Toto Tasmara, memberikan ciri-ciri kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan ruhaniah/ kejiwaan atau ruh sebagai wilayah batin yang selalu berubah-ubah.24 Adapun ciri-ciri pribadi yang memiliki keceerdasan ruhaniah tersebut adalah :
a. Memiliki visi
Mereka yang cerdas secara spiritual atau ruhaniah sangat menyadari bahwa hidup yang dijalaninya bukanlah “kebetulan” tetapi
sebuah kesengajaan yang harus dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Visi atau tujuan setiap muslim yang cerdas secara spiritual akan menjadikan pertemuan dengan Allah sebagai puncak dari pernyataan visi pribadinya, yang kemudian dijabarkan dalam bentuk perbuatan baik yang terukur dan terarah. Sebagaimana firman Allah
Artinya :“Barang siapa yang mengharapkan pertemuan (liqa) dengan Tuhannya, hendaklah ia melakukan amal shaleh dan janganlah beribadah dengan mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Q.S. Al-Kahfi:110).25
23
Toto Tasmara OP.Cit. hal 45 24
Jalaluddin Rakhmat, et.al, Menyinari Relung-relung Ruhaniah: Mengembangkan EQ dan SQ Cara Sufi, Al Hikmah kerjasama dengan IMAN, Bandung, 2002, hal. 26.
25
Kesadaran ruhaniah yang paling mendalam adalah kesadaran bahwa hidup adalah kesementaraan yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab , sebuah perantauan yang harus dan niscaya kembali kekampung halaman dengan membawa bekal, dan perjalanan singkat untuk menempuh perjalanan yang panjang dan abadi. Dalam jiwanya terdapat keyakinan bahwa hanya orang-orang yang bertanggung jawab untuk menunaikan amanahnya yang akan memperoleh kemenangan dunia dan akhirat.
b. Merasakan kehadiran Allah
Mereka yang cerdas secara ruhani merasakan kehadirat Allah dimanapun mereka berada, mereka menyakini bahwa dirinya senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT. Ada kamera Illahiyah yang terus menyoroti Qolbunya dan merasakan serta menyadari bahwa seluruh detak hatinya diketahui dan dicetak Allah tanpa satupun yang tercecer. Allah berfirman.
Artinya :„Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”.(Q.S. Qof: 16)26
Mereka yang memiliki kecerdasan ruhaniah merasakan dirinya berada dalam limpahan karunia Allah. Dalam suka dan duka atau dalam
26
sempit ataupun lapang, mereka tetap merasakan kebahagian , karena kepada Allah mereka bertawakal. Perasan kehadiran Allah di dalam qalbu apalagi sampai kepada tingkat tawakal tidak dapat datang begitu saja, melainkan harus di latih melalui keheningan batin. Ia hanya mungkin di peroleh ketika keadaan jiwa dalam kondisi-kondisi kontemlatif, bening dan menarik diri untuk beberapa saat dari hiruk pikuk dunia atau yang dalam istilah lain di sebut uzlah
c. Berdzikir dan berdo‟a
Berdzikir dan berdo‟a merupakan sarana sekaligus motivasi diri untuk menampakkan wajah seseorang yang bertanggung jawab. Dzikir mengingatkan perjalanan untuk pulang dan berjumpa dengan yang
dikasihinya. Berdo‟a berarti memanggil diri sendiri. Jiwa dan kesadaran
diseru dan dihentakkan agar sadar bahwa “aku sedang beraudiensi dengan
Tuhan-ku”.
Mereka yang cerdas secara ruhani menyadari bahwa do‟a mempunyai makna yang sangat dalam bagi dirinya. Dengan berdo‟a
berarti ada rasa optimisme yang mendalam dihati dan masih memiliki semangat untuk melihat ke depan. . Allah berfirman
Artinya :(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar- Ra‟d : 28)27
Artinya :dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina".(S.Q Al. Mu‟minun : 60)28 d. Memiliki kualitas sabar
Sabar berarti memiliki ketabahan dan daya sangat kuat untuk menerima beban, ujian dan tantangan tanpa sedikitpun mengubah harapan untuk menuai hasil yang ditanamnya, sehingga orang yang bertakqa tidak
mengenal atau memiliki kosa kata “cengeng” karena makna dari kata sabar
itu sendiri bermuatan kekuatan bukan kelemahan. Sabar berarti terpatrinya sebuah harapan yang kuat untuk menggapai cita-cita atau harapan, sabar berkaitan pula dengan masa depan sebagaimana firman Allah
Artinya :Maka bersabarlah kamu, karena Sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (QS. Al.
