• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kendala-Kendala Dalam Penegakan Hukum Terhadap Tindak

BAB III : PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA

B. Kendala-Kendala Dalam Penegakan Hukum Terhadap Tindak

Berdasarkan kelima kasus tindak pidana pemalsuan merek sebagaimana telah diuraikan di atas, maka dapat dijabarkan pada sub bab ini apa-apa saja yang menjadi faktor-faktor penegakan hukum terhadap tindak pidana pemalsuan merek pada masa berlakunya UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek. Dapat disimpulkan bahwa dari kelima kasus terdapat unsur: memperdagangkan Suku Cadang Mobil Merek Daihatsu yang palsu, tindak pidana pemalsuan merek lem CASTOL, memperdagangkan merek Penyedap Rasa (Vitsin) milik PT. Sasa Inti, tindak pidana pemalsuan merek Pisau Serut, dan memperdagangkan merek Busi NGK.

Secara lebih terperinci agar dapat diketahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dalam penegakan hukum merek berdasarkan UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek dikaitkan dengan pendapat Lawrence Milton Friedman dan Soerjono Soekanto sebagaimana telah disinggung pada awal sub bab ini, maka sebaiknya diperinci kondisi penegakan hukum pada kelima kasus tindak pidana pemalsuan merek sebagaimana tersebut di atas, berikut ini:

Tabel 1:

No. Kasus Merek Pemilik Merek Asli Pemenuhan Unsur Pelanggaran Pidana

1. Merek Daihatsu PT. Astra Daihatsu

Motor

Memperdagangkan merek palsu

2. Lem CASTOL Rachmat Basuki Memalsukan sekaligus

memperdagangkan merek

3. Penyedap Rasa

(Vitsin)

PT. Sasa Inti Memperdagangkan merek palsu

4. Pisau Serut Shanghai Remnin

Tool Factory PT. Inax International Corporation (pengadu) Memalsukan sekaligus memperdagangkan merek 5. Busi NGK PT. NGK Busi Indonesia

Memperdagangkan merek palsu

Sumber: Rangkuman dari Kelima Kasus Tindak Pidana Pemalsuan Merek

Penjelasan tabel 1 tersebut di atas, bahwa dari kelima contoh kasus tindak pidana pemalsuan merek berdasarkan UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek, pemenuhan unsur pelanggaran hanya terdapat 2 (dua) unsur yaitu unsur memperdagangkan merek palsu dan atau unsur memalsukan merek. Pelaku dapat melakukan satu di antaranya atau kedua-dua unsur sekaligus yaitu memalsukan merek sekaligus memperdagangkan merek.

Sebagaimana diketahui bahwa unsur-unsur yang ditentukan dalam UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek khususnya pada bab ketentuan pidana, tidak terdapat istilah “pemalsuan merek”. Namun, istilah pemalsuan merek dapat ditafsirkan dari beberapa kalimat (unsur) dalam rumusan tersebut, yaitu:

1. Menggunakan Merek yang sama pada keseluruhannya (Pasal 90).

3. Menggunakan tanda yang sama pada keseluruhan (Pasal 92 ayat 1).

4. Menggunakan tanda yang pada pokoknya (Pasal 92 ayat 2).

5. Menggunakan tanda yang dilindungi (Pasal 93). 6. Memperdagangkan barang dan/atau jasa (Pasal 94).

Unsur menggunakan merek maupun tanda yang sama, baik pada pokoknya maupun pada keseluruhannya yang ditentukan dalam UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek, ditafsirkan oleh majelis hakim sebagai pemenuhan unsur tindak pidana pemalsuan merek. Sedangkan unsur memperdagangkan barang dan/atau jasa dengan tegas diatur dalam Pasal 94 UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek. Jadi, singkatnya UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek tidak dengan tegas mengatur unsur tindak pidana pemalsuan merek, melainkan hanya diatur unsur menggunakan merek maupun tanda yang sama, baik pada pokoknya maupun pada keseluruhannya. Jika unsur ini dipenuhi pelaku, maka pelaku dapat dikenakan sebagai orang yang melakukan tindak pidana pemalsuan merek.

