• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kendala yang dihadapi pustakawan dalam pelaksanaan literasi informasi di perpustakaandi perpustakaan

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

3. Kendala yang dihadapi pustakawan dalam pelaksanaan literasi informasi di perpustakaandi perpustakaan

Tabel 8

Kendala Pelaksanaan Literasi Informasi

No. Kategori Hasil Wawancara

1. Koneksi internet

- “ee…kalau Saya lebih kepada pertama jaringan internet ya, koneksinya” (AFD) - “Ketika ada sumber yang bagus, dan kita

tidak bisa mengakses” (RFQ) 2. Koleksi non

cetak

- “Dan ee…jurnal-jurnal yang kita langgan itu banyak juga yang tidak mengkaji tentang Islam, ada beberapa yang tampaknya harus kita miliki, tapi itu belum” (AFD)

- “Sumber-sumber yang sifatnya seperti jurnal, belum banyak yang bisa kita langgan” (RFQ)

3. Penambahan ruangan

- “Saya senang sekali kalau di perpustakaan ini ada ruangan khusus. Perbaikan lantai 1 dan lantai 2 ya untuk dijadikan perpustakaan” (AFD)

di katalog itu, disitu tersedia, tapi pas dicari dirak ngga ada” (NUR)

5. Jumlah

koleksi

- “Pasti kurang, ngga pernah ada yang merasa cukup setiap perpustakaan” (RFQ)

Ketiga informan mengatakan bahwa kendala dalam penerapan program literasi informasi ini adalah fasilitas perpustakaan yang masih kurang memadai, seperti koneksi internet, koleksi perpustakaan berupa jurnal-jurnal Islam yang belum banyak dilanggan, penambahan ruangan, dan status ketersediaan koleksi di katalog yang dikarenakan penempatan koleksi di rak yang masih tidak beraturan, serta jumlah koleksi yang kurang.

C. Pembahasan

Pada bagian ini peneliti akan menjelaskan pembahasan dari hasil penelitian pada bab IV. Hasil penelitian pelaksanaan program literasi informasi di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu dengan melaksanakan program orientasi perpustakaan. Dimana di dalam orientasi perpustakaan, materi yang diajarkan berupa pengenalan terhadap perpustakaan secara umum, biasanya diberikan ketika siswa baru memasuki suatu lembaga pendidikan bersangkutan.29

29

Ade Abdul Hak, Pendidikan Pemakai : perubahan perilaku pada siswa madrasah dalam sistem pembelajaran berbasis perpustakaan , Perpustakaan sebagai Centre for Learning Society, (Jakarta : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah, 2005), h. 103.

Menurut hasil wawancara peneliti dengan informan 1 yaitu AFD, menjelaskan bahwa model literasi informasi yang digunakan di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta secara umum adalah model literasi informasi the big six yang dikembangkan oleh Michael B. Eisenberg dan Robert E. Berkowitz30, sebagaimana yang sudah peneliti jelaskan pada bab II di atas.

Selain itu, tujuan dari pelaksanaan literasi informasi di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta secara umum adalah agar pemustaka dapat menelusur informasi yang dibutuhkan secara mandiri dan dapat melakukan kegiatan evaluasi terhadap informasi tersebut, serta dapat menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien. Dan hal ini sesuai dengan teori standar kompetensi literasi informasi untuk perguruan tinggi, yang tertuang pada standar kedua dan ketiga.31

Kendala yang dihadapi pustakawan dalam melaksanakan program literasi informasi di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu fasilitas perpustakaan yang masih kurang memadai, seperti koneksi internet, koleksi perpustakaan berupa jurnal-jurnal Islam yang belum banyak dilanggan, penambahan ruangan, dan status ketersediaan koleksi di katalog, serta jumlah koleksi yang kurang. Hal ini sesuai dengan hambatan pengajaran literasi informasi pada

30

Diao Ai Lien, dkk., Literasi Informasi : tujuh langkah knowledge management (Jakarta : Universitas Atma Jaya, 2010), h. 4.

31

Ida Farida, Urgensi Pengajaran Information Literacy pada Tingkat Perguruan Tinggi , Al-Maktabah, vol. 8, no. 2 (Oktober 2006) : h. 36.

perguruan tinggi, yaitu berupa kebijakan nasional mengenai pengajaran literasi informasi dan anggaran perpustakaan yang terbatas.32

32

Ida Farida, Urgensi Pengajaran Information Literacy pada Tingkat Perguruan Tinggi , Al-Maktabah, vol. 8, no. 2 (Oktober 2006) : h. 47.

