• Tidak ada hasil yang ditemukan

KABUPATEN BOGOR TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KABUPATEN BOGOR TAHUN"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA STRATEGIS

PEMERINTAH KABUPATEN BOGOR

TAHUN 2014

KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA

KABUPATEN BOGOR

TAHUN 2013-2018

P E M E R I N T A H K A B U P A T E N B O G O R

KANTOR LAYANAN PENGADAAN

BARANG/JASA

Jl. Nyaman Keluarahan Tengah Telp 021-8753355 Fax 021 8753355i Kecamatan Cibinong

(2)

Renstra Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018

- i - KATA PENGANTAR

Atas Berkat dan Rahmat Allah SWT, Rencana Strategis Kantor Layanan Pengadaan Barang /Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 telah selesai disusun dan ditetapkan.

Penyusunan Rencana Strategis secara teknis berpedoman pada Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; dan juga berpedoman pada Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ tertanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah.

Rencana Strategis Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa merupakan penjabaran dari RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 dalam pencapaian Visi Pemerintah Kabupaten Bogor yaitu : “Kabupaten Bogor menjadi Kabupaten Termaju di Indonesia”.

Rencana Strategis ini merupakan gambaran seluruh pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor yang memuat, Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Kebijakan dan Program dan Kegiatan sampai tahun 2018 sehingga dalam melakukan proses pelelangan pengadaan Barang/Jasa sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku dan dalam mengambil setiap keputusan selalu berpegang pada prinsip-prinsip dasar dan etika Pengadaan Barang/Jasa yang telah ditentukan.

(3)

Renstra Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018

- ii -

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan petunjuk dan kekuatan bagi kita

sehingga Rencana Strategis ini dapat terlaksana sesuai target serta

berkontribusi terhadap upaya percepatan pencapaian Visi

Kabupaten Bogor dalam upaya kita bersama khususnya untuk

mempercepat proses pembangunan menjadi kabupaten termaju di Indonesia dan umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bogor

Cibinong, Oktober 2014

KEPALA KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA KABUPATEN BOGOR

HENDRIK SUHERMAN, ST,M.Si Pembina

(4)

Renstra Kantor Layanan Pengadaan Barang Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 - iii -

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi iii

Daftar Tabel v

Daftar Gambar vi

BAB I : PENDAHULUAN I-1

1.1 Latar Belakang I-1

1.2 Landasan Hukum I-3

1.3 Maksud dan Tujuan I-7

1.4 Sistematika Penulisan I-7

BAB II : GAMBARAN PELAYANAN KANTOR LAYANAN

PENGADAAN BARANG/JASA II-1

2.1 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi

Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa II-1

2.2 Sumber Daya pada Kantor Layanan

Pengadaan Barang/Jasa II-8

2.3 Kinerja Pelayanan Kantor Layanan

Pengadaan Barang/Jasa II-12

2.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan

Pelayanan pada Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa

II-17

BAB III : ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS

DAN FUNGSI III-1

3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan

Tugas dan Fungsi III-1

3.2 Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala

Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih III-2

3.3 Telaahan Renstra K/L dan Renstra Provinsi III-5

3.4 Telaahan Rencana Tata Ruang dan Kajian

(5)

Renstra Kantor Layanan Pengadaan Barang Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018

- iv -

3.5 Penentuan Isu-Isu Strategis III-9

BAB IV : VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN

KEBIJAKAN IV-1

4.1 Visi dan Misi Kantor Layanan Pengadaan

Barang/Jasa IV-1

4.2 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah IV-4

4.3 Strategi dan Kebijakan IV-8

BAB V : RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN,

INDIKATOR KIERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF

V-1

BAB VI : INDIKATOR KINERJA KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

VI-1

(6)

Renstra Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018

- v - DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 2.1 Tugas Pokok Dan Fungsi Kantor Layanan

Pengadaan Barang/Jasa II-2

Tabel 2.2 Kondisi Sumber daya Aparatur Kantor Layanan

Pengadaan Barang/Jasa Sampai dengan Tahun

2013 II-8

Tabel 2.3 Anggaran dan Realisasi Tahun 2013-2014 II-10

Tabel 2.4 Tanah, Bangunan, Sarana dan Prasarana di

Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa pada

Tahun 2013 II-11

Tabel 2.5 Pencapaian Kinerja Pelayanan pada Kantor

Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten

Bogor Tahun 2013 II-13

Tabel 2.6 Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan

kantor Layanan Pengadaan barang/jasa

Kabupaten Bogor sampai dengan Tahun 2013

II-15

Tabel 2.7 Permasalahan Kantor Layanan Pengadaan

Barang/Jasa Kabupaten Bogor hingga tahun 2013

II-18

Tabel 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan

Fungsi Pelayanan SKPD III-1

Tabel 3.2 Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala daerah

dan wakil kepala daerah Terpilih III-4

Tabel 4.1 Sinergi Visi dan Misi Kantor Layanan Pengadaan

Barang/Jasa terhadap Visi dan Misi Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 2013-2018

IV-3

Tabel 4.2 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan

Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa

IV-7

Tabel 5.1 Rencana Program, Kegiatan, Indikator Kinerja,

Kelompok Sasaran, Dan Pendanaan Indikatif Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor

V-3

Tabel 6.1 Indikator Kinerja Kantor Layanan Pengadaan

Barang/Jasa

Kabupaten Bogor yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD

IV-1

(7)

Renstra Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018

- vi -

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Bagan Alir Penyusunan Renstra SKPD

Kabupaten/Kota II-2

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Kantor Layanan Pengadaan

(8)

I-1

LAMPIRAN KEPUTUSAN BUPATI BOGOR

NOMOR : TANGGAL :

RENCANA STRATEGIS KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/ JASA KABUPATEN BOGOR TAHUN 2013-2018

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) merupakan unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang dalam upaya mencapai keberhasilannya perlu didukung dengan perencanaan yang baik sesuai dengan visi dan misi organisasi. Pendekatan yang dilakukan adalah melalui perencanaan strategis yang merupakan serangkaian rencana tindakan dan kegiatan mendasar yang dibuat untuk diimplementasikan oleh organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 mengamanatkan bahwa setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) diwajibkan menyusun rencana strategis yang selanjutnya disebut Renstra SKPD. Renstra SKPD memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya, berpedoman pada RPJMD dan bersifat indikatif. Sementara itu, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 menyebutkan bahwa Renstra SKPD merupakan dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun.

Di dalam ketentuan lainnya yaitu Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dinyatakan bahwa perencanaan strategis merupakan langkah awal yang harus dilakukan agar mampu menjawab tuntutan lingkungan strategis lokal, nasional dan global, dan tetap berada dalam tatanan Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dokumen Rencana Strategis dimaksud setidaknya memuat visi, misi,

(9)

I-2 tujuan, sasaran dan strategi (cara mencapai tujuan dan sasaran), serta memuat kebijakan, program dan kegiatan.

Terkait dengan penyusunan Renstra SKPD, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 telah mengatur bahwa RPJMD yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah harus menjadi pedoman dalam penyusunan Renstra SKPD. Visi, misi, tujuan, strategi dan kebijakan yang tertuang di dalam Renstra SKPD dirumuskan dalam rangka mewujudkan pencapaian sasaran program yang ditetapkan dalam RPJMD.

