HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Morfofonemik Level Afiksasi Bahasa Indonesia
4.2.3 Kendala-kendala Morfofonemik Level Konfiksasi
Konfiks merupakan afiksasi yang berada di awal dan di akhir bentuk dasar yang selalu bersama-sama melekat pada bentuk dasar. Pada penelitian kali ini ditemukan dua konfiks yang menjadi bahan kajian yaitu konfiks {ŋ- + -in} yang mengalami proses morfofonemik, dan konfiks {ke- + -an} tidak mengalami proses morfofonemik. Kedua konfiks tersebut dapat dilekatkan dengan bentuk dasar yang berawalan konsonan maupun vokal, selain itu dapat dilekatkan dengan bentuk dasar yang berkategori verba, nomina, adjektiva, dan numeralia.
Berikut akan dipaparkan data pembentukan kata dengan konfiks {ŋ-+ -in}. Tabel 12. Bentuk kata yang nyelneh dari KPK ( konfiks{ŋ-+ -in})
No. Daftar Morfem KPK Penyaring Kamus Morfem Terikat {ŋ- + -in} Morfem bebas
389 /ajar/ [ŋ- + -in [ajar] [ŋajarIn] ‘ngajarin’ ŋajarin? 390 /akal/
[ŋ - + -in [akal]
[ŋakalIn] ‘ngakalin’ ŋakalin?
391 /antar/
[ŋ - + -in [antar]
[ŋantərIn] ‘nganterin’ ŋanterin?
392 /baca/
[ŋ - + -in [baca]
[ŋəbacain] ‘ngebacain’ ŋebacain?
393 /bangun/ [ŋ - + -in [baŋUn] [ŋəbaŋunIn]‘ngebanguni n’ ŋebangunin? 394 /batas/ [ŋ - + -in [batas]
[ŋəbatasIn] ‘ngebatasin’ ŋebatasin?
395 /bayar/
[ŋ - + -in [bayar]
[ŋəbayarIn] ‘ngebayarin’ ŋebayarin? 396 /bersih/ [ŋ - + -in [ŋəbərsihIn] ŋebersihin?
80 [bərsIh] ‘ngebersihin’
397 /bocor/
[ŋ - + -in [bocɔr]
[ŋəbocorIn] ‘ngebocorin’ ŋebocorin?
398 /bosan/ [ŋ - + -in [bosan] [ŋəbosenIn] ‘ngebosenin’ ŋebosenin? 399 /damping/ [ŋ - + -in [dampIŋ] [ŋədampiŋIn] ‘ngedampingin’ ŋedampingin? 400 /datang/ [ŋ - + -in [dataŋ] [ŋədataŋIn] ‘ngedatangin’ ŋedatangin? 401 /erti/ [ŋ - + -in [erti]
[ŋərtiin] ‘ngertiin’ ŋertiin?
402 /guru/
[ŋ - + -in [guru]
[ŋəguruin] ‘ngeguruin’ ŋeguruin?
403 /hancur/ [ŋ - + -in [hancUr] [ŋəhancurIn] ‘ngehancurin’ ŋehancurin? 404 /hilang/ [ŋ - + -in [hilang]
[ŋəhilaŋIn] ‘ngehilangin’ ŋehilangin?
405 /jaga/
[ŋ - + -in [jaga]
[ŋəjagain] ‘ngejagain’ ŋejagain?
406 /jalan/
[ŋ - + -in [jalan]
[ŋəjalanIn] ‘ngejalanin’ ŋejalanin?
407 /jatuh/
[ŋ - + -in [jatUh]
[ŋejatuhin] ‘ngajatuhin’ ŋejatuhin?
408 /kagum/
[ŋ - + -in [kagUm]
[ŋagumIn] ‘ngagumin’ ŋagumin?
409 /kecewa/
[ŋ - + -in [kəcewa]
[ŋəcewain] ‘ngecewain’ ŋecewain?
410 /kembali/
[ŋ - + -in [kəmbali]
[ŋəmbaliin] ‘ngembaliin’ ŋembaliin?
