Pelaksanaan literasi informasi di Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

141 

Teks penuh

(1)

DI PERPUSTAKAAN SEKOLAH PASCASARJANA

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan (S.IP)

Oleh :

Winda Fatmaela Risa

NIM : 1110025000070

JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)

Dengan ini saya menyatakaan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari hasil orang lain, saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Oktober 2014

(5)

i Winda Fatmaela Risa

Pelaksanaan Literasi Informasi di Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Penelitian ini dilakukan di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang dilakukan oleh perpustakaan dalam pelaksanaan literasi informasi, untuk mengetahui pendapat mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terhadap pelaksanaan literasi informasi yang ada, dan untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi pustakawan dalam pelaksanaan literasi informasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang pengambilan datanya melalui observasi atau pengamatan langsung dan wawancara dengan pustakawan dan pemustaka. Untuk pengambilan sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan melakukan literasi informasi dengan mengadakan program kegiatan orientasi perpustakaan yang dilakukan setiap penerimaan mahasiswa baru. Upaya-upaya yang dilakukan berupa pengenalan fasilitas perpustakaan, pengenalan kebijakan perpustakaan, sumber daya manusia, dan sumber daya informasi, yang di dalamnya terdapat pengajaran strategi penelusuran informasi. Sedangkan, pendapat dari beberapa mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengenai program kegiatan orientasi perpustakaan, merasa puas dan merespon baik kegiatan tersebut. Adapun kendala yang dihadapi pustakawan dalam melaksanakan program literasi informasi sangat beragam, yaitu berupa masih banyaknya jurnal Islam yang belum dilanggan, koneksi internet yang masih sering terganggu, dan jumlah koleksi perpustakaan yang kurang, serta penambahan ruang perpustakaan yang masih dalam proses pengajuan kepada lembaga induk yang menaungi perpustakaan.

(6)

ii

Puji dan syukur kehadirat Ilahi Rabbi, yang telah memberikan nikmat, hidayah dan inayahnya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa umatnya dari kegelapan hingga terang benderang yang penuh cahaya hidayah, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, semoga kami semua mendapatkan syafaatnya dihari kiamat nanti, amin.

Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan baik moril maupun materiil terhadap penulis. Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada :

1. Bpk. Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.HUM, selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bpk. Pungki Purnomo, MLIS, selaku Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan. 3. Bpk. Mukmin Suprayogi, M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Ilmu

Perpustakaan.

4. Ibu Ida Farida, MLIS, selaku dosen pembimbing penulis yang membantu, mengarahkan, dan menuntun penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.

(7)

iii

menerima penulis untuk melakukan penelitian. Terima kasih atas kerjasamanya, dan segala motivasi dan informasi yang telah ibu berikan kepada penulis.

7. Orang tuaku, Bapak Cecep Kurniawan dan Ibu Lilis Setyo Murni yang

senantiasa memberikan dorongan penuh serta do’a ikhlas dalam sepanjang

hidupku, semoga Allah selalu melindungi dan memberikan kesehatan kepada Bapak dan Mamah sepanjang masa.

8. Kakakku Yuyun Lisa Kurnia Dewi dan adikku Anna Amalia, terima kasih

canda tawa dan do’a kalian menjadi semangat tersendiri bagiku.

9. Seluruh keluarga besar penulis. Terima kasih atas segala do’a, perhatian,

dan dukungannya yang diberikan selama ini, semoga Allah akan memberikan balasannya atas kebaikan kalian selama ini.

10. Terima kasih pula kepada teman-teman penulis Rochmah, Agista, Ludfia, Rinda, Nurun, Vidi, Syifa, Irma, Tiwi, dan seluruh teman-teman Jurusan Ilmu Perpustakaan 2010 terutama IPI C, yang sama-sama berjuang untuk menyelesaikan skripsinya.

(8)

iv kita semua, amin.

(9)

v

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ……….4

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………...5

D. Metode Penelitian 1. Jenis dan Pendekatan Penelitian ………...6

(10)

vi

1. Definisi Perpustakaan Perguruan Tinggi ………..12

2. Tugas Perpustakaan Perguruan Tinggi ……….13

3. Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi ………14

4. Tujuan Perpustakaan Perguruan Tinggi ………15

B. Literasi Informasi ………17

1. Sejarah Literasi Informasi ……….17

2. Definisi Literasi Informasi ………19

3. Model Literasi Informasi ………..21

4. Standar Kompetensi Literasi Informasi untuk Perguruan Tinggi………...24

5. Manfaat Literasi Informasi………...38

6. Program Literasi Informasi ... 40

7. Hambatan Pengajaran Literasi Informasi pada Perguruan Tinggi di Indonesia ... ... 43

C. Penelitian Relevan ………..49

BAB III GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN SEKOLAH PASCASARJANA UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA A. Sejarah Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ……….51

B. Visi, Misi, dan Tujuan Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ……….53

1. Visi Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta………..…53

(11)

vii

Syarif Hidayatullah Jakarta ……….54

D. SumberDaya Manusia ………55

E. Layanan Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta………...55

1. Sistem Layanan ……… 55

2. Jam Layanan ……….56

3. Jenis Layanan ………56

F. Koleksi Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta………. 59

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian………... 64

B. Hasil Penelitian ………...65

1. Upaya Perpustakaan dalam Melaksanakan Literasi Informasi ...………... 65

2. Pendapat Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terhadap Pelaksanaan Literasi Informasi di Perpustakaan ... 70

(12)

viii

1. Tabel 1 Jam Layanan ... 56

2. Tabel 2 Jumlah Koleksi Tesis dan Disertasi ... 60

3. Tabel 3 Jumlah Koleksi Multimedia ...63

4. Tabel 4 Kriteria Informan ... 64

5. Tabel 5 Hasil Wawancara ... 65

6. Tabel 6 Hasil Wawancara ... 67

7. Tabel 7 Pendapat Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ...70

(13)

ix

(14)

1. Lampiran 1 Surat Izin Penelitian

(15)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kegiatan sehari-harinya sebuah organisasi, perusahaan, maupun individu menghasilkan dokumen yang berisi informasi. Hal itu ditambah pula dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang secara langsung membuat jumlah informasi semakin banyak. Teknologi yang ada sekarang ini semakin memudahkan kita untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari mana saja dan dalam bentuk apapun.

Ribuan dan bahkan jutaan informasi berada di sekitar kita. Berbagai jenis media menyampaikannya hingga sampai kepada setiap orang. Media penghantarnya antara lain : lisan, media cetak, media non cetak. Lisan atau komunikasi dapat mengakibatkan pertukaran informasi. Macam media cetak, seperti surat kabar, majalah, tabloid, selebaran, spanduk, papan iklan. Sedangkan, media non cetak, seperti televisi, radio, telepon genggam, internet.

(16)

Untuk mendapatkan kemampuan ini seseorang perlu mendapat pendidikan dan bimbingan terlebih dahulu. Pendidikan literasi informasi hendaknya diperkenalkan sejak dini agar seseorang nantinya terbiasa dengan pencarian informasi yang dibutuhkan sehari-hari terutama dalam bidang akademik. Kemampuan literasi semacam ini bersifat longlife learning atau dengan kata lain pembelajaran yang berguna sepanjang hayat.

Literasi juga dapat membentuk pribadi yang berpikir kritis. Untuk itu sangat penting kemampuan berpikir kritis karena seseorang tidak percaya begitu saja dengan informasi yang ada serta didapatnya. Kemampuan seperti inilah yang dapat mendorong seseorang untuk selalu ingin tahu terhadap segala informasi yang selalu berkembang dan terus mencari kebenarannya, kemudian ia mencari informasi dari berbagai sumber dan akhirnya dapat menemukan kebenaran informasi. Dengan demikian, seseorang dapat mengembangkan analisis kritis dan kemampuan komunikasi, mengenali dan menghargai berbagai format informasi yang tersedia di masyarakat saat ini dan mengevaluasi secara kritis dan etis dengan menggunakan informasi yang dibutuhkan.1

Pada dasarnya perpustakaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses penyelenggaraan pendidikan, baik formal maupun non formal. Oleh sebab itu, perpustakaan penting bagi pengembangan literasi informasi, pengajaran, pembelajaran dan kebudayaan. Sejak pendidikan dasar, menengah pertama, menengah atas sampai perguruan tinggi, perpustakaan sangat dibutuhkan.

