BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
2.2 Kependudukan
Berdasarkan data pada tahun 2014, jumlah penduduk Kota Duri sebanyak 270.822 jiwa. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1: Jumlah Penduduk Kota Duri
No Keadaan Penduduk Jumlah
1 Jumlah Kepala Keluarga 70.417 2 Penduduk Laki-laki 140.918 3 Penduduk Perempuan 129.904
Sumber: UPT Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kecamatan Mandau, 2014 Tabel di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk di Kota Duri sangat pesat. Kota Duri sudah menjadi kota yang padat penduduk. Perbandingan penduduk laki-laki dan perempuan di Kota Duri cukup berimbang. Walaupun demikian, dapat diketahui bahwa penduduk laki-laki di Kota Duri lebih banyak 11.014 dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan.
Tabel 2: Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur
No Tingkat Usia Jumlah
Sumber: UPT Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kecamatan Mandau, 2014 Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata penduduk yang ada di Kota Duri memiliki umur yang produktif, yakni umur 20-29 tahun 5, 85%, umur 30-39 tahun 5,5%, umur 40-49 tahun 7,45%, dan umur 50-59 tahun 1,40% .
Penduduk Kota Duri terdiri atas penduduk asli dan pendatang yang terdiri atas berbagai jenis suku, agama, budaya, dan sosial kemasyarakatan, seperti:
- Suku Sakai
Sakai adalah komunitas asli yang hidup di daratan Riau. Mereka selama ini sering dicirikan sebagai kelompok terasing yang hidup berpindah-pindah di hutan.
Mereka meyakini bahwa leluhur mereka memang berasal dari Negeri Pagaruyung.
Kehidupan mereka biasanya berada di daerah kampung, di tepi-tepi hutan, di hulu-hulu anak sungai, dan di tempat yang memiliki banyak ikan yang berguna untuk kehidupannya. Komunitas suku Sakai ini banyak terdapat di Kabupaten Bengkalis dan di Kecamatan Mandau22.
- Suku Melayu
22 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Propinsi Riau, Monografi Propinsi Riau 1981, Pekanbaru, Keluarga Berencana. hlm.11.
Suku Melayu adalah suku asli Riau. Mereka berdomisili di daerah Duri sejak zaman pemerintahan Kerajaan Sriwijaya berkuasa di Nusantara. Penduduk suku Melayu banyak tersebar mulai dari Sumatra sampai ke Negara Malaysia.
Mayoritas penduduk ini memeluk agama Islam. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah suku Melayu yang menduduki daerah Riau semakin berkurang. Hal ini disebabkan karena para pendatang menggeser posisi mereka sebagai tuan rumah.23
- Suku Minang
Suku ini sering juga disebut dengan sebutan orang Padang. Mereka berasal dari daerah Sumatra Barat. Dalam tradisi kebudayaan mereka, setiap anggota suku yang sudah dianggap dewasa haruslah pergi merantau ke tempat lain untuk mencari pekerjaan. Faktor tradisi inilah yang mendorong banyak suku ini dijumpai di setiap daerah yang ada di Indonesia. Mayoritas orang Minang memeluk agama Islam dan kebudayaan mereka sangat mirip dengan kebudayaan Melayu.24
23 Sa’Diah Musthafa Yatim, Adat Dan Upacara Perkawinan Daerah Riau, Pekanbaru, Biro Bina Sosial Tingkat I Riau, 1998/1999, hlm.11
24 Syahrial De Saputra, dkk, Persepsi Tentang Etos Kerja: Kaitannya dengan Nilai Budaya Masyarakat Melayu Daerah Riau, Riau, Proyek Pengkajian Dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Riau, 1996/1997, hlm. 76
- Suku Jawa
Suku Jawa adalah pendatang yang berasal dari Pulau Jawa. Kedatangan mereka banyak disebabkan oleh faktor pekerjaan. Mayoritas suku Jawa banyak yang tinggal di daerah perkebunan kelapa sawit dan mayoritas mereka memeluk agama Islam.25
- Suku Batak
Batak merupakan suku pendatang yang berasal dari Sumatra Utara. Awal mula kedatangan orang Batak ke daerah Duri berlangsung sekitar tahun 1950. Sejak kedatangan itu orang Batak semakin berkembang di daerah Duri dan semakin banyak jumlahnya. Suku Batak terdiri atas enam bagian, yaitu Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Angkola, dan Batak Pakpak Dairi. Keenam kelompok ini dapat ditemui keberadaannya di daerah Duri.
