• Tidak ada hasil yang ditemukan

Literasi Informasi Mahasiswa S2 Pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Literasi Informasi Mahasiswa S2 Pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

LITERASI INFORMASI MAHASISWA S2 PASCASARJANA

PADA LAYANAN DIGITAL PERPUSTAKAAN USU

Skripsi

Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Dalam bidang Studi Perpustakaan dan Informasi

OLEH

FRANSISKA TIMORIA SAMOSIR 060709035

DEPARTEMEN STUDI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

ABSTRAK

Samosir, Fransiska Timoria, 2010. Literasi Informasi Mahasiswa S2 Pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU.

Penelitian ini bertujuan mengetahui literasi informasi mahasiswa S2 pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU dengan menggunakan model literasi informasi Seven Pillars.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa S2 pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU, berjumlah 4.772 orang. Teknik penentuan sampel digunakan slovin sehingga sampel berjumlah 98 orang. Dan teknik pengambilan sampel adalah purpossive sampling yaitu mengambil sampel yang merupakan benar-benar mahasiswa S2 pascasarjana pengguna Layanan Digital Perpustakaan USU. Penelitian ini dilakukan bulan April 2010.

Hasil analisis data menunjukkan literasi informasi yang dimiliki mahasiswa S2 pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU dengan menggunkan model Seven Pillars berada pada pilar keenam yaitu kemampuan mengorganisasikan informasi, menerapkan dan mengkomunikasikan informasi yaitu 74,38 %.

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha

Kasih atas segala rahmat, kasih dan penyertaan-Nya yang telah diberikan kepada

penulis sehingga dapat menyelesikan penulisan skripsi dengan judul “Literasi

Informasi Mahasiswa S2 Pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU.”

Skripsi ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana

dalam bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi.

Penulis menyadari bahwa dalam penyajian skripsi ini masih banyak

terdapat kesalahan dan kekurangan. Sehingga penulis mengharapkan kritik dan

saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Penulis mengucapkan terima kasih yang teristimewa dan sebesar-besarnya

kepada Bapak tercinta Perenus Samosir dan Ibu Eylen Nainggolan S.pd, abang

Andre Dohar Samosir S.pd, kakak Donna S.pd dan adik atas segala doa, dukungan dan kasih sayang serta pengorbanan selama ini kepada penulis sehingga

dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulisan skripsi ini dapat selesai karena adanya bantuan dari berbagai

pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih

kepada berbagai pihak yang telah membantu secara moral maupun material. Pada

kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof,. Drs. Syaifuddin, M.A., Ph.D, selaku Dekan Fakultas

Sastra Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Jonner Hasugian, M.Si, selaku Ketua Departemen Studi

Ilmu Perpustakaan dan Informasi di Fakultas Sastra Universitas

Sumatera Utara.

3. Ibu Himma Dewiyana, ST, M.Hum., selaku dosen pembimbing I yang

telah membantu membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi

ini.

4. Ibu Hotlan Siahaan, S.Sos. selaku dosen pembimbing II yang telah

(4)

5. Seluruh Staff pengajar Departemen Studi Ilmu Perpustakaan dan

Informasi yang telah banyak memberikan ilmu dibidang Ilmu

Perpustakaan dan Informasi bagi penulis.

6. Kepada staff pegawai (b’Yudi) yang telah membantu dalam megurus

surat-surat yang berhubungan dengan penyusunan skripsi.

7. Kepada staff Layanan Digital Perpustakaan USU yang telah banyak

memberikan data dan informasi yang dibutuhkan penulis selama

penulisan skripsi ini.

8. Buat teman kos 15 L (k’tina, k’kitty, k’lenni, k’ika, ardha, novel dan

kos Gaol (erni, wira, henny) yang menemani hari-hariku dan setia

mendengar keluh kesahku selama penulisan skripsi.

9. Sahabat-sahabat terdekat penulis DC ( t’ardha, elis, abang apri, tata,

tina hite) yang menemaniku sejak awal kuliah hingga saat ini dan

memberi motivasi dan semangat selama penulisan skripsi ini.

10. Buat teman satu perjuangan khususnya inggit, ony yang telah

bersama-sama melewati hari-hari selama penulisan skripsi dan adik Nova 07.

11. Buat teman-teman satu angkatan 2006 mano (inggit, nia, chichi,

minda, dila); alay (ony, tia, isna, nita, citra); tkk (richard, shela, anggi),

wina, k’ida, Ike Amd, tina, lina dan lain-lain disadari atau tidak telah

memberi semangat dalam penulisan skripsi ini.

12. Buat k’Listika S.Sos., k’Mike S.Sos., k’Harley S.Sos., yang telah

membantu memberikan bahan bacaan dan masukan untuk penulisan

skripsi ini.

13. Buat seluruh mahasiswa S2 pascasarjana pada Layanan Digital yang

telah memberikan waktunya mengisi kuisioner penelitian ini.

Medan, 1 Juni 2010

Penulis

(5)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 4

BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Literasi Informasi ... 5

2.1.1 Pengertian Literasi Inforamasi ... 5

2.1.2 Tujuan Literasi Informasi ... 9

2.1.3 Manfaat Literasi Informasi ... 10

2.1.4 Kriteria Literasi Informasi ... 12

2.1.5 Keterampilan Literasi Informasi ... 14

2.2 Manfaat Kompetensi Literasi Informasi pada Perguruan Tinggi ... 19

2.3 Model Literasi Informasi pada Perguruan Tinggi ... 20

2.4 Standar Literasi Informasi pada Perguruan Tinggi ... 25

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 31

3.2 Lokasi Penelitian ... 31

3.3 Populasi dan Sampel ... 31

3.3.1 Populasi... 31

3.3.2 Sampel ... 32

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 32

3.5 Jenis dan Sumber Data ... 32

3.6 Instrumen Penelitian ... 33

3.6.1 Kuisioner ... 33

3.7 Analisis Data ... 33

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL 4.1 Gambaran Umum Layanan Digital ... 35

4.1.1 Layanan Akses Internet ... 35

4.1.2 Bantuan Penelusuran ... 35

4.2 Karakteristik Responden ... 36

4.3 Analisis Deskriptif ... 37

(6)

4.3.2 Kemampuan Mengetahui Kebutuhan Informasi (Pilar Pertama) ... 37 4.3.3 Kemampuan Mengetahui Sumber Informasi yang Relevan dengan Kebutuhan (Pilar Kedua) ... 40

4.3.4 Kemampuan Membangun Strategi Penelusuran (Pilar Ketiga) ... 42

4.3.5 Kemampuan Menentukan Lokasi dan Mengakses Informasi (Pilar Keempat) ... 45 4.3.6 Kemampuan Membandingkan dan Mengevaluasi Informasi (Pilar Kelima) ... 48 4.3.7 Kemampuan Mengorganisasian, Menerapkan dan

Mengkomunikasikan informasi(Pilar Keenam) ... 50 4.3.8 Kemampuan Membangun dan Membuat Pengetahuan Baru (Pilar Ketujuh) ... 54 4.4 Rangkuman Analisis Data ... 56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan... 61 5.2 Saran ... 63

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Tabel karakteristik responden ... 36

Tabel 2. Kemampuan mengidentifikasi informasi ... 38

Tabel 3. Kemampuan merumuskan topik ... 38

Tabel 4. Kemampuan mengetahui jenis sumber informasi... 40

Tabel 5. Kemampuan memperhatikan kriteria sumber informasi ... 41

Tabel 6. Kemampuan merumuskan topik permasalahan untuk mencocokkan dengan sumber informasi ... 42

Tabel 7. Kemampuan memahami teknik atau strategi pencarian pada mesin pencari ... 43

Tabel 8. Kemampuan mengetahui lokasi informasi ... 45

Tabel 9. Kemampuan menggunakan strategi penelusuran ... 46

Tabel 10. Kemampuan membandingkan informasi ... 48

Tabel 11. Kemampuan mengevaluasi informasi ... 49

Tabel 12. Kemampua n mengorganisasikan informasi ... 51

Tabel 13. Kemampuan menggunakan informasi ... 52

Tabel 14. Kemampuan mengkomunikasikan informasi ... 53

Tabel 15. Kemampuan menghasilkan tulisan ... 54

Tabel 16. Kemampuan mempublikasikan hasil tulisan ... 55

(8)

DAFTAR GAMBAR

(9)

ABSTRAK

Samosir, Fransiska Timoria, 2010. Literasi Informasi Mahasiswa S2 Pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU.

Penelitian ini bertujuan mengetahui literasi informasi mahasiswa S2 pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU dengan menggunakan model literasi informasi Seven Pillars.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa S2 pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU, berjumlah 4.772 orang. Teknik penentuan sampel digunakan slovin sehingga sampel berjumlah 98 orang. Dan teknik pengambilan sampel adalah purpossive sampling yaitu mengambil sampel yang merupakan benar-benar mahasiswa S2 pascasarjana pengguna Layanan Digital Perpustakaan USU. Penelitian ini dilakukan bulan April 2010.

