3.2. Data Hasil Penyebaran Kuesioner Online Relawan Pajak KPP Pratama Medan
3.2.2. Kendala yang dihadapi relawan pajak saat melaksanakan tugas-tugasnya
a. Kendala dalam proses asistensi pada sistem e-filing dan di kantor 1. Server yang sering mengalami kegagalan/down ketika banyak
pihak yang menggunakan sistem untuk melaporkan kewajibannya. Sistem yang digunakan pada djponline, merupakan yang terpusat dimana semua data akan diolah pada pusat dari sistem. Hal ini akan mengakibatkan sistem akan
mengalami kendala jika terlalu banyak user yang mengakser djponline. Karena sistem tidak sanggup untuk memproses semua data sekaligus. Sehingga akan mengalami kegagalan dalam prosesnya.
2. Koneksi internet yang kurang stabil juga dapat mengganggu proses pelaporan SPT melalui e-filing. Dalam melaporkan SPT melalui e-filing, wajib pajak haruslah memiliki akses dalam internet. Jika koneksi internet yang digunakan tidak stabil hal ini dapat mengakibatkan gangguan dalam proses pelaporan.
Gangguan itu dapat berupa kegagalan dalam menginput data informasi wajib pajak. Sehingga pada saat pelaporan akan terjadi pengulangan dalam pengisian data informasi.
3. Pengiriman kode verifikasi melalui email gagal atau lama menerima kode, sehingga menghambat proses pelaporan. Kode verifikasi ini akan digunakan umtuk meng submit SPT atau mengakhiri proses pelaporan. Tidak jarang terjadi kode ini akan sedikit lama atau bahkan tidak terkirim ke inbox email yang terdaftar. Sehingga terkadang wajib pajak akan menunggu selama beberapa menit untuk menyelesaikan pelaporan. Hal ini dapat terjadi jika koneksi internet yang digunakan mengalami gangguan atau sistem yang mengalami down.
4. Kursi pelayanan yang disediakan terbatas karena harus mengikuti protokol Kesehatan. Seperti yang kita ketahui saat ini seluruh kegiatan harus mematuhi protokol kesehatan.
Termasuk juga dalam pelayanan di KPP. Dikarenakan harus
menjaga jarak satu sama lain, jadi dalam tempat duduk antrian juga harus menjaga jarak yang mengakibatkan ruang dalam menganti akan semankin terbatas. Sehingga banyak wajib pajak yang mengeluh akan hal ini. Ini akan mempengaruhi penilaian dalam pelayanan tentunya.
5. Sarana dan prasarana yang kurang dapat dimaksimalkan untuk pelayanan wajib pajak. Dalam melakukan asistensi, relawan pajak menggunakan laptop pribadi dan KPP menyediakan koneksi internet. Karena relawan pajak hanya dapat menyiapkan 2 buah laptop jadi tugas dalam asistensi hanya dapat dilakukan oleh 2 orang relawan saja. Selebihnya akan membantu dalam hal teknis lainnya.
6. Kurang efektifnya asistensi secara online melalui zoom akibat masalah-masalah yang disebutkan sebelumnya. KPP Pratama Medan Polonia juga menyediakan asistensi secara online, tetapi tidak banyak wajib pajak yang tertarik dalam hal ini. Selain lebih jelas jika mendapat asistensi langsung, terdapat beberapa masalah juga dalam pelaksanaan nya, seperti jaringan yang error, koneksi yang tidak stabil, hingga teknis komunikasi yang terganggu.
b. Kendala yang dihadapi dari menghadapi wajib pajak
1. Sikap perilaku dan emosional wajib pajak yang menginginkan segala urusannya cepat selesai tanpa mengetahui proses dari penggunaan sistem e-filing. Untuk mendapatkan pelayanan asistensi wajib pajak harus mengikuti prosedur yang ada. Pada
masa pandemi ini, Direktorat Jenderal Pajak membuat sebuah prosedur baru. Yaitu wajib pajak yang ingin berkunjung ke KPP harus mengambil nomor antrian secara online, minimal sehari sebelum hari kunjungan. Nomor antrian online ini hanya digunakan untuk dapat masuk ke dalam gedung, setelah masuk ke dalam gedung, wajib pajak akan diarahkan untuk mengambil nomor antrian lagi sesuai dengan keperluannya. Jadi wajib pajak akan mengantri sebanyak dua kali untuk dapat menyelesaikan urusannya. Hal ini sering membuat wajib pajak emosional akibat prosedur yang merepotkan dan memakan waktu.