77

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya dan setelah peneliti menggabungkan antara keadaan lapangan dengan teori yang sudah dijabarkan sebelumnya, dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :

1. Upaya yang telah dilakukan pihak perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam melaksanakan program literasi informasi yaitu dengan orientasi perpustakaan, yang di dalamnya ada kegiatan pengenalan fasilitas perpustakaan, pengenalan kebijakan perpustakaan, sumber daya manusia, dan sumber daya informasi dimana pada kegiatan tersebut pemustaka diajarkan strategi penelusuran informasi. Dalam kegiatan orientasi perpustakaan, pustakawan terlibat langsung di dalamnya yang bertugas sebagai mentor.

2. Pendapat mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terhadap pelaksanaan literasi informasi di perpustakaan, merasakan semua upaya yang telah dilakukan oleh perpustakaan sudah maksimal. Dan manfaat yang didapat oleh pemustaka setelah mengikuti kegiatan orientasi perpustakaan berupa literasi informasi adalah

pemustaka dapat menelusur informasi yang dibutuhkan secara mandiri, dan dapat mengevaluasi serta menggunakan informasi tersebut secara efektif dan efisien, walaupun masih saja ada kendala dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

3. Kendala berupa jurnal Islam yang ingin dilanggan oleh perpustakaan masih belum dapat terealisasi. Selain itu, gangguan koneksi internet pada saat pengaksesan jurnal yang telah dilanggan perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta masih sering terjadi.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh serta pembahasan tentang hasil tersebut, maka penulis menyampaikan saran-saran sebagai berikut :

1. Untuk lebih meningkatkan intensitas literasi informasi sivitas akademika Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, perpustakaan harus lebih memperhatikan pada keragaman jenis jurnal yang dilanggan dan koleksi yang digunakan, agar senantiasa diperbaharui dan dikembangkan menjadi lebih baik.

2. Meningkatkan kerjasama antar pimpinan, pustakawan, dan dosen untuk saling memberi motivasi kepada sivitas akademika Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta agar dapat memanfaatkan perpustakaan secara efektif dan efisien.

3. Untuk meningkatkan kualitas penerapan literasi informasi di perpustakaan, pimpinan dan pustakawan juga harus dapat lebih

memperhatikan dimensi layanan, sarana prasarana yang berkualitas yang meliputi beberapa kriteria antara lain : sarana penunjang belajar, layanan online, kegiatan promosi perpustakaan.

4. Penambahan tenaga ahli pengelola perpustakaan yang mampu mengelola perpustakaan dan mengembangkannya sebagai sumber belajar bagi sivitas akademika Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

80

Ade Abdul Hak.Pendidikan Pemakai : perubahan perilaku pada siswa madrasah dalam sistem pembelajaran berbasis perpustakaan, perpustakaan sebagai centre for learning society. Jakarta : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah, 2005.

Abdul Rahman Saleh. Manajemen Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta : Universitas Terbuka, 1995.

F. Rahayuningsih.Pengelolaan Perpustakaan. Yogyakarta : Graha Ilmu, 2007. Ida Farida. “Urgensi Pengajaran Information Literacy pada Tingkat Perguruan

Tinggi.”Al-Maktabah, vol. 8, no. 2 (Oktober 2006), h. 36-47.

_________. Information Literacy Skill : Dasar Pembelajaran Seumur Hidup. Jakarta : UIN Jakarta Press, 2005.

Diao Ai Lien, dkk. Literasi Informasi : Tujuh Langkah Knowledge Management. Jakarta : Universitas Atma Jaya, 2010.

“Literasi Informasi : Kunci Kemajuan yang Terbuang.” Artikel diakses pada 19 April 2014 dari http://www.bit.lipi.go.id/masyarakat-literasi/index.php/literasi-informasi-kunci-kemajuan-yang-terbuang

Loo, Alfred and C.W. Chung. “A Model for Information Literacy Course Development : A Liberal Arts University Perspective.” Emeraldinsight, 24 October 2005, h. 3.

Moleong, Lexy J.. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007.

Morteson and Lau, Jesus (2006). Informasion Competencies : bridging the North South Knowledge Gap. Diakses 22 Oktober 2014 dari

http://www.library.uiuc.edu/mortenson/pdf/laulecture.pdf.

Noerhayati Soedibyo. Pengelolaan Perpustakaan, Jilid 1. Bandung : Alumni, 1987.

