4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Kepadatan Nannochloropsis oculata
ada di BPBAP Situbondo, pH yang ada pada skala laboratorium yaitu 8, sedangkan pada skala intermediate sebesar 8 – 8,5. Menurut Tjahjo (2002) dan Cahyaningsih (2009), pH optimal bagi N. oculata berkisar 8-8,5. Berdasarkan data tersebut terutama untuk kultur murni sudah sangat memenuhi syarat untuk dapat tumbuh.
4.3.3 Salinitas
Salinitas merupakan salah satu sifat kimia air yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme termasuk N. oculata. Pada saat kultur, biasanya terjadi kenaikan salinitas akibat dari adanya hasil metabolisme dan adanya pengendapan. Dalam kultur N. oculata yang ada pada BPBAP Situbondo, salinitas yang dipakai pada skala laboratorium berkisar 33 ppt, sedangkan pada skala intermediate sebesar 34 ppt. Hal ini sesuai dengan pendapat Tjahjo (2002), N. oculata dapat tumbuh pada salinitas 30-35 ppt. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa air laut yang digunakan dalam kultur N. oculata di BPBAP Situbondo sudah memenuhi syarat untuk dapat mendukung pertumbuhannya.
4.4 Kepadatan Nannochloropsis oculata
Untuk mengetahui pertumbuhan N. oculata dalam budidaya maka perlu dilakukan pengamatan. Pengamatan pertumbuhan dapat dilakukan dengan melihat perubahan warna yang terjadi dari awal penebaran bibit. Namun pengamatan paling baik adalah dengan melakukan perhitungan kepadatan dengan menggunakan haemocytometer yang diamati dibawah mikroskop. Pada perhitungan N. oculata alat yang digunakan untuk perhitungan adalah Haemocytometer.
Haemocytometer adalah sebuah gelas preparat dari mikroskop. Akan tetapi bila dilihat dari samping, pada bagian tengah permukaannya ada bagian
41
yang agak rendah dibandingkan dengan bagian di sebelah kanan dan kirinya. Perbedaan jarak antara bagian yang rendah dengan permukaan gelasnya disebut kedalaman yang tingginya 0,1 mm. Pada permukaan yang rendah itu terdapat garis-garis yang bersilangan, sehingga terlihat berupa kotak-kotak bujur sangkar. Ukuran kotak tersebut masing-masing terbagi-bagi lagi menjadi kotakan-kotakan yang lebih kecil. Luas kotakan yang bergaris-garis tadi adalah 1 mm2, sedangkan ketinggian airnya sama dengan kedalaman dari haemocytometer yaitu 0,1 mm. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ekawati (2005), bahwa volume dari air di dalam kotakan yang bersangkutan adalah 0,1 mm3 atau 0,0001 cm3 atau 0,0001 ml. Sehingga jumlah sel yang terdapat di dalam sebuah kotakan tadi setelah dihitung misalnya N buah sel, ini berarti dalam 0,1 mm3 terdapat N sel. Jadi dalm 1 cm3 atau 1 ml, jumlah selnya adalah 10.000 x N sel. Tahapan yang dilakukan untuk mengetahui dan menghitung kepadatan kepadatan N. oculata adalah sebagai berikut :
Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk pengamatan, antara lain: mikroskop, haemocytometer, hand tally counter, cover glass, pipet tetes, beaker glass 50 ml, botol film, tissue, aquades dan sampel N.
oculata.
Sampel N. oculata diambil dengan menggunakan botol film secukupnya. Sampel pada botol film diambil sebanyak 1 tetes diletakkan pada
haemocytometer. Apabila sampel terlalu padat dapat dilakukan pengenceran dengan cara mengambil sampel dari botol film sebanyak 1 ml, diletakkan pada beaker glass 50 ml. Kemudian di tambahkan aquades sebanyak 10- 50 ml tergantung pada kepadatan atau warna sampel. Selanjutnya di homogenkan dan diteteskan sebanyak 1 tetes pada
42
haemocytometer, kemudian ditutup dengan cover glass tanpa ada gelembung udara.
Sampel pada haemocytometer diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100 x sebanyak 3 kali pengamatan dan dihitung dengan bantuan hand tally counter.
Untuk mengetahui kepadatan N. oculata. jumlah sel (N) dalam kotak-kotak haemocytometer dihitung ke dalam rumus :
Kepadatan : x 16 x 104.
Kepadatan plankton biasanya dinyatakan dengan satuan sel/ml dan penghitungannya dengan menggunakan alat yang dinamakan hemasitometer. Kepadatan plankton dihitung dengan cara mengambil setetes air plankton menggunakan pipet dan meletakkannya di atas gelas obyek ditutup dengan cover glas dan diamati di bawah mikroskop. Luas kotakan yang bergaris – garis tadi adalah 1 mm2 , sedangkan tinggi airnya sama dengan kedalaman
hemasitometer, yaitu 0,1 mm. Volume air di dalam kotakan adalah 0,1 mm3
terdapat N plankton. Dengan demikian, 1cm3 atau 1 ml air jumlah planktonnya adalah 10.000 x N sel (Mudjiman, 2004).