1

(17)

Perumpamaan perpustakaan sebagai sebuah jantung bagi instansi pendidikan tinggi (perguruan tinggi) bahwa keberadaan perpustakaan mutlak sangat diperlukan dan sangat penting serta berperan sekali untuk menunjang proses pendidikan dan kegiatan belajar mengajar. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan penunjang Tri Dharma perguruan tinggi yaitu sebagai pusat kegiatan belajar mengajar, pusat penelitian, dan informasi.

Seperti yang tertuang dalam Standar Nasional Perpustakaan (SNP) 010:2011, dinyatakan bahwa “jenis layanan perpustakaan perguruan tinggi, meliputi : layanan

sirkulasi, layanan referensi, literasi informasi, layanan teknologi informasi dan komunikasi.”2 Dan salah satu contoh perpustakaan perguruan tinggi yang telah menerapkan literasi informasi kepada pemustakanya adalah perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, perpustakaan ini mempunyai koleksi dan fasilitas yang sangat beragam dan telah terotomasi.

Dengan melihat tujuan dari diterapkannya literasi informasi di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu agar pemustaka secara mandiri dapat menelusur informasi yang dibutuhkan. Akan tetapi, pada kenyataannya masih saja ada kendala dalam menerapkan literasi informasi tersebut, sehingga menyebabkan ada beberapa pemustaka yang belum dapat menelusur informasi yang dibutuhkannya secara mandiri.

2

(18)

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membahas tentang penerapan literasi informasi. Untuk itu penulis menuangkannya dalam sebuah penelitian skripsi sebagai tugas akhir dari perkuliahan, yang berjudul “Pelaksanaan Literasi Informasi di Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta”.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Batasan masalah yang akan diteliti oleh penulis, yaitu : 1. Pelaksanaan literasi informasi.

2. Perpustakaan yang dijadikan tempat penelitian adalah perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Untuk mempermudah pelaksanaan penelitian ini, maka penulis merumuskan beberapa pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana peran dan upaya pustakawan dalam melaksanakan literasi informasi yang ada di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?

2. Bagaimana pendapat mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terhadap pelaksanaan literasi informasi yang ada di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?

(19)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Agar permasalahan yang telah dirumuskan menjadi lebih jelas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk memperoleh gambaran mengenai peran dan upaya pustakawan dalam melaksanakan literasi informasi yang ada di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Untuk mengetahui pendapat mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terhadap pelaksanaan literasi informasi yang ada di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh pustakawan dalam melaksanakan literasi informasi yang ada di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Adapun manfaat dari penelitian ini di antaranya adalah dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Dapat digunakan sebagai acuan bagi pustakawan di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam meningkatkan kegiatan literasi informasi.

(20)

D. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang diterapkan adalah penelitian deskriptif, sebagaimana menurut Sedarmayanti dan Syarifudin Hidayat dalam buku Metode Penelitian, metode penelitian deskriptif yaitu suatu metode yang digunakan untuk mencari fakta status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang dengan interpretasi yang tepat.3

Pendekatan penelitian yang dilakukan adalah dengan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian kualitatif sebagaimana menurut Bogdan dan Taylor, metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.4

2. Sumber Data

Pada penelitian ini, sumber data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari dua data, yaitu :

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh melalui penelitian langsung dengan melakukan penelitian yang terdiri atas hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan pustakawan dan sivitas akademika di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3

Sedarmayanti dan Syarifudin Hidayat,Metodologi Penelitian, Bandung : Mandar Maju, 2002, h. 33.

4

(21)

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data-data yang tersedia dan telah diolah terlebih dahulu seperti buku-buku dan literatur lainnya yang berkaitan dengan penelitian yang bertemakan tentang literasi informasi.

3. Informan

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.5 Penentuan informan ditentukan dengan mencari tahu pihak yang paling memahami objek penelitian di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia memiliki posisi penting, sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek atau situasi sosial yang diteliti.6 Penulis menggunakan beberapa informan dalam penelitiannya, yaitu :

a. Pustakawan di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam hal ini pustakawan merupakan orang yang paling berperan penting dalam pelaksanaan literasi informasi yang ada di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5

Ibid, 2011, h. 90.

6

(22)

Adapun pustakawan di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, terdiri dari :

1. Kepala perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Ibu Alfida, MLIS.

2. Bapak Ainurofiq, S.IP, dan 3. Ibu Nurhasanah, S.Pd.

b. Mahasiswa di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang pernah mengikuti kegiatan literasi informasi, karena pemustakalah yang menjadi obyek utama dari pelaksanaan literasi informasi di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Disini penulis membatasi mahasiswa yang menjadi informan berjumlah 3 orang.

4. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini disesuaikan dengan fokus dan tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data dari penelitian ini, yaitu :

a. Observasi, dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang akan diteliti dalam hal ini literasi informasi yang ada di perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(23)

c. Studi Pustaka, yaitu dilakukan dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan penelitian ini sebagai bahan acuan.

5. Teknik Analisa Data

Data akan dianalisis melalui tiga tahapan, yaitu : a. Reduksi data

Data yang diperoleh penulis melalui wawancara dan kajian pustaka dicatat dengan rinci, mengelompokkan atau memilah-milah dan memfokuskan pada hal penting dengan demikian data yang didapat bisa memberikan gambaran yang jelas.

b. Penyajian data

Setelah data direduksi, penulis melakukan penyajian dalam bentuk teks bersifat naratif.

c. Penarikan kesimpulan

Data-data yang terangkum dan dijabarkan dalam bentuk teks naratif, penulis buatkan kesimpulan. Kesimpulan digunakan untuk menjawab rumusan masalah.

E. Daftar Istilah

(24)

F. Sistematika Penulisan

Dalam sistematika penulisan ini akan menguraikan secara sistematis mulai dari Bab I sampai Bab V dengan rincian sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan

Bab ini berisi tentang latar belakang, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, definisi istilah, dan sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Literatur

Bab ini memuat teori-teori yang berasal dari kajian mengenai definisi perpustakaan perguruan tinggi, fungsi dan tujuan perpustakaan perguruan tinggi. Sejarah literasi informasi, definisi literasi informasi, model literasi informasi, standar kompetensi literasi informasi untuk perguruan tinggi, manfaat literasi informasi, program literasi informasi, dan hambatan pengajaran literasi informasi untuk perguruan tinggi.

Bab III Gambaran Umum Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(25)

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab ini membahas tentang hasil penelitian yang berkaitan dengan pelaksanaan literasi informasi, seperti upaya yang dilakukan, bentuk kegiatan, dan pendapat mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terhadap kegiatan literasi informasi di perpustakaan, serta kendala dalam melaksanakan kegiatan literasi informasi.

Bab V Penutup

(26)

12

BAB II

TINJAUAN LITERATUR

Pada bab 2 ini akan dibahas mengenai teori yang berkaitan dengan penelitian ini, disajikan literatur yang mendukung dan beberapa istilah yang muncul dalam kajian ini.

A. Perpustakaan Perguruan Tinggi

1. Definisi perpustakaan perguruan tinggi

Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang berada di lingkungan perguruan tinggi (akademi, sekolah tinggi, universitas, institut, politeknik) dimana para penggunanya adalah para mahasiswa, dosen, dan karyawan suatu perguruan tinggi.7 Perpustakaan perguruan tinggi didirikan untuk menunjang pencapaian tujuan perguruan tinggi yang bersangkutan dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.8 Oleh karena pentingnya lembaga perpustakaan perguruan tinggi, maka perpustakaan tersebut sering disebut sebagai jantungnya universitas yaitu dalam rangka penelitian ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan.

7

Abdul Rahman Saleh, Manajemen Perpustakaan Perguruan Tinggi (Jakarta : Universitas Terbuka, 1995), h. 17.

