TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Nyeri Kepala Primer
2.2.1 Definisi
Nyeri kepala primer adalah suatu nyeri kepala tanpa disertai adanya penyebab struktural organik (Sjahrir, 2004). Nyeri kepala primer merupakan suatu nyeri kepala yang tidak jelas terdapat kelainan anatomi, kelainan struktur atau sejenisnya (Prabawani, 2011). 90% sakit kepala adalah golongan primer. Sakit kepala primer tidak ditemukan kelainan organ tubuh yang nyata, proses terjadinya masih dalam penelitian (Widjaja, 2013).
2.2.2 Klasifikasi
International Classification of Headache (IHS) (2014), mengklasifikasikan nyeri kepala primer terdiri dari: migrain (dengan aura,dan tanpa aura), nyeri kepala tipe tegang, dan nyeri kepala klaster 1. Migrain
Migrain atau nyeri kepala sebelah merupakan nyeri kepala berulang, dengan serangan nyeri yang berlangsung 4-72 jam, biasanya mengenai satu sisi atau sebelah kepala, sifatnya berdenyut, dan intensitas nyeri sedang sampai berat (Oman, McLain, Scheetz, 2008).
a. Migrain dengan aura
Nyeri berulang dengan gejala neurologis (pengelihatan ganda, vertigo) yang biasanya meningkat secara bertahap selama 5-20 menit dan berlangsung selama kurang dari 60 menit (IHS, 2014).
17
Migrain dengan aura dengan gejala neurologis yang bertambah berat dalam beberapa menit, tidak seperti stroke dimana gejala timbul mendadak (Davey, 2006).
b. Migrain tanpa aura
Tidak terdapat gejala atau tanda neurologis lain namun masih terdapat mual dan tanda-tanda konstitusional (Davey, 2006). Migrain tipe ini tidak ditemukan gejala kelainan saraf, sebelum maupun sesudah serangan migrain (Widjaja, 2013).
2. Nyeri kepala tipe tegang (Tension Type Headache)
Nyeri kepala tipe tegang adalah manifestasi dari reaksi tubuh terhadap stress, kecemasan, depresi, konflik emosional, dan kelelahan (IHS, 2014). Nyeri kepala ini dapat berlangsung selama 30 menit sampai tujuh hari. Cirinya adalah rasa nyeri yang menekan atau menjepit dengan intensitas ringan sampai sedang dan lokasi nyeri yang bilateral. (Oman, McLain, Scheetz, 2008).
3. Nyeri kepala klaster dan sefalgia trigeminal otonomik yang lain.
Nyeri kepala klaster (cluster headache) adalah nyeri kepala hebat yang periodik dan proksimal, biasanya terlokalisir di orbita, berlangsung singkat (15 menit sampai 2 jam) tanpa gejala prodromal (IHS, 2014). Nyeri kepala klaster dapat berlangsung selama 15-180 menit. Sakit kepala ini sering terjadi pada laki-laki, dan terjadi beberapa kali sehari dalam berminggu-minggu kemudian diikuti masa interval tanpa nyeri (Oman, McLain, Scheetz, 2008).
18
Gambar 1. Klasifikasi Nyeri Kepala Primer (A.D.A.M., 2015).
2.2.3 Etiologi
Penyebab dari nyeri kepala primer masih belum jelas, beberapa teori menyatakan secara umum terdapat beberapa faktor pencetus yang dapat menimbulkan nyeri kepala primer antara lain: stress, latihan fisik, diet, alkohol, hormon dan terkadang makanan tertentu dapat menjadi pencetus seperti keju, cokelat, anggur merah (Ginsberg, 2008). Faktor pencetus dari migrain meliputi puasa, kontrasepsi oral, konsumsi alkohol, menstruasi, dan gangguan tidur (Brashers, 2007).
Penelitian yang dilakukan oleh Domingues dkk (2013) dengan judul alcohol use problems in migraine and tension-type headache. Hasil secara signifikan efek dari meminum alkohol dapat menyebabkan migrain dan nyeri kepala tipe tegang. Penelitian lain dilakukan oleh Weaver (2013) berjudul cluster headache menyatakan penyebab dari nyeri kepala klaster adalah dilatasi saraf vaskuler trigeminal, dan faktor genetik.
