BAB II PENGATURAN DALAM MEMBUAT AKTA JUAL BELI
B. Kepemilikan Properti oleh Warga Negara Asing di
Penduduk yang menempati wilayah Indonesia tidak hanya Warga Negara Indonesia, akan tetapi juga orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.
Dalam perkembangannya, orang asing yang berada di Indonesia makin lama semakin banyak jumlahnya. Salah satu sebabnya dikarenakan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta keterbukaan antar negara
Dalam rangka kelangsungan kehidupannya, ketersediaan papan/perumahan berarti adanya bangunan rumah sebagai tempat tinggal bagi setiap orang dan keluarganya sebagai warga negara yang dibebani hak dan kewajiban oleh negara. Kenyataannya, pengadaan papan/perumahan saja tidak cukup, tetapi pemilikan rumah oleh warga negara harus dibarengi dengan adanya lingkungan perumahan dan permukiman yang layak, sehat, aman, serasi dan teratur dan hal itu merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan martabat kehidupan warga negara dan keluarganya.62
Guna meningkatan harkat dan martabat kehidupan warga negara dan keluarganya, maka pemilikan rumah harus didukung oleh sarana dan prasarana yang mendukung ketertiban keamanan dan kenyamanan, tidak hanya keamanan fisik, tetapi dikaitkan dengan keamanan dalam penguasaan dan penggunaan tanah
61Ibid
62Muhammad Yamin dan Abdul Rahman Lubis, Kepemilikan Properti di Indonesia termasuk Kepemilikan Rumah oleh Orang Asing, Mandar Maju, Bandung, 2013, hal 34
dan rumah berupa pemberian jaminan kepastian hukum dalam pemilikan dan pemanfaatan rumah tersebut. Semua itu tidak lepas dari tugas dan peran negara dalam rangka mensejahterakan rakyat. Hal tersebut dengan tegas diatur dalam Penjelasan Umum UU No.1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman yang menjelaskan bahwa Negara bertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia melalui penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman agar masyarakat mampu bertempat tinggal serta menghuni rumah yang layak dan terjangkau di dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia. 63
Sebagai salah satu kebutuhan, idealnya rumah harus dimiliki oleh setiap keluarga, terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan bagi masyarakat yang tinggal di daerah padat penduduk di perkotaan. Negara juga bertanggung jawab dalam menyediakan dan memberikan kemudahan Perolehan rumah bagi masyarakat melalui penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman serta keswadayaan masyarakat. Penyediaan dan kemudahan perolehan rumah tersebut merupakan satu kesatuan fungsional dalam wujud tata ruang, kehidupan ekonomi, dan sosial budaya yang mampu menjamin kelestarian lingkungan hidup sejalan dengan semangat demokrasi, otonomi daerah dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.64
Dalam konteks yuridis, penyediaan perumahan oleh negara dan pemilikannya oleh warga negara tidaklah cukup memadai, karena masih harus diberikan jaminan kepastian hukum atas pemilikan rumah tersebut. Khusus dalam
63 Ibid
64 Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan Dan Kawasan Permukiman
menjamin kepastian hukum dalam pemilikan rumah tersebut, maka pembangunan perumahan harus dilakukan di atas tanah yang dimilikinya dan dikukuhkan dengan hak-hak atas tanah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.65 Batas waktu kepemilikan rumah tempat tinggal atau hunian yang dapat dimiliki oleh Orang Asing sebagaimana dimaksud merupakan:
1) Rumah Tunggal di atas tanah (1) Hak Pakai atau (2) Hak Pakai di atas Hak Milik yang dikuasai berdasarkan perjanjian pemberian Hak Pakai di atas Hak Milik dengan akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).
2) Sarusun (satuan rumah susun) yang dibangun di atas bidang tanah Hak Pakai.
PP 103 tahun 2015 mengatakan, Rumah Tunggal yang diberikan di atas tanah Hak Pakai yang dapat dimiliki Orang Asing diberikan untuk jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun, dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun. Dalam hal jangka waktu perpanjangan sebagaimana dimaksud berakhir, Hak Pakai dapat diperbaharui untuk jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun. Adapun Rumah Tunggal di atas tanah Hak Pakai di atas Hak Milik yang dikuasai berdasarkan perjanjian sebagaimana dimaksud diberikan Hak Pakai untuk jangka waktu yang disepakati tidak lebih lama dari 30 (tiga puluh) tahun. Hak Pakai dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun sesuai kesepakatan dengan pemegang hak atas tanah, dan dapat diperbaharui untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) tahun sesuai kesepakatan dengan pemegang hak atas tanah.