Owusu, Edward K. and Ansah. “Debating Definitions of Information Literacy : Enough is Enough.”Emeraldinsight, vol. 54, no. 6 (March 2005), h. 2. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Standar Nasional Perpustakaan.

Rizal Saiful Haq, dkk. Pengantar Manajemen Perpustakaan Madrasah. Jakarta : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah, 2006.

Sedarmayanti dan Syarifudin Hidayat. Metodologi Penelitian. Bandung : Mandar Maju, 2002.

Sugiyono.Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta, 2012.

Sulistyo Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Sutarno NS.Tanggung Jawab Perpustakaan dalam Mengembangkan Masyarakat Informasi. Jakarta : Pantai Rei, 2005.

The Association of College and Research Libraries (ACRL). Information Literacy Competency Standards for Higher Education. Amerika : ACRL, 2000, h. 4-5.

Jabatan : Kepala Perpustakaan Tanggal : Sabtu, 28 Juni 2014

Peneliti : Sebelumnya Saya Winda Fatmaela Risa, mahasiswa S1 UIN Jakarta, jurusan Ilmu Perpustakaan, semester akhir. Disini Saya sedang mengadakan penelitian untuk skripsi Saya yang bertemakan tentang Literasi Informasi yang diadakan di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Sebelumnya bisa ibu perkenalkan diri dulu, nama dan jabatan.

Pustakawan : oke Saya Alfida, K.A Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Peneliti : yang ingin Saya tanyakan disini :

1. Apa yang Ibu tahu tentang literasi informasi atau melek informasi?

Jawab : melek informasi atau yang lebih sering dikenal literasi informasi itu adalah suatu program/konsep yang tujuannya adalah eee…mengenalkan kepada ee…mahasiswa atau boleh juga pengguna yang menggunakan perpustakaan tentang

bagaimana melakukan penelitian. Diawali dengan ee…bagaimana kita bisa melocated

informasi kemudian melakukan berbagai strategi untuk mengakses, kemudian mengevaluasi, menggunakan, dan men-share atau mempresentasikannya kepada orang lain. Sebagai seorang pelajar atau dalam konteks masyarakat itu adalah masyarakat yang bertanggung jawab.

Jawab : standar…ee…kita memakai secara umum yah ee…ya misalnya yang

digunakan oleh eemmm…ACRL atau juga The Big Six. Tapi itu secara umum kan, walaupun berbeda-beda namanya, umumnya sama ya. Jadi diawali dengan bagaimana

ee…mereka bisa ee…mengenal atau mengetahui apa yang mereka butuhkan, awalnya

dengan melakukan istilah pendefinisian, penelitian apa yang ingin mereka cari, kemudian mereka bisa melakukan pemilihan-pemilihan ee…tentang kata-kata atau konsep atau berupa sinonim, antonim, dan kelompok kata lainnya yang digunakan untuk memudahkan pencarian.

(peneliti : serta bisa mengevaluasi ya bu?)

Jawab : iya, nanti berikutnya ee…iya tentu setelah dia bisa mengakses, tentu dia bisa mengevaluasi untuk mana yang ee…dikatakan otoritatif, current, atau juga reliable

informasi yang sudah didapat, sehingga dapat digunakan papernya atau kebutuhan informasinya.

(peneliti : pertanyaan ketiga…)

3. Bagaimana awal terbentuknya kegiatan literasi informasi di perpustakaan Sekolah Pascasarjana ini?

Jawab : oke..ee…disini ee…apa namanya ya itu eueu….awalnya sih hanya berupa satu atau dua orang yang melakukan e…tanya jawab tentang informasi yang dibutuhkan, kemudian ee…ketika dikelas ada keinginan-keinginan mahasiswa dan juga dosen yang merasakan bahwa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang harusnya

kebetulan memandang itu perlu.

(peneliti : jadi ada masukan dari dosen dan pemustaka?)

Jawab : ya betul, dan berjalannya dengan ee…sekarang ini ya yang artinya terorganisir, terjadwal itu juga terlaksana berkat ee…koordinasi dengan ini e…apalah

ya pimpinan disini.

(peneliti : pertanyaan selanjutnya…)

4. Apakah kegiatan literasi informasi sudah menjadi salah satu kegiatan rutin di perpustakaan Sekolah Pascasarjana?

Jawab : kalau sifatnya klasikal sih ngga ya ee…klasikal itu dilakukan per semester ya

ee…jika dipandang itu dibutuhkan, maka kita melakukan lebih dari satu semester.

