EFISIENSI TEKNIS USAHATANI CABAI MERAH KERITING
DI KABUPATEN BOGOR: PENDEKATAN
STOCHASTIC
PRODUCTION FRONTIER
SUSANTI
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Efisiensi Teknis Usahatani Cabai Merah Keriting di Kabupaten Bogor: Pendekatan Stochastic Production Frontier adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, September 2014
Susanti
RINGKASAN
SUSANTI. Efisiensi Teknis Usahatani Cabai Merah Keriting di Kabupaten Bogor: Pendekatan Stochastic Production Frontier. Dibimbing oleh NUNUNG KUSNADI dan DWI RACHMINA.
Cabai merupakan salah satu komoditas strategis sub sektor hortikultura dikarenakan perannya yang penting baik dari sisi konsumsi maupun dari sisi produksi. Konsumsi cabai nasional menunjukkan pola yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Rata-rata konsumsi cabai nasional selama periode tahun 2008-2012 mencapai 3.12 kg/kapita/tahun dengan laju konsumsi menunjukkan peningkatan sebesar 0.28 persen selama periode tersebut. Angka ini lebih tinggi dibandingkan sayuran lainnya seperti wortel yang mengalami penurunan konsumsi sebesar 4.45 persen dan kubis/kol yang mengalami penurunan konsumsi sebesar 5.67 persen pada periode yang sama. Sementara dari sisi produksi, total produksi cabai hingga akhir tahun 2012 mencapai 1.656 juta ton dengan laju peningkatan produksi dari tahun 2009-2012 relatif tinggi sebesar 9.82 persen. Jika dibandingkan dengan sayuran lain, angka ini lebih tinggi dari laju peningkatan produksi komoditas bawang merah sebesar 3.71 persen, kubis/kol sebesar 2.34 persen, dan wortel sebesar 7.29 persen pada periode yang sama. Akan tetapi, rata-rata produktivitas cabai nasional tergolong rendah hanya 6.13 ton/ha selama periode tahun 2009-2012. Padahal produktivitas potensial komoditas cabai mencapai 20 ton/ha untuk cabai besar dan 14 ton/ha untuk cabai rawit. Kondisi ini menunjukkan masih terdapat peluang untuk meningkatkan produktivitas cabai nasional. Beberapa hasil penelitian menemukan faktor penyebab rendahnya produktivitas yaitu terjadinya inefisiensi teknis. Oleh karena itu, perlu diuji apakah rendahnya produktivitas cabai disebabkan karena tingkat efisiensi teknis yang rendah. Produktivitas yang rendah akan berpengaruh pada keuntungan usahatani, sehingga perlu dilakukan analisis hubungan tingkat efisiensi teknis dengan produktivitas dan keuntungan usahatani cabai.
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk: (1) menduga fungsi produksi usahatani cabai, (2) menduga tingkat efisiensi teknis usahatani cabai, (3) menentukan faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi teknis usahatani cabai, (4) menetapkan hubungan efisiensi teknis dengan produktivitas dan keuntungan usahatani cabai. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bogor sebagai lokasi penelitian yang dianggap mewakili daerah sentra produksi yang memiliki produktivitas rendah. Dalam menduga fungsi produksi, data yang digunakan harus homogen, sehingga jenis cabai yang menjadi fokus penelitian harus sejenis. Cabai merah keriting dipilih sebagai fokus penelitian karena jenis cabai ini merupakan cabai yang secara dominan dibudidayakan oleh petani di Kabupaten Bogor. Pengumpulan data di dilakukan selama bulan Maret-April 2014. Data yang digunakan dalam penelitian merupakan data cross section yang diperoleh melalui wawancara langsung kepada 71 petani.
