BAB IV: KEPENTINGAN THAILAND DALAM MENGIKUTI KERJA SAMA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) PADA TAHUN 2017
KEPENTINGAN THAILAND DALAM MENGIKUTI KERJASAMA EKONOMI ASEAN (MEA) PADA 2017
A. Kepentingan Thailand dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2017
Implementasi pasar bebas dan liberalisasi di sebagian besar sektor kehidupan merupakan keinginan terbesar diantara negara anggota ASEAN.
Harapannya adalah integrasi ekonomi secara regional di Asia Tenggara untuk mencapai keuntungan bersama atau win-win solution.65 Gagasan ini merupakan tahapan dari eksistensi ASEAN di awal berdirinya hingga sekarang yang telah disesuaikan dengan kondisi global. Thailand sebagai salah satu pendiri organisasi ASEAN dan gagasan Masyarakat Ekonomi ASEAN memiliki harapan tersendiri untuk pertumbuhan ekonomi dan perdagangan bebas tanpa hambatan tertentu.
Setiap negara anggota ASEAN memiliki keberagaman kepentingan baik bersifat politik maupun ekonomi. Masyarakat Ekonomi ASEAN dinilai mampu mencapai kepentingan kolektif meskipun terjadi perbedaan kepentingan. Thailand harus menerapkan kebijakan strategis dan sistematis untuk mendapatkan kepentingan nasionalnya. Momentum ini dijadikan kesempatan besar bagi Thailand untuk mempersaingkan seluruh sektor potensional kepada negara anggota ASEAN lainnya.66
65 Saowaruj Rattanakhamfu, Thailand Country Study ASEAN Economic Community Blueprint Mid-term Review Project, Thailand Development Research Institute, Juni 2017.
66 Royal Thai Embassy, “Thailand and ASEAN”. Artikel diakses pada 26 September 2020 dari https://thaiembdc.org/thailand-and-asean/
Thailand memiliki beberapa fokus sektor yang diutamakan dengan beragam potensi. Sektor ekspor yang diprioritaskan oleh Thailand adalah pertanian dan peternakan. Selain itu pemerintah Thailand secara luas mewajibkan masyarakatnya untuk mulai menerapkan bahasa asing khususnya bahasa Inggris. Beberapa komponen ini penting mengingat persaingan MEA pada 2017 tidak hanya mempersaingkan jasa dan produk melainkan kapasitas masyarakatnya. Sinergisitas diperlukan untuk mencapai kepentingan Thailand khusunya perbaikan pertumbuhan ekonomi mikro dan makro.
Kepentingan nasional itu sendiri menurut Neuchterlein terbagi menjadi kepentingan pertahanan, ekonomi, strategis, dan ideologi.67 Kerjasama Thailand dalam kerangka MEA terhadap seluruh negara anggota ASEAN dalam analisis Neuchterlein lebih dominan kepada kepentingan ekonomi. Ini dapat dipandang sebagai faktor kebutuhan ekonomi yang menciptakan kepentingan nasional itu sendiri seperti pertumbuhan ekonomi dan perbaikan neraca perdagangan.68 Fakta tersebut memberikan gambaran bahwa dasar pemikiran pemerintahan Thailand untuk mengikuti MEA adalah pertumbuhan ekonomi terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Salah satu bentuk kepentingan nasional adalah kepentingan
67 Prof. Donald E. Nuechterlain. 2000. America Recommitted: A Superpower Assesses Its Role in a Turbulent World (University Press of Kentucky, 2000). Dikutip oleh Margareta Erline Debata Raja dalam Kepentingan Rusia dalam Pembentukan Shanghai Cooperation Organization (SCO). eJournal Ilmu hubungan Internasional Universitas Mulawarman, 2013, 1 (2): 285-298.
68 Prof. Donald E. Nuechterlain. 2000. America Recommitted: A Superpower Assesses Its Role in a Turbulent World (University Press of Kentucky, 2000). Dikutip oleh Margareta Erline Debata Raja dalam Kepentingan Rusia dalam Pembentukan Shanghai Cooperation Organization (SCO). eJournal Ilmu hubungan Internasional Universitas Mulawarman, 2013, 1 (2): 285-298.
ekonomi yang cenderung menciptakan kerjasama dalam rangka perbaikan ekonomi.69
Pada pembahasan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa periode 2010-2015 perekonomian Thailand tidak mengalami perubahan signifikan bahkan cenderung bersifat fluktuatif. Kondisi fluktuatif tidak bisa dipertahankan apabila tidak ada kepastian akan kenaikan secara bertahap dan signifikan. Pengalaman krisis Asia 1998 menjadi ketakutan negara-negara di Asia Tenggara khususnya Thailand.