8

(27)

Pada hakikatnya perpustakaan perguruan tinggi adalah suatu unit kerja yang merupakan bagian integral dari suatu lembaga induknya, yang bersama-sama dengan unit lainnya tetapi dalam peranan yang berbeda, bertugas membantu perguruan tinggi yang bersangkutan dalam melaksanakan tri dharmanya.9

2. Tugas, fungsi, dan tujuan perpustakaan perguruan tinggi a. Tugas perpustakaan perguruan tinggi

Pada dasarnya perpustakaan tidak berdiri sendiri, melainkan berada di dalam suatu ruang lingkup atau di bawah koordinasi suatu lembaga atau organisasi yang mempunyai tugas yang tidak jauh berbeda. Menurut Sutarno NS, tugas perpustakaan secara garis besar ada tiga, yaitu :

1. Tugas menghimpun informasi, meliputi kegiatan mencari, menyeleksi, mengisi, perpustakaan dengan sumber informasi yang memadai atau lengkap baik dalam arti jumlah, jenis, maupun mutu yang disesuaikan dengan kebijakan organisasi, ketersediaan dana, dan keinginan pemakai serta mutakhir.

2. Tugas mengelola, meliputi proses pengolahan, penyusunan, penyimpanan, pengemasan agar tersusun rapih, mudah ditelusuri kembali (temu kembali informasi) dan diakses oleh pemakai, dan merawat bahan pustaka.

3. Tugas memberdayakan dan memberikan layanan secara optimal. Perpustakaan sebagai pusat informasi yang menyimpan berbagai ilmu pengetahuan, memberikan layanan informasi yang ada untuk 9

(28)

diberdayakan kepada masyarakat pengguna, sehingga perpustakaan menjadi agen perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi, teknologi dan budaya masyarakat. Termasuk dalam tugas ini adalah upaya promosi dan publikasi serta sosialisasi agar masyarakat pengguna mengetahui dengan jelas apa yang ada dan dapat dimanfaatkan dari perpustakaan.10

Secara umum tugas perpustakaan perguruan tinggi adalah menyusun kebijakan dan melakukan tugas rutin untuk mengadakan, mengolah, dan merawat bahan pustaka serta mendayagunakannya baik bagi sivitas akademika maupun masyarakat di luar kampus.

b. Fungsi perpustakaan perguruan tinggi

Fungsi sebuah perpustakaan merupakan penjabaran lebih lanjut dari semua tugas perpustakaan. Fungsi-fungsi itu dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan perpustakaan. Karena perpustakaan merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam sistem pendidikan suatu lembaga.

Menurut Abdul Rahman Shaleh, fungsi perpustakaan perguruan tinggi dapat ditinjau sedikitnya dari dua segi, yaitu :

1. Dari segi layanan, perpustakaan mempunyai enam fungsi yaitu sebagai pusat :

10

Sutarno NS, Tanggung Jawab Perpustakaan Dalam Mengembangkan Masyarakat Informasi

(29)

a. Pengumpulan informasi b. Pengolahan informasi c. Penelusuran informasi d. Pemanfaatan informasi e. Penyebarluasan informasi

f. Pemeliharaan serta pelestarian informasi

2. Dari segi program kegiatannya, perpustakaan mempunyai tiga macam fungsi, yaitu :

a. Sebagai pusat layanan informasi untuk program pendidikan dan pengajaran.

b. Sebagai pusat layanan informasi untuk program penelitian, dan c. Sebagai pusat layanan informasi untuk program pengabdian

pada masyarakat.11

c. Tujuan perpustakaan perguruan tinggi

Secara umum tujuan perpustakaan perguruan tinggi, yaitu :

1. Memenuhi keperluan informasi masyarakat perguruan tinggi, lazimnya staf pengajar dan mahasiswa. Sering pula mencakup tenaga administrasi perguruan tinggi.

2. Menyediakan bahan pustaka rujukan (referens) pada semua tingkat akademis, artinya mulai dari mahasiswa tahun angkatan pertama hingga ke mahasiswa program pasca sarjana dan pengajar.

11

(30)

3. Menyediakan ruangan belajar untuk pemakai perpustakaan.

4. Menyediakan jasa peminjaman yang tepat guna bagi berbagai jenis pemakai.

5. Menyediakan jasa informasi aktif yang tidak saja terbatas pada lingkungan perguruan tinggi tetapi juga lembaga industri lokal.12

Secara khusus tujuan diselenggarakannya perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk menunjang atau mendukung, memperlancar, serta mempertinggi pelaksanaan program pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi, dengan melalui pelayanan informasi yang meliputi lima aspek, yaitu :

a. Pengumpulan informasi b. Pengolahan informasi c. Pemanfaatan informasi d. Penyebarluasan informasi

e. Pemeliharaan atau pelestarian informasi13

Tujuan tersebut akan dapat terlaksana sebagaimana mestinya, apabila : a. Terjalin hubungan kerjasama yang harmonis antara perpustakaan dengan

dosen atau asisten.

12

Sulistyo-Basuki,Pengantar Ilmu Perpustakaan(Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1993), h. 52 13

(31)

b. Diketahui tujuan instruksional dari mata kuliah yang diasuh oleh dosen atau asisten yang bersangkutan.

c. Diketahui secara pasti strategi mengajar, kebutuhan perkuliahan dan penelitian para dosen atau asisten dan terjalin hubungan kerjasama antara perpustakaan dengan mahasiswa dari masing-masing bidang studi dengan menetapkan kebutuhan umum maupun individual sebagai persiapan tugas-tugas kelas atau penelitian lainnya.14

B. Literasi Informasi

1. Sejarah Literasi Informasi

Seorang berkebangsaan Amerika bernama Paul Zurkowski, Presiden

Information Industry Association, adalah orang pertama yang menggunakan istilah literasi informasi. Dijelaskan bahwa individu yang melek informasi adalah orang yang terlatih dalam penerapan sumber daya informasi untuk pekerjaan mereka. Mereka belajar teknik-teknik dan keterampilan-keterampilan untuk memanfaatkan cakupan yang luas dari sarana informasi sebagaimana juga sumber-sumber utama dalam memecahkan permasalahan mereka.15

Pustakawan sudah sejak lama mempunyai perhatian terhadap isu perlunya mengajar keterampilan kepada pemakai untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkannya. Pengajaran perpustakaan sudah dimulai sejak

14

Noerhayati Soedibyo,Pengelolaan Perpustakaan jilid 1(Bandung : Alumni, 1987), h. 3. 15

Edward K. Owusu-Ansah, “Debating Definitions of Information Literacy : Enough is Enough”,”

(32)

tahun 1858, ketika Ralph Waldo Emerson memberikan pengajaran mengenai penggunaan perpustakaan di Harvard College. Sejak itu istilah yang digunakan untuk pengajaran keterampilan ini pun beragam, seperti : pendidikan pemakai perpustakaan, keterampilan perpustakaan, pengajaran perpustakaan, dan instruksi bibliografi. Istilah-istilah ini berkaitan dengan pengajaran perpustakaan secara tradisional. Pendekatan pengajaran tradisional didesain untuk mengajarkan mahasiswa mengenai pentingnya penggunaan perpustakaan secara efektif. Keterampilan perpustakaan yang diajarkan meliputi pengetahuan mengenai gedung, lokasi, fasilitas yang dimiliki perpustakaan serta pengetahuan bagaimana mengakses sumber-sumber yang terdapat di perpustakaan, seperti pengajaran mengenai katalog perpustakaan yang merupakan wakil dokumen dari koleksi perpustakaan, indeks terbitan berkala yang merupakan panduan mencari koleksi berkala, dan koleksi referensi. Mahasiswa juga diajarkan mengenai tajuk subjek dan kata kunci, mengenal nomor panggil buku dan menemukan buku di perpustakaan. Tujuan pengajaran keterampilan ini masih terbatas yaitu agar para mahasiswa dapat menggunakan koleksi di perpustakaan untuk tugas-tugas akademik mereka.

(33)

“keterampilan perpustakaan” ke mandat pengajaran yang lebih luas yaitu

information literacy”.

Pengajaran information literacy yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan beragam istilah, seperti di antaranya keberaksaraan informasi, melek informasi, keterampilan informasi, informasi literasi, dan lain sebagainya, tidak hanya terbatas pada penggunaan sumber-sumber di perpustakaan pada perguruan tinggi tetapi juga berkaitan dengan pengajaran bagaimana mengakses informasi dalam berbagai jenis, dimana saja tanpa dibatasi oleh dinding perpustakaan.16

Setelah munculnya beragam tulisan seperti ini, banyak yang menyadari pentingnya kemampuan literasi informasi bagi masyarakat umum. Terlebih lagi dengan pesatnya teknologi yang menuntut kemampuan ini mutlak dimiliki.