Bagan 1.1

Bagan Alir Penyusunan Renstra SKPD Kabupaten/Kota

Pemerintah Kabupaten Bogor telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2013-2018 yang dituangkan dalam Peraturan Daerah Nomor 05 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018. RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 (lima) tahunan sebagai penjabaran dari visi, misi dan program Kepala Daerah.

Berdasarkan uraian di atas, maka Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor sebagai salah satu SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor menyusun dan menetapkan Renstra Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Tahun

PENYUSUNAN RPJMD Persiapan Penyusunan Renstra-SKPD Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tusi Perumusan Strategi dan kebijakan Perumusan rencana kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif berdasarkan rencana program prioritas RPJMD Pengolahan data dan informasi Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Tujuan Perumusan sasaran Rancangan Renstra-SKPD · Pendahuluan · Gambaran pelayanan SKPD

· isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi

· visi, misi, tujuan dan sasaran, strategi dan kebijakan

· rencana program, kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif

· indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD. Perumusan

indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran

RPJMD SPM Renstra-KL dan Renstra Kabupaten/ Kota SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD dilampiri dengan indikator keluaran program dan PAGU

per SKPD Penelaahan RTRW Verifikasi Rancangan Renstra SKPD dgn Rancangan Awal RPJMD Rancangan Renstra-SKPD

Nota Dinas Pengantar Kepala SKPD perihal penyampaian Rancangan Renstra-SKPD kepada Bappeda sesuai Tidak sesuai Penyusunan Rancangan RPJMD Pelaksanaan Musrenbang RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD Penyempurnaan Rancangan Renstra-SKPD Penetapan Renstra-SKPD RENSTRA-SKPD Penyesuaian Rancangan Renstra-SKPD berdasarkan hasil verifikasi

PENYUSUNAN RANCANGAN RENSTRA SKPD PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR PENETAPAN

Verifikasi Rancangan Akhir Renstra SKPD Rancangan Akhir Renstra SKPD sesuai Tidak sesuai PERDA ttg RPJMD Penelaahan KLHS Renstra-KL dan Renstra Kabupaten/ Kota Renstra-KL dan Renstra SKPD Prov

(10)

I-3 2013-2018 dengan berpedoman pada RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018. Selanjutnya Renstra Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor yang telah ditetapkan harus menjadi pedoman dalam penyusunan Renja Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor yang merupakan dokumen perencanaan tahunan dan penjabaran dari perencanaan periode 5 (lima) tahunan.

1.2. Landasan Hukum

Landasan hukum penyusunan Renstra Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Kabupaten Bogor tahun 2013-2018 adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan

Daerah-daerah Lingkungan Provinsi Djawa Barat (Berita Negara Republik Indonesia tahun 1950 Nomor 8) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1968 tentang Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang dengan mengubah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Provinsi Djawa Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1968 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2851);

2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan

Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3815);

3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

(11)

I-4 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana

Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah (Lembaran Negara Reublik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian

Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;

11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian

Urusan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2007 Nomor 88, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman

Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;

13. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata

Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 13

(12)

I-5 sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

15. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 24 tahun 2010

tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025;

16. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi

Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741):

17.Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman

Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah

18. Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata

Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4817);

19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 13

tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Tahun 2011 Nomor 310);

20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 54

Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Tahun 2010 Nomor 517);

21. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008

tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008 Nomor 8 Seri E) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 25 Tahun

(13)

I-6 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2010 Nomor 25 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 88);

22. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2009

tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2009 Nomor 6 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 64);

23. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 25 Tahun 2013

tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 Nomor 25 Seri E);

24. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 7 Tahun 2008 tentang

Urusan Pemerintahan yang menjadi Kewenangan Pemerintah Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Tahun 200 Nomor 7);

25. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 9 Tahun 2008 tentang

Susunan dan Kedudukan Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2008 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Nomor 37);

26. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 12 Tahun 2008 tentang

Pembentukan Lembaga Teknis Daerah (Lembaran Daerah Nomor 12 Tahun 2008);

27. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 19 Tahun 2008 tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 36);

28. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 27 Tahun 2008 tentang

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Bogor Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2008 Nomor 27);

29. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 8 Tahun 2009 tentang

Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2009 Nomor 8, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 37);

(14)

I-7

30. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 05 Tahun 2014 tentang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018.

1.3. Maksud dan Tujuan

Maksud Penyusunan Renstra Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 dimaksudkan sebagai dokumen perencanaan jangka menengah yang menjabarkan RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang diamanatkan kepada Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pembentukan Lembaga Teknis Daerah dan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 13 tahun 2012 tentang Pembentukan Organisasi Dan Tata Kerja Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa.

Tujuan penyusunan Renstra Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 adalah :

1. Untuk menetapkan arah pengembangan, pemetaan, tahapan dan strategi perjalanan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor yang diperlukan untuk mencapai tujuan sesuai dengan arah kebijakan, strategi, dan program pembangunan dalam setiap perencanaan pembangunan Pemerintah Kabupaten Bogor; 2. Untuk menetapkan skala prioritas program/kegiatan yang menjadi

tugas dan fungsi Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor sehingga dapat meningkatkan nilai efisiensi, efektivitas dan pelaksanaan program/kegiatan;

3. Sebagai langkah awal untuk melakukan pengukuran kinerja Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor.

1.4. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan Renstra Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 13 tahun 2012 tentang Pembentukan Organisasi Dan Tata Kerja Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 adalah sebagai berikut :

(15)

I-8

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini menjelaskan mengenai latar belakang, landasan

hukum, maksud dan tujuan dan sitematika penulisan.

BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD

Pada bab ini menjelaskan mengenai Struktur Organisasi, Tugas Pokok dan Fungsi, Sumber Daya Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor, Kinerja Pelayanan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor dan Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor.

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

Pada bab ini menjelaskan mengenai Identifikasi permasalahan berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi Pelayanan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor, Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih, Telaahan Renstra K/L, Telaahan RTRW dan Penentuan Isu-isu Strategis.

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, DAN KEBIJAKAN

Pada bab ini menjelaskan mengenai pernyataan Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah serta Strategi dan

Kebijakan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa

Kabupaten Bogor Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Kabupaten Bogor tahun 2013-2018.

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF

Pada bab ini menjelaskan mengenai program dan kegiatan lokalitas SKPD, program lintas SKPD dan program kewilayahan disertai indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif yang ada di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor untuk periode tahun 2013-2018.

(16)

I-9

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

Pada bagian ini dikemukakan indikator kinerja SKPD yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai SKPD dalam lima tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD.

BAB VII PENUTUP

Pada bagian ini dikemukakan catatan penting yang perlu mendapat perhatian, baik dalam rangka pelaksanaannya maupun seandainya ketersediaan anggaran tidak sesuai dengan kebutuhan, kaidah-kaidah pelaksanaan, dan rencana tindak lanjut.

