Karakteristik Petani Responden
Sub-bab ini akan menjelaskan secara umum petani yang menjadi sampel penelitian pada usahatani cabai merah keriting di daerah penelitian yaitu sebanyak 71 petani. Petani yang menjadi sampel penelitian ini tersebar di delapan desa dari dua kecamatan. Di Kecamatan Ciawi, desa yang menjadi lokasi penelitian adalah Desa Citapen dan Desa Cileungsi. Petani yang menjadi sampel penelitian dari Kecamatan Ciawi sebanyak 9 orang. Sebenarnya di kedua desa yang menjadi lokasi penelitian di Kecamatan Ciawi, petani yang menanam cabai merah keriting jumlahnya cukup banyak. Akan tetapi sebagian besar petani mengalami gagal panen sebelum tanaman berproduksi atau telah berproduksi tetapi baru dipanen beberapa kali saja dan setelah itu tanaman tidak lagi bisa dipanen akibat serangan hama penyakit dan intensitas hujan yang tinggi. Petani yang mengalami gagal panen tidak bisa dijadikan sampel penelitian karena produksi sulit diukur dan jumlahnya terlalu ekstrim dibandingkan petani lain yang tidak mengalami gagal panen. Oleh karena itu, pada penelitian ini sampel penelitian lebih banyak berasal dari Kecamatan Megamendung.
x 100% =
=
……… (19)
Sampel penelitian di Kecamatan Megamendung jumlahnya mencapai 62 orang yang tersebar di enam desa yaitu Desa Sukagalih, Sukamaju, Sukaresmi, Pasir Angin, Cipayung Datar, dan Cipayung Girang. Di lokasi penelitian tersebut, petani cabai merah keriting jumlahnya lebih banyak daripada di Kecamatan Ciawi. Akan tetapi, petani yang dipilih sebagai sampel penelitian disesuaikan dengan kriteria yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan tujuan penelitian, sehingga tidak setiap petani dapat diwawancarai sebagai responden. Dengan menggunakan teknik snowball sampling didapatkan 62 petani cabai merah keriting sebagai sampel penelitian di Kecamatan Megamendung. Oleh karena itu, total keseluruhan sampel sebanyak 71 petani dari delapan desa yang merupakan sentra produksi cabai merah keriting di dua kecamatan yaitu Kecamatan Megamendung dan Kecamatan Ciawi.
Karakteristik penting petani sampel meliputi umur, pendidikan formal, pengalaman bertani cabai merah keriting, keanggotan dalam kelompok tani, dan keputusan pemilihan teknik budidaya. Pemilihan teknik budidaya cabai merah keriting yang umum diterapkan di daerah penelitian adalah penggunaan mulsa plastik hitam perak pada kegiatan budidaya. Beberapa karakteristik petani tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.
Secara umum petani cabai merah keriting masih tergolong pada kelompok umur produktif yaitu kisaran 20-50 tahun (sekitar 87.32 persen). Hal ini disebabkan dalam usahatani cabai merah keriting dibutuhkan keterampilan dan tenaga fisik yang cukup kuat terutama pada kegiatan pemeliharaan. Tanaman cabai merah keriting memiliki karakteristik budidaya yang lebih rumit dan umur yang lebih lama dibandingkan tanaman sayuran lain. Curahan waktu kerja dan frekuensi pekerjaan untuk tanaman cabai merah keriting relatif lebih tinggi, mulai dari pengolahan lahan, penyemaian, pemupukan awal, pemasangan mulsa, penanaman, penyulaman, penyiangan, penyemprotan, penugalan, pengecoran, sampai pemanenan. Tahapan budidaya yang sedemikian banyak, menuntut petani untuk memiliki tenaga dan kondisi fisik yang kuat. Dalam satu periode panen, tanaman cabai merah keriting paling tidak membutuhkan tiga kali penyiangan, delapan belas kali pengecoran, dan dua puluh empat kali penyemprotan. Oleh karena itu, kondisi dan kekuatan fisik menjadi hal penting yang harus diperhatikan petani, sehingga usahatani cabai merah keriting ini lebih banyak dikelola oleh petani yang relatif muda.
