• Tidak ada hasil yang ditemukan

HU BUN GAN PENGETAHUAN TENTANG KISAH PARA RASUL DENGAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK KELAS V DI MADRASAH IBTH)AIYAH NEGERI TAMBAKSELO WIROSARI GROBOGANTAHIJN AJARAN 2005-2006 - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "HU BUN GAN PENGETAHUAN TENTANG KISAH PARA RASUL DENGAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK KELAS V DI MADRASAH IBTH)AIYAH NEGERI TAMBAKSELO WIROSARI GROBOGANTAHIJN AJARAN 2005-2006 - Test Repository"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

HU BUN GAN PENGETAHUAN TENTANG KISAH PARA RASUL DENGAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK KELAS V DI MADRASAH IBTH)AIYAH NEGERI TAMBAKSELO WIROSARI

GROBOGAN

TAHIJN AJARAN 2005-2006 Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam

Oleh:

A L IIM R O N 11404033

FAKULTAS T ARBI YAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

(2)

T A H U N A J A R A N 2 0 0 5 - 2 0 0 6

S K R I P S I

CD ia ju a ^ a n u n tu fc jM e m e n u fii ‘T u gas d a n 9/leC eng^api S y a r a t C juna

M e m p e ro k h (je C a rS a rja n a daCarn iC m u <T a r6 iy a fi

11404033

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

JURUSAN T ARBI YAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

(3)

DEPARTEMEN AGAMA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAIN) SALATIGA

Jl. Stadiun No. 03 Telp. 323433, 323706 Kode Pos 50271 Salatiga

VemUlJUAM PUtBIMBIMG

Lam p.: 1 (satu) naskah Salatiga, 13 Agustus 2006

Hal : Pengajuan Nskah Skripsi

Kepada:

Yth. Ketua STAIN Di Salatiga

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bersama ini kami kirimkan naskah skripsi mahasiswa:

Nama : Ali Imron

NIM : 11404033

Program Studi : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Judul : HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG KISAH PARA

RASUL DENGAN PEMBENTUKAN KEPR1BADIAN

ANAK KELAS V DI MADRASAH IBTIDA1YAH NEGER1

TAMBAKSELO WIROSARI GROBOGAN

TAHUN AJARAN 2005-2006

Untuk diujikan dalam sidang munaqosah skripsi. Demikian untuk menjadikan periksa.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(4)

PENGESAHAN SKRIPSI

RASUL DENGAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

ANAK KELAS V DI MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERi

TAMBAKSELO WIROSARI GROBOGAN

TAHUN AJARAN 2005-2006

Nama : Ali Imron

NIM : 11404033

Program Studi : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Salatiga, 13 Agustus 2006

Judul : HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG KISAH PARA

Ketua Sekertaris

rs. Imam Sutomo. M.A; NIP. 150 216 814

Moch. Saerozi, M.Ag

^ ^ NIP_ J50 247 014

Penguji I

Drs. H. Nasafi NIP. 150 207 971

Penguji II

Drs. Kastolani. M.Ag NIP. 150 267 026

(5)

M otto

‘Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang

menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi

Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi” (Q.S.

An-N isa’ 79)

(6)

Bapak, Ibu yang telah memelihara membimbing dan mendidikku

Yang kusayangi M ar’atun N avi’ah yang masih setia

(7)

1

ABSTRAK

Ali Imron: NIM. 11404033.

Hubungan Pengetahuan Tentang Kisah Para Rasul

dengan Pembentukan Kepribadian Anak Kelas V Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri

Tambakselo Wirosari.

Pendidikan Agama Islam Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga 2006.

Kata kunci: Pengetahuan kisah para rasul, kepribadian anak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan kisah para rasul terhadap pembentukan kepribadian anak di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo Wirosari tahun ajaran 2005/2006

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis korelasional. Yaitu untuk menemukan ada dan tidaknya hubungan, sedang metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Metode angket digunakan untuk mengungkap tentang hubungan pengetahuan kisah para rasul terhadap pembentukan kepribadian anak di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo Wirosari. Sedangkan metode dokumentasi penting dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo. Dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo Wirosari pada bulan April sampai bulan Juni 2006, populasi penelitian adalah siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo Wirosari yang berjumlah 222 siswa, dengan teknik sampel kelompok yang dipilih adalah semua siswa kelas V yang berjutnlah 64 siswa.

Teknik analisa data yang peneliti gunakan untuk menguji hipotesis kerja (Ha) yang diajukan adalah menggunakan tehnik statistik dengan ramus korelasi

product moment.

Berdasarkan analisa data tersebut diperoleh hasil perhitungan atau rxy hitung sebesar 0.791 setelah diuji dengan tabel pada taraf 5% maupun 1%. Maka rxy hubungan pengetahuan kisah para rasul terhadap pembentukan kepribadian anak di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo Wirosari telah ditemukan hasil yang signifikan yaitu 0,791 > 0,317 bertitik tolak dari analisis data, maka hipotesis nihil (Ho) ditolak dan hipotesis keija (Ha) yang diajukan dapat diterima.

vi

(8)

haturkan kepada junjujgan nabi besar Muhammad SAW yang selalu dinantikan

syafa’atnya di hari kiamat.

Peneliti menyadari bahwa selesainya skripsi ini berkat bantuan dari berbagai

pihak. Oleh karena itu ini peneliti menyampaikan banyak terima kasih yang tiada

terhingga kepada yang terhormat:

1. Ketua STAIN Salatiga beserta pembantunya.

2. Ketua j urusan Tarbiyah beserta stafnya.

3. Ketua Program Transfer STAIN Salatiga beserta stafnya.

4. Dr. Rachmad Haryadi, M.Pd pembimbing skripsi yang penuh kesabaran

dan kearifan dalam memberikan bimbingan dan dorongan disela

kesibukannya.

5. Para Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga yang telah membimbing

selama kuliah dan memberikan bekal pengetahuan sebelumnya.

6. Bapak Kepala MIN Tambakselo beserta rekannya yang telah memberi

kesempatan melakukan penelitian.

7. Ayah dan Bunda yang selalu menyanyangiku dan mendidikku sejak kecil.

8. Yang kusanyangi istriku Mar’atun Naviah yang selalu memberi dorongan

dan pengertian.

9. Dan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Akhirnya, semoga Allah memberi balasan kepada semua pihak yang telah

membantu peneliti menyusun skripsi ini.

Salatiga, Juni 2006

Peneliti

(9)

D A F T A R T A B E L

Tabel 01

Tabel 02

Tabel 03

Tabel 05

Tabel 06

Tabel 07

Tabel 08

Kisi-kisi instrumen

Kurikulum Madrasah

Guru dan pembagian tugas di Madrasah

Keadaan siswa

Distribusi frekwensi hasil tes pengetahuan kisah rasul

Distribusi frekwensi hasil angket kepribadian siswa Madrasah

Taraf signifikansi

(10)

Gambar 01

Gambar 02

Gambar grafik distribusi hasil uji pengetahuan kisah rasul

Gambar grafik distribusi hasil angket kepribadian siswa

(11)

DAFTAR ISI

F. Manfaat Hasil Penelitian... 6

G. Metode Penelitian... 7

H. Sistematika Penulisan Skripsi... 10

BAB II : LANDASAN TEORI A. Kisah Para R asul... 12

1. Kisah para rasu l... 12

2. Kisah-kisah rasul dalam Al-Qur’a n ... 13

B. Kepribadian

(

... 27

1. Pengertian kepribadian... 27

2. Kepribadian dalam Islam ... 28

(12)

41

B. Tempat dan Waktu Penelitian...

1. Tempat penelitian...

2. Waktu penelitian...

C. Populasi dan Sampel...

1. Populasi...

2. Sampel...

D. Teknik Pengumpulan D ata...

1. A ngket...

2. Dokumentasi...

E. Kisi-Kisi dan Beberapa Butir Instrumens...

F. Validitas dan Reliabilitas...

1. Gambaran umum lokasi penelitian

a. Letak geografis...

b. Sejarah berdirinya...

c. Struktur organisasi...

d. Kurikulum...

e. Guru dan pembagian tugas...

(13)

f. Keadaan sisw a... 57

B. Deskripsi Data 1. Penyajian data tentang pengetahuan kisah para rasu l... 58

2. Penyajian data tentang kepribadian... 59

C. Analisis D ata... 61

D. Pengajuan Hipotesis... 64

E. Pembahasan Hasil Penelitian... 65

1. Pengetahuan kisah para rasu l... 65

2. Pembentukan kepribadian... 66

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan... 67

B. Saran-saran... 67

Daftar Pustaka

Lampiran

(14)

A. Latar belakang masalah

Di lembaga pendidikan Madrasah pengajaran studi akhlak sebagian

dilakukan dengan cara memberikan materi pelajaran tentang cerita para rasul

serta bercerita tentang tauladan-tauladan kisah para rasul serta umat terdahulu.