Berdirinya Gereja HKBP sebagai tanda bahwa di daerah ini memiliki suku Batak.26
Deskripsi Orang Batak
Batak merupakan istilah yang dipakai untuk menunjukkan kelompok suku yang mendiami daratan tinggi wilayah Sumatra bagian utara. Kelompok ini berasal dari keturunan yang disebut sebagai Raja Batak. Suku Batak berasal dari suku bangsa Melayu Tua yang mendiami Indocina atau Hindia belakang. Banyak
25 Sa’Diah Musthafa Yatim, op.cit. hlm.12.
26 Wawancara dengan Aleteng Pakpahan dirumahnya, Jalan Jawa, pada tanggal 31 Mei 2019.
pendapat yang mengatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari utara kemudian berpindah ke wilayah Filipina dan berpindah lagi ke wilayah Sulawesi Selatan. Setelah itu, mereka berlayar hingga akhirnya menempati wilayah Barus.
Dari sanalah mereka menyebar hingga ke pedalaman dan wilayah kaki gunung Pusuk Buhit yang berada di tepi Pulau Samosir. Hal ini juga disebut sebagai asal mula peradaban orang Batak.27
Suku Batak terbagi menjadi enam jenis, yakni suku Batak Toba, suku Batak Karo, suku Batak Pakpak, suku Batak Simalungun, suku Batak Angkola, dan suku Batak Mandailing. Keenam suku Batak tersebut memiliki ciri khas budaya yang berbeda-beda. Namun, pada prinsipnya akar budaya mereka sama, yakni budaya Batak.28
Sistem Religi
Di daerah Batak khususnya di Tapanuli Utara, pada umumnya menganut agama Kristen dan sebagian lagi ada yang beragama Islam, Katolik, dan Malim.
Orang Batak secara tradisional memiliki pemahaman bahwa alam ini beserta dengan isinya diciptakan oleh Debata Mulajadi Na Bolon.29 Debata Mulajadi Nabolon adalah Tuhan yang Maha Esa yang dianggap orang Batak memiliki kekuasaan yang terwujud dalam Debata Natolu, yaitu Siloan Nabolon yang menyangkut jiwa dan roh. Orang Batak mengenal tiga konsep, yaitu Tondi (jiwa
27 Simanjuntak Bungaran Antonius, Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2006, hlm. 25
28 Ibid., hlm. 18
29 Simanjuntak Bungaran Antonius, dkk, Karakter Batak; Masa Lalu, Kini dan Masa Depan, Jakarta, YOI, 2014, hlm. 168-169
atau roh seseorang yang sekaligus merupakan kekuatannya), Sahala (jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang), dan Begu (Tondi yang sudah meninggal)30.
Sistem Perkawinan
Dalam tradisi suku Batak, kebebasan seorang laki-laki dalam mencari pasangan hidup sangat terbatas dan diatur oleh orang tua. Anak laki-laki lebih ditekankan untuk menikahi pariban31. Hal ini banyak dilakukan oleh orang tua suku Batak zaman dahulu untuk menghindari pernikahan terlarang. Pernikahan terlarang dalam suku Batak adalah pernikahan antara satu marga (inces) dan juga pernikahan dengan suku lain.
