• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelayanan Publik

Dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan pihak penyedia dan

yaitu pencapaian kepuasan konsumen (consumer satisfaction) atau kepuasan pelanggan (costumer satisfaction). Terciptanya kepuasan pelanggan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya hubungan antara penyedia layanan

dan pelanggannya menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik bagi

pembelian ulang dan terciptanya loyalitas, dan membentuk suatu rekomendasi

dari mulut ke mulut (word-of-mouth) yang menguntungkan bagi pihak penyedia (Tjiptono, 1994).

Ada beberapa pakar yang mendefinisikan kepuasan/ketidakpuasan

pelanggan. Day (dalam Tse dan Wilton, 1988) menyatakan bahwa kepuasan atau

ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi

ketidaksesuaian (disconfirmation) yang dirasakan antara harapan sebelum dan sesudah pemakaian. Wilkie (dalam Tjiptono, 1997) mendefinisikan kepuasan

sebagai suatu tanggapan emosional pada evaluasi terhadap pengalaman konsumsi

suatu produk atau jasa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya

pengertian kepuasan pelanggan mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja

atau hasil yang dirasakan. Pengertian ini didasarkan pada disconfirmation paradigm dari Oliver (dalam Tjiptono, 1997).

Sumber : Fandy Tjiptono, 1997: 25

Gambar 2.1 Konsep Kepuasan Pelanggan

Kepuasan pelanggan dapat terbentuk dari penilaian terhadap kinerja suatu

perusahaan dalam merumuskan tujuan dan manfaat produk atau pelayanan yang

diberikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan.

Sehingga dapat dikatakan bahwa kepuasan terjadi karena terpenuhinya kebutuhan

dan harapan pelanggan.

Pada umumnya manajemen puskesmas mengira, bahwa dengan

memberikan suatu pelayanan akan membuat pasien puas dan loyal. Ternyata,

tidak semua jenis pelayanan ketika diberlakukan akan memuaskan pasien.

Adakalanya pasien menganggap pelayanan itu sebagai keharusan (must-be), Tujuan Perusahaan

Nilai Produk Bagi

Pelanggan Produk

Tingkat Kepuasan Pelanggan

Harapan Pelanggan Terhadap Kebutuhan dan Keinginan

sehingga jika pelayanan yang diberikan ada, pasien tidak akan meningkat

kepuasannya. Namun jika pelayanan tersebut di Puskesmas tidak maka pasien

tidak akan puas. Ada pelayanan yang bersifat one-dimension, dimana pasien akan merasa puas jika jenis pelayanan ini ada, dan sebaliknya pasien tidak akan merasa

puas jika jenis pelayanan ini tidak ada. Selain itu, ada pelayanan yang bersifat

attractive. Jika jenis pelayanan ini ada maka pasien puas sekali, sebaliknya jika tidak ada pasien tidak akan kecewa. Jika manajemen puskesmas mengetahui jenis

pelayanan mana termasuk kategori apa, manajemen dapat menentukan strategi

yang lebih baik untuk mencapai hasil yang maksimal.

2.3.2 Pelayanan Publik

Pelayanan publik dapat diartikan sebagai pemberian layanan (melayani)

keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi

itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan. Sebagaimana

telah dikemukakan terdahulu bahwa pemerintahan pada hakekatnya adalah

pelayanan kepada masyarakat. Ia tidaklah diadakan untuk melayani dirinya

sendiri, tetapi untuk melayani masyarakat serta menciptakan kondisi yang

memungkinkan setiap anggota masyarakat mengembangkan kemampuan dan

kreativitasnya demi mencapai tujuan bersama (Rasyid, 1998).

Pelayanan publik yang profesional, artinya pelayanan publik yang

dicirikan oleh adanya akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi layanan

(aparatur pemerintah). Dengan ciri sebagai berikut :

1. Efektif, dimana lebih mengutamakan pada pencapaian apa yang menjadi tujuan dan sasaran.

2. Sederhana, mengandung arti prosedur/tata cara pelayanan diselenggarakan secara mudah, cepat, tepat, tidak berbelit-belit, mudah

dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang meminta

pelayanan.

3. Kejelasan dan kepastian (transparan), mengandung akan arti adanya kejelasan dan kepastian mengenai prosedur, persyaratan pelayanan,

unit kerja, rincian biaya pelayanan, jadwal waktu penyelesaian

pelayanan

4. Keterbukaan atas prosedur/tata cara persyaratan, satuan kerja/pejabat penanggungjawab pemberi pelayanan, waktu penyelesaian, rincian waktu/tarif serta hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat, baik diminta maupun tidak diminta.