Hal ini wajar karena disebabkan sejarah para rasul mempunyai arti serta

esensial penting dalam pendidikan anak. Selain mengandung unsur historis,

kisah rasul juga mempunyai sifat-sifat keteladanan baik dari segi kepribadian,

kesetiaan, pengorbanan dan kesabaran.

Berdasarkan itu wajar bila siswa di Madrasah lebih mengidolakan para

rasul dari pada tokoh dalam cerita komik, maka banyak orang tua

mempercayakan 100% (seratus persen) pada lembaga pendidikan agama di

sekolah / Madrasah, pondok pesantren yang mereka beranggapan bahwa di

lembaga pendidikan agama adalah sebuah tempat pembentukan kepribadian

anak pada usia dini.

Dalam upaya membentuk pribadi dan perilaku yang baik, peranan agama

menjadi faktor penting sebagai pedoman hidup. Agama tidak hanya cukup

dipahami saja, akan tetapi harus dapat diamalkan oleh setiap orang. Perlu

digaris bawahi pula bagaimana tata cara penyampaian suatu pengajaran di

Madrasah diantaranya dengan pemberian materi kisah para rasul. Bahkan

(15)

2

imam Al-Ghozali mengatakan mempelajari ilmu akhlak adalah wajib bagi

individu muslim sesuai dengan waktu yang diwajibkannya (usia).1

Cerita rasul tidak hanya sebagai pengantar tidur saja, tetapi sebaiknya dan

seharusnya kita dapat meneladani mereka (para rasul) dalam kehidupan

sehari-hari. Pada zaman modem ini banyak kita temukan film-film carton

misalnya Batman, Shin Chan, Doraemon dan lain-lain yang menjadi idola

anak-anak yang lebih melekat di hati mereka. Hal ini menjadi tantangan berat

bagi kita bagaimana agar anak dapat mengidolakan rasul yang patut di

teladani khususnya Nabi Muhammad SAW. Sebagai firman Allah dalam Q.S

Al-Qur’an menganjurkan untuk mengikuti jejak panutan yang memiliki

kebenaran yang pasti.

J-p

U'O

0 .0. "

^il . * Ua o *

,0 %

A

0 M#- 1 ® t* o j j a uI ^ j x a j l 9 <dil ( j j ) > i ( j l l p

Artinya: “Katakanlah: jik a kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah

aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.

Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ”. (Q.S. Ali

Tmron: 31 )2

Memang tidak mudah bagi orangtua untuk menyajikan cerita para rasul

yang menarik perhatian anak. Khususnya para gum pendidik mempunyai

peranan yang besar terhadap pembentukan kepribadian anak, sehingga gum

1 Drs. Zainuddin, dkk, Seluk Beluk Pendidikan Dari A l-G h azali: Bumi Aksara, 1991, him. 34.

(16)

mempunyai upaya yang baik dalam pembinaan anak. Perlu diketahui bahwa

anak cenderung untuk meniru dengan hal yang dilihat, didengar serta yang

dialaminya.

Artinya: “ Sesungguhnya dalam kisah para rasul terdapat pelajaran bagi

Namun di zaman globalisasi kebudayaan sering dianggap sebagai salah

satu penyebab kemerosotan kepribadian tersebut, memang kemajuan

komunikasi, sains dan tegnologi telah menghasilkan kebudayaan yang

semakin maju pula, proses ini disebut globalisasi kebudayaan yang semakin

mengglobal. Hal ini tem yata sangat berdampak terhadap aspek moral.

Madrasah yang seharusnya mampu membentuk kepribadian yang mantap

sekarang ini lebih dipandang sebagai lembaga pendidikan agama yang belum

mampu mencetak generasi yang berakhlakul kharimah dan berkepribadian

yang baik. Dengan adanya ketidakseimbangan tersebut maka lembaga

pendidikan agama khususnya Madrasah harus dapat merubah citra sebagai

lembaga pendidikan Islam yang berakhlak dan berbudi luhur. Bahkan imam

Al-Ghozali mengatakan mempelajari ilmu akhlak adalah wajib bagi individu

muslim sesuai dengan waktu yang diwajibkannya (usia).

Kemerosotan kepribadian itu juga terjadi pada semua lapisan masyarakat.

Meskipun demikian pada lapisan remaja kemerosotan kepribadian itu lebih 3

3 Departemen Agama, A l-Q ur’an dan Terjemahnya: CV. Asy-Syifa’, 1992, him. 'I

orang yang m au b erfik ir...” (Q.S. Yusuf: 111)

(17)

4

nyata terlihat. Kemerosotan kepribadian terlihat dikalangan remaja yang

dikenal sebagai kenakalan remaja, seperti yang banyak disaksikan, banyak

keluarga yang kehilangan ketentraman, bahkan ada pejabat yang harus

meninggalkan jabatan disebabkan oleh kenakalan remajanya.4

Kenakalan remaja itu kadang-kadang menimbulkan keresahan pula dalam

masyarakat, ketentraman dan kebahagiaan masyarakat terusik. Tidak jarang,

kenakalan remaja itu meningkat menjadi kejahatan remaja, seperti adanya

perampokan atau pemerkosaan yang dilakukan oleh remaja.

Berdasarkan uraian di atas maka dalam skripsi ini peneliti ingin

membahas hubungan pengetahuan kisah cerita para rasul terhadap

pembentukan kepribadian anak di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo

Kabupaten Grobogan.

B. Rumusan Masalah

Sebagai pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pengetahuan tentang kisah para rasul pada siswa Madrasah

Ibtidaiyah Negeri Tambakselo?

2. Bagaimana kepribadian anak di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo?

3. Adakah hubungan positif antara pengetahuan tentang kisah rasul-rasul

dengan pembentukan kepribadian anak di Madrasah Ibtidaiyah Negeri

Tambakselo?

(18)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin disampaikan dalam skripsi ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengetahuan siswa tentang kisah para rasul di Min

Tambakseslo.

2. Untuk mengetahui kepribadian siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri

Tambakselo.

3. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara pengetahuan kisah para

rasul dalam pembentukan kepribadian siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri

Tambakselo.

D. Penegasan Istilah

Untuk menghindari perluasan dalam memahami makna dan arti judul

yang penulis pilih, maka penulis akan memberikan beberapa penjelasan istilah

yang menjadi pokok dari judul skripsi ini.

> Pengetahuan cerita atau kisah para rasul adalah: segala sesuatu yang

diketahui; kepandaian berkenaan dengan hal (mata pelajaran) dalam

menceritakan perjalanan kehidupan sejarah para rasul agar jejak

kehidupan mereka dapat dijadikan pelita oleh para penyebar agama dan

para pembaharu untuk meneranginya dan mereka dapat mengambil

petunjuknya serta bertindak mengikutinya.5

(19)

6

> Pembentukan kepribadian adalah suatu proses atau cara dalam membentuk

totalitas psychophysics yang komplek dari individu.6 Dalam hal ini

ditekankan pada kepribadian muslim.

E. Hipotesis

Hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar atau mungkin salah.

Hipotesa akan ditolak jika salah satu palsu, dan akan diterima jika fakta-fakta

membenarkanny a.7

Untuk memberikan jawaban yang bersifat sementara dalam penelitian ini,

maka penulis mengajukan hipotesa sebagai berikut: “ Ada hubungan positif

antara pengetahuan tentang kisah para rasul terhadap pembentukan

kepribadian anak di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo Grobogan”.

F. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian diharapkan agar memberikan manfaat baik secara teoritis

maupun secara praktis.

1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini akan menambah pengetahuan efektifitas

penggunaan cerita para rasul dalam pembentukan kepribadian anak

sehingga dapat memperluas pengetahuan profesional guru dalam proses

belajar mengajar.

6 Agus Sujanto, (1980). Psikologi Kepribadian. Jakarta : Bumi Aksara, 1980, him.

12.

(20)

2. Secara Praktis

Jika penelitian terbukti ada pengaruh yang signifikan antara hubungan

pengetahuan kisah para rasul terhadap pembentukan kepribadian anak di

Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo Wirosari Grobogan, maka dapat

menjadi masukan para pengajar dalam mengambil langkah pendidikan

kepribadian yang lebih efektif lagi.

G. Metode Penelitian

Penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis

korelasional. Penelitian korelasi bertujuan untuk menemukan ada tidaknya

hubungan.8

1. Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.9 Sedangkan menurut

pengertian yang lain populasi adalah semua individu untuk siapa

kenyataan- kenyataan yang diperoleh dari sample itu hendak

digeneralisasikan.10 Jadi dapat disimpulkan populasi adalah semua subyek

penelitian untuk siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sample itu

hendak digeneralisasikan, apabila subyek kurang dari 100 (seratus), lebih

baik diambil semuanya.11

Populasi adalah siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo

Wirosari Grobogan yang beijumlah 222 siswa.