Hasil analisis data menunjukkan literasi informasi yang dimiliki mahasiswa S2 pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU dengan menggunkan model Seven Pillars berada pada pilar keenam yaitu kemampuan mengorganisasikan informasi, menerapkan dan mengkomunikasikan informasi yaitu 74,38 %.

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Informasi adalah kebutuhan yang harus dipenuhi setiap orang, karena

informasi sudah menjadi kebutuhan utama setiap individu terutama dalam dunia

pendidikan. Salah satunya dalam dunia perguruan tinggi. Mahasiswa dituntut

untuk memperoleh informasi berupa bahan-bahan yang berhubungan dengan

perkuliahan untuk mendukung dan menunjang kegiatan perkuliahan mereka atau

dengan kata lain mengembangkan dan memperluas materi secara mandiri. Ketika

mencari informasi yang cepat, tepat dan relevan maka seorang mahasiswa harus

memiliki kemampuan dalam memperoleh informasi tersebut.

Kemampuan dalam mengidentifikasi, mencari, menemukan,

mengevaluasi dan memanfaatkan informasi disebut literasi informasi. Literasi

informasi sangat diperlukan karena merupakan bekal pembelajaran seumur hidup

(long life education) bagi mahasiswa karena dengan memiliki kemampuan

tersebut dapat menyelesaikan masalah secara kritis, logis, dan tidak mudah

percaya terhadap informasi yang diterima dan dapat berinteraksi terhadap

informasi yang berbeda-beda. Literasi informasi juga merupakan kunci

keberhasilan mahasiswa di era globalisasi informasi.

Semua orang dihadapkan dengan berbagai informasi yang dikemas

dalam berbagai bentuk yang bisa diakses dengan mudah dan cepat di era

globalisasi informasi. Hal ini menimbulkan ledakan informasi dan disinilah

diperlukan kemampuan literasi informasi oleh mahasiswa agar mampu mengikuti

perkembangan informasi.

Perguruan tinggi juga memiliki standar literasi informasi yang disusun

oleh Association of College and Research Libraries (ACRL). Standar ACRL

digunakan untuk akademis perguruan tinggi seperti mahasiswa, dosen,

pustakawan, staff dan lain-lain. Pada standar tersebut terdapat indikator untuk

(11)

Kemampuan untuk mendapatkan informasi dalam pemenuhan kebutuhan

informasi tidak muncul dengan sendirinya, sehingga kemampuan untuk

mendapatkan informasi adalah kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang

dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Tingkat kemampuan yang

berbeda inilah yang menentukan seberapa baik hasil dari analisis informasi yang

ditemukan atau produk informasi yang dihasilkan.

Kemampuan untuk memperoleh, menganalisis, mengolah dan

menyajikan informasi merupakan kemampuan yang dimiliki setiap orang tetapi

belum tentu semua orang tersebut dikatakan literat terhadap informasi. Seseorang

dikatakan literat terhadap informasi apabila dia tahu memenuhi kebutuhan

informasinya, mendapatkan informasi yang tepat sesuai kebutuhannnya dan

mampu menyajikan kepada orang lain. Aktifitas-aktifitas ini juga didukung oleh

kemampuan mencari informasi dengan menggunakan teknologi informasi.

Seseorang dikatakan mampu mencari informasi dengan baik apabila dia

mampu menentukan topik dari kebutuhan informasinya dan mengetahui

sumber-sumber informasi untuk memperoleh informasi seperti internet, jurnal, database,

dan lain-lain. Sehingga tujuan dari literasi informasi itu adalah untuk mengetahui

bagaimana menemukan informasi dan menggunakan informasi tersebut dalam

memenuhi kebutuhan informasinya.

Program studi pascasarjana adalah program studi yang memiliki jenjang

pendidikan yang lebih tinggi. Mahasiswa pascasarjana ini membutuhkan

informasi dalam mendukung kegiatan perkuliahannya. Informasi yang dibutuhkan

pun memiliki tingkat keakuratan dan kerelevanan yang lebih tinggi. Namun

dalam kenyataanya di Layanan Digital Perpustakaan USU mereka masih

menggunakan bantuan pustakawan. Padahal idealnya mereka harus expert (ahli)

dalam mencari informasi, mengingat tingkat pendidikan mereka adalah

pascasarjana, minimal literasi mereka adalah diatas rata-rata mahasiswa sarjana.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewiyana (2009:32) di Layanan

Digital Perpustakaan USU diketahui bahwa 4 dari 11 pengguna layanan digital

belum mengetahui strategi penelusuran informasi menggunakan internet. Bahkan

(12)

Layanan Digital Perpustakaan USU, sehingga mereka terkadang merasa kesulitan

mencari informasi dengan menggunakan internet ditambah lagi dengan

keterbatasan waktu yang mereka miliki. Untuk mereka disediakan bantuan

penelusuran oleh pustakawan, dimana pengguna cukup memberitahukan

informasi/topik yang dibutuhkan dan pustakawan akan mencari informasi

tersebut.

Layanan digital adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh

Perpustakaan USU bagi mahasiswa pascasarjana. Layanan digital khusus

bertujuan menyediakan akses informasi berbasis elektronik seperti penelusuran

sartikel ilmiah, e-journal dan lain-lain. Pengguna juga dapat membawa laptop

sendiri ke layanan digital ini. Layanan digital juga menyediakan bantuan

penelusuran kepada pengguna layanan digital. Bantuan penelusuran adalah

bantuan yang diberikan kepada pengguna pascasarjana yang tidak mampu mencari

informasi dan tidak memiliki waktu ke perpustakaan dan melakukan pencarian

informasi.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian terhadap kemampuan literasi informasi mahasiswa S2 pascasarjana

dalam memperoleh informasi dan memenuhi kebutuhan informasinya. Penulis

ingin melihat bagaimana kemampuan pengguna mahasiswa S2 pascasarjana

mencari, menganalisis informasi, teknik yang digunakan, dan sumber informasi

apa saja yang dipilih dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Penulis

menggunakan Seven Pillars model dalam menilai sejauhmana mahasiswa S2

pascasarjana pada layanan digital memiliki literasi informasi. Oleh sebab itu

penulis memilih judul “Literasi Informasi Mahasiswa S2 Pascasarjana pada

(13)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka yang

menjadi rumusan masalah sekaligus pertanyaan penelitian adalah, Bagaimanakah

literasi informasi mahasiswa S2 pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan

USU?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui literasi informasi

mahasiswa S2 pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU.

1.4 Manfaat Penelitian

- Untuk Layanan Digital Perpustakaan USU yaitu sebagai bahan masukan

dan kebijakan dalam meningkatkan kemampuan literasi informasi

mahasiswa S2 pascasarjana.

- Untuk peneliti yaitu sebagai bahan rujukan untuk membahas dan melakukan

penelitian lanjutan mengenai literasi informasi

- Untuk penulis yaitu menambah ilmu pengetahuan penulis mengenai

literasi informasi mahasiswa pascasarjana pada Layanan Digital

Perpustakaan USU.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan kajian pengguna tentang literasi informasi yang

mencakup kemampuan menentukan informasi yang dibutuhkan, mengakses,

mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif dan

(14)

BAB II

KAJIAN TEORITIS

2.1 Literasi Informasi

2.1.1 Pengertian Literasi Inforamasi

Literasi informasi pertama kali ditemukan oleh pemimpin American

Information Industry Association Paul G.Zurkowski pada tahun 1974 dalam

proposalnya yang ditujukan kepada The National Commission on Libraries and

Information Science (NCLIS) di Amerika Serikat. Paul Zurkowski menggunakan

ungkapan tersebut untuk menggambarkan "teknik dan kemampuan" yang dikenal

dengan istilah literasi informasi yaitu kemampuan untuk memanfaatkan berbagai

alat-alat informasi serta sumber-sumber informasi primer untuk memecahkan

masalah mereka. Istilah literasi informasi selalu dikaitkan dengan computer

literacy, library skills dan critical thinking yang merupakan sebagai pendukung terhadap perkembangan literasi informasi (Wikipedia, 2008:1)

Pengertian literasi informasi secara umum adalah kemelekan atau

keberaksaraan informasi. Menurut kamus bahasa inggris pengertian literacy

adalah kemelekan huruf atau kemampuan membaca dan information adalah

informasi. Maka literasi informasi adalah kemelekan terhadap informasi.

Walaupun istilah literasi informasi belum begitu familiar dan menjadi istilah yang

asing di kalangan masyarakat. Seseorang dikatakan melek informasi berarti literat

terhadap informasi. Walaupun saat ini literasi informasi biasanya selalu dikaitkan

dengan penggunaan perpustakaan dan penggunaan teknologi informasi.

