METODE PENELITIAN A Obyek dan Subyek Penelitian
F. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1 Definisi variabel penelitian
3. Tahap Keputusan (Decision Stage)
Quantitative Strategic Planning Matriks (QSPM)
Sumber: David, 2006
Gambar 3.1
Kerangka Kerja Analitis Perumusan Strategi 1.Tahap input :
Merupakan tahap yang berfungsi untuk meringkas informasi dasar yang dibutuhkan sebelum merumuskan strategi (David, 2006). Tahap ini terdiri dari matriks faktor internal yakni kekuatan dan kelemahan sentra industri anyaman rotan di Kabupaten Majalengka Jawa Barat, dan matriks faktor eksternal yang terdiri dari peluang dan ancaman sentra industri kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Majalengka Jawa Barat.
1. Matriks Faktor Strategi Internal
Matriks faktor internal dibuat setelah melakukan identifikasi analisis faktor internal yang merupakan faktor kekuatan dan kelemahan yang disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategi
internal dalam perusahaan. Tahapan-tahapan penentuan faktor internal adalah sebagai berikut (Rangkuti, 2014) :
a) Menyusun kolom faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan industri.
b) Memberikan bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 4 (paling penting), sampai dengan 1 (tidak penting). c) Menghitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor
dengan cara memberikan skala. Pemberian nilai rating untuk faktor kekuatan bersifat positif (kekuatan yang semakin besar diberi rating 4, tetapi jika kekuatan kecil diberi rating 1. Pemberian nilai rating kelemahan adalah kebalikannya.
d) Bobot yang terletak pada kolom 2 dikalikan dengan rating pada kolom tiga untuk memperoleh skor faktor internal.
Tabel 3.1 Matriks IFAS Sumber: Rangkuti, 2014 Faktor-Faktor
Strategi Internal Bobot Rating
Bobot x Rating Kekuatan Kekuatan 1 Kekuatan 2 Total Kekuatan A B Kelemahan Kelemahan 1 Kelemahan 2 Total Kelemahan C D Total A + C B+D
2.Matriks Faktor Strategi Eksternal
Matriks faktor eksternal dibuat setelah melakukan analisis faktor strategi eksternal yang merupakan faktor peluang dan ancaman yang disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategi eksternal dalam perusahaan.
Tahapan-tahapan penentuan faktor strategi Eksternal (Rangkuti, 2014) :
a) Menyusun kolom faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman industri.
b) Memberikan bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 4 (paling penting), sampai dengan 1(tidak penting). c) Menghitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor
peluang dan ancaman dengan memberikan skala.
Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif peluang yang semakin besar diberi rating 4, tetapi jika peluangnya kecil diberi rating 1. Pemberian nilai rating ancaman adalah kebalikannya.
d) Bobot yang terletak pada kolom 2 dikalikan dengan rating pada kolom tiga untuk memperoleh skor faktor eksternal.
Tabel 3.2 Matriks EFAS Sumber: Rangkuti, 2014 2. Tahap pencocokan
Pada tahap ini, berfokus untuk menciptakan strategi dengan cara mencocokan faktor kunci internal dan eksternal (David, 2009). Tahap ini terdiri dari 2 matriks yakni matriks SWOT dan matriks IE (Internal- Eksternal) yang sebelumnya telah diidentifikasi analisis SWOTnya. 1.Analisis SWOT
Merupakan analisis yang mengidentifikasi faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi industri. SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal strength, weakness serta lingkungan eksternal opportunities dan threats yang dihadapi dunia bisnis. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang (oportunities) dan Ancaman (threats) dengan faktor internal kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness). Analisis SWOT
Faktor-Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Bobot x Rating Peluang 1.Peluang 1 2.Peluang 2 Total Peluang A B Ancaman 1. Ancaman 1 2. Ancaman 2 Total Ancaman C D Total A+C B+D
digunakan untuk mengetahui strategi apa yang pas dilakukan untuk melihat dari segi kekuatan, kelemahan peluang dan ancaman yang dimiliki sentra industri kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Majalengka.Berikut ini adalah penjelasan mengenai SWOT dalam industri kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Majalengka
a. S (Strenght) yaitu kekuatan dari faktor internal dalam sentra industri kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Majalengka Jawa Barat.
b. W (Weakness) yaitu kelemahan dari faktor internal yang berupa hambatan dalam sentra industri kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Majalengka Jawa Barat.
c. O (Opportunities) yaitu peluang dari faktor eksternal dalam sentra industri kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Majalengka Jawa Barat.
d. T (Threats) yaitu ancaman dari faktor eksternal pengembangan sentra industri kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Majalengka Jawa Barat.
e.
