• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : LANDASAN TEOR

B. Kepribadian (

2. Kepribadian dalam Islam

Malik D. Badri mengatakan sebagai berikutMemang benar bahwa teori kepribadian dapat menjadi sebuah subyek yang sulit jik a ditinjau dari sudut pandang Islami. Suatu hal mungkin kita bisa berbicara langsung tentang sebuah “teori kepribadian yang Islami” secara tepat. Bagi seorang muslim, Islam merupakan ungkapan keseluruhan dalam hidupnya. Ini memang sebuah kebenaran yang sesungguhnya.30 31

Al-Qur’an juga memberikan gambaran tentang hal tersebut, Firman Allah dalam surat Al-Baqarah: 208.

a s r j £ J

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam 1 1

Islam secara keseluruhan”.

Sedangkan pengertian kepribadian muslim, menurut Ahmad D. M arimba ialah sebagai berikut:

Kepribadian muslim adalah kepribadian yang seluruh aspek- aspeknya yakni baik tingkah laku luamya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidupnya dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan penyerahan diri padanya.32

Dari pengertian diatas, maka kepribadian muslim itu merupakan keseluruhan kualitas dari pada seseorang meliputi tingkah laku luamya, seperti cara-caranya berbuat, berbicara dan meliputi kegiatan-

29 Winamo Surahmat, Dasar dan Teknik Risearch, Bandung, Tarsito, 1977, him. 94 30 Malik D. Badri, Delima Psikologi Muslim, Jakarta, Pustaka Firdaus, 1994, him. 69 31 Departemen Agama, A l-Q ur’an dan Terjemahnya: CV. Asy-Syifa’, Jakarta, 1992, him. 50

’2 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, PT. Al- Ma’arif, 1981, him. 68

kegiatan jiw anya seperti cara berfikir, sikap, minat dan filsafat hidup serta kepercayaan sesuai dengan ajaran Islam

Untuk membentuk kepribadian muslim, bukan hal yang mudah tetapi berangsur secara perlahan dan merupakan suatu yang berkembang. Oleh karena pembentukan kepribadian muslim merupakan sebuah proses.

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa: orang muslim memiliki kepribadian yang harmonis.

Artinya: “ Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat

Sedangkan kepribadian itu disebut harmonis, menurut Drs. Ahmad D. Marimba: Kalau segala aspek seimbang, tenaga-tenaganya seimbang pula sesuai dengan kebutuhan dan seimbang antara peranan

Oleh karena itu, kepribadian yang harmonis itulah yang akan dituju oleh pembentukan kepribadian. Dalam rangka pembentukan kepribadian muslim, harus dimulai sejak dini, yaitu sejak anak belum

33 Departemen Agama, A l-Q ur’an dan Terjemahnya: CV. Asy-Syifa’, 1992, him. 36 4 Ahmad D. Marimba, ibid., him. 75

Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.

30

lahir sampai anak menjadi dewasa, karena pembentukan kepribadian itu memerlukan waktu yang lama.

Jadi pembinaan kepribadian anak itu tidak hanya dilalui setelah anak itu lahir, melainkan dimulai sejak ia berada di kandungan, bahkan lebih jauh dimulai sejak adanya pemilihan jodoh.

Ketika bayi itu lahir, ia belum mengetahui apa-apa dan ia masih sangat jemih lemah keadaannya, firman Allah SWT:

Artinya: “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan

Penanaman jiwa taqwa, menuju pribadi yang mulia harus sejak itu lahir, sebagaimana diajarkan agama Islam, yang memerintahkan supaya bayi itu harus di-adzankan agar pengalaman pertama yang diterimanya adalah kalimah suci yang membawa ketaqwaan kepada Allah SWT.

Hal ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW:

35 Departemen Agama, Al-Qur'an dan Terjemahnya: CV. Asy-Syifa’, 1992, him.

tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” .35

t > : 'J3 f.o -a ^

5

^ ' 6 ° IsJj :

S

j j j a

J 1 >

(_£^)juuil Aj^f ^9

j ^^Xajll A_j^f ^9 ^jpts

a

J

a

J

j

(

c i

W

•»

j j

)

^ ^

Artinya: “ Dari Abi Hurairah ra. berkata: Diriwayatkan dari Nabi SAW. “ Barang siapa lahir anaknya, kemudian di- adzankan pada telinga kanannya dan ia di-iqomatkan pada telinga kirinya, maka bayi itu akan terhindar dari gangguan Ummu Sibyan (Syaithan)”.36

Berdasarkan uraian permasalahan diatas, maka sudah jelas bahwa mencapai kualitas pribadi muslim yang tinggi hams dimulai sejak dini, dan yang sangat berpengaruh adalah orang tuanya, sebab kedua orang tuanya itu merupakan orang pertama yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian anak.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian.