Menurut Dictionary for Library and Information Science oleh Reitz

(2004:356) mendefenisikan literasi informasi sebagai berikut:

(15)

Berdasarkan pendapat di atas dikatakan bahwa literasi informasi adalah

kemampuan dalam menemukan informasi yang dibutuhkan, mengerti bagaimana

perpustakaan diorganisir, familiar dengan sumber daya yang tersedia (termasuk

format informasi dan alat penelusuran yang terautomasi) dan pengetahuan dari

teknik yang biasa digunakan dalam pencarian informasi. Hal ini termasuk

kemampuan yang diperlukan untuk mengevaluasi informasi dan menggunakannya

secara efektif seperti pemahaman infrastruktur teknologi pada transfer informasi

kepada orang lain, termasuk konteks sosial, politik dan budaya serta dampaknya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Shapiro. Menurut Shapiro

(1996:31)

Information literacy is refer to a new liberal art that extends from knowing how to use computers and access information to critical reflection on the nature of information itself, its technical infrastructure, and its social, cultural and even philosophical context and impact.

Berdasarkan pendapat di atas dikatakan bahwa literasi informasi ditujukan

sebagai sebuah seni liberal baru dalam rangka mengetahui bagaimana

menggunakan komputer, mengakses informasi dan berpikir secara kritis dalam

informasi mereka, infrastruktur teknologi dalam kontes sosial, budaya, konteks

filosofi dan dampaknya.

Menurut Bundy dalam Hasugian (2009:200) “Literasi informasi adalah

seperangkat keterampilan yang diperlukan untuk mencari, menganalisis dan

memanfaatkan informasi”. Tidak jauh berbeda dengan pengertian di atas dalam

laporan penelitian America Library Association’s Presidental Commite on

Information Literacy (1989:1) dikatakan bahwa “information literacy is a set of abilities requiring individuals to recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use effectivelly the needeed information”.

Berdasarkan pendapat di atas dikatakan bahwa literasi informasi adalah

seperangkat kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki seseorang untuk

mengetahui kapan informasi dibutuhkan, kemampuan untuk menempatkan,

(16)

Bila dikaitkan dengan perguruan tinggi, maka penerapan literasi

informasi dapat diterapkan oleh mahasiswa, dosen, para peneliti dalam

menentukan apa yang mereka butuhkan dan bekerjasama dengan pustakawan

dalam menentukan strategi penelusuran informasi.

Berdasarkan perspektif pendidikan oleh Bruce (2003:3) dikatakan bahwa

“Information Literacy defines as the ability to access, evaluate, organise and use

information in order to learn, problem-solve, make decisions in formal and informal learning contexts, at work, at home and in educational settings”.

Berdasarkan pendapat di atas dikatakan bahwa literasi informasi

merupakan sebuah kemampuan dalam mengakses, mengevaluasi, mengorganisir

dan menggunakan informasi dalam proses belajar, pemecahan masalah, membuat

suatu keputusan formal dan informal dalam konteks belajar, pekerjaan, rumah

maupun dalam pendidikan.

Pertemuan yang diadakan di Mesir pada tanggal 6-9 November 2005

dalam Alexandria Proclamation yang diedit oleh Garner (2006:3) dikatakan

bahwa literasi merupakan inti pembelajaran seumur hidup dan merupakan dasar

bagi manusia di era digital ini. Dalam laporan ini dikatakan bahwa literasi

informasi adalah:

- Kemampuan dasar dalam menentukan kebutuhan informasi,

menempatkan, mengevaluasi, membuat dan menerapkan informasi dalam

konteks budaya dan sosial.

- Sebagai kunci dan pedoman seseorang dalam mengakses informasi secara

efektif serta penggunaan dan pembuatan konten dalam mendukung

pembangunan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pelayanan manusia dan

aspek lainnya.

- Kemampuan dasar dalam mempelajari teknologi informasi

Ini merupakan kemampuan yang sangat penting karena dengan memahami

teknologi informasi maka akan semakin mudah seseorang memenuhi

(17)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Nasution (2009:57)

sebelumnya mengenai literasi informasi di perguruan tinggi pada mahasiswa

jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi USU menunjukkan bahwa program

studi yang di dalam kurikulumnya mengandung literasi informasi akan

menjadikan mahasiswa menjadi literat terhadap informasi. Ini dapat dilihat dari

kemampuan mahasiswanya dalam mengidentifikasi, mengakses, mengevaluasi

dan mengkomunikasikan informasi.

Penelitian yang sama juga dilakukan pada University of Colorado

yang dilakukan oleh Angeley (2000:1) yang mengatakan bahwa untuk

meningkatkan kemampuan literasi mahasiswa diperlukan kolaborasi antara

peranan perpustakaan, kurikulum literasi informasi dan fakultas yang mendukung

seseorang memiliki literasi informasi. Sehingga dia menyimpulkan bahwa

perpustakaan dan fakultas bekerja sama mengenai sistem temu kembali atau

mengevaluasi informasi sesuai disiplin ilmu mereka dan mengajarkan kemampuan

tersebut kepada peserta didiknya. Hal yang sama juga diungkapkan dalam

penelitian-penelitian yang dilakukan pada berbagai universitas lainnya yaitu

Outhern Association of Colleges and Schools, the Western Association of

Colleges and Schools, Western University dan lain-lain.

Berdasarkan berbagai defenisi literasi informasi yang diuraikan di atas

maka defenisi literasi informasi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang

dalam mencari, menemukan, menganalisis, mengevaluasi, mengkomunikasikan

informasi yang berfungsi dalam pemenuhan kebutuhan informasi yang akan

memecahkan berbagai masalah. Literasi informasi juga didukung oleh peranan

perpustakaan dalam memperkenalkan istilah literasi informasi dan memperoleh

kemampuan literasi informasi tersebut. Penguasaan teknologi informasi juga akan

sangat memudahkan seseorang memiliki literasi informasi. Oleh karena itu literasi

informasi merupakan proses pembelajaran seumur hidup yang akan menjadi bekal

(18)

2.1.2 Tujuan Literasi Informasi

Literasi informasi merupakan kemampuan yang sangat penting dimiliki

seseorang terutama dalam dunia perguruan tinggi karena pada saat ini semua

orang dihadapkan dengan berbagai jenis sumber informasi yang berkembang

sangat pesat, namun belum tentu semua informasi yang ada dan diciptakan

tersebut dapat dipercaya dan sesuai dengan kebutuhan informasi para pencari

informasi. Literasi informasi akan memudahkan seseorang untuk belajar secara

mandiri dimana pun berada dan berinteraksi dengan berbagai informasi.

Literasi informasi juga sangat berguna dalam dunia perguruan tinggi untuk

mendukung pendidikan dan dalam implementasi kurikulum berbasis kompetensi

yang mengharuskan peserta didik untuk menemukan informasi bagi dirinya

sendiri dan memanfaatkan berbagai sumber informasi. Selain itu dengan memiliki

literasi informasi maka para peserta didik mampu berpikir secara kritis dan logis

serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang diperoleh sehingga perlu

mengevaluasi terlebih dahulu informasi yang diperoleh sebelum

menggunakannya.

Menurut Doyle dalam Wijetunge (2005:33) dengan memiliki keterampilan

literasi informasi maka seorang individu mampu:

a. Menentukan informasi yang akurat dan lengkap yang akan menjadi

dasar dalam membuat keputusan.

b. Menentukan batasan informasi yang dibutuhkan.

c. Memformulasikan kebutuhan informasi.

d. Mengidentifikasi sumber informasi potensial. e. Mengembangkan strategi penelusuran yang sukses.

f. Mengakses informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien. g. Mengevaluasi informasi.

h. Mengorganisasikan informasi.

i. Menggabungkan informasi yang dipilih menjadi dasar pengetahuan

seseorang.

j. Menggunakan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut UNESCO (2005:1) literasi informasi memampukan seseorang

untuk menafsirkan informasi sebagai pengguna informasi dan menjadi penghasil

informasi bagi dirinya sendiri. UNESCO juga mengatakan bahwa tujuan literasi

(19)

a. Memampukan seseorang agar mampu mengakses dan memperoleh informasi mengenai kesehatan, lingkungan, pendidikan, pekerjaan mereka dan lain-lain.

b. Memandu mereka dalam membuat keputusan yang kritikal mengenai

kehidupan mereka.

c. Lebih bertanggung jawab terhadap kesehatan dan pendidikan mereka.

Literasi informasi dibutuhkan di era globalisasi informasi agar pengguna

memiliki kemampuan untuk menggunakan informasi dan teknologi komunikasi

dan aplikasinya untuk mengakses dan membuat informasi. Misalnya kemampuan

dalam menggunakan alat penelusuran internet.

