BAB II. PERENCANAAN KINERJA 2.1. Rencana Strategis
RINCIAN KEGIATAN SEBAGAI BERIKUT :
4) Kendala Yang Dihadapi
Banyaknya alat substansial yang rusak selama proses produksi membuat target banyak yang terlambat dicapai. Rusaknya sentrifus menyebabkan enzim hasil produksi 100 L yang aktivitasnya sangat baik sekalipun tidak dapat dipanen dengan segera. Sehingga harus disimpan. Sementara tempat penyimpanan seperti cold room juga rusak. Sehingga enzim-enzim yang sudah dihasilkan mengalami kerusakan dan berbau.
5) Kesimpulan
a) Produksi Xilanase tertinggi oleh Bacillus halodurans CM1 dalam fermentor 10 liter dengan volume kerja 8 liter adalah batch dengan agitasi 250ppm dan aerasi 0.675vvm (skala 5) dengan lama fermentasi 30 jam (783.47U/ml).
b) Berdasarkan anova, model yang diuji signifikan, sehingga batas atas agitasi dan aerasi untuk optimasi selanjutnya masing-masing adalah 250rpm dan 1.75vvm, sedangkan batas bawah nya masing-masing 100rpm dan 0.675vvm
c) Antifoam yang baru dari petrosida memberikan aktivitas terbaik pada jam ke24. Namun tidak ada beda yang signifikan antara aktifitas yang dihasilkan oleh antifoam yang berbeda pada jam-jam sebelumnya.
d) Tidak terlihat perbedaan yang signifikan atara satu cara penyimpanan dengan yang lain.
e) Penggantian sumber protein dari bahan standar (yeast dan pepton) dengan tepung ikan pada starter tidak mempengaruhi aktivitas xilanase secara umum. Karena itu tepung ikan dapat digunakan dalam starter maupun dalam media produksi.
f) Penggantian protein standar dengan tepung ikan menyebabkan starter berwarna keruh dan tidak dapat diukur densitasnya secara valid. Karena itu cara lain dengan mengukur kurva pertumbuhan (waktu dan CFU/ml) dilakukan untuk mengetahui masa log phase. Dari hasil kegiatan didapatkan bahwa log phase kondisi terbaik untuk memindahkan starter baik yang tersubtitusi tepung ikan maupun ragi ke media produksi antara jam 1 - 3.
a.2. Perbandingan antara capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir
- Uraian mengenai realisasi kinerja serta capaian hingga kinerja tahun 2016.
Penguasaan teknologi produksi Xilanase telah dilakukan sampai pada skala pilot plant 150L dan telah dibuatkan basic design skaa komersial (3 ton/hari). Produksi xilanase menggunakan Bacillus halodurans galur CM1 ini dengan menggunakan media tepung ikan dan tongkol jagung menghasilkan aktivitas enzim antara 100 – 540 U/ml. Selanjutnya di tahun ini (2017) akan dilakukan ujicoba produksi sampai 1000L di pilot plant untuk mendapatkan data sebagai bahan untuk menyusun SOP dalam produksi xilanase sebagai persiapan produksi sekala komersial. Ujicoba produksi
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 15 1000L tidak bisa terealisasikan di tahun 2016 karena adanya pemotongan anggaran.
- Uraian mengenai realisasi kinerja serta capaian hingga kinerja tahun 2015.
Pengembangan dan penguasaan teknologi produksi xilanase difokuskan pada kegiatan optimasi media dan optimasi proses serta validasi produksi Xilanase pada skala 100 L menggunakan media tepung ikan dan tongkol jagung.
- Uraian mengenai realisasi kinerja serta capaian hingga kinerja tahun 2014
Pengembangan dan penguasaan teknologi produksi xilanase difokuskan pada kegiatan optimasi media dan optimasi proses produksi xilanase pada skala 10 L menggunakan media tepung ikan dan tongkol jagung.
a.3 Perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis
- Uraian mengenai target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis adalah peningkatan hasil layanan teknologi yang dapat diaplikasikan di industri dan masyarakat. - Uraian mengenai realisasi kinerja sampai dengan tahun 2016: telah
diajukan paten terkait proses produksi Xilanase untuk dipakai di industri pulp dan kertas. Dengan adanya paten ini diharapkan bisa disusun dokumen teknologi untuk digunakan dalam alih teknologi produksi Xilanase kepada mitra pengguna teknologi.
a.4 Perbandingan realisasi kinerja tahun ini dengan standar nasional Tidak ada
a.5 Analisis penyebab keberhasilan atau peningkatan kinerja
Faktor penyebab keberhasilan/peningkatan kinerja diantaranya adalah: - Kerjasa sama team yang baik selama pelaksanaan kegiatan.
- Pengalaman kerja dari anggota team yang berpengalaman dalam kegiatan serupa di tahun-tahun sebelumnya.
- Dukungan fasilitas yang ada di LAPTIAB, meskipun masih serba terbatas.
a.6 Analisis atas efisiensi penggunaan sumberdaya
- Struktur pekerjaan menggunakan WBS sehingga pekerjaan terdistribusi sesuai dengan keahlian masing-masing sehingga dalam tim kegiatan saling melengkapi
- Melakukan penyesuaian anggaran dengan capaian kegiatan per triwulan - Efisiensi penggunaan mesin dan peralatan yang ada di LAPTIAB
a.7 Analisis program/kegiatan penunjang keberhasilan
Struktur pekerjaan menggunakan WBS sehingga pekerjaan terdistribusi dengan baik kepada setiap personel sehingga mudah dikontrol kemajuannya.