65 Ibid
Pasal 8 PP Nomor 103 Tahun 2015 mengatakan: “Perpanjangan dan pembaharuan sebagaimana dimaksud dilaksanakan sepanjang Orang Asing masih memiliki izin tinggal di Indonesia”.
2. Rumah Susun Hunian
Dengan adanya Undang-Undang Rumah Susun, baik yang telah diatur dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2011, telah diciptakan lembaga hak baru yang disebut dengan hak milik satuan rumah susunm yang semulanya tidak
dikenal dalam Undang-Undang Pokok Agraria . Sebagai tindak lanjut ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria tentang
WNA, Undang-Undang Rumah Sususn dan UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman dalam rangka memberikan kepastian hukum mengenaik kepemilikan rumah tempat tinggal atau hunian untuk orang asing diterbitkan PP No. 41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh orang asing yang berdudukan di Indonesia. PP No41/1996 ini ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPNNo7/1996 dan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No 8/1996. Kedua Peraturan Menteri ini diterbitkan dalam selang waktu satu (7 Oktober 1996 dan 15 Oktober 1996).66
Secara garis besar PP No 41 Tahun 1996 memuat ketentuan sebagai berikut:
66 Maria S.W. Sumardjono, Alternatif Kebijakan Pengaturan Hak Atas Tanah Beserta Bangunan Bagi Warga Negara Asing dan Badan Hukum Asing, Kompas, Jakarta, 2007, hal 8
1. Pada prinsipnya, orang asing yang berkedudukan di Indonesia diperkenankan memiliki satu rumah tempat tinggal, bisa berupa rumah yang berdiri sendiri atau satuan rumah susun (sarusun) yang dibangun di atas tanah hak pakai.
2. Rumah yang berdiri sendiri dapat dibangun di atas tanah Hak Pakai atas Tanah Negara atau Hak Pakai yang berasal dari tanah Hak Milik yang diberikan oleh pemegang Hak Milik dengan akta PPAT.
3. Perjanjian pemberian Hak Pakai di atas Hak Milik wajib dicatat dalam buku tanah dan sertifikat Hak Milik yang bersangkutan. Jangka waktu Hak Pakai di atas Hak Milik sesuai kesepakatan dalam perjanjian, tetapi tidak boleh lebih lama dari 25 (dua puluh lima) Tahun. Jangka waktu Hak Pakai tersebut tidak dapat diperpanjang, tetapi dapat diperbaharui untuk jangka waktu 20 (dua puluh) Tahun, atas dasar kesepakatan yang dituangkan dalam perjanjian yang baru, dengan catatan bahwa orang asing tersebut masih berkedudukan di Indonesia.
4. Bila orang asing yang memiliki rumah yang dibangun di atas HPTN, atau berdasarkan perjanjian dengan pemegang hak tidak berkedudukan lagi di lndonesia, dalam jangka waktu 1 (satu) Tahun wajib rnelepaskan atau mengalihkan hak atas rumah dan tanahnya kepada pihak lain yang memenuhi syarat.
5. Bila dalam jangka waktu tersebut hak atas tanah belum dilepaskan, atau dialihkan kepada pihak lain yang memenuhi syarat, maka terhadap rurnah yang dibangun di atas HPTN, rumah beserta tanah yang dikuasai WNA
dilelang; bila rumah tersebut dibangun di atas Hak Pakai dan atas tanah HM, maka rumah tersebut menjadi mililk pemegang Hak Milik.67
Konsep penguasaan tanah pada hakikatnya bersifat faktual yang mementingkan kenyataan pada suatu saat. Secara normatif, konsep penguasaan bersifat sementara dalam artian masih membutuhkan kembali adanya kepastian hukum lebih lanjut mengenai hubungan antara pihak yang menguasai dengan obyek yang dikuasai. Dengan demikian masalah penguasaan tanah tidak dapat diabaikan sama sekali oleh hukum. Untuk sahnya tindakan penguasaan tanah oleh orang asing maka dibutuhkan peraturan perundang-undangan yang bersifat melindungi tindakan penguasaan tanah bersangkutan. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penguasaan tanah oleh orang asing dan Badan Hukum Asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia diatur dalam Pasal 41 dan Pasal 42 Undang-Undang Pokok Agraria.68
