BAB II LANDASAN TEORI
E. Kepercayaan Terhadap Pasangan
Setelah membahas mengenai kepuasan perkawinan, pada bagian ini akan dilanjutkan dengan membahas mengenai kepercayaan terhadap pasangan. Penjelasan mengenai variabel ini akan dimulai dengan definisi, dilanjutkan dengan aspek-aspek yang membentuk variabel, dan terakhir adalah proses dan dampak.
1. Definisi Kepercayaan Terhadap Pasangan
Kepercayaan didefinisikan sebagai hubungan timbal balik antara pemberi kepercayaan dan penerima kepercayaan yang dibentuk melalui interaksi satu sama lain (Chang, Yang, Yeh, & Hsu, 2016). Di dalam sebuah hubungan, kepercayaan mampu meningkatkan rasa aman dan membuat pasangan leluasa dalam berbagi perasaaan dan harapan (Stinnett & Walters dalam Larzelere & Huston, 1980). Di samping itu, Menurut Scanzoni (dalam Rempel, Holmes,
& Zanna, 1985), kepercayaan adalah kesediaan seseorang dalam mengatur kembali dan menyerahkan aktivitasnya kepada orang lain karena yakin bahwa orang tersebut akan memberikan kepuasan yang diharapkan. Menurut Larzelere & Huston (1980), kepercayaan dapat diraih apabila seseorang telah percaya kepada orang lain bahwa orang tersebut memiliki kebaikan hati dan kejujuran. Menurut Rotter (dalam Rempel et al., 1985), kepercayaan dianggap sebagai harapan umum seseorang bahwa ia dapat mengandalkan kata-kata, janji dan pernyataan baik tertulis maupun lisan dari orang lain ataupun pasangannya.
Kepercayaan terhadap pasangan pada awalnya diteliti oleh beberapa tokoh yang bernama Rempel, Holmes, dan Zanna pada tahun 1985. Berdasarkan penelitian tersebut, kepercayaan terhadap pasangan diartikan sebagai suatu kekuatan dalam sebuah hubungan, di mana di dalamnya terdapat perasaan yakin dan aman yang berasal dari respon kepedulian pasangan (Rempel et al., 1985).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kepercayaan adalah suatu harapan atau keyakinan seseorang kepada pasangannya atas perkataan maupun janji pasangan yang akan membantu tercapainya kepuasan dan rasa aman dalam sebuah hubungan. Kepercayaan juga merupakan keyakinan bahwa pasangannya akan berperilaku sesuai harapan.
2. Aspek Kepercayaan Terhadap Pasangan
Menurut Rempel et al. (1985), ada tiga aspek utama mengenai kepercayaan terhadap pasangan. Aspek kepercayaan terhadap pasangan tersebut, yaitu :
a. Predictability (Keadaan yang dapat diperkirakan)
Hal ini merupakan kemampuan seseorang dalam memperkirakan atau meramalkan perilaku pasangannya di masa yang akan datang. Seseorang dapat mengetahui perilaku pasangannya berdasarkan interaksi bersama dengan pasangan, pengalaman di masa lalu dan proses belajar selama menjalin hubungan. Selanjutnya, pasangan yang telah menemukan urutan perilaku tertentu yang konsisten dapat membentuk stabilitas dan kontrol atas pola perilaku yang ditunjukkan pasangan. Seseorang yang dapat meramalkan perilaku pasangan dengan baik dapat saling memahami dan saling mengerti perilaku masing-masing sehingga dapat menghadapi situasi yang akan datang.
b. Dependability (Keadaan yang dapat diandalkan)
Hal ini mengacu kepada kepercayaan seseorang dapat ditempatkan pada diri pasangannya. Artinya, pasangan memiliki hasil evaluasi karakteriktik yang berkualitas dengan sikap yang responsif. Dengan kata lain, seseorang yang yakin bahwa pasangannya dapat diandalkan jika pasangan memberikan respon secara tanggap dan dapat memenuhi kebutuhannya.
Untuk itu, hal ini juga mencakup harapan seseorang bahwa pasangannya dapat memberikan perlindungan, perhatian dan rasa peduli.
c. Faith (Keyakinan)
Hal ini dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang bahwa pasangannya dapat menjaga komitmen dan berani mengambil risiko dalam membuat keputusan di masa depan. Bentuk keyakinan ini tidak dilihat dari pengalaman masa lalu tetapi lebih cenderung membutuhkan pembuktian komitmen yang nyata. Di samping itu, situasi-situasi atau tekanan yang baru dianggap sesuatu yang tidak dapat diantisipasi sehingga membutuhkan kekuatan keyakinan. Pasangan yang memiliki keyakinan yang tinggi cenderung menyingkirkan perasaan-perasaan negatif dan keraguan yang dirasakan serta yakin bahwa pasangannya akan tetap cepat tanggap dan peduli meskipun adanya perubahan yang tidak pasti di masa depan.
Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa aspek kepercayaan terhadap pasangan di antaramya, keadaan yang dapat diperkirakan, keadaan yang dapat diandalkan dan keyakinan.