8 Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian. PT. Rineka Cipta, 1997, him. 120 9 Ibid., hlm.115

(21)

r

8

2. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi. 12 13 Sedangkan pengertian

yang lain sample adalah sebagian individu yang diselidiki. Jadi sample

adalah sebagian atau wakil populasi yang diselidiki.

Teknik yang penulis gunakan dalam pengambilan sample adalah

kelompok (cluster sample). Dari populasi siswa di Madrasah Ibtidaiyah

Negeri Tambakselo Wirosari Grobogan yang beijumlah 222 siswa, peneliti

mengambil kelas V (Lima) yang berjumlah 64 siswa.

Untuk mendapatkan data yang konkrit menggunakan pengumpulan data:

1. Angket

Angket adalah: sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang

1 "3

pribadinya atau hal - hal yang ia ketahui.

2. Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah: mencari data mengenai hal-hal yang

berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen

rapat, legger, agenda dan sebagainya.14

Metode ini peneliti gunakan mengambil data-data yang berupa

dokumentasi penting dari di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo

Grobogan, seperti struktur organisasi, monografi kesiswaan, dan data-data

lain untuk melengkapi penulisan skripsi.

(22)

Setelah data-data dikumpulkan , maka untuk mengetahui validitas dan

signifikasi, kemudian data-data itu dianalisis melalui beberapa tahap

antara lain dibawah i n i :

1. Analisis pendahuluan

Yaitu tahap pengelompokan data yang akan dimasukkan ke- distribusi

frekwensi dan diadakan pengolahan seperlunya, atau tahap pemberian

nilai hasil angket dengan memberi bobot nilai sebagai berikut:

a) A ltem atif jaw aban a diberi skor 4

b) A ltem atif jawaban b diberi skor 3

c) A ltem atif jaw aban c diberi skor 2

d) A ltem atif jaw aban d diberi skor 1

2. Analisis uji hipotesis

Untuk mengetahui kevaliditasan peneliti menggunakan ramus korelasi

Product Moment sebagai berikut:

Keterangan:

rxy = Koefisiensi korelasi antara cerita rasul - rasul (X) dengan

kepribadian anak (Y)

N = Jumlah sample yang diteliti

(23)

r

1 0

Y = Variabel Y / terikat / kepribadian anak

I = Sigma

(jumlah)

XY= Product dari nilai cerita para rasul dan kepribadian anak.15

Untuk mengukur validitas setiap item digunakan koefisien korelasi

sebagai berikut:

Antara 0,800 - 1,000 = sangat tinggi

Antara 0,600 - 0,800 = tinggi

Antara 0,400 - 0,600 = cukup

Antara 0,200 - 0,400 = rendah

Antara 0,000 - 0,200 = sangat rendah.16

H. Sistematika penulisan skripsi

Ruang lingkup pembahasan skripsi ini, berkisar pada masalah hubungan

pengetahuan kisah para rasul terhadap pembentukan kepribadian anak di

Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo Grobogan, dalam hal ini kelas V

(Lima). Untuk lebih mudahnya secara sistematis dapat dijabarkan sebagai

berikut:

BAB I : Dalam hal ini membahas tentang latar belakang masalah,

perumusan masalah, tujuan penelitian, penegasan istilah, hipotesis, manfaat

hasil penelitian, metode penelitian, serta sistematika penulisan skripsi.

BAB II : Pada bab landasan teori ini, diuraikan pembahasan teori yang

menjadi landasan teoritik penelitian, yang khususnya berkaitan dengan

(24)

variable penelitian. Yaitu teori-teori mengenai hubungan pengetahuan kisah

para rasul dalam pembentukan kepribadian anak dan faktor-faktor yang

mempengaruhi terbentuknya kepribadian.

BAB III : Dalam bab ini akan dilaporkan hasil pengumpulan data yang

berkaitan dengan variable penelitian, yaitu pengaruh intensitas kisah rasul

dalam mempengaruhi kepribadian anak di Madrasah Ibtidaiyah Negeri

Tambakselo Grobogan.

BAB IV : Dalam bab ini memuat analisis pendahuluan, analisis uji

hipotesis.

BAB V : Bab ini berisi kesimpulan, saran-saran yang berhubungan

(25)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kisah Para Rasul 1. Kisah Para Rasul

Dalam pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah Negeri salah satu metode

untuk membentuk kepribadian dengan menggunakan kisah para rasul.

Kisah para rasul diajarkan dalam mata pelajaran sejarah Islam dan Aqidah

Akhlak.

Kisah rasul yang diyakini memiliki dampak positif yang sangat baik

untuk dijadikan pedoman anak. Dalam hal ini Muhammad Ali Ash-

Shabuny memberikan pendapat bahwa:

Kisah rasul-rasul adalah suatu cerita tentang peijalanan kehidupan sejarah para rasul dengan maksud tujuan yaitu agar jejak kehidupan mereka cemerlang dapat dijadikan pelita oleh penyebar agama dan para pembaharu untuk meneranginya dan mereka dapat mengambil petunjuknya serta bertindak mengikutinya.17

Sedangkan Muhammad Rosyid Ridla menjelaskan pengertian tentang

rasul sebagai berikut:

Rasul adalah seorang manusia yang telah diberi wahyu oleh Allah dengan hukum syara’ dan ia dituntut untuk menyampaikannya kepada orang lain.18

17 Muhammad Ali Ash-Shabuny, Kisah-kisah Nabi dan Masalah Kenabian.

Semarang : Cahaya Indah, 1991, him. 148.

18 Muhammad Rosyid Ridla, Wahyu llahi Kepada Muhammad. Jakarta : Pustaka Jaya, 1982, him. 713.

(26)

2. Kisah-kisah Rasul Dalam Al-Qur’an a. Kisah Nabi Nuh a.s

Nabi N uh a.s adalah keturunan yang kesepuluh dari Nabi Adam

a.s. Nabi N uh diutus oleh Allah SWT untuk menyeru umat manusia

agar menyembah Allah SWT dan melarang memperhambakan diri

kepada selain Allah, tetapi manusia tidak menghiraukan atas seruan

Nabi Nuh bahkan selalu mengolok-oloknya dan mereka menantang

meyuruh nabi Nuh untuk mendatangkan janji Allah yang berupa siksa

jika Nuh memang orang yang benar.

Tetapi nabi Nuh masih saja tetap menyerukan kaumnya agar mau

beriman kepada Allah, sebagaimana yang diterangkan oleh Allah

dalam firman-Nya:

y

j

*

; >

y

u l

,

j i a

I * o & i* o ♦<; o A*-* o <♦' ' * *<* i* o tf i* j-*' o A " +

S i f J%3 J U ® S

(>

-

V :

A

j

I

£

jj) g]

j

a

ISU

j

J

jc

-

I

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nabi Nuh kepada

kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu

peringatan sebelum datang padanya azab yang pedih”. Nuh

berkata:“Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi

(27)

14

sembahlah olehmu Allah. Bertaqwalah pada-Nya dan taatlah

padaku” (Q.S. Nuh: 1-3).19

Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang maka tidak

bisa diundur lagi, walaupun ancaman yang menakutkan sudah

diberitahukan kepada semua kaumnya Nabi Nuh, bahkan cara Nabi

Nuh menyeru (dakwah) siang malam tetapi terayata kaumnya tidak

bertambah dekat kepada petunjuk Allah, bahkan bertambah jauh dari

kebenaran, malah banyak dari pemimpin mereka yang kafir, selalu

menghina, mengejek, serta menertawakan seruan Nabi Nuh. Sampai-

sampai mereka memasukkan anak jarinya kedalam telinga mereka dan

menutupkan bajunya ke mukanya dengan mengingkari dan

menyombongkan diri sehingga tidak mau mendengar dan memandang

Nabi Nuh.

Walaupun terjadi semacam itu tetapi Nabi Nuh masih tetap

menyeru atas kebenaran risalah yang dibawanya, sebagaimana firman

Allah SWT dalam Q.S. Nuh ayat 10-11:

j

jji

®

s 'jS t.

i l l j j&j c J S a

( i i > ;

*A

^ j i ) © l " j i l c

(28)

Artinya: “M aka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada

Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan menurunkan hujan

kepadamu dengan lebat”.20 (Depag, 1989:979)

Semua itu akan memberi manfaat kepada dirinya, keluarganya,

serta harta benda mereka. Tetapi semua janji Nuh dianggap omong

kosong yang tidak ada buktinya, malah pemimpin mereka mengatakan

kepada kaumnya agar tidak usah mendengarkan serta mengikuti ajaran

Nabi Nuh, tetapi mengimani ajaran nenek moyang mereka yaitu

menyembah berhala yang akhimya kaum tadi bertambah lama tidak

bertambah taat tetapi malah tambah berbuat kerusakan.