Berdasarkan tujuan yang diuraikan di atas, maka literasi informasi

memiliki tujuan dalam membantu seseorang dalam memenuhi kebutuhan

informasinya baik untuk kehidupan pribadi (pendidikan, kesehatan, pekerjaan)

maupun lingkungan masyarakat.

2.1.3 Manfaat Literasi Informasi

Jelaslah bahwa dengan memiliki literasi informasi kita memiliki

kemudahan-kemudahan dalam melakukan berbagai hal yang berhubungan dengan

kegiatan informasi. Menurut Gunawan (2008:3) literasi informasi bermanfaat

dalam persaingan di era globalisasi informasi sehingga pintar saja tidak cukup

tetapi yang utama adalah kemampuan dalam belajar secara terus-menerus.

Menurut Adam (2009:1) bahwa terdapat beberapa manfaat literasi

informasi yaitu:

1. Membantu mengambil keputusan.

Literasi informasi berperan dalam membantu memecahkan suatu

persoalan. Kita harus mengambil keputusan ketika memecahkan

masalah, sehingga dalam mengambil keputusan tersebut seseorang

harus memiliki informasi yang cukup.

2. Menjadi manusia pembelajar di era ekonomi pengetahuan.

Kemampuan literasi informasi memiliki peran yang sangat penting

dalam meningkatkan kemampuan seseorang menjadi manusia

pembelajar. Semakin terampil dalam mencari, menemukan,

(20)

kesempatan untuk selalu melakukan pembelajaran sehingga dapat

belajar secara mandiri.

3. Menciptakan pengetahuan baru.

Suatu negara dikatakan berhasil apabila mampu menciptakan

pengetahuan baru. Seseorang yang memiliki literasi informasi akan

mampu memilih informasi mana yang benar dan mana yang salah,

sehingga tidak mudah saja percaya dengan informasi yang

diperoleh.

Menurut Hancock (2004:1) manfaat literasi informasi adalah:

1. Untuk pelajar

Pelajar dan guru akan dapat menguasai pelajaran mereka dalam

proses belajar mengajar dan siswa tidak akan tergantung kepada

guru karena dapat belajar secara mandiri dengan kemampuan

literasi informasi yang dimiliki. Hal ini dapat dilihat dari

penampilan dan kegiatan mereka di lingkungan belajar.

Mahasiswa yang literat juga akan berusaha belajar mengenai

berbagai sumber daya informasi dan cara penggunaan

sumber-sumber informasi.

2. Untuk masyarakat

Literasi informasi bagi masyarakat sangat diperlukan dalam

kehidupan sehari-hari mereka dan dalam lingkungan pekerjaan.

Mereka mengidentifikasi informasi yang paling berguna saat

membuat keputusan misalnya saat mencari bisnis atau mengelola

bisnis dan berbagi informasi dengan orang lain.

3. Untuk pekerja

Kemampuan dalam menghitung dan membaca belum cukup dalam

dunia pekerjaan, karena pada saat ini terjadi ledakan informasi

sehingga pekerja harus mampu menyortir dan mengevaluasi

informasi yang diperoleh. Bagi pekerja, dengan memiliki literasi

(21)

memecahkan berbagai masalah terhadap pekerjaan yang dihadapi

dan dalam membuat kebijakan.

Berdasarkan beberapa pendapat yang diuraikan di atas maka dapat

dikatakan bahwa literasi informasi bermanfaat di era globalisasi informasi bagi

semua orang baik pelajar, pekerja, dan dalam lingkungan masyarakat. Setiap

orang yang memiliki literasi informasi maka dapat menciptakan pengetahuan baru

dengan menggabungkannya dengan pengetahuan yang sebelumnya ada dan

memudahkan dalam pengambilan keputusan ketika menghadapi berbagai masalah

maupun ketika membuat suatu kebijakan.

2.1.4 Kriteria Literasi Informasi

Literasi informasi merupakan kemampuan yang sangat diperlukan dalam

memenuhi kebutuhan seseorang. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut terdapat

beberapa kriteria dalam literasi informasi. Menurut Shapiro dalam Pendit (2007:7)

bahwa terdapat 7 (tujuh) keterampilan yang dibutuhkan dalam era digital yaitu:

a. Tool literacy: kemampuan memahami dan menggunakan teknologi informasi secara konseptual dan praktikal, termasuk di dalamnya kemampuan menggunakan perangkat lunak, keras, multimedia yang relevan dengan bidang kerja atau studi.

b. Resources literacy: kemampuan memahami bentuk, format, lokasi, dan cara mendapatkan sumber daya informasi terutama jaringan informasi yang terus berkembang.

c. Social structural literacy: pemahaman tentang bagaimana informasi dihasilkan oleh berbagai pihak di dalam sebuah masyarakat.

d. Research literacy: yaitu kemampuan menggunakan peralatan berbasis teknologi informasi sebagai alat riset.

e. Publishing literacy: kemampuan untuk menyusun dan menerbitkan publikasi dan ide ilmiah ke kalangan masyarakat dengan memanfaatkan komputer dan internet.

f. Emerging technology literacy: kemampuan yang memungkinkan seseorang untuk terus menerus menyesuaikan diri dan mengikuti perkembangan tekhnologi dan bersama-sama dengan komunitasnya ikut menentukan arah pemanfaatan tekhnologi informasi untuk kepentingan pengembangan ilmu.

(22)

Sedangkan menurut Breivik dalam Kuhlthau (1987:12) kriteria literasi

informasi yaitu:

a. Skill and knowledge (kemampuan dan pengetahuan)

Literasi informasi dimulai dengan sebuah pengetahuan mengenai

sumber informasi dan peralatan dalam memperoleh informasi misal

indeks untuk mengakses informasi. Kemampuan dibutuhkan untuk

menentukan strategi dan teknik apa yang digunakan dalam mengakses

informasi ketika informasi dibutuhkan.

b. Attitudes (Sikap)

Karakteristik yang kedua adalah sikap. Sikap ini meliputi ketekunan,

perhatian secara detail dan keragu-raguan (misalnya penyebab

menerima informasi yang diperoleh).

c. Time and labor intensive (waktu dan intensitas penggunaan)

Salah satu karakteristik yang paling penting adalah waktu dan

penggunaan informasi. Kegunaan dari kemampuan ini adalah untuk

mengetahui apakah informasi digunakan secara efektif atau tidak.

d. Need driven (pengendali kebutuhan)

Maksudnya adalah bagaimana seseorang mengidentifikasi informasi

yang akan dicari dan bagaimana memecahkan masalah dalam

pencarian dan penggunaan informasi.

e. Computer literacy (literasi komputer)

Karakteristik yang dibutuhkan dalam mendukung kemampuan literasi

yaitu bagaimana menggunakan teknologi komputer dalam mencari

informasi.

Berdasarkan dua pendapat di atas dapat dikatakan bahwa apabila kriteria

tersebut dapat terpenuhi oleh seseorang maupun suatu negara maka tingkat

keterpakaian terhadap informasi akan tinggi dan tidak ada lagi yang buta terhadap

informasi. Namun untuk memenuhi kriteria tersebut diperlukannya bantuan

seperti pustakawan. Oleh karena itu pustakawan juga harus mengerti kriteria

(23)

2.1.5 Keterampilan Literasi Informasi

Literasi sangat diperlukan agar dapat hidup sukses dan berhasil dalam era

masyarakat informasi dan dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi di

dunia pendidikan. Dengan memiliki literasi informasi maka seseorang akan terus

berusaha belajar untuk memperoleh informasi dan menciptakan

pengetahuan-pengetahuan baru. Untuk itu ada beberapa langkah-langkah dalam memperoleh

kemampuan tersebut.

Menurut Gunawan (2008:9) ada 7 (tujuh) langkah dalam memperoleh

kemampuan literasi informasi. Tujuh langkah keterampilan tersebut adalah:

1. Merumuskan masalah

Langkah awal dalam perumusan masalah adalah mengidentifikasi

masalah. Langkah-langkah dalam perumusan masalah adalah:

- Melakukan analisis situasi

Analisis situasi adalah mencari informasi yang dapat diperoleh

melalui perpustakaan, toko buku, internet dan pusat-pusat informasi

lainnya.

- Brainstroming

Brainstroming adalah teknik yang digunakan dalam mengembangkan dan menciptakan ide-ide baru untuk penyelesaian

suatu masalah.

- Mengajukan pertanyaan

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong berpikir secara kritis.

- Memvisualisasikan pemikiran (mind mapping)

Kegiatan memvisualisasikan pemikiran dilakukan dengan

penggambaran hubungan diantara konsep-konsep.