2. Definisi Literasi Informasi

Literasi informasi sering disebut juga dengan keberaksaraan informasi atau kemelekan informasi. Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, literasi informasi sering dikaitkan dengan kemampuan mengakses dan memanfaatkan secara benar informasi yang tersedia. Wacana tersebut semakin menyeruak di panggung pendidikan Indonesia.

16 Ida Farida, “Urgensi Pengajaran Information Literacy pada Tingkat Perguruan Tinggi”,

(34)

Menurut Standar Nasional Perpustakaan (SNP) 010:2011, literasi informasi adalah kemampuan untuk mengenal kebutuhan informasi untuk memecahkan masalah, mengembangkan gagasan, mengajukan pertanyaan penting, menggunakan berbagai strategi pengumpulan informasi, menetapkan informasi yang cocok, relevan, dan otentik.

Definisi lainnya diberikan oleh ACRL (Association of College and Research Libraries), menurutnya literasi informasi adalah seperangkat kemampuan yang diperlukan individu untuk mengenali, menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan secara efektif informasi yang dibutuhkan.17

Jika pendidikan pemakai adalah melatih pemakai bagaimana menggunakan perpustakaan dan koleksinya, maka literasi informasi ini berfokus pada strategi dan proses pencarian informasi serta kompetensi penggunaan informasi.18 Maka perbedaan yang mendasar antara kedua istilah tersebut adalah literasi informasi lebih luas karena yang tercakup di dalam literasi informasi tidak saja informasi yang berada di dalam perpustakaan saja, tetapi juga informasi di luar perpustakaan. Dan nilai edukasi di dalam literasi informasi lebih banyak.

17

The Association of College and Research Libraries (ACRL), Information Literacy Competency Standards for Higher Education(Amerika : ACRL, 2000), h. 4.

18

(35)

3. Model Literasi Informasi

Ada beberapa model literasi informasi atau disebut juga sebagai pendekatan dalam pengajaran keterampilan information literacy yang sudah berkembang saat ini. Berikut adalah beberapa model yang sudah dikenal baik tentang literasi informasi.

a. The Big Six

Adalah model literasi informasi yang dikembangkan oleh Michael B. Eisenberg dan Robert E. Berkowitz pada tahun 1987.19

Model literasi informasi yang ditawarkan olehthe big sixialah seperti di bawah ini, yaitu :

1. Menerjemahkan tugas, yaitu menentukan tujuan dan kebutuhan informasi.

2. Strategi mencari informasi, yaitu menguji pendekatan alternatif untuk mendapatkan informasi yang sesuai guna memenuhi kebutuhan informasi pada tugas yang dibebankan.

3. Menemukan dan mendapatkan informasi, yaitu menemukan sumber informasi yang berasal dari sumber referensi, terbitan berseri, media, komputer dan informasi yang terkandung dalam sumber-sumber tersebut.

19

(36)

4. Menggunakan informasi, yaitu menggunakan informasi dalam satu sumber melalui kegiatan-kegiatan seperti membaca dengan teliti, melihat, mendengarkan, serta mengapresiasi sastra (cerita rakyat, fiksi, dan juga biografi).

5. Melakukan sintesa, yaitu mengintegrasikan informasi yang digambarkan dari sejumlah sumber-sumber dengan cara mengorganisasikannya dari berbagai sumber dengan cara membuat kerangka dan melukiskannya.

6. Melakukan evaluasi, yaitu membuat suatu keputusan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, dengan cara membuat perbandingan, menentukan kriteria, dan sebagainya.20

b. Empowering 8

Adalah model literasi informasi yang dihasilkan dari dua lokakarya (workshop). Lokakarya yang diadakan di Kolombo pada bulan November 2004 dan yang kedua di Patiala (India) pada bulan November 2005 (International Workshop on Information

Skill for Learning “Empowering 8”). Lokakarya tersebut dihadiri oleh Negara Banglades, India, Indonesia, Maldiva, Malaysia, Nepal, Pakistan, Singapura, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam.

20

(37)

Empowering 8 menggunakan pendekatan pemecahan masalah berupa resource-based learning, yaitu suatu kemampuan untuk belajar berdasarkan pada sumber datanya. Menurut model ini, literasi informasi terdiri atas kemampuan untuk :

1. Mengidentifikasi topik/subjek, sasaran audiens, format yang relevan, jenis sumber.

2. Mengeksplorasi sumber dan informasi yang sesuai dengan topik.

3. Menyeleksi dan merekam informasi yang relevan dan mengumpulkan kutipan yang sesuai.

4. Mengorganisasi, mengevaluasi, dan menyusun informasi menurut susunan yang logis, membedakan antara fakta dan pendapat, dan menggunakan alat bantu visual yang membandingkan dan mengkontraskan informasi.

5. Menciptakan informasi dengan menggunakan kata-kata sendiri, mengedit dan membuat daftar pustaka ataupun menghasilkan karya baru.

6. Mempresentasi, menyebarkan atau menyampaikan informasi yang dihasilkan.

7. Menilai luaran (output) berdasarkan pada masukan (input) dari orang lain.

(38)

menggunakan pengetahuan baru yang diperoleh untuk berbagai situasi.21

c. From Library Skills to Information Literacy (California School

Library Association)

The California School Library Association telah mengembangkan dan menerbitkan sebuah handbook untuk para guru dan pustakawan yang memperlihatkan bagaimana penggabungan information literacy ke dalam kurikulum (California School Library Association1997). From Library Skills to Information Literacy : a handbook for the 21th Century

menguraikan sebuah model information literacy dengan tiga komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu :

1. Pemikiran si pencari 2. Proses pencarian

3. Strategi-strategi pengajaran.22

4. Standar Kompetensi Literasi Informasi untuk Perguruan Tinggi

Dalam buku yang berjudul “Information Literacy Competency

Standards for Higher Education” yang dikutip oleh Ida Farida, standar

kompetensi yang ditetapkan oleh ACRL ini terdiri dari lima standar dan 24

21

Liao Ai Lien, dkk., Literasi Informasi : Tujuh Langkah Knowledge Management (Jakarta : Universitas Atma Jaya, 2010), h. 5.

22

(39)

indikator kinerja yang kemudian dijabarkan ke dalam beberapa hasil yang diharapkan, sebagai gambaran untuk mengukur keberhasilan program literasi informasi. Berikut standar kompetensi literasi informasi di perguruan tinggi, yaitu :23

Standar Pertama

Mahasiswa yang melek informasi dapat menentukan kebutuhan informasinya.

Indikator kinerja :

1. Mahasiswa yang melek informasi dapat mendefinisikan dan mengartikulasikan informasi yang dibutuhkan.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Melakukan perundingan dengan instruktur dan berpartisipasi dalam diskusi kelas, kelompok kerja teman sebaya, dan diskusi elektronik untuk mengidentifikasi topik penelitian, atau kebutuhan informasi lainnya.

b. Membangun sebuah pernyataan tesis (thesis statement) dan memformulasikan pertanyaan berdasarkan informasi yang dibutuhkan. c. Mengekplorasi sumber informasi secara umum untuk meningkatkan

pemahaman tentang topik tertentu.

d. Mendefinisikan atau memodifikasi kebutuhan informasi untuk mencapai fokus yang terarah.

23 Ida Farida, “Urgensi Pengajaran Information Literacy pada Tingkat Perguruan Tinggi”,

(40)

e. Mengidentifikasikan konsep kunci dan istilah yang dapat menggambarkan kebutuhan informasi.

f. Mengenal bahwa informasi yang ada dapat dikombinasikan dengan pemikiran orisinil, eksperimentasi, dan/atau analisa untuk memproduksi informasi yang baru.