5. Efisiensi, bahwa persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap

memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk

pelayanan yang berkaitan. Dicegah adanya pengulangan pemenuhan

persyaratan, dalam hal proses pelayanan masyarakat yang

bersangkutan mempersyaratkan adanya kelengkapan persyaratan dari

satuan kerja/instansi pemerintah lain yang terkait.

6. Ketepatan waktu, kriteria ini mengandung arti pelaksanaan pelayanan masyarakat dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah

7. Responsif, lebih mengarah pada daya tanggap dan cepat menanggapi apa yang menjadi masalah, kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang

dilayani.

8. Adaptif, cepat menyesuaikan terhadap apa yang menjadi tuntutan, keinginan dan aspirasi masyarakat yang dilayani yang senantiasa

mengalami tumbuh kembang.

Secara teoritis sedikitnya ada tiga fungsi utama yang harus dijalankan oleh

pemerintah tanpa memandang tingkatannya, yaitu fungsi pelayan masyarakat

(public service function), fungsi pembangunan (development function) dan fungsi perlindungan (protection function).

2.3.3 Standar Pelayanan Publik

Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar

pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima

pelayanan. Standar pelayanan merupakan ukuran yang dibakukan dalam

penyelenggaraan pelayanan publik yang wajib ditaati oleh pemberi pelayanan

dan/atau penerima pelayanan. Standar pelayanan, menurut Keputusan Menteri

Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2003, sekurang-kurangnya

meliputi:

1. Prosedur Pelayanan, yang dibakukan bagi pemberi dan penerima pelayanan termasuk pengaduan.

2. Waktu Penyelesaian, yang ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian pelayanan termasuk

3. Biaya Pelayanan, yang ditetapkan dalam proses pemberian pelayanan. Biaya (termasuk rinciannya) ini ditetapkan dengan memperhatikan

tingkat kemampuan daya beli masyarakat, harga yang berlaku atas

barang dan/atau jasa, serta ditetapkan oleh pejabat yang berwenang

dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4. Produk Pelayanan, yang akan diterima oleh penerima layanan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

5. Sarana dan Prasarana, yang secara memadai perlu disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

6. Kompetensi Petugas Pemberi Pelayanan, yang harus ditetapkan secara tepat berdasarkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap, dan

perilaku yang dibutuhkan.

2.3.4 Indeks Kepuasan Masyarakat

Indeks kepuasan masyarakat adalah data dan informasi tentang kepuasan

masyarakat yang diperoleh dari hasil pengukuran secara kuantitatif dan kualitatif

atas pendapat masyarakat dalam memperoleh pelayanan dari aparatur

penyelenggara pelayanan publik dengan membandingkan antara harapan dan

kebutuhannya (Keputusan MENPAN Nomor 25 Tahun 2004).

Berdasarkan prinsip pelayanan sebagaimana telah ditetapkan dalam

keputusan MENPAN Nomor 25 Tahun 2004, terdapat 14 unsur minimal yang

harus ada untuk menjadi dasar pengukuran indeks kepuasan masyarakat yaitu :

1. Prosedur pelayanan 2. Persyaratan pelayanan

3. Kejelasan petugas pelayanan 4. Kedisiplinan petugas pelayanan 5. Tanggung jawab petugas pelayanan 6. Kemampuan petugas pelayanan 7. Kecepatan pelayanan

8. Keadilan mendapatkan pelayanan 9. Kesopanan dan keramahan petugas 10. Kewajaran biaya pelayanan

11. Kepastian biaya pelayanan 12. Kepastian jadwal pelayanan 13. Kenyamanan lingkungan 14. Keamanan pelayanan

Puskesmas sebagai salah satu instalasi pemerintah yang berperan dalam

penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dituntut untuk

meningkatkan kualitas kinerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat

sehingga pelayanan yang diberikan mampu memberikan kepuasan. Berdasarkan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program

Pembangunan Nasional (PROPERNAS), salah satu upaya untuk meningkatkan

kualitas pelayanan publik adalah dengan menyusun indeks kepuasan masyarakat

sebagai tolok ukur untuk menilai tingkat kualitas pelayanan. Dengan demikian

data indeks kepuasan masyarakat dapat menjadi bahan penilaian terhadap insur

pelayanan yang masih perlu perbaikan dan menjadi pendorong setiap unit

Dokumen terkait