BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Peran Relawan Pajak selama Asistensi Pengajuan SPT Tahunan Orang
Relawan Pajak yang berperan sebagai perpanjangan tangan dari Direktorat Jenderal Pajak untuk memberikan uluran tangan kepada pihak yang membutuhkan perihal pelaporan pajak. Program ini berlangsung untuk meningkatkan ketaatan wajib pajak dan juga berperan mendukung pelaksanaan pelibatan pihak ketiga dalam penyuluhan mengenai perpajakan.
Kegiatan penyuluhan ini meliputi mengedukasi, asistensi, membantu kelengkapan administrasi serta memahami pola pikir wajib pajak saat pengajuan SPT berbasis e-filing. Hal tersebut berimbang dengan permintaan pihak KPP Pratama Binjai dimana Relawan Pajak bertindak selaku pihak penyedia yang menyokong WP untuk menyampaikan SPT Tahunannya berbasis e-filing maka berperan sebagai pihak asitensi (pendampingan) pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi.
Selaku pihak asistensi, terdapat beberapa jenis sasaran berdasarkan sifat dan keadaan wajib pajak saat pengajuan SPT berbasis e-filing, yaitu:
1. Wajib Pajak yang memiliki sedikit pengetahuan perpajakan dan menginginkan proses cepat
Pada kasus ini sebagian wajib pajak masih belum mengetahui mengapa mereka harus melaporkan pajak dan beranggapan kalau ini hanya kewajiban dari kantor tempat bekerja dan akan kena sanksi apabila tidak melaksanakannya. Hal ini didukung dengan kurangnya kefasihan
mengenai teknologi dan wajib pajak memiliki pola fikir jika sudah diserahkan kepada pegawai/Relawan Pajak maka segalanya dapat selesai dengan cepat tanpa memahami proses penyampaian SPT dengan e-filing.
Pada bagian ini, Relawan Pajak akan berlaku sebagai:
a. Pihak yang memahami kondisi wajib pajak saat melaporkan SPT , disampaikan bahwa bahwa anggapan tersebut tidak benar dan mengedukasi mereka tentang peran pajak dalam kesejahteraan nasional dan sosial.
b. Pihak yang dapat menganjurkan dan mengingatkan kembali mengenai berkas/data yang harus disiapkan wajib pajak disaat ingin menyampaikan pajaknya, yakni NPWP, Kartu Keluarga, bukti potong, password akun djponline.pajak.go.id, email yang terdaftar. Juga, jika lupa atau kehilangan kata sandi akun, kami akan meminta efin sebagai gantinya..
c. Pihak yang menganjurkan juga mengajak wajib pajak untuk menerapkan self assessment system dalam melaporkan SPT tiap tahun dengan e-filing. Hal ini bertujuan untuk membangun pemahaman terkait pelaporan SPT, sehingga ditahun mendatang wajib pajak bisa menyampaikan SPT-nya sendiri dengan e-filing tanpa datang ke KPP lagi.
d. Pihak yang memaparkan serta membimbing perihal tata cara pelaporan SPT Tahunan berbasis e-filing mulai dari akses
djponline.pajak.go.id , proses input data sampai didapat Bukti Penerimaan Elektronik.
2. Wajib Pajak yang memiliki keterampilan perpajakan yang rendah namun enggan untuk melakukan proses pembelajaran
Keadaan ini terlihat dari wajib pajak yang baru pertama kali memenuhi kewajiban perpajakannya tetapi memiliki pemahaman teknis yang baik. Wajib pajak dengan latar belakang seperti itu sudah memiliki kesadaran pajak yang cukup tetapi tidak memahami prosedur pelaporan.
Pada bagian ini, Relawan Pajak berperan sebagai:
a. Pihak yang mengarahkan serta membimbing tata cara penyampaian SPT berbasis e-filing mulai dari akses djponline.pajak.go.id , proses input data sampai didapat Bukti Penerimaan Elektronik.
b. Pihak yang dapat menganjurkan dan mengingatkan kembali mengenai berkas/data yang harus disiapkan wajib pajak disaat ingin menyampaikan pajaknya, yakni NPWP, Kartu Keluarga, bukti potong, password akun djponline.pajak.go.id, email yang terdaftar. Juga, jika lupa atau kehilangan kata sandi akun, kami akan meminta efin sebagai gantinya.
c. Pihak yang menganjurkan juga mengajak wajib pajak untuk menerapkan self assessment system dalam melaporkan SPT tiap tahun berbasis e-filing. Hal ini bertujuan untuk membangun pemahaman terkait pelaporan SPT, sehingga ditahun mendatang
wajib pajak bisa menyampaikan SPT-nya sendiri menggunakan e-filing tanpa harus datang ke KPP lagi.
d. Pihak yang menganjurkan agar penyuluhan tentang e-filing ini diharapkan dapat dibagikan kepada masyarakat.