Sistem Kekerabatan
Dalam kehidupan masyarakat Batak, ada sebuah tradisi yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari, yaitu hubungan kekerabatan. Hubungan kekerabatan terjadi dalam kelompok kekerabatan seseorang, yaitu antara kelompok kerabat tempat istrinya berasal dengan kelompok kerabat suami saudara perempuannya. Tiap-tiap kelompok kekerabatan tersebut memiliki nama sebagai berikut:
1) Hula-hula 2) Anak boru 3) Dongan tubu
Hula-hula adalah keluarga dari pihak istri (pemberi istri). Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat istiadat Batak
30 Ketika kematian terjadi, dalam kepercayaan tradisional Batak dipahami bahwa:
daging I gabe tano, hosa i gabe alogo, tondi I gabe begu.
31 Anak perempuan dari saudara laki-laki dari ibunya
(semua suku bangso Batak) sehingga semua orang Batak harus hormat kepada hula-hula (somba marhula-hula). Hula-hula mempunyai sifat yang peka dan rapuh. Jika tidak hati-hati dalam tindakan atau perlakuan terhadap hula-hula, mudah saja hubungan yang telah ada menjadi putus dan biasanya tidak bisa diperbaiki dan akhirnya terhapus sama sekali.32
Boru/anak boru (penerima istri) adalah pihak keluarga yang mengambil istri dari suatu marga (keluarga lain). Boru di dalam budaya Batak memiliki peran yang sangat penting. Tanpa boru orang Batak tidak akan mampu melakukan adat dengan baik. Peran boru dalam adat Batak adalah sebagai pelayan (parhobas).
Dalam kehidupan orang Batak, seorang boru harus bisa diambil hatinya, dimanja, dan juga dibujuk. Walaupun tugasnya sebagai pelayan, tidak menjadikan boru mendapat perlakuan semena-mena. Seorang Batak menekankan istilah Elek Mar Boru.
Dongan tubu atau dongan sabutuha adalah saudara satu marga dari pihak laki-laki (dari perut yang sama). Dongan tubu memiliki peran dalam mengatasi permasalahan kehidupan yang dihadapi oleh keluarganya. Dengan adanya dongan tubu, segala beban di dalam hidup akan semakin mudah dihadapi, baik dalam kebutuhan ekonomi maupun sosial. Dalam kehidupan, setiap orang Batak harus bijaksana kepada saudara semarganya. Apabila tidak bijaksana dalam berhubungan, akan terjadi keretakan dan pertikaian. Namun demikian, semua orang Batak (berbudaya Batak) harus bijaksana kepada saudara semarga atau dalam artian Bataknya Manat Mardongan Tubu.
32 T.M. Sihombing, Filsafat Batak: Tentang Kebiasaan-kebiasaan Adat Istiadat, Jakarta, Balai Pustaka,1986, hlm.76.
Melihat sistem kekerabatan yang terdapat dalam budaya Batak, banyak yang beranggapan bahwa dalam budaya Batak ada sistem pengkastaan di kehidupan sehari-hari. Hal itu merupakan anggapan yang salah. Walaupun adat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari orang Batak, tidak ada sistem pengkastaan di dalamnya. Hal ini terjadi di dalam kehidupan orang Batak karena mereka menerapkan sistem kekerabatan yang disebut dengan Dalihan Na Tolu.
Dengan menerapkan sistem seperti ini, semua orang Batak memiliki peran masing-masing dalam kehidupannya dan peran itu bukan untuk merendahkan status sosial mereka, melainkan lebih untuk menempatkan kedudukan mereka di dalam setiap kegiatan penting adat Batak.
Dalam kehidupan masyarakat Batak, sistem kepemimpinan terdiri atas tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
1) Bidang adat. Kepemimpinan pada bidang adat ini tidak berada dalam tangan seorang tokoh, tetapi berupaya menjadikan musyawarah Dalihan Na Tolu. Dalam pelaksanaanya, sidang musyawarah adat ini dipimpin oleh suhut (orang yang mengundang para pihak kerabat dongan sabutuha, hula-hula dan boru dalam Dalihan Na Tolu).