Tapi kalau sifatnya individual itu sering sekali. Jadi sebenarnya literasi informasi itu tidak harus dilakukan secara klasikal dengan banyak orang, tapi kan orang butuh informasi itu berbeda-beda. Jadi, kalo sifatnya individual, setiap saat kita melakukan. (peneliti : jadi ngga harus dari awal perkuliahan ya?)

Jawab : ngga…ngga…kapan mereka butuhkan.

(peneliti : secara umum tujuan kegiatan literasi informasi ini untuk pemustaka itu seperti apa bu?)

Jawab : ee…secara umum ya eueu…itu pertama dia bisa memanfaatkan apa yang sebenarnya sudah ada, baik itu e…koleksi-koleksi serta ee…kemampuan dirinya, karna literasi informasi tidak hanya sekedar dia tau e…apa namanya apa yang ada,

perpustakaan dan didirinya sendiri dengan bagaimana dia sebenarnya tampil, artinya

eueu…bahwa ee…fungsi perpustakaan atau pustakawan itu sendiri tidak dipandang sesuatu yang ee…marginal. Tapi bisa berdiri bersama-sama untuk kesuksesan mahasiswa.

(peneliti : pertanyaan selanjutnya…)

5. Keterampilan literasi informasi apa saja yang diajarkan kepada pemustaka? Apakah ada tahapan-tahapan tertentu dalam mengajarkan literasi informasi tersebut?

Jawab : pertama ee…kita awali dengan saat-saat seperti ACRL melakukannya ya. Jadi kita awali dengan mahasiswa sudah mempunyai konsep/tujuan, artinya sudah punya topik/katakanlah bukan topik, tapi ada sesuatu yang sebenarnya ingin mereka bahas dengan datang ke perpustakaan, dan bagaimana kita bisa mengarahkan mereka. Apa yang mereka ingin teliti. Oleh karena itu, kalau dia sudah tau apa yang ingin diteliti, maka dia akan menemukan keyword-keyword yang akan dia butuhkan untuk pencarian informasi, karena tanpa dia mengetahui apa yang dia inginkan itu,

ee…pencarian ee…ngga akan kemana-mana, sia-sia ya, kemana-mana ngga fokus. Jadi yang paling penting adalah mengetahui apa yang akan mereka teliti, kemudian

ee…dengan itu pula mereka bisa memilih konsep-konsep yang paling penting,

prioritas tentunya untuk dijadikan pencarian, baik itu sinonimnya. Nah…kadang -kadang mahasiswa tidak menemukan eee….satu konsep itu. Dengan konsep yang

dijadikan untuk judul, tapi mereka akan menemukan ketika mereka gunakan sebagai sinonim, antonim, atau kelompok kata atau sebagainya. Ya kemudian ya setelah

ee…apalagi ya semacam itu lah.

(peneliti : tapi yang sering digunakan oleh pemustaka itu sendiri apa bu? Boolean atau apa?)

Jawab : bermacam-macam, karna kan ee… satu database itu tidak menyediakan

semua fasilitas itu. Seperti google itu tidak begitu perlu dengan Boolean ya, dia lebih banyak menggunakan transcation. Biasanya database yang profit ya, makanya

ee…mahasiswa sebaiknya mengenal karakteristik dan itu kadang-kadang ngga

terjamah oleh mahasiswa. Sampai kita mengenalkan kalau kamu menggunakan misalnya proquest, sebaiknya menggunakan operator yang ini. Kalau google yang kayak gini. Itu kan ngga jadi perhatian oleh mahasiswa, tapi Saya kira itu adalah kewajiban apa ya pustakawan lah ya untuk mengenalkan kepada mereka. Setelah

mengenalkan operator, ee…kita melakukan mencoba menunjukkan itu tadi. Kemudian, ee….kalau memungkinkan sih biasanya mereka melakukan sendiri,

mereka mencoba, satu atau dua orang kita perlihatkan bagaimana misalnya artikel ini

ditulis oleh siapa, ee…dia sudah memenuhi syarat akademik ngga, misalnya ada abstrak, ada bibliografi, kemudian ditulis oleh siapa, kapan ee…memang kita

mengenalkan limiting atau pembatasan dari tahun, other, dan sebagainya. Tapi kita juga mengenalkan kalau tahunnya segini memang dianggap current atau ee…sudah

tidak current. Jadi hal-hal seperti itu juga termasuk dalam kategori evaluasi ya. Baru mereka menggunakan dan ketika presentasi memang ee…lebih banyak kepada dosen

Pascasarjana ini?