411 /korban/
[ŋ - + -in [kɔrban]
[ŋɔrbanIn] ‘ngorbanin’ ŋorbanin?
412 /lahir/
[ŋ - + -in [lahIr]
[ŋəlahirIn] ‘ngelahirin’ ŋelahirin?
413 /laku/
[ŋ - + -in [laku]
[ŋəlakuin] ‘ngelakuin’ ŋelakuin?
414 /lewat/
[ŋ - + -in [lewat]
[ŋəlewatIn] ‘ngelewatin’ ŋelewatin?
415 /luar/
[ŋ - + -in [luar]
[ŋəluarIn] ‘ngeluarin’ ŋeluarin?
416 /main/
[ŋ - + -in [main]
[ŋəmainIn] ‘ngemainin’ ŋemainin?
417 /obat/
[ŋ - + -in [obat]
[ŋobatIn] ‘ngobatin’ ŋengobatin?
418 /potong/
[ŋ - + -in [potɔŋ]
81 419 /rasuk/
[ŋ - + -in [rasUk]
[ŋərusakIn] ‘ngerusakin’ ŋerusakin? 420 /siap/ [ŋ-+ -in [siap] [ñiapIn] 'nyiapin' nyiapin? 421 /tangkap/
[ŋ - + -in [taŋkap]
[taŋkapIn] 'tangkapin' tangkapin?
422 /tawa/
[ŋ - + -in [tawa]
[ŋətawain] ‘ngetawain’ ŋetawain?
423 /urus/
[ŋ - + -in [urUs]
[ŋurusIn] ‘ngurusin’ ŋurusin?
1. Perubahan Fonem pada Konfiksasi
1) Perubahan Fonem pada Morfem Afiks {ŋ-+-in}
Morfem afiks {ŋ-+-in}mengalami proses morfofonemik pada saat proses pembentukan kata berupa perubahan fonem. Perubahan fonem yang terjadi karena pelekatan morfem afiks {ŋ-+-in} pada BD yang berawalan konsonan /p, s, t/. Berikut akan dipaparkan data mengenai perubahan fonem pada morfem afiks {ŋ-+-in}.
(418) {ŋ - + -in } + [potɔŋ] → [motɔŋIn] ‘motongin’ Morf-morfnya diidentifikasi berupa :
[potɔŋ] ‘potong’ {ŋ - + -in } ‘meng-kan’
(420) {ŋ - + -in } + [siap] → [ñiapIn] ‘nyiapin’ Morf-morfnya diidentifikasi berupa : [siap] ‘siap’
{ŋ - + -in } ‘meng-kan’
(421) {ŋ - + -in } + [taŋkap] → [naŋkapIn] ‘nangkepin’ Morf-morfnya diidentifikasi berupa :
[taŋkap] ‘tangkap’ {ŋ - + -in } ‘meng-kan’
Berdasarkan data di atas morfem afiks {ŋ- + -in }berpotensi menggantikan penggunaan morfem afiks {meng-kan} dalam proses pembentukan kata. Meskipun demikian morfem afiks {ŋ- + -in } ketika
82 dilekatkan dengan BD sehingga membentuk kata baru, namun kata bentukan tersebut mengalami idiosinkresi berupa idiosinkresi morfologi.