2) Bidang agama. Agama Kristen Protestan dan Katolik dipegang oleh Pendeta dan Pastor, agama Islam dipegang oleh Kyai atau Ustaz, dan agama suku/tradisional dipegang oleh Malim.
3) Bidang pemerintahan. Kepemimpinan dalam bidang pemerintahan ditentukan melalui pemilihan.
Suku Batak juga memiliki tradisi lain yang lebih unik yang tidak dimiliki oleh suku lain. Suku Batak memiliki pandangan bahwa sesama orang Batak adalah raja dan boru ni raja. Hal demikian dilakukan mereka untuk menjaga strata sosial dan kedudukan yang sama rata di antara orang Batak. Dengan demikian, seorang laki-laki dalam adat Batak disebut dengan raja dan perempuan dalam adat Batak disebut dengan boru ni raja. Dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut dengan istilah raja hula-hula, raja ni dongan tubu, dan raja ni boru.
Dalam bidang pertanian suku Batak mengenal tradisi gotong royong yang dalam istilah Batak disebut dengan Marsirumpa/marsiadapari (saling membantu).33 Sistem yang terjadi dalam tradisi marsirumpa adalah masing-masing anggota dari kelompok akan saling membantu dalam menyelesaikan lahan pertanian mereka, mulai dari masa mengolah tanah, menanam bibit, sampai masa panen. Keanggotaan dari kelompok marsirumpa adalah tidak terbatas dan sukarela. Kelompok ini terbentuk karena ada beberapa orang yang memiliki kebutuhan yang sama dan bersedia saling membantu.
Dalam menyelesaikan pekerjaannya, kelompok marsirumpa akan saling bergantian mengerjakan lahan setiap anggota kelompok. Perhitungan yang dilakukan untuk mencapai keadilan dalam setiap pekerjaannya adalah ketika kelompok marsirumpa mengerjakan ladang si A selama lima hari, kelompok tersebut akan menyelesaikan ladang si B selama lima hari dan demikian seterusnya sampai ladang semua anggota kelompok dikerjakan dengan waktu lima hari. Setiap anggota tidak akan memperoleh upah dalam bentuk materi. Dengan
33 H. Billy Situmorang, Ruhut-ruhut Ni Adat Batak, University of California, 1983, hlm. 127-128.
demikian, anggota kelompok marsirumpa yang ladangnya dikerjakan tidak perlu mengeluarkan banyak materi, cukup hanya memberikan makanan dan minuman saat bekerja.
Dalam bercocok tanam, suku Batak selalu mempelajari perubahan yang terjadi terhadap iklim. Misalnya saat musim hujan orang Batak akan menanam tanaman yang cocok untuk musim hujan dan ketika musim kemarau, orang Batak akan menanam tanaman yang cocok untuk musim kemarau. Tidak hanya itu saja, suku Batak juga selalu mempelajari struktur tanah dan jenis tanaman yang cocok untuk ditanam di wilayah mereka. Hal ini dipelajari suku Batak secara tradisional di dalam kehidupannya yaitu, Maniti Ari.34
Suku Batak merupakan suku yang sangat fanatik terhadap adat istiadat.
Segala kegiatan kehidupan sehari-hari mereka tidak pernah terlepas dari kebudayaan dan hukum adat yang mereka miliki. Jadi, dapat dikatakan bahwa kehidupan sehari-hari orang Batak diatur oleh sistem adat yang sudah berlaku.
Orang yang di dalam kehidupannya berperilaku tidak sesuai dengan adat yang berlaku, maka dia akan disebut sebagai orang naso maradat (yang tidak memiliki etika, moral, atau melanggar aturan adat). Ungkapan naso maradat di dalam kehidupan orang Batak adalah ungkapan yang sangat menyakitkan karena orang yang disebut demikian adalah orang yang dikucilkan dan dianggap ―kotor‖ dalam kehidupan komunitas.