2. Mahasiswa yang melek informasi dapat mengidentifikasi berbagai jenis dan bentuk sumber informasi yang berpotensi.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Mengetahui bagaimana informasi secara formal dan non formal diproduksi, diorganisasikan dan disebarkan.

b. Mengenal bahwa pengetahuan dapat diorganisasikan ke dalam disiplin keilmuan yang mempengaruhi cara dalam mengakses informasi. c. Mengidentifikasi nilai dan perbedaan sumber-sumber dalam beragam

bentuk yang berpotensi (seperti multimedia, pangkalan data, website, set data, audio/visual, buku).

d. Mengidentifikasi tujuan dan audiens dari sumber-sumber yang berpotensi (seperti popular vs. ilmiah, terkini vs. masa lalu).

e. Membedakan antara sumber-sumber pertama dan kedua (primary and secondary sources), mengenali bagaimana penggunaan dan kepentingannya yang beragam bagi setiap disiplin keilmuan.

(41)

3. Mahasiswa yang melek informasi dapat mempertimbangkan biaya dan keuntungan dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Menentukan keberadaan informasi yang dibutuhkan dan membuat keputusan dalam memperluas proses pencarian informasi di luar sumber-sumber lokal (seperti peminjaman antar perpustakaan, penggunaan sumber pada lokasi lain, mendapatkan gambar, video, teks, atau suara).

b. Mendefinisikan rencana keseluruhan yang realistis dan menyusun jadwal untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

4. Mahasiswa yang melek informasi dapat mengevaluasi kembali informasi yang dibutuhkannya.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Melihat kembali kebutuhan informasi awal untuk mengklarifikasi, merivisi, atau memperbaiki pertanyaan.

b. Menggambarkan kriteria yang digunakan untuk mengambil keputusan tentang informasi dan pilihan-pilihan.

Standar Kedua

Mahasiswa yang melek informasi dapat mengakses informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien.

(42)

1. Mahasiswa yang melek informasi dapat memilih metode investigasi yang paling tepat atau sistem temu kembali informasi untuk mengakses informasi yang dibutuhkan.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Mengidentifikasi metode investigasi yang tepat (misalnya eksperimen di laboratorium, simulasi, lapangan/fieldwork).

b. Menginvestigasi keuntungan dan keterpakaian/applicability beragam metode investigasi.

c. Menginvestigasi cakupan, isi, dan organisasi sistem temu kembali informasi.

d. Menyeleksi pendekatan yang efisien dan efektif untuk mengakses informasi yang dibutuhkan dari metode investigasi atau sistem temu kembali informasi.

2. Mahasiswa yang melek informasi dapat mengkonstruksikan dan mengimplementasi secara efektif strategi-strategi pencarian yang terdesain.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Membangun rencana penelitian yang sesuai dengan metode investigasi.

b. Mengidentifikasi kata kunci, sinonim dan istilah yang berkaitan dengan informasi yang dibutuhkan.

(43)

d. Mengkonstruksikan strategi pencarian menggunakan perintah yang tepat untuk sistem informasi temu kembali yang dipilih (misalnya operator Boolean, pemotongan (truncation), pengorganisasian internal seperti indeks untuk buku.

e. Mengimplementasikan strategi penelusuran ke dalam berbagai sistem temu kembali informasi menggunakan user interface dan mesin pencari yang berbeda, bahasa perintah yang berbeda, dan parameter-parameter pencarian.

f. Mengimplementasikan penelusuran menggunakan investigative protocolsyang sesuai dengan disiplin keilmuan.

3. Mahasiswa yang melek informasi dapat menemukan kembali informasi terpasang (information online) atau secara individu menggunakan metode yang beragam.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Menggunakan beragam sistem penelusuran untuk mendapatkan informasi dalam bentuk yang bervariasi.

b. Menggunakan skema klasifikasi yang beragam dan sistem lainnya (misalnya sistem nomor panggil atau indeks) untuk mendapatkan sumber-sumber informasi di dalam perpustakaan atau untuk mengidentifikasi situs tertentu dalam rangka eksplorasi fisik (physical exploration).

(44)

(misalnya peminjaman antar perpustakaan/layanan pengiriman dokumen, asosiasi profesional, institusi penelitian, community resources, ahli dan praktisi).

d. Menggunakan survei, surat, interview, dan bentuk pertanyaan lainnya untuk mendapatkan informasi pertama.

4. Mahasiswa yang melek informasi dapat memperbaiki strategi penelusuran jika diperlukan.

Hasil-hasil meliputi :

a. Mengukur kuantitas, kualitas, dan relevansi hasil penelusuran untuk menentukan apakah sistem temu kembali informasi alternatif atau metode investigasi harus digunakan.

b. Mengidentifikasi kesenjangan (gaps) dalam informasi yang ditemukan dan menentukan jika strategi penelusuran harus diperbaiki.

c. Mengulang penelusuran menggunakan strategi yang sudah diperbaiki jika diperlukan.

5. Mahasiswa yang melek informasi dapat mensarikan (extracts), merekam (records), dan mengelola informasi dan sumber-sumbernya.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Memilih teknologi yang paling sesuai diantara beragam teknologi yang ada untuk tugas mensarikan informasi yang dibutuhkan (misalnya fungsi software copy/paste/mesin fotocopy, scanner, peralatan audio/visual, atau alat untuk mengeksplor (exploratory).

(45)

c. Membedakan antara jenis sumber-sumber yang disitir dan memahami elemen dan sintaksis yang benar ketika menyitir dari sumber-sumber yang luas.

d. Merekam semua informasi mengenai sitiran yang bersangkutan untuk referensi.

e. Menggunakan teknologi yang beragam untuk mengelola informasi yang terpilih dan terorganisasi.

Standar Ketiga

Mahasiswa yang melek informasi dapat mengevaluasi informasi dan sumber-sumber informasi secara kritis dan menyatukan informasi terseleksi ke dalam pengetahuan dasarnya dan sistem lainnya.

Indikator kinerja :

1. Mahasiswa yang melek informasi dapat meringkas ide-ide utama yang disarikan dari informasi yang dikumpulkan.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Membaca teks dan memilih ide utama.

b. Mengungkapkan kembali konsep teks dengan kata-katanya sendiri dan memilih data secara akurat.

c. Mengidentifikasi bahan secara kata demi kata atau harfiah yang dapat dikutip kemudian dengan tepat.

(46)

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Menguji dan membandingkan informasi dari beragam sumber untuk mengevaluasi realibilitas, validitas, akurasi, otoritas, ketepatan, dan sudut pandang atau bias.

b. Menganalisa struktur dan logika dalam mendukung argumen atau metode.

c. Mengenali prejudis, kebohongan atau manipulasi.

d. Mengenali secara budaya, fisik, atau konteks lainnya yang mempengaruhi pembentukkan informasi dan memahami pengaruh konteks tersebut dalam menginterpretasikan informasi.

3. Mahasiswa yang melek informasi dapat mensintesa atau mengumpulkan dan menjadikan satu ide-ide utama untuk menggagas konsep baru.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Mengenali hubungan antara konsep-konsep dan menggabungkannya menjadi pernyataan utama yang berpotensi dan berguna dengan bukti yang mendukung.

b. Memperluas sintesa awal, jika memungkinkan, pada tingkatan abstraksi yang lebih tinggi untuk menggagas hipotesa baru, yang mungkin membutuhkan informasi tambahan.

c. Menggunakan komputer dan teknologi lain (misalnya spreadsheets,

(47)

4. Mahasiswa yang melek informasi dapat membandingkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya untuk menentukan nilai tambah, kontradiksi, atau karakteristik unik dari informasi.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Menentukan apakah informasi memuaskan penelitian atau kebutuhan informasi lainnya.

b. Menggunakan secara sadar kriteria terpilih untuk menentukan apakah informasi kontradiksi atau mengukuhkan informasi yang digunakan dari sumber-sumber lain.

c. Mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang dikumpulkan. d. Menguji teori dengan teknik-teknik yang sesuai dengan disiplin

keilmuan (misalnya simulator, eksperimen).

e. Menentukan kemungkinan akurasi dengan mempertanyakan sumber data, keterbatasan peralatan atau strategi pengumpulan informasi, dan kesimpulan yang ada.

f. Mengintegrasikan informasi baru dengan informasi atau pengetahuan sebelumnya.

g. Memilih informasi yang memberikan bukti-bukti untuk topik tertentu. 5. Mahasiswa yang melek informasi dapat menentukan apakah pengetahuan

yang baru mempunyai pengaruh terhadap sistem nilai individu dan mengambil langkah-langkah untuk menyelaraskan perbedaan.