Jawab : penerapannya? Oke…kalau dari sisi materi ya Saya sendiri selalu

meng-update ya, misalnya begini ee…paling tidak Saya akan cek semua database-database yang sudah ada atau saya sudah punya materinya, kemudian Saya cek lagi apakah dia masih oke atau tidak. Kadang-kadang kan suka adaunder contraction, ada yang harus bayar. Yang tadinya benar-benar free berapa tahun lalu, sekarang sudah tidak free

lagi. Makanya kita harus cek untuk memastikan bahwa itu oke. Dan kalau ada bahan atau materi baru, Saya selalu meng-update-nya. Dan Saya kira itu juga dilakukan oleh teman-teman yang kebetulan bareng, seperti bu Ida ya. Memastikan bahwa ini

ee…apa yang biasanya kita sharing, kemudian apa yang bisa dikembangkan lagi tentang bahan atau materi, karna kita bertanggung jawab tentang materi ya.

(peneliti : jadi selalu berkembang ya bu ya dari tahun ke tahun?)

Jawab : ee…iya ee…secara materinya iya. Kayak strateginya pun Saya kira ada lah

kita melakukan penyegaran ya. Jadi ngga itu-itu aja.

7. Usaha atau upaya apa saja yang telah dilakukan perpustakaan Sekolah Pascasarjana dalam menerapkan literasi informasi ini?

Jawab : usaha ya? Ee...ya pertama kita tentu menyediakan bahannya, kemudian

melaksanakan, dan juga kita ee…belum kita upload sih. Kita ingin membuatnya itu menjadionline tutorialdi website.

ee…mengaksesnya, bagaimana cara untuk memanfaatkan database-database.

(peneliti : tapi dalam pengaksesan itu ada apa kayak kendala atau apa gitu bu? Respon dari pemustaka yang selama mengakses itu mengalami kesulitan atau bagaimana?)

Jawab : ya kesulitannya itu ee…pertama ya ee…kalau internetnya lagi tidak oke. Yang kedua, ee…ini kalau mereka ngga tau ee…ngga dapet ya itu selalu mereka temui. Misalnya ini yang Saya inginkan gitu ya, tapi ngga dapet. Mereka kadang-kadang tidak mau mencari alternatif lain ya. Mungkin sudah terlalu pusing ya atau apa. Tapi kita berusaha memberikan alternatif yang lain gitu ya, jadi itu juga bisa dimanfaatkan.

8. Kendala apa saja yang dihadapi Ibu selaku pustakawan dalam menerapkan literasi informasi ini? Dan bagaimana cara Ibu menanggulangi semua kendala tersebut?

Jawab : ee…kalau Saya lebih kepada pertama jaringan internet ya, koneksinya. Yang

kedua, yang dibutuhkan disini ee…karna dia ee…institusi Islam ya, jadi mahasiswa

itu walaupun background-nya apa, kajiannya apakah ekonomi, perpustakaan,

kemudian ee…manajemen, tetap itu harus mengutamakan bagaimana konsep Islam

itu harus ada di dalamnya. Dan ee…jurnal-jurnal yang kita langgan itu banyak juga yang tidak mengkaji tentang Islam, ada beberapa yang tampaknya harus kita miliki,

tapi itu belum. JSTOR ee…sudah oke, tapi ada lagi yang lain seperti Project News, itu kajian-kajian yang cukup baik untuk ee…studi-studi Islam. Saya sudah anjurkan,

academic.edu atau ditempat lain atau abstraknya atau bisa aja ada temennya ada yang kuliah dimana, minta tolong lah seperti itu. Tapi Saya tetep memberikan informasi tentang hal ini kepada kepala perpustakaan, supaya ini bisa dijadikan masukan untuk bisa dibeli ditahun yang akan datang.

(peneliti : selain itu, apa ada kendala lain bu?)

Jawab : kalo kendala lain ya ee…ini ya apa namanya misalnya fasilitas kita ini,

ditempat ini Saya senang sekali kalau di perpustakaan ini ada ruangan khusus, karna kalau ada ya artinya tidak mengorbankan orang yang tidak mau ikut gitu ya. Kadang-kadang kan dalam satu sesi itu kan orang tidak nyaman belajar ya, karna rame, dan sebagainya.

(peneliti : untuk hal itu bagaimana Ibu menanggulanginya?)