2) Penambahan fonem pada Morfem Afiks {ŋ-+-in}
Selain mengalami perubahan fonem, morfem afiks {ŋ-+-in} juga mengalami penambahan fonem ketika bergabung dengan BD dalam proses pembentukan kata. Penambahan fonem tersebut berupa penambahan fonem /e/ pada morfem afiks {ŋ-+-in} sehingga menjadi morf {ŋe-+-in}
(393) {ŋ- + -in} + [baŋUn] → [ŋəbaŋunIn] ‘ngebangunin’ Morf-morfnya dapat diidentifikasi berupa:
[baŋUn] ‘bangun’
[ŋ- + -in] ‘məŋ- + kan’
(396) {ŋ- + -in} + [bərsIh] → [ŋəbərsihIn] ‘ngebersihan’ Morf-morfnya dapat diidentifikasi berupa:
[bərsIh] ‘bangun’
[ŋ- + -in] ‘məŋ- + kan’
Adapun pada data (393), terbentuk kata ŋebangunin yang berkategori verba hasil dari pembentukan kata dengan pelekatan konfiks {ŋ- + -in} dengan bentuk dasar bangun yang berkategori verba. Dalam proses pembentukan kata terjadi proses morfofonemik yaitu penambahan fonem. Fonem /ŋ/ pada morfem {ŋ-} mengalami penambahan fonem menjadi /ŋe/ pada saat digabungkan dengan bentuk dasar bangun. Kata *?ŋebangunin dalam BI formal berarti ‘membangunkan’. Pada data (396), hasil dari proses pembentukan kata mengubah kategori adjektiva menjadi kategori verba dengan pelekatan konfiks {ŋ- + -in} dengan bentuk dasar bersih yang berkategori adjektiva sehingga membentuk kata *?ŋebersihin yang dipadankan dengan kata‘membersihkan’ pada BI formalyang berkategori verba
83 Selain mengalami proses morfofonemik morfem afiks {ŋ-+-in} juga tidak mengalami proses morfofonemik dalam proses pembentukan kata. Hal ini biasanya terjadi ketika morfem afiks {ŋ-+-in} dilekatkan dengan Bd yang berawal vokal, seperti data berikut ini.
(389) {ŋ- + -in} + [ajar] → [ŋajarIn] ‘ngajarin’ Morf-morfnya dapat diidentifikasi berupa:
[ajar] ‘ajar’
[ŋ- + -in] ‘məŋ- + kan’
Merujuk pada data di atas, data (389) konfiks {ŋ- + -in} bergabung dengan BDajar yang berkategori nomina sehingga membentuk kata *?ŋajarin yang berubah kategori menjadi verba. Kata bentukan *?ŋajarin dalam BI formal dipadankan dengan ‘mengajarkan’. Berdasarkan proses pembentukan kata tersebut, kata bentukan yang dihasilkan karena pelekatan morfem afiks {ŋ- + -in} pada KPK hingga terhenti pada penyaringan karena mengalami idiosinkresi morfologi.
Adapun morfem afiks {kə- + -an} yang merupakan morfem afiks dalam konfiksasi ketika dilekatkan dalam proses pembentukan kata, morfem afiks tersebut tidak mengalami proses morfofonemik. Meskipun demikian morfem afiks {kə- + -an} bergabung dengan BD membentuk kata, kata bentukan tersebut tertahan pada penyaringan karena mengalami idiosinkresi. Berikut dipaparkan data pelekatan morfem afiks {kə- + -an}.
84 Tabel 12. Bentuk kata yang nyelneh dari KPK ( morfem afiks {kə- + -an}
No.
Daftar
Morfem KPK Penyaring Kamus
Morfem terikat {kə- + -an} Morfem Bebas 424 /atas/ [ [kə- + -an] +
atas] [kəatasan]’keatasan’ keatasan? 425 /bawah/ [ [kə- + -an] +
bawah] [kəbukaan]’kebukaan’ kebukaan? 426 /buka/ [ [kə- + -an] +
buka] [kəbukaan]’kebukaan’ kebukaan? 427 /cabut/ [ [kə- + -an] +
cabUt] [kəcabutan]’kecabutan’ kecabutan? 428 /hapus/ [ [kə- + -an] +
hapUs] [kəhapusan]’kehapusan’ kehapusan? 429 /ingat/ [ [kə- + -an] +
iŋat] [kəingatan]’keingatan’ keingatan? 430 /temu/ [ [kə- + -an] +
təmu] [kətəmuan]’ketemuan’ ketemuan? 431 /timpa/ [ [kə- + -an] +
tImpa] [kətImpaan]’ketimpaan ketimpaan? 432 /tutup/ [ [kə- + -an] +
tuTup] [kətutupan]’ketutupan’ ketutupan? 433 /sunda/ [ [kə- + -an] +
sUnda] [kəsUndaan]’kesundaan’ kesundaan? 434 /jawa/ [ [kə- + -an] +
