BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Kepatuhan Pasien TB Paru
2.3.1. Definisi Kepatuhan
Kepatuhan pengobatan adalah pasien mengikuti pengobatan yang direkomendasikan dengan meminum seluruh obat yang diresepkan selama panjangnya waktu yang dibutuhkan. Kepatuhan penting karena TB hampir selalu teratasi jika pasien patuh terhadap regimen pengobatan TB (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 1999).
Ketidakpatuhan adalah ketidakmampuan pasien atau penolakan untuk mengkonsumsi obat sesuai dengan resep. Ketika pengobatan medis sulit dan berakhir untuk waktu yang lama, seperti pengobatan pada penyakit TB, pasien selalu tidak mengkonsumsi bat mereka sesuai instruksi. Perilaku ini adalah salah satu masalah terbesar dalam pengendalian TB dan dapat mengarah pada konsekuensi yang serius. Pasien yang tidak patuh dapat menyebarkan ke orang lain, tetap sakit untuk waktu yang lebih lama atau memiliki penyakit yang lebih berat, mengembangkan dan menyebarkan resristensi obat TB, dan meninggal karena terhentinya pengobatan (CDC, 1999).
2.3.2. Faktor yang mempengaruhi kepatuhan
Banyak alasan mengapa seseorang terhambat dalam memenuhi regimen pengobatan TB paru.
a. Usia
Penelitian yang dilakukan oleh Mkopi, et al. (2012) menunjukkan bahwa usia berhubungan dengan kepatuhan terapi. Kelompok pasien umur 25 tahun ke bawah lebih patuh dari kelompok pasien yang berumur 35-44 tahun (OR: 0,77; 95% CI: 0,99; p<0,049). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anyaike et al. (2013) yang dalam penelitiannya mendapatkan ada hubungan signifikan atara usia dengan kepatuhan terapi pasien TB (p=0.0165).
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Bello & Itiola (2010) dengan menggunakan uji chi square didapatkan bahwa usia tidak memiliki hubungan yang signifikan degan kepatuhan (p=0,844). Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Anyaike et al. (2013) yang mendapatkan bahwa ada hubungan antara kurangnya uang transportasi dengan kepatuhan pasien (p=0.0001).
b. Jenis Kelamin
Penelitian yang dilakukan ole Mkopi, et al (2012) menunjukkan bahwa jenis kelamin dan usia berhubungan dengan kepatuhan terapi. Pasien perempuan lebih patuh 2 kali dibanding dengan pasien laki-laki (OR= 2,04; 95% CI: 1.24-3,02; p = 0.003). Anyaike et al. (2013) dalam penelitiannya mendapatkan ada hubungan signifikan atara jenis kelamin dan terapi (p=0.001).
c. Dukungan Sosial
Anyaike et al. (2013) dalam penelitiannya mendapatkan ada hubungan signifikan antara dukungan teman dan keluarga dan kepatuhan pasien (p=0.042). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Solarte & Barona (2008) yang mendapatkan bahwa salah satu faktor yang berhubungan signifikan dengan kepatuhan penderita TB adalah kurangnya dukungan keluarga.
d. Pasien tidak lagi merasa sakit
Ketika pasien tidak lagi merasa sakit, pasien selalu berpikir tidak mengapa jika tidak melanjutkan konsumsi obat TB. Gejala TB dapat bertambah baik secara dramatis selama fase awal pengobatan (8 minggu pertama) (CDC, 1999).
Anyaike et al. (2013) dalam penelitiannya mendapatkan ada hubungan signifikan antara perasaan membaik dan tidak ingin melanjutkan terapi serta merasa sakit dan depresi juga memiliki hubungan dengan kepatuhan (p=0.0001). e. Kurangnya pengetahuan
Pasien terkadang tidak mengerti secara penuh mengenai regimen pengobatan, atau alasan durasi pengobatan TB yang panjang. Kurangnya pengetahuan dapat menyebabkan ketidakmampuan dan kurangnya motivasi untuk memenuhi regimen (CDC, 1999).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Gopi et al. (2007) didapatkan faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan adalah tidak sekolah sebanyak 39% yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya terapi dibawah pengawasan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bello & Itiola (2010) yang menemukan ada pengaruh positif dari konseling terhadap
kepatuhan pengobatan pasien. Lebih lanjut dengan menggunakan uji chi square didapatkan bahwa edukasi berhubungan signifikan dengan kepatuhan (p=0,001). Zhou, et al. (2012) dalam penelitiannya juga mendapatkan bahwa pasien yang tidak patuh tidak mengetahui TB sebelum diagnosa (P=0.05) dan tidak mendapat edukasi TB terkait kesehatan sebelum terapi (p=0.01). Lebih lanjut, dengan menggunakan analisis multivariat dengan regresi logistik didapatkan edukasi kesehatan terkait TB sebelum terapi adalah faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan pasien.
f. Nilai personal dan budaya
Beberapa pasien memiliki kepercayaan personal dan budaya yang kuat mengenai penyakit TB, bagaimana pengobatannya, dan siapa yang dapat dicari untuk pertolongan. Ketika pengobatan TB bertentangan dengan keyakinan, pasien menjadi takut, cemas, atau terasing dari orang yang memberikan pelayanan kesehatan pada pasien, seperti dokter, asisten dokter dan perawat) (CDC, 1999). g. Kurangnya keterampilan
Pasien-pasien khusus memiliki keterampilan yang kurang untuk mengikuti instruksi dan patuh terhadap regimen yang diresepkan. Pasien lansia dengan keterbatasan mobilitas, pasien dengan penyalahgunaan obat atau masalah kesehatan mental, dan anak muda yang berisiko memiliki masalah untuk kepatuhan (CDC, 1999).