Tabel 2: Putusan Hakim

No. Kasus Merek Putusan Hakim

1. Merek Daihatsu Mahkamah Agung menjatuhkan pidana kepada Oyong

dengan pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan dan menetapkan sanksi pidana kurungan bersyarat yang dijatuhkan tidak perlu dijalankan, kecuali Oyong dalam masa percobaan selama 1 (satu) tahun, terhitung sejak putusan berkekuatan hukum tetap melakukan perbuatan pidana dalam perkara lain.

2. Lem CASTOL Mahakamah Agung menguatkan dan memperbaiki Putusan

Pengadilan Negeri Tangerang dari pidana penjara bersyarat selama 2 (dua) tahun menjadi 1 (satu) tahun.

3. Penyedap Rasa (Vitsin)

Mahkamah Agung memutuskan kepada terdakwa Pengkuh Mintardja Sentosa alias Mensen, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan tindak pidana “Memperdagangkan Barang Yang Diketahui Hasil Pelanggaran” dan menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan.

4. Pisau Serut Mahkamah Agung memutuskan kepada terdakwa Sigit

Soegiarto bin Ong Ting Kang telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “pemalsuan merek”. Sanksi pidana kepada terdakwa Sigit Soegiarto bin Ong Ting Kang adalah pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan.

5. Busi NGK Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan memutuskan dan

menyatakan Ong Mi Lina alias Alin terbukti bersalah melakukan perbuatan pidana ”Memperdagangkan barang hasil pelanggaran” dengan pidana penjara 3 (tiga) bulan.

Sumber: Rangkuman dari Kelima Kasus Tindak Pidana Pemalsuan Merek

Penjelasan pada tabel 2 tersebut di atas, bahwa jelas banyak terdapat perbedaan penafsiran antara majelis hakim pada tingkat pengadilan. Sebagimana karakteristik kelima putusan tersebut diambil 6 (enam) aspek yang menjadi tolok ukur penilaian atas perbedaan penafsiran tersebut seperti pada tabel 3 di bawah ini.

Tabel 3:

Karakteristik Putusan Hakim Pada Kelima Kasus Tindak Pidana Pemalsuan Merek

No. Kasus Merek

Pelaku Delik Pembuktian Sanksi Pidana Eksekusi 1. Merek Daihatsu Oyong Liza Huslin (Oyong) Aduan Persamaan pada pokoknya 1 tahun Tidak eksekusi 2. Lem CASTOL

Tarmono Aduan Persamaan

pada kesleuruhannya 1 tahun Tidak dieksekusi 3. Penyedap Rasa (Vitsin) Pengkuh Mintardja Sentosa alias Mensen Aduan Persamaan pada pokoknya 10 bulan Eksekusi

4. Pisau Serut Sigit Soegiarto bin Ong Ting Kang Aduan Persamaan pada pokoknya 10 bulan Eksekusi 5. Busi NGK Ong Mi Lina alias Alin Aduan Persamaan pada pokoknya 3 bulan Tidak dieksekusi

Sumber: Rangkuman dari Kelima Kasus Tindak Pidana Pemalsuan Merek

Berdasarkan hasil wawancara kepada terpidana pemalsuan merek Busi NGK

(aquo) diperoleh informasi bahwa terpidana sendiri tidak mengetahui apa dan

mengapa alasan atau argumentasi pertimbangan hakim tidak mengeksekusi putusan tersebut. Menurutnya sendiri bahwa tidak dieksekusinya perkara ini karena dianggapnya sebagai hukuman percobaan sehingga diberikan keringanan dengan cara tidak dieksekusinya Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 378/Pid.B/2010/PN.Mdn atas nama terpidana Ong Mi Lina alias Alin.114