Kepribadian manusia itu dapat berubah, berarti ia mudah atau dapat dipengaruhi oleh sesuatu. Maka oleh karena itu ada usaha untuk mendidik kepribadian, membentuk kepribadian mendidik watak, atau membentuk watak.

36Imam Ghozali,

32

Sedang untuk mencapai manusia yang berkualitas berkepribadian muslim, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, sebagaimana disebutkan dalam hadist Nabi Muhammad SAW:

il'jjti sJW l

’J j j

V!

: fLfj

^ - 1 1 a

A

l J j J <1 M . j o ? 3 ^ ‘ V A _ j l J

Artinya: “Dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya ia berkata : Rasulullah telah bersabda : “ Tidak ada seorang anak yang dilahirkan kecuali dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya yang menjadikan mereka Yahudi atau Nasrani atau Majusi” (H.R. Imam Muslim)37

Maksud dari hadist diatas adalah :

• Setiap bayi yang barn lahir dalam keadaan masih suci, belum mempunyai dosa dan kesalahan, ia mempunyai kesediaan untuk menerima Islam, inilah fitrah yang sebenamya.

• Dalam masa perkembangannya, faktor lingkungan sangat mempengaruhi bagi kepribadiannya, terutama kedua orang tua, baik dalam perkembangan jasmani, maupun perkembangan rohaninya.

Omar Mohammad Al-Syaibani telah berkata dalam hal ini:

Bahwa insan dengan seluruh perwatakannya dan ciri pertumbuhannya adalah hasil dari pencapaian dua faktor, yaitu faktor warisan dan lingkungan. Dan faktor ini mempengaruhi insane dan berinteraksi dengannya sejak hari pertama ia jadi embrio hingga akhir hayat. Oleh karena begitu kuat dan bercampur aduknya peranan dan faktor ini maka sukar sekali untuk menunjukkan perkembangan tubuh atau tingkah laku secara pasti

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian muslim secara garis besamya ada dua faktor:

1. Faktor intern

Adapun yang termasuk faktor intern atau faktor dalam atau faktor pembawaan adalah segala sesuatu yang telah dibawa oleh anak sejak lahir, yakni fitrah yang berarti suci yang merupakan bakat bawaan dan kesucian anak-anak yang lahir dari pengaruh- pengaruh luar. Kata fitrah ini sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Ar-Ruum ayat 30:

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada

38 Omar Mohammad Al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan

kepada salah satu dari dua faktor.

agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah 38

34

menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” Dengan demikian jelaslah bahwa, setiap anak yang lahir ke dunia ini, membawa naluri keagamaan yang nantinya akan ikut mempengaruhi pembentukan kepribadian dalam dirinya.

2 . Faktor ekstern.39 40

Yang dimaksud faktor ekstern adalah segala sesuatu yang ada di luar manusia, yang dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian pada seorang anak. Dalam membahas masalah ini akan peneliti kemukakan masalah:

a. Pengaruh keluarga

Setelah bayi itu lahir, bagi orang tua yang taat menjalankan agama, akan bersyukur dan bertawakal kepada Allah serta menyebutnya dengan gembira.

Kemudian didalam keluarga sebagaimana fimgsinya memberikan pendidikan bagi anak yakni memberikan pengalaman kepada anak, baik melalui penglihatan, pendengaran, perasaan, maupun membiasakan terbentuknya kepribadian yang diinginkan oleh kedua orang tuanya.

39 Departemen Agama, A l-Q ur’an dan Terjemahannya, Semarang, CV. Toha Putra, 1989, him. 649.

40 Zakiyah Darajat, Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Mental, Jakarta, Bulan Bintang, 1993, him. 50.

Sehubungan dengan itu Dr. Zakiyah Darajat mengatakan sebagai berikut:

Orang tua adalah pembina pribadi pertama dalam hidup anak. Kepribadian orang tua, sikap, dan cara hidup mereka merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung dengan sendirinya akan masuk dalam pribadi anak yang sedang tumbuh.41

Jika dikaitkan dengan kejadian manusia pada dasamya manusia itu dalam keadaan fitrah. Dr. Ahmadi menjelaskan tentang pengertian fitrah manusia adalah

Menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada dan masih merupakan pola dasar yang perlu penyempumaan.42 Sedangkan Drs. H.M.Arifm, M.Ed. menyatakan dalam masalah ini sebagai berikut:

Bahwa lingkungan keluarga adalah pendidikan pertama yang menjadi pangkal atau dasar hidup kemudian hari. Pendidikan keluarga ini karena sangat besar pengaruhnya atas anak dapat menentukan arah hidup di masa dewasanya dalam masyarakat.43

Oleh karena itu orang tua atau keluarga adalah pusat kehidupan rohani bagi anak menuju pembentukan kepribadian muslim.

b. Pengaruh sekolah

Sekolah adalah merupakan lingkungan pendidikan yang kuasa setelah lingkungan keluarga. Yang juga mempunyai

41 Ibid., him. 56.

42 Ahmadi, 11mu Pendidikan Islam, IAIN Walisongo, Salatiga, 1987, him. 44. 43 M. Arifin, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama D i Lingkungan Sekolah dan Keluarga, Jakarta, Bulan Bintang, 1978, him. 94.