Secara umum tingkat pendidikan petani masih tergolong rendah. Sebagian besar petani (sekitar 73.24 persen) berpendidikan SD (1-6 tahun), diikuti oleh SLTP/sederajat (7-9 tahun) sekitar 15.49 persen dan SMU/sederajat (10-12 tahun) sekitar 8.45 persen. Hanya 1.41 persen petani yang memiliki pendidikan diatas 12 tahun dan petani yang tidak pernah mengikuti pendidikan formal atau tidak sekolah. Fakta ini menunjukkan bahwa petani cabai merah keriting di daerah penelitian memiliki pendidikan yang relatif rendah. Pendidikan merupakan proxy
besar kecilnya pengetahuan petani yang juga berpengaruh pada kemampuan manajerial dalam pengelolaan usahatani. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki petani, diharapkan petani tersebut dapat mengelola kegiatan usahataninya dengan lebih baik. Dengan demikian, seharusnya petani yang memiliki pendidikan lebih tinggi akan lebih baik dalam pengambilan keputusan alokasi sumberdaya dan pengelolaan usahatani.
Tabel 3 Sebaran petani responden menurut umur, pendidikan, pengalaman, keanggotaan dalam kelompok tani, dan penerapan mulsa plastik di Kabupaten Bogor tahun 2013
No. Karakteristik Responden Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Berdasarkan umur (tahun)
a. 21-30 23 32.39
b. 31-40 22 30.99
c. 41-50 17 23.94
d. 51-60 7 9.86
e. 61-70 2 2.82
2 Berdasarkan pendidikan (tahun)
a. Tidak sekolah (0 tahun) 1 1.41
b. SD (1-6 tahun) 52 73.24
c. SLTP (7-9 tahun) 11 15.49
d. SLTA (10-12 tahun) 6 8.45
e. > 12 tahun 1 1.41
3 Berdasarkan pengalaman tanam cabai (tahun)
a. 0-5 tahun 33 46.48
b. 6-10 tahun 23 32.39
c. 11-15 tahun 9 12.68
d. 16-20 tahun 5 7.04
e. > 20 tahun 1 1.41
4 Berdasarkan keanggotaan dalam kelompok Tani
a. Anggota 41 57.75
b. Bukan anggota 30 42.25
5 Berdasarkan penerapan mulsa plastik
a. Petani yang menerapkan 51 71.83
b. Petani yang tidak menerapkan 20 28.17
Ditinjau dari pengalaman usahatani cabai merah keriting, dapat diketahui bahwa umumnya responden telah berpengalaman membudidayakan cabai merah keriting diatas 5 tahun (53.52 persen responden). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani sudah cukup terampil dalam kegiatan usahatani cabai merah keriting sesuai kondisi daerah penelitian. Adapun petani lainnya (46.48 persen responden) tergolong petani baru yang mencoba mencari keuntungan dalam budidaya cabai merah keriting. Dibandingkan jenis sayuran yang lain, cabai merah keriting memberikan tantangan tersendiri bagi petani baru karena harganya yang relatif lebih tinggi dibandingkan sayuran lainnya. Banyak petani baru yang tergiur untuk ikut serta membudidayakan cabai merah keriting pada saat harga cabai merah keriting naik. Meskipun pada saat terjadi panen raya, harga cabai cenderung turun. Namun, dikarenakan panen cabai dilakukan berkali-kali selama kurun waktu 3-6 bulan, menyebabkan setiap petani merasakan variasi harga baik harga tinggi maupun harga yang rendah pada kurun waktu tersebut.
Kelembagaan di tingkat petani merupakan lembaga yang mewadahi petani untuk secara bersama-sama meningkatkan kesejahteraan dalam rangka mendukung kelancaran usahatani melalui pemberian berbagai manfaat dan fasilitas didalamnya. Jumlah responden yang merupakan anggota kelompok tani maupun gabungan kelompok tanisebanyak 57.75 persen, sedangkan sisanya
(sebesar 42.25 persen) bukan merupakan anggota kelompok tani. Keberadaan kelompok tani di masing-masing desa tidak menjamin keikutsertaan dan keaktifan petani didalamnya.
Alasan petani tidak menjadi anggota kelompok tani karena menganggap tidak ada perbedaan hasil panen dan manfaat antara petani yang bergabung dengan kelompok tani maupun petani yang tidak bergabung. Di samping itu, informasi seputar budidaya cabai merah keriting mudah diperoleh meskipun petani tidak mendapatkan informasi tersebut dari kelompok tani. Hal ini disebabkan informasi yang terbuka diantara sesama petani cabai merah keriting. Namun demikian, petani yang ikut dalam kelompok tanimemiliki kesempatan untuk merasakan manfaat dan fasilitas yang tidak dapat dirasakan oleh petani yang bukan anggota kelompok tani.