Ekspetasi perbaikan ekonomi yang membuat pemerintah Thailand berkerjasama dalam kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN. Indikator lainnya adalah Gross Domestic Product (GDP) untuk melihat kepentingan Thailand dalam kontestasinya di MEA. Berikut adalah gambaran tentang perkembangan GDP Thailand untuk pertimbangan analisis pembentukan kepentingan nasional Thailand, yakni :
Gambar 4.1 Perkembangan GDP Thailand periode 2010-2017
69 Alfred Marleku,”National Interest and Foreign Policy:The Case of Kosovo”, Mediterranean Journal of Social Sciences, Vol.4, No.3(2013):415.
Sumber : The World Bank. “GDP Growth Annual-Thailand”. Artikel diakses pada
27 September 2020 dari
https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.KD.ZG?end=2017&
locations=TH&start=1961
Gambar di atas menunjukkan grafik pada 2015 sampai 2017 mengalami kenaikan ketika proses keikutsertaan Thailand dalam MEA. Sedangkan rentan waktu 2010 sampai 2014 jumlah GDP Thailand menunjukkan angka fluktuatif atau bersifat naik-turun. Ketidakstabilitas inilah disebut kepentingan ekonomi sebagai prioritas Thailand untuk bergabung dalam kerjasama Masyarakat Ekonomi ASEAN. Kepentingan ekonomi lebih didominasi di kawasan Asia Tenggara dibandingkan kepentingan politik atau militer. Pertumbuhan ekonomi Thailand ditopang oleh sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi prioritas serta kelebihan bagi negaranya.
Keputusan ditentukan berdasarkan perhitungan potensi keuntungan maksimal oleh pemerintah Thailand dengan membandingkan sebelum dan setelah bergabung dengan MEA. Secara spesifik penurunan perdagangan produk ke luar negeri termasuk kawasan ASEAN mengalami penurunan. Tingkat penurunan disebabkan kendala masuk pasar yang dipenuhi dengan hambatan non tarif.Berikut adalah gambaran perkembangan periode 2010 sampai 2017 yakni :
Gambar 4.2 Perkembangan Perdagangan Produk Thailand 2010-2017
Sumber : CEIC. “Thailand TH: Goods Trade (GDP)”. Artikel diakses pada 27 September 2020 dari https://www.ceicdata.com/en/thailand/trade-statistics/th-goods-trade--of-gdp
Grafik di atas memperlihatkan penurunan sektor perdagangan produk dari 2011-2017 pada pemerintahan Thailand. Penurunan ini disebabkan kondisi pasar internasional masih dipenuhi dengan hambatan non tarif sebagai jebakan dari negara pengimpor produk Thailand. Penurunan ini berperan besar dalam pembentukan kepentingan nasional Thailand dalam menerapkan kebijakan luar negerinya. Ini juga mendorong Thailand berpartisipasi dalam kerjasama melalui kerangka MEA di kawasan Asia Tenggara. Ditegaskan juga bahwa produk yang diekspor adalah hasil pertanian dan perkebunan ke negara Asia Tenggara.
Mekanisme yang diterapkan oleh Thailand untuk mendapatkan kepentingan ekonomi adalah penggunaan kerjasama internasional. William D. Coplin mengartikan kerjasama internasional dibentuk melalui interaksi dengan tujuan
kolektif secara bilateral atau multilateral.70 Thailand membangun interaksi dengan negara anggota ASEAN dalam rangka penguatan ekonomi kawasan dan konsolidasi politik. Tujuan bersama dibentuk oleh anggota ASEAN dengan menyebutkan beberapa aspek dalam gagasan Masyarakat Ekonomi ASEAN, seperti perdagangan barang, jasa, dan interaksi masyarakat antarnegara.
Joseph S. Nye menyatakan bahwa dasar terbentuknya kerjasama adalah kebutuhan ekonomi dan pasar bersama. Intensitas tersebut tidak bisa dihalangi oleh negara sehingga pemerintah dapat melahirkan kesamaan berpikir dan bertindak.71 Thailand dengan beberapa negara anggota ASEAN lebih bersifat pada pembahasan tentang pertumbuhan ekonomi dan masalah kebutuhan dalam negeri. Beberapa data angka sudah ditunjukkan pada bagian sebelumnya terkait kondisi GDP dan arus perdagangan barang yang cenderung menurun. Berikut adalah beberapa kerjasama yang dibangun oleh Thailand dengan negara anggota ASEAN dan non-ASEAN dalam rangka penguatan MEA, meliputi :
1. Kerjasama Thailand dilaksanakan dengan Indonesia dikenal dengan Konferensi Permesinan dan Logam di Metalex, Bangkok pada November 2014.
