78
pertumbuhan organisasi, kepuasan kerja, kekuatan dan profesionalitas manajer.
79
manajemen merupakan poin penting dalam mengatur urusan dunia dan akhirat.
Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah bersabda:
117
Dari Abu Hurairah semoga Allah ridho kepadanya, ia berkata:
saya telah mendengar Nabi SAW bersabda: berfirman Allah Ta‟ala:
barang siapa dhalim dengan maksud menciptakan seperti ciptaan-Ku, maka ciptakanlah sebuah atom atau ciptakan beberapa butir buah atau hewan melata kecil sekalipun. (HR. Bukhori)
Hadits di atas menyimpulkan bahwa penciptaan yang diciptakan oleh Allah tidak bisa ditiru oleh manusia. Sebab manajemen manusia tidak sama dengan manajemen Tuhan. Hanya manajemen Tuhanlah yang mampu mencipkan ciptaan yang tidak bisa diciptakan oleh makhluk-Nya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa ke-Mahaan Allah tidak akan pernah mampu dijamah oleh makhluk Nya. Sebab manusia, jin, atau bahkan malaikat sekalipun termasuk makhluk yang lemah.
َُْٕ
يِزَنٱ ًِف َفِئَٰٓهَخ ۡىُكَهَؼَج
ِۚضۡسَأۡنٱ
ُُِشۡفُك ٍَِّۡهَؼَف َشَفَك ًٍََف
ۖۥ ُذٌِضٌَ بَنَٔ
ٌٍَِشِفَٰكۡنٱ ۡىُُْشۡفُك
تۡمَي بَنِإ ۡىِِٓثَس َذُِػ
ٗ ُذٌِضٌَ بَنَٔ ۖا
ٌٍَِشِفَٰكۡنٱ سبَغَخ بَنِإ ۡىُُْشۡفُك
ٗ ا ٣٣
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi.
Barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (Al-Fatir:39)
Dengan ke Mahaan Allah, maka Dia kemudian mengutus khalifah ke muka bumi guna untuk menjaga kelestarian alam.
Manajerial setiap manusia, baik dalam konsep secara umum, yakni
117 Mustofa Muhammad Imaroh, Jauhar Al-Bukhori, Bairut Libanun: Daarul Fikri, 1990, hal. 302.
80
menjadi khalifah di bumi sebagaimana tersebut dalam ayat di atas, maupun dalam konsep khusus, yaitu mengelola suatu organisasi, semuanya itu pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt maupun terhadap sesama manusia.
Akan tetapi perlu disadari di sini adalah manusia bukan penguasa hakiki dan independen terhadap dunia ini, karena status dan kekuasaannya merupakan pemberian atau nikmat dari Allah SWT.
sebagai Penguasa sesungguhnya dari Wujud secara keseluruhan.
Nikma yang berupa kekuasaan ini diberikan oleh Allah kepada mereka agar ia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah dalam membangun dan memajukan bumi ini, sejalan dengan isi kontrak perjanjian manusia ketika dinobatkan sebagai wakil atau khalifah.
Kekuasaan manusia ini merupakan tugas (taklif) ilahi, mandat dari Allah sebagai Pencitpa dan Pemeliharanya. Kekuasaan manusia dibatasi oleh semangat perjanjian sebagai khalifah dan dalam konteks sebagai seorang wakil yang ditugaskan untuk memikul amanah yang makhluk selain manusia tidak sanggup menanggungnya. Manusia adalah khalifah Allah untuk membangun bumi, dengan segala keistimewaan yang ada di dalam status sebagai khalifah tersebut. Ini yang pada gilirannya juga menjadi keistimewaan dari manhaj Islam dibandingkan dengan manhaj agama dan aliran filsafat yang lain.118
Maka mutlak, keberhasilan lembaga pendidikan, tergantung bagaimana pengelolaan manajemen di dalam dalam. Tidak terkecuali instansi pendidikan, bahkan semua instansi pemerintah swasta dan juga personalia yang menempuh pendidikan tidak lepas bagaiamana memanaj manajemen dengan optimal.
