BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.3. Kepemimpinan
2.2.3.1. Pengertian Kepemimpinan
Ada banyak definisi mengenai kepemimpinan, tergantung pada perspektif yang digunakan. Kepemimpinan dapat didefinisikan berdasarkan penerapannya pada bidang militer, olahraga, bisnis, pendidikan, industri, dan bidang-bidang lainnya. Robbins (2001: 15) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok anggota agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Gibson et.al (2001: 364) memberikan definisi kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi motivasi atau kompetensi individu- individu lainnya dalam suatu kelompok.
Dalam organisasi, pemimpin sangat dibutuhkan untuk menjalankan fungsi-fungsi manajemen, seperti yang dikatakan oleh Hendri Fayol dan dituliskan kembali oleh Handoko (2002: 21), yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pemberian perintah dan pengawasan. Besarnya tugas dan tanggung jawab pemimpin dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen ini menuntut profesionalisme atau kecakapan memimpin yang benar-benar dapat diandalkan agar tujuan organisasi dapat tercapai.
Berdasarkan teori manajemen, ada beberapa definisi atau pengertian kepemimpinan. Menurut George (2001: 364), pengertian kepemimpinan adalah : “Leadership is an interaction between members of influense by one member of a
group over other members, to help the group archieve its goals”. Artinya
karena pengaruh seorang anggota terhadap yang lainnya untuk mencapai tujuan akhir perusahaan.
Stoner (2001: 161) mempunyai pendapat yang lebih rinci tentang kepemimpinan. Dia mengatakan bahwa, “Kepemimpinan manajerial merupakan suatu proses yang bukan hanya mengarahkan tetapi juga mempengaruhi aktivitas-aktivitas anggota kelompok yang berhubungan dengan tugas”. Berdasarkan pengertian ini timbul empat aspek yang penting :
1. Kepemimpinan harus melibatkan orang lain
2. Kepemimpinan melibatkan distribusi kekuasaan yang tidak sama antara pemimpin dengan anggota-anggotanya.
3. Pemimpin tidak hanya memberikan pengarahan kepada bawahannya tetapi juga dapat menggunakan pengaruh, dengan kata lain pemimpin tidak hanya memberikan instruksi-instruksi yang seharusnya dikerjakan bawahannya, tetapi juga harus bisa mempengaruhi bawahan untuk melaksanakan instruksi-instruksinya.
4. Kepemimpinan berhubungan dengan moral karena menyangkut nilai-nilai dan persyaratan bahwa para pengikut diberi cukup pengetahuan mengenai alternatif agar dapat membuat pilihan yang diperkaryawanbangkan jika tiba saatnya untuk memberikan tanggapan usulan pemimpin dalam memimpin bawahan.
Gibson (2001: 263) menyatakan bahwa: “Kepemimpinan adalah suatu usaha untuk mempengaruhi individu- individu (interpersonal) dengan melewati proses komunikasi, untuk mencapai sesuatu atau beberapa tujuan”. Schermerhon,
Jr. dkk (2001: 461) mengungkapkan kepemimpinan dalam dua bentuk yaitu kepemimpinan formal dan kepemimpinan informal. Kepemimpinan formal digunakan oleh orang-orang yang ditunjuk atau dipilih untuk menduduki posisi kew¢nangan formal dalam organisasi. Sedangkan kepemimpinan informal digunakan oleh orang-orang yang menjadi berpengaruh karena mereka mempunyai keahlian khusus yang dapat memenuhi kebutuhan orang lain. Kepemimpinan informal ini juga berlaku bagi tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam masyarakat.
Menurut Hersey dan Blanchard (2002: 3), konsep kepemimpinan sebenarnya mempunyai dimensi yang lebih luas dibandingkan dengan konsep manajemen. Manajemen dapat dipandang sebagai bentuk khusus kepemimpinan dimana yang terpenting adalah mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan, sedangkan kepemimpinan itu sendiri bisa terjadi setiap saat seorang berusaha untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau sekelompok orang apapun alasannya.