(48)

a. Menginvestigasi sudut pandang yang berbeda yang ditemukan dalam literatur.

b. Menentukan apakah akan menyetujui atau menolak sudut pandang yang ditemukan.

6. Mahasiswa yang melek informasi dapat memvalidasi pemahaman dan interpretasi informasi melalui diskusi dengan individu lain, ahli dalam subyek tertentu, dan/atau praktisi.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Berpartisipasi dalam diskusi di kelas dan diskusi lainnya.

b. Berpartisipasi dalam kelas yang menggunakan forum elektronik komunikasi yang didesain untuk mendorong diskusi mengenai suatu topik (misalnyaemail,bulletin,boards,chat rooms).

c. Mencari opini ahli melalui mekanisme yang beragam (misalnya

interviews, email, listservs).

7. Mahasiswa yang melek informasi dapat menentukan apakah pertanyaan awal perlu direvisi.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Menentukan apakah informasi orisinil telah memuaskan atau jika informasi tambahan dibutuhkan.

b. Mereview strategi penelusuran dan menggabungkan konsep tambahan jika diperlukan.

(49)

Standar Keempat

Mahasiswa yang melek informasi, secara perorangan atau sebagai anggota dari sebuah kelompok, dapat menggunakan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu.

Indikator kinerja :

1. Mahasiswa yang melek informasi dapat mengaplikasikan informasi yang baru dan informasi yang sebelumnya untuk merencanakan dan menciptakan produk atau kinerja tertentu.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Mengorganisasikan isi dengan cara yang mendukung tujuan dan bentuk dari produk atau kinerja (misalnyaoutline, draft, storyboard). b. Mengartikulasikan pengetahuan dan keterampilan yang ditransfer dari

pengalaman sebelumnya untuk merencanakan dan menciptakan produk atau kinerja.

c. Mengintegrasikan informasi baru dan informasi sebelumnya, termasuk kutipan danpharaphrase, dengan cara yang mendukung tujuan produk atau kinerja.

d. Memanipulasi teks digital, gambar, dan data sesuai kebutuhan, mentransfernya dari lokasi orisinil dan bentuknya ke konteks yang baru.

2. Mahasiswa yang melek informasi dapat merevisi proses pengembangan untuk produk atau kinerja.

(50)

a. Mempunyai jurnal atau catatan aktifitas yang berkaitan dengan penelusuran informasi, evaluasi, dan proses komunikasi.

b. Merefleksikan pada kesuksesan terdahulu, kegagalan, dan strategi alternatif.

3. Mahasiswa yang melek informasi dapat mengkomunikasikan produk dan kinerjanya secara efektif kepada orang lain.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Memilih media dan bentuk komunikasi yang terbaik dalam mendukung produk atau kinerja dan audiens yang dimaksud.

b. Menggunakan beragam aplikasi teknologi informasi dalam menciptakan produk atau kinerja.

c. Menggabungkan prinsip desain dan komunikasi.

d. Mengkomunikasikan dengan jelas dan dengan gaya yang mendukung tujuan dari audiens yang dimaksud.

Standar Kelima

Mahasiswa yang melek informasi dapat memahami isu-isu ekonomi, legal, dan sosial yang melingkupi penggunaan informasi dan akses dan penggunaan informasi menurut etika dan hukum.

Indikator kinerja :

(51)

a. Mengidentifikasi dan mendiskusikan isu-isu yang berhubungan dengan privasi dan keamanan baik dalam lingkungan tercetak maupun elektronik.

b. Mengidentifikasikan dan mendiskusikan isu-isu yang berkaitan dengan akses informasi gratis vs. akses informasi bayar.

c. Mengidentifikasi dan mendiskusikan isu-isu yang terkait dengan sensor dan kebebasan berbicara.

d. Mendemonstrasikan pemahaman tentang properti intelektual,

copyright, danfair usedari bahan yang mempunyaiof copyright. 2. Mahasiswa yang melek informasi dapat mematuhi hukum, regulasi,

kebijakan institusi dan etika yang berkaitan dengan akses dan penggunaan sumber informasi.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Berpartisipasi dalam diskusi elektronik mematuhi praktek-praktek yang ada (misalnya “Netiquette”/etika saat menggunakan internet). b. Menggunakan password yang disetujui dan bentuk lain ID untuk

mengakses sumber informasi.

c. Menuruti kebijakan institusi ketika mengakses sumber informasi. d. Memelihara integritas sumber informasi, peralatan, sistem, dan

fasilitas.

(52)

f. Mendemonstrasikan pemahaman mengenai apa yang dimaksud dengan plagiat dan tidak mewakili pekerjaan yang dilakukan orang lain sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

g. Mendemonstrasikan pemahaman tentang kebijakan institusi yang berkaitan dengan manusia sebagai subyek penelitian.

3. Mahasiswa yang melek informasi dapat mengakui penggunaan sumber informasi dalam mengkomunikasikan produk atau kinerja.

Hasil yang diharapkan meliputi :

a. Memilih gaya (style) dokumentasi yang sesuai dan menggunakannya secara konsisten dalam menyitir sumber-sumber yang digunakan. b. Mengirim permintaan izin, sesuai yang dibutuhkan, untuk bahan yang

mempunyaicopyright.

5. Manfaat Literasi Informasi

Menurut Association of College and Research Libraries (ACRL), manfaat setelah menguasai keterampilan literasi informasi, yaitu :

a. Menentukan sejauh mana informasi yang dibutuhkan.

b. Mengakses informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien. c. Mengevaluasi informasi dan sumber-sumber secara kritis.

(53)

f. Memahami isu-isu ekonomi, hukum, dan sosial menggunakan informasi yang ada di sekitar, serta menggunakan informasi secara etis dan sah.24

Manfaat lain literasi informasi dalam dunia pendidikan, yaitu :

a. Menyediakan metode yang lebih teruji untuk dapat memandu murid kepada berbagai sumber informasi yang terus berkembang. Sekarang ini individu berhadapan dengan informasi yang beragam dan berlimpah.

b. Meningkatkan pembelajaran sepanjang hayat. Hal ini adalah misi utama literasi informasi dan Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 35 serta Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

c. Mampu memperoleh, mencerna, dan mendayagunakan informasi dengan menggunakan etika.

d. Mampu untuk mencari, mengolah, menggunakan dan menyampaikan informasi secara efektif dan etis.

e. Menentukan banyaknya informasi yang akan diserap.

f. Seseorang akan mampu menyelesaikan masalah secara kritis, logis, dan tidak mudah diperdaya oleh informasi tanpa evaluasi terlebih dahulu.

24

(54)

g. Hasil proses belajar akan maksimal dan seseorang terlatih untuk belajar secara mandiri.

h. Mendukung usaha nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Lingkungan belajar yang proaktif mensyaratkan setiap mahasiswa memiliki kompetensi literasi informasi. Dengan keahlian tersebut mereka dapat mengikuti perkembangan di sekelilingnya yang akhirnya akan menunjang karirnya dalam dunia kerja.

Melalui jasa perpustakaan, diharapkan dapat menanamkan sikap untuk terus menerus belajar sepanjang hayat (long life education). Perpustakaan merupakan wadah yang mutlak harus ada. Perpustakaan adalah salah satu keharusan guna mendukung terwujudnya minat membaca yang berlanjut pada budaya membaca dan pada akhirnya tercapainya keterampilan membaca guna menghasilkan kemampuan keberaksaraan informasi (information literacy).25

6. Program Literasi Informasi

Program perpustakaan yang berkaitan dengan keterampilan menggunakan perpustakaan yang dikemas dalam pendidikan pemakai, pengantar komputer, pelatihan penelusuran, dan lainnya. Namun, dengan meluasnya informasi, selain keterampilan-keterampilan yang disebutkan di

(55)

atas, siswa perlu dibekali dengan keterampilan yang membuat siswa mampu menemukan, menggunakan, dan mengevaluasi informasi yang semua itu terkandung dalam keterampilan literasi informasi.26

Program-program berikut dapat dilaksanakan oleh pustakawan atau kerjasama antara pustakawan dan guru dalam membantu siswa menguasai keterampilan yang mereka butuhkan untuk menjadi siswa yang information literate.

a. Keterampilan menganalisa

Menganalisa berarti membedakan antara fakta dan hipotesa, untuk melihat hubungan, susunan yang khusus, susunan dan teknik yang digunakan.