(17)

II-1

BAB II

GAMBARAN PELAYANAN

KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA

2.1. TUGAS, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA KABUPATEN BOGOR

Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam melaksanakan urusan pemerintahan dalam melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah dibidang pelayanan dan pembinaan pengadaan barang/jasa.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 13 Tahun 2012, dibentuklah organisasi dan tata kerja Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten mempunyai fungsi :

a. Perumusan kebijakan teknis di bidang pelayanan dan

pembinaan pengadaan barang/jasa;

b. Pengkoordinasian penyusunan rencana umum pengadaan

barang/jasa;

c. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan

daerah di bidang pelayanan dan pembinaan pengadaan barang/jasa;

d. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pelayanan dan

pembinaan pengadaan barang/jasa; dan

e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya

Pembentukan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa

merupakan perangkat daerah sebagai unsur pelaksana

penyelenggaraan pemerintahan daerah, dipimpin oleh Kepala Kantor yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati. Adapun susunan organisasi Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa terdiri dari :

1. Kepala Kantor

2. Kepala Sub bagian Tata Usaha, yang membawahi :

a. Seksi Pengadaan Barang

(18)

II-2

c. Seksi pengadaan Jasa konsultasi dan Jasa Lainnya

3. Kelompok Jabatan Fungsional.

Adapun tugas pokok dan fungsi dari masing-masing adalah sebagai berikut Berdasarkan Peraturan Bupati Bogor Nomor 53 Tahun 2013 tentang Uraian Tugas jabatan Struktural pada kantor

Layanan Pengadaan Barang/Jasa dapat diuraikan sebagai berikut :

TABEL 2.1 Tugas Pokok Dan Fungsi Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Berdasarkan Peraturan Bupati Bogor Nomor 53

Tahun 2013 Tentang Uraian Tugas Jabatan Struktural Pada Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa

(19)
(20)
(21)
(22)
(23)

II-7 Secara lengkap struktur organisasi Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor, disajikan dalam Bagan Struktur Organisasi (Gambar 2.1)

(24)

II-8 Gambar 2.1 Struktur Organisasi Kantor Layanan Pengadaan

Barang/Jasa Kabupaten Bogor

SUB BAGIAN TATA USAHA SEKSI PENGADAAN PEKERJAAAN KONSTRUKSI SEKSI PENGADAAN BARANG SEKSI PENGADAAN JASA KONSULTASI DAN JASA LAINNYA

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

2.2. SUMBER DAYA PADA KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA

1. Kondisi Umum Pegawai

Jumlah pegawai keseluruhan yang ada di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor sebanyak 51 orang yang terdiri dari PNS, dan Non PNS. Untuk selengkapnya dapat dilihat tabel berikut :

Tabel 2.2 Kondisi Sumber daya Aparatur Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Sampai dengan Tahun 2013

KEPALA KANTOR

(25)

II-9

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pembentukan Kantor Layanan pengadan Barang/Jasa Kabupaten Bogor, maka pengisian formasi jabatan struktural di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa terdiri dari eselon III dan IV yaitu sebanyak 5 orang. Sedangkan jabatan fungsional tidak ada.

Berdasarkan Tabel 2.2. diatas menunjukkan bahwa pegawai Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa masih ada pegawai non negeri yaitu tenaga Teknis Pembantuan Administrasi Pengadaan barang/Jasa, Petugas Keamanan, serta Petugas Kebersihan. Sehingga penulisan tentang kondisi pegawai di bawah ini difokuskan hanya pada PNS 28 orang.

Dari 28 jumlah Pegawai yang ada di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa terdapat 35,71% pegawai yang berstatus golongan II, 60,71% pegawai yang berstatus golongan III, sedangkan golongan IV sebanyak 3,57%. Jika dilihat dari tingkat Pendidikan pegawai Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa yang ada, maka status pendidikan dengan Strata -1 lebih mendominasi yaitu sebesar 39,29 %, dan SLTA/SMK sebesar 32,14%, sedangkan yang paling rendah yaitu tingkat Sarjana Muda / D3 sebesar 14,29 %. Dilihat dari jenjang pendidikan sumber daya manusia yang ada di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa umumnya tingkat perguruan tinggi, sehingga memiliki potensi dalam pengelolaan pengadaan barang/jasa di kabupaten Bogor dapat dilaksanakan menjadi lebih baik.

Khusus Tenaga Panitia Pengadaan Barang/Jasa sampai dengan tahun 2013 baru berjumlah 18 orang. Upaya penambahan tenaga terus dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Bpgor, sementara dari segi kualitas upaya yang dilakukan adalah peningkatan jumlah bimbingan teknis yang berkelanjutan.

(26)

II-10

2.Kondisi Umum Anggaran

Anggaran Belanja Daerah Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor tahun 2013-2014 telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bogor, dan dituangkan lebih lanjut dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). Besarnya anggaran belanja yang telah ditetapkan setiap tahunnya pada tahun 2013 sebesar Rp 8.506.194.000,- dan pada tahun 2014 menjadi Rp 7.834.759.000,- atau turun 7,89% . Demikian pula bila

dilihat dari realisasi belanja, pada tahun 2013 sebesar Rp 7.150.802.384,- atau 84,07 % realisasi tersebut berkurang

karena adanya efisiensi anggaran dan adanya regulasi dari Pemerintah dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 70 tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yaitu kenaikan batas nilai pengadaan langsung Barang / Pekerjaan Konstruksi / Jasa Lainnya yang semula sampai dengan Rp 100 juta menjadi sampai dengan Rp 200 juta sehingga kegiatan fasilitasi pengadaan barang/jasa di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor jika di bandingkan dengan tahun 2012 jauh lebih berkurang .

Perkembangan anggaran dan realisasi belanja daerah menurut kelompok belanja dari tahun 2013-2014, sebagai bagai berikut :

Tabel 2.3 Anggaran dan Realisasi Tahun 2013-2014

TAHUN ANGGARAN

(Rp) REALISASI (Rp)

2013 8.506.194.000 7.150.802.384

2014 7.834.759.000

3. Kondisi Umum Sarana Kerja

Tanah, bangunan, sarana dan Prasarana kerja yang dimiliki oleh Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor tergolong cukup memadai ini bisa terlihat dalam tabel berikut :

(27)

II-11 Tabel 2.4 Tanah, Bangunan, Sarana dan Prasarana di Kantor

(28)

II-12 Melihat Tabel 2.4 diatas kebanyakan Sarana dan Prasarana di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa pada Tahun 2013 dalam kondisi baik dan masih layak pakai yang sangat menunjang dalam melakukan pelayanan pengadaan barang/jasa dilingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor.

2.3. KINERJA PELAYANAN KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA

Indikator Kinerja pelayanan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya diuraikan pada tabel berikut :

(29)

II-13 Tabel 2.1. Pencapaian Kinerja Pelayanan pada Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013

(30)

II-14 Berdasarkan Tabel 2.1. Pencapaian Kinerja Pelayanan pada Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor Tahun 2013 dapat di lihat bahwa pada tahun 2013 mengalami penurunan jumlah paket pengadaan hal tersebut karena adanya kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan karena waktu pelaksanaan yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan oleh SKPD serta adanya regulasi dari Pemerintah dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 70 tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yaitu kenaikan batas nilai pengadaan langsung Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang semula sampai dengan Rp. 100 juta menjadi sampai dengan Rp. 200 juta sehingga kegiatan fasilitasi pengadaan barang/jasa di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor jika di bandingkan dengan tahun 2012 jauh lebih berkurang.