Sebelum Allah menurunkan banjir yang sangat hebat kepada kaum

yang kafir kepada Nabi Nuh, maka datanglah malaikat sebagai utusan

Allah kepada Nabi Nuh untuk memberi tahu cara membuat kapal

sampai selesai. Diwaktu Nabi Nuh bekerja membuat kapal kaumnya

selalu mengejek dan menghinanya. Segala ejekan dan hinaan

diterimanya dengan tenang dan sabar. Tidak lama kemudian selesailah

kapalnya Nabi N uh dan janji Allah telah datang, yakni turunnya hujan

yang lebat berhari-hari tiada henti dan mata air dari tanah juga

bersemburan. Angin badai juga tak ketinggalan sehingga air sangat

cepat tingginya dan dunia menjadi lautan besar.

Nabi Nuh dengan orang yang beriman naik ke atas kapal dan

berlayar dengan selamat diatas gelombang yang sangat dahsyat itu,

20

(29)

16

orang-orang kafir ada yang melarikan diri ke atas bukit yang tinggi. Tetapi

airpun sampai ke atas puncak gunung yang tinggi itu sehingga mereka

tidak berdaya lagi dan habislah mereka ditelan gelombang besar itu. Tiba-

tiba Nabi Nuh melihat anaknya (Kan’an) yang hampir tenggelam, maka

Nabi Nuh menyuruh anaknya supaya lekas naik ke atas kapal agar selamat

dari siksaan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 43 :

( 4 3 : S i o k j ^ '

£ *

° u ^

Artinya: “Hai anakku! Naiklah (ke atas kapal) bersama kami dan

janganlah kamu bersama-sama dengan orang kafir”.21

Karena anaknya Nabi Nuh tergolong orang kafir maka anaknya

menjawab dengan tidak mau mengikuti perintah ayahnya, sebagaimana

firman Allah SW T :

f J S i

V ' j s

1 >

• * o

-u*

JlkJ

j J> VJ

4

i

°o*

( 4 3 :

* j k )

Artinya: “Anakku menjawab: Aku akan mencari perlindungan ke gunung

yang dapat memeliharaku dari air bah! Nuh berkata: Tidak ada

yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah yang Maha

Penyayang. Dan gelombang menjadi

21

(30)

penghalang bagi keduanya, maka jadilah anak itu termasuk

orang-orang yang ditenggelamkan”.

Perahu Nabi Nuh berlayar hingga 6 bulan, mulai bulan Rojab dan

berakhir pada tanggal 10 Muharram. Kemudian sesudah kaum yang

durhaka musnah semua, sesuai dengan perintah Nabi Nuh maka Allah

memerintahkan pada alam ini: Hai bumi telanlah airmu dan hai langit

(hujanO berhentilah, maka airpun menjadi surut dan perahu Nabi Nuh

terdampar di pegunungan Armini/Arjudi. Nabi Nuh beserta anaknya

yang beriman yaitu Sam menurunkan orang Eropa dan Yafis

menurunkan orang Mongol. Demikianlah tersebar luas keturunan Nabi

Nuh beserta anak cucunya hingga keseluruh penjuru dunia. Nabi Nuh

wafat pada usia 950 tahun dengan mempunyai pengikut yang beriman

kepadanya hanya beberapa orang saja.

Dari kisah Nabi Nuh dapat diambil pelajaran bahwa:

1. Walaupun menghadapi berbagai rintangan dan tantangan

umatnya yang keras tetapi Nabi Nuh tetap tabah, sabar dan

berserah diri kepada Allah.

2. Allah mengirimkan siksa banjir dan menenggelamkan umat

Nabi Nuh yang durhaka dan menolak seruannya.

3. Barang Siapa taat dan patuh pada rasulnya serta menjalankan

segala perintah-Nya, maka Allah akan membalasnya dengan

pahala, tetapi sebaliknya barang Siapa yang tidak taat dan 22

(31)

18

patuh pada perintah-Nya, maka ia akan mendapat siksa dan

dimasukkan ke neraka.

4. Mengajak Tauhid kepada Allah.

5. Tabah dalam menghadapi cobaan.

6. Akibat orang durhaka akibat tidak mendengar seruan Nabi /

ayahnya sendiri.

7. Cinta keluarga tidak terletak dalam darah dan daging tetapi

terletak pada keimanannya.

8. Orang yang taat akan selalu dilindungi dan diselamatkan oleh

Allah.

9. Anak yang durhaka pada orang tua akan mendapat azab dari

Allah.

10. Kecerdasan Nabi Nuh dalam membuat perahu.

b. Kisah Nabi Ibrahim.

Ibrahim dilahirkan ditengah masyarakat yang penuh dengan

perbuatan kemusyrikan dan kedzaliman, beliau selalu terjaga dari

amalan yang maksiat berkat penjagaan dan kehendak Allah. Allah

selalu menjaga para nabi dan rasul-Nya dari perbuatan maksiat dan

durhaka. Apalagi di zaman lahimya Ibrahim, waktu itu berkuasa

seorang raja bemama Raja Namrud yang sangat zalim dan berbuat

sewenang-wenang serta mengaku dirinya sebagi Tuhan, selain itu ia

menyembah berhala. Ayah Ibrahim (Azar) termasuk orang yang

(32)

Pada suatu hari Namrud mendapat firasat bahwa suatu saat ada

laki-laki yang lahir untuk menjatuhkan kekuasaan raja, maka raja

memerintahkan kepada semua tentaranya agar mencari orang yang

melahirkan bayi laki-laki untuk dibunuhnya. Maka banyak Diantara

bayi laki-laki yang lahir dibunuh tanpa dosa. Pada suatu saat Ibrahim

dilahirkan oleh istri Azar, walaupun ayahnya Ibrahim pekeijaannya

membuat patung, tapi tidak tega membunuh anaknya sendiri.

Kemudian ia membuang anak bayinya di hutan yang di situ

banyak binatang buas, jadi tidak mungkin para tentara mencari di

hutan itu. Memang sudah menjadi kehendak Allah selalu melindungi

Ibrahim dari segala gangguan serta makanan bayi. Maka dikuasakan

oleh Allah jarinya Ibrahim dapat mengeluarkan madu yang banyak

mengandung vitamin. Dengan makanan Ibrahim sudah merasa

kenyang serta mempunyai pertumbuhan yang sangat baik dan besar.

Sesudah Ibrahim dewasa, ia mencari ibu dan bapaknya.

Pada suatu hari Ibrahim bemiat menghancurkan semua patung (±

70 patung) dan ditinggalkan berhala yang paling besar sebagai alat

berdebat untuk menjatuhkan raja Namrud dan rakyatnya. Kemudian

raja Namrud memerintahkan untuk menagkap Ibrahim, maka

terjadilah tanya jaw ab antara raja Namrud dan Ibrahim dan disaksikan

oleh rakyat yang berada di istana. Sesudah melewati perdebatan yang

sangat seru, akhimya Namrud kalah dan karena merasa malu dan takut

(33)

20

menghukum Ibrahim dengan kejam yaitu dengan membakamya dalam

keadaan hidup.

Mereka berprasangka Ibrahim telah meninggal dalam kobaran api

tersebut, tetapi atas kekuasaan Allah Nabi Ibrahim selamat, bahkan

dari ujung rambutnya tidak ada yang terbakar. Hal ini dijelaskan

dalam Q.S. Al-Anbiya’ ayat 69:

0 ^

rn

Ij j j j Ij j 13$

Artinya: “Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah dan menjadi

'j'l

keselamatan bagi Ibrahim”

Dengan mudah bagi Allah untuk menghendaki suatu perkara,

karena Dia Maha Kuasa, walaupun api merupakan alat pembakar yang

sangat panas tetapi menjadi dingin disaat Allah menghendakinya.

Demikianlah hal ini merupakan penghormatan dari Allah terhadap

Nabi Ibrahim sebagai mukjizat dan penjagaan terhadap rasul dan

orang yang dicintai oleh Allah. Maka bagi mereka janganlah takut

terhadap api neraka, tapi takutlah pada Tuhan yang membuat neraka

itu, maka kita akan diselamatkan dari siksa.

Dari kisah Nabi Ibrahim dapat diambil pelajaran:

1. Tanpa mengenal takut Nabi Ibrahim berdakwah untuk

mengajak kaumnya menyembah Allah dan meninggalkan

berhala dan jangan mengakui Tuhan selain Allah bukan raja

Namrud. 23

(34)

2. Mukjizat Nabi Ibrahim dari Allah yang dapat keluar dari

kobaran api tanpa terbakar sedikitpun.