Variabel benih ditemukan berpengaruh nyata terhadap produksi cabai merah
keriting pada taraf α 1 persen dengan nilai dugaan sebesar 0.616. Sementara variabel obat-obatan padat dan tenaga kerja luar keluarga ditemukan berpengaruh
nyata terhadap produksi cabai merah keriting pada taraf α 15 persen dan 5 persen
dengan nilai dugaan sebesar 0.117 dan 0.122. Usahatani cabai merah keriting di daerah penelitian belum efisien secara teknis karena rata-rata efisiensi teknis yang dicapai petani sebesar 0.483. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor keanggotaan kelompok tani berpengaruh nyata meningkatkan efisiensi teknis. Sementara faktor umur, pendidikan, pengalaman usahatani, penyuluhan, dan penggunaan mulsa plastik berpengaruh tidak nyata pada taraf α 15 persen terhadap efisiensi teknis pada proses produksi cabai merah keriting di daerah penelitian.
Berdasarkan analisis hubungan efisiensi teknis dengan produktivitas dan keuntungan usahatani, diketahui bahwa semakin tinggi tingkat efisiensi teknis yang dicapai, produktivitas yang dihasilkan juga semakin tinggi. Sementara hubungan efisiensi teknis dengan keuntungan usahatani dan nilai R/C menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat efisiensi teknis, keuntungan dan nilai R/C yang diperoleh semakin tinggi. Berdasarkan analisis keuntungan dan nilai R/C, dapat disimpulkan bahwa usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor telah menguntungkan.
Upaya yang dapat ditempuh petani untuk meningkatkan produktivitas cabai merah keriting adalah dengan meningkatkan efisiensi teknis. Langkah-langkah yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan penggunaan input-input yang berpengaruh signifikan terhadap produksi seperti benih, obat-obatan padat, tenaga kerja luar keluarga, serta perbaikan aspek manajerial petani dengan aktif dalam keanggotaan kelompok tani.
SUMMARY
SUSANTI. Technical Efficiency of Curly Red Chili Farming in Bogor Regency: An Approach of Stochastic Production Frontier. Supervised by NUNUNG KUSNADI and DWI RACHMINA.
Chili is one of the strategic commodity in horticultural sub-sector due to its important role both in terms of consumption and production. National consumption of chili showed a pattern that continues to increase from year to year. The average Indonesia consumption of chili during the period 2008-2012 reached 3.12 kg/capita/year with an increasing consumption rate 0.28 percent during the period. This figure is higher than other vegetables such as carrots that consumption decreased on 4.45 percent and cabbage that consumption decreased on 5.67 percent in the same period. On the production side, the total production of chili until the end of 2012 reached 1.656 million tons with the rate of production increased from 2009-2012 relatively high at 9.82 percent. Compared to other vegetables, this figure is higher than the production-increasing rate ofonion which is 3.71 percent, cabbage 2.34 percent, and carrots 7.29 percent in the same period. However, the average national productivity of chili is relatively low on 6.13 tons/ha during the period 2009-2012, though the potential productivity of chili commodities reaches 20 tons/ha for large chili and 14 tons/ha for small chili. This shows there is an opportunity to improve the national productivity of chili. Several studies found that the cause of low productivity is technical inefficiency. Therefore, it is needed to be analyzed whether low productivity is due to chili low levels of technical efficiency. The low productivity will affect farm profits, so it is necessary to analyze the correlation between technical efficiency with productivity and profitability of chili farming.
This study generally aims to: (1) assuming chili farm production function, (2) assuming chili farm level technical efficiency, (3) determine the factors that influence the technical efficiency of chili farming, (4) identify the relationship between technical efficiency of chili farming with its productivity and profits. The study was conducted in Bogor as the research location considering it as the representative of production areas with low productivity. In assuming the production function, the data used must be homogeneous, therefore the chili types as the research object should be similar. Curly red chili type is selected as the research focus because it is a type of chili pepper that is predominantly cultured by farmers in Bogor Regency. The data collection was collected on March-April 2014. The data used in the study is a cross sectional data obtained through direct interviews to 71 farmers.