Dalam tabel 3 dan tabel 4 terdapat jenis pidana kurungan bersyarat dan pidana penjara bersyarat yang tidak dieksekusi. Sedangkan jenis pidana penjara diterapkan kepada terpidana: Pengkuh Mintardja Sentosa alias Mensen, Sigit Soegiarto bin Ong Ting Kang, dan Ong Mi Lina alias Alin. Anehnya terhadap terpidana Pengkuh Mintardja Sentosa alias Mensen dan Sigit Soegiarto bin Ong Ting Kang dieksekusi tetapi untuk Ong Mi Lina alias Alin tidak dieksekusi.

Tidak dieksekusinya Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 378/Pid.B/2010/PN.Mdn atas nama terpidana Ong Mi Lina alias Alin tersebut sangat aneh. Seharusnya untuk pidana penjara tidak ada yang tidak dieksekusi, tetapi kenyataannya dalam kasus pemalsuan merek Busi NGK ini terpidana tidak

114

dimasukkan ke dalam penjara. Ketika dilakukan wawancara terhadap terpidana Ong Mi Lina alias Alin justru menyalahkan hakimnya sendiri yang tidak mengeksekusi. Selanjutnya dijelaskan si terpidana adalah bahwa dari awalnya sudah salah penerapan di dalam BAP yang seharusnya terpidana sebagai saksi karena terpidana dalam perkara ini seharusnya sebagai korban penipuan atas merek Busi NGK, terpidana

baru pertama kali membeli merek Busi NGK (aquo) untuk diperdagangkan dan

bahkan tidak mengetahui sama sekali merek Busi NGK (aquo) tersebut palsu.115 Merek Busi NGK (aquo) menurut terpidana adalah barang hasil sitaan yang diperoleh dari seorang sales PT. NGK Busi Indonesia yang kemudian sales tersebut menjualnya dan menawarkan seharga Rp.3000,- (tiga ribu rupiah) dan oleh terpidana dijual dengan harga Rp.4000,- (empat ribu rupiah). Fakta ini terungkap pada persidangan di sidang Pengadilan Negeri Medan. Terpidana tidak mengetahui siapa pihak yang sebenarnya (pemalsu) yang memalsukan merek Busi NGK (aquo).116

Dalam keterangannya merek Busi NGK (aquo) ini tidak merusak mesin

kendaraan roda dua tetapi kualitas penggunaannya berkurang, seharusnya tahan 6 (enam) bulan tetapi merek Busi NGK (aquo) tahannya hanya 3 (tiga) bulan saja atau tergantung pemakaiannya. Terpidana biasanya membelik merek Busi NGK dari Toko Usaha baru dengan harga Rp.8.000,- (delapan ribu ripuah) dan menjualnya seharga RP.10.000,00 (sepuluh ribu rupiah). Beda antara yang palsu dengan yang asli menurutnya adalah jika yang palsu ringnya dapat dilepaskan (dicopot) sedangkan

115

Wawancara dengan terpidana Ong Mi Lina alias Alin pada tanggal 4 November 2013. 116

yang merek Busi NGK yang asli ringnya tidak dapat dilepas. Semua keterangan- ketarangan tentang spesifikasi merek Busi NGK yang asli dan yang palsu diperoleh terpidana setelah dibuktikan di sidang pengadilan. Oleh karena itu, pihak perusahaan pemilik merek Busi NGK yang asli yaitu PT. NGK Busi Indonesia perlu melakukan sosialisasi tentang mereknya agar dapat meminimalisir adanya oknum maupun sales perusahaan yang memanfaatkan peluang untuk kepentingannya sendiri.117