Dalam menggunakan bahan pustaka, keterampilan menganalisa sangatlah diperlukan. Keterampilan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam situasi pengajaran. Beberapa kegiatan yang tercakup dalam proses ini :

1. Melakukan diskusi, pustakawan dapat melakukan diskusi ini dengan membentuk siswa menjadi beberapa kelompok kecil, dan setiap kelompok dipimpin oleh seorang pemimpin diskusi. Langkah-langkah diskusi telah dipersiapkan pustakawan dan diberitahukan kepada siswa. Setiap siswa diwajibkan mempersiapkan pertanyaan mengenai suatu topik yang telah

26

(56)

disampaikan oleh pustakawan sebelumnya. Dengan sumber-sumber yang tersedia di perpustakaan, siswa dapat mencari penjelasan untuk membangun pendapat mengenai topik tersebut.

2. Membuat pengamatan, pustakawan dapat memulainya dengan meminta siswa membaca suatu cerita, kemudian siswa mempelajari tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Kemudian siswa membuat kesimpulan tentang karakter tokoh-tokoh tersebut.

3. Melakukan permainan, siswa dalam kelompok kecil ini diminta untuk menunjukkan persamaan dan perbedaan antara dua benda yang ditunjukkanoleh pustakawan.

b. Keterampilan membedakan informasi

Keterampilan merupakan proses yang dilaksanakan dengan cara menentukan ide yang sama dan mengidentifikasikan perbedaannya. Kegiatan yang dapat dilakukan di antaranya :

1. Penggunaan sistemDewey Decimal Classification(DDC). 2. Penggunaan ensiklopedi

c. Orientasi perpustakaan

(57)

lembaga pendidikan bersangkutan.27Kegiatan ini bertujuan agar siswa mengerti tentang konsep fiksi dan non fiksi perpustakaan, seperti layout perpustakaan, sumber, layanan dan petugas perpustakaan, sarana yang dibutuhkan seperti : peta perpustakaan.

d. Pengenalan katalog perpustakaan

Pengenalan tentang katalog perpustakaan akan sangat bermanfaat sekali bagi siswa khususnya pada saat mereka melakukan penelitian. Tujuan pengajaran ini adalah agar siswa mengetahui mengapa mereka perlu menggunakan katalog, bagaimana menggunakan katalog perpustakaan sehingga mereka dapat menemukan koleksi yang terdapat dirak dan menerapkannya dalam teknik penelusuran.

7. Hambatan Pengajaran Literasi Informasi pada Perguruan Tinggi di Indonesia

Pengajaran literasi informasi pada jenjang perguruan tinggi di Indonesia menjadi sangat penting karena pendidikan dasar dan menengah, dari SD, SMP sampai dengan SMU belum menekankan pentingnya proses belajar secara independen, misalnya proses belajar yang mendidik siswa membuat makalah atau tugas independen mengenai suatu topik dengan menggunakan sumber-sumber yang ada tanpa terjebak dengan plagiat atau sekedar copy dan paste. Kebanyakan pendidikan dasar dan menengah masih

(58)

menggunakan pendekatan pendidikan yang berorientasi pada guru dan buku teks. Tetapi, ketika memasuki perguruan tinggi mahasiswa diharapkan belajar lebih mandiri dan pada setiap mata kuliah mahasiswa biasanya diberikan tugas independen dimana mereka harus menulis makalah dengan topik-topik tertentu dengan menggunakan sumber-sumber yang ada di perpustakaan. Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak mempunyai bekal yang cukup untuk membuat makalah, bagaimana mencari informasi yang diperlukan, bagaimana mengutip dan membuat pharafrase, dan menggabungkan dengan pengetahuan yang ada, bahkan kebanyakan dari mereka tidak tahu bagaimana cara menyitir sumber informasi yang digunakan dengan benar dan konsisten.

(59)

hanya untuk hiburan, tetapi mereka juga menggunakannya untuk kebutuhan akademis.

Ada beberapa alasan mengapa internet populer dikalangan mahasiswa dan dosen, di antaranya :

a. Mereka dapat mengakses informasi yang belum ada dalam bentuk tercetak dan informasi yang belum diterbitkan.

b. Mereka dapat mengakses kapan saja, tidak dibatasi oleh waktu. c. Mereka dapat berinteraksi dengan para ahli melalui internet.

d. Mereka dapat mengakses informasi dari universitas, badan pemerintah dan sumber-sumber lainnya.

Namun sayangnya, penggunaan internet oleh mahasiswa tidak dibarengi dengan kemampuan mahasiswa dalam mengevaluasi secara kritis informasi yang didapat melalui internet. Beberapa penelitian (Rothemberg, 1999; Damton, 1999; Thome, 1996 pada Browne, 2000) menunjukkan bahwa penggunaan internet oleh para mahasiswa untuk tugas mereka tidak selalu meningkatkan kualitas tugas tersebut. Karena mudahnya mendapatkan informasi seringkali tugas mereka hanya merupakan kumpulan hasil-hasil

(60)

Tidak dapat dipungkiri kehadiran internet merupakan salah satu sumber informasi yang banyak digunakan di kalangan mahasiswa di Indonesia. Beberapa perpustakaan perguruan tinggi memberikan layanan internet gratis sementara beberapa yang lainnya memberikan layanan internet dengan mengenakan biaya pada penggunanya. Ada juga perpustakaan yang tidak memberikan layanan internet tetapi mahasiswa mempunyai tempat alternatif untuk menggunakan informasi melalui layanan yang diberikan oleh warung internet (warnet). Situasi seperti ini memberikan gambaran bahwa mahasiswa di Indonesia memerlukan pengajaran bagaimana mencari dan menelusur informasi di internet dan menggunakannya untuk kepentingan akademis melalui pengajaran literasi informasi.

Namun demikian, pengajaran literasi informasi di kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala yang beragam, seperti terbatasnya Sumber Daya Manusia Perpustakaan yang mumpuni dalam pengajaran literasi informasi, anggaran perpustakaan yang terbatas untuk menyediakan informasi yang up to date melalui penyediaan teknologi informasi yang terkini, sistem pendidikan Indonesia yang masih berorientasi pada guru dan tidak adanya kebijakan nasional mengenai pengajaran literasi informasi.

a. Sumber Daya Manusia

(61)

pustakawan harus mempunyai keterampilan dalam mengajar dan berkolaborasi dengan fakultas untuk mengintegrasikan pengajaran ke dalam kurikulum pendidikan. Sayangnya, jumlah pustakawan Indonesia yang memiliki keterampilan sebagai pakar informasi dan sebagai pendidik literasi informasi masih sangat terbatas.

b. Anggaran Perpustakaan yang Terbatas

(62)

c. Sistem Pendidikan

Sistem pendidikan di Indonesia masih menggunakan pola yang berorientasi kepada guru atau dosen. Guru adalah sumber informasi sementara peserta didik atau mahasiswa adalah penerima informasi yang pasif, mereka hanya menerima saja apa yang diberikan oelh gurunya. Meskipun kurikulum Berbasis Kompetensi telah diterapkan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Salah satu perangkat untuk menuju suksesnya kurikulum tersebut yaitu perpustakaan tidak menjadi agenda utama sehingga kurikulum yang ada hanya menjadi asesori belaka. Sementara dalam realitasnya pembelajaran secara pasif masih berlangsung dihampir sebagian besar institusi pendidikan termasuk di dalamnya Perguruan Tinggi. Metode pembelajaran seperti ini membuat mahasiswa tidak tertantang untuk mendapatkan pengetahuan di luar kelas. Mahasiswa sangat bergantung pada ceramah dosen, catatan mata kuliah, buku teks dan menghapal pengetahuan tanpa memahaminya.

d. Kebijakan Nasional mengenai Pengajaran Literasi Informasi

(63)

dapat melakukan riset dengan baik tanpa didukung fasilitas dan keterampilan literasi informasi yang baik.28

C. Penelitian Relevan

Penelitian dengan tema literasi informasi, pernah dilakukan oleh beberapa peneliti lainnya, antara lain :

1. Edward K. Owusu-Ansah (2005). Debating Definitions of Information Literacy : enough is enough. Penelitian tersebut bertujuan untuk menunjukkan ada konsensus definisi tentang literasi informasi dan menguraikan bidang utama dan keprihatinan yang unik akibat konsensus tersebut untuk perpustakaan yang ingin berkontribusi dalam kegiatan literasi informasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sejak perpustakaan Amerika Asosiasi 1989, pada kegiatan literasi informasi masih menunjukkan adanya perbedaan antara definisi tentang literasi informasi itu sendiri dengan kegiatan di lapangannya. Sehingga muncul usulan agar pustakawan berkonsentrasi pada harapan apa yang ingin dicapai oleh para pemustaka dari kegiatan literasi informasi tersebut agar sesuai dengan definisi yang ada.