2. Wajib pajak yang kurang memahami teknologi terutama wajib pajak senior/yang cukup berumur. Wajib pajak yang cukup berumur kisaran 45 tahun ke atas, biasanya memiliki kemampuan yang kurang memadai mengenai teknologi.
Sehingga untuk melaporkan pajak secara e-filing akan mengalami kesulitan. Tidak sedikit wajib pajak ini akan menyerahkan urusannya secara penuh kepada petugas asistensi atau kepada keluarganya.
3. Sikap partisipatif yang kurang dari wajib pajak. Sikap wajib pajak yang seperti ini biasa terjadi pada wajib pajak parubaya.
Diamana wajib pajak tidak memiliki keinginan belajar tahapan pelaporan SPT secara e-filing. Wajib pajak hanya ingin datang untuk menyelesaikan urusannya, tanpa ingin tau prosesnya.
4. Wajib pajak yang tidak mengikuti prosedur, dimana iya ingin langsung mendapat asistensi tanpa mengantri. Wajib pajak ini biasanya akan meminta untuk langsung mendapat pelayanan, tanpa mengetahui prosedur untuk mendapatkan pelayanan asistensi.
5. Beberapa wajib pajak lupa/kehilangan email, password djponline dan efin yang sebelumnya sudah pernah digunakan untuk pelaporan sebelumnya. Hal ini sering terjadi, sehingga wajib pajak akan melakukan validasi data kembali untuk mendapatkan kembali data yang hilang atau terlupakan.
6. Kurang nya pemahaman wajib pajak mengenai perpajakan sehingga tidak mengetahui alasan untuk apa melaporkan pajaknya.
7. Wajib pajak tidak jujur atau enggan untuk memberi informasi mengenai jumlah hartanya, karena merasa akan mendapat beban tambahan terkait dengan harta yang dilampirkan.
8. Kurangnya kelengkapan berkas yang mendukung wajib pajak untuk dpat melaporkan pajaknya. Wajib pajak ini biasanya akan datang ke KPP untuk melaporkan pajaknya akan tetapi tidak mengetahui hal-hal apa saja yang harus dibawa atau dipersiapkan untuk dapat melaporkan pajak secara e-filing.
Berkas yang harus dipersiapkan adalah bukti potong A1/A2, NPWP, Password akun djponline, email terfdaftar dan efin.
9. Adanya pertanyaan dari wajib pajak yang diluar dari kemampuan relawan, tapi sulit juga mengarahkan wajib pajak
kepada pegawai yang bersangkutan untuk melakukan konsultasi. Banyak wajib pajak yang mengajukan pertanyaan seputar perpajakan, tidak jarang pertanyaan-pertanyaan tersebut berada diluar kemampuan dari relawan. Sehingga relawan akan kesulitan untuk menjawabnya, tetapi sulit juga untuk mengarahkan wajib pajak tersebut untuk mendapat konsultasi kepada pegawai pajak yang lebih professional akibat ramainya wajib pajak yang harus dilayani. Akhirnya pertanyaan tersebut tidak terjawab dan mengambang. Ini akan berpengaruh pada penilaian dari pelayan.
10. Suara yang tidak terlalu jelas saat melakukan asistensi baik secara langsung atau online akibat penggunaan masker. Dalam melaksanakan tugasnya, relawan pajak akan menggunakan masker dan faceshield untuk menjaga protokol kesehatan. Ini menyebabkan komunikasi sedikit terganggu karena suara akan terhambat oleh masker, begitu juga dengan suara dari wajib pajak yang sedikit sulit untuk didengar akibat penggunaan masker.
11. Wajib pajak yang sudah mendaftarkan diri untuk melakukan asistensi online melalui zoom membatalkan jadwal asistensinya.
c. Kendala dari relawan pajak sendiri
1. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mahasiswa relawan pajak dalam hal perpajakan, relawan pajak hanya memiliki pengetahuan seputar pelaporan e-filing dengan formulir 1770SS dan 1770S.
2. Kondisi dan situasi yang tidak memungkinakan bagi beberapa relawan pajak untuk melaksanakan tugasnya secara langsung akibat pandemic Covid-19.
3. Akomodasi yang besar untuk menuju ke lokasi asistensi dan juga biaya untuk pembelian paket data yang digunakan untuk melakukan asistensi secara online.