Di daerah penelitian terdapat dua gabungan kelompok tani (Gapoktan) yaitu Gapoktan Rukun Tani di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi dan Gapoktan Flamboyan di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung. Gapoktan ini membawahi banyak kelompok tani di beberapa dusun. Kedua Gapoktan ini merupakan dua dari tiga Gapoktan di Kabupaten Bogor yang telah tercatat sebagai kelembagaan pelaku usaha cabai merah keriting oleh Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementrian Pertanian tahun 2012. Berdasarkan informasi yang diterima dari pengurus Gapoktan, kedua Gapoktan tersebut cukup banyak mendapat fasilitas dari pemerintah baik berupa bantuan dana pinjaman, sarana prasarana pertanian, sekolah lapang dan bimbingan teknis budidaya, kunjungan penyuluhan dari berbagai dinas terkait, dan tawaran proyek-proyek pertanian dari dinas terkait. Fasilitas-fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan oleh petani anggota untuk memperlancar kegiatan usahataninya serta meningkatkan kemampuan manajerial petani. Fasilitas-fasilitas tersebut dapat mengatasi keterbatasan petani secara individu dalam kegiatan usahatani.
Berdasarkan keputusan pemilihan teknik budidaya, diketahui bahwa sebagian besar petani di daerah penelitian menerapkan mulsa plastik dalam kegiatan budidaya cabai merah keriting (71.83 persen). Penggunaan mulsa plastik dianggap oleh petani lebih menguntungkan karena dapat menghasilkan produksi lebih baik jika dibandingkan dengan tidak menggunakan mulsa. Menurut petani, dengan pemakaian mulsa plastik dapat mengurangi tumbuhnya gulma disekitar tanaman, mengurangi penguapan yang cepat dari pupuk dasar, menghemat biaya tenaga kerja penyiangan, dan menjaga kelembaban tanah saat sengatan matahari terlalu tinggi. Akan tetapi, petani juga mengakui jika saat terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi, penggunaan mulsa plastik dapat menghambat penguapan air yang masuk ke dalam lubang-lubang tanam disepanjang mulsa.
Kepemilikan Lahan dan Penggunaannya
Lahan merupakan sumberdaya usahatani yang penting dan pada umumnya dijadikan sebagai ukuran besaran usahatani. Oleh karena itu, informasi mengenai lahan menjadi penting untuk diketahui. Penguasaan lahan menunjukkan berapa luas lahan usahatani yang dikuasai oleh petani pada periode waktu tertentu. Bentuk penguasaan lahan di daerah penelitian adalah lahan milik dan lahan non milik. Bentuk penguasaan lahan non milik di daerah penelitian diantaranya lahan
sewa, gadai, sakap/bagi hasil, dan garap dan porsinya lebih besar dibandingkan lahan milik. Sebanyak 67.6 persen responden membudidayakan cabai merah keriting diatas lahan sewa, garap, gadai, dan bagi hasil/sakap (Tabel 4).
Tabel 4 Bentuk penguasaan lahan pada usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Uraian Jumlah petani (orang) Persentase (%)
1. Lahan milik 23 32.39
2. Lahan non milik 48 67.61
a. Sewa 26 36.62
b. Gadai 5 7.04
c. Sakap/bagi hasil 4 5.63
d. Garap 13 18.31
Total 71 100
Lahan garap umumnya adalah lahan HGU milik PT. Gunung Mas yang tidak dikelola maksimal dan boleh digarap oleh warga dengan ketentuan saat PT. Gunung Mas ingin mengelola lahan tersebut, maka petani penggarap harus melepaskan lahan garapannya. Lahan tersebut terletak di sekitar kaki Gunung Gede Pangrango, wilayah Kecamatan Ciawi dan Kecamatan Megamendung. Sedangkan lahan sewa, gadai, dan bagi hasil, umumnya adalah lahan milik warga Jakarta yang sengaja membeli lahan di daerah penelitian untuk dijadikan vila atau basis usaha tetapi belum dikelola, sehingga disewakan atau digadaikan ke warga agar dimanfaatkan terlebih dahulu. Hanya 32.39 persen petani yang melakukan usahatani cabai merah keriting diatas lahan milik sendiri.
