• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

C. Kendala yang dihadapi

Tema ini berfokus pada problem yang dihadapi subjek selama proses pengobatan, diantaranya problem di lingkungan sosial dan kendala biaya pengobatan.

1. Problem di lingkungan sosial

Terjadi konflik antara SE dan salah satu tetangga yang dimana mempengaruhi pikiran anak kandungnya bahwa SE sedang berada pada posisi koma seperti yang diucapkannya berikut:

“[...] malah saya itu mas ditelpon orang, kemarin ada yang telpon

saya, iih mba katanya mba kanker gini, siapa yang ngomong, saya tanya siapa namanya, ndak mau dibilang, saya bilang sama teman-teman yang lain, manusia itu ndak bisa kita rem mulutnya, saya juga begitu, beban pikiran anak saya dipengaruhi, saya menangis, anak

saya menangis juga...[...]”

“[...] anak saya dipengaruhi sama tetangga-tetangga, kan anak saya menelfon itu malem itu, mah.. Katanya mamah Njah mamah itu sudah koma mah disana, saya menangis neflon, saya bilang sudah nak ndak usah didengar orang ngomong, mamah sehat alhamdulillah”

(SE: 255-259)

Tetangga yang berkonflik dengan SE beranggapan bahwa kondisi SE sudah parah, dan SE sempat memikirkan perkataan tetangga tersebut terkait dengan penyakit kanker subjek.

“[...] manusia itu ndak semuanya menerima penyakit begini itu, dia

udah anggap kanker itu parah saja. Jadi mas tahu saya pulang kemarin, saya memang sudah tahu namanya di komplek, mulut orang di komplek kita ndak bisa jaga, begitu lihat saya kayak di strum, mungkin ngomongnya saya itu bagaimana kemarin [...] kemarin saya pengajian tiba disana, oh ibu dah sehat, alhamdulillah bu saya sehat, saya ndak apa-apa kok. Jadi selama ini orang itu menganggap saya itu sudah betul-betul parah...[...]”

(SE: 631-640)

“Tadinya saya pikir mas, setelah kakak saya bilang, sudah ndak usah

kau pikirkan, itu membuat kau umur panjang, iya alhamdulillah, saya gitu [...] tapi saya pikir sudahlah ngapain kita pikir orang punya omong, bagaimana kita mau kunci mulut orang, sudah terserah kamu

mau ngomong, saya sehat kok, gitu aja”

(SE: 649-656)

Setelah terkena kanker, terjadi perubahan sikap dari tetangga yang dirasakan AW berbeda dan lebih pasif, serta perlakuan dijauhi oleh lingkungan sekitar.

“Sebagian itu, kalau temen nganu ya itu. Kalau tetangga ya wis mari?

piye? cuma gitu, tapi beda sama yang dulu lho pak, dulu kan ngobrol

bareng, ngrokok bareng misalkan, sekarang ya ndak cuma gitu...[...]”

“Kalau yang misalkan temen yang tanya bener temen ya ada si yang

nganu, tapi kebanyakan cuek lah, sudah beda sama yang lain. Mungkin ya pikirannya itu karena satu pikirannya kalau saya nangkepnya ya pak satu mungkin mesakke, nggak usah dinganu,

kedua karena yowis ben sukur bilang gitu tho pak...[...]”

(AW: 473-477)

“[...] misalkan kemarin wae pas jum'atan, saya kan mau pulang

jum'atan biasanya sof depan itu kan depan terus kebelakang, saya kan yang termasuk agak depan, kok sebelah saya itu ndak ada yang ngisi, sebelah saya persis, dulu itu kalau saya depan langsung gabung gabung, saya berpikiran berarti wong itu mikire kanker ki nulare lewat itu, sepengetahuan saya itu, mikire wah kae kanker berarti lewatnya.. ya mungkin saya ngerasa itu, pas posisi saya pindah sof depan sama suasanannya ora koyo.. mungkin mereka sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu, mungkin pura-pura tidak tahu karena tidak peduli”

(AW: 463-472)

Menurut ER, perhatian dari keluarga dan tetangga lebih intensif ketika ER sudah terkena kanker, dan juga ER merasa dibedakan dari yang lain karena orang lain terlalu berhati-hati menjaga perkataan ketika berbicara dengan ER.

“Sebelum tuh biasa aja ya, maksudnya, yang pasti sesudah itu mungkin keluarga lebih perhatian, ya ikut sedih lah, terus mungkin mencoba menghibur atau membesarkan, ditambah ya apa.. ya support materi juga, terus tetangga juga ya pada nengok, pada ya.. lebih perhatian kayaknya sesudah tahu, dan mungkin lebih hati-hati kalau ngomong itu kayaknya nggak nggak se los dulu gitu ya, mungkin

hati-hati takutnya gimana”

(ER: 142-148)

“Kalau keluarga.. keluarga si enggak ada rasa itu ya, nggak ada rasa

jadi dibedain, cuma malah mungkin lebih baik, lebih perhatian setiap

hari nanyain, terus malah sering datang kerumah”

“[...] jadi apa ya.. mungkin karena orang lain terlalu hati-hati jadi rasanya kayak beda gitu, rasanya aja.. sebetulnya ya engga cuma saya ngerasa orang lain itu terlalu hati-hati menjaga bicara gitu, jadi kadang

saya merasa beda gitu ya sama yang lain”

(ER: 150-154)

2. Kendala biaya pengobatan

AW menjelaskan bahwa biaya pengobatan menjadi salah satu kendala dimana AW harus menggunakan uang tabungan dan sampai menjual motor sebagai uang tambahan untuk pengobatan dan kehidupan sehari-hari.

“[...] kan ada tabungan ya alhamdulillah sedikit, tambah ini saya

kemarin jual motor lah untuk biaya sini ngalor ngidul, nah kan motor saya daripada ndak kepakai juga tho tak tinggal radiasi tak jual wae wis [....] untuk kehidupan sehari-hari misalkan untuk ngekost, ya istri saya kan juga kerja tho pak, kan operasi duluan kan pakai uang sendiri

ya lumayan lah pak...[...]”

(AW: 548-554)

ER juga menjelaskan bahwa biaya menjadi salah satu kendala dimana biaya pengeluaran untuk pengobatan dirasa cukup banyak bagi ER.

“[...] bayarnya juga ya lumayan banyak ya, bayar rumah sakit, ya cukup banyak lah”

(ER: 202-203)

“Ya.. sejauh ini bisa bayar tapi ya mengeluarkan banyak lah, cuma sejauh ini masih bisa gitu, saya masih bisa bayar. Cuma cukup banyak

untuk saya itu cukup banyak ya”

53 BAB VI

Dokumen terkait