B. Manajemen Kepemimpinan
1. Kepemimpinan Kyai
Menurut asal-usulnya, perkataan Kyai dipakai untuk ketiga jenis gelar yang saling berbeda:179
a. Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat; umpamanya, “Kyai Garuda Kencana”
dipakai untuk sebutan Kereta Emas yang ada di Keraton Yogyakarta.
b. Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.
c. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pemimpin pesantren dan mengajarkan kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. Selain gelar kyai, ia juga seirang disebut seorang alim (orang yang dalam pengetahuan Islammnya).
Yang dimaksud dengan kyai dalam laporan ini adalah kyai pengasuh pesantren yang menjaga nilai agama sebagaimana dibahas dalam unsur-unsur sebelumnya.
Pimpinan di pondok pesantren adalah Kyai. Kyai adalah tokoh karismatik yang diyakini memiliki pengetahuan agama yang luas sebagai pemimpin sekaligus pemilik. Istilah intelektual dalam bahasa ideologi pendidikan adalah pengetahuan agama dalam pesantren.
Dalam ideologi pendidikan konservatif, kewenangan tertinggi ada
178 M. Sulthon Masyhud dan Moh. Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren, Jakarta:
Diva Pustaka, 2003, hal 25
179 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya mengenai Masa Depan Indonesia), Jakarta: LP3ES, Cetakan ke Sembilang 2015, hal 93
147
pada mereka yang paling utuh meweujudkan potensi intelektualnya, menganggap bahwa keputusan harus dibuat berdasarkan renungan intelektual. Sedangkan otoritas intelektual tertinggi adalah budaya dominan beserta sistem keyakinan dengan perilakunya yang mapan.
Jika posisi Kyai dalam pesantren sangat dominan dan menjadi sumber rujukan semua pesantren bahkan bersifat indivual interprise, maka pesantren tersebut masuk dalam kategori konservatif.180
Pimpinan Pondok adalah kyai yang mengatur, mengendalikan, menggerakkan, dan menggiatkan keseluruhan totalitas kehidupan pondok, baik ke aluar atau ke dalam. Sebab nilai yang ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan para santri, guru, dan segenap warga Pondok yang disadari oleh jiwa dan falsafah hidup pondok itulah yang mendidik. Bukan hanya pelajaran di kelas dan ceramah-ceramah saja, melainkan seluruh totalitas kehidupan itulah yang mendidik. Dari sinilah tercipta lingkungan masyarakat belajar (learning society), dan dari situ pula mental attitude akan tertanam. Pendidikan itu bukan hanya melalui pengajaran semata melainkan lewat pengarahan penugasan, serta pembiasaan dengan kebiasaan yang baik dan dengan uswah hasanah. Di sinilah signifikansi fungsi seorang kyai.181
Oleh sebab itu patut dipertimbangkan saran dari M. Sulthon Masyhud dan Moh. Khusnurdilo untuk kepemimpinan pendidikan dalam rangka mencapai visi dan misi pesantren yang agung sebagai berikut:
a. Mengadaptasikan kurikulum untuk memenuhi tuntutan kebutuhan belajar santri; mendayagunakan otoritas pesanatren yang besar utnuk memanfaatkan sumber pendidikan secara kreatif; dan selalu menempatkan guru
180 Ahmad Muthohar, Ideologi Pendidikan Pesantren, (Pesantern di Tengah Arus Ideologi-ideologi Pendidikan), Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2007, hal 103
181 Abdullah Syukri Zarkasyi, Manajemen Pesantren Pengalaman Pondok Modern Gontor, Trimurti Press: Jawa Timur, Cetakan kedua 2005, hal 198
148
dan staf dalam team work yang solid untuk menjalankan misi pesantren.
b. Memahami pola manajemen pesantren secara tepat dalam rangka meraih peluang memenangkan persaingan global.
c. Selalu aktif mengadaptasi model-model manajemen pendidikan yang cocok untuk mengembangkan program pesantren.