Adapun Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa kabupaten Bogor dari Tahun 2013 dapat diuraikan pada table berikut ini :

(31)

II-15 Tabel 2.2 Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan kantor Layanan Pengadaan barang/jasa

Kabupaten Bogor sampai dengan Tahun 2013

1

2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 ANGGARAN REALISASI

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

BELANJA

1 BELANJA TIDAK LANGSUNG 1.498.896.000 1.292.530.686,00 0 0 0 0 1,16 1,16

1 BELANJA PEGAWAI 0 0 0 0 1.498.896.000 0 0 0 0 1.292.530.686,00 0 0 0 0 1,16 1,16

2 BELANJA LANGSUNG 8.506.194.000 7.150.802.384 1,19 1,19

1 BELANJA PEGAWAI 0 0 0 0 4.534.500.000 0 0 0 0 3.755.013.500 0 0 0 0 1,21 1,21

2 BELANJA BARANG DAN JASA 0 0 0 0 2.495.966.000 0 0 0 0 1.990.762.184 0 0 0 0 1,25 1,25

3 BELANJA MODAL 0 0 0 0 1.475.728.000 0 0 0 0 1.405.026.700 0 0 0 0 1,05 1,05

RATA-RATA PERTUMBUHAN

1

(32)

KE-II-16 Berdasarkan table 2.2. diatas Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan kantor Layanan Pengadaan barang/jasa Kabupaten Bogor tahun anggaran 2013 menunjukkan bahwa program/kegiatan telah dilaksanakan secara efisien, hal ini ditandai dengan adanya penghematan anggaran yang digunakan dan

pencapaian output sesuai dengan rencananya atau bahkan melebihi

targetnya.

Sasaran pertama, dari anggaran yang tersedia sebesar Rp 4.195.750.000,- terealisasi Rp 3.447.680.000,- dan rata-rata capaian sasaran sekitar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya program/kegiatan telah dilaksanakan secara efisien dengan nilai efisiensi sebesar Rp 748.070.000,- atau sekitar 17,83%.

Sasaran kedua, dari anggaran yang tersedia sebesar Rp 4.106.991.000,- terealisasi Rp 3.552.322.184,- dan rata-rata

capaian sasaran sekitar 73,25%. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya program/kegiatan telah dilaksanakan secara efisien dengan nilai efisiensi sebesar Rp 138.667.204,- atau sekitar 20,58%.

Sasaran ketiga, dari anggaran yang tersedia sebesar Rp 203.453.000,- terealisasi Rp 182.109.800,- dan rata-rata capaian

sasaran sekitar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya program/kegiatan telah dilaksanakan secara efisien dengan nilai efisiensi sebesar Rp 21.343.200,- atau sekitar 10,49%.

Hasil analisis efisiensi pelaksanaan program/kegiatan Kantor Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Kabupaten Bogor tahun anggaran 2013, bahwa realisasi Belanja sekitar 84,39 % tersebut disebabkan oleh:

1. Adanya efisiensi dalam belanja pegawai:

2. Terdapat efisiensi anggaran kegiatan dan efisiensi pada belanja barang dan jasa akibat hasil negosiasi dan harga penawaran terhadap pagu anggaran yang tersedia, serta kesesuaian dengan rekening yang harus dibayarkan.

3. Adanya regulasi dari Pemerintah dengan dikeluarkannya

Peraturan Presiden No. 70 tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yaitu kenaikan batas nilai pengadaan langsung Barang / Pekerjaan Konstruksi / Jasa Lainnya yang

(33)

II-17 semula sampai dengan Rp 100 juta menjadi sampai dengan Rp 200 juta sehingga kegiatan fasilitasi pengadaan barang/jasa di Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor jika di bandingkan dengan tahun 2012 jauh lebih berkurang

2.4. TANTANGAN DAN PELUANG PENGEMBANGAN PELAYANAN PADA KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA

Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam memfasilitasi pengadaan barang/jasa pemerintah di Kabupaten Bogor tentunya tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi baik internal maupun eksternal, akan tetapi permasalahan-permasalahan yang dihadapi tersebut harus dipandang sebagai suatu tantangan dan peluang dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan pelayanan pada Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor. Tantangan yang paling nyata dihadapi kedepan terkait dengan

proses pengadaan barang/jasa adalah bahwa dinamika

pembangunan daerah yang bergerak cepat yang diakibatkan oleh adanya perkembangan global diberbagai sektor kehidupan masyarakat yang tidak dapat dihindari, seiring dengan perkembangan global tersebut, telah diantisipasi dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah terutama dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan pemerintah provinsi, hal ini tentu berimplikasi pula terhadap kebijakan yang harus dikeluarkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Bogor agar adanya sinergi dan kesesuaian dalam menjalankan berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan.

Berdasarkan analisis terhadap permasalahan internal maupun eksternal, dalam hal ini dengan menggunakan metode SWOT Analisis. Dalam analisis SWOT Lingkungan internal meliputi

Strength (Kekuatan) dan Weaknesses (Kelemahan ). Sedangkan Lingkungan eksternal meliputi Oppurtunity (Peluang) dan Threaths

(Ancaman). Adapun kondisi lingkungan internal tersaji dalam tabel dibawah ini sedangkan Analisa SWOT akan disajikan pada BAB selanjutnya.

(34)

II-18 Tabel 2.7 Permasalahan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa

Kabupaten Bogor hingga tahun 2013

Melihat tabel 2.6 diatas tentu Kantor Layanan Pengadaan Barang Jasa memiliki permasalahan diantaranya :

1). Dengan belum adanya Standar Operasional Prosedur, maka

penyelenggaraan administrasi pemerintahan belum dapat berjalan dengan pasti. Sangat dimungkinkan adanya penyimpangan yang tidak dapat dihindari. Sehingga sangat perlu adanya SOP karena dengan adanya SOP maka jika ada masalah dapat ditemukan penyebabnya dan bisa diselesaikan dengan cara yang tepat. Apabila semua kegiatan sudah sesuai dengan yang ditetapkan dalam Standar Operasional Prosedur, maka secara bertahap kualitas pelayanan publik akan lebih profesional, cepat dan mudah

2). Terhambatnya pelaksanaan pelelangan.

3). Terhambatnya pengelolaan operasional kantor baik

(35)

III-1

BAB III

ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

3.1. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Kantor Layanan Pengadaan Barang/jasa Kabupaten Bogor tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi sebagaimana tabel 3.1 berikut ini :

Tabel 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD

Melihat tabel diatas Kantor Layanan Pengadaan Barang/jasa

(36)

III-2 Pemerintahan Daerah yang profesional, efisien, efektif dan akuntabel akan sulit meningkat apabila Kantor Layanan Pengadaan Barang/jasa Kabupaten Bogor tidak mampu mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan yang menjadi kendala dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan pelayanan tugas pokok Kantor Layanan Pengadaan Barang/jasa Kabupaten Bogor selama dengan tahun 2013 dan diidentifikasi beberapa permasalahan pelayanan Kantor Layanan Pengadaan Barang/jasa Kabupaten Bogor sebagaimana tabel 3.1 diatas maka faktor utama karena masih terbatasnya jumlah dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Jumlah pegawai (PNS) Kantor Layanan Pengadaan Barang/jasa sampai dengan tahun 2013 baru 28 orang dengan Jumlah Panitia Pemilihan Pengadaan Barang/Jasa baru 18 orang. Disamping itu Sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan kegiatan belum sepenuhnya terpenuhi. Sebagai contoh, meubelair belum memadai, dan gudang penyimpanan ATK dan Barang Milik Negara masih terbatas.

