BAB III PROSES PEMBELAJARAN DI SMP AL-IRSYAD AL ISLAMIYYAH
3.5 Kendala Pembelajaran Konsep Multikultural di Dalam Proses Belajar…. 97
Pada dasarnya, konten pendidikan multikultural dapat di aplikasikan di mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa, bahkan IPA dan Matematika.70 Oleh
karena itu, penelitian ini mencoba untuk menggali nilai-nilai multikultural yang di
bawa ke kelas dalam sekolah yang berbasis agama. Hasilnya adalah, konten pendidikan
multikultural dalam teorinya memang di sampaikan oleh guru yang disini berperan
sebagai subyek belajar, namun pada praktiknya, peserta didik tidak dapat mengenal apa
itu konsep multikultural khususnya dalam segi perbedaan agama dan budaya karena
memang lingkungan yang mereka diami adalah lingkungan yang rigid. Dengan jumlah
civitas sekolah yang 100% beragama Islam, peserta didik menjadi seolah terbiasa dengan lingkungan yang membuat ia merasa ‘sama’.
70 Chinaka Samuel Domnwachukwu. An Introduction to Multicultural Education From Theory to
Hal ini pula yang terjadi di SMP Al Irsyad Bogor, karena tidak pernah bergaul
dengan orang beragama lain di sekolah, maka peserta didik pun tidak pernah mengenal
isu tersebut. Lingkungan sekitar sekolah yang merupakan ‘Kampung Arab’ pun
menambah alasan para peserta didik dalam pergaulan kesehariannya hanya
bersentuhan langsung dengan atmosfer yang sama. Lalu, salah satu konten yang
diharapkan ada dalam tujuan pendidikan multikultural yaitu, toleransi beragama hanya
dapat di sampaikan melalui teori di kelas tanpa praktik langsung.
Ketika ditanya tentang bagaimana praktik toleransi yang dalam kata lain berarti
menghargai perbedaan itu sendiri, para guru ini pun mengakui bahwa lingkungan dan status sebagai ‘Sekolah Islam’ membuat komposisi pemeluk agama Islam di sekolah
berjumlah 100%, dan ini artinya, baik guru maupun peserta didik tidak bersentuhan
langsung dengan kasus dan praktik toleransi beragama di sekolah. Guru hanya dapat
menyampaikan secara lisan tentang pengertian toleransi beragama dan bagaimana
seharusnya sikap peserta didik jika berhadapan langsung dengan pemeluk agama lain
yang pasti mereka temui di luar lingkungan sekolah.
Menurut pengakuan dari pihak guru dan juga murid, pengenalan toleransi
beragama dan budaya hanya dikenalkan di kelas melalui pembicaraan, diselipkan di
beberapa materi pelajaran atau pun contoh kasus yang relevan dengan materi pelajaran
tertentu, tanpa ada praktik. Karena, untuk sikap toleransi agama khususnya, praktik
tidak bisa dilaksanakan di lingkungan sekolah yang semua komponennya merupakan
Konten-konten multikultural itu sendiri biasanya terletak pada pelajaran IPS
terpadu, tepatnya pada pelajaran Sosiologi. Karena pada tingkat Sekolah Menengah
Pertama pelajaran IPS menjadi IPS terpadu, maka materi pecahan ilmu sosial lainnya
seperti sosiologi, geografi, ekonomi dan sejarah keberadaannya bergabung menjadi
satu dan sifatnya umum. Maka, materi-materi ini hanya di bahas secara mendasar.
Sedangkan, materi yang berkaitan dengan multikulturalisme seharusnya di bahas
dalam sub pelajaran sosiologi seperti toleransi, perubahan sosial budaya, interaksi
sosial, dan penjelasan lainnya terkait dengan hubungan sosial antar sesama yang
terdapat dalam sub pelajaran sosiologi pada IPS terpadu hanya sedikit pembahasannya
karena jam pelajaran dan sub materi harus terbagi dengan sub pelajaran lainnya yang
juga terdapat dalam IPS terpadu. Oleh karena itu, lagi-lagi bahasan tentang konten
multikultural sangat sedikit dan hanya bersifat teoritis.
Selain itu, karena berstatus sebagai Sekolah Islam Terpadu, maka nilai-nilai
keagamaan harus dijunjung tinggi oleh seluruh komponen sekolah termasuk ke dalam
pembelajran di kelas maupun di luar kelas. Menurut pengakuan salah seorang guru,
pada mata pelajaran Seni Budaya, tidak dimasukkan pelajaran tarian daerah, karena
menurut pihak sekolah, praktik menari kurang cocok untuk diaplikasikan pada anak
seusia SMP. Karena, di dalam Islam sudah jelas tertuang bahwa seorang wanita yang
sudah cukup usia harus menjaga aurat, dan sikap. Dan segala bentuk gerakan dalam
Islam. Maka dari itu, pengenalan tentang tari-tarian daerah hanya disampaikan melalui
penjelasan guru dan juga melalui gambar yang ada di buku sekolah.