Mu‟minun : 55)29 27 ibit hal 252 28 Ibiit hal 346 29 Ibit hal 346
Salah satu mahkota sabar adalah sikap memaafkan. Keberanian untuk selalu berpihak pada “salam” sebagaimana yang di ucapkan setiap
mengakhiri shalatnya (yang pada dasarnya merupakan awal dari aktualisasi sholat). Di dalam nilai-nilai sabar itu tampak sikapnya yang paling dominan antara lain sikap percaya diri(self confidence), optimis, mampu menahan beban ujian dan terus berusaha sekuat tenaga (mujahadah). Dan mereka sangat yakin akan janji Allah yang berfirman
Artinya :Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-ankabut : 69)30
e. Cenderung pada kebaikan
Orang yang bertaqwa adalah tipe manusia yang cenderung pada kebaikan dan kebenaran. Sabda Rasulullah SAW., “jadikanlah hidup hari ini lebih baik dari hari kemaren dan hari esok lebih baik lagi dari hari ini”, seakan-akan menembus cakra wala qalbunya dan menjadi hiasan nuraninya setiap detik, mereka merasakan kerugian yang dahsyat ketika waktu berlalu begitu saja tanpa ada satupun kebaikan yang di lakukannya.
Amanah adalah segala bentuk kebaikan yang mengikat diri dan kemudian menjadi beban dan keharusan untuk dilaksankan dengan penuh tanggung jawab. Sehingganya, takwa kita pahami sebagai bentuk tanggug
30
jawab adalah bentuk rasa cinta Karena menerima amanah kebaikan dari Allah . Kebaikan merupkan kodrat yang melekat pada fitrah manusia itu sendiri. Amanah kebaikan dari Allah tersebut merupakan principium identity manusia, artinya manusia hanya dapat memanusiakan dirinya selama dia mau bertanggung jawab terhadap amanah yang di berikan Allah kepadanya. Dengan demikian, hidup dan kehidupan yang kita jalani bersama-sama orang lain itu adalah amanah yang harus ia laksanakan dalam bentuk tanggung jawab.
f. Memiliki empati
Empati adalah kemampuan seorang untuk memahami orang lain., sehingga mereka mampu beradaptasi dengan merasakan kondisi batiniah dari orang lain. Empati sosial telah di patrikan kepada jiwa agung Rasulullah SAW. Sebagaimna firman-Nya,
Artinya :Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.(QS. At.Taubah : 128)31
Hal ini di contohkan oleh Umar Ibnul-Khattab r.a, pada saat penduduk dalam keadaan kelaparan, tampak Umar Ibnul-Khattab r.a menggigil karena tidak makan gandum dan minyak samin hampir satu
31
bulan lamanya. Seorang bertanya, “ Wahai Amirul Mukminin, betapa seorang Amir seperti engkau kelihatan sangat lesu, wajahmu pucat dan hanya makan roti kering . Engkau kelihatannya sedang menyiksa diri, padahal dengan kekuasaanmu, engkau hanya tinggal meminta kepada kas Negara (Baitu mal)”, Umar menjawab, “ Bagaimana mungkin aku
menjadi pemimpin rakyat bila tidak merasakan derita yang mereka rasakan
?”. Para pemimpin yang berempati akan melahirkan solidaritas, lalu menular menjadi satu kesadaran kolektif. Kepemimpinan adalah keteladanan dan siakap yang penuh perhatian terhadap yang di pimpinnya. g. Berjiwa besar
Jiwa besar adalah keberanian untuk memaafkan dan sekaligus melupakan kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lain. Orang yang cerdas secara ruhaniah adalah mereka yang mampu memaafkan betapapun besarnya kesalahan yang pernah diperbuat orang lain pada dirinya. Karena mereka menyadari bahwa sikap pemberian maaf, bukan saja sebagai bukti kesalehan, melainkan salah satu bentuk tanggung jawab hidupnya, karena apapun yang ia pilih atau putuskan pada akhirnya akan mempengaruhi orang lain.
Seorang yang cerdas secara ruhaniah, memiliki sikap pemaaf yang sangat besar seakan melebur dalam cintanya yang sangat mendalam terhadap kebenaran dan sekaligus sangat besar kepeduliannya terhadap kemanusiaan. Pada saat Rasulullah di lecehkan oleh penduduk Thaif, wajah beliau bercucuran darah karena lemparan batu penduduk tersebut.