Hasil wawancara yang diperoleh dari pihak Kepolisian Sektor Tanjung Pura diperolah informasi bahwa berdasarkan peristiwa-peristiwa tindak pidana pemalsuan yang terjadi atas merek-merek dagang berdasarkan pengalamannya, masyarakat membeli barang sesuai dengan pendapatannya, jika masyarakat membeli barang palsu yang cepat rusak, cenderung tidak melakukan pengaduan, karena masyarakat

mengetahui bahwa barang murah dimaksud adalah barang palsu.118

Masyarakat sebagai pengguna atau konsumen tidak berdasar hukum jika membuat pengaduan atau pelaporan terhadap suatu barang palsu yang merugikan seseorang. Karena Pasal 95 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek mengaturnya sebagai delik aduan, maka yang berhak mengadu adalah siapa yang dirugikan, dalam hal ini adalah perusahaan pemilik merek yang seharusnya membuat pengaduan, bukan konsumen. Tetapi upaya hukum yang dapat dilakukan konsumen adalah ganti rugi melalui pengajuan gugatan ke Pengadilan Niaga atau melalui Badan

117

Wawancara dengan terpidana Ong Mi Lina alias Alin pada tanggal 4 November 2013. 118

Wawancara dengan Petugas Kepolisian Sektor Tanjung Pura pada tanggal 4 November 2013.

Penyelesaian Perlindungan Konsumen (BPSK). Secara hukum pidana, konsumen dilarang untuk membuat pengaduan atas barang palsu kepada pihak Kepolisian.

Menariknya dalam kasus merek Busi NGK (aquo) ini adalah bahwa menurut

tanggapan Advokat sependapat dengan Pasal 95 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek mengaturnya sebagai delik aduan, sebab jika pasal ini diubah menjadi delik biasa, kecenderungan yang akan terjadi adalah terbukanya peluang besar bagi oknum Polisi yang melakukan tugas salah tangkap orang. Seharusnya dalam perkara ini menurut Advokat, hakim harus benar-benar memahami apa parameter dikatakan tindaka pidana pemalsuan merek di dalam UU Merek, jadi hakim harus lebih aktif bukan pasif dalam menafsirkan norma di dalam UU Merek. Sehingga dengan demikian, penegakan hukum merek pun dapat dilakukan secara adil dan bijaksana.119

Tabel 4: Lanjutan Tabel 3

No. Pelaku Jenis Pidana

1. Oyong Liza Huslin (Oyong) Pidana kurungan bersyarat

2. Tarmono Pidana penjara bersyarat

3. Pengkuh Mintardja Sentosa alias Mensen Pidana penjara

4. Sigit Soegiarto bin Ong Ting Kang Pidana penjara

5. Ong Mi Lina alias Alin Pidana penjara

Sumber: Rangkuman dari Kelima Kasus Tindak Pidana Pemalsuan Merek

Aspek yang pertama pada tabel 3 tersebut di atas adalah mengenai delik aduan, bahwa delik aduan memang pada dasarnya sudah menjadi perintah UU No.15

119

Wawancara dengan Advokat (Syahrul Sitorus), pengacara terpidana, pada tanggal 4 November 2013.

Tahun 2001 tentang Merek sebagaimana Pasal 95 menentukan bahwa tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90, Pasal 91, Pasal 92, Pasal 93, dan Pasal 94 merupakan detik aduan. Konsekuensinya berarti, penegak hukum tidak akan melakukan tugas dan fungsinya sebagai elemen-elemen yang mendukung penegakan hukum merek dalam sistim peradilan pidana (criminal justice system) jika tidak ada aduan atau pengaduan dari pemilik merek yang merasa dirugikan akibat tindakan pemalsuan mereknya yang terdaftar.

Terdapat beberapa konsekuensi dari diaturnya delik aduan di dalam UU Merek, jika diatur delik aduan, maka pihak yang diuntungkan adalah masyarakat dan pihak yang dirugikan adalah pemilik merek. Alasannya adalah bahwa masyarakat diuntungkan dalam hal ini karena mengurangi tindakan salah tangkapnya Polisi terhadap masyarakat, sedangkan dirugikannya pelaku usaha dalam hal ini karena pada umumnya pelaku usaha tidak dapat memantau mereknya dipalsukan terutama merek- merek terkenal, maka sulit baginya untuk melakukan pengaduan kepada pihak Kepolisian padahal telah nyata-nyata orang lain melakukan tindak pidana pemalsuan terhadap mereknya.