2. Mengidentifikasi sumber informasi

Sumber-sumber informasi terdiri dari sumber informasi tercetak (buku,

jurnal, majalah, laporan penelitian) dan sumber elektronik (melalui

internet yaitu jurnal elektronik, buku elektronik, dan informasi-informasi

(24)

a. Relevansi

Relevansi adalah menilai sejauh mana informasi yang dikandung

sesuai dengan topik yang dibahas dan dapat dilihat dari kedalaman

dan sumber referensi yang jelas.

b. Kredibilitas

Kredibilitas adalah menentukan sejauh mana sumber informasi dapat

dipercaya. Kredibilitas dapat dilihat dari:

- Kredibilitas pencipta dan penanggung jawab

Dilihat dari sejauh mana suatu lembaga dan pencipta menghasilkan

karya dan bagaimana latar belakang dari penanggung jawab dan

pencipta bisa dilihat dari biografi penanggung jawab.

- Proses pembuatan

Proses pembuatan dapat dilihat dari proses penelaan. Suatu karya

akan semakin berkualitas apabila melewati suatu proses penelaan

dari para ilmuwan.

- Pemanfaatan

Pemanfaatan sumber informasi dapat dilihat dari seberapa sering

orang menggunakan sumber informasi tersebut atau dengan kata

lain tingkat pemanfaatannya.

c. Kemuktahiran

Kemutakhiran sumber informasi dapat dilihat dari tahun terbit,

keterangan kapan revisi terakhir kali, keterangan kapan revisi secara

berkala dan daftar pustaka. Sedangkan kalau melalui sumber internet,

kemutakhiran dapat dilihat kapan situs tersebut dibuat dan kapan

terakhir kali di up date.

3. Mengakses informasi

Langkah langkah dalam mengakses informasi adalah:

a. Mengetahui kebutuhan informasi.

b. Mengidentifikasi alat penelusuran yang relevan seperti di

perpustakaan OPAC, Katalog, WEBPAC dan di internet seperti

(25)

c. Menyusun strategi penelusuran misalnya dengan operator boolean.

4. Menggunakan informasi

Sumber informasi yang ditawarkan di era globalisasi informasi sangat

banyak tetapi belum semua informasi tersebut sesuai dengan kebutuhan

informasi. Sehingga perlu melakukan seleksi terhadap informasi dengan

kriteria sebagai berikut:

a. Relevan

Informasi dikatakan relevan jika sesuai dengan masalah yang dibahas.

b. Akurat

Informasi yang akurat adalah informasi yang tidak menyesatkan.

Sehingga untuk membutikannya perlu diperiksa terlebih dahulu.

c. Objektif

Suatu karya dikatakan objektif apabila berdasarkan fakta dan

fenomena yang dapat diamati.

d. Kemutakhiran

Kemutakhiran informasi dapat dilihat dari waktu pengumpulan

informasi, waktu publikasi, waktu pemberian hak cipta atau paten, dan

waktu publikasi sumber-sumber yang mendukung bila berbentuk

tulisan.

e. Kelengkapan dan kedalaman suatu karya

Kelengkapan dan kedalaman suatu karya dapat dilihat dari sejauh

mana kemampuan pencipta informasi menguasai bidang tersebut.

5. Menciptakan karya

Penciptaan suatu karya harus berdasarkan persyaratan COCTUC yaitu:

a. Clarifity (kejelasan)

Suatu karya ditulis harus berdasarkan langkah-langkah, tidak

berbelit-belit/langsung ke topik permasalahan, disusun secara logis dan

menggunakan sudut pandang yang konsisten.

b. Organization (organisasi)

Pengorganisasian suatu karya dilakukan dengan cara penyusunan

(26)

c. Coherence (koherensi dan pertalian)

Pertalian suatu karya dapat dilihat dari hubungan yang jelas antara

ide-ide maupun gagasan-gagasan yang dibahas dalam topik tersebut.

d. Transision (transisi)

Transisi diperlukan agar suatu informasi mudah dimengerti. Transisi

disebut juga dengan penghubung. Transisi dibuat antara

kalimat-kalimat, paragraf ke paragraf dan ide ke ide. Transisi juga bisa

dilakukan dengan menggunakan kata ganti.

e. Utility (kesatuan)

Suatu karya yang baik adalah apabila memiliki satu kesatuan misalnya

kalimat demi kalimat dan paragraf demi paragraf.

f. Conciseness (kepadatan)

Kepadatan suatu karya dapat dilakukan dengan cara menghindari

penggunan kata-kata atau frase-frase berlebihan dan berbelit-belit.

Plagiarisme merupakan hal yang harus dihindari dalam menciptakan suatu karya. Hal ini dilakukan dengan mencantumkan sumber informasi yang

diambil setiap kali digunakan.

6. Mengevaluasi

Kegiatan mengevaluasi suatu karya dapat dilakukan dengan membaca

karya yang akan dievaluasi. Kita harus membaca secara teliti agar dapat

melihat kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul baik pada bagian

pendahuluan, isi dan penutup.

7. Menarik pelajaran

Pelajaran dapat diperoleh berdasarkan kesalahan-kesalahan,

kegagalan-kegagalan dan pengalaman baik pengalaman sendiri maupun orang lain.

Pelajaran ini juga dilakukan dengan membuat sebuah catatan mengenai

(27)

Hal yang sama juga dijabarkan oleh Campbell dalam Jesus (2008:11)

bahwa ada beberapa langkah-langkah dalam memperoleh kemampuan literasi

informasi yaitu:

1. Merumuskan kebutuhan informasi

Merumuskan kebutuhan informasi merupakan tahap awal dalam

melakukan penelusuran informasi. Kegunaan dari indentifikasi

informasi adalah seseorang akan mengetahui apa kegunaan informasi

yang dicari misalnya untuk pendidikan, kesehatan dan hubungan

dengan masyarakat.

2. Mengalokasikan dan mengevaluasi kualitas informasi.

Mengalokasikan informasi dapat dilakukan dengan cara manual atau

pun membuatnya ke dalam database agar suatu saat diperlukan bisa

ditemu kembali. Kualitas dari informasi dapat dilihat dari penggunaan

informasi tersebut dan kredibilitas dari informasi tersebut. Apabila

kriteria informasi dipenuhi oleh suatu informasi maka kualitasnya

semakin baik.

3. Menyimpan dan menemu kembalikan informasi.

Seseorang harus mampu menyimpan informasi yang sudah diperoleh

agar suatu saat informasi tersebut mudah ditemukan kembali ketika

akan digunakan. Penyimpanan dapat dilakukan dengan menggunakan

sistem manual maupun elektronik. Sistem manual dapat dilakukan

dengan menggunakan rak-rak perpustakaan sedangkan sistem

elektronik dapat dilakukan dengan menggunakan komputer.

4. Menggunakan informasi secara efektif dan efisien.

Kemampuan ini digunakan agar seseorang mampu menggunakan

informasi yang diperoleh secara efektif dan efisien.

5. Mengkomunikasikan pengetahuan.

Kemampuan ini bertujuan untuk memampukan seseorang dalam

menciptakan pengetahuan baru dan menyebarkan atau

mengkomunikasikan kepada orang lain yang membutuhkan informasi

(28)

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dikatakan bahwa untuk

memperoleh literasi informasi seseorang harus menguasai dan mempelajari

langkah-langkah dalam memperoleh kemampuan literasi informasi. Apabila

langkah-langkah literasi informasi tersebut dikuasai maka kemampuan literasinya

akan semakin meningkat.

2.2 Manfaat Kompetensi Literasi Informasi pada Perguruan Tinggi

Pendidikan berperan dalam menjadikan seseorang literat terhadap

informasi sehingga semua orang dapat memperoleh informasi sesuai dengan

kebutuhannya. Saat ini literasi informasi merupakan menjadi komponen yang

penting di perguruan tinggi. Breivik (1991:1) menyarankan agar literasi informasi

menjadi bagian penting dalam pendidikan. Proses tersebut akan berjalan dengan

baik bila didukung oleh kompetensi literasi informasi.

Menurut ACRL (2000:4) literasi informasi pada perguruan tinggi

bermanfaat dalam pembelajaran sepanjang hayat yang akan menjadi dasar dalam

pekerjaan dan karier di masa yang akan datang.

Menurut Gunawan (2008:3) literasi informasi dibutuhkan dalam

implementasi kurikulum berbasis kompetensi yang mengharuskan peserta didik

untuk memanfaatkan sumber informasi dalam berbagai format.

Hal yang sama juga dikatakan oleh California State University dalam

Hasugian (2009:204) bahwa manfaat kompetensi literasi informasi dalam dunia

perguruan tinggi yaitu:

a. Menyediakan metode yang telah teruji untuk dapat memandu

mahasiswa ke berbagai sumber informasi yang terus berkembang. Sekarang ini individu berhadapan dengan informasi yang beragam dan berlimpah. Informasi tersedia melalui perpustakaan, sumber-sumber komunitas, organisasi khusus, media dan internet.

b. Mendukung usaha nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Lingkungan belajar yang proaktif mensyaratkan setiap mahasiswa memiliki kompetensi literasi informasi. Dengan keahlian informasi tersebut maka mahasiswa akan selalu dapat mengikuti perkembangan bidang ilmu yang dipelajarinya.

c. Menyediakan perangkat tambahan untuk memperkuat isi perkuliahan.