2. Kerjasama Thailand-ASEAN dikenal dengan ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) yang melibatkan organisasi masyarakat khususnya pemuda yang mendorong pembangunan komunitas melalui people to
70 D.Coplin, W. Pengantar Politik Internasional : Suatu Telaah Teoritis. Terjemahan Marsedes Marbun. (Bandung: Penerbit Sinar Baru. 2003) Hlm. 282
71 Joseph S. Nye, Soft Power the Means to Success in World Politics, (New York: Public Affairs, 2004). Hlm. 54.
people. Sektor yang difokuskan adalah pendidikan, pembangunan identitas ASEAN, dan lingkungan hidup.72
3. Kerjasama Thailand-Singapura tentang platform pembayaran digital lintas antarnegara untuk kawasan Asia Tenggara. Singergisitas dalam bentuk penggabungan Paynow (Singapura) dan Promptpay (Thailand) sebagai program utama dalam mempermudah sistem transaksi ketika diterapkan MEA. Hubungan Thailand-Singapura akan menguatkan uang digital melalui transaksi telepon seluler dan nomor kartu identitas nasional.73 4. Kerjasama Thailand-Jepang dalam kerangka Japan-Thailand Economic
Partnership Agreement (JTEPA) sebagai penguatan hubungan investasi, pertukaran teknologi, pengiriman tenaga ahli, dan sektor strategis lainnya.74 Bentuk kerjasama ini sebagai alat Thailand untuk penguatan sektor strategisnya khususnya perbaikan kualitas masyarakatnya terkait penggunaan teknologi dan produk inovasi. Kerangka kerjasama ini disebut dengan ASEAN+3 yang secara khusus Thailand membangun hubungan dengan Jepang.
5. Kerjasama Thailand-Malaysia untuk penguatan Masyarakat Ekonomi ASEAN disebut dengan Initiatives for ASEAN Integration dan Thailand-Malaysia Cooperation in ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC).
72 Royal Thai Embassy, “Thailand and ASEAN”. Artikel diakses pada 26 September 2020 dari https://thaiembdc.org/thailand-and-asean/
73 Yustinus Andri DP, “Singapura dan Thailand Jalin Kerjasama Pembayaran Digital”,
Artikel diakses pada 27 September 2020 dari
https://kabar24.bisnis.com/read/20171005/19/696361/singapura-dan-thailand-jalin-kerja-sama-pembayaran-digital
74 Mofa, “Japan’s Economic Cooperation Program for Thailand”, Artikel diakses pada 26 September 2020 dari https://www.mofa.go.jp/policy/oda/region/e_asia/thailand.pdf
Perjanjian tersebut sebagian besar membahas tentang pengembangunan pariwisata, teknologi, pembangunan infrastruktur, pengembangan kapasitas manusia, dan industri halal.
6. Thailand-ASEAN meratifikasi ASEAN Compherensive Investment Agreement untuk memberikan kemudahan menerima investasi dari luar Asia Tenggara atau negara anggota ASEAN. Indonesia adalah satu-satunya negara yang tidak meratifikasi perjanjian tersebut. Perjanjian ini bersifat penting bagi Thailand yang sedang membutuhkan dana besar untuk pembangunan infrastruktur.75
7. Thailand-Indonesia-Malaysia Cooperation in Socio-Cultural Community sebagai kerjasama dalam bidang pendidikan dan kepemudaan.