The results showed that the variables that significantly affect the production of curly red chili are seed, solid medicine, and labor outside the family, while the land area variable, manure, and chemical fertilizers do not affect significantly on the production of curly red chili. The curly red chili production is very responsive to the use of seeds. The variables of seed found significantly affect to production
of curly red chili at level α 1 percent with predicted values was 0.616. While solid medicine variable and labor outside the family found significantly affect to
technically efficient as the average of technical efficiency that farmers reached are 0483. The results also show that the factor of membership of farmer groups significantly increased technical efficiency. While the factors of age, education, farming experience, intensity of extension, and the use of plastic mulch do not affect significantly on the level of α 15 percent to technical efficiency in curly red chili production process in the study area.
Based on the the correlation analysis between technical efficiency with productivity and farm profits, it is known that the increasing in technical efficiency results the increasing of productivity as well. While the correlation between technical efficiency with farm profits and the value of R/C, it is showed that the increasing in technical efficiency results the increasing both of farm profits and the value of R/C. Based on the analysis of farm profits and value of R/C, it can be concluded that the curly red chili farming in Bogor has been profitable.
To increase the productivity of curly red chili farming, the farmers should
increase the farming’s technical efficiency. The actions that should be implemented are increasing the use of production inputs that significantly affect chili production such as seeds, solid medicine, and labor outside the family, as well as improving the managerial aspects of farmers by being actively participated in membership in farmer groups.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Agribisnis
EFISIENSI TEKNIS USAHATANI CABAI MERAH KERITING
DI KABUPATEN BOGOR: PENDEKATAN
STOCHASTIC
PRODUCTION FRONTIER
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr Amzul Rifin, SP. MA
Judul Tesis : Efisiensi Teknis Usahatani Cabai Merah Keriting
di Kabupaten Bogor: Pendekatan Stochastic Production Frontier
Nama : Susanti NIM : H351130646
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr Ir Nunung Kusnadi, MS Ketua
Dr Ir Dwi Rachmina, MSi Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Agribisnis
Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2014 ini ialah efisiensi teknis usahatani, dengan judul Efisiensi Teknis Usahatani Cabai Merah Keriting di Kabupaten Bogor: Pendekatan Stochastic Production Frontier.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Nunung Kusnadi, MS dan Dr Ir Dwi Rachmina, M.Si selaku dosen pembimbing, Dr Amzul Rifin SP. MA selaku dosen penguji, Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS selaku Ketua Program Studi Agribisnis, dan Dr Ir Suharno, MAdev selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis sekaligus selaku dosen penguji wakil Program Studi. Terimakasih juga disampaikan kepada seluruh Staf Program Studi Agribisnis atas bantuan dan kemudahan yang diberikan selama penulis menjalani pendidikan, Biro Perencanaan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang telah memberikan beasiswa kepada penulis sebagai sumber pendanaan selama menempuh pendidikan pascasarjana, petani cabai merah keriting di Kecamatan Ciawi dan Kecamatan Megamendung yang telah bersedia diwawancarai selama penulis mengambil data penelitian, dan seluruh teman-teman Program Studi Agribisnis khususnya mahasiswa program sinergi (fast track) angkatan 1 dan mahasiswa program regular angkatan 3 atas dukungan yang diberikan kepada penulis selama menjalani pendidikan. Ungkapan terima kasih terlebih disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat dalam pengembangan pendidikan serta pengembangan sektor pertanian khususnya subsektor tanaman sayuran.