3. Proses dan Dampak Kepercayaan Terhadap Pasangan
Kepercayaan dapat berkembang dengan baik apabila pasangan dapat menanggulangi tingkat kekhawatirannya saat sedang menjalin hubungan. Pada dasarnya, pasangan dapat dengan kuat menerka perilaku pasangan dari
pengalaman sebelumnya. Menurut Rempel et al. (dalam Holmes & Rempel, 1989), mengungkapkan bahwa perkembangan kepercayaan dapat dilihat dari perilaku pasangan yang dapat diramalkan (Predictability). Sehubungan dengan itu, pasangan dapat membangun kepercayaan dari interaksi-interaksi yang sebelumnya telah dilalui. Untuk itu, pasangan yang stabil dan memiliki pikiran yang positif kepada pasangannya dapat saling berbagi ketertarikan, nilai-nilai, dan membangun komitmen yang kuat (Kelly & Thibaut dalam Holmes & Rempel, 1989). Akan tetapi, pasangan yang memiliki perilaku yang berubah-ubah dan tidak menentu dapat mengganggu harapan dari pasangannnya. Selain itu. Pasangan juga akan merasa cemas dan memunculkan atribusi yang tidak jelas.
Pasangan dapat disebut sebagai seseorang yang bisa dipercaya apabila ia melakukan sesuatu bukan karena dia sekedar dapat melakukannya melainkan ia menunjukkan bahwa ia benar-benar peduli. Selanjutnya, pasangan dapat dilihat lebih bisa dipercaya (Dependability) apabila ia menunjukkan bahwa ia bisa diandalkan, jujur, kooperatif, baik, dan suka menolong (Johnson-George & Swap, 1982; Larzelere & Huston, 1980; Rempel et al., 1985 dalam Holmes & Rempel, 1989).
Dalam perkawinan, hubungan romantis digambarkan sebagai hubungan yang minim pengalaman dan terasa sangat berarti. Hubungan yang sedang hangat tersebut dianggap dapat memenuhi harapan dan bayang-bayang dari keinginan pasangan (Holmes & Rempel, 1989). Pada tahap ini, kepercayaan masih didasari oleh perasaan yang sedang menggebu-gebu, didukung dengan
perasaan yang timbal-balik sehingga menciptakan optimisme untuk memungkiri bahwa pasangan cenderung kekurangan bukti kepastian yang cukup (Holmes & Rempel, 1989). Menurut Larzelere & Huston (dalam (Holmes & Rempel, 1989), pada masa ini, kepercayaan cenderung tinggi dan sangat kuat berhubungan dengan cinta antar pasangan yang sedang menjalin hubungan dekat. Hal senada juga diungkap oleh Larzelere & Huston (dalam Holmes & Rempel, 1989), masa awal perkawinan cenderung memiliki kepercayaan yang tinggi dan berhubungan dengan cinta sehingga mampu memulihkan tingkat komitmen dalam hubungan.
Menurut Holmes & Rempel (1989), Pasangan yang semakin dalam terikat pada suatu hubungan akan semakin menyadari dan meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap kemungkinan sakit hati yang bisa saja terjadi. Pasangan akan mulai meningkatkan harapan dan kepercayaan mereka di masa depan. Hal ini dapat meningkatkan ketergantungan kepada pasangan. Namun, ketergantungan yang meningkat tersebut juga cenderung menimbulkan kecemasan. Akan tetapi, ketidakpastian yang muncul dapat dikurangi dengan cara lebih peka terhadap perilaku kepedulian pasangan. Kepercayaan dapat memungkinkan pasangan untuk mengurangi masalah psikologis dan kembali menguatkan emosi cinta yang dirasakan.
Tambahan, seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap pasangan cenderung mempunyai harapan, sikap optimisme dan pemikiran yang positif (Holmes & Rempel, 1989). Selain itu, orang tersebut juga mampu menyelesaikan masalah dalam hubungannya di mana ia akan
secara tanggap bertanggungjawab memenuhi kebutuhan dan perasaan pasangannya (Holmes & Rempel, 1989). Selanjutnya, ia juga tidak menghindari elemen-elemen negatif dalam hubungannya tetapi cenderung memilih untuk berkomunikasi dengan pasangan (Holmes & Rempel, 1989). Di sisi lain, seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap pasangan cenderung memiliki perasaan takut dan berjaga-jaga apabila pasangan akan kembali membuat ia kecewa (Holmes & Rempel, 1989). Sesudah itu, seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan yang rendah juga cenderung menghindari masalah yang sedang terjadi dan malah menyiapkan penjelasan dari masalah di masa lalu. Hal ini akan cenderung memunculkan kurangnya komitmen untuk menyelesaikan masalah sehingga pasangan dapat kehilangan kesempatan untuk memulihkan kembali kepercayaan dengan cara menunjukkan perhatiaan dan kepedulian. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Holmes (dalam Holmes & Rempel, 1989), bahwa permasalahan di dalam perkawinan timbul dikarenakan sikap mengabaikan atau tidak peduli dari pasangan dan usaha untuk mengontrol pasangan.