Belum adanya Standar Operasional Prosedur, maka penyelenggaraan administrasi pemerintahan belum dapat berjalan dengan pasti. Sangat dimungkinkan adanya penyimpangan yang tidak dapat dihindari. Sehingga sangat perlu adanya SOP karena dengan adanya SOP maka jika ada masalah dapat ditemukan penyebabnya dan bisa diselesaikan dengan cara yang tepat. Apabila semua kegiatan sudah sesuai dengan yang ditetapkan dalam Standar Operasional Prosedur, maka secara bertahap kualitas pelayanan publik akan lebih profesional, cepat dan mudah sesuai yang diharapkan.

3.2. TELAAHAN VISI, MISI DAN PROGRAM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH TERPILIH

Menurut Wibisono (2006) visi merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita dan impian sebuah organisasi yang ingin di capai dimasa depan atau dapat dikatakan bahwa visi

(37)

III-3 merupakan pernyataan want to be dari organisasi. Visi juga merupakan hal yang sangat krusial bagi organisasi untuk menjamin kelestarian dan kesuksesan jangka panjang. Menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan.

Dengan mempertimbangkan arah dan tahapan pembangunan jangka panjang daerah, hasil-hasil yang sudah dicapai pada tahap sebelumnya dan permasalahan yang dihadapi serta isu-isu

strategis yang berkembang maka pernyataan Visi Pemerintah

Kabupaten Bogor Tahun 20013-2018 adalah “Kabupaten Bogor

menjadi Kabupaten Termaju di Indonesia”.

Adapun misi Kabupaten Bogor adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan kesalehan sosial dan kesejahteraan masyarakat

2. Meningkatkan daya saing ekonomi masyarakat dan

pengembangan usaha berbasis sumber daya alam dan pariwisata

3. Meningkatkan integritas, koneksitas, dan kualitas infrastruktur

wilayah dan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan

4. Meningkatkan aksesibiltas dan kualitas penyelenggaraan

pendidikan dan pelayanan kesehatan

5. Meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan

kerjasama antar daerah dalam kerangka tata kelola pemerintahan yang baik

Untuk mendukung pencapaian visi dan misi tersebut, Kantor Layanan Pengadaan Barang/jasa memiliki keterkaitan dengan misi ke 5 yaitu meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan kerjasama antar daerah dalam kerangka tata kelola pemerintahan yang baik sebagaimana tabel 3.2 berikut ini :

(38)

III-4 Tabel 3.2 Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala daerah dan wakil

kepala daerah Terpilih

Dari Misi Kelima tersebut pencapaian sasaran yang hendak didukung oleh Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor adalah :

1. Merumuskan Kebijakan teknis di bidang pelayanan Pengadaan

Barang/Jasa dengan membuat SOP Pelayanan pengadaan Barang/Jasa.

2. Meningkatkan koordinasi dengan OPD lainnya dalam Perencaan

Umum Pengadaan Barang/ Jasa melalui LPSE.

3. Meningkatkan Kompetensi Sumber daya aparatur khususnya

panitia Pemilihan Pengadaan barang/jasa dalam upaya meningkatkan kualitas hasil pemilihan barang/jasa.

Berdasarkan telaahan terhadap Visi dan Misi tersebut disamping factor-faktor penghambat yang diuraikan sebelumnya tentu ada beberapa faktor yang mendorong pencapaian visi misi dan program Pemerintah kabupaten Bogor diantaranya :

1. Adanya Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pembentukan Organisasi Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor;

(39)

III-5 2. Komitmen dari seluruh stakeholders untuk menegakkan supremasi hukum, otonomi daerah, dan transparansi pengadaan barang jasa pemerintah;

3. Tersedianya anggaran Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa 4. Pakta integritas aparatur Panitia Pemilihan Barang/Jasa,

melalui kesepakatan ini akan memperkuat kesadaran akan prinsip moral, etika dan kejujuran setiap pegawai Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa, yang akhirnya memperkuat citra Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa sebagai lembaga yang bersih, kompeten, dan profesional dalam melaksanakan tugas pembinaan dan pemilihan penyedia barang/jasa pemerintah;

5. Koordinasi yang aktif dengan OPD di lingkungan Kabupaten Bogor dan LKPP

3.3. TELAAHAN RENSTRA K/L DAN RENSTRA PROVINSI

Dalam Renstra Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa (LKPP), LKPP mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan perumusan kebijakan pengadaan barang/jasa pemerintah. Seiring reformasi yang bergulir di Indonesia, muncul harapan agar pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN/APBD) dapat dilaksanakan secara lebih efektif dan efisien, mengutamakan penerapan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat, transparan, terbuka, dan berlaku adil bagi semua pihak. Selain lingkup dan cakupan pengadaan barang/jasa pemerintah yang luas, bersifat lintas institusi dan lintas sektor, juga berdampak langsung bagi pengembangan usaha kecil, peningkatan produksi dalam negeri, dan pengembangan iklim dan dunia usaha pada umumnya.

Bertolak dari latar belakang maka Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) memiliki kewenangan merumuskan perencanaan dan pengembangan strategi, penentuan kebijakan serta aturan perundangan pengadaan barang/jasa pemerintah yang

(40)

III-6 sesuai dengan tuntutan dan perkembangan lingkungan internal maupun eksternal secara berkelanjutan, terpadu, terarah, dan terkoordinasi. Oleh karena itu LKPP memiliki fungsi :

1. Penyusunan dan perumusan strategi serta penentuan kebijakan

dan standar prosedur di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah termasuk pengadaan badan usaha dalam rangka kerja sama pemerintah dengan badan usaha;

2. Penyusunan dan perumusan strategi serta penentuan kebijakan

pembinaan sumber daya manusia di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah;

3. Pemantauan dan evaluasi pelaksanannya;

4. Pembinaan dan pengembangan sistem informasi serta

pengawasan penyelenggaraan pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik (electronic procurement);

5. Pemberian bimbingan teknis, advokasi dan bantuan hukum;

6. Penyelenggaraan pelayanan administrasi umum di bidang

perencanaan umum, penatausahaan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan serta rumah tangga.

Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004, terdapat 5 (lima) tujuan pelaksanaan sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yaitu:

1. untuk mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan;

2. menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi dan sinergi antar daerah, antar ruang, antar waktu, dan antar fungsi pemerintah, serta antara pusat dan daerah;

3. menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan,

penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan;

4. mengoptimalkan partisipasi masyarakat; dan

5. menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan.