Dari hasil perhitungan kepadatan N. oculata yang dikultur dapat diketahui bahwa pada awal pertumbuhannya peningkatan kepadatan sel berjalan bertahap, hal ini sesuai dengan pendapat Fogg (1987) dalam Bahua (2015), sel fitoplankton membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang baru. Setelah mengalami fase lag, pada hari ke- 4 sampai hari ke-6 diperkirakan memasuki fase eksponensial (periode puncak) dimana perkembangan sel N. oculata mengalami pertumbuhan puncak. Selanjutnya pada hari ke- 7 merupakan fase kematian dimana terjadi penurunan jumlah
43
populasi mikroalga. Pertumbuhan N. oculata yang dibudidayakan dapat dilihat hasil perhitungan kepadatan yang tersaji pada Tabel 4.
Tabel 4. Tabel Kepadatan Nannochloropsis oculata yang dikultur Usia
(Hari)
Kepadatan (104 Sel/ml)
Erlenmeyer Carboy Bak Fiber
1 260 264 80 2 332 324 104 3 396 472 188 4 416 520 260 5 552 644 216 6 628 684 - 7 696 756 - 8 728 772 - 9 644 - - 10 532 - -
Berdasarkan Pola pertumbuhan fitoplankton dapat diketahui usia yang baik untuk panen. Panen ini dilakukan untuk dijadikan bibit dan pakan. Bibit dan pakan umumnya dilakukan pada hari ke 5- 7. Menurut Sari (2012) pemanenan harus dilakukan saat fitoplankton mencapai puncak populasi atau fase akhir eksponensial. Hal ini sesuai dengan pertumbuhan fitoplankton yang didapat.
Pada kultur N. oculata skala laboratorium kepadatan awal adalah 260 x 104 dan mencapai puncaknya pada hari ke-8 728 x 104 sel/ml. Kepadatan N. oculata meningkat pesat pada saat memasuki fase eksponensial. N. oculata yang di kultur mengalami fase puncak pada hari ke 8 yaitu dengan kepadatan 728 x 104 sel/ml. Hal ini didukung oleh Kabinawa (2006), yang menyatakan sel inokulum pada fase eksponensial sudah memanfaatkan nutrien dalam media tumbuh dan telah terjadi proses biosintesis sel sehingga sel mampu tumbuh dan bereproduksi lebih banyak. Pada fase eksponensial sel inokulum mengalami pembelahan maksimal yaitu menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Di bawah ini
44
merupakan grafik pertumbuhan kultur N. oculata pada skala Laboratorium yaitu menggunakan Erlenmeyer dengan aerasi.
Gambar 12. Grafik Pertumbuhan Nannochloropsis oculata skala Erlenmeyer.
Kepadatan awal kultur N. oculata skala carboy adalah 264 x 104 sel/ml. dan mengalami puncaknya atau fase eksponensial pada hari ke 8 yaitu 756 x 104 sel/ml. pada hari ke-9 kultur N. oculata pada carboy dilakukan subkultur pada Bak Fiber 500 Liter. Hal ini didukung oleh Fachrullah (2011) dan Sari (2012) juga memperlihatkan fase eksponensial pada jenis N. oculata berkisar antara hari ke 6 sampai hari ke 8. Fase ini ditandai dengan naiknya laju pertumbuhan hingga kepadatan populasi meningkat beberapa kali lipat. Pada fase ini juga sel alga sedang aktif berkembang biak melalui pembelahan.
Selama fase eksponensial sel N. oculata membelah dengan cepat, selain itu sel-sel berada dalam keadaan stabil dengan jumlah sel yang bertambah dengan kecepatan konstan, bahan sel baru terbentuk dengan laju tetap akan tetapi bahan-bahan tersebut bersifat katalitik massa bertambah secara eksponensial (Anggraeni, 2009), hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi
45
dalam media. Di bawah ini merupakan grafik pertumbuhan kultur N. oculata pada skala Laboratorium yaitu menggunakan wadah Carboy.
Gambar 13. Grafik Pertumbuhan Nannochloropsis oculata skala Carboy.
Kepadatan awal kultur N. oculata skala intermediate adalah 80 x 104 sel/ml. Dan fase puncak pertumbuhan adalah pada hari ke 4 260 x 104 sel/ml. Hal ini didukung oleh Isnansetyo dan Kurniastuty (1995), Pertumbuhan mikroalga dalam kultur dapat ditandai dengan bertambah besarnya ukuran sel atau bertambah banyaknya jumlah sel. Sampai saat ini kepadatan sel digunakan secara luas untuk mengetahui pertumbuhan mikroalga.
Kepadatan sel N. oculata mengalami penurunan pada hari ke 5 kultur di, hal tersebut dikarenakan tempat kultur intermediate tidak dikontrol sepenuhnya dan juga ketersediaan nutrient mempengaruhi keberlangsungan hidup N. oculata. Ketersediaan nutrien yang terlalu sedikit akan mengakibatkan pertumbuhan lambat dan melemahkan kondisi sel sehingga jumlah kepadatan sel menurun (Rizky, 2010). Kadar nutrisi yang rendah dalam media akan menurunkan produktivitas sel alga. Sel yang telah mati akan terurai dan pecah dengan sendirinya, karena tidak dapat mengatur tekanan osmosis. Di bawah ini