3. Wajib Pajak yang memiliki keterampilan perpajakan yang sangat baik, tetapi ragu untuk melaporkan SPT secara individual melalui e-filing
Keadaan seperti ini terdapat pada wajib pajak yang sadar atas kewajiban perpajakannya, bukan pertama kali menggunakan e-filing juga memiliki pengetahuan teknologi yang baik. Tetapi wajib pajak ini ragu dan takut salah melaporkan SPT-nya karena takut salah mengisi sehingga harus berhubungan dengan pihak berwajib (fiskus).
Pada kasus ini, Relawan Pajak berperan sebagai:
a. Pihak yang meringankan lingkup wajib pajak yang ingin menyampaikan SPT diluar jam kerja Relawan Pajak dan diluar KPP Pratama Binjai.
b. Pihak yang memaparkan serta membimbing mengenai metode pelaporan SPT Tahunan berbasis e-filing mulai dari akses djponline.pajak.go.id , proses input data sampai didapat Bukti Penerimaan Elektronik. Tata cara boleh direkam atau ditulis agar menjadi panduan pada pelaporan tahun-tahun selanjutnya.
c. Pihak yang dapat menganjurkan dan mengingatkan kembali mengenai berkas/data yang harus disiapkan wajib pajak disaat ingin
menyampaikan pajaknya, yakni NPWP, Kartu Keluarga, bukti potong, password akun djponline.pajak.go.id, email yang terdaftar.
Juga, jika lupa atau kehilangan kata sandi akun, kami akan meminta efin sebagai gantinya
d. Pihak yang menganjurkan juga mengajak wajib pajak untuk menerapkan self assessment system yang dapat dilakukan menggunakan handphone/pc dalam melaporkan SPT tiap tahun melalui e-filing. Hal ini bertujuan untuk membangun pemahaman terkait pelaporan SPT, sehingga ditahun mendatang wajib pajak bisa melaporkan SPT-nya sendiri memanfaatkan e-filing tanpa harus datang ke KPP lagi.
Realisasi peran diatas bisa dilihat dari Survey Kepuasan Wajib Pajak yang diberikan pada wajib pajak sesaat setelah Relawan Pajak membantu mereka sampai selesai.
Gambar 4. 1 Data Survey Kepuasan Wajib Pajak atas Asistensi Relawan Pajak
Sumber: Grup Whatsapp Relawan Pajak Kanwil DJP Sumut I 2022
Berdasarkan Gambar 4.1 dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat kepuasan wajib pajak atas Relawan Pajak di KPP Pratama Binjai sebesar 4,95 (dari 5,00) dari jumlah responden terbanyak se-KPP Kanwil DJP Sumut I, yaitu 929 wajib pajak orang pribadi. Tingkat kepuasan yang tinggi ini berhasil menjawab bahwa peranan Relawan Pajak sangatlah diperlukan dan hasilnya sangatlah efektif. Namun, sebanyak 929 wajib pajak orang pribadi juga yang tidak/belum bisa mengajukan SPT Tahunan nya secara mandiri karena berbagai faktor.
4.2 Kendala yang Dihadapi Relawan Pajak selama Asistensi Pengajuan SPT Tahunan Orang Pribadi Berbasis E-Filing di KPP Pratama Binjai
Dari sejumlah peran serta tugas yang dilaksanakan Relawan Pajak, terdapat berbagai kendala dari beberapa faktor yang dihadapi di lapangan, antara lain:
1. Faktor sistem e-filing
Website e-filing bisa diakses melalui djponline.pajak.go.id, sse.pajak.go.id , sse2.pajak.go.id, serta sse3.pajak.go.id . Namun situs kerap mengalami down ketika digunakan oleh banyak wajib pajak terkhususnya di minggu terakhir penyampaian SPT Tahunan Orang Pribadi. Kendala lainnya terkait pengiriman kode verifikasi dan Bukti Penerimaan Elektronik melalui email wajib pajak yang lama ataupun gagal dikarenakan server eror ini, kalau hal ini terjadi maka pengisian SPT akan tersimpan di draft, namun tak jarang diharuskan mengisi ulang SPT.
Hal ini menjadikan asistensi sempat terhenti atau memakan waktu lebih lama karena kesulitan untuk mengakses.
2. Faktor pandangan wajib pajak
a. Kurangnya pengetahuan mengenai proses penyampaian SPT yang akan dilakukan
Hal ini meliputi kurang/tidak lengkapnya berkas wajib pajak yang dibutuhkan selama proses pelaporan SPT Tahunan, yaitu bukti potong 1721 A1/A2 & NPWP, password akun, efin, email aktif.
b. Pemahaman wajib pajak masih minim mengenai tanggung jawab perpajakannya.