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 17 - Adanya penetapan jobdesc untuk semua personel di awal tahun sehingga setiap personel terpacu untuk mencapai target yang ditetapkan di dalam jobdesc tersebut.
b. Jumlah perusahaan yang telah memanfaatkan inovasi teknologi pemanfaatan agen hayati (BioPeat)
b.1. Uraian Pelaksanaan Kegiatan tahun 2016 dan hasil yang dicapai (disertai dengan foto-foto kegiatan dan mitra pengguna)
Uraian Kegiatan
Indikator kinerja ini dengan cara menghitung jumlah perusahaan yang memanfaatkan teknologi dari hasil alih teknologi biopeat yakni 1 perusahaan PT Riau Sakti United Plantation (PT RSUP).
Program ini berhasil mencapai target dimana tahun sebelumnya capaian berupa prototipe biopeat, kemudian tahun berikutnya (2016) alih teknologi produksi biopeat kepada PT RSUP.
Program DIPA yang digunakan untuk mencapai target kinerja adalah “program Pengembangan bioingredien aktif dan hilirisasi produk bioindustri” dengan output:
o Diperoleh teknologi produksi biopeat dengan isolat mikroba potensil milik PTB
o Telah dilakukan pelatihan teknologi produksi biopeat o Telah dilakukan uji coba produksi biopeat skala 14 ton
RINCIAN KEGIATAN SEBAGAI BERIKUT :
Rancang Bangun Produksi Pupuk Hayati Biopeat, mempunyai tujuan melakukan alih teknologi produksi Biopeat, dengan memberikan pelatihan teknologi produksi Biopeat dan Biopeat Pine, menyiapkan dokumen teknologi Biopeat dan draft paten dari BioPeat serta BioPeat Pine.
Pupuk hayati merupakan komponen penting dalam pertanian organik, tetapi bukan monopoli pertanian organik. Pupuk hayati juga dibutuhkan oleh pertanian konvensional untuk memelihara kelestarian lahan, memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologis tanah. Permintaan pupuk hayati cenderung meningkat seiring dengan makin meningkatnya pertanian organik.
Dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional, lahan sub-optimal (gambut) di luar Pulau Jawa dapat didayagunakan. Lahan gambut berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian dengan memberikan input teknologi untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Salah satunya adalah dengan memberikan tambahan pupuk konsorsia mikrob dalam bentuk pupuk hayati. Pupuk hayati yang diaplikasikan juga berperan dalam proses penguraian bahan organik, melepaskan nutrisi ke dalam bentuk mudah diserap oleh tanaman serta mendegradasi residu toksik. Hal ini pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas lahan gambut yang bermanfaat bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Penelitian PTB - BPPT mengenai fungi yang memiliki kemampuan sebagai agen hayati untuk meningkatkan pH tanah gambut, sekaligus memanfaatkan limbah organik sebagai matriks untuk pertumbuhannya. Hasil kajian tersebut dipopulerkan dengan nama BioPeat dan BioPeat-Pine oleh Tim Pupuk Hayati PTB-BPPT.
BioPeat adalah mikrob potensial berupa fungi yang memiliki kemampuan spesifik dalam menaikkan pH tanah gambut. Sedangkan BioPeat-Pine adalah pupuk hayati yang mengandung mikrob potensial (BioPeat) peningkat pH
LAKIP DEPUTI BIDANG TAB - BPPT TAHUN 2016 III - 19 Alih Teknologi Produksi Mikrob Penyubur BioPeat dan BioPeat-Pine dilakukan untuk mentransfer teknologi produksi BioPeat dan BioPeat-Pine yang telah dikembangkan oleh tim Pupuk hayati PTB-BPPT ke industri yaitu PT. Riau Sakti United Plantations (PT. RSUP), sehingga diharapkan PT. RSUP dapat menerapkan teknologi produksi mikrob penyubur dari PTB-BPPT yang memanfaatkan limbah nanas di lahan perkebunan PT. RSUP dan bermanfaat untuk meningkatkan hasil produksi tanaman hortikultur di kawasan Pulau Burung.
PT. RSUP memiliki perkebunan kelapa seluas kurang lebih 16.000 ha, dan perkebunan Nanas seluas kurang lebih 4.000 ha, yang merupakan lahan sub-optimal gambut, dengan rata-rata pH tanah sekitar 3 sampai 4. Melalui serangkaian kegiatan alih teknologi tersebut diharapkan pihak PT. RSUP diharapkan mampu memproduksi pupuk hayati BioPeat-Pine yang memanfaatkan limbah nanas menggunakan mikroba dan teknologi produksi yang dirancang oleh tim Pupuk Hayati, Pusat Teknologi Bioindustri, BPPT. Kedepannya diharapkan PT. RSUP dapat menggunakan teknologi mikrob dari PTB-BPPT ini untuk meningkatkan produktivitas lahan di kawasan perkebunan Pulau Burung.
Alih teknologi proses produksi BioPeat dan BioPeat Pine dilakukan dalam bentuk pelatihan. Pelatihan dilaksanakan dalam dua bagian, yaitu pelatihan pertama mengenai alih teknologi proses produksi BioPeat dan Pelatihan kedua mengenai alih teknologi proses produksi BioPeat Pine.