Tujuan pendidikan nasional adalah sebagaimana dikutip H.A.R. Tilaar dalam bukunya Kekuasaan dan Pendidikan, Manajemen Pendidikan Nasional
118 Muhammad Imarah, Manhaj Islami “Cara Berpikir dan bertindak Sesuai dengan Nilai Islam”, Jakarta: al-Ghuraba, 2008, hal. 16-17.
81
dalam Pusaran Kekuasaan, menyebutkan; ada dua tujuan pendidikan nasional sebagaimana tersirat di dalam UUD 1945:119
a. Pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa b. Pendidikan adalah hak seluruh rakyat
Lebih jelasnya di dalam UUD 1945 pasal 31 dijelaskan sebagai berikut:120
1. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
2. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
3. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimananan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
4. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
5. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Dari beberapa pilar UUD di atas jelas pemerintah sangat antusias menyelenggarakan pendidikan dengan taraf optimal. Sehingga pendidikan mampu membangun masyarakat ke arah yang lebih baik dari segi finasial maupun dari segi yang lain.
Selaras dengan tujuan pendidikan Nasional, tujuan pendidikan Islam juga lebih mendekati kepada harkat dan martabat seorang individu. Dalam hal ini Miftahul Huda memetakan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut:121
119 H.A.R. Tilaar, Kekuasaan dan Pendidikan, Manajemen Pendidikan Nasional dalam Pusaran Kekuasaan, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009, hal. 6.
120 Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2005, hal. 105-106.
82 1. Tujuan Intelektual
Pendidikan Islam di antaranya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan memiliki daya nalar dan sikap kritis yang tinggi. Maka objek berpikir ini meliputi alam raya dan manusia itu sendiri. Juga menangkap fenomena ajaran Al-Qur‟an sampai pada tahap transendental serta mampu mencari sebab akibat fenomena yang ada di alam raya ini dengan berdasarkan pada pandangan agama.
2. Tujuan Moral
Pendidikan Islam dalam bidang etika bertujuan untuk menciptakan manusia yang memiliki akhlak yang luhur, akhirnya terciptalah masyarakat yang menjunjung nilai-nilai luhur kemanusiaan seperti yang diajarkan oleh Islam sehingga tercermin dalam perilaku yang adil, memahami persamaan sosial dan hak individu, menghargai kebebasan berpolitik, ekonomi, dan pemikiran atau keilmuan.
Dalam hal ini tentu yang menjadi panggung panutan adalah nabi Muhammad SAW. Di dalam Al-Qur‟an Allah menegaskan;
ىٍِظَػ ٍكُهُخ ٰىَهَؼَن َكََِإَٔ
ٗ ٤
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
(Al-Qalam:4) 3. Tujuan Agamis
Secara agamamis, maka pendidikan Islam memuat misi pengegakan agama untuk mempersiapkan kader-kader muslim untuk siap mempertahankan dan sekaligus menyiarkan agama. Maka mereka juga dibekali kemampuan untuk menyerang musuh yang mengancam keberadaan agamanya. Dengan usaha inilah kelestarian agama Islam akan tetap jaya..
