• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Masukan (Input)

5.2.1 Penemuan dan Tata Laksana Penderita

5.2.1.3 Kendala dalam Proses Penemuan dan Tata Laksana

Kendala yang sering dijumpai dalam pelaksanaan penemuan dan penatalaksanaan penderita malaria adalah perilaku sembarangan meminum obat malaria oleh masyarakat yang dapat diperoleh di warung atau tempat penjualan lainnya, sehingga menimbulkan hambatan dalam penemuan penderita malaria karena telah meminum obat malaria pada saat dilakukan tes laboratorium sediaan darah, plasmodium tidak ditemukan dalam darah dan hasil pemeriksaan menjadi negatif.

Dalam pengobatan pasien malaria kendala yang ditemukan adalah masyarakat malas memeriksakan diri kembali ke puskesmas apabila sudah merasa sembuh dari gejala sakit yang diderita, sehingga menyebabkan sulitnya untuk melakukan pengobatan yang tuntas pada penderita malaria.

5.2.2 Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko

KEMENKES RI (2016) salah satu upaya percepatan eliminasi malaria adalah pemberian kelambu anti nyamuk terutama bagi daerah endemis tinggi dengan target minimal 80% penduduk di daerah tersebut mendapatkannya. Sedangkan untuk daerah endemis sedang, kelambu dibagikan hanya kepada kelompok berisiko tinggi yaitu ibu hamil dan bayi.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap informan di Puskesmas Panyabungan Jae, bahwa pencegahan dan penanggulangan vektor yang dilakukan dalam pelaksanaan program eliminasi malaria meliputi pendistribusian kelambu, kelambu dibagikan hanya kepada masyarakat yang tinggal di zona merah, zona

merah sendiri ditentukan oleh dinas kesehatan berdasarkan data kasus malaria yang telah dikumpulkan dari puskesmas kepada dinas kesehatan, kemudian data tersebut digabungkan dengan data klinik malaria dan ditetapkanlah data zona merah pada desa dengan kasus malaria tertinggi. Sementara itu, menurut hasil observasi dari beberapa data, keseluruhan wilayah kerja Puskesmas Panyabungan Jae sendiri merupakan daerah yang endemis tinggi malaria.

Natalia (2010), hasil penelitiannya menyatakan bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan membantu meningkatkan keadaan dan kondisi sikapmasyarakat tentang penyakit malaria adalah melaksanakan sosialisasi tentang usaha-usaha pencegahan penyakit malaria secara berkelanjutan yang dilakukan oleh semua pihak terkait. Masyarakat setempat juga perlu diyakinkan melalui penyuluhan bahwa penyakit malaria dapat dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Peningkatan kemampuan komunikasi sangat penting sehingga petugas kesehatan mampu menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat dalam setiap kesempatan.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap informan di Puskesmas Panyabungan Jae, selain pembagian kelambu puskesmas juga melakukan penyuluhan, yang disampaikan dalam penyuluhan malaria adalah menghimbau masyarakat agar mau dan mampu dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, penyuluhan yang disampaikan juga dalam menghimbau masyarakat untuk membudidayakan tanaman yang tidak disukai nyamuk di daerah pekarangan rumah.

93

Sesuai dengan pendapat sugiarto (2002) bahwa hubungan antar perilaku dengan masalah kesehatan (timbulnya penyakit) pada masyarakat, merupakan alasan utama instansi kesehatan seperti dunas kesehatan memunyai gagasan dalam pemberantasan penyakit sevara umum dan penyakit malaria khususnya dengan meningkatkan partisipasi masyarakat, terutama melakukan perumahan prilaku. Artinya, mereka harus menjadi bagian untuk mencegah terjadinya gigtan nyamuk. Salah satunya yang bisa dilakukan adalah melakukan penyuluhan, diskusi hidup sehat.

Menurut KEMENKES RI (2012), pencehan dan penanggulangan faktor resiko yang dilaporkan dalam program eliminasi malaria adalah sesuai dengan kegiatan pelaksanaan program eliminasi malaria meliputi pembagian kelambu berinsektisida yang di harapkan dapat mengurangi resiko sebanyak 80% pada daerah yang rentan malaria. Selain itu, penanggulangan dilaksanakan secara intensif yaitu dengan menambah tenaga terampil, meningkatkan akses penderita terhadap pengobatan dan pencegahan dengan menggunakan teknologi tepat guna yaitu obat ACT setelah konfirmasi diagnosis, pengamatan kasus dan vektor yang intensif untuk memutuskan rantai penularan. Hal ini perlu didukung kuat oleh pemerintah setempat dengan melibatkan masyarakat.

5.2.3 Surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah

KEMENKES RI (2012), Surveilans epidemiologi adalah suatu rangkaian proses pengamatan secara terus menerus sistemik dan berkesinambungan dalam pengumpulan, analisa dan interpretasi data kesehatan dalam upaya untuk menghasilkan hasil yang akurat yang dapat disebar luaskan dan digunakan sebagai

dasar untuk melaksanakan tindakan penanggulangan yang cepat dan tepat yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

5.2.3.1 Sistem Pelaporan SKD-KLB

KEMENKES RI (2013) SKD-KLB merupakan sistem kewaspadaan dini terhadap KLB malaria beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan menerapkam tekhnologi surveilans epidemiologi dan meningkatkan sikap dan tanggap kesiapsiagaan, upaya-upaya dan tindakan penanggulangan KLB malaria yang cepat dan tepat.