Bogor, September 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xv
DAFTAR GAMBAR xv
DAFTAR LAMPIRAN xvi
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 4
Tujuan Penelitian 5
Ruang Lingkup Penelitian 5
2 TINJAUAN PUSTAKA 6
Efisiensi Teknis Usahatani Cabai 6
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Efisiensi Teknis 7 Pendekatan Pengukuran Efisiensi Teknis Usahatani 10
3 KERANGKA PEMIKIRAN 11
Kerangka Pemikiran Teoritis 11
Kerangka Pemikiran Operasional 22
4 METODE PENELITIAN 24
Lokasi dan Waktu Penelitian 24
Jenis dan Sumber Data 24
Metode Pengambilan Sampel 25
Metode Analisis Data 26
5 KERAGAAN USAHATANI CABAI MERAH KERITING 35
Karakteristik Petani Responden 35
Kepemilikan Lahan dan Penggunaannya 38
Produksi Cabai Merah Keriting 40
Penggunaan Input Usahatani Cabai Merah Keriting 44 Struktur Biaya dan Penerimaan Usahatani Cabai Merah Keriting 47 Analisis Keuntungan Usahatani Cabai Merah Keriting 49
6 ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI TEKNIS 50
Analisis Fungsi Produksi Cabai Merah Keriting 51
Analisis Efisiensi Teknis Usahatani Cabai Merah Keriting 56 Sumber-Sumber Inefisiensi Teknis Usahatani Cabai Merah Keriting 57 Hubungan Efisiensi Teknis dengan Produktivitas dan Keuntungan 65
7 SIMPULAN DAN SARAN 69
Simpulan 69
Saran 70
DAFTAR PUSTAKA 71
LAMPIRAN 76
DAFTAR TABEL
Luas panen dan produksi cabai di Indonesia menurut provinsi sentra produksi tahun 2009-2012
Produktivitas cabai merah di Jawa Barat menurut kabupaten tahun 2008-2012
Sebaran petani responden menurut umur, pendidikan, pengalaman, keanggotaan dalam kelompok tani, dan penerapan mulsa plastik di Kabupaten Bogor tahun 2013
Bentuk penguasaan lahan pada usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Sebaran petani responden menurut luas garapan cabai merah keriting di Kabupaten Bogor
Struktur biaya usahatani cabai merah keriting per hektar di Kabupaten Bogor tahun 2013
Deskripsi statistik variabel fungsi produksi usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Pendugaan fungsi produksi Cobb-Douglas dengan metode OLS Pendugaan fungsi produksi Cobb-Douglas dengan metode MLE Sebaran nilai efisiensi teknis petani responden pada usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Pendugaan efek inefisiensi teknis fungsi produksi stochastic frontier
usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Sebaran usia petani menurut indeks efisiensi teknis pada usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Sebaran pendidikan petani menurut indeks efisiensi teknis pada usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Sebaran pengalaman petani dalam berusahatani cabai merah keriting menurut indeks efisiensi teknis pada usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Sebaran keaktifan petani dalam kelompok tani/Gapoktan menurut indeks efisiensi teknis pada usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Sebaran keaktifan petani mengikuti penyuluhan menurut indeks efisiensi teknis pada usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Sebaran penggunaan mulsa plastik menurut indeks efisiensi teknis pada usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013 Rata-rata produktivitas menurut sebaran indeks efisiensi teknis pada usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Rata-rata keuntungan usahatani dan nilai R/C menurut sebaran indeks efisiensi teknis pada usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
DAFTAR GAMBAR
Efisiensi pada orientasi input Efisiensi pada orientasi output
Teori efisiensi berdasarkan fungsi produksi dari perbaikan teknologi Kerangka pemikiran operasional pada efisiensi teknis usahatani cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
DAFTAR LAMPIRAN
Hasil pendugaan fungsi produksi Cobb-Douglas dengan metode OLS menggunakan program SAS 9.0
Hasil uji normalitas model fungsi produksi cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Hasil uji heteroskedastisitas pada model fungsi produksi cabai merah keriting di Kabupaten Bogor tahun 2013
Hasil pendugaan fungsi produksi rata-rata (OLS) dan fungsi produksi
stochastic frontier (MLE) dengan menggunakan program frontier
version 4.1
14 15 20 23
76 78 1
2 3 4
1 2 3 4
79
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Cabai merupakan salah satu komoditas sub sektor hortikultura yang memiliki peran penting dilihat dari sisi konsumsi maupun dari sisi produksi. Konsumsi cabai nasional menunjukkan pola yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Rata-rata konsumsi cabai nasional selama periode tahun 2008 sampai 2012 mencapai 3.12 kg/kapita/tahun dengan laju konsumsi menunjukkan peningkatan sebesar 0.28 persen selama periode tersebut. Angka ini lebih tinggi dibandingkan sayuran lain seperti wortel yang mengalami penurunan konsumsi sebesar 4.45 persen dan kubis/kol yang mengalami penurunan konsumsi sebesar 5.67 persen pada periode yang sama1
. Sementara dari sisi produksi, total produksi cabai hingga akhir tahun 2012 mencapai 1.656 juta ton dengan laju peningkatan produksi dari tahun 2009-2012 relatif tinggi sebesar 9.82 persen. Jika dibandingkan dengan sayuran lain, angka ini lebih tinggi dari laju peningkatan produksi komoditas bawang merah sebesar 3.71 persen, kubis/kol sebesar 2.34 persen, dan wortel sebesar 7.29 persen pada periode yang sama (BPS 2013a).