Sumber : Rangkuti,2014
Gambar 3. 2 Diagram Analisis SWOT
Keterangan :
Kuadran 1: Merupakan situasi yang sangat menguntungkan. Perusahaan tersebut memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan disini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (growth oriented strategy) (Rangkuti, 2014).
Kuadran 2: Perusahaan yang berada di kuadran 2 masih memiliki kekuatan dari segi internal meskipun memiliki ancaman. Strategi yang harus
Kelemahan Internal (-) Kekuatan Internal (+) Berbagai Peluang (+) Kuadran 1 Mendukung Strategi Agresif Kuadran 3 Mendukung Strategi Turn Arround (-) Berbagai Ancaman Kuadran 2 Mendukung Strategi Diversivikasi Kuadran 4 Mendukung Strategi Daya Saing Defensif
diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan strategi diversifikasi produk/pasar (Rangkuti, 2014).
Kuadran 3: Perusahaan yang berada pada kuadran 3 menghadapi peluang pasar yang sangat besar, tetapi dilain pihak, ia menghadapi beberapa kendala/kelemahan internal. Fokus strategi pada perusahaan ini adalah meminimalkan masalah-masalah internal perusahaan sehingga dapat merebut peluang pasar yang lebih baik (Rangkuti, 2014).
Kuadran 4: Perusahaan yang berada di kuadran 4 mengalami posisi yang sangat tidak menguntungkan, perusahaantersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal
(Rangkuti, 2014).
2.Matriks SWOT
Matriks ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi oleh perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matriks ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategi (Rangkuti, 2014).
Sumber: Rangkuti, 2014
Gambar 3.3 Matriks Analisis Swot Keterangan :
a. Strategi SO
Strategi ini dibuat bedasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya
b. Strategi ST
Strategi ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
c. Strategi WO
Strategi ini diterapkan bedasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada
IFAS EFAS STRENGHS (S) Menentukan 5-10 faktor-faktor kekuatan internal WEAKNESS (W) Menentukan 5-10 faktor-faktor kelemahan internal OPPORTUNITIES (O) Menentukan 5-10 faktor-faktor peluang eksternal STRATEGI SO Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI WO Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang TREATHS (T) Menentukan 5-10 faktor-faktor ancaman eksternal STRATEGI ST Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman STRATEGI WT Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari anacaman
d. Strategi WT
Bedasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman
3.Matriks Internal Eksternal (IE)
Mariks IE meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi. Tujuan penggunaan model ini adalah untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detail.
4.0 3,0 2,0 1,0
Sumber: Rangkuti, 2014 Gambar 3.4
Matriks Analisis Internal- Eksternal I Pertumbuhan II Pertumbuhan III Penciutan IV Stabilitas V Pertumbuhan Stabilitas VI Penciutan VII Pertumbuhan VIII Pertumbuhan IX Likuidasi TINGGI 3,0-4,0 MENENGAH 2,0-2,99 3,0
Total Rata-rata tertimbang IFE
1,0 T o tal R at a -r at a te rt im b a n g E F E KUAT 3,0-4,0 RATA-RATA 2,0-2,99 LEMAH 1,0-1,99 2,0 RENDAH 1,0-1,99
Keterangan :
I = Strategi konsentrasi melalui integrai vertikal II = Strategi konsentrasi melalui integrasi horozontal III = Strategi turnaroud
IV = Strategi Stabilitas
V = Strategi konsentrasi melalui integrasi horizontal atau stabilitas (tidak ada perubahan terhadap laba)
VI = Strategi Divestasi
VII=Strategi diversifikasi kosentrik VIII=Strategi diversifikasi konglomerat IX = Strategi likuidasi atau bangkrut 3. Tahap Keputusan (Decision)
QSPM (Quantitative Strategies Planning Matrix).