d. Melakukan pengembangan mutu guru berdasarkan rencana yang jelas.
e. Melaksanakan pengembangan program bagi guru, wali santri dan murid secara serempak sesuai dengan kultur pesantren.
f. Mengembangkan kualitas guru melalui kerjasama dengan instansi terkait (Depdiknas, Depag, LSM, dsb).
g. Memberi penghargaan yang tepat bagi guru dengan prestasi dan kinerja yang baik.
h. Membangun keakraban denga para staf dan guru secara proporsional sehingga tidak mengurangi kredibilitas sebagai pemimpin pesantren.
i. Melibatkan sebanyak mungkin unsur masyarakat dalam mengembangkan pesantren, khususnya dunia industri atau duni kerja.
j. Memperluas (diversifikasi) komunitas belajar dengan memasukkan bermacam-macam sektor pendidikan (umum, profesional dan agama).
Senada dengan paragraf di atas, penulis berpendapat bahwa kepemimpinan sebuah lembaga pesantren tidak harus mutlak di tangan seorang Kyai. Sebab, bagaimana pun seorang Kyai beliau tetap sebagai manusia yang tidak luput dari salah dan khilaf, masih butuh saran dan masukan dari berbagai pihak.
149
Sebagai pondok pesantren modern, pimpinan Pondok Pesantren Ibadurrahman Cileungsi jauh dari kata konservatif. Beliau justru memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para ustadz, pengurus dan santri mengeluarkan gagasan yang kreatif dan inovatif.
Namun tetap, terkadang beliau membuat keputusan tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada para ustadz, pengurus dan santri. Biasanya, keputusan-keputusan seperti itu memang sudah bukan ranah para ustadz, lebih-lebih pengurus. Namun, hakikat keputusan tersebut tetap pada ranah inovatif yang kolektif.
Sebagai pertimbangan penelitian ini, berikut hasil wawancara penulis dengan salah seorang ustadz di Pesantren Ibadurrahman Cileungsi mengenai sosok pimpinan atau pengasuh:182“According to me he is a good personality humble and well educated because he got his education in Egypt”. Menurut saya beliau memiliki kepribadian yang bagus, rendah hati dan terpelajar sebab beliau mendapatkan pendidikannya di Mesir.
“Kepemimpinan KH. Taufiq menggunakan tiga model kepemimpinan tergantung konteks dan situasi pada saat itu.
Terkadang beliau menggunakan hak paten kepemimpinannya (otoriter), terkadang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para guru untuk mengeluarkan ide dan eksekusi (demoktratis)”.183
Sederhananya tipikal kepemimpinan seorang Kyai dikutip dari penelitian Mastuhu, menurut Ahmad Muthohar, AR. Ada dua tipologi model kepemimpinan Kyai, yaitu:184
a. Kepemimpinan tunggal dengan tetap meminta pertimbangan para pembantu Kyai, seperti Pondok
182 Arif Priyono Cahyo, Wawancara (24 Agustus 2016)
183 Wahono, Wawancara dengan Anggota Majlis Kiai (28 Oktober 2016)
184 Ahmad Muthohar, Ideologi Pendidikan Pesantren, (Pesantern di Tengah Arus Ideologi-ideologi Pendidikan), Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2007, hal 103-104
150
Pesantren Sukorejo, Pondok Pesantren Blok Agung dan Pondok Pesantren Paciran.