121 Miftahul Huda, Idealitas Pendidikan Anak, Malang: UIN-Malang Press (Anggota IKAPI), 2009, hal. 21-25.
83
Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur‟an surat Ali Imran:
110 sebagai berikut:
ۡىُتُُك
ِث ٌَُٔشُيۡأَت ِطبَُهِن ۡتَجِشۡخُأ ٍخَيُأ َشٍَۡخ
ِفُٔشۡؼًَۡنٲ ٍَِػ ٌَََُٕۡٓۡتَٔ
ِشَكًُُۡنٱ ٌَُُِٕيۡؤُتَٔ
ِث
َِّۗهنٲ ُمَْۡأ ٍََياَء َٕۡنَٔ
ِتَٰتِكۡنٱ شٍَۡخ ٌَبَكَن
ٗ ُىُُِٓۡي ۚىَُٓن ا
ٌَُُِٕيۡؤًُۡنٱ ُىُُْشَثۡكَأَٔ
ٌَُٕمِغَٰفۡنٱ
١١٠
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali Imran:110)
Dalam ayat yang lain Allah juga menegaskan bahwa kemuliaan ummat Islam antara pada kinerja dakwah yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Maka, dalam upaya dakwah itu tentunya menuntut prinsip bijaksanan. Hal ini seperti penjelesan ayat berikut:
ُعۡدٱ
ٰىَنِإ
ِث َكِثَس ِمٍِجَع
ِخًَۡكِحۡنٲ
َٔ
ِخَظِػًَٕۡۡنٱ
ِۖخََُغَحۡنٱ
ِث ىُٓۡنِذَٰجَٔ
ًِتَنٲ َكَثَس ٌَِإ ٍَُۚغۡحَأ ًَِْ
ِِّهٍِجَع ٍَػ َمَض ًٍَِث ُىَهۡػَأ َُْٕ
ۦ
ِث ُىَهۡػَأ ََُْٕٔ
ٌٍَِذَتًُۡٓۡنٲ ١٢٥
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl:125)
Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas sebagai berikut:122
122 Imam Jalil al-Hafidz Abi Fada‟ Ismail bin Katsir al-Quratsi, Tafsir Al-Qur‟an al-Adzim, Kairo: 2011, hal. 593.
84
.
Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW, untuk berdakwah dengan cara hikmah. Berkata Ibnu Jarir : Ini adalah apa yang diturunkan dari Quran dan Sunnah (dan nasihat yang baik), atau jika diperlukan untuk berdebat dengan mereka, maka berdebatlah dengan wajah yang baik serta dengan tutur kata yang sopan. Sebagaimana firman Allah SWT: Maka janganlah kamu sekalian berdebat dengan ahli kitab kecual dengan cara yang baik, kecuali yang berbuat dzolim di antara mereka.
Secara general Quraish Shihab mengemukakan bahwa Al-Qur‟an Al-Karim adalah suatu kitab dakwah yang mencakup sekian banyak permasalahan atau unsur dakwah, seperti da‟i (pemberi dakwah), mad‟uw (penerima dakwah), metode dakwah dan cara-cara penyampaiannya. Permasalahan-permasalahan tersebut tentu tidak mungkin diungkapkan dalam tulisan yang terbatas. Materi dakwah yang dikemukakan Al-Qur‟an berkisar tiga masalah pokok: akidah, Akhlak, dan hukum.123
4. Tujuan Spritual
Mengembangkan karakter kejiwaan yang Islami juga merupakan tujuan yang diidamkan oleh pendidikan Islam. Karakter kejiwaan yang dimaksudkan misalnya memiliki sikap dan perhatian yang besar terhadap nasib agama. Juga mengutamakan kepentingan agama dari pada kepentingan individu. Hal ini adalah refleksi dari ayat berikut:
123 Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur‟an, Bandung: Penerbit Mizan, 1992, hal. 193.
85
ٌٍَِزَنٱَٔ
ُٔءََٕجَت
َساَذنٱ
َٔ
ًٌٍََِٰئۡنٱ ًِف ٌَُٔذِجٌَ بَنَٔ ۡىٍَِٓۡنِإ َشَجبَْ ٍَۡي ٌَُٕجِحٌُ ۡىِِٓهۡجَل ٍِي
خَجبَح ۡىِِْسُٔذُص
ٗ خَصبَصَخ ۡىِِٓث ٌَبَك َٕۡنَٔ ۡىِِٓغُفََأ ٰٓىَهَػ ٌَُٔشِثۡؤٌَُٔ ْإُتُٔأ ٓبًَِي
ٗ ۚ
ِِّغۡفََ َحُش َقٌُٕ ٍَئَ
ۦ ُىُْ َكِئَٰٓنُْٔأَف
ٌَُٕحِهۡفًُۡنٱ ٣
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. (Al-Hasr: 9)
5. Tujuan Jasmaniah
Secara jasmaniah pendidikan juga memperhatikan kesehatan lahiriah. Tidak bisa dipungkiri bahwa jasmani manusia memiliki hak-hak manusiawi yang mendasar. Untuk membina manusia yang sehat lahiriah ini perlu dibentuk melalui pendidikan, misalnya melalui pendidikan kesehatan jasmani. Hal ini dikandung maksud agar perkembangan jasmaniah mendapat perhatian yang semestinya.
