untuk menempatkan lautan sebagai masa depan dengan konsep Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Hal ini tentunya perlu kita dukung dengan ikut berpartisipasi aktif. Dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 East Asia Summit (EAS) tanggal 13 November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar, Presiden Jokowi menegaskan bahwa Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia sehingga agenda pembangunan akan difokuskan pada 5 (lima) pilar utama, yaitu membangun kembali budaya maritim Indonesia, menjaga dan mengelola sumber daya laut, memberikan fokus pada infrastruktur kelautan, melakukan diplomasi maritim, dan yang terakhir membangun kekuatan pertahanan maritim.
Dari kelima pilar Poros Maritim, pengembangan budaya maritim menjadi pilar poros maritim yang pertama rasanya tepat, karena kesadaran budaya merupakan hal pertama yang harus dibangun dalam merevitalisasi kejayaan maritim Indonesia. Secara lahiriah, Indonesia sudah berada di poros maritime. Sebagai negara kepulauan, laut dan bangsa Indonesia merupakan sebuah kaitan kuat yang tak terpisahkan sehingga tidak berlebihan apabila
dikatakan bahwa sifat hakiki negara Indonesia adalah maritim. Sebuah paradigma yang menuntut bangsa Indonesia memiliki mental dan adab budaya maritim yang kuat.
Hingga saat ini, mayoritas masyarakat belum menilai budaya dalam arti luas, sebagai suatu pikiran, akal budi, adat istiadat dan atau sesuatu yang sudah berkembang dan menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah.
Kita kenal tentang Majapahit, tapi bukan mengenai kejayaannya di masa lalu, melainkan tentang pergulatan kekuatan yang memungkinkannya muncul sebagai kerajaan yang besar dan kemudian runtuh sehingga menimbulkan arus balik yang hebat dalam sejarah. Kita belajar tentang pelaut Mandar bukan sekedar untuk mengagumi kehebatannya berlayar tapi untuk memahami bagaimana mereka bisa bertahan hidup sebagai komunitas maritim di tengah gerak memunggungi laut yang semakin menguat. Kita paham tentang orang Bajo dan Suku Laut bukan karena keunikan sejarah dan budaya mereka yang terkesan eksotik, tetapi karena dalam pandangan dunia merekalah kita bisa menemukan landasan untuk membayangkan negeri maritim di masa mendatang.
41
Belajar dari negara maritim
Selain belajar dari tinta emas catatan sejarah Indonesia, tentunya akan sangat baik jika negara ini pun belajar dari kesuksesan bangsa lain dalam membangun negaranya melalui konsepsi maritim.
Negara Denmark merupakan contoh negara yang memiliki konsepsi pembangunan maritim yang cukup komperhensif dan terintegrasi. Ada dua hal yang menarik untuk dipelajari dan ditiru dari negara Denmark yang pertama bagaimana Denmark mampu mendokumentasikan sejarah pembangunan maritimnya yang baik dengan rapih pada Museum yang dinamakan The Danish Maritime Museum. Museum yang telah beroperasi dari tahun 1915 ini memiliki koleksi dari tahun 1400 sampai saat ini. Model kapal, lukisan, foto, dan artefak yang mengambarkan Perang Napoleon serta perdagangan Denmark dengan China dan India juga terdapat dalam museum tersebut. Kedua, mengoptimalkan peran media hingga mampu memberikan informasi maritim yang cukup komprehensif. Bahwa negara sekecil Denmark mampu mengelola opini dan gagasan maritim untuk pembangunan negaranya dengan baik dan bisa menjadi rujukan pemerintah untuk mendorong
tumbuhnya media maritim yang komperhensif dalam mendukung pembangunan maritim.
Generasi muda terhadap kemaritiman
Generasi muda memiliki peran penting dalam meneruskan perjuangan para pendahulu dan pemimpin bangsa dalam meneruskan tongkat estafet perjuangan dalam membangun Indonesia sebagai bangsa maritim yang besar. Sebuah tanggung jawab besar dalam mendukung visi dan kebijakan pemerintah untuk membangun Indonesia menjadi poros maritim dunia.
Namun, hal ini pun perlu diperkuat dengan kemampuan, kesiapan mental yang dibangun dengan nilai-nilai budaya maritim. Budaya maritim tentunya perlu dibangkitkan sehingga dapat diyakini sebagai jati diri bangsa dan dirasakan akan arti pentingnya laut bagi bangsa dan negara Indonesia yang perlu diperjuangkan. Sehingga, disinilah peran pemuda untuk diberikan tempat, ditingkatkan kapasitas dan kecintaan juga kesadarannya sebagai bangsa bahari. Sehingga anak kecil, pelajar hingga mahasiswa dapat kemudian tergerak dan memiliki kemampuan untuk mengelola kekayaan laut Indonesia untuk kepentingan bersama.
42
Tantangan dan harapan kedepan
“Rule the sea, rule the World” Seperti negara Portugal yang kuat pada sektor maritim meskipun memiliki penduduk kurang dari 1 juta, pada abad 16, mampu menguasai Brazil, Angola, Mozambik, Macau, Timtim. Dengan luasnya wilayah Indonesia serta jumlah penduduk yang menempati urutan pertama di Asia Tenggara, tentu ini merupakan tugas besar dari berbagai pihak. Selain pemuda dibekali kemampuan dan mental budaya bahari yang dimiliki pendahulu, pemerintah pun perlu mendukung dengan adanya fasilitas kelautan yang nyaman dan efisien untuk berbagai bidang, dan tentunya mengembalikan kecintaan maritime yang dapat dimulai dari mengembalikan ingatan masyarakat secara luas akan sejarah kejayaan bangsa Indonesia sehingga menjadi bangsa yang dihormati oleh bangsa- bangsa dunia.
Dengan adanya kesadaran dan kecintaan akan jati dirinya sebagai bangsa bahari, akan timbul keinginan untuk saling membantu dalam peningkatan kapasitas serta menyebarkan informasi untuk pengelolaan yang memberikan manfaat kepada rakyat Indonesia. Tentunya hal ini memerlukan kerja sama berbagai instansi pemerintah
dan berbagai praktisi lintas studi. Misalnya dengan membuat tugasan kerja antara TNI Angkatan Laut, Universitas, Kementerian kelautan, kemenkomaritim, dan khususnya Kementerian Pendidikan dan budaya dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang kelautan dan mendokumentasikan penelitian sejarah kemaritiman Indonesia yang dapat dinikmati berbagai kalangan masyarakat. Kemudian penguatan kurikulum tentang sektor kelautan di buku pelajaran sejarah tidak hanya untuk masyarakat pesisir namun masyarakat Indonesia dan dunia secara keseluruhan sehingga terbentuk paradigma Indonesia sebagai bangsa maritim.
Indonesia telah memiliki beberapa museum bahari, namun sayangnya masih belum menjadi salah satu objek yang layak atau digemari. Padahal museum ini dapat berperan penting dalam mengungkap jati diri bangsa terkait kemaritiman dan menumbuhkan kebanggaan dan ketertarikan untuk mengetahui secara mendalam kebudayaan bahari bangsa melalui kajian dari multi disiplin ilmu serta berbagai sumber- sumber tertulis masa lampau yang merupakan sejarah kejayaan bahari nenek moyang Indonesia.