Thoha (2000: 8) menulis perbedaan antara kepemimpinan dan manajemen dengan mengatakan bahwa pada hakekatnya kepemimpinan mempunyai arti yang lebih luas dibandingkan dengan manajemen. Manajemen merupakan jenis pemikiran khusus dari kepemimpinan dalam usahanya mencapai tujuan organisasi. Dengan demikian kepemimpinan bisa saja dilakukan untuk mencapai tujuan seseorang atau kelompok dan bisa juga tidak. Kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh aturan-aturan atau tata krama Birokrasi. Kepemimpinan tidak harus diikat dalam satu organisasi, melainkan bisa terjadi dimana saja, asalkan
menunjukkan kemampuannya mempengaruhi perilakuperilaku orang lain untuk mencapai suatu tujuan. Bila kepemimpinan dibatasi dalam suatu organisasi tertentu, maka dapat dinamakan manajemen.
Dari semua penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa pengertian yang terkandung dalam kepemimpinan sangat bermanfaat untuk menjalankan manajemen. Dengan melakukan kepemimpinan yang baik, seorang manajer akan lebih mudah dalam menjalankan tugas-tugas manajemen yang dibebankan kepadanya.
Secara umum seorang pemimpin yang baik harus memiliki beberapa karakteristik berikut :
1. Tanggung jawab yang seimbang
Keseimbangan disini adalah antara tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang yang harus melaksanakan pekerjaan tersebut
2. Model peranan yang positif
Peranan adalah tanggung jawab, perilaku atau prestasi yang diharapkan dari seseorang yang memiliki posisi khusus tertentu. Oleh karena itu seorang pemimpin yang baik harus dapat dijadikan panutan dan contoh bawahannya. Mereka melakukan apa yang diharapkan dari karyawannya, misalnya ia mengharapkan karyawannya untuk tepat waktu, maka pemimpin tersebut harus bersikap tepat waktu dalam memenuhi janji atau melaksanakan tugasnya.
3. Memiliki keterampilan komunikasi yang baik
Pemimpin yang baik harus bisa menyampaikan ide-idenya secara ringkas dan jelas, serta dengan cara yang tepat.
4. Memiliki pengaruh positif
Pemimpin yang baik memiliki pengaruh terhadap karyawannya dan menggunakan pengaruh tersebut untuk hal-hal yang positif. Pengaruh adalah seni menggunakan kekuasaan untuk menggerakkan atau mengubah pandangan orang lain ke arah suatu tujuan atau sudut pandang tertentu.
5. Mempunyai kemampuan untuk meyakinkan orang lain
Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang dapat menggunakan keterampilan komunikasi dan pengaruhnya untuk meyakinkan orang lain akan sudut pandangnya serta mengarahkan mereka pada tanggung jawab total terhadap sudut pandang tersebut.
Di samping memiliki karakteristik sebagaimana telah dijelaskan di atas, seorang pemimpin yang baik harus dapat memainkan peranan penting dalam melakukan tiga hal berikut, yaitu (Thoha, 2000: 12):
1. Mengatasi penolakan terhadap perubahan.
Orang-orang yang memiliki posisi manajemen seringkali berusaha mengatasi hal ini dengan menggunakan kekuasaan (power) dan kendali. Akan tetapi pemimpin mengatasi penolakan dengan menciptakan komitmen total secara sukarela terhadap tujuan dan nilai-nilai bersama.
2. Menjadi perantara bagi kebutuhan kelompok-kelompok di dalam dan di luar organisasi.
Bila terjadi konflik kepentingan antara perusahaan dengan salah satu pemasoknya, maka pemimpin harus dapat menemukan cara mengatasinya tanpa merugikan salah satu pihak.