19
2.2.4 Patofisiologi
Muttaqin (2008) menjelaskan patofisiologi dari nyeri kepala primer sebagai berikut:
1. Migrain
Migrain merupakan gangguan nyeri kepala ditandai dengan adanya serangan nyeri yang berkepanjangan dan tiba-tiba dengan vasokontriksi yang diikuti dengan vasodilatasi. Migrain dapat diawali dengan adanya sensasi prodromal seperti silau dan penglihatan ganda. Migrain kemungkinan disebabkan oleh ketegangan emosional yang berkepanjangan, dan menyebabkan reflek vasospasmus dari beberapa arteri di kepala termasuk arteri yang mensuplai otak. Vasospasmus akan menyebabkan sebagian otak menjadi iskemik dan menyebabkan gejala prodromal. Iskemik yang berkepanjangan menyebabkan dinding vascular menjadi flasik dan tidak mampu mempertahankan tonus vascular. Desakan darah menyebabkan pembuluh darah berdilatasi dan terjadi peregangan dinding arteri sehingga menyebabkan nyeri atau migrain (Muttaqin, 2008).
Cutaneous allodynia (CA) adalah serangan nyeri yang timbul oleh stimulus non noxious terhadap kulit normal. Terdapat tiga hipotesa dalam patofisiologi migrain menurut Sjahrir (2004) yaitu:
a. Pada migrain yang tidak disertai Cutaneous allodynia (CA), berarti sensitisasi neuron ganglion trigeminal sensori yang menginervasi duramater.
20
b. Migrain yang menunjukkan adanya adanya Cutaneous allodynia (CA) hanya pada daerah yang menunjukkan nyeri, terjadi sensitisasi perifer dari reseptor meningeal dan sensitisasi sentral dari neuron kornu dorsalis medulla spinalis sengan reseptif periorbital.
c. Migrain disertai Cutaneous allodynia (CA) meluas keluar dari area yang menunjukkan nyeri, terdiri atas penumpukan dan pertambahan sensitisasi neuron talamik yang meliputi daerah reseptif seluruh tubuh. 2. Nyeri kepala tipe tegang
Nyeri kepala yang umumnya disebabkan oleh ketegangan, kontraksi otot-otot leher dan kepala yang menyebabkan tekanan pada serabut saraf dan kontriksi pembuluh darah pada dasar leher yang akan semakin menambah tekanan serta menyebabkan keluaran sisa asam laktat menjadi menumpuk. Akumulasi ini menyebabkan timbulnya nyeri. Ketegangan otot ini merupakan reaksi yang tidak disadari terhadap stress. Tidur dengan letak leher yang tidak benar dapat merupakan penyebab nyeri kepala tipe tegang (Muttaqin, 2008).
Penderita nyeri kepala tipe tegang (Tension Type Headache) gejala yang menonjol seperti nyeri tekan yang bertambah pada palpasi jaringan miofascial perikranial. Impuls nosiseptif dari otot perikranial yang menjalar kekepala mengakibatkan timbulnya nyeri kepala dan nyeri yang bertambah pada daerah otot maupun tendon tempat insersinya (Sjahrir, 2004).
21
3. Nyeri kepala klaster
Arteri karotis intrakavernosus yang merangsang pleksus perikarotis. Pleksus ini mendapat rangsangan dari cabang 1 dan 2 nervus trigeminus, ganglia servikalis superior (simpatik) dan ganglia sfenopalatinum (parasimpatik). Iritatif di sekitar pleksus membawa impils ke batang otak dan mengakibatkan rasa nyeri di daerah periorbital, retroorbital dan dahi (Muttaqin, 2008). Penyebab pasti nyeri kepala klaster (cluster headache) saat ini belum diketahui. Hipotesis pada nyeri kepala klaster, terinspirasi oleh efek zat vasoaktif. Disfungsi awal atau inflamasi pembuluh darah didaerah sinus parasellar atau area sinus cavernosus akan mengaktivasi pathway nyeri orbital trigeminus. Adanya aktivasi sistem trigeminal vascular, sebagai penyebab atau akibat dari nyeri kepala klaster belum jelas (Leroux dkk, 2008).
2.2.5 Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala migrain bervariasi di antara penderita. Terdapat empat fase yang umum terjadi pada penderita migrain, tetapi semuanya tidak selalu dialami oleh penderita.