Luas lahan garapan cabai merah keriting di daerah penelitian masih tergolong sempit, karena mayoritas petani melakukan usahatani cabai merah keriting diatas luasan lahan kurang dari 0.5 hektar (Tabel 5). Pada umumnya petani menggarap lahan hanya satu persil. Hal ini disebabkan kepemilikan dan pengelolaan lahan yang sempit. Artinya petani hanya mengelola lahan budidaya dalam satu hamparan. Petani yang memiliki persil lebih dari satu umumnya petani yang memiliki status lahan ganda yaitu lahan milik dan lahan non milik seperti sewa, sehingga mampu mengelola lahan pada dua lokasi yang berbeda. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar petani memiliki status tunggal dalam pengelolaan usahatani yaitu lahan milik atau lahan non milik bagi petani yang tidak memiliki lahan sendiri.
Tabel 5 Sebaran petani responden menurut luas garapan cabai merah keriting di Kabupaten Bogor
Luas lahan (ha) Jumlah petani (orang) Persentase (%)
0-0.5 54 76.06
0.6-1.0 12 16.90
1.1-2.0 5 7.04
Untuk mendukung peningkatan produksi dan pasokan cabai merah keriting, salah satu alternatif yang dapat ditempuh adalah dengan memperluas lahan garapan. Lahan sewa dan gadai dengan biaya yang cukup terjangkau dapat memotivasi petani untuk memperluas areal budidaya. Rata-rata sewa lahan di daerah penelitian berkisar antara Rp2 juta-Rp5 juta per hektar per tahun. Biaya sewa ini tergolong relatif terjangkau jika dibandingkan dengan manfaat yang dapat diperoleh dari pengelolaan lahan dengan luasan 1 hektar untuk kegiatan usahatani cabai merah keriting selama 1 tahun. Petani yang membudidayakan cabai merah keriting di atas lahan 1 hektar juga umumnya mengusahakan cabai merah keriting diatas lahan sewa. Dengan demikian, di daerah penelitian masih cukup banyak lahan-lahan yang dapat disewa untuk digunakan sebagai areal budidaya cabai merah keriting. Petani masih memungkinkan untuk memperluas lahan budidaya dengan cara melakukan sewa, gadai, garap, atau sakap/bagi hasil
Areal budidaya umumnya terbentang tidak jauh dari pemukiman warga hingga ke daerah sekitar kaki Gunung Gede Pangrango. Sebagian besar wilayah di sekitar kaki Gunung Gede Pangrango berupa hutan milik Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan perkebunan teh milik PT. Gunung Mas. Beberapa luasan lahan dari lahan budidaya teh milik PT. Gunung Mas tidak terkelola dengan baik, bahkan sudah tidak produktif dan terlantar. Beberapa warga meminta ijin untuk mengelola lahan tersebut dengan status lahan HGU.Selain lahan HGU, di daerah penelitian masih cukup banyak lahan yang belum dikelola secara maksimal. Lahan ini umumnya milik warga Jakarta dan lahan yang masuk ke daerah hutan dengan kondisi masih berupa semak belukar. Akan tetapi, petani yang membudidayakan cabai merah keriting di kaki gunung menemui keluhan adanya serangan babi hutan terhadap tanaman budidaya pada malam hari. Kondisi ini menyebabkan pertimbangan tersendiri bagi petani yang ingin memperluas areal budidaya disekitar hutan taman nasional.
Produksi Cabai Merah Keriting
Cabai merah keriting merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak dibudidayakan di wilayah dataran tinggi di Kabupaten Bogor. Kecamatan Ciawi dan Kecamatan Megamendung dipilih karena merupakan sentra produksi cabai merha keriting di Kabupaten Bogor dan areal tanam cabai merah keriting yang umumnya sama-sama terletak di sekitar kaki Gunung Gede Pangrango. Kondisi ini memungkinkan kedua kecamatan memiliki agroklimat dan agroekosistem yang tidak jauh berbeda. Usahatani cabai merah keriting mendapat prioritas lebih dari petani dibandingkan sayuran jenis lain karena dianggap lebih menguntungkan dibandingkan usahatani sayuran lainnya.
Petani umumnya membudidayakan tanaman cabai merah keriting pada triwulan pertama tahun 2013 (bulan Maret-April) agar petani paling tidak dapat memanen cabai menjelang hingga setelah lebaran. Pemanenan-pemanenan akhir umumnya triwulan ketiga hingga masuk ke triwulan keempat tahun 2013 (bulan September-Oktober). Pada kondisi menjelang lebaran,petani memprediksi harga cabai merah keriting akan meningkat. Biasanya petani mulai membongkar tanaman cabai saat sudah memasuki musim hujan karena tanaman cabai banyak terserang hama penyakit, rontok dan busuk akibat hujan. Sebagian besar petani
menanam cabai merah keriting dengan periode tanam 6-7 bulan sejak penyemaian benih. Namun, beberapa petani ada yang membiarkan tanaman hingga berumur 9- 10 bulan dengan alasan memanfaatkan pembungaan kedua yang apabila tanaman dalam kondisi baik, mampu memberikan hasil paling tidak 50 persen dari hasil pembungaan pertama.
