• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPALA KANTOR

Dalam dokumen KABUPATEN BOGOR TAHUN (Halaman 24-35)

II-9

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pembentukan Kantor Layanan pengadan Barang/Jasa Kabupaten Bogor, maka pengisian formasi jabatan struktural di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa terdiri dari eselon III dan IV yaitu sebanyak 5 orang. Sedangkan jabatan fungsional tidak ada.

Berdasarkan Tabel 2.2. diatas menunjukkan bahwa pegawai Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa masih ada pegawai non negeri yaitu tenaga Teknis Pembantuan Administrasi Pengadaan barang/Jasa, Petugas Keamanan, serta Petugas Kebersihan. Sehingga penulisan tentang kondisi pegawai di bawah ini difokuskan hanya pada PNS 28 orang.

Dari 28 jumlah Pegawai yang ada di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa terdapat 35,71% pegawai yang berstatus golongan II, 60,71% pegawai yang berstatus golongan III, sedangkan golongan IV sebanyak 3,57%. Jika dilihat dari tingkat Pendidikan pegawai Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa yang ada, maka status pendidikan dengan Strata -1 lebih mendominasi yaitu sebesar 39,29 %, dan SLTA/SMK sebesar 32,14%, sedangkan yang paling rendah yaitu tingkat Sarjana Muda / D3 sebesar 14,29 %. Dilihat dari jenjang pendidikan sumber daya manusia yang ada di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa umumnya tingkat perguruan tinggi, sehingga memiliki potensi dalam pengelolaan pengadaan barang/jasa di kabupaten Bogor dapat dilaksanakan menjadi lebih baik.

Khusus Tenaga Panitia Pengadaan Barang/Jasa sampai dengan tahun 2013 baru berjumlah 18 orang. Upaya penambahan tenaga terus dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Bpgor, sementara dari segi kualitas upaya yang dilakukan adalah peningkatan jumlah bimbingan teknis yang berkelanjutan.

II-10 2. Kondisi Umum Anggaran

Anggaran Belanja Daerah Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor tahun 2013-2014 telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bogor, dan dituangkan lebih lanjut dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). Besarnya anggaran belanja yang telah ditetapkan setiap tahunnya pada tahun 2013 sebesar Rp 8.506.194.000,- dan pada tahun 2014 menjadi Rp 7.834.759.000,- atau turun 7,89% . Demikian pula bila

dilihat dari realisasi belanja, pada tahun 2013 sebesar Rp 7.150.802.384,- atau 84,07 % realisasi tersebut berkurang

karena adanya efisiensi anggaran dan adanya regulasi dari Pemerintah dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 70 tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yaitu kenaikan batas nilai pengadaan langsung Barang / Pekerjaan Konstruksi / Jasa Lainnya yang semula sampai dengan Rp 100 juta menjadi sampai dengan Rp 200 juta sehingga kegiatan fasilitasi pengadaan barang/jasa di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor jika di bandingkan dengan tahun 2012 jauh lebih berkurang .

Perkembangan anggaran dan realisasi belanja daerah menurut kelompok belanja dari tahun 2013-2014, sebagai bagai berikut :

Tabel 2.3 Anggaran dan Realisasi Tahun 2013-2014

TAHUN ANGGARAN

(Rp) REALISASI (Rp)

2013 8.506.194.000 7.150.802.384

2014 7.834.759.000

3. Kondisi Umum Sarana Kerja

Tanah, bangunan, sarana dan Prasarana kerja yang dimiliki oleh Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor tergolong cukup memadai ini bisa terlihat dalam tabel berikut :

II-11 Tabel 2.4 Tanah, Bangunan, Sarana dan Prasarana di Kantor

II-12 Melihat Tabel 2.4 diatas kebanyakan Sarana dan Prasarana di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa pada Tahun 2013 dalam kondisi baik dan masih layak pakai yang sangat menunjang dalam melakukan pelayanan pengadaan barang/jasa dilingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor.

2.3. KINERJA PELAYANAN KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA

Indikator Kinerja pelayanan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya diuraikan pada tabel berikut :

II-13 Tabel 2.1. Pencapaian Kinerja Pelayanan pada Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013

II-14 Berdasarkan Tabel 2.1. Pencapaian Kinerja Pelayanan pada Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013 dapat di lihat bahwa pada tahun 2013 mengalami penurunan jumlah paket pengadaan hal tersebut karena adanya kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan karena waktu pelaksanaan yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan oleh SKPD serta adanya regulasi dari Pemerintah dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 70 tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yaitu kenaikan batas nilai pengadaan langsung Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang semula sampai dengan Rp. 100 juta menjadi sampai dengan Rp. 200 juta sehingga kegiatan fasilitasi pengadaan barang/jasa di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor jika di bandingkan dengan tahun 2012 jauh lebih berkurang.