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa Undang-Undang Pokok Agraria memberi kemungkinan kepada orang asing untuk memiliki hak-hak atas tanah di Indonesia. Hanya saja kepemilikan atas tanah oleh orang asing di Indonesia dapat terjadi secara terbatas yaitu Hak Pakai atas tanah negara. Dengan dimungkinkannya pemilikan hak atas tanah oleh orang asing di Indonesia muncul keinginan dari sebagian masyarakat utamanya kalangan pengembang (developer) yang mendesak kepada Pemerintah agar orang asing diperbolehkan memiliki
67 Ibid., hal 8-9
68Andina Damayanti Saputri. Perjanjian Nominee Dalam Kepemilikan Tanah Bagi Warga Negara Asing Yang Berkedudukan Di Indonesia (Studi Putusan Pengadilan Tinggi Nomor:
12/PDT/2014/PT.DPS, Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Jurnal Repertorium, ISSN:2355-2646, Volume II No. 2 Juli - Desember 2015, hal 97
Properti di Indonesia dengan hak-hak atas tanah yang mempunyai jangka waktu berlaku yang lebih lama, misalnya 50 Tahun atau bila boleh untuk 100 Tahun).69
Sementara apabila orang asing dapat memiliki rumah di Indonesia, diharapkan pasar properti akan bangkit dan juga diuntungkan oleh masuknya investasi asing. Pembelian rumah tunggal atau satuan rumah susun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) Peraturan Menteri Agraria Nomor 13 Tahun 2016, dengan syarat merupakan pembelian baru/unit baruberupa bangunan baru yang dibeli langsung dari pihak pengembang/pemilik tanah dan bukan merupakan pembelian dari tangan kedua. Kepemilikan hunian oleh Warga Negara Asing dibatasi soal harga rumah tinggal atau hunian. Batasan harga rumah yang boleh dibeli pun beragam sesuai dengan daerah masing-masing sebagaimana dirinci dalam Peraturan Menteri Agraria No.13 Tahun 2016 Tentang Tata Cara Pemberian, Pelepasan Atau Pengalihan Hak Atas Pemilikan Rumah Tempat Tinggal Atau Hunian Oleh Orang Asing Yang Berkedudukan Di Indonesia yaitu sebagai berikut:
Sumatera Utara Rp. 2.000.000.000 Kalimantan Timur Rp. 2.000.000.000 Sulawesia Selatan Rp. 2.000.000.000 Daerah lain Rp. 1.000.000.000
69Muhammad Yamin dan Abdul Rahman Lubis, Kepemilikan Properti di Indonesia termasuk Kepemilikan Rumah oleh Orang Asing, Mandar Maju, Bandung, 2013, hal 73
Tabel 2
Sumatera Utara Rp. 1.000.000.000 Kalimantan Timur Rp. 1.000.000.000 Sulawesia Selatan Rp. 1.000.000.000 Daerah lain Rp. 750.000.000
3. Persyaratan Pemilikan Tanah Tempat Tinggal Atau Hunian Oleh Orang Asing
Orang Asing yang dapat memiliki rumah tempat tinggal atau hunian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Undang-undang No 103 Tahun 2015 adalah Orang Asing pemegang izin tinggal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan PP No. 103 pasal 2 ayat 2 menyatakan bahwa WNA yang boleh membeli properti di Indonesia harus memiliki izin tinggal dan menetap di Indonesia atau biasa disebut Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) yang diterbitkan oleh Kementerian Hukum dan Ham.
Syarat mendapatkan KITAS ini adalah WNA harus bekerja dulu di Indonesia dan kartu ini wajib diperpanjang selama 2 Tahun sekali. Pemberian, perpanjangan, dan pembatalan KITAS dilakukan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (“Menteri”) atau Pejabat Imigrasi yang ditunjuk.70 Prosedurnya adalah sebagai berikut:
70Pasal 55 UU Keimigrasian
1. Permohonan KITAS diajukan oleh Orang Asing atau Penjaminnya kepada Kepala Kantor Imigrasi atau Pejabat Imigrasi yang ditunjuk yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Orang Asing.71 Jadi, tempat pengurusan KITAS adalah di Kantor Imigrasi setempat dimana orang asing yang bersangkutan itu tinggal.
2. Bagi Tenaga Kerja Asing yang memang tujuannya untuk bekerja sebagai tenaga ahli di Indonesia72 permohonan diajukan dengan mengisi aplikasi data dan melampirkan persyaratan:73
a. surat penjaminan dari Penjamin;
b. Paspor Kebangsaan yang sah dan masih berlaku;
c. surat keterangan domisili; dan
d. surat rekomendasi dari instansi dan/atau lembaga pemerintahan terkait.
3. Permohonan harus diajukan dalam waktu paling lama 30 hari sejak Tanda Masukdiberikan. Jika melewati jangka waktu tersebut, dikenai biaya beban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Kemudian, Kepala Kantor Imigrasi atau Pejabat Imigrasi yang ditunjuk memeriksa persyaratan-persyaratan tersebut.