3. Walaupun dengan hati berat memikul beban ujian Nabi

Ibrahim melaksanakan juga perintah Allah untuk menyembelih

putra kesayangannya Ismail.

4. Mengajak bertauhid kepada Allah.

5. Berbakti pada orang tua walaupun orang tuanya tidak beriman.

c. Kisah Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tahun gajah, yakni tahun

dimana Abraham Al-Asyiram berusaha menyerang Makkah dan

menghancurkan K a’bah, tepatnya pada hari Senin malam, 12 Robi’ul

awal. Ia dilahirkan dalam keadaan yatim. Bapaknya Abdullah

meninggal ketika ibunya mengandung 2 bulan. Lalu ia diasuh oleh

kakeknya, Abdul Mutholib dan disusukan kepada seorang wanita dari

Bani Sa’ad bin Bakar, bemama Halimah binti Abi D zu’aib.

Selama keberadaan Nabi Muhammad SAW di pedalaman Bani

Sa’ad terjadilah peristiwa “pembelahan dada”, kemudian Nabi

Muhammad SAW dikembalikan kepada ibunya setelah genap berumur

tahun. Ketika sudah berumur enam tahun, ibunya Aminah meninggal

dunia. Kemudian berada dalam asuhan kakeknya. Tetapi setelah genap

berusia delapan tahun, beliau ditinggal mati oleh kakeknya, Setelah itu

(35)

22

Ketika Nabi Muhammad berusia 12 tahun, beliau mengikuti

pamannya pergi ke Syam untuk berdagang, disaat tiba di Busyra

beliau bertemu dengan pendeta Nasrani (Buhaira). Pendeta itu

mengetahui tanda-tanda kenabian yang ada pada diri Nabi Muhammad

SAW, maka dinasehati Abu Muthalib untuk kembali ke Makkah,

sebab dia kawatir kalau Nabi Muhammad SAW ditemukan oleh orang

Yahudi yang pasti akan dianiaya.

Sesudah Nabi Muhammad SAW mencapai dewasa mulailah beliau

berusaha sendiri dalam penghidupannya, karena beliau terkenal

seorang yang jujur, maka janda kaya bemama Khadijah mempercayai

beliau untuk membawa barang dagangannya ke Syam dan ditemani

oleh Maisyaroh dan memperoleh laba yang banyak. Sesudah Nabi

Muhammad SAW pulang datanglah lamaran dari pihak Khadijah

kepada beliau. Lalu beliau menyampaikan hal itu kepada pamannya.

Setelah itu tercapai sebuah kesepakatan untuk melangsungkan

pemikahan pada saat Nabi Muhammad SAW berumur 25 tahun,

sedangkan Siti Khadijah berumur 40 tahun.

Ketika Nabi Muhammad SAW berumur 40 tahun beliau menyepi

di gua H ira’. Pada malam 17 Ramadhan (6 Agustus 610 M) beliau

didatangi Malaikat Jibril yang mengajarkan membaca kepada Nabi

Muhammad SAW. Dan inilah wahyu pertama kali (Iqra’ ayat 1-5)

yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan saat inilah

(36)

pengangkatan sebagi rasul beliau mencapai usia 40 tahun 8 bulan 8

hari menurut tahun Qomariyah.

Menurut riwayat selama tiga bulan lamanya sesudah menerima

wahyu yang pertama barulah Nabi Muhammad SAW menerima

wahyu yang kedua, dikala menunggu datangnya wahyu itu Rasulullah

diliputi rasa cemas dan kawatir kalau wahyu itu putus, dan hampir saja

beliau putus asa. Tetapi ditetapkan hatinya beliau dan tetap bertahan di

gua Hira’. Kemudian datanglah malaikat Jibril dan menyampaikan

wahyu kedua yakni Q.S. Al-Muddasir ayat 1-7.

Sesudah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang kedua ini

yang menjelaskan tugas atas dirinya, mulailah beliau dengan

sembunyi-sembunyi menyeru keluarganya, sahabatnya, seorang demi

seorang agar meninggalkan menyembah berhala dan hanya

menyembah kepada Allah. Orang yang pertama kali beriman adalah

istri beliau (Siti Khadijah), budak Nabi (Zaid bin Haritsah) dan

sahabat karibnya (Abu Bakar As-Shidiq).

Tiga tahun Nabi Muhammad SAW melakukan

dakwah arrad,

yaitu ajakan masuk Islam seorang demi seorang secara diam-diam dan

dari rumah kesatu rumah yang lain. Kemudian turunlah firman Allah:

(37)

24

Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala

apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari

orang-orang yang musyrik ” (Q.S. Al-Hijr: 94).24

Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar

menyiarkan Islam secara terang-terangan dan meninggalkan cara

sembunyi-sembunyi itu. Maka Nabi Muhammad menyerukan

kaumnya secara umum ditempat terbuka untuk menyembah Allah.

Ketika orang Quraisy melihat gerakan Islam yang bertambah luas

dan pengikutnya bertambah banyak, maka bangkitlah kemarahan

mereka, sehingga disiksalah pengikut Islam dari golongan rendah,

tetapi iman mereka bertambah kuat. Setelah orang Quraisy melakukan

bermacam cara untuk mem bend ung peijuangan Nabi tidak memberi

hasil. Maka mereka memboikot Bani Hasyim dan Bani Mutholib yang

keduanya saling mendukung perjuangan Nabi.

Pemboikotan yang dirasakan Nabi Muhammad belum lagi hilang,

beliau mendapat cobaan yaitu dengan meninggalnya pamannya beliau

dalam usia 87 tahun. Karena pamannya Abu Muthalib adalah orang

yang berpengaruh dalam masyarakat, dia merupakan perisai setiap

saat yang memberi perlindungan kepada Nabi. Dan dalam tahun itu

pula wafatlah Siti Khadijah istri Nabi. Dialah yang menghibur hati

Nabi dikala sedih dan menghidupkan jiw a Nabi Muhammad saat

24

(38)

kesulitan, dikorbankan harta serta fikirannya untuk dakwah Nabi.

Tetapi yang demikian itu tidak mengendorkan perjuangan Nabi.

Didalam keadaan seperti itu Nabi Muhammad SAW diperintahkan

oleh Allah untuk melaksanakan Isra’ Mikraj dari kota Mekkah ke kota

Baitul Magdis di Palestina, kemudian naik kelangit ketujuh dan

langsung ke Sidratul Muntaha dan ke Mustawa. Disitulah beliau

menerima perintah langsung dari Allah tentang sholat lima waktu

yang asal mulanya 50 waktu kemudian dikurangi hingga tinggal lima

waktu. Demikianlah kebijaksanaan serta perjuangan Nabi kepada

umatnya.

Adapun hikmah Allah memerintah Isra’ Mikraj kepada Nabi

dalam perajalanan satu malam itu, adalah untuk menambah keimanan

dan keyakinan sebagai rasul untuk membawa risalahnya. Dengan

demikian akan menambah kekuatan batin sewaktu menerima cobaan

dan besamya dalam memperjuangkan cita-cita luhur mengajak seluruh

umat kepada ajaran Islam. Peristiwa Isra’ Mikraj ini terjadi kepada

malam 27 Rajab tahun ke sebelas sesudah beliau diangkat menjadi

rasul. Perajalanan Nabi SAW adalah mencakup segenap golongan

manusia untuk hidup utama. Dikanan kirinya ditemui hal-hal yang

tidak bias diterima oleh akal sehat. Namun beliau memang sudah

dipersiapkan oleh Allah sedemikian rupa, sehingga tidak terpengaruh

oleh hal-hal yang melingkupinya, karena memang beliau dibimbing

(39)

I

26

memujinya, seperti Toymbee, bahkan kesuksesan Islam bila

dibandingkan dengan agama-agama lain sebelumnya, semata-mata

karena pribadi Nabi Muhammad SAW. Beliau seorang politikus

ulung, disamping menjadi Nabi dan Rasul agama besar Islam.

Tentang kepribadian Nabi Muhammad SAW, secara tegas

dijelaskan oleh sebuah hadist, kepribadiannya adalah Al-Qur’an dan

Al-Qur’an sendiri mensifati kepribadiannya sebagai kepribadian

mulia. Sebagaimana firman Allah:

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang

Salah satu faktor yang penting dan berhubungan dalam membina

dan mewujudkan masyarakat yang berkepribadian muslim ialah suri

tauladan yang baik yang terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW.

Semua itu disebabkan karena Allah telah menghimpun seluruh

kepribadian mulia pada pribadi Nabi Muhammad SAW dan telah

mendidik dengan didik sebaik-baiknya serta telah memelihara sejak

beliau masih kanak-kanak hingga dewasa dari segala perbuatan yang

buruk dan tercela.