36

peranan besar dalam pembentukan kepribadian anak muslim sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr. Mahmud Yunus sebagai berikut:

Kewajiban sekolah adalah melaksanakan pendidikan yang tidak dapat dilaksanakan di rumah tangga, pengalaman anak di rumah dijadikan dasar untuk pelajaran di sekolah, tingkah laku anak yang kurang baik diperbaiki, tabi’at yang salah dibetulkan, perangai yang kasar diperhalus, dan begitu seterusnya.44

Dalam Zakiyah Daradjat juga mengatakan sebagai berikut: Sekolah adalah lembaga pendidikan formal, yang secara teratur dan terencana melakukan pembinaan terhadap generasi muda. Fungsi sekolah tidak hanya memberikan pendidikan dan pengajaran yang secara formal yang mempengaruhi pembinaan generasi muda, akan tetapi sekolah dengan semua tenaga dan alat pengajaran merupakan unsure pembina bagi generasi muda. Artinya, bahwa guru bagi muridnya tidak hanya merupakan pengajar yang memberikan ilmu dan ketrampilan baginya, akan tetapi guru adalah contoh dan tauladan bagi pembinaan anak didik. Sikap guru, kepribadiannya, agamanya, cara bergaul pada sesama guru, masyarakat, caranya berpakaian dan keseluruhan penampilannya adalah unsur-unsur penting dalam pembinaan anak didik.45

Dr. Ahmadi mengatakan bahwa pendidikan di sekolah sangat memegang peranan penting dalam mengembangkan fitrah dan sumber daya insani.46 Untuk itu pendidikan mempunyai tiga fungsi yaitu:

1. Untuk mengembangkan wawasan subyek didik mengenai dirinya dan alam sekitamya.

44 Mahmud Yunus, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran, Jakarta, Hida Karya Agumg, 1978, him. 71

45 Zakiyah Daradjat, op. c/7.,hlm. 141. 46 Ahmadi, op. cit., him. 11.

2. Untuk melestarikan nilai-nilai insani yang akan menjadi filter bagi wawasan hidupnya, sehingga wawasannya menjadi tepat.

3. Untuk membuka pintu ilmu pengetahuan dan berbagai ilmu ketrampilan.

Adapim pengertian pendidikan agama Islam menurut Dr. Ahmadi:

Usaha untuk lebih khusus ditekankan untuk

mengembangkan fitrah keberagamaan dan sumber daya insani agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam 47

c. Pengaruh masyarakat.

Lingkungan ketiga yang mempengaruhi pembinaan anak remaja dalam pembentukan kepribadian muslim adalah masyarakat. Masyarakat dalam pengertiannya yang paling sederhana: Kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaan dan agama.48

Sedangkan masyarakat yang dianggap sebagai masyarakat Islam adalah “Masyarakat yang mengetrapkan Islam dalam aspek aqidah, ibadah, kepribadian, dan undang-undang dan system Islam”.49 Ahmad D. Marimba mengatakan sebagai berikut: corak ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang

47 Ibid., him. 10.

48 Omar Muhammad Al-Syaibani, op. cit., him. 16. 49 log. cit.

38

baik pembentukan pengertian (pengalaman) sikap, dan minat maupun kesusilaan dan keagamaan.50

Pembentukan kepribadian sangat diperlukan pembiasaan dan latihan-latihan yang sesuai dengan perkembangan jiwanya.

4. Proses Pembentukan Kepribadian Anak.

Terbentuknya kepribadian muslim sesuai dengan tujuan, pekeijaan itu bukanlah pekerjaan biasa sekali jadi, melainkan berlangsung secara bertahap oleh karena itu pembentukan kepribadian anak itu melalui proses.

Adapun proses terbentuknya kepribadian muslim dapat peneliti klasifikasikan menjadi tiga:

a) Pembiasaan.

Dengan pembiasaan ini ditnaksudkan untuk membentuk aspek kejasmaniahan dari kepribadian atau memberi perbuatan dan ucapan suatu pengetahuan, dan senatiasa anak dapat memelihara tingkah laku yang baik hingga mereka dewasa.

Pembiasaan tidak hanya digunakan untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan saja, akan tetapi arti yang penting dari pembiasaan itu adalah pemeliharaan tingkah laku yang baik setelah mereka dewasa.

b) Pembentukan sikap dan minat.