5. Dalam hal pemeriksaan persyaratan telah terpenuhi dan telah dilakukan pengambilan foto, Kepala Kantor Imigrasi atau Pejabat Imigrasi yang ditunjuk dalam waktu paling lama 4 (empat) hari kerja menerbitkan KITAS.
Syarat WNA agar bisa memiliki properti yaitu syarat administrasi, dari semua data, akta pendirian dan identitas para pihak nya, dimana dalam akta jual beli, orang asing tidak mendapatkan hak milik, maupun hanya sebatas hak guna bangunan atau hak guna usaha. Jelas pembatasan hak untuk mereka Warga
71Pasal 55 UU Keimigrasian
72 Pasal 141 ayat (1) huruf a PP 31 Tahun 2013
73 Pasal 142 ayat (2) huruf d PP 31/2013
Negara Asing, adanya akta pendirian nya, yang ketiga dilengkapi dengan identitas-identitas para pihak.74
Regulasi tentang penguasaan dan kepemilikan tanah dan rumah hunian bagi WNA, yaitu: PP No. 103 Tahun 2015 tentang Hunian Orang Asing, orang asing yang berkedudukan di Indonesia diperbolehkan memiliki rumah tunggal unit baru dengan Hak Pakai di atas tanah Hak Pakai atas tanah negara, Hak Pengelolaan atas tanah negara atau Hak Pakai di atas Hak Milik yang dikuasai berdasarkan perjanjian. Selain rumah tunggal, orang asing yang berkedudukan di Indonesia juga dapat memiliki Sarusun dengan Hak Milik pada dibidang tanah Hak Pakai atas tanah negara atau Hak Pengelolaan. Hak Pakai atas rumah tunggal tersebut diberikan untuk jangka waktu 30 Tahun yang dapat diperpanjang untuk jangka waktu 20 Tahun serta dapat diperbarui untuk jangka waktu 30 Tahun.
Dengan demikian, Hak Pakai atas rumah tunggal tersebut paling lama dimiliki selama 80 Tahun.
Prosedur pembelian properti oleh WNA, mereka hanya memilik status yaitu hak pakai, mereka harus memiliki ijin KITAS dengan jangka waktu, maksimal 2000m2 dan untuk pembuatan akta dilakukan di PPAT dengan akta jual beli.75 Status kepemilikann property WNA, hak pakai karena apabila hak milik diijinkan secara logika akan habis properti kita, hak pakai perorangan oleh Warga Negara Asing, dalam bentuk Perseroan Terbatas juga boleh dapat membeli properti.76
74 Hasil wawancara dengan Cokorda Oka Permadi Pemayun, SH.,MKn, Notaris dan PPAT Kota Gianyar, Bali, tanggal 9 Januari 2019
75 Hasil wawancara dengan Auza Anggara,SH.,MH, Kepala Seksi II Kantor Badan Pertanahan Kota Medan, tanggal 10 Januari 2019
76 Hasil wawancara dengan Auza Anggara,SH.,MH, Kepala Seksi II Kantor Badan Pertanahan Kota Medan, tanggal 10 Januari 2019
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia, merupakan suatu terobosan kebijakan pemerintahan dalam mengantisipasi globalisasi, khususnya di bidang pertanahan. Di dalam Pasal 42 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 jelas-jelas ditegaskan yang berhak memperoleh hak pakai adalah warga negara Indonesia. Namun di dalam penjelasan pasal demi pasal menyatakan orang-orang dan badan-badan hukum asing dapat pula diberi hak pakai, karena hak ini hanya memberi wewenang yang terbatas. Salah satu pertimbangan hukum diterbitkannya peraturan ini adalah bahwa untuk lebih memberikan kepastian hukum mengenai kemungkinan pemilikan rumah tempat tinggal atau hunian oleh orang asing, diperlukan upaya penjabaran ketentuan dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman.77
Orang asing yang berkedudukan di Indonesia dapat memiliki sebuah rumah untuk tempat tinggal atau hunian dengan hak atas tanah tertentu, sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan orang asing yang kehadirannya di Indonesia memberikan manfaat bagi pembangunan nasional. Rumah tempat tinggal atau hunian yang dapat dimiliki oleh orang asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 adalah:
1. Rumah yang berdiri sendiri yang dibangun di atas bidang tanah:
a. Hak Pakai atas tanah negara;
77 Eugenie Vita Paulina Kaseger. Pemilikan Hunian Oleh Warga Negara Asing Di Indonesia, Lex et Societatis, Vol. II/No. 1/Januari/2014, hal 50
b. yang dikuasai berdasarkan perjanjian dengan pemegang hak atas tanah.