Pada saat itu malaikat menawarkan kekuatan untuk membalas kepedihan hati kekasih Allah yang telah di hinakan melempaui batas-batas kemanusian. Tetapi, keagungan akhlak Rasulullah tampak dan menggaung
ke seantero jagat. Tawaran malaikat di jawabnya dengan do‟a, “ Ya Allah, ampunilah mereka , karena sesungguhnya mereka tidak tahu.‟
Keagungan akhlak tersebut di tampakkan lagi secara monumental ketika Rasulullah SAW, memasuki kota Mekah yang di kenal dengan fatthul Makkah. Pada saat itu, musuh-musuh Islam menggigil ketakutan. Mereka merasa khawatir kaum muslimin akan membalas dendam kerena kekejian yang telah mereka perbuat kepada kaum muslimin.
Dalam suasana yang mencekam, Rasulullah berdiri di depan
Ka‟bah dan berkata dengan lantang, “Aku akan berkata sebagaimana Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya. Tidak ada dendam dan kebencian di hati kita semua. Kalian (musuh-musuh Islam) kalau mau, silahkan pergi dan bebas kemana engkau mau, karena kalian telah kami maafkan.” Inilah keteladanan yang menunjukkan jiwa besar Rasulullah SAW. Padahal sebelumnya beliau dan pengikutnya mendapatkan siksaan di luar batas kemanusian , begitulah seorang yang cerdas rohaninya, lebih dominan rasa cintanya daripada kebenciannya. Lebih besar rasa perdamaiannya daripada permusuhannya. Sehingga, tidak mungkin keluar dari mulutnya kata dan kalimat yang mencerminkan sikap kebencian, dendam, dan caci maki.
Budaya melayani dan menolong merupakan bagian dari citra diri seorang muslim. Mereka sadar bahwa kehadiran dirinya tidaklah terlepas dari tanggung jawab terhadap lingkungannya. Sebagai bentuk tanggung jawabnya, mereka menunjukkan sikapnya untuk senantiasa terbuka hatinya terhadap keberadaan orang lain dan merasa terpanggil atau ada semacam ketukan yang sangat keras dari lubuk hatinya untuk melayani.
Sikap melayani melekat pada fitrah dirinya, sebagaimana setiap hari minimal 17 kali kita membaca surat al-fatiah, sebagai pernyataan dan
komitmen yang di ungkapkan dengan penuh kesadaran, “Iyyaka na‟budu
hanya pada Engkaulah kami menyembah‟!. Kata “abdun” dapat berarti menghamba, taat melayani (sebagaimana seorang hamba melayani tuhannya).
Menarik untuk disimak, pernyataan ” Iyyaka na‟budu di ungkapkan dalam bentuk jamak. Ada unsur kebersamaan (bukan a‟budu aku mengabdi). Dalam melayani, ego keakuan kita hilang diganti dengan rasa kebersamaan. Hanya dengan melayani atau saling melayani, niscaya kehidupan kita meningkat menuju keluhuran budaya. Melayani bukan bukan hanya sekedar kenunjukan sikap luar seperti tersenyum, berpakaian rapi, atau hal lain yang seringkali di jadikan tema pelatihan pelayanan prima. Tetapi yang paling hakiki adalah bahwa melayani merupakan bentuk keterpanggilan untuk memenuhi janji atau amanah, ungkapan hati nurani dan karenanya merupakan salah satu bentuk ketakwaan seseorang.
Salah satu bentuk kualitas pelayanan adalah tidak pernah tersirat sedikitpun dalam pikiran seorang muslim untuk mengingkari janji. Karena itu mereka yang cerdas secara ruhani akan tampak dari sikapnya yang sangat perhatian terhadap janji dan amanah.
Artinya :dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.(QS.Al.Isra‟ :34)32
Melayani dengan cinta, bukan karena tugas atau pengaruh luar. Tetapi, benar-benar sebuah obsesi yang sangat mendalam bahwa “aku ada karena aku melayani”. Dengan penghayatan seperti itu, sadarlah mereka
bahwa “siapapun di luar dirinya adalah customer” yang berhak mendapatkan pelayanan dirinya. Mereka menyadari bahwa keberadaannya tidak mungkin berarti kecuali bersama dengan orang lain. Dengan melayani orang lain berarti dirinya ikut di berdayakan menuju kualitas akhlak yang lebih luhur dan bermakna .