Kalau pada taraf pertama pembentukan dan tujuan agar anak dewasa, bertingkah laku yang baik. Maka pada taraf kedua diberikan pengetahuan dan pengertian beberapa amalan, pada taraf ini perlu ditanamkan dasar kesusilaan yang erat hubungannya. Dengan kesusilaan dan kepercayaan, diharapkan dapat digunakan sebagai tenaga kejiwaan (cipta, rasa, karsa) agar amalan-amalan yang sudah dibiasakan itu mengetahui maknanya dan maksudnya. Selanjutnya Ahmad D. Marimba dapat ditanamkan pengertian tentang arti penting dalam rangka pembinaan ini, terbentuklah pembiasaan (sikap) dan pandangan mengenai hal-hal tersebut, misalnya menjatuhkan sikap dengki, menepati janji, dan lain sebagainya. Selanjutnya adanya rasa ketuhanan disertai dengan pengertian, maka minat dapat diperbesar dan ikut serta dalam pembentukan ini.

Dari keseluruhan taraf ketiga ini akan dicapai:

a. Pengertian pokok pembiasaan dalam jiwa ini serta sangkut pahutnya dengan amalan jasmaniyah, pengertian ini meliputi : nilai-nilai kesusilaan dan tentang apa yang tidak baik.

b. Kecintaan terhadap kebaikan dan kebencian terhadap kejahatan (sikap) yang mendorong seseorang berbuat baik dan menjatuhkan dari perbuatan jahat serta ia harus

40

terlebih dahulu mengerti apa yang jahat serta harus mencintai hal- hal yang baik dan membenci hal-hal yang jahat.

c. Merasa berkepentingan dalam melaksanakan kebaikan akan mendapat atau mempunyai niat, dan selanjutnya minat akan mendorong pelaksanaan apa yang telah dipahaminya dalam perbuatan.

d. Ketiga hal ini dapat memerintahkan hasil usaha ke arah keyakinan dengan dasar (bukan turunan) terhadap pokok kepercayaan yang akan ditanamkan pada taraf ketiga.51

c) Pembentukan robani yang luhur.52

Setelah berbuat pada taraf kedua maka berangsur akan mencapai taraf ketiga yaitu pembentukan kerohanian yang luhur.

Pembentukan kerohanian ini sebagai dasar disebut pembentukan sendi untuk taraf ini, Ahmad D. Marimba mengatakan :

Alat yang utama adalah dengan tenaga budi dan kejiwaan sebagai alat tambahan pikiran yang disinari oleh pendapat pengenalan Tuhan, hasilnya adalah apa yang segala yang dipikirkannya dipilihnya, dan diputuskannya, serta dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.53

Kalau taraf ketiga ini telah dapat tercapai, maka seseorang akan mendorong untuk mentaati hal-hal yang perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang oleh agama atau setidak-tidaknya akan menyesal dalam dirinya bila terlanjur meninggalkan dan mengerjakan sesuatu hal yang dilarang oleh agama, maka jelaslah pada diri seseorang tersebut akan

51 Ibid., him. 79. 52 op. cit., 76. 53 Ibid, him. 80

menyesal dalam dirinya bila terlanjur meninggalkan dan mengerjakan sesuatu hal yang dilarang oleh agama, maka jelaslah pada diri seseorang tersebut akan terbentuk kepribadian. Kepribadian yang dimaksud disini adalah kepribadian muslim.

C. Hubungan Antara Pengetahuan Kisah Rasul Dengan Pembentukan Kepribadian

Adapun hubungan antara pengetahuan kisah rasul dengan kepribadian siswa adalah dengan memiliki pengetahuan tentang kisah para rasul yang semakin baik maka akan terbentuk suatu kepribadian yang luhur. Sebagai gambaran maka dapat dijelaskan sebagai berikut.

Beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian anak muslim, yaitu faktor intern dan faktor ekstem. Faktor intern adalah faktor pembawaan anak sejak lahir. Sedangkan faktor ekstem adalah keluarga, sekolah dan masyarakat. Diantara faktor sekolah adalah pemberian kisah para rasul didalam pembelajaran pada mata pelajaran sejarah Islam dan aqidah akhlak.

! 42

Dari bagian di atas dapat digambarkan bahwa kepribadian muslim dipengaruhi oleh dua faktor intern dan faktor ekstem. Diantara faktor ekstem adalah pemberian kisah para rasul.

Maka dapat disimpulkan bahwa siswa yang mendapat metode pendidikan dengan kisah para rasul akan dapat membentuk kepribadian yang luhur.

Penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis korelasional. Penelitian korelasi bertujuan untuk menemukan ada dan tidaknya hubungan.55

B. Tempat dan Waktu Penelitian.

Dokumen terkait