Pada saat musim hujan, tidak banyak petani yang bersedia menanam cabai merah keriting. Faktor ini disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi menyebabkan tanaman mudah busuk dan rontok. Di samping itu, tanaman juga mudah terserang hama penyakit seperti antraknosa (patek), thrips, dan layu bakteri. Akan tetapi, kondisi cuaca di Kabupaten Bogor yang beberapa tahun terakhir kurang dapat diprediksi, menyebabkan petani kesulitan untuk menentukan waktu tanam cabai merah keriting yang paling tepat, dan juga dalam pemeliharaan tanaman. Bahkan sebagian besar petani di Kecamatan Ciawi mengalami gagal panen akibat turunnya hujan yang sulit diprediksi. Oleh karena itu, petani yang menjadi responden pada penelitian ini lebih banyak dari Kecamatan Megamendung yang tidak mengalami gagal panen.
Di samping prediksi cuaca, penentuan waktu tanam umumnya disesuaikan dengan waktu panen pertama dan panen raya. Rata-rata waktu panen pertama yang dibutuhkan tanaman cabai merah keriting di lokasi penelitian adalah 100 hari untuk lahan yang tidak jauh dari pemukiman penduduk dan 110-120 hari untuk lahan di sekitar gunung. Sedangkan panen raya biasanya terjadi pada panen ke-5 sampai panen ke-10 dengan jeda antar panen 4 hari sekali. Sebagian besar petani menginginkan panen raya terjadi menjelang ramadhan dan lebaran dikarenakan pada saat tersebut harga cabai merah keriting naik, sehingga penyesuaian waktu tanam menjadi penting bagi petani.
Secara umum, tahapan budidaya cabai merah keriting di daerah penelitian terdiri dari persiapan lahan, penyemaian, pengolahan lahan, pemupukan dasar, pemasangan mulsa, penanaman, penyiangan, penyemprotan, pengecoran, dan pemanenan. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tahapan-tahapan budidaya masing-masing petani berbeda. Namun, pada umumnya tahapan-tahapan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Penyemaian
Tahapan paling awal dalam kegiatan usahatani cabai merah keriting adalah penyemaian. Penyemaian merupakan kegiatan penebaran benih dalam bentuk biji untuk dijadikan bibit cabai merah keriting yang siap tanam dan dipindahkan ke lahan budidaya. Penyemaian umumnya dilakukan di polybag dimana setiap
polybag berisi 1-2 benih cabai merah keriting. Selain polybag, beberapa petani menyemaikan benih cabai di tray pembenihan. Untuk mempercepat proses penyemaian dan menghindarkan calon bibit cabai dari serangan hama penyakit, areal semai biasanya ditutup dengan tudung (telungkup) yang terbuat dari plastik atau kain kasa pada malam hari, sedangkan pada siang hari dibiarkan terbuka agar calon bibit mendapatkan sinar matahari yang cukup. Umumnya lama waktu penyemaian adalah 25-30 hari sebelum bibit siap dipindahkan ke lahan budidaya. Jenis benih yang secara umum dipakai petani adalah TM 999 atau seminis. Hanya sebagain kecil petani yang mencoba benih baru selain TM 999 seperti merek Castilo, Lado, dan PM 999.
Persiapan lahan
Tahapan ini dilakukan untuk mempersiapkan lahan budidaya bagi tanaman baru. Persiapan lahan meliputi pembersihan lahan bekas tanaman lama dan pembuatan bedengan. Lama pengolahan lahan tergantung luas sempitnya lahan yang akan dijadikan areal budidaya. Biasanya petani di daerah penelitian menyiapkan lahan sambil menunggu benih tumbuh dan siap dipindah ke lahan. Oleh karena itu, mengetahui umur bibit yang siap dipindah ke lahan menjadi penting, agar persiapan lahan budidaya tidak terlambat atau terlalu cepat.Bedengan di daerah penelitian rata-rata berukuran panjang 20 m dengan jarak tanam 40 x 50 cm. Akan tetapi, beberapa petani tidak memerhatikan ukuran bedengan dan jarak tanam karena mengikuti kontur lahan budidaya, terutama lahan-lahan di sekitar gunung.