Arah kebijakan pembangunan daerah ditujukan untuk pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat, revitalisasi pertanian dan kelautan, perluasan kesempatan lapangan kerja, peningkatan aksesibilitas dan kualitas

(41)

III-7 pelayanan kesehatan dan pendidikan, pembangunan infrastruktur strategis, perdagangan, jasa dan industri pengolahan yang berdaya saing, rehabilitasi dan konservasi lingkungan serta penataan struktur pemerintah daerah yang menyiapkan kemandirian masyarakat.

Sejalan dengan kebijakan nasional dan provinsi, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah (RPJMD Pemerintah Kabupaten Bogor 2013-2018, prioritas pembangunan Kabupaten Bogor diarahkan pada :

1. Peningkatan kualitas pelayanan serta kualitas kehidupan social

masyarakat

2. Peningkatan daya saing perekonomian daerah dan

pengembangan pariwisata

3. Peningkatan investasi dan penciptaan peluang kerja

4. Peningkatan integrasi,koneksitas, kualitas, dan kualitas

infrastruktur yang berwawasan lingkungan.

5. Peningkatan pengendalian ruang

6. Peningkatan mutu dan aksesibilitas pelayanan pendidikan dan kesehtan

7. Pemantapan kinerja pelayanan pemerintah daerah yang

transparan dan akuntabel

8. Peningkatan ketahan pangan.

3.4. TELAAHAN RENCANA TATA RUANG DAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS

Dalam Peraturan Daerah Nomor 19 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor tahun 2005-2025, disebutkan bahwa tujuan penataan ruang adalah untuk mewujudkan : (a) terselenggaranya pemanfaatan ruang wilayah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sesuai dengan kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang selektif, efektif dan efisien, melalui pemberian Building Coverage Ratio (BCR) yang rendah pada kawasan yang memiliki nilai konservasi; (b) meningkatkan kualitas lingkungan pada kawasan lindung sebagai kawasan konservasi air dan tanah, melalui program rehabilitasi lahan, dengan kegiatan vegetatif dan sipil teknis serta

(42)

III-8 kegiatan pemanfaatan ruang yang tidak dapat mengganggu fungsi kawasan; (c) tercapainya pembangunan infrastruktur yang dapat mendorong perkembangan wilayah dan perekonomian masyarakat khususnya pada daerah-daerah tertinggal dan terisolasi guna menekan migrasi dari desa ke kota dengan pengembangan desa– desa potensial; (d) pembangunan dan pengembangan perkotaan berhirarkis yang dibentuk oleh sistem jaringan antara kegiatan perdesaan dan perkotaan internal daerah dan eksternal Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur (Jabodetabekpunjur); dan (e) terwujudnya rencana tata ruang yang lebih rinci sebagai arahan pengendalian, pengawasan, dan pelaksanaan pembangunan dalam mewujudkan sistem kota-kota.

Selanjutnya dalam RTRW juga telah ditetapkan kebijakan pengembangan struktur ruang; dan kebijakan pengembangan pola ruang. Kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi : (a) peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata dan berhirarki; dan; (b) peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah Daerah. Selanjutnya kebijakan pengembangan pola ruang meliputi : (a) kebijakan pengembangan kawasan lindung, dalam rangka pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup; dan pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup; (b) kebijakan pengembangan kawasan budi daya, dalam rangka perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budi daya; dan pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan; (c) kebijakan pengembangan kawasan strategis, yang meliputi : pengembangan kawasan strategis Puncak sebagai kawasan strategis lingkungan hidup yang berperan sebagai kawasan andalan pariwisata melalui pembatasan pemanfaatan ruang yang lebih selektif dan efisien; pengembangan kawasan strategis industri sebagai kawasan strategis sosial ekonomi melalui penataan dan pemanfaatan ruang serta pembangunan jaringan infrastruktur yang mendorong perkembangan kawasan;

(43)

III-9 pengembangan kawasan strategis pertambangan sebagai kawasan strategis lingkungan hidup yang berperan sebagai kawasan andalan sumber daya alam melalui konservasi bahan galian; dan pengembangan kawasan strategis lintas administrasi kabupaten sebagai kawasan strategis sosial ekonomi melalui sinkronisasi sistem jaringan.

Sistem prasarana wilayah yang telah direncanakan meliputi : (a) sistem prasarana transportasi meliputi sistem transportasi jalan, sistem transportasi perkeretaapian, dan sistem transportasi udara; (b) sistem prasarana telekomunikasi; (c) sistem prasarana sumberdaya energi; (d) sistem prasarana sumberdaya air; (e) sistem prasarana gas; dan (f) sistem prasarana lingkungan.

Rencana Tata Ruang Wilayah ini diharapkan menjadi pedoman

bagi semua pemangku kepentingan dalam pelaksanaan

pembangunan di berbagai sektor/bidang, serta mengakomodasikan pembagian peran dengan kabupaten/kota dan bersifat saling melengkapi serta selaras serta sebagai matra spasial bagi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) serta rencana pembangunan lainnya.

Sebagai respon atas berbagai isu lingkungan hidup, maka Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa perlu melakukan koordinasi dengan OPD terkait pada proses pengadaan barang/Jasa khususnya pengadaan konstruksi dimana setiap penyedia barang/jasa pada paket-paket pekerjaan tertentu wajib memiliki ISO diantanya ISO lingkungan pada persyaratan kualifikasi yaitu Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001 : 2004) yang merupakan sebuah standar internasional yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan untuk membantu organisasi meminimalkan pengaruh negatif kegiatan operasional mereka terhadap lingkungan yang mencakup udara, air, suara, atau tanah.

3.5. PENENTUAN ISU-ISU STRATEGIS

Perumusan isu-isu strategis didasarkan analisis terhadap lingkungan internal dan eksternal yaitu peluang dan ancaman serta memperhatikan kekuatan dan kelemahan pada Kantor Layanan

(44)

III-10 Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor dalam melaksanakan tugas pokok membantu Bupati dalam melaksanakan urusan

pemerintahan daerah di bidang Pengelolaan pengadaan

Barang/Jasa. Isu-isu strategis yang menjadi acuan atau dasar dalam menentukan program dan kegiatan yang diprioritaskan selama lima tahun ke depan. Isu strategi berdasarkan analisa terhadap lingkungan internal dan eksternal adalah sebagai berikut :

a. Peningkatan kapasitas aparatur Kantor Layanan Pengadaan

Barang/Jasa.

b. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi anggaran Negara yang dibelanjakan melalui pengadaan Barang/Jasa.

c. Mencegah penyimpangan dalam proses pengadaan Barang/Jasa.

Berdasarkan analisis lingkungan internal dan eksternal diperoleh strategi umum (indikasi program) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebagai berikut :

Strategi S-O :

1) Menjalin kerjasama yang baik dengan seluruh pengguna

(KLDI).

2) Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada guna

meningkatkan motivasi kerja.

3) Memberikan rasa aman dan kemandirian pada seluruh panitia

Pengadaan Barang/Jasa dalam melaksanakan pekerjaannya.

4) Peningkatan kapasitas aparatur melalui pendidikan dan

pelatihan yang berkesinambungan.

5) Meningkatkan kualitas dan menata sarana / prasarana

pendukung Pengadaan Barang / Jasa secara elektronik.