h. Kurangnya akses pada pelayanan kesehatan
Kurangnya akses terhadap pelayanan kesehtan dapat menjadi hambatan yang signifikan terhadap keberhasilan pemenuhan regimen TB. Usaha khusus harus dibuat untuk menjangkau dan memberikan pelayanan bagi pasien yang tidak memiliki alamat tetap dan alat transportasi. Pasien yang bekerja kemungkinan memiliki jadwal kerja yang bertentangan dengan jam klinik (CDC, 1999).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Gopi et al. (2007) didapatkan faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan adalah kesulitan mengakses fasilitas kesehatan sebanyak 57% karena kurangnya keuangan dan jarak dari tempat tinggal pasien ke fasilitas kesehatan dan pusat DOT swasta (43%). Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nezenega, Gacho & Tafere (2013) dengan menggunakan analisis multivariat didapatkan area tempat tinggal, waktu bersama tim kesehatan, kemudahan menjangkau, waktu tunggu, pelayanan profesional dam semua kepuasan pasien berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan terapi TB ( p < 0,05).
i. Hubungan yang buruk dengan petugas kesehatan
Beberapa pasien memiliki hubungan yang buruk dengan petugas kesehatan. Ketika pasien dan petugas kesehatan gagal untuk membangun hubungan saling percaya, kurangnya hubungan dapat mempengaruhi kepatuhan pasien, Jika pasien percaya atau merasa nyaman dengan perugas kesehatan, mereka lebih mengikut intruksi dan nasehat dan mampu bekerja sama dengan petugas kesehatan (CDC, 1999).
j. Motivasi yang rendah
Pasien mungkin memiliki motivasi yang rendah untuk patuh terhadap regimen TB. Jika pasien memiliki banyak prioritas yang bersaing dalam hidupnya seperti penyalahgunaan obat, tuna wisma, penyakit lain (cth. HIV), konsumsi obat TB mungkin tidak menjadi prioritas bagi pasien (CDC, 1999).
2.3.4. Kepatuhan Pasien Tuberkulosis Paru
Penelitian yang dilakukan oleh Gopi et.al (2007) didapatkan dari 1666 partisipan yang diwawancarai, 1108 (67%) patuh dan 558 (33%) tidak patuh. Hal yang sama didapatkan dari penelitian yang dilakukan oleh Mkopi, et al (2012) yang mendapatkan dari 645 pasien yang diuji, 617 pasien (95,7%; 90% CI 94,3%-96,9%) menunjukkan kepatuhan terhadap terapi TB. Dari 617 pasien yang patuh, 563 (91,2%) melengkapi terapi dengan lengkap, 19 (3,1%) meninggal, 6 (1,0 %) dipindahkan dari tempat penelitian. Solarte & Barona (2008) juga mendapatkan dari seluruh responden, kelengkapan terapi dicapai oleh 65,6 % pasien.
Bello & Itiola (2010) dalam penelitiannya mendapatkan bahwa mayoritas pasien (94,6%) patuh terhadap pengobatannya. Dengan uji regresi parsial didapatkan ada pengaruh positif dari konseling terhadap kepatuhan pengobatan pasien. Pada uji chi square didapatkan bahwa usia tidak memiliki hubungan yang signifikan degan kepatuhan (p=0,844) dan edukasi berhubungan signifikan dengan kepatuhan (p-0,001).
Penelitian yang dilakukan oleh Nezenega et al. (2013) didapatkan hanya 26% dari responden memiliki kepatuhan yang buruk terhadap terapi mereka. Shargie & Lindtjørn (2007) mendapatkan dari total responden, 81 pasien (20%) gagal
menjalani terapi, 310 (77%) melengkapi terapi dengan sukses, sementara sisanya meninggal, pindah dari tempat penelitian. Jakubowiak, Bogorodskaya, Borisov, Danilova & Kourbatova (2008) juga mendapatkan angka kegagalan pasien dalam menjalani terapi 4,6 %. Frekuensi terhentinya terapi 63% pada pasien yang gagal and 36% pada pasien yang terapi dengan sukses. Terhentinya terapi selama fase intensif dan 30% pada pasien yang gagal dan 45% pada hasil yang berhasil. Boogaard, Lyimo, Boeree, Kibikib & Aarnoutsec (2011) dalam penelitiannya juga mendapatkan rata-rata angka kepatuhan pada populasi yang diteliti adalah 96.3% (standard deviation, SD: 7.7). Kepatuhan kurang dari 100% pada 70% dari pasien, kurang dari 95% pada 21% pasien, dan kurang dari 80% pada 2%.
Anyaike et al. (2013) mendapatkan lebih dari dua pertiga (76,5%) responden mengkonsumsi obat antara 3-6 bulan dengan rata-rata durasi 5,4 bulan, (SD=±1.8). Penelitian juga mendapatkan bahwa 80.5% pasien tidak meliupakan pengobatannya dalam 3 bulan terakhir, dan 10,4 % lupa dengan pengobatannya. Dari yang lupa meminum obatnya, 42,5 % lupa karena bepergian, 21,7% merasa sakit dan depresi. 34% lupa karena mereka meminum obat di rumah dan 5,6 % lupa karena merasa lebih baik dan tidak melanjutkan pengobatan. Alasan lain yang diberikan adalah: tidak ada uang untuk transportasi, menghindari efek samping obat, lupa, tidak ingin dilihat di klinik ketika mengambil obat, dan tidak dapat mengambil obat karena liburan pemerintah yang tidak terjadwal.