2. Alfred Loo and C.W. Chung (2005). A Model for Information Literacy Course Development : a liberal arts university perspective. Tujuan dari

28

(64)

penelitian ini adalah untuk melaporkan suatu model baru untuk pengembangan program melek informasi yang berasal dari seni liberal perspektif universitas. Metode penelitian yang digunakan adalah penggabungan hasil temuan metode terbaru literasi informasi yang kemudian diterapkan dalam praktek. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa setiap universitas perlu menyelaraskan pengembangan program literasi informasi dengan misi individu dan lingkungannya yang unik.

(65)

51

BAB III

GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN SEKOLAH PASCASARJANA

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

A. Sejarah Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(66)

Pascasarjana IAIN Jakarta menerima mahasiswa dari luar negeri, dari lembaga-lembaga dalam negeri, alumni IAIN atau perguruan tinggi lainnya selama persyaratan masuk dapat dipenuhi.

Ide dan pemikiran dari Prof. Dr. Harun Nasution, yang pada waktu itu adalah Rektor IAIN Jakarta untuk mendirikan lembaga yang menyelenggarakan pengkajian Islam secara komprehensif, mendalam dan rasional sehingga dapat melahirkan ulama yang mampu berijtihad untuk menjawab masalah-masalah yang timbul pada zamannya telah menggagas pendirian lembaga Program Pascasarjana yang menjadi PPs yang pertama di lingkungan IAIN di Indonesia.

Arah pengembangan PPs IAIN Jakarta dirumuskan dan diletakkan dasar-dasarnya oleh Prof. Dr. Harun Nasution dengan mendirikan program studi pengkajian Islam. Program studi ini selanjutnya dikembangkan dalam berbagai bidang konsentrasi, mengacu kepada pembidangan ilmu agama Islam yang berlaku ketika itu (ditetapkan dalam SK Menteri Agama), yang meliputi Pemikiran Islam, Syari’ah, Tafsir-Hadis, Dakwah, Pendidikan Islam, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Bahasa dan Sastra Arab dan Perkembangan Modern dalam Islam.

(67)

Sedangkan pada tingkat Doktor, program yang dikembangkan adalah Studi pengkajian Islam pada tahun 1984; Konsentrasi Syari’ah pada tahun 1998/1999; Tafsir Hadis tahun 1998/1999;dan Pemikiran Islam pada tahun 1998/1999.

Perpustakaan Sekolah Pascasarjana secara resmi mulai dilayankan Pada tahun 1999, mengingat berbagai program studi yang sudah dikembangkan pada tahun-tahun sebelumnya. Pada akhir tahun 1999 itu pula perpustakaan pps dikelola oleh Bapak Suali Fuad dan dibantu oleh Syukron. Kepemimpinan program pascasarjana ini yang diawali oleh Prof. Dr. Harun Nasution (1982), Prof. Dr. H. Said Agil Husin al Munawar, MA, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (2004). Seiring dengan berubahnya nama lembaga ini pada kepemimpinan Bapak Prof. Dr. Azyumardi Azra menjadi Sekolah Pascasarjana, maka nama perpustakaan pun disebut dengan Perpustakaan Sekolah Pascasarjana. Kini perpustakaan Sekolah Pascasarjana dikelola oleh 3 orang.

B. Visi, Misi, dan Tujuan Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1. Visi

Perpustakaan Sekolah Pascasarjana sebagai pusat informasi dan sumber referensi terkemuka dalam berbagai ilmu pengetahuan terutama dalam pengkajian Islam secara komprehensif, mendalam dan rasional.

2. Misi

(68)

b) Menyediakan berbagai layanan berkualitas dalam rangka pemenuhan kebutuhan informasi bagi seluruh sivitas akademika UIN Jakarta.

c) Mewujudkan pemberdayaan informasi dalam menciptakan komunitas ilmiah baik mahasiswa, staff akademik dan non-akademik serta masyarakat secara luas melalui berbagai program literasi informasi.

d) Menyediakan sarana penyebaran dan pelestarian informasi serta pengetahuan secara efektif dan efisien dengan menggunakan fasilitas elektronik dan non elektronik.

e) Membangun kerjasama yang efektif dengan masyarakat kampus dan institusi atau organisasi lain baik di dalam maupun di luar negeri.

3. Tujuan

Secara umum tujuan Perpustakaan Sekolah Pascasarjana adalah mendukung keberhasilan semua aktivitas Tri Darma Perguruan Tinggi yang berlangsung di UIN Jakarta baik dalam bidang pengajaran dan pendidikan, penelitian maupun pengabdian pada masyarakat.

C. Struktur Organisasi Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(69)

D. Sumber Daya Manusia

Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dikepalai oleh Ibu Alfida, MLIS. Staf perpustakaan terdiri dari 3 orang pustakawan yaitu Bapak Ainurofiq, S.IP, Bapak Imron, dan Ibu Nurhasanah, S.Pd.

E. Layanan Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1. Sistem Layanan

Perpustakaan Sekolah Pascasarjana menerapkan sistem layanan terbuka (open access), sehingga memungkinkan pengunjung mengakses koleksi yang ada di perpustakaan ini secara langsung. Sistem ini diharapkan setiap pengunjung dapat melakukan browsing (pencarian informasi) sepuas-puasnya.

KEPALA PERPUSTAKAAN

SIRKULASI PENGADAAN DAN

PENGOLAHAN

(70)

2. Jam Layanan

Perpustakaan Sekolah pascasarjana berupaya meningkatkan kualitas layanan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah melalui peningkatan jam buka perpustakaan yang terdiri dari layanan pagi hingga sore hari. Adapun jam buka perpustakaan dapat dilihat sebagaimana tabel di bawah:

Tabel 1 Jam Layanan

Hari Jam Layanan

Senin –Kamis 08.00– 16.00

Jum’at 08.00–11.00

13.30–16.00

3. Jenis Layanan

a) Layanan Sirkulasi. Layanan ini meliputi kegiatan peminjaman dan pengembalian buku kepada pengguna perpustakaan, dengan kriteria sebagai berikut :

1) Setiap anggota berhak meminjam buku koleksi umum

2) Jumlah pinjaman maksimal 5 buah buku untuk program Master, dan 7 buah buku untuk program Doktor

Figur

GAMBARAN UMUM
GAMBARAN UMUM . View in document p.10
Tabel 1Jam Layanan
Tabel 1Jam Layanan. View in document p.70
Tabel 2Jumlah Koleksi Tesis dan Disertasi
Tabel 2Jumlah Koleksi Tesis dan Disertasi. View in document p.74
Tabel 3Jumlah Koleksi Multimedia
Tabel 3Jumlah Koleksi Multimedia. View in document p.77
Tabel 4Kriteria Informan
Tabel 4Kriteria Informan. View in document p.78
Tabel 5Hasil Wawancara
Tabel 5Hasil Wawancara. View in document p.79
Tabel 6Hasil Wawancara
Tabel 6Hasil Wawancara. View in document p.81
Tabel 7Pendapat Mahasiswa Sekolah Pascasarjana
Tabel 7Pendapat Mahasiswa Sekolah Pascasarjana. View in document p.84
Tabel 8Kendala Pelaksanaan Literasi Informasi
Tabel 8Kendala Pelaksanaan Literasi Informasi. View in document p.87

Referensi

Memperbarui...