Pemupukan dasar
Kegiatan mengolah tanah budidaya dengan pupuk dasar agar tanah budidaya menjadi subur dan siap untuk ditanami tanaman budidaya. Pupuk yang digunakan pada pemupukan dasar terdiri dari pupuk kandang dan pupuk kimia. Pupuk kandang yang umum dipakai didaerah penelitian adalah pupuk kandang kambing dan ayam. Sementara pupuk kimia yang biasa dipakai untuk pemupukan dasar adalah Urea, KCl, Sp-36/TSP dan NPK Phoska. Pemupukan dasar dilakukan beberapa hari sebelum bibit siap dipindah ke lahan budidaya.Tujuannya agar pupuk dasar terdekomposisi dengan sempurna dan tidak banyak terbuang akibat penguapan. Oleh karena itu, sebagian besar petani menerapkan mulsa plastik hitam perak setelah pemupukan dasar agar pupuk yang telah tercampur dengan tanah budidaya tidak banyak hilang akibat proses penguapan.
Pemasangan mulsa plastik
Tahapan ini dilakukan setelah pemupukan dasar. Meskipun tidak semua petani menerapkan mulsa plastik hitam perak, tetapi sebagian besar petani menggunakannya karena dianggap hasil produksi lebih baik. Mulsa plastik memiliki dua sisi warna yang berbeda. Dalam penerapannya, warna hitam menghadap ke bawah, sementara disisi atas berwarna perak. Tujuannya adalah warna hitam atau gelap akan menghambat proses penguapan pupuk atau obat- obatan yang diaplikasikan ke tanah, juga menghambat sinar matahari menembus ke tanah sehingga tanah tetap lembab. Sedangkan sisi atas berwarna perak dan anti air agar ketika terjadi hujan, tanah areal budidaya tidak tergenang air. Mulsa plastik yang telah terpasang selanjutnya akan dilubangi sesuai dengan jarak tanam sebagai lubang tanam untuk masing-masing bibit cabai merah keriting.
Penanaman
Tahapan ini dilakukan pada saat bibit telah siap dipindah ke lubang tanam yaitu sekitar 25-30 hari setelah persemaian. Penanaman dilakukan pada pagi hari dari jam enam hingga jam sepuluh atau sore diatas jam tiga. Hal ini dilakukan agar bibit yang dipindah dari polybag tanaman atau tray tidak mudah layu akibat sengatan matahari yang terlalu panas pada siang hari. Setelah penanaman, bibit yang sudah ditanam di lubang tanam akan disiram sehingga kegiatan ini tidak dilakukan pada siang hari ketika intensitas sinar matahari terlalu banyak. Penyiraman dilakukan agar bibit tidak gagal atau mati ketika dipindah ke lahan budidaya.
Penyiangan
Kegiatan ini biasanya dilakukan petani 3x selama periode tanam hingga panen terakhir pada petani yang menerapkan mulsa plastik. Penerapan mulsa cukup membantu petani mengurangi pertumbuhan gulma di sekitar areal budidaya tanaman, sehingga dapat menghemat tenaga kerja untuk penyiangan. Petani hanya membersihkan gulma yang tumbuh di parit-parit antar bedengan, karena parit- parit tidak tertutup mulsa.Sedangkan petani yang tidak menerapkan mulsa plastik, penyiangan umumnya dilakukan 6-12x selama periode tanam. Hal ini dikarenakan petani harus membersihkan gulma yang cepat tumbuh tidak hanya di parit-parit antara bedengan tetapi juga gulma yang tumbuh di areal budidaya tanaman cabai merah keriting. Jika tidak dibersihkan, maka keberadaan gulma akan mengganggu pertumbuhan tanaman cabai merha keriting.
Pengecoran
Tahapan ini merupakan pemupukan lanjutan yang diberikan agar tanaman budidaya terpenuhi kebutuhan nutrisinya. Pengecoran dilakukan dengan pemberian pupuk kimia dan zat pengatur tumbuhan (ZPT). Pupuk kimia yang biasa dipakai untuk pengecoran adalah NPK mutiara dan pupuk hayati, sedangkan ZPT yang umum dipakai adalah Gandasil B dan D, serta Supergro B dan D. Rata- rata petani melakukan pengecoran sebanyak 12x selama satu periode tanam mulai