3. Membentuk kerangka etis yang menjadi dasar operasi setiap karyawan dan perusahaan secara keseluruhan.
Kerangka etis ini dapat diwujudkan dengan cara : a. Memberikan contoh perilaku etis.
b. Memilih orang-orang yang berperilaku etis sebagai anggota tim. c. Mengkomunikasikan tujuan organisasi.
d. Memperkuat perilaku yang sesuai di dalam dan di luar organisasi. e. Menyampaikan posisi-posisi etis, secara internal dan eksternal.
Kepemimpinan bukanlah fungsi dari kharisma. Oleh karena itu seseorang tidak bisa hanya mengandalkan kharisma yang ia miliki semata dalam usaha memimpin suatu kelompok tertentu. Bila seorang pemimpin mencoba menggunakan citra dan kharismanya semata untuk memimpin suatu organisasi, maka ia bukanlah pemimpin, tetapi misleader.
2.2.3.2. Pengertian Gaya Kepemimpinan
Salah satu sumber daya yang dimiliki oleh badan usaha adalah sumber daya manusia, yang terdiri dari orang-orang yang berbeda latar belakang, pendidikan, pengalaman, dan status sosial ekonomi yang saling bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan oleh badan usaha. Untuk dapat menciptakan suatu kerja sama yang baik diantara orang-orang yang berbeda
tersebut bukanlah suatu hal yang mudah. Karena itulah dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu untuk mengarahkan dan mengkoordinasi semua aktivitas anak buah serta mampu menganalisa situasi untuk dapat menciptakan kerja sama yang baik dalam unit kerjanya. Untuk itu seorang pemimpin yang baik tidak hanya asal memberi perintah saja tetapi juga harus mampu memahami situasi kerja yang terjadi dalam unit kerjanya sehingga dapat mengkoordinasi aktivitas karyawan dengan cara yang tepat sehingga tujuan dari badan usaha dapat tercapai. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa seorang pemimpin mempunyai peranan yang menentukan bagi kelancaran aktivitas badan usaha.
Secara sederhana kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai kemampuan mempengaruhi suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Menurut Robbins (2001: 413) Kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Seorang pemimpin harus dapat mempengaruhi bawahan yang dipimpinnya supaya dapat mencapai tujuan yang diinginkan oleh unit kerjanya.
Schemerhorn (2001: 326) memberikan pernyataan bahwa pusat dari penelitian tentang perilaku kepemimpinan ini secara langsung adalah gaya kepemimpinan yaitu suatu pola perilaku yang secara berulang diperlihatkan oleh seorang pemimpin. Penelitian mengenai perilaku kepemimpinan ini digunakan untuk menguji alternatif-alternatif gaya kepemimpinan yang paling baik untuk dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Sedangkan menurut Flippo seperti yang diterjemahkan oleh Mas'ud (2000: 394) : Gaya kepemimpinan adalah pola perilaku yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan
individu untuk mencapai tujuan tertentu. Hersey dan Blanchard (1992 : 100) mengatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu gaya yang dapat memaksimalkan produktivitas dan kepuasan dan pertumbuhan maupun pengembangan dalam semua situasi dari kepemimpinan.
Riyadi (2011; 41) bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang dapat menjadi pemimpin (leader) melalui aktivitas yang terus menerus sehingga dapat mempengaruhi yang dipimpinnya (followers) dalam rangka mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Hubungan antara seorang pemimpin maupun yang dipimpin merupa-kan suatu proses kepemimpinan karena leader
needs followers and followers needs leader. Meskipun leader dan followers saling
terkait, namun para pemimpin seharusnya yang seringkali berinisiatif menjalin hubungan, komunikasi dan memelihara hubungan sehingga tujuan perusahaan sebagaimana yang telah dirumuskan dalam visi, misi, rencana dan strategi perusahaan dapat tercapai.