Strategi W-O :

1) Meningkatkan kerjasama dengan seluruh SKPD dan para

pengguna jasa lainnya.

2) Mengoptimalkan pemanfaatan dana APBD Kabupaten Bogor

(45)

III-11

3) Penerapan regulasi atau peraturan perundangan yang

berkaitan dengan kesehatan secara optimal untuk penyusunan dan pelaksanaan SOP.

4) Meningkatkan komitmen pemerintah daerah dalam

mendukung independensi dan transparansi sistem Pengadaan Barang/Jasa.

5) Meningkatkan komitmen pemerintah dan legislatif dalam

menunjang upaya peningkatan kinerja panitia Pengadaan Barang/Jasa.

6) Meningkatkan komitmen pemerintah daerah dalam upaya

peningkatan kesejahteraan panitia Pengadaan Barang/Jasa.

7) Pemanfaatan lembaga/fasilitas Diklat Pengadaan Barang/Jasa

untuk peningkatan SDM sesuai dengan jumlah, jenis dan kualitas yang memenuhi standar.

8) Optimalisasi penggunaan teknologi sistem pengadaan (LPSE).

Strategi S-T :

1). Sosialisasi peraturan pemerintah mengenai Pengadaan

Barang/Jasa.

2). Meningkatkan kerjasama dan pelayanan yang baik bagi

seluruh pengguna jasa yang terlibat.

3). Meningkatkan kemampuan kelembagaan KLPBJ dalam

menghadapi tantangan globalisasi

4). Meningkatkan pemanfaatan pusat pendidikan dan pelatihan

untuk meningkatkan kapasitas aparatur maupun sanksi;

Strategi W-T :

1). Meningkatkan kerjasama dan mendorong seluruh pihak terkait

(stakeholder) untuk mendukung transparansi LPSE.

2). Memudahkan akses dari berbagai pihak terkait (stakeholder) untuk menggunakan dan mengevaluasi sistem LPSE.

3). Mengutamakan Prinsip Dasar (efisien; efektif; terbuka dan

bersaing; transparan; adil/tidak diskriminatif; dan akuntabel) dan Etika Panitia Lelang dalam Pengadaan Barang/Jasa.

(46)

IV-1

BAB IV

VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

4.1 VISI DAN MISI KANTOR LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA KABUPATEN BOGOR

1.Pernyataan Visi

Menurut Wibisono (2006) visi merupakan rangkaian

kalimat yang menyatakan cita-cita dan impian sebuah organisasi yang ingin di capai dimasa depan atau dapat dikatakan bahwa visi merupakan pernyataan want to be dari organisasi. Visi juga merupakan hal yang sangat krusial bagi organisasi untuk menjamin kelestarian dan kesuksesan jangka panjang. Menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 merupakan tahap ketiga dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Bogor Tahun 2005-2025. Berdasarkan pelaksanaan, pencapaian, dan sebagai keberlanjutan RPJMD tahap kedua, RPJMD tahap ketiga ini ditujukan untuk merealisasikan visi dan misi pembangunan daerah melalui pengembangan dan percepatan pembangunan daerah secara menyeluruh di berbagai bidang/urusan pemerintahan sesuai dengan kewenangan yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Bogor

Dengan mempertimbangkan arah dan tahapan pembangunan jangka panjang daerah, hasil-hasil yang sudah dicapai pada tahap sebelumnya dan permasalahan yang dihadapi serta isu-isu strategis yang berkembang maka

pernyataan Visi Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun

20013-2018 adalah “Kabupaten Bogor menjadi Kabupaten Termaju

di Indonesia”.

Dalam menyikapi perubahan lingkungan strategis yang ada di Kabupaten Bogor, Kantor Layanan Pengadaan

(47)

IV-2 Barang/Jasa menyadari sepenuhnya akan peran di masa yang akan datang sebagai wadah dalam penyelenggaran pengadaan Barang/Jasa secara elektronik yang sesuai dengan Prinsip Dasar dan Etika Pengadaan Barang/Jasa. Dalam rangka mendukung visi Kabupaten Bogor tersebut dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta masukan-masukan dari stakeholders, maka Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor menetapkan visi :

”Mewujudkan Pengadaan Barang/Jasa Yang Kredibel”

Dengan adanya visi tersebut diharapan akan mendukung pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Bogor yang selaras dengan visi dan misi Kabupaten Bogor.

2.Pernyataan Misi

Menurut Prasetyo dan Benedicta (2004), pernyataan misi harus mampu menentukan kebutuhan apa yang akan dipenuhi oleh organisasi, siapa yang memiliki kebutuhan tersebut, dimana mereka berada dan bagaimana pemuasan tersebut dilakukan. Sedangkan menurut Wheelen sebagaimana dikutif oleh Wibisono (2006) Misi merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan tujuan atau alasan eksistensi organisasi yang memuat apa yang diosediakan oleh organisasi kepada masyarakat, baik berupa produk ataupun jasa. Menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), Misi adalah

rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan

dilaksanakan untuk mewujudkan visi.

Dalam rangka pencapaian visi tersebut di atas dengan tetap memperhatikan kondisi dan permasalahan yang ada serta tantangan ke depan, dan memperhitungkan peluang yang dimiliki, maka ditetapkan 5 (lima) misi sebagai berikut:

1. Meningkatkan kesalehan sosial dan kesejahteraan

(48)

IV-3

2. Meningkatkan daya saing perekonomian masyarakat dan

pengembangan usaha berbasis sumberdaya alam dan pariwisata.

3. Meningkatkan integrasi, koneksitas dan kualitas

infrastruktur wilayah dan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

4. Meningkatkan aksesibilitas dan kualitas penyelenggaraan

pendidikan dan pelayanan kesehatan.

5. Meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan

kerjasama antar daerah dalam kerangka tata kelola pemerintahan yang baik.

Visi dan Misi selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 yang disajikan Sinergi Visi dan Misi Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa terhadap Visi dan Misi Pemerintah kabupaten Bogor tahun 2013-2018.

Tabel 4.1 Sinergi Visi dan Misi Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa terhadap Visi dan Misi Pemerintah

(49)

IV-4 Berdasarkan Tabel 4.1 di atas Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa yang memiliki tugas pokok dan fungsi dalam pengadaan barang/jasa maka berdasarkan misi pertama yaitu

Mewujudkan Pengadaan Barang/Jasa yang Kredibel, Akuntabel, dan Transparan

Misi ini mengandung makna terfasilitasinya pelayanan pengadaan barang/jasa di lingkungan pemerintahan kabupaten bogor dengan keterbukaan dan berkualitas serta meningkatkan kompetensi aparatur seiring tuntutan dan perkembangan dinamika masyarakat dan peraturan perundang-undangan, membangun sikap mental, disiplin dan etika pelayanan menuju Proses Pengadaan Barang/Jasa yang kredibel.

Berdasarkan Misi Kedua yaitu Mengembangkan dan Meningkatkan Kemampuan Sumber Daya Manusia Dibidang pengadaan barang/Jasa Pemerintah

Misi ini mengandung makna mendukung kebijakan pemerintah untuk meningkatkan implementasi instrumen manajemen penyelenggaraan peran, tugas dan fungsi aparatur dan lembaga dalam bidang pengadaan barang/jasa pemerintah serta pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan dan penataan sarana prasarana.