Beberapa wajib pajak tidak mengetahui alasan mereka melapor pajak dan melapor dikarenakan kewajiban dari perusahaan saja.
Pemahaman yang kurang ini berjung wajib pajak yang kerap menghilangkan atau melupakan email, password akun djponline, e-fin yang dipergunakan saat pelaporan pajak lalu.
c. Sikap serta perilaku wajib pajak.
Wajib pajak menginginkan segala urusan cepat rampung tanpa memedulikan server down/antrian yang panjang. Sehingga beberapa merasa kurang nyaman atas pelayanan yang diberikan KPP.
d. Kurangnya sikap partisipatif dari wajib pajak sehingga hanya datang tanpa ingin tahu prosesnya. Beberapa wajib pajak tersebut ada yang sudah mendapat asistensi dengan e-filing di tahun lalu namun masih tidak mengerti cara penggunaannya sehingga datang ke KPP lagi di
tahun ini. Sebagian besar wajib pajak dengan usia diatas 40 tahun kurang mengerti tentang teknologi, khususnya penggunaan e-filing sehingga proses pelaporan pajak diserahkan sepenuhnya kepada Relawan Pajak.
e. Wajib pajak kurang kooperatif mengenai tidak terbuka atau enggan memberi informasi mengenai jumlah harta dan hutang.
Sebagian besar wajib pajak memiliki banyak keraguan dalam memasukan aset/hutang karena berpendapat dapat mempengaruhi pembayaran pajak. Pdahal, sekalipun jumlah harta/utang yang dikenakan oleh Wajib Pajak tidak mempengaruhi jumlah pajak.
f. Suara yang kurang jelas saat melakukan asistensi.
Hal ini dikarenakan Relawan Pajak menggunakan akibat penggunaan masker serta terdapat sekat akrilik pembatas disetiap meja asistensi begitu juga dengan wajib pajak sebagai salah satu aturan selama masa pandemi Covid-19. Selain itu, sarana dan prasarana belum optimal karena kurangnya kursi di ruang tunggu dan keterbatasan ruang karena jaga jarak.
3. Faktor Relawan Pajak
Dalam praktiknya, para sukarelawan pajak sering menghadapi masalah perpajakan yang melampaui keterampilan dan wewenang sukarelawan pajak, tetapi karena keterbatasan waktu dan tempat, mereka tidak dapat dirujuk ke otoritas pajak yang bertugas. Toh, relawan pajak merasa tidak
nyaman karena wajib pajak mendapatkan jawaban yang tidak jelas dan tidak bisa melayani wajib pajak dengan baik.
Kemudian, terdapat biaya akomodasi serta konsumsi yang harus disediakan oleh Relawan Pajak saat menjalankan kegiatannya. Biaya ini khususnya bagi Relawan Pajak yang bertempat tinggal lumayan jauh dari KPP Pratama Binjai.
56 BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan, penulis mencapai kesimpulan sebagai berikut::
1. Dalam proses penyampaian SPT Tahunan berbasis electronic filing, Relawan Pajak aktif bertindak sebagai perpanjangan tangan Direktorat Jenderal Pajak dan bertindak langsung sebagai petugas pembantu.
Kegiatan konsultasi ini meliputi pelatihan, pendampingan, petunjuk dan petunjuk pelaksanaan langkah demi langkah, penjelasan berkas dan petunjuk yang diperlukan untuk memasukkan informasi wajib pajak, dan pemberian kemampuan pelaporan SPT melalui e-filing.
2. Kendala yang paling sering dihadapi Wajib Pajak adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan mereka tentang pajak saat mengajukan SPT. Kendala ini diperparah dengan sistem e-filing yang sering mengalami penurunan terutama pada hari terakhir penyampaian, dan terbatasnya kemampuan wajib pajak untuk melaporkan pajak sendiri.
3. KPP Pratama Binjai mengadopsi metode pelayanan terkait protokol kesehatan seperti: batasan akibat dampak pandemi Covid-19 sehingga menentukan jumlah kunjungan ke kantor. Wajib pajak diminta mengambil nomor antrian online dari https://kunjung.pajak.go.id/
minimal satu hari sebelum kunjungan.
5.2 Saran dan Masukan
5.2.1 Ditujukan untuk Direktorat Jenderal Pajak dan KPP Pratama Binjai
1. Diperlukan diseminasi yang lebih maksimal mengenai kesadaran pajak dan distribusi pajak bagi sumber APBN terbesar.
2. Diperlukan sosialisasi dan edukasi mengenai SPT orang pribadi berbasis electronic filing dan penyuluhan untuk melakukan penyampaian secara sendiri. Alhasil, kunjungan ke KPP juga bisa berkurang di masa pandemi Covid-19.