Merupakan penglibatan tahap strategi tunggal yang cocok untuk sentra industri kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Majalengka. yakni QSPM. Matriks QSP adalah matriks yang dapat menentukan strategi paling tepat bedasarkan alternatif strategi yang diajukan (Husein, 2010).
Tahapan proses pemakaian matriks QSPM :
a. Membuat daftar faktor-faktor internal dan eksternal beserta Nilai bobotnya yang diambil dari matriks faktor internal dan Eksternal
b. Mengidentitaskan strategi yang terpilih, dan mencatat strategi di bagian atas garis QSPM.
c. Menetapkan nilai Attractiveness Score (AS), nilai yang menunjukan kemenarikan relative untuk masing-masing strategi bedasarkan pendapat para pejabat berwenang dalam organisasi
Keterangan:
Batasan nilai AS adalah: 1= tidak menarik
2= agak menarik 3= secara logis menarik 4= sangat menarik
d. Apabila faktor yang bersangkutan tidak memiliki pengaruh terhadap pilihan strategi yang telah dibuat, maka kolom AS untuk faktor tersebut dikosongkan dengan menggunakan tanda -
e. Hitunglah Total Attractiveness Score (TAS) dengan cara mengalikan bobot dengan AS pada masing-masing baris.
f. Hitung semua TAS pada masing-masing kolom QSPM. Hasil TAS dari alternatif strategi terbesar menunjukkan bahwa alternatif strategi itu menjadi pilihan utama dan nilai total terkecil menunjukkan bahwa alternatif strategi ini menjadi pilihan terakhir.
Tabel 3.3
Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (QSPM) Faktor-faktor kunci Bobot Alternatif Strategi Strategi A Strategi B AS TAS AS TAS Faktor-faktor kunci internal Total Bobot Faktor-faktor kunci eksternal Jumlah nilai Total Daya Tarik (TAS) Sumber: David, 2009 Keterangan : AS : Attractiveness Score
d. Analisis Product Life Cycle (PLC)
PLC merupakan suatu grafik yang menggambarkan riwayat suatu produk sejak diperkenalkan ke pasar sampai dengan ditarik dari pasar. Dalam setiap tahap
product life cycle (PLC) diperlukan strategi-strategi tersendiri. PLC terdiri dari empat tahap yang memiliki kharakteristik strategi berbeda beda. Tahap tersebut antara lain (Tjiptono, 2008)
Tabel 3.4
Identifikasi Posisi PLC
Sumber: Tjiptono, 2008
Pengukuran PLC dapat dilakukan dengan kombinasi tiga faktor antara lain Market Volume , Rate of Change of Market Volume, dan Profit/Loss. Metode siklus daur produk ini digunakan untuk melihat pekembangan produk sentra industri kerajinan anyaman rotan sehingga dapat ditentukan strategi yang sesuai untuk perkembangan produknya apakah terdapat dalam tahap perkenalan, pertumbuhan, kedewasaan, atau penurunan.
Tahap PLC Penjualan Volume Tingkat Perubahan Volume Penjualan Laba/Rugi
Perkenalan Tumbuh lambat Meningkat Rugi
Pertumbuhan Tumbuh pesat Meningkat/ menurun Laba sangat besar
Kedewasaan Meningkat Menurun Laba menurun
Kejenuhan Stagnasi Negatif Laba menurun
Waktu
Sumber :Tjiptono, 2008
Gambar 3.5 Empat Tahap PLC
1 2 3 4
1.Introduction 2. Growth 3. Maturity 4. Decline 0 - Penjualan Industri Laba Industri +
47 A. Lokasi Penelitian
1. Kabupaten Majalengka a. Batas Wilayah
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Majalengka di bagian Timur wilayah Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Majalengka terletak di sebelah Barat antara 108˚03‘-108˚19‘ Bujur Timur, Sebelah Timur 108˚12‘ – 108 ˚25‘ Bujur Timur, Sebelah Utara antara 6˚36‘ – 6˚58‘ Lintang Selatan dan Sebelah Selatan 6˚43‘ – 7˚03‘ Lintang Selatan. Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Majalengka sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Indramayu.
Sebelah Selatan : Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya. Sebelah Barat : Kabupaten Sumedang.