Sebaliknya jika delik aduan diganti menjadi delik biasa, maka pihak yang dirugikan adalah masyarakat, dan pihak yang diuntungkan adalah pemilik merek. Alasannya adalah bahwa masyarakat dirugikan dalam hal ini karena kecenderungan yang terjadi berpeluang salah tangkap orang. Sedangkan keuntungan bagi pemilik merek adalah memudahkan pemilik merek dalam proses hukum pidana sebab masyarakat atau orang lain sangat dimungkinkan untuk melakukan pelaporan kepada

pihak Kepolisian atau seseorang (pemalsu) dapat tertangkap tangan oleh Polisi tanpa ada pengaduan dari pemilik merek.

Selanjutnya adalah aspek pembuktian pada kelima kasus tindak pidana merek tersebut di atas, pada praktiknya pelaku umumnya cenderung melakukan pelanggaran merek dengan cara memalsukan merek asli demi untuk kepentingan bisnisnya, selain itu juga untuk diperdagangkan merek yang dipalsukan tersebut. Kecenderungan itu dibuktikan dengan adanya pemenuhan unsur yang potensial dilakukan dengan cara meniru merek asli sehingga menunjukkan merek tiruan tersebut memiliki persamaan pada pokoknya, atau bisa pula memiliki persamaan pada keseluruhannya.

Pada aspek penentuan sanksi pidana pada kelima kasus tersebut, menunjukkan bahwa terdapat indikasi ketidakprofesionalan aparat penegak hukum khususnya majelis hakim dalam menentukan sanksi bermacam-macam dan berbeda-beda padahal kasusnya memiliki kesamaan (identik). Berbeda hakimnya, maka berbeda pula jenis sanksi yang diputusnya. Hal ini sedikit bisa dimaklumi karena ada asas yang berlaku bahwa hakim harus mempertimbangkan unsur yang memberatkan dan meringankan pelaku.

Duduk masalahnya yang paling krusial dan esensial adalah mengenai kasus merek Daihatsu dan Lem Castol, sanksi pidananya sama-sama 1 (satu) tahun dan sama-sama tidak dieksekusi alias pidana bersyarat. Pidana bersyarat dengan catatan jika terpidana melakukan perbuatan pidana sebelum habis masa pidananya maka, putusan tersebut akan dijalankan. Tetapi sangat disayangkan kedua putusan ini

dinyatakan jenis pidana untuk Oyong Liza Huslin adalah pidana kurungan bersyarat sedangkan jenis pidana untuk Tarmono adalah pidana penjara bersyarat.

Antara pidana kurungan dan pidana penjara adalah dua sanksi pidana yang berbeda jauh pengertiannya. Jika sanksi kurungan berlaku untuk pelanggaran ringan atau tindak pidana ringan (tipiring) sedangkan sanksi penjara berlaku untuk kejahatan atau pelanggaran berat. Jika dalam kurungan, terpidana boleh membawa peralatan seperti TV, Kulkas, Radio, Hanpone, dan lain-lain, tetapi pada penjara peralatan- peralatan pribadi tidak boleh dibawa kecuali pakaian yang biasa dipakai oleh narapidana.

Pada faktanya menunjukkan bahwa penjara dan kurungan adalah sama saja, penjara kadang-kadang menjadi kurungan, dan kurungan dijadikan sebagai penjara. Terkadang ditemukan suatu pengecualian yang terlarang dan sangat disesalkan oleh semua orang, di mana narapidana di penjara menjadikan penjara bagaikan rumahnya sendiri atau bahkan bagaikan istana pribadi. Bahkan tidak jarang dan tidak luput dari pantauan berpotensinya penjara dan kurungan melebihi kapasitas (over capacity). Dasar pemikiran ini seolah-olah dalam menentukan mana sebagai penjara dan mana sebagai kurungan terkadang luput dari kelalaian majelis hakim dalam memutuskan kasus-kasus pidana.