(29)

d. Meningkatkan pembelajaran seumur hidup. Meningkatkan pembelajaran seumur hidup adalah misi utama dari institusi pendidikan tinggi. Dengan memastikan bahwa setiap individu memiliki kemampuan intelektual dalam berfikir secara kritis yang ditunjang dengan kompetensi informasi yang dimilikinya maka individu dapat melakukan pembelajaran seumur hidup secara mandiri.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas maka diketahui bahwa literasi

informasi merupakan kunci utama di perguruan tinggi dalam meningkatkan

pengetahuan peserta didik. Dengan Literasi informasi maka mahasiswa akan

mampu belajar secara mandiri, berhadapan dengan berbagai sumber informasi dan

menjadi bekal dalam pelaksanaan pembelajaran sepanjang hayat di era globalisasi

informasi ini.

2.3 Model Literasi Informasi pada Perguruan Tinggi

Literasi informasi adalah kemampuan dalam memenuhi kebutuhan

informasi. Ada banyak model literasi informasi yang digunakan untuk mengetahui

dan mengukur literasi informasi seseorang. Namun ada beberapa model literasi

informasi yang sering digunakan di perguruan tinggi yaitu the big six, the seven

pillars dan the empeworing eight. Setiap model memiliki langkah-langkah.

Model-model literasi tersebut adalah:

1. The Big 6 (An Information Problem-Solving Process)

Model literasi ini dikembangkan oleh dua pakar bernama Robert E.

Berkowitz dan Michael B. Eisenberg pada tahun 1987. Berkowitz dan Eisenberg

menamai model literasi informasi ini dengan the Big 6. Model literasi ini telah

banyak digunakan di seluruh dunia antara lain Amerika Serikat, Italia, Belanda,

Afrika Selatan, Taiwan, Selandia Baru dan Indonesia.

The Big 6 terdiri dari 6 keterampilan dan 12 langkah. Tiap-tiap

keterampilan memiliki beberapa langkah yaitu:

1. Task define

- Define the information problem - Identify information needed 2. Information Seeking Strategies

(30)

3. Location and Access

- Locate sources (intellectually and physically) - Find information within sources

4. Use of Information

- Engage (e.g., read, hear, view, touch) - Extract relevant information

5. Synthesis

- Organize from multiple sources - Present the information

6. Evaluation

- Judge the product (effectiveness)

- Judge the process (efficiency) (Eisenberg, 2007:1)

Berdasarkan pendapat yang diuraikan di atas diketahui bahwa model

literasi the big 6 memiliki 6 keterampilan yaitu merumuskan masalah; strategi

pencarian informasi yang mencakup menentukan dan memilih sumber informasi

yang tepat; mengalokasi dan mengakses informasi sehingga dibutuhkan alat

pencarian informasi misalnya OPAC; memanfaatkan informasi yang bisa

dilakukan dengan membaca, mendengar, meraba; mensintesis informasi yang

dapat dilakukan dengan cara menggorganisasi dan mempresentasikan informasi

tersebut dan terakhir mengevaluasi informasi yaitu dalam mengevaluasi hasil

yaitu efektifitasnya dan proses yaitu efisiensinya. Model the big 6 ini sangat

bagus digunakan dalam memecahkan masalah, pelaksanaan tugas dan

pengambilan keputusan.

2. Seven Pillars

Seven Pillars model dibuat oleh SCONULL dan pertama kali keluar pada

tahun 1999. Model ini mengkombinasikan ide mengenai kemampuan yang

meliputi mengklarifikasi dan mengilustrasikan hubungan antara informasi

keterampilan dan keahlian TI, dan gagasan tentang kemajuan. Ada beberapa

keterampilan yaitu:

1. Recognize information need

2. Distinguish ways of addressing gap 3. Contruct strategies for locating 4. Locate and accsess

5. Compare and evaluate

6. Organise, apply, and communicate

(31)

Gambar 1. Seven Pillars Model

Berdasarkan pendapat yang diuraikan di atas model literasi informasi

seven pillars memiliki tujuh tahapan yaitu mengidentifikasi kebutuhan informasi,

mengetahui sumber informasi yang relevan dengan kebutuhan, membangun

strategi penelusuran informasi, menentukan lokasi informasi dan mengakses informasi yang sesuai dengan topik, membandingkan informasi yang diperoleh dengan informasi yang telah ada serta mengevaluasi, menerapkan serta

mengkomunikasikan atau menyebarkan informasi yang diperoleh kepada audien

dan terakhir membangun atau membuat sebuah pengetahuan baru dari informasi

yang diperoleh.

3. Empeworing Eight

Pada tahun 2004 diadakan workshop mengenai literasi informasi di

Kolombo yang kemudian dilanjutkan pada tahun 2005 di Patiala. Workshop ini

dihadiri oleh beberapa negara yaitu Indonesia, India, Bangladesh, Maldiva,

Malaysia, Nepal, Pakistan, Singapura, Sri Lanka, Vietnam dan Thailand. Dan

hasil dari seminar ini melahirkan konsep baru dari model literasi informasi yaitu

(32)

karena mencerminkan kondisi orang Asia. Dan sekarang model ini menjadi hak

milik intelektual NILIS Sri Langka dengan beberapa keterampilan yaitu:

1. Identifity

- Define the topic or subject

- Determine and understand the audience

- Choose the relevant format for the finished product - Identify the key words

- Plan a search strategy

- Identify different types of resources where information maybe found

2. Explore

- Locate resources appropriate to the chosen topic - Find information appropriate to the chosen topic - Do interviews, field trips or other outside research 3. Select

- Choose relevant information

- Determine which sources are too easy, too hard, or just right - Record relevant information through note making or making a

visual organizer such as a chart, graph, or outline, etc - Identify the stages in the process

- Collect appropriate citations 4. Organise

- Sort the information

- Distinguish between fact, opinion, and fiction - Check for bias in the sources

- Sequence the information in a logical order

- Use visual organizers to compare or contrast information 5. Create

- Prepare information in their own words in a meaningful way - Revise and edit, alone or with a peer

- Finalize the bibliographic format 6. Present

- Practise for presentation activity

- Share the information with an appropriate audience

- Display the information in an appropriate format to suit the audience

- Set up and use equipment properly 7. Assess

- Accept feedback from other students

- Self assess one's performance in response to the teacher’s assessment of the work

- Reflect on how well they have done - Determine if new skills were learned

(33)

8. Apply

- Review the feedback and assessment provided

- Use the feedback and assessment for the next learning activity/ task

- Endeavour to use the knowledge gained in a variety of new situation

- Determine in what other subjects these skills can now be used - Add product to a portfolio of productions (Wijetunge, 2005:36)

Berdasarkan pendapat yang diuraikan di atas diketahui bahwa model

Empeworing 8 terdiri dari delapan tahapan yaitu mengidentifikasi masalah yang

meliputi identifikasi topik, audien, format informasi, kata kunci, strategi

penelusuran dan sumber sumber informasi; eksplorasi meliputi kegiatan dalam

memilih dan menemukan sumber informasi yang sesuai dengan topik yang dapat

dilakukan dengan interview; memilih informasi yang relevan; mengorganisir

informasi meliputi menyusun informasi secara logis; menciptakan informasi yang

dapat dilakukan dengan menciptakan informasi sendiri, merevisi dan membuat

daftar bibliografi; menyajikan yaitu menyebarkan informasi yang diperoleh

kepada peserta; menaksir yaitu menerima masukan dari orang lain dan

menentukan apa yang terbaik dimasa yang akan datang; terakhir menerapkan

yaitu menerapkan informasi tersebut dalam berbagai situasi misal pendidikan,

pekerjaan, dan lain-lain.

4. Kuhlthau Information Seeking

Dikembangkan oleh Carol Kuhlthau yaitu seorang profesor dibidang ilmu

perpustakaan dan informasi pada University New Jesery. Pada jenis model ini

menunjukkan bagaimana proses setiap penelitian dan bagaimana mengembangkan

setiap tahap. Menurut Kuhlthau ada beberapa keterampilan yaitu:

1. Initiation 2. Selection 3. Exploration 4. Formulation 5. Collection

(34)

Berdasarkan pendapat yang diuraikan di atas diketahui bahwa model

Kuhlthau terdiri dari enam keterampilan meliputi mempersiapkan topik yang akan

dicari, menyeleksi informasi yang diperoleh, eksplorasi yaitu memilih sumber

informasi yang relevan dengan kebutuhan, formulasi kebutuhan informasi,

mengumpulkan informasi yang sesuai dengan topik dan terakhir melakukan

penelusuran informasi.