25 log.cit,. him. 979

(40)

B. Kepribadian

1. Pengertian Kepribadian

Agus Suyanto, dkk, mengatakan sebagai berikut:

Kata kepribadian berasal dari kata personality yang berarti kedok/topeng yaitu tutup muka yang berarti sering dipakai pemain panggung, yang dimaksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, pribadi seseorang. Hal itu dilakukan oleh karena ciri-ciri yang khas yang dimiliki seseorang tersebut dalam arti kepribadian yang baik maupun yang kurang baik.26

Dalam hal ini Dzakiyah Darajat menyamakan pengertian kepribadian

dan mental, ia menyebutkan bahwa:

Dalam ilmu Psikiatry dan Psikhoterapi, kata mental sering digunakan sebagai ganti dari kata personality (kepribadian) yang berarti bahwa mental adalah semua unsur jiw a termasuk pikiran, emosi, sikap dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentukan corak laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan atau menggembirakan, menyenangkan dan sebagainya.27 28

Kepribadian adalah suatu totalitas Psikophosis yang komplek dari

28 individu, sehingga nampak di dalam tingkah lakunya.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa:

- Personality itu terdapat unsur dinamis dan keunikan

- Personality atau kepribadian itu merupakan suatu kebulatan.

- Kompleknya itu disebabkan oleh karena banyaknya faktor-faktor

luar yang ikut menentukan kepribadian itu.

Pemyataan itu sejalan dengan pandangan Prof. Dr. Winamo

Surahmat, yang mengatakan bahwa:

(41)

28

Mengetahui adanya faktor-faktor yang bersumber dari dalam diri manusia dan faktor dari luar manusia. Yang pertama adalah sifat organisme individu dan yang kedua adalah hasil sosialisasi, kesemuanya berpadu secara dinamis dalam sebuah kompleksitas.29

2. Kepribadian dalam Islam

Malik D. Badri mengatakan sebagai berikutMemang benar bahwa teori kepribadian dapat menjadi sebuah subyek yang sulit jik a ditinjau dari sudut pandang Islami. Suatu hal mungkin kita bisa berbicara langsung tentang sebuah “teori kepribadian yang Islami” secara tepat. Bagi seorang muslim, Islam merupakan ungkapan keseluruhan dalam hidupnya. Ini memang sebuah kebenaran yang sesungguhnya.30 31

Al-Qur’an juga memberikan gambaran tentang hal tersebut, Firman

Allah dalam surat Al-Baqarah: 208.

a s r j £ J

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam

1 1 Islam secara keseluruhan”.

Sedangkan pengertian kepribadian muslim, menurut Ahmad D.

M arimba ialah sebagai berikut:

Kepribadian muslim adalah kepribadian yang seluruh aspek- aspeknya yakni baik tingkah laku luamya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidupnya dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan penyerahan diri padanya.32

Dari pengertian diatas, maka kepribadian muslim itu merupakan

keseluruhan kualitas dari pada seseorang meliputi tingkah laku

luamya, seperti cara-caranya berbuat, berbicara dan meliputi

kegiatan-29 Winamo Surahmat, Dasar dan Teknik Risearch, Bandung, Tarsito, 1977, him. 94 30 Malik D. Badri, Delima Psikologi Muslim, Jakarta, Pustaka Firdaus, 1994, him. 69 31 Departemen Agama, A l-Q ur’an dan Terjemahnya: CV. Asy-Syifa’, Jakarta, 1992, him. 50

(42)

kegiatan jiw anya seperti cara berfikir, sikap, minat dan filsafat hidup

serta kepercayaan sesuai dengan ajaran Islam

Untuk membentuk kepribadian muslim, bukan hal yang mudah

tetapi berangsur secara perlahan dan merupakan suatu yang

berkembang. Oleh karena pembentukan kepribadian muslim

merupakan sebuah proses.

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa: orang muslim memiliki

kepribadian yang harmonis.

Artinya: “ Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat

Sedangkan kepribadian itu disebut harmonis, menurut Drs. Ahmad

D. Marimba: Kalau segala aspek seimbang, tenaga-tenaganya

seimbang pula sesuai dengan kebutuhan dan seimbang antara peranan

Oleh karena itu, kepribadian yang harmonis itulah yang akan

dituju oleh pembentukan kepribadian. Dalam rangka pembentukan

kepribadian muslim, harus dimulai sejak dini, yaitu sejak anak belum

33 Departemen Agama, A l-Q ur’an dan Terjemahnya: CV. Asy-Syifa’, 1992, him. 36 4 Ahmad D. Marimba, ibid., him. 75

Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi

saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul

(Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.

(43)

30

lahir sampai anak menjadi dewasa, karena pembentukan kepribadian itu

memerlukan waktu yang lama.

Jadi pembinaan kepribadian anak itu tidak hanya dilalui setelah

anak itu lahir, melainkan dimulai sejak ia berada di kandungan, bahkan

lebih jauh dimulai sejak adanya pemilihan jodoh.

Ketika bayi itu lahir, ia belum mengetahui apa-apa dan ia masih

sangat jemih lemah keadaannya, firman Allah SWT:

Artinya: “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan

Penanaman jiwa taqwa, menuju pribadi yang mulia harus sejak itu

lahir, sebagaimana diajarkan agama Islam, yang memerintahkan supaya

bayi itu harus di-adzankan agar pengalaman pertama yang diterimanya

adalah kalimah suci yang membawa ketaqwaan kepada Allah SWT.

Hal ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW:

35 Departemen Agama, Al-Qur'an dan Terjemahnya: CV. Asy-Syifa’, 1992, him.

tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kamu

pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” .35

(44)

t > : 'J3 f.

o -a ^

5

^ ' 6 °

IsJj

:

S

j j j a

J 1 >

(_£^)juuil Aj^f ^9

j ^^Xajll A_j^f ^9 ^jpts

a

J

a

J

j

(

c i

W

•»

j j

)

^ ^

Artinya: “ Dari Abi Hurairah ra. berkata: Diriwayatkan dari Nabi

SAW. “ Barang siapa lahir anaknya, kemudian di-

adzankan pada telinga kanannya dan ia di-iqomatkan pada

telinga kirinya, maka bayi itu akan terhindar dari gangguan

Ummu Sibyan (Syaithan)”.36

Berdasarkan uraian permasalahan diatas, maka sudah jelas bahwa

mencapai kualitas pribadi muslim yang tinggi hams dimulai sejak dini,

dan yang sangat berpengaruh adalah orang tuanya, sebab kedua orang

tuanya itu merupakan orang pertama yang mempengaruhi

terbentuknya kepribadian anak.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian.

Kepribadian manusia itu dapat berubah, berarti ia mudah atau

dapat dipengaruhi oleh sesuatu. Maka oleh karena itu ada usaha untuk

mendidik kepribadian, membentuk kepribadian mendidik watak, atau

membentuk watak.

36Imam Ghozali,

(45)

32

Sedang untuk mencapai manusia yang berkualitas berkepribadian

muslim, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, sebagaimana

disebutkan dalam hadist Nabi Muhammad SAW:

il'jjti sJW l

’J j j

V!

: fLfj

^ - 1 1 a

A

l J j J <1 M . j o ? 3 ^ ‘ V A _ j l J

Artinya: “Dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya ia berkata : Rasulullah

telah bersabda : “ Tidak ada seorang anak yang dilahirkan

kecuali dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya yang

menjadikan mereka Yahudi atau Nasrani atau Majusi” (H.R.

Imam Muslim)37

Maksud dari hadist diatas adalah :

• Setiap bayi yang barn lahir dalam keadaan masih suci, belum

mempunyai dosa dan kesalahan, ia mempunyai kesediaan

untuk menerima Islam, inilah fitrah yang sebenamya.

• Dalam masa perkembangannya, faktor lingkungan sangat

mempengaruhi bagi kepribadiannya, terutama kedua orang tua,

baik dalam perkembangan jasmani, maupun perkembangan

rohaninya.