2. Satuan rumah susun yang dibangun di atas bidang tanah hak pakai atas tanah negara78
Kendala apabila WNA ingin memiliki properti yaitu apabila dalam berbentuk badan hukum dia statusnya adalah hak pakai atau hak sewa, apabila orang asing dalam bentuk PT harus menyiapkan dokumen-dokumen. Tidak boleh dia dalam status Hak Milik, harus diturunkan statusnya di sertifikat79
Perhitungan pajak properti tersebut tidak ada yang membedakan antara Warga Negara Asing dan Warga Negara Indonesia perhitungan pajak properti PBB sama tergantung objek nya masing-masing, tetapi ada harga batasan rumah susun yang berbeda untuk setiap daerah untuk Warga Negara Asing.80
Batasan kepemilikan rumah atau hunian dalam Peraturan Menteri Agraria Tata Ruang No. 29 Tahun 2016 diatur berupa batasan harga dan batasan ketentuan. Batasan harga diatur adalah minimal harga rumah atau Sarusun untuk orang asing.81
4. Pewarisan bagi Warga Negara Asing yang Berkedudukan di Indonesia Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015 memuat mengenai pewarisan properti oleh Warga Negara Asing yang mana pengaturan ini belum diatur dalam peraturan yang telah ada terlebih dahulu yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996. Menurut pasal 2 ayat (3), bila seorang Warga Negara
78 Muhammad Yamin dan Abdul Rahman Lubis., Loc.Cit
79 Hasil wawancara dengan Cokorda Oka Permadi Pemayun, SH.,MKn, Notaris dan PPAT Kota Gianyar, Bali, tanggal 9 Januari 2019
80 Hasil wawancara dengan Cokorda Oka Permadi Pemayun, SH.,MKn, Notaris dan PPAT Kota Gianyar, Bali, tanggal 9 Januari 2019
81Evelyn Hutami Gunawarman, hukumproperti.com/rumah-susun/kepemilikan-rumah-orang-asing/ http://www/, diakses tanggal 20 Agustus 2018
Asing meninggal dunia maka propertinya bisa diwariskan, namun jika ahli warisnya merupakan Warga Negara Asing juga maka ahli waris tersebut harus memiliki izin tinggal yang sama seperti pewarisnya di Indonesia. Apabila ahli waris tidak berkedudukan di Indonesia maka merujuk pada pasal 10 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015 jo Pasal 6 ayat (1) Permen Agraria Nomor 13 Tahun 2016 yang berbunyi sebagai berikut:
Apabila Orang Asing/ahli waris tidak lagi memenuhi syarat sebagai pemegang hak, maka dalam jangka waktu 1 (satu) tahun wajib melepaskan atau mengalihkan hak atas rumah dan tanahnya kepada pihak lain yang memenuhi syarat.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa properti tersebut harus dialihkan kepada pihak yang memenuhi syarat. Kemudian pada pasal 3 Permen Agraria Nomor 13 Tahun 2016 diatur sebagai berikut :
Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1), hak atas rumah dan tanahnya tersebut belum dilepaskan atau dialihkan kepada pihak lain yang memenuhi syarat, maka rumah dan tanahnya:
a. di lelang oleh Negara, dalam hal dibangun di atas tanah Hak Pakai atas tanah Negara;
b. menjadi milik pemegang Hak Milik atau Hak Pengelolaan, dalam hal rumah tersebut dibangun di atas tanah berdasarkan perjanjian.
Maka batas waktu pengalihan itu adalah satu tahun. Jika setelah waktu yang diberikan tak terjadi pengalihan, konsekuensi yang terjadi yaitu pertama, rumah yang berdiri di tanah hak pakai atas tanah negara akan dilelang dan yang kedua, jika rumah berdiri di atas tanah hak milik, maka menjadi orang yang memegang hak atas tanah tersebut.
Selain daripada soal pewarisan, Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015 juga mengatur tentang kepemilikan properti bagi mereka yang melakukan kawin campur. Menurut pasal 3 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun
2015 dijelaskan bahwa warga negara Indonesia yang melakukan perkawinan campur dengan Warga Negara Asing dapat memiliki hak yang sama dengan warga negara Indonesia yang lain, artinya pelaku kawin campur tersebut berhak atas hak milik dengan syarat bahwa harus ada perjanjian pisah harta yang dibuat dengan akta notaris.
C. Pengaturan Dalam Membuat Akta Jual Beli Properti Bagi Warga