Thoha (2001) dalam Mamik (2010; 84) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah kemampuan (seni) pemimpin atau manajer untuk mempengaruhi orang lain berupa perilaku baik secara perorangan maupun kelompok dalam mengikuti kehendaknya baik langsung maupun tidak langsung. Kepemimpinan tersebut muncul bersamaan dengan perannya sebagai manajer. Peran manajer tersebut mengarahkan karyawan pada peningkatan kesadaran, pemahaman, dan kesediaan untuk mengikuti saran dan petunjuknya.
Kepemimpinan menurut Davis (1985) dalam Riyadi (2011; 42) “Leadership is the relationship in which one person, or the leader, influences
others to work togethet willingly on related tasks to attain that which the leader desires”, kepemimpinan adalah proses mendorong dan membantu orang lain
untuk bekerja dengan antusias guna mencapai tujuan.
Menurut Newstrom (2004: 228) mengatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah seluruh pola tindakan seorang pemimpin baik secara eksplisit maupun secara implisit seperti yang dilihat oleh bawahan. Jadi gaya kepemimpinan adalah sesuatu yang diperlukan dalam proses mempengaruhi serta mengarahkan orang lain dalam kelompok agar dapat bekerja sama melaksanakan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
Menurut Stoner (2001: 473) terdapat dua gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin dalam memimpin bawahannya yaitu gaya yang berorientasi tugas dan gaya yang berorientasi bawahan. Manajer yang berorientasi pada tugas memberikan pengarahan dan melakukan pengawasan secara ketat terhadap bawahannya untuk memastikan bahwa tugas yang dilakukan sesuai dengan apa yang diinginkan para manajer tersebut. Bagi para manajer bahwa pekerjaan itu dapat diselesaikan lebih penting daripada pengembangan bawahan. Para manajer yang berorientasi bawahan mencoba untuk memotivasi dan bukannya mengawasi bawahan.
Gaya kepemimpinan menurut Yukl (2004: 132) cenderung digolongkan menjadi :
1. Gaya Otokrasi atau Gaya Militer
Yaitu gaya kepemimpinan yang berlandaskan kekuasaan. Dalam memberikan perintah, pemimpin tidak memberikan satu kesempatan kepada anak buah
untuk bertanya atau mengemukakan pendapat. Tidak ada pendelegasian wewenang dan pemimpin tidak menjelaskan tentang keputusan yang diambil. Anak buah melaksanakan perintah karena rasa takut. Pemimpin yang menerapkan gaya ini umumnya dijauhi dan tidak diundang oleh karyawan. 2. Gaya Demokrasi atau Partisipasi
Gaya kepemimpinan yang memberikan kesempatan kepada anak buahnya untuk ikut mengambil bagain dalam pengambilan keputusan, hubungan antara anggota mencegah perselisihan dan ketegangan dalam organisasi, mengurangi frustasi dan sikap agresif, serta meningkatkan kepuasan kerja.
3. Gaya yang berorientasi pada kerja yang mengutamakan jumlah produksi a. Gaya yang mengutamakan pekerja, karyawan bebas melakukan pekerjaan
menurut cara mereka terbaik.
b. Gaya yang mengutamakan jumlah produksi, pekerja ditekan untuk meningkatkan jumlah produksi setinggi-tingginya, jadwal produksi dan target lebih diperhatikan daripada aspek manusiawi
4. Gaya Suportif atau Gaya yang mendukung anak buah
Pemimpin berusaha mendapatkan dukungan psikologis dari anak buahnya. Hubungan antara pemimpin dan anak buah didasarkan pada saling pengertian dan kebutuhan untuk saling mendukung. Pemimpin yang menganut suportif akan berlaku sebagai berikut :
a. Menyampaikan pujian bila anak buah melaksanakan pekerjaan dengan baik.
c. Membantu anak buah dalam mengatasi masalah.
d. Membela anak buah meskipun terpaksa bersitegang dengan orang lain. e. Tidak mencela anak buah dalam mengatasi masalah.
f. Memperjuangkan imbalan yang layak bagi anak buah. g. Tidak mengabaikan usulan anak buah.