Implementasinya adalah pertukaran pelajar, penguasaan bahasa asing, dan pertukaran tenaga ahli.76
Melihat beberapa kerjasama di atas dapat dicirikan bentuknya sebagai kerjasama bilateral. Suatu hubungan yang dilakukan oleh dua negara, seperti Thailand-Singapura, Thailand-Jepang, dan lainnya. Intensitas hubungan bilateral bersifat terarah dan mudah untuk menemukan kesepakatan sebab tidak terlalu banyak melibatkan aktor negara. Akan tetapi secara keseluruhan sistem Masyarakat
75 Cyntia Pornavalai, “Thailand: ASEAN Economic Community 2015 and Thailand”, Artikel diakses pada 26 September 2020 dari https://www.mondaq.com/international-trade-investment/166614/asean-economic-community-2015-and-thailand
76 Songsak Saicheua, “Thailand and Malaysia in The ASEAN Integration Process”, Artikel diakses pada 27 September 2020 dari http://www.polsci.tu.ac.th/fileupload/40/71.pdf
Ekonomi ASEAN bersifat multilateral. Bentuk kerjasama multilateral adalah hubungan yang melibatkan lebih dari dua aktor negara pada regional tertentu.77
Thailand bersama beberapa negara anggota ASEAN, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura membentuk national single window. Sistem perekonomian tersebut dapat mempermudah kepentingan ekonomi Thailand melalui kerjasama multilateral. Pemerintah Thailand meratifikasi ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) sebagai konsistensi penghilangan hambatan tarif dan non-tarif pada negara anggota yang meratifikasinya. Kerjasama multilateral berhasil menghilangkan kendala non-tarif sehingga kepentingan ekonomi Thailand dapat mudah tercapai. Dampaknya akan mempengaruhi pertumbuhan domestik dan memperbaiki neraca perdagangan internasional.78
Adapun perubahan pada Thailand baik sebelum maupun sesuah bergabung dengan MEA dijadikan indikator tingkat keberhasilan atau kegagalan. Ini penitng untuk mengetahui signifikansi MEA terhadap perbaikan pertumbuhan ekonomi Thailand. Berikut adalah perubahan pada tingkat pertumbuhan ekonomi di negara ASEAN dari sebelum hingga setelah adanya MEA, yakni :
Gambar 4.3 Kondisi Pertumbuhan Ekonomi Sebelum dan Setelah Masyarakat Ekonomi ASEAN
77Plano, Jack C & Roy Olton. 1982. The International Relations Dictionary, Third Edition.
Santa Barbara: Western Michigan University. Hal. 281
78 Cyntia Pornavalai, “Thailand: ASEAN Economic Community 2015 and Thailand”, Artikel diakses pada 26 September 2020 dari https://www.mondaq.com/international-trade-investment/166614/asean-economic-community-2015-and-thailand
Sumber : Weka Kanaka, Lucia Rita Indrawati, dan Rian Destiningsih, Analisis Perbedaan Sebelum dan Sesudah Diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Kekayaan di Negara Anggota ASEAN, Directory Journal of Economic, Volume 2, Nomor 3, 2020.
Sesuai dengan grafik pada gambaran di atas terdapat beberapa negara yang mengalami peningkatan ekonomi setelah diberlakukan MEA. Filipina, Thailand, dan Vietnam sebagai tiga negara yang diuntungkan. Thailand mengalami peningkatan pasca bergabung dengan MEA meskipun tidak meningkat signifikan seperti Vietnam. Thailand diuntungkan produk pertanian dan perkebunan di pasar MEA sehingga berdampak pada perbaikan ekonomi. Prioritas sektor ini dimanfaatkan secara maksimal oleh Thailand yang membuat pertumbuhan ekonomi menemukan peningkatan.
Data di atas juga secara langsung menyatakan posisi Thailand sebelum dan setelah diberlakukannya MEA di kawasan ASEAN. Thailand menjadi pasar dan kurang memiliki daya tawar untuk sektor perkebunan atau pertanian sebab bersaing
dengan Indonesia. Sebaliknya, diberlakukannya MEA membuat Thailand mampu memonopoli pasar di ASEAN khususnya sektor pertanian dan perkebunan. Ini terbukti dengan adanya peningkatan ekonomi yang menjadikan dua sektor tersebut sebagai andalannya di MEA.
Jadi, dapat dikatakan bahwa kepentingan nasional Thailand dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah kepentingan ekonomi untuk memperbaiki neraca perdagangan. Selain itu bertujuan untuk perbaikan kualitas masyarkat Thailand dan pertumbuhan GDP secara berkelanjutan melalui produk pertanian dan perkebunan. Kerjasama bilateral dilakukan dengan Jepang, Singapura, Indonesia, dan secara multilateral dengan negara anggota ASEAN secara keseluruhan.
Kepentingan nasional sebagai faktor utama pembentukan keputusan untuk menerapkan kerjasama internasional bagi Thailand di kawasan Asia Tenggara.
B. Peluang dan Hambatan bagi Thailand dalam Kerjasama Masyarakat