Ungkapan naso maradat akan disampaikan kepada orang-orang yang melakukan perkawinan semarga dan perkawinan incest, pencurian pencemaran
34 Bungaran Antonius Simanjuntak, Sistem Perpindahan Penguasaan Sawah Pada Masyarakat Batak Toba, Medan, UNIMED 2005, hlm. 11
nama baik, pemerkosaan, serta perilaku lain yang dianggap meresahkan masyarakat pada umumnya. Orang Batak memercayai bahwa orang yang melakukan pelanggaran akan menerima sanksi yang diterima dari Tuhan yang mereka percayai, seperti penyakit, kesusahan hidup, bahkan sampai kematian.
Ketika seseorang mengatakan naso maradat terhadap orang Batak, dia akan marah. Orang Batak lebih baik dikatakan tidak beragama daripada tidak punya adat. Demi menjaga adatnya, orang Batak akan melakukan hal apa pun. Mereka tidak peduli mengeluarkan materi sebanyak apa pun bahkan sampai miliaran.
Tabel 3: Jumlah Penduduk Berdasarkan Suku
Suku Jumlah
Melayu 81.246 Jiwa Minang 108.328 Jiwa Batak 27.084 Jiwa Jawa 27.082 Jiwa Daerah Lainnya 27.082 Jiwa Jumlah 270.822 Jiwa Sumber: UPT Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kecamatan Mandau, 2014 Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas penduduk yang tinggal di Kota Duri adalah suku Minang dan suku Melayu. Sementara itu, jumlah suku yang lain memiliki jumlah yang hampir sama dengan minoritas. Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa budaya yang lebih berpengaruh di Kota Duri adalah budaya Minang dan Melayu. Walaupun demikian, tidak berarti budaya lain menjadi terbuang dan tertolak. Akan tetapi, masing-masing masyarakat saling menghargai dan menghormati dalam perbedaan budaya.
Dilihat dari komposisi penduduk Kota Duri yang penuh kemajemukan dengan latar belakang sosial budaya, bahasa, dan agama yang berbeda, pada
dasarnya merupakan warisan bagi daerah Duri. Agama yang dianut oleh penduduk Duri ini sangat beragam, seperti Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha.
Tabel 4: Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama
Sumber: UPT Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kecamatan Mandau, 2014 Tabel di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas penduduk Kota Duri adalah beragama Islam. Jadi apabila bepergian ke kota Duri, kita akan merasakan nuansa Islamiah yang berpadu dengan nuansa budaya Melayu di kota tersebut.
Akan tetapi walaupun penduduk kota Duri mayoritas Islam, hal ini bukan menjadi hambatan bagi agama lain untuk berbaur dan bersosial. Tingkat kerukunan beragama di Kota Duri sangat baik dan jarang sekali terjadi konflik antaragama di kota tersebut.
Berbagai sarana dan prasarana peribadatan terdapat di seluruh penjuru Duri. Berikut salah satu tempat peribadatan bagi masyarakat Duri, seperti:
- Bagi umat Islam terdapat Masjid Raya Arafah Duri, Masjid Agung Ushuludin PT Chevron, dan Masjid Agung AL-Kautsar.
Agama Jumlah
Islam 221.657
Kristen 43.193
Katolik 3.501
Hindu 69
Buddha 2.307
Konghuchu 19
Aliran Kepercayaan 76
Jumlah 270.822
- Bagi umat Kristen terdapat HKBP CPI Ressort Duri, HKBP Simpang Padang, HKBP Bukit Karmel, GPIB Bukit Zaitun, Gereja Katolik Santo Yosef, dan GBKP Duri.
- Bagi umat Buddha terdapat Vihara Pubbrama Duri.
Bahasa pengantar masyarakat Duri pada umumnya menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Minang dan bahasa Batak juga banyak digunakan oleh penduduk Duri. Selain itu bahasa Hokkien juga banyak digunakan oleh kalangan suku Tionghoa di Duri.