Jika dibedakan dengan dinamika yang terjadi di sekolah negeri, yang memang
merupakan bentuk realisasi dari konsep pendidikan multikultural yang diinginkan
Indonesia, dinamika sosial yang ada di sekolah berbasis agama hanya dapat
menjangkau pergaulan antar peserta didik yang beragama sama. Mereka tidak akan
mengenal secara langsung yang dinamakan pelajaran Rohani Kristen (Rokris), mereka
tidak akan melihat teman kelasnya akan keluar dari ruangan belajar ketika pelajaran
Pendidikan Agama Islam dilaksanakan, mereka tidak akan mengetahui bagaimana
cerita teman mereka yang sibuk dan antusias dalam mempersiapkan hari raya
masing-masing. Hal ini menandakan bahwa peserta didik yang bersekolah di sekolah Islam
memiliki pengalaman yang sangat berbeda dengan peserta didik yang bersekolah di
sekolah negeri.
Melalui penjelasan di atas, maka sudah jelas artinya bahwa penyampaian
konten-konten multikulturalisme dalam Sekolah Islam pada umumnya hanya sampai
pada tahap kognitif, dalam artian hanya terjadi di dalam pembicaraan di dalam kelas
tanpa adanya praktik langsung. Padahal, melalui konten-konten multikultural ini,
peserta didik pada akhirnya diharapkan untuk menjadi manusia yang setuju dengan
adanya perbedaan ras, kelas, gender, etnis, agama, dan bahkan disabilitas.71
71 Chinaka Samuel Domnwachukwu, An Introduction to Multicultural Education From Theory to
Gagasan pendidikan multikultural di Indonesia sendiri, sebagaimana
dijelaskan oleh H.A.R Tilaar adalah pendidikan untuk meningkatkan penghargaan
terhadap keragaman etnik dan budaya masyarakat.72 Sedangkan, menurut Kamanto
Sunarto menjelaskan bahwa pendidikan multikultural biasa diartikan sebagai
pendidikan keragaman budaya dalam masyarakat, dan terkadang juga diartikan
sebagai pendidikan yang menawarkan ragam model untuk keragaman budaya dalam
masyarakat, dan terkadang juga diartikan sebagai pendidikan untuk membina sikap
peserta didik agar menghargai keragaman budaya masyarakat.73
Apapun definisi yang diberikan para pakar pendidikan adalah fakta bahwa
bangsa Indonesia terdiri dari banyak etnik, dengan keragaman budaya, agama, ras
dan bahasa. Indonesia memiliki falsafah berbeda suku, etnik, bahasa, agama dan
budaya, tapi memiliki satu tujuan, yakni terwujudnya bangsa Indonesia yang kuat,
kokoh, memiliki identitas yang kuat, dihargai oleh bangsa lain, sehingga tercapai
cita-cita ideal dari pendiri bangsa sebagai bangsa yang maju, adil, makmur dan
sejahtera. Untuk itu, seluruh komponen bangsa tanpa membedakan etnik, ras, agama
dan budaya, seluruhnya harus bersatu pada, membangun kekuatan di seluruh sektor,
sehingga tercapai kemakmuran bersama, memiliki harga diri bangsa yang tinggi
72 H.A.R Tilaar, Multikulturalisme, Tantangan-Tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi
Pendidikan Nasional, Jakarta : Grasindo, 2004, hlm. 137-138.
73 Kamanto Sunarto, Multicultural Education in Schools, Challenges in its Implementation, dalam
dan dihargai oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Oleh sebab itu, mereka harus saling
menghargai satu sama lain, menghilangkan sekat-sekat agama dan budaya.
Jika sudah begini, berarti kemunculan sekolah berbasis agama otomatis
menjadi sebuah hal yang membuat adopsi konsep pendidikan multikultural yang di
wujudkan oleh pendidikan Indonesia melalui sekolah umum, mengalamipembiasan
arti. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa, Sekolah Islam Terpadu yang
berisikan peserta didik-peserta didik beragama Islam saja membuat praktik toleransi
beragama yang seharusnya sampai pada peserta didik menjadi suatu hal yang tidak
dapat terwujud.
Hal ini sudah jelas menggambarkan bahwa konsep pendidikan multikultural
yang di gadang-gadang oleh sistem pendidikan Indonesia, yang sampai sekarang masih
memiliki pembiasan arti, dan dibiarkan begitu saja. Perlu di tekankan bahwa, bukan
kehadiran sekolah-sekolah berbasis agama yang dipermasalahkan, tetapi kembali lagi
pada sejauh mana konsep pendidikan multikultural dapat masuk ke dalam proses
belajar mengajar di sekolah berbasis agama.
Oleh karena itu, perlu adanya kajian khusus tentang adopsi konsep Pendidikan
Multikultural itu sendiri dengan animo masyarakat yang memang sudah seolah
membutuhkan alternatif pendidikan lain selain sekolah negeri, dan juga diiringi dengan
berkembangnya sekolah-sekolah berbasis agama, dalam hal ini Sekolah Islam Terpadu