Dengan kepemimpinan semacam itu, pesantren terkesan eksklusif. Tidak ada celah yang longgar bagi masuknya pemikiran atau usulan dari luar walaupun untuk kebaikan dan pengembangan pesantren karena hal itu wewenang mutlak kiai. Hal seperti itu biasanya masih berlangsung di pesantren salaf.
b. Kepemimpinan kolektif seperti Pondok Pesantren Guluk-guluk, Pondok Pesantren Tebu Ireng dan Yayasan Pondok Pesantren Gontor. Dengan kepemimpinan yang memungkinkan pengambilan keputusan secara bersama karena terdiri dari banyak pimpinan dalam pesantren, maka sebenarnya telah masuk katergori ideologi liberalisme pendidikan; belum sampai pada liberasionisme anarkisme, karena dalam pesantren tidak menerapkan paham wewenang intelektual tertinggi ada pada mereka yang secara akurat memahami konsekuensi-konsekuensi patologis dari kapitalisme. Argumen yang dapat dihadirkan bahwa pesantren telah masuk kategori ideologi liberalisme adalah bahwa di pesantren telah diterapkan pola kepemimpinan demokratis partisipatoris yang merupakan ciri liberasme pendidikan.
Seperti yang penulis paparkan di atas, bahwa pondok Pesantren Ibadurrahman Cileungsi adalah pondok modern yang mengacu atau berasas kepada pondok Pesantren Gontor. Maka tipikal kepemimpinan Kyai di pondok tersebut menggunakan tipikal kepemimpinan yang kolektif.
Senada dengan di atas, Ust. Sofatul Anam memaparkan tentang Pondok Pesantren Ibadurrahman Cileungsi sebagai berikut:
151
”Perbadingan dengan Pondok Pesantren Modern lannya ada nilai salafiah di dalamnya, tanpa mengurangi karakteristik Pondok Pesantren Modern. Jika dibanding dengan Pondok Pesantren Salafiah, Pondok Pesantren Ibadurrahman Cileungsi ada nilai modern yang kental di dadalnya. Antara lain adalah penguatan bahasa dan pembiasaan leadership.”185
Hal itu juga terlihat di bab III, dimana majlis kyai tidak hanya satu orang melainkan beberapa orang. Itu artinya, asas kemufakatan bersama jauh menjadi pertimbangan utama dalam menentukan sebuah keputusan.
Oleh sebab itu, sebagai majlis kyai atau pimpinan tertinggi di pesantren, serta sebagai tim leader yang memegang otoritas yang menentukan perkembangan lembaga pesantren, ada beberapa masukan dari penulis yang tentunya untuk inovasi ke depan pesantren tersebut.
Sebagai mana penulis kutip dari Hikmat, di dalam bukunya yang bertajuk “Manajemen Pendidikan”seorang manajer harus memiliki tiga macam keterampilan:186
a. Keterampilan konseptual. Keterampilan konsep merupakan keterampilan memahami dan mengelola organisasi.
b. Keterampilan manusiawi. Keterampilan manusia adalah keterampilan melakukan kerja sama, memotivasi, dan membangkitkan etos kerja para pegawai atau dalam bahasa pesantrennya ustadz dan para pengurus.
c. Keterampilan teknis. Keterampilan teknis adalah keterampilan mengoperasionalkan alat-alat, metode, dan fasilitas lainnya yang tradisional maupun modern.
185 Sofatul Anam, Wawancara dengan Kepala Sekolah SMP Pondok Pesantren Ibadurrahman Cileungsi (27 Oktober 2016)
186 Hikmat, Manajemen Pendidikan, Bandung: CV Pustaka Setia, Cetakan II 2011, hal 47
152
Selain ketiga hal di atas, karena kyai juga sebagai supervisor terhadapa lembaga yang diempunya, maka selayaknya seorang kyai memiliki ciri dan sifat sebagai berikut:187
a. Berpengetahuan luas tentang seluk-beluk semua pekerjaan yang berada di bawah pengawasannya.
b. Menguasai/memahami benar-benar rencana dan program yang telah digariskan yang akan dicapai oleh setiap lembaga atau bagian.
c. Berwibawa dan memiliki kecapakan praktis tentang teknik-teknik kepengawasan, terutama human relation.
d. Memiliki sifat-sifat jujur, tegas, konsekuan, ramah, dan rendah hati.
e. Berkemauan keras, rajin bekerja demi tercapainya tujuan atau prgram yang telah digariskan/disusun.