1. Fase-fase migrain tersebut antara lain:
a. Fase prodromal. Gejala berupa perubahan mood, iritabel, depresi atau euphoria, perasaan lelah, letih, dan lesu. Gejala ini muncul beberapa jam atau hari sebelum fase sakit kepala. Fase ini
22
menandakan penderita akan terjadi serangan migrain (Muttaqin, 2008).
b. Fase aura adalah gejala neurologis yang mendahului atau menyertai serangan migrain. Fase ini muncul bertahap selama 5-20 menit dan bertahan kurang dari 60 menit. (Muttaqin, 2008).
c. Fase nyeri kepala. Nyeri migrain biasanya berdenyut, unilateral dan awalnya berlokasi di daerah frontotemporalis dan ocular, setelah 1-2 jam menyebar secara difus kea rah posterior. Serangan berlangsung selama 4-72 jam pada orang dewasa, sedangkan pada anak-anak berlangsung 1-48 jam. Intensitas nyeri berkisar dari sedang sampai berat dan dapat menggangu dalam aktivitas sehari-hari (Muttaqin, 2008).
d. Fase postdromal. seseorang yang mengalami migrai mungkin akan merasa lelah, iritabel, konsentrasi terganggu, dan perubahan mood. Orang lain mungkin akan merasa segar atau euphoria setelah serangan sedangkan yang lainna merasa depresi dan lemas.
Migrain juga ditandai sakit kepala berdenyut hebat atau sensasi berdenyut di satu daerah kepala (sakit kepala sebelah). Umumnya disertai dengan gejala mual, muntah, fotofobia, wajah pucat, vertigo, dan tinnitus (Muhlisin, 2014).
2. Nyeri kepala tipe tegang (Tension Type Headache)
Gejala klinis yang dapat ditemukan yaitu nyeri hebat di daerah kulit kepala, oksipital, terjadi secara spontan, gangguan konsentrasi, dan
23
kadang-kadang disertai vertigo (Muttaqin, 2008). Nyeri dimulai dari belakang kepala dan leher atas seperti mendesak atau tertekan. Rasa nyeri ini biasanya di ikuti dengan gejala depresi, ansietas, mual, muntah atau sensitive terhadap cahaya dan suara (Muhlisin, 2014). 3. Nyeri kepala klaster (cluster headache)
Tanda dan gejala nyeri kepala klaster berupa sakit yang biasanya terdapat di sekitar mata, dan dapat menjalar pada area lain di wajah, kepala, leher dan pundak. Sakit pada satu sisi, kegelisahan, keluar air mata secara berlebihan dan mata merah sebagai efek sampingnya (Muttaqin, 2008). Nyeri kepala jenis ini biasanya terjadi sekali atau dua kali sehari dan terletak disekitar salah satu mata. Mata yang terkena biasanya menjadi merah, meradang dan berair. Hidung pada sisi yang terkena dapat menjadi tersumbat atau terasa sesak. Gejala lain berupa wajah merah dan sindrom horner (Muhlisin, 2014).
2.2.6 Pengukuran Intensitas Nyeri
Laporan klien tentang nyeri dirasakan merupakan indikator tunggal yang dapat dipercaya tentang keberadaan dan intensitas nyeri yang berhubungan dengan ketidaknyamanan. Ada bebrapa instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur nyeri, diantaranya: skala numerik, skala deskriptif dan skala analog visual (Potter dan Perry, 2006).
Skala penilaian numeric (Numerik Rating Scale) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Klien menilai nyeri dengan
24
menggunakan skala 0-10. Nol diartikan tidak nyeri, rentang 1-3 diartikan nyeri ringan (secara objektif klien dapat berkomunikasi baik), rentang 4-6 diartikan nyeri sedang (secara objektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik), rentang 7-9 diartikan nyeri berat (secara objektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah dengan baik tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan perubahan posisi, nafas panjang dan distraksi), dan 10 diartikan nyeri hebat (klien sudah tidak mampu berkomunikasi) (Prasetyo, 2010).
Pengukuran dengan menggunakan skala numerik ini lebih mudah dipahami klien, baik diberikan secara lisan ataupun dengan mengisi form kuesioner. Klien diminta memberikan tanda silang pada intensitas nyeri yang dirasakan (Sudoyo, dkk, 2006). Skala ini paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri dan setelah intervensi terapeutik (Potter dan Perry, 2006).
Gambar 2. Skala Intensitas Nyeri Numerik (Potter dan Perry, 2006).
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak nyeri
Nyeri Hebat