2.4 Standar Literasi Informasi pada Perguruan Tinggi

Standar ini dikaji oleh Komite Standar ACRL dan disetujui oleh Dewan

Direksi Association of College and Research Libraries (ACRL) pada 18 Januari

2000. ACRL telah mengeluarkan lima standard literasi informasi dalam dunia

perguruan tinggi dan kelima standar tersebut memiliki 20 indikator.

Standar literasi ini berisi daftar sejumlah kemampuan yang digunakan

dalam menentukan kemampuan seseorang dalam memahami informasi. Dalam

standar ini terdapat cara bagaimana mahasiswa dapat berinteraksi dengan

informasi. Standar ini juga digunakan oleh fakultas, pustakawan dan staff lainnya

dalam mengembangkan metode untuk mengukur pembelajaran mahasiswa sesuai

dengan misi institusi tersebut.

Menurut Bundy (2004:34) perguruan tinggi yang telah menggunakan

standar ACRL dalam menentukan kemampuan literasi informasi mahasiswa

antara lain:

a. Australian National University

Standar ini digunakan dalam mengukur kemampuan mahasiswanya dalam

menganalisis dan mengevaluasi sumber informasi yang diperoleh.

b. Charles Sturt University

Standar ini digunakan perpustakaan universitas tersebut untuk

mengajarkan literasi informasi dan mempromosikan kemampuan tersebut

kepada pengguna perpustakaan sebagai pembelajaran penting di masa

(35)

c. RMIT University

Standar ini digunakan untuk mengembangkan program-program

perpustakaan termasuk tutorial online dan mempromosikan konsep literasi

informasi kepada staff akademi.

c. Universitas Sumatera Utara

Standar literasi informasi ini juga pernah dipakai oleh Nasution (2009:57)

dalam mengetahui literasi informasi mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan

Informasi USU. Dari standar ini diketahuilah bahwa mahasiswa Ilmu

Perpustakaan dan Informasi memiliki literasi informasi yang cukup baik.

Standar ACRL (2000:8) tersebut yaitu:

1. Mahasiswa yang literat informasi mampu menentukan jenis dan sifat

informasi yang dibutuhkan.

a. Mahasiswa mendefinisikan dan menyampaikan kebutuhan

informasinya.

b. Mahasiswa mengidentifikasi berbagai jenis dan bentuk sumber

informasi yang potensial.

c. Mahasiswa mempertimbangkan biaya dan keuntungan yang

diperoleh dari informasi yang dibutuhkan.

d. Mahasiswa mengevaluasi kembali sifat dan batasan informasi

yang dibutuhkan.

2. Mahasiswa yang literat informasi mengakses kebutuhan informasi

secara efektif dan efisien.

a. Mahasiswa memilih metode penelitian dan sistem temu kembali

informasi yang paling tepat untuk mengakses informasi yang dibutuhkan.

b. Mahasiswa membangun dan menerapkan strategi penelusuran yang

efektif.

c. Mahasiswa melakukan sistem temu kembali secara online atau

pribadi dengan menggunakan berbagai metode.

d. Mahasiswa memperbaiki strategi penelusuran jika diperlukan.

e. Mahasiswa mengutip, mencatat dan mengolah informasi dan

sumber-sumbernya.

3. Mahasiswa yang literat mengevaluasi informasi dan sumber-sumber

secara kritis dan menjadikan informasi yang dipilih sebagai dasar pengetahuan.

a. Meringkas ide utama yang dikutip dari informasi yang

dikumpulkan.

b. Mahasiswa menentukan dan menerapkan kriteria awal untuk

mengevaluasi informasi dan sumber-sumbernya.

c. Mahasiswa mampu mensintesis ide utama untuk membangun

(36)

d. Mahasiswa membandingkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lama untuk menentukan nilah tambah, kontradiksi, atau karakteristik informasi unik lainnya dari informasi.

e. Mahasiswa menentukan apakah pengetahuan baru memberi

dampak terhadap sistem nilai individu dan mengambil langkah-langkah untuk menyatukan perbedaan.

f. Mahasiswa menentukan bila query perlu direvisi.

4. Mahasiswa yang literat menggunakan dan mengkomunikasikan

informasi dengan efektif dan efisien.

a. Mahasiswa menerapkan informasi baru dan yang lama untuk

merencanakan dan menciptakan hasil.

b. Mahasiswa merevisi proses pengembangan untuk hasil.

c. Mahasiswa mengkomunikasikan hasil secara efektif kepada orang

lain.

5. Mahasiswa yang literat informasi memahami isu ekonomi, hukum dan

sosial sekitar penggunaan dan pengaksesan informasi secara etis dan hukum

a. Mahasiswa memahami isu-isu ekonomi, hukum dan aspek sosial

mengenai informasi dan teknologi informasi.

b. Mahasiswa mematuhi hukum, peraturan, kebijakan intitusi, dan

etika yang berhubungan dengan pengaksesan dan penggunaan sumber informasi

c. Mahasiswa mengetahui penggunaan sumber-sumber informasi

dalam mengkomunikasikan informasi.

Hasil yang dicapai pada standar pertama dalam hal mendefenisikan dan

menyampaikan kebutuhan informasinya adalah mahasiswa mampu berdiskusi

dengan pengajar, mengikuti diskusi-diskusi termasuk diskusi kelas dan elektronik

dalam merumuskan kebutuhan informasi; menjelajahi sumber informasi;

mengidentifikasikan kebutuhan informasi dan mengidentifikasikan konsep dan

kata kunci untuk menjelaskan informasi yang dibutuhkan.

Hasil yang dicapai dalam hal mengidentifikasi berbagai jenis bentuk

sumber informasi adalah mahasiswa mengetahui bagaimana proses informasi

dihasilkan, disusun dan disebarkan; mengidentifikasi nilai dan perbedaan setiap

sumber informasi (misalnya buku, situs web); mengidentifikasi kemutakhiran

informasi; dan dapat membedakan mana sumber informasi primer dan sumber

informasi sekunder serta cara penggunaanya.

Hasil yang dicapai dalam hal mempertimbangkan biaya dan keuntungan

(37)

keputusan dalam memperluas proses pencarian (misalnya meminjam ke

perpustakaan lain, menggunakan kata kunci lain); belajar sebuah bahasa baru dan

kemampuan baru; dan membuat proses perencanaan dalam memperoleh informasi

yang dibutuhkan.

Hasil yang dicapai dalam mengevaluasi dan menentukan jenis dan batasan

sumber informasi adalah mampu memperjelas dan memperbaiki masalah.

Hasil yang dicapai pada standar kedua dalam memilih metode penelitian

yang sesuai untuk mengakses informasi penelitian adalah mampu

mengidentifikasi metode penelitian; meneliti ruang lingkup, isi dan sistem

penelusuran.

Hasil yang dicapai dalam hal menerapkan dan memilih strategi

penelusuran adalah mahasiswa mampu mengidentifikasi kata kunci, sinonim dan

istilah lainnya; menyeleksi kosa kata terkendali dan menerapkan strategi

penelusuran (misalnya menggunakan opertor boolean, truncation dan proximity)

Hasil yang dicapai dalam hal temu kembali secara pribadi maupun online

adalah mahasiswa mampu menggunakan sistem temu kembali untuk mendapatkan

sumber informasi; menggunakan layanan lain untuk memperoleh informasi yang

dibutuhkan; dan menggunakan surat, survei dan wawancara dalam mendapatkan

informasi primer.

Hasil yang dicapai dalam hal memperbaiki strategi penelusuran jika

diperlukan adalah mahasiswa mampu menilai kerelevansian informasi yang

diperoleh dengan kebutuhan informasi, melakukan penelusuran ulang dan

menggunakan strategi baru dalam penelusuran informasi.

Hasil yang dicapai dalam hal mengutip, mencatat dan mengolah informasi

dan sumber-sumbernya adalah mahasiswa mampu mencatat kutipan informasi

yang terkait untuk dipakai sebagai rujukan dan menggunakan berbagai teknologi

informasi untuk mengelola informasi yang diperoleh.

Hasil yang dicapai pada indikator ketiga dalam meringkas ide utama yang

dikutip dari informasi yang dikumpulkan adalah mahasiswa mampu menentukan

(38)

Hasil yang dicapai dalam menentukan dan menerapkan kriteria awal untuk

mengevaluasi informasi dan sumber-sumbernya adalah mahasiswa mampu

mengevaluasi informasi dari segi reabilitas, validitas, ketepatan waktu; mengenali

konteks budaya, konteks fisik dan konteks lainnya yang berkaitan dengan

terciptanya informasi.

Hasil yang dicapai dalam mensintesis ide utama untuk membangun konsep

baru adalah mahasiswa mampu mengenali hubungan antar konsep dan

menggabungkannya serta kemampuan dalam memanfaatkan komputer dan

teknologi lain (seperti multimedia, audio visual).

