad dan Syaiful Hadi. 2012. “Analisis Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Karet Plasma Di Desa Sungai Baung Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu”. Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Riau. Riau.

Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 19, Edisi 5. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

Hakim, Abdul. 2002. Ekonomi Pembangunan. Ekonesia Kampus Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta.

Hamid, Abdul. 2010. Buku Panduan Penulisan Skripsi. Jakarta.

Kuncoro, Mudrajad. 2013. Metode Riset Untuk Bisnis & Ekonomi. Erlangga. Jakarta.

Mangkoesoibroto, Guritno dan Algifari. 1992. Teori Ekonomi Makro. STIE YKPN Yogyakarta. Yogyakarta

Najiati, Sri dan Daniarti, 1997. Kopi: Budidaya dan Penanganan Lepas Panen. Penebar Swadaya. Jakarta.

Ndakularak, Erwin. Setiawina, Nyoman Djinar dan Djayana, I Ketut. “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesejahteraan Masyarakat Kabupate/Kota Di Provinsi Bali”. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana. Bali

Negara, Budi Perwira. “Tingkat Pendapatan dan Kesejahteraan Keluarga Petani Ikan Keramba Apung di Kelurahan Siguhung Kecamatan Lubuk Busung Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat”. Tesis Perpustakaan Universitas Indonesia. Jakarta.

Sekaran, Uma. 2007. Research Methods For Business, Edisi 4. Salemba empat. Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 2014. Statistik Daerah Kabupaten Dairi 2014. Badan Pusat Statistik. Sidikang.

79 Sudarmanto, Gunawan. 2013. Statistika Terapan Berbasis Komputer. Mitra

Wacana Media. Jakarta.

Sugiarto. 2008. “Analisis Pendapatan, Pola Konsumsi dan Kesejahteraan Petani Padi Pada Basis Agroekosistem Lahan Sawah Irigasi di Pedesaan”. Jurnal Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian. Bogor.

Sugiharto, Eko. 2007. “Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Nelayan Desa Banua Baru Ilir Berdasarkan Indikator Badan Pusat Statistik” Jurnal Fakultas Sosial Ekonomi Perikanan FPIK Unmul Samarinda. Samarinda.

Trigestianto, Mohammad. Nur, Syarifudin dan Moch. Sugiarto. 2013. “Analisis Tingkat Kesejahteraan Peternak Sapi Potong Di Kabupaten Purbalingga”. Jurnal Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Purokerto, Jawa Tengah.

Todaro, P. Michael. 1977. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Edisi Pertama. Ghalia Indonesia, Bogor.

Todaro, P. Michael. 1984. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Edisi Kedua. Erlangga, Jakarta

80 Lampiran 1: Kuesioner Penelitian

KUESIONER

ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN PETANI KOPI DI

Dokumen terkait