4.2 TUJUAN DAN SASARAN JANGKA MENENGAH

Selain misi, organisasi memiliki tujuan yang hendak dicapai dengan jelas dan merupakan hasil akhir yang akan diperoleh organisasi dari semua aktifitasnya nanti. Tujuan Strategis ditetapkan dengan mengacu kepada pernyataan visi dan misi serta didasarkan pada isu-isu dan analisis lingkungan strategis, sehingga dapat mengarahkan perumusan strategi, kebijakan, program, dan kegiatan dalam rangka merealisasikan misi dan visi. Berdasarkan tujuan yang akan ditetapkan, maka Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor akan dapat mengetahui hal-hal yang harus dicapai dalam kurun waktu satu sampai lima tahun ke depan dengan mempertimbangkan sumber daya dan

(50)

IV-5 kemampuan yang dimiliki, serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya.

Sasaran merupakan penjabaran dari tujuan, yaitu sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan oleh lembaga dalam jangka waktu tertentu. Sasaran adalah salah satu dasar di dalam penilaian dan pemantauan kinerja sehingga merupakan alat pemicu bagi organisasi terhadap sesuatu yang harus dicapai. Sejalan dengan hal tersebut sasaran jangka menengah Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor yang telah dirumuskan dalam RPJMD adalah Terselenggaranya pelayanan pengadaan barang dan jasa melalui LPSE.

Perumusan tujuan dan sasaran Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Bogor tahun 2013-2018 selanjutnya dijabarkan sesuai dengan Visi dan Misi yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut :

Misi Pertama : Mewujudkan Pengadaan Barang/Jasa yang Kredibel, Akuntabel, dan Transparan

Tujuan dari misi tersebut adalah :

1. Terlaksananya sistem pengadaan barang/jasa yang efektif,

efisien, terbuka, kompetitif, akuntabel, dan transparan.

2. Adanya percepatan pelaksanaan pengadaan barang/jasa.

3. Terfasilitasinya Organisasi Perangkat daerah dan Instansi

lainnya dalam pelayanan pengadaan barang/jasa.

4. Terwujudnya koordinasi dan sinkronisasi monitoring evaluasi pengadaan barang/jasa.

5. Terlaksananya pengadaan barang/jasa sesuai dengan

peraturan perundang-undangan yang berlaku secara konsisten.

Sasaran

1. Terdukungnya pencapaian visi dan misi Kabupaten Bogor

2. Terpenuhinya tugas Kantor Layanan Pengadaan Barang/jasa,

yaitu membantu Bupati dalam melaksanakan urusan pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

3. Terlaksananya penyempurnaan fungsi dan struktur organisasi

(51)

IV-6

4. Terciptanya penyelenggaraan pemerintahan dan kerjasama

antar daerah dalam kerangka tata kelola pemerintahan yang baik

Misi Kedua : Mengembangkan dan Meningkatkan Kemampuan Sumber Daya Manusia Dibidang pengadaan barang/Jasa Pemerintah

Tujuan dari misi tersebut adalah :

1. Meningkatnya kompetensi aparatur dalam penguasaan ilmu

tentang pengadaan barang/jasa

2. Membangun sikap mental, disiplin, dan etika pelayanan PNS menuju proses pengadaan barang/jasa yang kredibel.

Sasaran

1. Terpenuhinya SDM yang kompeten;

2. Terciptanya sistem karir dan pembinaan profesi pengadaan

barang/jasa pemerintah;

3. Terciptanya sistem pendidikan dan pelatihan berbasis

kompetensi;

4. Terciptanya sistem jaminan mutu kompetensi melalui penyelenggaraan sertifikasi profesi yang independen dan kredibel

Tujuan dan sasaran pelayanan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa lebih lengkapnya sebagaimana yang tercantum dalam tabel 4.2 di bawah ini :

(52)

IV-7

Tabel 4.2

Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa

1 2 3 4 5

1 5 6 7 8 9

- Presentase Pemilihan Penyedia

Barang/jasa Melalui LPSE 100% 100% 100% 100% 100%

- Presentase Sanggah banding dari Penyedia terhadap Proses pelelangan

0% 0% 0% 0% 0%

V 1 Terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan di semua tingkatan yang transparan, akuntabel, efisien, partisipatif, bersih dan berwibawa serta terus melakukan pencegahan tindak pidana korupsi.

1 Terselenggaranya pelayanan pengadaan barang/jasa melalui LPSE;

NO. TUJUAN SASARAN INDIKATOR SASARAN

TARGET KINERJA SASARAN PADA TAHUN

(53)

IV-8

4.3 STRATEGI DAN KEBIJAKAN

Merujuk pada tujuan dan sasaran RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 maka maka rumusan strategi dan kebijakan pada Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa adalah sebagai berikut :

a. Strategi 1. Menyelenggarakan pelayanan pengadaan barang/jasa melalui LPSE;

Dengan kebijakan (1) Penguatan kelembagaan LPSE.

b.Strategi 2. Meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masing-masing bagian;

Dengan kebijakan (1) Peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pelayanan administrasi ketatalaksanaan untuk

menciptakan profesionalisme di Pelayanan pengadaan

Barang/Jasa Pemerintah di Kabupaten Bogor.

Strategi dan kebijakan tersebut dirumuskan dalam kerangka mewujudkan pernyataan yang terkandung dalam visi dan misi Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa.

Gambar

TABEL 2.1  Tugas Pokok Dan Fungsi Kantor Layanan Pengadaan  Barang/Jasa Berdasarkan Peraturan Bupati Bogor Nomor 53
Tabel 3.1  Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan  Fungsi Pelayanan SKPD
Tabel 4.1  Sinergi Visi dan Misi Kantor Layanan Pengadaan  Barang/Jasa terhadap Visi dan Misi Pemerintah

Referensi

Dokumen terkait

menggunakan high technology maupun yang low technology menunjukkan hasil bahwa modal intelektual berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan (p=0,000) dan

Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian harga pokok variabel5. Mahasiswa dapat menentukan

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa sistem kompensasi adalah suatu sistem pemberian balas jasa kepada karyawan dengan menentukan berapakah yang layak dan pantas diterima

Hasil penelitian menunjukan bahwa banyak cara yang dilakukan oleh seorang ibu sebagai orang tua tunggal agar dapat resilien diantaranya yaitu menganalisis

Pada akhir fase luteal terutama saat-saat menjelang terjadinya perdarahan haid terjadi peningkatan hormon estrogen yang dapat kembali menyebabkan perubahan sekretorik pada

Dengan melihat hal diatas maka dilakukan penelitian mengenai pengaruh rasio keuangan terhadap pembahan laba. Data yang digunakan adalah laporan keuangan perusahaan industri non

Renstra Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 merupakan dokumen perencanaan periode 5 (lima) tahunan yang memuat visi, misi, tujuan, sasaran,

bahwa untuk mendukung percepatan pelaksanaan Visi dan Misi Kota Bogor serta penyesuaian dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku maka Tugas Pokok, Fungsi,