Adapun Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa kabupaten Bogor dari Tahun 2013 dapat diuraikan pada table berikut ini :

II-15 Tabel 2.2 Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan kantor Layanan Pengadaan barang/jasa

Kabupaten Bogor sampai dengan Tahun 2013

1

2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 ANGGARAN REALISASI

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

BELANJA

1 BELANJA TIDAK LANGSUNG 1.498.896.000 1.292.530.686,00 0 0 0 0 1,16 1,16

1 BELANJA PEGAWAI 0 0 0 0 1.498.896.000 0 0 0 0 1.292.530.686,00 0 0 0 0 1,16 1,16

2 BELANJA LANGSUNG 8.506.194.000 7.150.802.384 1,19 1,19

1 BELANJA PEGAWAI 0 0 0 0 4.534.500.000 0 0 0 0 3.755.013.500 0 0 0 0 1,21 1,21

2 BELANJA BARANG DAN JASA 0 0 0 0 2.495.966.000 0 0 0 0 1.990.762.184 0 0 0 0 1,25 1,25

3 BELANJA MODAL 0 0 0 0 1.475.728.000 0 0 0 0 1.405.026.700 0 0 0 0 1,05 1,05

RATA-RATA PERTUMBUHAN

1

KE-II-16 Berdasarkan table 2.2. diatas Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan kantor Layanan Pengadaan barang/jasa Kabupaten Bogor tahun anggaran 2013 menunjukkan bahwa program/kegiatan telah dilaksanakan secara efisien, hal ini ditandai dengan adanya penghematan anggaran yang digunakan dan pencapaian output sesuai dengan rencananya atau bahkan melebihi targetnya.

Sasaran pertama, dari anggaran yang tersedia sebesar Rp 4.195.750.000,- terealisasi Rp 3.447.680.000,- dan rata-rata capaian sasaran sekitar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya program/kegiatan telah dilaksanakan secara efisien dengan nilai efisiensi sebesar Rp 748.070.000,- atau sekitar 17,83%.

Sasaran kedua, dari anggaran yang tersedia sebesar Rp 4.106.991.000,- terealisasi Rp 3.552.322.184,- dan rata-rata

capaian sasaran sekitar 73,25%. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya program/kegiatan telah dilaksanakan secara efisien dengan nilai efisiensi sebesar Rp 138.667.204,- atau sekitar 20,58%.

Sasaran ketiga, dari anggaran yang tersedia sebesar Rp 203.453.000,- terealisasi Rp 182.109.800,- dan rata-rata capaian

sasaran sekitar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya program/kegiatan telah dilaksanakan secara efisien dengan nilai efisiensi sebesar Rp 21.343.200,- atau sekitar 10,49%.

Hasil analisis efisiensi pelaksanaan program/kegiatan Kantor Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Kabupaten Bogor tahun anggaran 2013, bahwa realisasi Belanja sekitar 84,39 % tersebut disebabkan oleh:

1. Adanya efisiensi dalam belanja pegawai:

2. Terdapat efisiensi anggaran kegiatan dan efisiensi pada belanja barang dan jasa akibat hasil negosiasi dan harga penawaran terhadap pagu anggaran yang tersedia, serta kesesuaian dengan rekening yang harus dibayarkan.

3. Adanya regulasi dari Pemerintah dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 70 tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yaitu kenaikan batas nilai pengadaan langsung Barang / Pekerjaan Konstruksi / Jasa Lainnya yang

II-17 semula sampai dengan Rp 100 juta menjadi sampai dengan Rp 200 juta sehingga kegiatan fasilitasi pengadaan barang/jasa di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor jika di bandingkan dengan tahun 2012 jauh lebih berkurang

2.4. TANTANGAN DAN PELUANG PENGEMBANGAN PELAYANAN PADA KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA

Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam memfasilitasi pengadaan barang/jasa pemerintah di Kabupaten Bogor tentunya tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi baik internal maupun eksternal, akan tetapi permasalahan-permasalahan yang dihadapi tersebut harus dipandang sebagai suatu tantangan dan peluang dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan pelayanan pada Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor. Tantangan yang paling nyata dihadapi kedepan terkait dengan

proses pengadaan barang/jasa adalah bahwa dinamika

pembangunan daerah yang bergerak cepat yang diakibatkan oleh adanya perkembangan global diberbagai sektor kehidupan masyarakat yang tidak dapat dihindari, seiring dengan perkembangan global tersebut, telah diantisipasi dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah terutama dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan pemerintah provinsi, hal ini tentu berimplikasi pula terhadap kebijakan yang harus dikeluarkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Bogor agar adanya sinergi dan kesesuaian dalam menjalankan berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan.

Berdasarkan analisis terhadap permasalahan internal maupun eksternal, dalam hal ini dengan menggunakan metode SWOT Analisis. Dalam analisis SWOT Lingkungan internal meliputi

Strength (Kekuatan) dan Weaknesses (Kelemahan ). Sedangkan

Lingkungan eksternal meliputi Oppurtunity (Peluang) dan Threaths (Ancaman). Adapun kondisi lingkungan internal tersaji dalam tabel dibawah ini sedangkan Analisa SWOT akan disajikan pada BAB selanjutnya.

II-18 Tabel 2.7 Permasalahan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa

Kabupaten Bogor hingga tahun 2013

Melihat tabel 2.6 diatas tentu Kantor Layanan Pengadaan Barang Jasa memiliki permasalahan diantaranya :

1). Dengan belum adanya Standar Operasional Prosedur, maka penyelenggaraan administrasi pemerintahan belum dapat berjalan dengan pasti. Sangat dimungkinkan adanya penyimpangan yang tidak dapat dihindari. Sehingga sangat perlu adanya SOP karena dengan adanya SOP maka jika ada masalah dapat ditemukan penyebabnya dan bisa diselesaikan dengan cara yang tepat. Apabila semua kegiatan sudah sesuai dengan yang ditetapkan dalam Standar Operasional Prosedur, maka secara bertahap kualitas pelayanan publik akan lebih profesional, cepat dan mudah

2). Terhambatnya pelaksanaan pelelangan.

3). Terhambatnya pengelolaan operasional kantor baik

III-1

BAB III

Dalam dokumen KABUPATEN BOGOR TAHUN (Halaman 24-35)

Dokumen terkait