Argumentasi ini didukung pula dengan bukti pada putusan merek busi NGK, di mana Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri memutuskan sanksi pidana 3 (tiga) bulan terhadap Ong Mi Lin (Alin) dan sanksi tersebut tidak dieksekusi atau tidak dijalankan. Namun sangat disayangkan putusan majelis hakim yang ini, bahwa jenis

pidana yang diputuskannya adalah pidana penjara. Sungguh sangat luar biasa penegakan hukum (law inforcement) merek di negeri ini sangat fenomenal dan patut diperdebatkan para akademisi.

Berdasarkan uraian pada kelima kasus tindak pidana pemalsuan merek tersebut di atas, membawa banyak persoalan-persoalan hukum, persoalan itu sekaligus menjadi faktor-faktor penghambat penegakan hukum pasca berlakunya UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek. Dari uraian di atas, dapat dikategorisasikan faktor- faktor penghambat penegakan hukum terhadap tindak pidana pemalsuan merek, antara lain: faktor dari sisi struktur hukum, substansi hukumdan budaya hukum.120

1. Faktor Struktur Hukum.

Untuk faktor struktur hukum meliputi penelaahan terhadap kinerja paratur penegak hukum dalam arti sempit. Polisi, Jaksa, dan Hakim serta para Advokat dalam sistim peradilan pidana sangat terlarang undang-undang berbuat tidak sesuai dengan aturan hukum. Undang-undang yang mendasari peran dan fungsi lembaga-lembaga aparat penegak hukum mesti menjadi dasar dan ukuran dalam melaksankan tugas dan kewajibannya sebagai aparat penegak hukum.

Konsekuensinya adalah jika aparat penegak hukum lalu berbuat di luar jalur dan ketentuan hukum yang berlaku, berpotensi menciderai penegakan hukum, akhirnya penegakan hukum khususnya merek menjadi tidak tercapai dan tidak sempurna. Keadilan bagia para pencari keadilan, pemilik merak, masyarakat,

120

khususnya konsumen merek tertentu akan menemukan kehampaan yang tidak berarti memberikan kepastian dan keadilan hukum merek.

2. Faktor Substansi Hukum

Faktor substansi hukum meliputi penelahaan pada aspek pengaturan dalam undang-undang dan ketentuan lainnya, bilamana substansi dalam undang-undang khususnya UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek tidak berpihak kepada perlindungan yang berimbang kepada seluruh elemen masyarakat, maka UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek tersebut tidak berguna.

UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek tidak berarti harus berpihak kepada pemilik merek terdaftar saja, tetapi jauh lebih berarti daripada itu yaitu melindungi masyarakat dari akibat tindak pidana pemalsuan merek yang mengakibatkan konsumen dari merek tersebut menerita sakit atau cacat atau bahkan bisa mati. Oleh sebab, itu ketentuan delik aduan yang diatur dalam UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek semestinya tidak dianut lagi, pengaturannya harus dikembalikan seperti yang pernah berlaku pada UU No.19 Tahun 1992 tentang Merek jo UU No.14 Tahun 1997 tentang Merek (telah dicabut) yang menganut delik biasa.

Delik aduan hanya memberikan perlindungan kepada para pemilik merek, tetapi tidak berarti memberikan perlindungan bagi masyarakat khususnya konsumen. Delik biasa membuka peluang bagi semua orang atau masyarakat yang jika menemukan adanya indikasi pemalsuan merek segera melaporkannya kepada pihak yang berwajib tidak mesti harus menunggu adanya aduan dari pemilik merek.