Dengan demikian seorang muslim akan menjadikan setiap geraknya adalah pelayanan yang berkualitas. Sehingga, orang yang di sekitarnya merasakan kedamaian. Itulah sebabnya setiap mengakhiri sholat
kita mengucapkan “salam”, semacam ada gemuruh yang menggaungkan sebuah ungkapan, “dengan mengakhiri sholatku ini, sesungguhnya aku
memulai hidupku untuk menebarkan salam. Sebab itu wahai saudarku siapapun engkau adanya, janganlah gentar dan takut karena sesungguhnya
32
aku hadir untuk memberikan kedamaian bagi semesta.” Dan dengan begitu
seseorang yang memiliki kecerdasan ruhaniah, menjadikan semangat pelayanan sebagai salah satu misi kehidupannya. Bagi mereka pelayanan merupakan investasi prilaku dirinya, bertambah banyak mereka mengulurkan tangan dan melayani maka bertambah investasinya. 33
4. Langkah-langkah pencapaian Kecerdasan Rohaniah
Kecerdasan Ruhaniah yang baik akan memiliki hubungan yang kuat dengan Allah, namun nafsu sebagai salah satu potensi manusia disadari perlu di kontrol sedemikian rupa sehingga ia tidak menjadikan manusia terhalang dari Tuhan. Maka untuk mencapai tingkat kesempurnaan dan kesucian jiwa di perlukan sekali latihan dan pendidikan kerohanian yang panjang.34
Tahap pertama (dalam perjalanan ruhaniah ) adalah upaya mengalihkan hati yang sakit menjadi hati yang sehat. Tahap kedua, memberikan bekal harian yang lazim disertai dengan santapan yang di butuhkan setiap saat, sehingga hati mampu memelihara dan mempertahankan kondisi keimanan yang tinggi. Kondisi rohani yang demikian merupakan suatu hak yang harus dipenuhi oleh setiap orang sepanjang hayatnya. dengan kata lain, setiap orang harus melakuan dan mempertahankan proses atau kondisi ruhani yang demikian selama hayatnya, hingga akhirnya dia “menjumpai” Allah.35
33Toto Tasmara : op, cit., hal. 6-39 34
Duski Samad: Lebih dekat dengan tasauf, (Padang: Duski Samad Institut, 2014), hal.42 35
Sa‟id Hawwa: Perjalanan Ruhani menuju Allah, terj. Imam fajaruddin (Solo: Era Intermedia, 2002), hal.133
Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang dikenal sebagai sufi yang mampu mengkompromikan sedemikian rupa antara tasauf dengan amalan
syari‟at dianggap sebagai tokoh yang membuat sistem pembinaan akhlak yang bertujuan untuk menguasai nafsu tidak menjadi penghalang bagi
manusia menuju ma‟rifah dengan Tuhannya. Sistem yang di susun Al-Ghazali di kenal dengan konsep Takhalli, Tahalli dan Tajalli.
a. Takhalli
Takhalli secara terminologis berarti membersihkan diri dari segala bentuk godaan kehidupan duniawi yang dapat menghalangi si salik (orang
yang konsentrasi menuju Tuhan) dari ma‟rifahnya kepada Tuhannya.
Usaha untuk mengosongkan diri dari sikap ketergantungan terhadap kelezatan duniawi, bisa ditempuh jika seseorang benar-benar mampu menjauhkan dirinya dari semua kemaksiatan dalam segala bentuknya dan berusaha melenyapkan dorongan hawa nafsunya, sebab hawa nafsulah yang menjadi pangkal dari segala sifat yang tidak baik.
Sikap mental sufi yang sudah tercemar oleh pengaruh duniawi dan material dipandang akan merugikannya dari perjuangan (mujahadah) menuju Tuhan. Oleh karenanya sikap ria, takabur, hasad, dan sikap hati yang tercela itu mesti dapat dibersihkan dari jiwa seseorang yang menuju kepada kehidupan spiritual.
b. Tahalli
Konsep ini mengandung pengertian menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sifat dan sikap serta perbuatan yang baik. Yakni
mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji, dengan taat lahir batin. Berusaha agar dalam setiap gerak dan prilaku selalu berjalan diatas ketentuan agama, baik kewajiban yang bersifat lahir atau ketaatan lahir maupun yang
bersifat ketaatan batin. Yang dimaksud dengan ketaatan kepada syari‟at
agama formal seperti shalat, puasa, zakat dan haji, sedangkan yang dimaksud dengan ketaatan batin yaitu seperti iman, ikhlas, dan sebagainya. Manusia yang berhasil mensucikan diri (takhalli) dan kemudian ia mengisi dirinya (tahalli) dengan perbuatan terpuji maka segala perbuatan dan tindakannya sehari-hari selalu berdasarkan niat yang ikhlas. Manusia seperti itulah yang berhasil mendapatkan kedekatan diri dengan Allah SWT , selanjutnya dia pula yang bisa naik kederajat Tajalli.