Sumber pertumbuhan produksi cabai pada periode tersebut berasal dari pertumbuhan luas panen yang meningkat dengan laju rata-rata 2.97 persen per tahun dan peningkatan produktivitas rata-rata 6.83 persen per tahun (Bappenas 2013). Dari angka ini diketahui bahwa pertumbuhan produksi cabai hampir 70 persen didukung oleh pertumbuhan produktivitas dan 30 persen dari pertumbuhan luas panen. Meskipun pertumbuhan produktivitas meningkat dengan cukup cepat, namun produktivitas rata-rata cabai nasional masih tergolong rendah hanya 6.13 ton/ha selama periode tahun 2009 sampai 2012 (BPS 2013a). Padahal produktivitas potensial komoditas cabai mencapai 20 ton/ha untuk cabai besar dan 14 ton/ha untuk cabai rawit. Kondisi ini menunjukkan masih terdapat peluang untuk meningkatkan produktivitas cabai nasional.
Berdasarkan data Food Agriculture Organization (FAO) tahun 2011, Indonesia merupakan negara penghasil cabai terbesar ke empat di dunia setelah China, Meksiko, dan Turki (FAOSTAT 2011), dengan sentra produksi terbanyak berada di Pulau Jawa (58,3 persen terhadap produksi cabai nasional). Sentra produksi cabai utama di Indonesia tersebar di empat provinsi yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dari wilayah‐wilayah tersebut, pada tahun 2011 Jawa Barat memasok hampir 23 persen produksi nasional, Jawa Timur 18 persen, Jawa Tengah 16 persen dan Sumatera Utara 11 persen (BPS 2013a). Laju produktivitas di ketiga sentra produksi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dari tahun 2009 sampai 2011 tergolong rendah bahkan untuk Jawa Tengah laju produktivitasnya terus menurun. Laju produktivitas yang meningkat ditunjukkan oleh wilayah Sumatera Utara. Sementara Jawa barat yang merupakan sentra utama cabai nasional pada tahun tersebut, laju produktivitasnya tergolong rendah dibawah rata-rata produktivitas nasional. Data ini dikuatkan oleh data produksi, luas panen, dan laju produktivitas keempat wilayah tersebut seperti yang terlihat pada Tabel 1.
1
Tabel 1 Luas panen dan produksi cabai di Indonesia menurut provinsi sentra mengalami penurunan dengan laju -0.889 persen/tahun. Produktivitas yang dicapai juga berfluktuasi (8.24-12.93 ton/ha) dengan sebaran antarwilayah yang tinggi (1.78-32.07 ton/ha) yang tersebar di 17 kabupaten (BPS Jabar 2013). Sementara jika dilihat dari laju produktivitas, beberapa kabupaten masih memiliki laju produktivitas rendah dibawah laju produktivitas Jawa Barat. Hal ini terlihat dari perbedaan produktivitas yang dicapai antar kabupaten dari tahun 2009 sampai 2012 (Tabel 2). Kesenjangan produktivitas antar daerah menunjukkan bahwa produksi dan tingkat efisiensi yang dicapai masing-masing daerah berbeda.