jawa] [kəjawaan] ‘kejawaan’ kejawaan? (430) {kə- + -an} + [təmu] → [kətəmuan] ‘ketemuwan’
Morf-morfnya dapat diidentifikasi berupa: [təmu] ‘temu’
[kə- + -an] ‘ber-‘
(432) {kə- + -an} + [tutUp] → [kətutupan] ‘ketutupan’ Morf-morfnya dapat diidentifikasi berupa:
[tutUp] ‘tutup’ [kə- + -an] ‘ ter-‘
Konfiks {kə- + -an} merupakan salah satu konfiks dalam BI yang berfungsi mengubah kategori kata menjadi nomina. Namun konfiks tersebut
85 memiliki potensi untuk membentuk kata-kata baru yang kata bentukan tersebut berkategori verba. Pada data (430) konfiks {kə- + -an} bergabung dengan MB /temu/ sehingga membentuk kata *?ketemuan yang berkategori verba. Kata *?ketemuan ini dipadankan dengan kata bertemu dalam BI baku. Sementara pada (432) konfiks {kə- + -an} bergabung dengan MB /tutup/ sehingga menghasilkan bentukan*?ketutupan yangberkategori verba. Dalam BI baku kata *?ketutupan dipadankan dengan kata tertutup.
Kata bentukan *?ketemuan dan *?ketutupan setelah terbentuk melalui KPK tetap memiliki makna yang berterima pada saat penggunaannya. Namun kata tersebut tertahan pada komponen saringan (filter) karena tidak sesuai dengan bahasa baku yang terdapat dalam kamusatau mengandung keanehan morfologi. Ketidaksesuaian tersebut disebabkan karena terdapat idiosinkresi yang terjadi pada kata hasil dari KPK. Meskipun kata tersebut mengalami idiosinkresi dan tertahan pada komponen saringan, namun akan tetap dicantumkan di dalam komponen kamus dengan memberikan tanda tanya (?). Bentukan *?ketemuan dan *?ketutupan tidak sesuai dengan KPK namun ada dalam realitas kebahasaan atau dituturkan oleh penutur bahasa Indonesia.
86 BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengenai kendala-kendala morfofonemik level afiksasi pada bahasa Indoneiadapat disimpulkan bahwa penelitian ini menghasilkan bentuk-bentuk kendala morfofonemik tersebut. Hal tersebut diuraikan sebagai berikut.
1) Perubahan fonem pada proses prefiksasi terjadi pada morfem afiks {məŋ-}, {pəŋ-} dan {bər-}, pada morfem afiks {məŋ-} perubahan fonem terjadi berupa perubahan fonem /ŋ/ menjadi fonem /n/, fonem /ŋ/ menjadi fonem /m/, dan fonem /ŋ/ menjadi fonem/ñ/ sehingga membentuk morf {mən-}, {məm-}, {məñ-}. Adapun morfem afiks {pəŋ-} perubahan fonem terjadi berupa perubahan fonem /ŋ/ menjadi fonem /n/, fonem /ŋ/ menjadi fonem /m/, dan fonem /ŋ/ menjadi fonem /ñ/ sehingga membentuk morf {pən-},{pəm}, dan {pəñ-}. Demikian juga dengan morfem afiks {bər-} yang menjadi morf {bəl-} dengan perubahan fonem /r/ menjadi fonem /l/. Penambahan fonem terjadi pada morfem afiks {məŋ-} dan {pəŋ-} berupa penambahan fonem /e/ sehingga membentuk morf {məŋə-} dan {pəŋə-}. Penghilangan fonem morfem afiks {məŋ-}, {pəŋ-} dan {bər-}, pada morfem afiks {məŋ-} penghilangan fonem /ŋ/ sehingga membentuk morf {mə-}. Adapun morfem afiks {pəŋ-} penghilangan fonem terjadi berupa penghilangan fonem /ŋ/ sehingga membentuk morf {pə-}. Demikian juga dengan
87 morfem afiks {bər-} yang menjadi morf {bə-} dengan penghilangan fonem /r/. Terdapat juga morfem afiks yang tidak mengalami proses morfofonemik, seperti morfem afiks {tər-}, {di-}, {kə-} dan {sə-}. Infiks dalam bahasa Indonesia berupa {-ər-}, {-əl-}, dan {-əm}. Sufiks dalam Proses pembentukan kata bahasa Indonesia memiliki morfem afiks berupa {-kan}, {-i}, dan {-an}. Demikian pula dengan konfiks pada bahasa Indonesia berupa {məŋ-kan}, {məŋ-i}, {kə-an}, {pəŋ-an}, {pər-an}, dan {bər-an}.