c. Tajalli
Artinya terungkapnya nur gaib (kebesaran Allah) pada hati nurani sang sufi. Firman Allah: Allah adalah nur (cahaya) langit dan bumi (Q.S.24:35). Tajalli merupakan proses mental merasakan adanya kerinduan pada ketuhanan, kerinduan itu akan terobati jika kepadanya dibukakan hijab (pembatas) antara manusia dan Tuhannya. Untuk membuka hijab itu manusia harus selalu melakukan riyadah (latihan-latihan jiwa), berusaha membersihkan dirinya dari sifat-sifat tercela, mengosongkan hati dari sifat keji, melepaskan ketergantungan dengan dunia lalu mengisi diri dengan perbuatan dan sikap terpuji , semua yang dilakukannya tetap dalam kerangka ibadah, memperbanyak zikir, wirid-wirid, menghindarkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak kesucian
hati, baik lahir maupun batin. Usaha-usaha seperti diatas pada dasarnya berarti mempersiapkan seluruh jiwa (hati) untuk menerima tajalli nur ilahi untuk menembus relung-relung hati yang terdalam, maka dengan demikian dia siap menerima limpahan nikmat dan karunia-Nya. Pada tingkat ini hamba akan cemerlang, terang benderang dadanya terbuka luas dan lapang, terangkat rahasia alam maka pada saat itu jelaslah baginya rahasia ketuhanan yang dulunya terdinding oleh kotoran jiwanya.36 Untuk mencapai kedamaian hati sebagai upaya meningkatkan kecerdasan ruhani, kiranya harus secara kontinu dan penuh rasa harap serta bertanggung jawab untuk melatih jiwa, melalui enam langkah yaitu:
a) Rasa cinta (mahabbah) serta pemahaman sangat kukuh terhadap ruh tauhid (menjadikan satu-satunya Illah, tumpuan dan tujuan tempat seluruh tindakan diarahkan kepadaNya. Memandang Allah sebagai arah yang dituju. Menjadikan-Nya andalan dari segala andalan, atau bertawakal semata-mata kepada-Nya, sebagaimana yang sering kita wiridkan “ Hasbunallah wa ni‟malwakil ni‟mal maula wa ni‟man nasir.”
Cukup bagiku Allah tempat bagiku bersandar dan Dialah tempatku meminta pertolongan. Inti dari keimanan terletak pada rasa cinta kasih, kelembutan, dan pemaafan.
b) Merasakan kehadiran Allah (omni present). Memberikan kesadaran dan keyakinan yang membekas di hati bahwa Allah
36
senantiasa hadir dan menyaksikan seluruh perbuatan bahkan bisikan hatinya. Kesadaran dalam dirinya selalu membisikan bahwa ada kamera Ilahi yang terus-menerus memantau, merekam dan mencatat secara akurat semua tindakannya di dunia ini.
c) Meyakini kesementaraan dunia dan keabadian akhirat. Merasakan dengan sangat bahwa hidup hanyalah kedipan mata
dan fatamorgana. Apa yang di sisi manusia adalah fana‟
(binasa) sedangkan di sisi Allah adalah baqa‟ (kekal abadi).
d) Ingin menjadi teladan. Merasakan dan menghayati nilai-nilai akhlaqul karimah dengan membaca dan mengerti riwayat hidup Rasulullah, para sahabat dan orang-orang shaleh yang hidupnya selalu bersih dan mengabdi pada nilai-nilai kebenaran Ilahiah. Melakukan perjalanan ruhani dengan membaca berbagai hikmah sebagai nasihat hati.
e) Berprilaku sederhana. Menguji diri dengan cara mempraktekkan kehidupan yang zuhud, agar cahaya ruhaniyah tidak tenggelam dan diambil alih oleh nyala api hawa nafsu syahwati.
f) Memiliki rasa ingin tahu (curiousity) yang tinggi. Mempelajari, merenungkan dan meneliti dengan penuh rasa ingin tahu yang sangat mendalam terhadap kandungan Al-Qur‟an, kemudian
menjadikannya sebagai petunjuk yang memotivasi dirinya untuk bertindak.