Dapat dimaklumi bersama pernyataan berikut ini pertama, bahwa pemilik tidaklah mungkin mampu terus-menerus berkesinambungan memantau mereknya apakah dipalsukan atau tidak, apalagi kategori merek terkenal yang bahkan sudah mendunia. Kedua, sistim kontrol dari masyarakat dapat membantu dan mencegah pemilik merek dari kerugian sekaligus melindungi masyarakat itu sendiri dari dampak merek-merek yang palsu. Ketiga, hukum merek tidak hanya berlaku privat bagi pemilik merek tetapi mesti berlaku publik yang universal artinya aspek hukum pidana harus komprehensif diatur dalam UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek. Oleh karena itu, patut dan sangat logika hukum jika argumentasi dalam pernyataan ini menjadi bahan kajian dan pertimbangan Pemerintah dan dewan legislatif untuk merevisi UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek khususnya ketentuan pidana.

Faktor penghabat selanjutnya dari sisi substansi UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek adalah jumlah sanksi dan jenis sanksi pidana. Jumlah sanksi pidana dalam UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek maksimal hanya 5 (lima) tahun penjara. Jumlah maksimal ini dinilai tidak memberikan efek jera bagi pelaku. Kendatipun teori pemidanaan saat ini sudah dianut keadilan restoratif dan sosial depense dan bukan berarti teori retributif dan refresif harus ditinggalkan. Dengan refresinya hukum merek membuat orang (pelaku) akan terantisipasi secara tidak langsung berbuat pidana.

Demikian pula jenis sanksi pidana dalam UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek yaitu jenis pidana pelanggaran dinilai kurang memberikan nuansa penegakan hukum yang komprehensif, sebab, pelanggaran berpotensi dihukum dengan

kurungan. Oleh sebanya, jenis pidana pelanggaran harus diubah menjadi jenis pidana kejahatan. Secara filosofis penulis, bahwa akan lebih besar dampaknya jika seseorang diberikan gelar oleh masyarakat sebagai mantan penjahat daripada mantan pelanggar.

3. Faktor Budaya Hukum

Faktor dari sisi budaya terasa sulit untuk diutarakan satu persatu, karena menyangkut perilaku semua unsur dalam penegakan hukum. Tidaklah mungkin dalam penelitian ini diutarakan kecurangan-kecurangan menyangkut perilaku aparat penegak hukum dan masyarakat tertentu atau oknum yang bersifat individual, karena itu salah satu sifat atau karakter sebuah karya penelitian ilmiah. Akan tetapi dari sisi budaya akan dijabarkan secara umum saja, menyangkut semua perilaku yang tidak beradab baik masyarakat maupun perilaku oknum dari aparatur penegak hukum (Polisi, Jaksa, Hakim, Advokat, dan Pmeasyarakatan).

Faktor budaya hukum meliputi semua unsur nilai, etika, moral, atau perilaku beradab dari semua elemen dalam penegakan hukum tanpa terkecuali. Hal yang menjadi sorotan publik selama ini adalah masalah aji mumpung atau tepung tawar atau istilah populer main 86 (penyelesaian kasus dengan ukuran uang, semua dinilai dengan uang) dalam menyelesaikan kasus baik pidana maupun perdata, dan lain-lain. Perilaku yang tidak beradab misalnya menutup perkara kecil (tindak pidana ringan) dengan cara memberi uang atau antara keluarga korban/pelaku jual beli pasal dengan aparat penegak hukum, pasal mana yang menjadi pilihan untuk dikenakan sanksi kepada pelanggar bergantung pada seberapa besar uang tebusan.

Analisis ini didasarkan pada fakta berdasarkan pengamatan di lapangan, tidak bisa dipungkiri di hampir semua elemen sangat potensial sikap aji mumpung ini terjadi. Aparat penegak hukum tidak akan melalaikan tugas dan kewajibannya jika

Dokumen terkait