Hasil yang dicapai dalam membandingkan pengetahuan baru dengan

pengetahuan lama untuk menentukan nilah tambah, kontradiksi, atau karakteristik

informasi unik lainnya dari informasi adalah mahasiswa mampu menarik

kesimpulan dari informasi yang diperoleh serta melakukan pengujian terhadap

teori yang diperoleh berdasarkan disiplin ilmunya dan memadukan antara

pengetahuan yang sebelumnya dengan informasi yang diperoleh.

Hasil yang dicapai dalam menentukan apakah pengetahuan baru memberi

dampak terhadap sistem nilai individu adalah mahasiswa mampu menentukan

apakah informasi yang diperoleh bisa dimanfaatkan atau tidak.

Hasil yang dicapai dalam membuktikan kebenaran dari pemahaman dan

interpretasi informasi melalui diskusi dengan individu lain, para ahli dan praktisi

adalah mahasiswa mampu mengikuti diskusi-diskusi, komunikasi elektronik

(misalnya: milis, jaringan sosial) dan mencari berbagai pendapat para ahli melalui

berbagai mekanisme (misalnya wawancara dan email).

Hasil yang dicapai dalam menentukan apakah query adalah mahasiswa

mampu meninjau ulang strategi penelusuran dan sarana pencari informasi jika

diperlukan.

Hasil yang dicapai dalam menerapkan informasi baru dan yang lama untuk

merencanakan dan menciptakan hasil adalah mahasiswa mampu menciptakan

pengetahuan baru dan mengintregasikan informasi yang baru dan yang

(39)

Hasil yang dicapai pada standar empat dalam merevisi proses

pengembangan untuk hasil karya adalah mahasiswa mampu membuat sebuah

catatan aktifitas harian yang berkaitan dengan pencarian dan pengevaluasian

informasi serta mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan.

Hasil yang dicapai dalam mengkomunikasikan informasi kepada orang

lain secara efektif adalah mahasiswa mampu memilih media dan bentuk

komunikasi dalam menciptakan dan menampilkan suatu karya.

Hasil belajar yang dicapai pada standar lima dalam memahami isu-isu

ekonomi, politik, sosial mengenai informasi dan teknologi informasi adalah

mahasiswa mampu mendiskusikan isu-isu yang berkaitan dengan kerahasiaan dan

keamanan pada media elektronik dan cetak dan memahami hak cipta.

Hasil belajar yang dicapai dalam mematuhi hukum, peraturan, kebijakan

intitusi, dan etika yang berhubungan dengan pengaksesan dan penggunaan sumber

informasi adalah mahasiswa mampu berpartisipasi dalam diskusi-diskusi

elektronik; menggunakan kata sandi dan bentuk pengenalan lainnya yang resmi

untuk mengakses sumber informasi; dan menunujukkan pemahaman mengenai

plagiarisme.

Hasil belajar yang dicapai dalam mengetahui penggunaan sumber-sumber

informasi dalam mengkomunikasikan informasi adalah mahasiswa mampu

memilih gaya pencatatan dokumen dan menggunakan secara konsisten dan

mendapatkan izin tertulis dalam hal hak cipta (ACRL, 2008:8).

Indikator-indikator di atas berguna bagi akademis seperti mahasiswa,

dosen pustakawan dan staff lainnya dalam menentukan dan mengetahui apakah

seseorang dapat dianggap memiliki kemampuan literasi informasi. Dengan

memiliki kompetensi standar literasi tersebut maka mahasiswa akan lebih peka

terhadap kebutuhan informasi.

Sehingga untuk memperoleh kompetensi tersebut sangatlah diperlukan

peranan institusi dan perpustakaan dalam meningkatkan kemampuan pemahaman

(40)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian ini maka penulis membutuhkan metode

penelitian yang tepat untuk mendukung penelitian. Adapun penelitian yang

digunakan penelitian deskriptif. Menurut Sugiyono (2002:6) “penelitian

deskriptif adalah penelitian yang dilakukan terhadap variabel mandiri yaitu tanpa

membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain”.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bagian Layanan Digital Perpustakaan USU

Jalan Perpustakaan No.1 Kampus USU Medan 20155. Karena pada perpustakaan

USU tepat pada layanan digital menyediakan layanan kepada mahasiswa S2

pascasarjana. Dimana tidak semua perpustakaan menyediakan layanan digital bagi

mahasiswa S2. Sehingga penulis ingin melihat bagaimana literasi mereka dalam

mencari informasi dimana pada pengamatan awal mahasiswa S2 pascasarjana

masih membutuhkan bantuan pustakawan dalam mencari informasi.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi adalah data yang dibutuhkan dalam mendukung kegiatan

penelitian. Menurut Sugiyono (2002:52) “Populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya.”

Populasi Penelitian ini adalah mahasiswa pascasarjana pengguna Layanan

Digital Perpustakaan USU. Jumlah pengguna layanan digital mahasiswa S2

pascasarjana berjumlah 4.772 (Lakip Perpustakaan 2009). Sehingga populasi

(41)

3.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari data populasi. Untuk menentukan ukuran

sampel maka digunakan rumus Slovin yaitu:

n = N

1+N.e²

=

3.4 Teknik Pengumpulan Data 4772

1+4772. (10 %)²

= 97,9

~

98

Keterangan

N=Populasi

n=sampel

e=tingkat kesalahan

Tingkat kesalahan yang digunakan adalah 10%

Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Menurut

Sugiyono (2002:62) “purposive sampling adalah teknik penentuan sampel untuk

tujuan tertentu saja”.

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian dapat

dilakukan dengan cara:

1. Kuisioner, yaitu pengumpulan data dengan cara memberikan daftar

pertanyaan kuisioner untuk diisi oleh responden.

2. Studi kepustakaan dan dokumen melalui berbagai bahan pustaka

seperti buku, jurnal, majalah, laporan tahunan dan dokumen lain yang

berhubungan dengan masalah yang diteliti.

3.5 Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data penelitian ini adalah:

1. Data primer: data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan

mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada

subjek sebagai sumber informasi yang dicari. Data primernya adalah

(42)

2. Data sekunder: data yang diperoleh dan bersumber dari buku, jurnal,

majalah dan laporan penelitian dan dokumen lain yang berhubungan

dengan penelitian.

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah adalah alat yang digunakan dalam

pengumpulan data yang tergantung dari sifat penelitiannya. Ada beberapa jenis

instrumen penelitian yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan

data dalam penelitian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan kuisioner

sebagai instrumen penelitian.

3.6. Kuisioner

Kuisioner adalah pertanyaan penelitian yang diberikan kepada responden.

Menurut Arikunto (2006:150) ”kuisioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis

yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan

tentang pribadinya atau hal-hal yang dia ketahui”. Dan jenis kuisioner yang

dibuat adalah kuisioner langsung yaitu dimana pertanyaan langsung diberikan

kepada responden.Pemberian kuisioner dilakukan selama 10 hari dan terjarin

antara 6-10 orang perharinya,.

3.7 Analisis Data

Data yang dikumpulkan dari penyebaran kuisioner dianalisis dengan

menggunakan metode deskriptif. Data yang diperoleh diambil dengan menyusun

kedalam tabel kemudian dihitung persentasenya, Penghitungan persentase dengan

menggunakan tafsiran data dengan menggunakan rumus. Setelah data

dipersesntasekan kemudian dikelommpokkan atau ditabulasikan.

Adapun rumus dalam menghitung persentase data yaitu:

P = F

n

Keterangan P = Persentase

F= Jumlah jawaban yang diperoleh

Gambar

Gambar 1. Seven Pillars Model
Tabel 1. Tabel Penyebaran Kuisioner No
Tabel 3. Kemampuan merumuskan topik Nomor pertanyaan 2
Tabel 4. Kemampuan mengetahui jenis sumber informasi Nomor pertanyaan 3 Jawaban Responden
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis data menunjukkan bahwa literasi informasi yang dimiliki pengguna Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan dengan menggunakan acuan standart

Database Science Direct dapat memenuhi kebutuhan informasi pengguna Layanan Digital Perpustakaan USU, sebab sebagian besar pengguna menyatakan bahwa informasi yang disediakan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang dilakukan oleh perpustakaan dalam pelaksanaan literasi informasi, untuk mengetahui pendapat

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang dilakukan oleh perpustakaan dalam pelaksanaan literasi informasi, untuk mengetahui pendapat

Berdasarkan hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi informasi yang dimiliki oleh siswa di Perpustakaan SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta jika

Hasil analisis data menunjukkan bahwa literasi informasi yang dimiliki pengguna Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan dengan menggunakan acuan standart

Berdasarkan data tersebut, nampak jelas bahwa pemanfaatan basisdata Science Direct oleh mahasiswa IPB khususnya mahasiswa pascasarjana S2 lebih besar dibandingkan basis

Hasil dari penelitian menunjukkan, kebijakan terkait kegiatan dan pelatihan literasi informasi di Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan melalui instruksi kerja no: IK-UAD-PERP-21,