Menurut KEMENKES RI (2012), tujuan dari SKD-KLB malaria adalah untuk melakukan pengamatan dini (SKD) malaria di Puskesmas dan unit pelayanan kesehatan lainnya dalam rangka mencegah KLB malaria, menghasilkan informasi yang cepat dan akurat, penanggulangan KLB malaria secara dini, mendapat trend penyakit malaria dari ke waktu dan mendapatkan gambaran distribusi penyakit malaria menurut orang, tempat dan waktu.

Hasil penelitian yang dilaksanakan di Puskesmas Jae, pelaporan SKD-KLB belum pernah dilaksanakan karena belum pernah terjadi SKD-KLB di wilayah kerja Puskesmas Panyabungan Jae dan belum ada peningkatan kasus malaria yang berarti.

5.2.3.2 Sistem Informasi Pelaporan Kasus Malaria

Menurut KEMENKES RI (2013) sistem pelaporan kasus yang harus dilaksanakan puskesmas adalah melaksanakan perekaman, pencatatan dan pengolahan data data sebagai data surveilans rutin, surveilans khusus dan SKD-KLB, meliputi antara lain kejadian malaria, vektor, perilaku penduduk,

95

lingkungan dan lain sebagainya, dan melaporkan bulanan dan tahunan serta laporan khusus kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan penerimaan dan pemanfataan logistik program pengendalian malaria kepada Dinas Kabupaten/Kota. Melaksanakan analisis kejadian malaria di wilayah kerja menurut desa (stratifikasi) tahunan dan melaksanakan sistem deteksi dini KLB dengan pemantauan wilayah setempat kejadian malaria harian, mingguan atau bulanan dan informasi silang kejadian dengan puskesmas berbatasan sesuai dengan situasi malaria di daerahnya. Membuat peta lokasi tempat perindukan nyamuk penular malaria tahunan dan melaksanakan sistem deteksi dini kondisi rentan terjadinya KLB melalui pemantauan wilayah setempat terhadap faktor resiko malaria, baik berdasarkan kelompok masyarkat maupun berdasarkan wilayah dusun/RT/RW dan desa/kelurahan, pembinaan kader dan masyarakat di wilayah kerjanya untuk berperan secara aktif melaksanakan surveilans malaria surveilans berdasarkan partisipasi masyarakat.

Hasil peneltian di Puskemas Panyabungan jae, pada sistem pelaporan kejadian kasus malaria puskesmas telah mencatat dan melaporkan penderita malaria dan mengirimkan data tersebut kepada dinas kesehatan dan telah membuat pelaporan dan pencatatan penerimaan dan pengeluaran logistik dalam pelaksanaan program eliminasi malaria. Akan tetapi sistem deteksi dini KLB melalui pemantauan wilayah belum dilaksanakan pada Puskesmas Panyabungan Jae.

Menurut KEMENKES RI (2013), pencatatan dan pelaporan kasus malaria menggunakan sistem informasi yang di sebut sebagai “SISMAL” (Sistem Informasi dan Surveilans Malaria). Data dasar SISMAL didistribusikan kepada unit terkait dalam pengendalian malaria di Puskesmas, Dinas Kesehatan Kab/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi dan lain sebagainya. Analis malaria dapat menghasilkan informasi penting dalam rangka perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian program serta dalam dalam rangka monitoring evaluasi. Adapun alur pelaporan bulanan data penderita malaria adalah sebagai berikut :

Berdasarkan hasil wawancara terhadap informan di Puskesmas Panyabungan Jae, tentang sistem informasi pencatatan dan pelaporan kasus malaria di Puskesmas Panyabungan Jae, menyatakan bahwa setiap bulan kasus malaria di input oleh petugas kesehatan di puskesmas kedalam sistem informasi pelaporan kasus malaria yang dikirimkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal setiap bulannya.

Ditjen PP & PL Kementerian Kesehatan

Dinas Kesehatan Provinsi

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

97

5.2.4 Peningkatan KIE

Dalam rangka pengendalian penyakit malaria, pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.293 tahun 2009 tentang kebijakan eliminasi malaria. Dalam mengimplikasikan SK tersebut pemerintah daerah Kabupaten Mandaiing Natal telah melaksanakan SK tersebut, hal ini dapat disimpulkan dengan adanya peraturan bupati Mandailing Natal No.20 Tahun 2015 tentang eliminasi malaria yang dapat mendukung program eliminasi atau mengimplikasikan SK Menteri Kesehatan tentang eliminasi malaria. Dengan adanya perda ini adalah merupakan salah satu peningkatan KIE dalam program eliminasi malaria di Kabupaten Mandailing Natal.

Dokumen terkait