Sebelah Timur : Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon
Secara administratif, Kabupaten Majalengka memiliki luas 120.44 hektar, yang dimana Kabupaten ini terdiri dari 26 kecamatan, 13 kelurahan, dan 330 desa. Diantaranya Kecamatan Leuwimunding yang memiliki 6 wilayah desa salah satunya adalah Desa Mindi, Kemudian Kecamatan Sindangwangi terdiri dari 10 wilayah salah satunya., Desa Leuwilaja.
b.Demografi
Jumlah penduduk merupakan salah satu komponen utama pembangunan di Kabupaten Majalengka. Dikarenakan jumlah penduduk dapat dijadikan sebagai objek pembangunan namun sebagai subjek pembangunan daerah kabupaten Majalengka. Jumlah penduduk di wilayah Kabupaten Majalengka data dilihat bedasarkan tabel sebagai berikut
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk
Kabupaten Majalengka Tahun 2010-2014
No Tahun Jumlah Penduduk
(Jiwa) 1 2010 1.166.473 2 2011 1.171.478 3 2012 1.176.117 4 2013 1.180.774 5 2014 1.185.450
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka
Tabel diatas menunjukan perkembangan jumlah penduduk di Majalengka dari tahun 2010 sampai dengan 2014, tabel tersebut membuktikan bahwa terjadinya perkembangan jumlah penduduk setiap tahunnya di Kabupaten Majalengka. Pada tahun 2014 jumlah penduduk di Majalengka meningkat di bandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jumlah penduduk pada tahun 2014 berjumlah 1.185.450 jiwa.
c.Potensi IKM di Kabupaten Majalengka
Majalengka merupakan kawasan yang berpotensial dalam berbagai aspek bidang industri. Terdapatnya 13 kategori IKM di kawasan wilayah Majalengka yang dapat menyerap banyak tenaga kerja, bedasarkan tabel dibawah berikut :
Tabel 4.2
Jumlah Usaha Industri Kecil Menengah Kabupaten Majalengka
Tahun 2015
Sumber : Dinas KUKM Perindag Kab. Majalengka
Sektor industri memegang peranan penting dalam membangun wilayah Kabupaten Majalengka. Karena pada dasarnya terdapatnya ciri khas dari masing-masing setiap daerah kecamatan di Kabupaten Majalengka dalam bidang industri. Bedasarkan tabel diatas sektor selain sektor pangan yang memiliki jumlah unit saha sekitar 3.095 unit dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 7,690, sektor kerajinan merupakan, salah satu industri di Kabupaten Majalengka, yang memiliki jumlah usaha yang cukup besar, yaitu sebesar 2.186 unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbesar kedua setealah industri bahan bangunan yakni mencapai 5.360 tenaga kerja. No Kelompok Usaha Jumlah Usaha Jumlah Tenaga Kerja 1. Sandang 415 5.225 2. Kulit 9 27 3. Logam 136 494 4. Kerajinan 2.186 5.360 5. Pangan 3.095 7.690 6. Minuman 8 7.690 7. Batu 100 53 8. Bahan Baku 240 730 9. Bahan Bangunan 1.590 19.343 10. Kimia 13 140 11. Jasa 1.406 1.790 12. Kayu 560 1.106 13. Aneka 97 3.221 Total 9.855 46.987
Sektor kerajinan di Majalengka memiliki 28 jenis dengan masing- masing penyerapan tenaga keja diantaranya adalah Kerajinan ijuk, Salang pikulan, gerabah, kerajinan kayu, kerajinan kulit, kerajinan kaleng, rombe, sangkar burung, aksesoris, bola sepak, sapu tabo, sapu sabut kelapa, seni patung, seni kaligrafi, kawat gitar, etalase, aquarium, parut kelapa, reparasi kaleng, kerajinan besi, anyaman ujung, kerajinan keramik, sapu bambu, rajutan, border, kaca hias, kursi bambu, bonsai plastik, anyaman bambu dan anyaman rotan.