Omar Mohammad Al-Syaibani telah berkata dalam hal ini:

(46)

Bahwa insan dengan seluruh perwatakannya dan ciri pertumbuhannya adalah hasil dari pencapaian dua faktor, yaitu faktor warisan dan lingkungan. Dan faktor ini mempengaruhi insane dan berinteraksi dengannya sejak hari pertama ia jadi embrio hingga akhir hayat. Oleh karena begitu kuat dan bercampur aduknya peranan dan faktor ini maka sukar sekali untuk menunjukkan perkembangan tubuh atau tingkah laku secara pasti

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, faktor-faktor yang

mempengaruhi terbentuknya kepribadian muslim secara garis

besamya ada dua faktor:

1. Faktor intern

Adapun yang termasuk faktor intern atau faktor dalam atau

faktor pembawaan adalah segala sesuatu yang telah dibawa oleh

anak sejak lahir, yakni fitrah yang berarti suci yang merupakan

bakat bawaan dan kesucian anak-anak yang lahir dari pengaruh-

pengaruh luar. Kata fitrah ini sebagaimana yang terdapat dalam

Al-Qur’an surat Ar-Ruum ayat 30:

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada

38 Omar Mohammad Al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan

kepada salah satu dari dua faktor.

agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah 38

(47)

34

menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada

perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang

lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”

Dengan demikian jelaslah bahwa, setiap anak yang lahir ke

dunia ini, membawa naluri keagamaan yang nantinya akan ikut

mempengaruhi pembentukan kepribadian dalam dirinya.

2 . Faktor ekstern.39 40

Yang dimaksud faktor ekstern adalah segala sesuatu yang ada

di luar manusia, yang dapat mempengaruhi perkembangan

kepribadian pada seorang anak. Dalam membahas masalah ini

akan peneliti kemukakan masalah:

a. Pengaruh keluarga

Setelah bayi itu lahir, bagi orang tua yang taat

menjalankan agama, akan bersyukur dan bertawakal kepada

Allah serta menyebutnya dengan gembira.

Kemudian didalam keluarga sebagaimana fimgsinya

memberikan pendidikan bagi anak yakni memberikan

pengalaman kepada anak, baik melalui penglihatan,

pendengaran, perasaan, maupun membiasakan terbentuknya

kepribadian yang diinginkan oleh kedua orang tuanya.

39 Departemen Agama, A l-Q ur’an dan Terjemahannya, Semarang, CV. Toha Putra, 1989, him. 649.

(48)

Sehubungan dengan itu Dr. Zakiyah Darajat mengatakan

sebagai berikut:

Orang tua adalah pembina pribadi pertama dalam hidup anak. Kepribadian orang tua, sikap, dan cara hidup mereka merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung dengan sendirinya akan masuk dalam pribadi anak yang sedang tumbuh.41

Jika dikaitkan dengan kejadian manusia pada dasamya

manusia itu dalam keadaan fitrah. Dr. Ahmadi menjelaskan

tentang pengertian fitrah manusia adalah

Menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada dan masih merupakan pola dasar yang perlu penyempumaan.42

Sedangkan Drs. H.M.Arifm, M.Ed. menyatakan dalam

masalah ini sebagai berikut:

Bahwa lingkungan keluarga adalah pendidikan pertama yang menjadi pangkal atau dasar hidup kemudian hari. Pendidikan keluarga ini karena sangat besar pengaruhnya atas anak dapat menentukan arah hidup di masa dewasanya dalam masyarakat.43

Oleh karena itu orang tua atau keluarga adalah pusat

kehidupan rohani bagi anak menuju pembentukan kepribadian

muslim.

b. Pengaruh sekolah

Sekolah adalah merupakan lingkungan pendidikan yang

kuasa setelah lingkungan keluarga. Yang juga mempunyai

41 Ibid., him. 56.

(49)

36

peranan besar dalam pembentukan kepribadian anak muslim

sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr. Mahmud Yunus sebagai

berikut:

Kewajiban sekolah adalah melaksanakan pendidikan yang tidak dapat dilaksanakan di rumah tangga, pengalaman anak di rumah dijadikan dasar untuk pelajaran di sekolah, tingkah laku anak yang kurang baik diperbaiki, tabi’at yang salah dibetulkan, perangai yang kasar diperhalus, dan begitu seterusnya.44

Dalam Zakiyah Daradjat juga mengatakan sebagai berikut:

Sekolah adalah lembaga pendidikan formal, yang secara teratur dan terencana melakukan pembinaan terhadap generasi muda. Fungsi sekolah tidak hanya memberikan pendidikan dan pengajaran yang secara formal yang mempengaruhi pembinaan generasi muda, akan tetapi sekolah dengan semua tenaga dan alat pengajaran merupakan unsure pembina bagi generasi muda. Artinya, bahwa guru bagi muridnya tidak hanya merupakan pengajar yang memberikan ilmu dan ketrampilan baginya, akan tetapi guru adalah contoh dan tauladan bagi pembinaan anak didik. Sikap guru, kepribadiannya, agamanya, cara bergaul pada sesama guru, masyarakat, caranya berpakaian dan keseluruhan penampilannya adalah unsur-unsur penting dalam pembinaan anak didik.45

Dr. Ahmadi mengatakan bahwa pendidikan di sekolah

sangat memegang peranan penting dalam mengembangkan

fitrah dan sumber daya insani.46 Untuk itu pendidikan

mempunyai tiga fungsi yaitu:

1. Untuk mengembangkan wawasan subyek didik mengenai

dirinya dan alam sekitamya.

44 Mahmud Yunus, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran, Jakarta, Hida Karya Agumg, 1978, him. 71

(50)

2. Untuk melestarikan nilai-nilai insani yang akan menjadi

filter bagi wawasan hidupnya, sehingga wawasannya

menjadi tepat.

3. Untuk membuka pintu ilmu pengetahuan dan berbagai

ilmu ketrampilan.

Adapim pengertian pendidikan agama Islam menurut Dr.

Ahmadi:

Usaha untuk lebih khusus ditekankan untuk

mengembangkan fitrah keberagamaan dan sumber daya insani agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam 47

c. Pengaruh masyarakat.

Lingkungan ketiga yang mempengaruhi pembinaan anak

remaja dalam pembentukan kepribadian muslim adalah

masyarakat. Masyarakat dalam pengertiannya yang paling

sederhana: Kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh

kesatuan negara, kebudayaan dan agama.48

Sedangkan masyarakat yang dianggap sebagai masyarakat

Islam adalah “Masyarakat yang mengetrapkan Islam dalam

aspek aqidah, ibadah, kepribadian, dan undang-undang dan

system Islam”.49 Ahmad D. Marimba mengatakan sebagai

berikut: corak ragam pendidikan yang dialami seseorang

dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang

47 Ibid., him. 10.

(51)

38

baik pembentukan pengertian (pengalaman) sikap, dan minat

maupun kesusilaan dan keagamaan.50

Pembentukan kepribadian sangat diperlukan pembiasaan

dan latihan-latihan yang sesuai dengan perkembangan

jiwanya.

4. Proses Pembentukan Kepribadian Anak.

Terbentuknya kepribadian muslim sesuai dengan tujuan, pekeijaan

itu bukanlah pekerjaan biasa sekali jadi, melainkan berlangsung secara

bertahap oleh karena itu pembentukan kepribadian anak itu melalui

proses.

Adapun proses terbentuknya kepribadian muslim dapat peneliti

klasifikasikan menjadi tiga:

a) Pembiasaan.

Dengan pembiasaan ini ditnaksudkan untuk membentuk aspek

kejasmaniahan dari kepribadian atau memberi perbuatan dan

ucapan suatu pengetahuan, dan senatiasa anak dapat memelihara

tingkah laku yang baik hingga mereka dewasa.

Pembiasaan tidak hanya digunakan untuk mengembangkan

pengetahuan dan ketrampilan saja, akan tetapi arti yang penting

dari pembiasaan itu adalah pemeliharaan tingkah laku yang baik

setelah mereka dewasa.

(52)

b) Pembentukan sikap dan minat.

Kalau pada taraf pertama pembentukan dan tujuan agar anak

dewasa, bertingkah laku yang baik. Maka pada taraf kedua diberikan

pengetahuan dan pengertian beberapa amalan, pada taraf ini perlu

ditanamkan dasar kesusilaan yang erat hubungannya. Dengan

kesusilaan dan kepercayaan, diharapkan dapat digunakan sebagai

tenaga kejiwaan (cipta, rasa, karsa) agar amalan-amalan yang sudah

dibiasakan itu mengetahui maknanya dan maksudnya. Selanjutnya

Ahmad D. Marimba dapat ditanamkan pengertian tentang arti penting

dalam rangka pembinaan ini, terbentuklah pembiasaan (sikap) dan

pandangan mengenai hal-hal tersebut, misalnya menjatuhkan sikap

dengki, menepati janji, dan lain sebagainya. Selanjutnya adanya rasa

ketuhanan disertai dengan pengertian, maka minat dapat diperbesar

dan ikut serta dalam pembentukan ini.