Tanggung jawab manajer adalah memastikan bahwa pekerjaan direncanakan dan dikoordinasikan oleh koordinator masing-masing bagian sesuai sasaran. Karena itu sasaran harus dipahami dengan jelas oleh semua karyawan dan harus realistis. Konflik dan perbedaan pendapat dianggap wajar dan tidak perlu dihindari. Sebaliknya setiap masalah harus dipecahkan secara langsung dan terbuka.
2.3.3.3. J enis-J enis Kepemimpinan
Dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh Hersey dan Blanchard dihasilkan berbagai teori tentang kepemimpinan. Teori kepemimpinan itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Kepemimpinan Menurut Teori Sifat
Pendekatan ini menurut Hersey dan Blanchard diasumsikan bahwa dapat ditemukan sejumlah ciri individu terbatas dari kepemimpinan yang efektif. Ciri-ciri tersebut antara lain menyangkut tentang intelektualitas, emosional, fisik, kepercayaan diri, kepandaian berbicara dan lain-lain.
Dalam pendekatan menurut teori sifat dikatakan bahwa keberhasilan kepemimpinan terutama diakibatkan oleh dimilikinya sifat-sifat tertentu, yang
merupakan kepribadian pemimpin yang menonjol dibanding dengan sifat-sifat yang ada pada para bawahannya. Tetapi walaupun semua sifat yang dikemukakan para peneliti merupakan sifat ideal yang diinginkan dalam diri seorang pemimpin, dalam kenyataan tidak satupun pemimpin mempunyai seluruh sifat yang ideal secara sempurna.
2. Kepemimpinan Menurut Teori Perilaku
Pendekatan menurut teori perilaku mencoba untuk menentukan apa yang dilakukan oleh para pemimpin yang efektif, bagaimana mereka mendelegasikan tugas, berkomunikasi dan memotivasi bawahan, bagaimana mereka menjalankan tugas-tugas dan lain sebagainya.
3. Kepemimpinan menur ut teori situasional
Kepemimpinan situasional menurut Hersey dan Blanchard adalah didasarkan atas hubungan antara :
1. Perilaku tugas
Perilaku tugas ini diartikan sebagai tingkatan sejauh mana pemimpin memberikan petunjuk dan pengarahan kepada bawahannya, yaitu dengan memberitahukan mereka apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, kapan melakukannya, dimana melakukannya dan siapa yang melakukannya.
2. Perilaku hubungan
Perilaku hubungan merupakan tingkatan sejauh mana pemimpin berhubungan dua arah dengan bawahan, yaitu dengan cara mendengarkan dan memberikan dukungan atas pekerjaan yang dilakukan bawahan.
3. Tingkat kematangan bawahan
Kematangan bawahan diartikan sebagai besarnya kemampuan dan kemauan dari bawahan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Variabel-variabel kematangan itu sebaiknya hanya dipertimbangkan dalam kaitannya dengan pekerjaan tertentu yang perlu dilaksanakan. Jadi seorang yang matang dalam suatu pekerjaan tidak berarti bahwa dia matang untuk pekerjaan lainnya.
2.3.3.4. Indikator- Indikator Gaya Kepemimpinan
Mamik (2010: 88) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah gaya yang digunakan oleh seorang manajer untuk mempengaruhi, mengatur, dan mengkoordinasikan karyawan (bawahan) dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan yang efektif. Menurut Kreitner dan Kinicki (1989) dalam Mamik (2010: 88) menyatakan bahwa indikator yang digunakan untuk mengukur gaya kepemimpinan situasional antara lain:
1. Orientasi tugas, merupakan pemberian tugas oleh atasan kepada
bawahannya
2. Orientasi hubungan, merupakan kualitas hubungan yang terjalin antara atasan kepada bawahannya
3. Kekuasaan jabatan, merupakan kemampuan seorang atasan dalam