Kabupaten Majalengka memiliki ciri khas industri dengan kerajinan yang memiliki daya tarik masyarakat domestik maupun masyarakat asing yakni diantaranya kerajinan anyaman rotan. Sentra ini berlokasi di kawasan Kecamatan Sindangwangi dan Kecamatan Lewimunding yang berada di bagian wilayah bagian Timur Majalengka. Kerajinan anyaman rotan bermula pada tahun 1970, yang diawali denga terdapatnya permintaan untuk kerajinan anyaman rotan. Meskipun yang awalnya berkembang adalah negara Cina dan Malaysia dengan kelemahan tidak memiliki bahan baku oleh karena itu, pada tahun 1972, permintaan anyaman rotan mulai tembus ke wilayah Tegalwangi Kabupaten Cirebon, namun wilayah tersebut memiliki kekurangan sumber daya manusia. Sehingga pada akhirnya wilayah Cirebon bekerjasama dengan wilayah Majalengka yang pada mulanya terkenal dengan pengrajin ayaman bambu untuk memulai proses pengerjaan ayaman rotan, dan akhirnya terdapatnya ketergantungan pengusaha Cirebon dengan pengrajin di Majalengka. sampai saat ini dikarenakan sumber daya manusia di wilayah
Majalengka yang lebih terampil dan lebih banyak. Sentra terbesar industri rotan di Majalengka berada di kawasan Timur wilayah Majalengka diantaranya Kecamatan Sindangwangi salah Desa Leuwilaja dan Kecamatan Leuwimunding yaitu Desa Mindi.
d.Jenis Produk Kerajinan Anyaman yang Dihasilkan
Kerajinan anyaman rotan yang dihasilkan di sentra industri kerajinan anyaman rotan Kabupaten Majalengka terdiri dari beraneka ragam dintaranya Funiture seperti meja rotan, kursi rotan, rak rotan dan hiasan lainnya seperti bingkai cermin dari rotan, kap lampu rotan, sketel rotan, keranjanag rotan, peti rotan, nampan rotan, lampu taman dari rotan, Meja yang terbuat dari kombinasi antara rotan dan tanaman eceng gondok
52
Pegusaha anyaman rotan di Kabupaten Majalengka memesan rotan Kubu di Daerah Tegalwangi Cirebon Jawa Barat. Pasokan rotan yang berada di daerah Cirebon tersebut berasal dari daerah di luar Jawa Barat seperti Kalimantan dan Sulawesi yang diantar melalui pelabuhan di Surabaya. Harga bahan baku rotan bervariasi tergantung berbagai macam bahan dan perbedaan treatment seperti penyemprotan dan perendaman sebelum dikirimkan. Rotan yang paling terkenal dinamakan rotan kubu, rotan kubu terdiri dari berbagai macam seperti Kubu grey dengan memiliki ciri khas bewarna abu-abu alami, Kubu Jawit, Kubu Fitrit yang diambil dari bagian dalam rotan, Kubu escot dan Rotan sarang buaya. Rotan Kubu jenis grey ditemukan di Kabupaten Majalengka pada tahun 2000, oleh Bapak Tukiran pada saat bekerja di salah satu pabrik rotan di Majalengka. Pada mulanya terdapatnya seorang buyer dari Negara Belgia yang ingin memesan rotan dengan warna seperti tali rapia bewarna abu-abu. Bapak Tukiran melakukan eksperimen dengan cara melakukan peredaman rotan di lumpur belakang rumahnya dalam kurun waktu satu bulan dan hasilnya bewarna grey alami yang kini di minati warga negara asing khusunya di wilayah Eropa. Bedasarkan wawancara dengan salah satu pihak pengusaha kecil, untuk dapat membuat 100 pcs kerajinan anyaman rotan dengan item yang berbeda membutuhkan 1 bal rotan atau 20
kg rotan dengan harga Rp 12.000,00 sampai dengan Rp 15.000,00. Sementara untuk membuat 1000 pcs anyaman rotan membutuhkan 50 bal atau setara dengan 1000 kg rotan. Bedasarkan hasil wawancara dengan salah seorang pengusaha anyaman rotan skala menengah total modal yang harus dikeluarkan untuk membuka usaha anyaman rotan adalah sekitar Rp 50.000.000,00 - Rp 100.000.000,00, dengan beban biaya meliputi Biaya transportasi ± Rp 200.000,00, Biaya bahan baku, dan upah tenaga kerja.
B.Profil Industri Kerajinan Anyaman Rotan di Kabupaten Majalengka