Jawab : oke ee…sudah diajukan sih, pasca sudah mengajukan juga untuk perbaikan

lantai 1 dan lantai 2 ya untuk dijadikan perpustakaan, tapi ya itu lagi masih dalam proses. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ya, amin.

(peneliti : apa itu saja atau ada kendala yang lain bu?) Jawab : Saya kira itu ya.

(peneliti : kiranya itu saja yang Saya tanyakan. Sebelumnya terima kasih atas informasinya).

Tanggal : Jumat, 27 Juni 2014

Peneliti : Sebelumnya Saya Winda Fatmaela Risa, mahasiswa S1 UIN Jakarta, jurusan Ilmu Perpustakaan, semester akhir. Disini Saya sedang mengadakan penelitian untuk skripsi Saya yang bertemakan tentang Literasi Informasi yang diadakan di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Sebelumnya bisa Bapak perkenalkan diri dulu, nama dan jabatan.

Nama Saya Rofiq, jabatannya staf perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Peneliti : yang ingin Saya tanyakan…

1. Apa yang Bapak tahu tentang literasi informasi atau melek informasi?

Jawab : literasi informasi menurut Saya itu ee…kemampuan seseorang untuk

mengetahui kebutuhan informasi terus ee…mencari, menemukan informasi tersebut

dan menggunakan informasi tersebut. (peneliti : mengevaluasi gitu ya pak?)

Jawab : he’emm…

2. Dalam penerapan literasi informasi di perpustakaan Sekolah Pascasarjana, apakah ada standar tertentu yang digunakan?

Jawab : eemmm….kalau Saya ngga.

(peneliti : terus berdasarkan apa pak kalo ngga ada standarnya?) Jawab : maksudnya?

Jawab : ya berdasarkan kebutuhan aja. Jadi misalkan eee…ada ee…seseorang, kalo misalkan itu mahasiswa ya…dia butuh informasi ya kita bantu sebisa kita. Misalkan ee…kebutuhannya apa, nanti kita bantu. Jadi ngga berpedoman seperti AACR, dan

lain-lain itu ngga. Itu kalau Saya pribadi ngga menggunakan itu.

(peneliti : itu pemustaka datang sendiri atau Bapak yang mendatangi pemustaka itu?) Jawab : ya ada dua konsep, dia bisa tidak kondisional berarti dia datang pada waktu yang tidak terduga dan yang kondisional ya pada waktu orientasi mahasiswa baru. 3. Bagaimana awal terbentuknya kegiatan literasi informasi di perpustakaan Sekolah Pascasarjana ini? Atau apa yang mendorong perpustakaan Sekolah Pascasarjana menerapkan kegiatan literasi informasi ini?

Jawab : kalo…yang tidak terduga kan ee…membantu mahasiswa, baik

pustakawannya sendiri ya melek informasi. Jadi mahasiswa tahu informasi yang dibutuhkan untuk apa.

(peneliti : jadi ngga ada saran atau apa dari pemustaka atau dosen untuk diadakannya literasi informasi ini?)

Jawab : ya ada

(peneliti : jadi salah satunya itu ya pak yang mendorong?)

Jawab : he’em…

4. Apakah kegiatan literasi informasi sudah menjadi salah satu kegiatan rutin di perpustakaan Sekolah Pascasarjana?

dibutuhkan juga ada. Dan kalo yang tahunan ee…eh…bukan tahunan, maksudnya

tahun ajaran baru, setiap penerimaan mahasiswa baru ya ada, itu rutin.

5. Keterampilan literasi informasi apa saja yang diajarkan kepada pemustaka? Apakah ada tahapan-tahapan tertentu dalam mengajarkan literasi informasi tersebut? Jawab : ya browsing, ee…keterampilan browsing, keterampilan menggunakan

e…informasinya, informasi tersebut ee…seperti itu.

(peneliti : sedangkan tahapan-tahapan itu sendiri ada atau ngga?)

Jawab : biasanya browsing dulu ya, ketika misalkan dia mencari tentang apa, nanti

ketika e…ditemukan oh…ini terdapat di ensiklopedi, nanti baru diajarkan bagaimana

menggunakan ensiklopedi itu seperti apa.

(peneliti : itu diajarkan pada awal perkuliahan atau orientasi ya pak?)

Jawab : di orientasi seperti itu, disini (perpustakaan) juga seperti itu. Misalkan mau cari tentang apa, browsing dulu dikatalog, nanti setelah ketemu, terus dia merasa

Dokumen terkait