3. Diperlukan kerja sama antar DJP dan KPP membentuk kegiatan memupuk kedekatan antar Relawan Pajak agar semakin mengetahui satu sama lain serta terjalin kekompakan.
4. Diharapkan DJP memberikan apresiasi bagi mahasiswa/i yang telah mengikuti Kegiatan Relawan Pajak. Misal, jaminan kemudahan melamar kerja di KPP.
5.2.2 Ditujukan untuk Wajib Pajak
1. Diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kewajiban atas perpajakan secara self assesment karena berpengaruh sangat besar bagi faktor perkembangan negara Indonesia.
2. Dapat menyimpan data untuk pelaporan pajak, antara lain efin, password djponline, dan email yang telah terdaftar pada akun djponline.
3. Memastikan akuntan lokasi kerja Wajib Pajak memotong dan memberikan bukti potong, dan Wajib Pajak menggunakan sumber tersebut sebagai acuan penyampaian SPT.
4. Mengikuti semua tata cara yang berjalan serta dapat menahan emosi tidak baik yang dapat merugikan segala pihak.
5.2.3 Ditujukan untuk Relawan Pajak
1. Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan serta wawasan tentang perpajakan yang lebih luas lagi disamping pengetahuan tentang SPT dan e-filing.
2. Diharapkan dapat tetap menjadi pelopor perpajakan di masyarakat walaupun kegiatan Relawan Pajak telah berakhir nantinya.
3. Diharapkan kelak menjadi contoh yang baik sebagai wajib pajak yang patuh pada kewajiban perpajakannya.
xvii
DAFTAR PUSTAKA
Indonesia, P. R. (2007). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007. Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan.
Republik Indonesia. 2020. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 184/PMK.01/2020 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 210/PMK.01/2017 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak. Jakarta, Kementrian Keuangan.
Darmayasa, I. N., Wibawa, B. P., & Nurhayanti, K. (2020). E-filling dan Relawan Pajak dalam Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Jurnal Kajian Akuntansi, 4(2), 208-227.
Permana, M. S. (2021). Peranan Relawan Pajak dalam Mengoptimalkan Pelaporan SPT Wajib Pajak Orang Pribadi Melalui E-Filing di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia pada Masa Pandemi Covid-19.
RI, S. N. (2000). Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2008 tentang
Perubahan Keempat atas
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Sari, R. F., & Santoso, D. L. (2021). Efektivitas Strategi Webinar Dalam Edukasi Penyuluhan Tentang Kebijakan Insentif Perpajakan Di Masa Pandemi Covid-19 Terhadap Partisipasi Wajib Pajak.
Scientax, 3(1), 70-87.
Sastrawan, G., & Wahyoni, I. A. P. I. (2021). Pengenaan Pajak
Penghasilan di Indonesia (Pasal 21 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan). Jurnal Locus Delicti, 2(1), 24-3
DDTC News. 2021. “Apa Itu Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)?”.
https://news.ddtc.co.id/apa-itu-penghasilan-tidak-kena-pajak-ptkp-xviii
30958#:~:text=PTKP%20juga%20dapat%20diartikan%20sebagai,PTKP%20men jadi%20dasar%20pengenaan%20PPh. (diakses pada tanggal 2 April 2022)
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. “Penyampaian SPT online”.
https://www.kemenkeu.go.id/page/penyampaian-spt-online/ (diakses pada tanggal 10 April 2022)
Sadar Pajak. 2017. “Code of Conduct Relawan Pajak”.
https://edukasi.pajak.go.id/kegiatan/relawanpajak/164-code-of-conductrelawanpajak.html. (diakses pada tanggal 2 April 2022)
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. 1 Surat Pengajuan Judul
xx Lampiran 1. 2 Surat Penugasan Pembimbing
xxi
Lampiran 1. 3 Surat Undangan Seminar Proposal
xxii Lampiran 1. 4 Berita Acara Seminar Proposal
xxiii
xxiv
xxv
xxvi
xxvii Lampiran 1. 5 Surat Izin Penelitian
xxviii Lampiran 1. 6 Persetujuan Izin Riset
xxix Lampiran 1. 7 Undangan Meja Hijau
xxx Lampiran 1. 8 Kartu Kendali Bimbingan
xxxi
xxxii Lampiran 1. 9 Data Penelitian
Tahun Target Realisasi
Penerimaan SPT Penerimaan SPT
2018 705.451.737.000 609.662.087.226
2019 577.663.472.000 85,00% 609.703.225.538 52,01%
2020 620.586.000.000 80,00% 622.788.888.211 81,18%
2021 400.000.000.000 100,00% 517.100.761.593 100,30%
xxxiii Lampiran 1. 10 Pedoman Wawancara
xxxiv