Dari keseluruhan taraf ketiga ini akan dicapai:

a. Pengertian pokok pembiasaan dalam jiwa ini serta sangkut

pahutnya dengan amalan jasmaniyah, pengertian ini meliputi :

nilai-nilai kesusilaan dan tentang apa yang tidak baik.

b. Kecintaan terhadap kebaikan dan kebencian terhadap kejahatan

(sikap) yang mendorong seseorang berbuat baik dan menjatuhkan

(53)

40

terlebih dahulu mengerti apa yang jahat serta harus mencintai hal-

hal yang baik dan membenci hal-hal yang jahat.

c. Merasa berkepentingan dalam melaksanakan kebaikan akan

mendapat atau mempunyai niat, dan selanjutnya minat akan

mendorong pelaksanaan apa yang telah dipahaminya dalam

perbuatan.

d. Ketiga hal ini dapat memerintahkan hasil usaha ke arah keyakinan

dengan dasar (bukan turunan) terhadap pokok kepercayaan yang

akan ditanamkan pada taraf ketiga.51

c) Pembentukan robani yang luhur.52

Setelah berbuat pada taraf kedua maka berangsur akan mencapai

taraf ketiga yaitu pembentukan kerohanian yang luhur.

Pembentukan kerohanian ini sebagai dasar disebut pembentukan

sendi untuk taraf ini, Ahmad D. Marimba mengatakan :

Alat yang utama adalah dengan tenaga budi dan kejiwaan sebagai alat tambahan pikiran yang disinari oleh pendapat pengenalan Tuhan, hasilnya adalah apa yang segala yang dipikirkannya dipilihnya, dan diputuskannya, serta dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.53

Kalau taraf ketiga ini telah dapat tercapai, maka seseorang akan

mendorong untuk mentaati hal-hal yang perintahkan dan menjauhi apa

yang dilarang oleh agama atau setidak-tidaknya akan menyesal dalam

dirinya bila terlanjur meninggalkan dan mengerjakan sesuatu hal yang

dilarang oleh agama, maka jelaslah pada diri seseorang tersebut akan

(54)

menyesal dalam dirinya bila terlanjur meninggalkan dan

mengerjakan sesuatu hal yang dilarang oleh agama, maka jelaslah

pada diri seseorang tersebut akan terbentuk kepribadian.

Kepribadian yang dimaksud disini adalah kepribadian muslim.

C. Hubungan Antara Pengetahuan Kisah Rasul Dengan Pembentukan Kepribadian

Adapun hubungan antara pengetahuan kisah rasul dengan kepribadian

siswa adalah dengan memiliki pengetahuan tentang kisah para rasul yang

semakin baik maka akan terbentuk suatu kepribadian yang luhur. Sebagai

gambaran maka dapat dijelaskan sebagai berikut.

Beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian anak

muslim, yaitu faktor intern dan faktor ekstem. Faktor intern adalah faktor

pembawaan anak sejak lahir. Sedangkan faktor ekstem adalah keluarga,

sekolah dan masyarakat. Diantara faktor sekolah adalah pemberian kisah para

rasul didalam pembelajaran pada mata pelajaran sejarah Islam dan aqidah

(55)

! 42

Dari bagian di atas dapat digambarkan bahwa kepribadian muslim

dipengaruhi oleh dua faktor intern dan faktor ekstem. Diantara faktor ekstem

adalah pemberian kisah para rasul.

Maka dapat disimpulkan bahwa siswa yang mendapat metode pendidikan

(56)

Penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis

korelasional. Penelitian korelasi bertujuan untuk menemukan ada dan

tidaknya hubungan.55

B. Tempat dan Waktu Penelitian. 1. Tempat Penelitian.

Penelitian dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri desa Tambakselo

Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan, Jalan Wirosari-Karangasem

Km. 3.

2. Waktu.

Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei 2006 sampai Agustus 2006

C. Populasi dan Sampel. 1. Populasi.

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.56 Sedangkan menurut

Sutrisno Hadi menyatakan : Populasi adalah semua individu untuk siapa

kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel itu hendak

digeneralisasikan.57 Jadi populasi adalah semua subyek penelitian untuk

siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel itu hendak

55 Suharsini Arikunto, Ibid., him. 251. 56 op. cit., him. 115.

57 Sutrisno Hadi, Ibid., him. 70.

(57)

4 4

digeneralisasikan, apabila subyeknya kurang dari 100 (seratus), lebih baik

CH diambil semuanya.

Populasi adalah siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo

Wirosari Grobogan yang berjumlah 222 siswa.

2. Sampel.

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi Madrasah Ibtidaiyah

Negeri Tambakselo Wirosari Grobogan, sampel adalah sebagian individu

yang akan diselidiki. Jadi sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang

diselidiki.

Sedangkan tehnik penulis yang digunakan dalam pengambilan sampel

adalah sampel kelompok

(Cluster Sample

). Dari populasi siswa Madrasah

Ibtidaiyah Negeri Tambakselo Wirosari Grobogan, peneliti mengambil kelas

V (Lima) yang berjumlah 64 siswa.

D. Teknik Pengumpulan Data.

Untuk memperoleh data yang konkrit dari lapangan digunakan tehnik

Pengumpulan d a ta :

1. Angket.

Angket yaitu sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh

informasi dari responden dalam arti laporan tentang kepribadiannya atau hal-

hal yang ia ketahui. 57 58

(58)

Isi angket bersifat tertutup, artinya pertanyaan-pertanyaan yang

diajukan sudah ditentukan atau disediakan jawabannya, sehingga responden

tinggal memilih mana yang sesuai dengan keadaannya.59

Sedangkan instrumennya (alatnya) adalah angket (Quesioner). Metode

ini penelitian gunakan untuk mengambil data tentang kisah para rasul dan

kepribadian anak Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo Wirosari

Grobogan.

Angket berupa pertanyaan atau mungkin pemyataan dengan option

jawaban berkode a, b, c, dan d menurut ketentuan sebagai b e rik u t:

a. Untuk altem atif jaw aban a nilai 4

b. Untuk altem atif jawaban b nilai 3

c. Untuk altem atif jaw aban c nilai 2

d. Untuk altem atif jaw aban d nilai l.60

2. Dokumentasi

Pengertian metode dokumentasi adalah : mencari data mengenai hal-hal

atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah,

prasasti, notulen-rapat, legger, agenda dan sebagainya.61

Metode ini penelitian gunakan untuk mengambil data-data yang berupa

dokumentasi penting dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tambakselo Wirosari

Grobogan, seperti struktur organisasi, monografi siswa dan data-data lain

untuk melengkapi penulisan skripsi.

59 ib id , him. 141.

(59)

46

E. Kisi-kisi dan Beberapa Butir Instrumen

TabelO l.

Tabel Kisi-kisi Instrumen

No. Variabel Sub Variabel Indikator Butir Jml

1. Kisah Para - Kisah N abiN uh - Anak dan istri 1 , 2 , 4 3

Validitas instrumen yang baik harus mempunyai dua persyaratan

penting yaitu valid dan reliable. Oleh karena itu perlu diuji cobakan atau “Try

Gambar

Tabel 01 Kisi-kisi instrumen
Gambar 01 Gambar grafik distribusi hasil uji pengetahuan kisah rasul
TabelOl.Tabel Kisi-kisi Instrumen
Tabel 03: Daftar Nama Guru dan Tugas MIN Tambakselo
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mempelajari perkembangan sistem kontrol terhadap pers, dari masa kolonial Belanda, masa penjajahan Jepang, masa setelah kemerdekaan Indonesia sampai dengan tahun

Menurut penelitian yang telah di lakukan, antara Profitabilitas, Likuiditas, Leverage , Umur Perusahaan dan Ukuran Perusahaan secara parsial maupun secara simultan

TEKNIK REINFORCEMENT POSITIF UNTUK MEREDUKSI PERILAKU NEGATIF PADA ANAK DENGAN HAMBATAN EMOSI DAN PERILAKU (Studi Eksperimen Dalam Mata Pelajaran PKn Pada Siswa Kelas V SD di SLB

Salah satu yang menjadi sorotan penulis adalah banyaknya remaja di Indonesia yang lebih kenal dan mengidolakan superhero luar negeri, padahal banyak tokoh superhero dalam negeri

Pada bagian akhir uraian ini, penulis menyimpulkan beberapa hal sehubungan dengan mengkaji rumusan perbuatan yang dilarang ditinjau dari aspek hukum pidana

Analisis Pengaruh Fraud Pentagon Terhadap Kecurangan Laporan Keuangan Menggunakan Beneish Model Pada Perusahaan Yang Menerapkan Asean Corporate Governance

Nilai Siswa Turun 42 poin ketika diajar oleh guru tidak baik PENDAHULUAN SYARAT GURU POTRET KITA UPAYA PERBAIKAN GURU ABAD 21... 8 St udent perf orman c e on St andardiz ed Ex

Paradigma baru Badan Litbang Pertanian adalah tidak hanya menghasilkan nilai tambah ilmiah, tetapi juga harus menghasilkan nilai tambah komersial (agribisnis). Produk penelitian