Tujuan pendidikan Islam tidak lepas dari kaitannya dengan eksistensi hidup manusia sebagai wakil-Nya (khalifah Allah) di bumi.
Salah satu fungsi dan tugas seorang pemimpin adalah kemampuannya dalam memelihara, mengatur dan mengembangkan potensi dasar yang beragam (heterogen) dari yang dipimpin itu atas dasar amanah, bukan atas prinsip kepemilikan (privatisasi). Tujuan pendidikan dalam Islam pada dasarnya “memelihara” dan mengembangkan hidup ini, sebab hidup merupakan fitrah yang paling dasar bagi manusia.
Hidup bukan hanya terjadi di dunia ini, tapi harus berlanjut di akhirat kelak. Dengan terpelihara dan terkebangkannya hidup ini secara lurus
86
(mustaqim), seseorang akan selamat dan bahagia dalam menuju Tuhan-Nya.124
Dengan beberapa tujuan di atas, pendidikan akan menjadi media latihan mental, fisik dan moral bagi individu-individu supaya mereka menjadi manusia yang beradab sehingga mampu memenuhi tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi dan menjadi warga yang berarti bagi suatu negara.
Oleh karena itu ketika kata pendidikan di lekatkan dengan kata Islam, maka ia berarti suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW. Melalui proses pendidikan seperti itulah individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi supaya ia mampu menunaikan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dan berhasil mewujudkan kebahagiaan di dunia akhirat.125
Di dalam Islam juga pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses menuntut ilmu. Bagaimanapun menuntut ilmu merupakan unsur primer dalam proses pendidikan. Dalam hal ini Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada mengungkapkan bahwa proses menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat mulia. Sebab, dengan menuntut ilmu seorang hamba dapat mengenal Rabbnya yang mulia dan dapat menunaikan hak-hak Nya, demikia juga dapat menunaikan hak-hak sesama makhluk.126
Begitupun di dalam Al-Qur‟an, Allah menegaskan di dalam surat Al-Mujaadalah:11 tentang kemuliaan bagi orang yang memiliki ilmu, ayatnya sebagai berikut:
124 H.M. Irsjad Djuwaeli, Pembaruan Kembali Pendidikan Islam, Ciputat: Karsa Utama Mandiri dan PB Mathla‟ul Anwar, 1998, hal. 13-14.
125 Tohirin, Karakter Pendidik Menurut Muhammad Kutub (Menggagas Paradigma Baru Pendidikan Islami Berkualitas),dalam Jurnal Istighna‟, Vol 01 No. 03 Tahun 2008, hal. 31-32.
126 Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, Ensiklopedi Adab Islam Menurut Al-Qur‟an dan as-Sunnah, Jakarta: Pustaka Imam Syafi‟ie, 2007, hal. 217.
87
بٌََُٓأٌَٰٓ
ٌٍَِزَنٱ ًِف ْإُحَغَفَت ۡىُكَن َمٍِل اَرِإ ْإَُُٓياَء
ِظِهَٰجًَۡنٱ َف
ْإُحَغۡفٲ ِحَغۡفٌَ
َُّهنٱ
َمٍِل اَرِإَٔ ۖۡىُكَن
ْأُضُشَٱ َف
ْأُضُشَٲ ِغَفۡشٌَ
َُّهنٱ
ٌٍَِزَنٱ
َٔ ۡىُكُِي ْإَُُياَء
ٌٍَِزَنٱ ْإُتُٔأ
َىۡهِؼۡنٱ تَٰجَسَد
ٗ
َٔ ۚ
َُّهنٱ
ِجَخ ٌَُٕهًَۡؼَت بًَِث شٍ
ٗ ١١
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Mujadilah:11)
Begitu penting sebuah pendidikan. Sehingga Allah menyetarakan orang yang berpendidikan dengan orang yang beriman. Sehingga bisa disimpulkan bahwa sangat rugi bagi manusia yang diberi kesempatan menuntut ilmu tidak dipergunakan dengan optimal.
Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah menegaskan akan pentingnya ilmu baik saat masih di dunia maupun saat di akhirat, hadits tersebut sebagai berikut:
127
Dari Abu Hurairah ia berkata, bersabda Rasulullah SAW, apabila mati anak cucu anam maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: pertama, shadaqoh jariyah, kedua ilmu yang bermanfaat, ketiga anak soleh yang mendoakan orang tuanya. (HR. Muslim).
Dari hadits di atas nampak jelas bahwa peranan pendidikan tidak hanya berlaku di dunia semata, tapi juga bermanfaat saat si empunya meninggal.
Secara khusus Quraish Shihab mendefinisikan orang yang berpendidikan tentang ayat-ayat Allah sebagai ulama, baik yang bersifat kauniyah ataupun yang qur‟aniyah. Hal ini karena dia berpatokan kepada: pertama, dalam konteks ajakan Al-Qur‟an untuk memperhatikan turunnya hujan dari langit,
127 Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarif an-Nawawi ad-Damasyqi, Riyadu as-Sholihin, Mesir: Daarul Salam, Cetakan Ketiga belas 2013, hal. 356.
88
beraneka ragamnya buah-buahan, gunung, binatang dan manusia yang kemudian diakhiri dengan , sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. (QS. 35:28). Ayat ini menggambarkan bahwa yang dinamakan ulama adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Allah yang bersifat kauniyah (fenomena alam).
Kedua, dalam konteks pembicaraan Al-Qur‟an yang kebenaran kandungannya telah diakui (diketahui) oleh ulama Bani Israil (QS. 26:197)128
129
Hadits di atas menyimpulkan bahwa Allah memudahkan jalan ke surga bagi orang yang keluar untuk menuntut ilmu. Para malaikat membentangkan sayapnya untuk memintakan keridoan kepada Allah, dan seluruh penduduk yang ada di langit bahkan hewan yang di airpun memintakan ampun atas segala dosa-dosanya. Dan orang yang berpendidikan (ulama) adalah para pewaris nabi.
Senada dengan Quraish Shihab hadits di atas juga menyimpulkan bahwa orang yang berilmu adalah pewaris para Nabi. Nabi tidak pernah mewariskan harta kepada ummatnya, melainkan sebuah ilmu untuk kenikmatan dunia dan akhirat. Bahkan para malaikat, hewan di lautan juga memintakan ampun untuk para penikmat ilmu.
128 Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur‟an, Bandung: Penerbit Mizan, 1992, hal. 382.
129 Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarif an-Nawawi ad-Damasyqi, Riyadu as-Sholihin, Mesir: Daarul Salam, Cetakan Ketiga belas 2013.
89
Ibnu Abbas juga mengemukakan tentang keutamaan bagi orang yang berpendidikan:
130
Derajat ualama lebih tinggi tujuh ratus derajat di atas orang beriman, dimana jarak antara satu derajat ke derajat lainnya adalah tujuh ratu tahun.
Secara khusus penulis menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah membuat seseorang menjadi insan kamil dengan pola takwa, Insan Kamil yang artinya manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena takwanya kepada Allah SWT.
Maka bisa disimpulkan secara general bahwa Islam memandang aktifitas pendidikan di dalamnya pada dasarnya merupakan upaya dalam mewujudkan spirit Islam, yaitu suatu upaya merealisasikan semangat hidup yang dijiwai oleh nilai Islami. Selanjutnya spirit tersebut digunakan sebagai pedoman hidup.
Rasul sebagai penerima Al-Qur‟an bertugas untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk tersebut, menyucikan dan mengajarkannya kepada manusia. Menyucikan dapat diidentikan dengan mendidik (menjadikan seseorang bersih/suci), sedangkan mengajar tidak lain kecuali mengisi jiwa peserta didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam fisik dan metafisik.
130 Muhammad Abi Hamid Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Bairut: Daarul Jail, Tth, hal. 11.
90
99 BAB III
GAMBARAN UMUM
A. KONDISI UMUM PONDOK PESANTREN IBADURRAHMAN