2) Kendala-kendala morfofonemik level afiksasi bahasa Indonesia berupa perubahan dan penambahan fonem. Perubahan dan penambahan terjadi pada morfem afiks {ŋ-} ’məŋ-’ dengan alomorf {ŋ-}, {m-}, {n-}, {ñ-}, { ŋe-} dalam prefiksas dan morfem afiks {ŋ- + -in} ‘ məŋ-kan’ dalam konfiksasi. Selain mengalami proses morfofonemik terdapat juga morem afiks yang tidak mengalami proses morfofonemik, yaitu morfem afiks {məŋ-}, {kə-} ’ter-’ pada afiksasi, sufiksasi terdapat morfem afiks berupa {i-}, {-in} ‘-kan’, {-an} ‘ber-‘ dan {-isir} ‘-isasi’. Demikian pula dengan konfiks, terdapat morfem afiks berupa {kə + -an}.
5.2 Saran
Penelitian pada bahasa Indonesia dianggap sudah cukup untuk diteliti karena banyaknya buku yang membahas tentang bahasa tersebut. Namun pada kenyataannya masih banyak fenomena kebahasaan dalam bahasa Indonesia yang belum dianalisis terutama karena pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan
88 teknologi yang sangat cepat membuat munculnya varian-varian baru, khususnya Bahasa Indonesia. Oleh karena itu perlu kiranya dilakukan penelitian-penelitian lain tentang bahasa Indonesia agar fenomena kebahasaan yang muncul dapat diketahui permasalahan serta penyelesaiannya. Selain itu, penelitian ini pula dapat dijadikan sebagai acuan untuk penelitian-penelitian selanjutnya serta penelitian ini juga dapat disempurnakan dengan menggunakan objek penelitian yang sama sehingga menghasilkan hasil yang sempurna.
89 DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta
Fitriani. 2011. Proses Morfofonemik Prefiks {Men-} dengan Bentuk Dasar yang Berfonem Awal (k, t, s, p) dalam Bahasa Indonesia dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia. Skripsi . Mataram : Unram Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mahsun. 2007. Morfologi. Yogyakarta : Gama Media
Mahsun. 2012. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Rajawali Pers
Muammar. 2004. Klitika dalam Bahasa Sasak Dialek Meno-Mene di Desa Beleka Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat. Skripsi . Mataram : Unram Muhammad.2011. Metode Penelitian Bahasa. Jogjakarta. Ar-Ruzz Media.
Nurul, B. Husna. 2004. Morfofonemik Bahasa Sasak Sedau. Skripsi. Mataram: Unram
Phoenix, Tim Pustaka.Kamus Besar Bahasa Indonesia.2012. Jakarta. PT Media Pustika
Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Kajian Morfologi (Bentuk Derivasional dan Infleksional).Singaraja : PT Refika Aditama
Rohmadi, Muhammad, dkk.2010. Morfologi Telaah dan Kata.Surakarta : Yuma Pustaka
Indriani, Made Sri. 2005. Afiksasi Infleksional dalam Bahasa Bali:Sebuah Kajian Morfologi Generatif. Singaraja : IKIP Negeri Singaraja
Subroto, Edi. 2007. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: UNS Press
Sukri, Muhammad.2008.Morfologi (Kajian Bentuk dan Makna). Mataram: Lembaga Cerdas Press
90 Thoir, Nazir. I Wayan Simpen. Fonologi Sebuah Kajian Deskriptif. Denpasar:
Kayumas
Verhaar. 2008. Asas-asas Linguistik Umum.Yogyakarta : Gadjah Mada University Prees