Tabel 2 Produktivitas cabai merah di Jawa Barat menurut kabupaten tahun 2008 sampai 2012a
Masalah dibidang produksi akan berpengaruh terhadap hasil produksi yang tidak maksimal. Untuk mencapai hasil produksi yang maksimal dapat dilakukan dengan dua langkah yaitu ekstensifikasi atau perluasan lahan dan intensifikasi atau peningkatan produktivitas melalui peningkatan efisiensi usahatani. Luas lahan untuk kegiatan budidaya cabai semakin terbatas dan cenderung menurun seiring meningkatnya konversi lahan. Meskipun secara nasional terjadi pertumbuhan luas panen cabai, pertumbuhan tersebut umumnya terjadi di luar Pulau Jawa yang saat ini juga mengembangkan komoditas cabai. Sedangkan di Pulau Jawa, luas panen semakin terbatas karena konversi lahan yang tinggi. Luas panen cabai untuk Provinsi Jawa Barat sebesar 26 087 hektar pada tahun 2010, mengalami penurunan menjadi 24 045 hektar pada tahun 2011. Penurunan luas panen berlanjut pada tahun 2012 yaitu hanya sebesar 22 927 hektar (BPS 2013b). Dengan demikian, upaya peningkatan produksi tidak dapat mengandalkan pada upaya peningkatan luas lahan melainkan perlu difokuskan pada upaya peningkatan produktivitas.
Produktivitas dapat ditingkatkan melalui peningkatan efisiensi usahatani maupun inovasi teknologi. Dalam upaya perbaikan teknologi, petani pada umumnya dihadapkan pada masalah keterbatasan modal, sehingga pengadaan teknologi relatif lambat. Akibatnya, dalam jangka pendek teknologi yang digunakan bersifat tetap. Dalam kondisi teknologi yang tetap, maka peningkatan produktivitas perlu diupayakan melalui peningkatan efisiensi usahatani. Usahatani yang efisien akan menghasilkan produksi maksimal sehingga akan berpengaruh pada produktivitas. Kegiatan usahatani yang tidak efisien umumnya diikuti oleh produktivitas yang rendah. Hal ini dikarenakan kegagalan dalam mewujudkan produktivitas potensial akibat pengaruh efek inefisiensi dalam usahatani. Pengaruh efek inefisiensi dapat berasal dari faktor internal yang dapat dikendalikan dan diperbaiki oleh petani, serta faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan oleh petani. Beberapa hasil penelitian memerkuat kondisi ini dengan menemukan bahwa salah satu faktor turunnya produktivitas adalah terjadinya inefisiensi teknis atau kegiatan produksi tidak efisien secara teknis (Bokusheva dan Hockmann 2004, Kumbakhar 2002, dan Saptana 2011).
teknis dalam kegiatan usahatani cabai, khususnya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas.
Perumusan Masalah
Keberhasilan dalam kegiatan usahatani suatu komoditas pertanian salah satunya terukur dari produktivitas yang dicapai. Produktivitas akan tinggi, jika pada luasan lahan tertentu mampu menghasilkan produksi maksimal. Jika kegiatan usahatani mampu menghasilkan output pada produksi batas (frontier), maka akan dicapai produktivitas potensial. Produktivitas yang rendah terjadi karena kegagalan dalam mewujudkan produktivitas potensial akibat pengaruh dari berbagai faktor pada proses produksi. Beberapa hasil penelitian menemukan bahwa rendahnya produktivitas sebagai akibat inefisiensi teknis atau kegiatan usahatani tidak efisien secara teknis (Kumbakar 2002, Bokusheva dan Hockmann 2004, dan Saptana 2011). Dalam menjalankan kegiatan usahatani, petani tidak selamanya dapat mencapai tingkat efisiensi teknis tertinggi disebabkan hasil yang dicapai dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal yang dapat dikendalikan oleh petani maupun faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan oleh petani. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap hasil produksi yang tidak maksimal dan menyebabkan produktivitas potensial tidak tercapai.
Kesenjangan produktivitas cabai yang dicapai antar daerah di Jawa Barat menunjukkan perbedaan tingkat efisiensi produksi yang dicapai. Proses produksi tidak efisien secara teknis karena ketidakberhasilan mewujudkan produktivitas potensial. Hal ini dikarenakan penggunaan sejumlah input produksi tertentu tidak mampu menghasilkan produksi maksimal. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan apakah rendahnya produktivitas cabai disebabkan oleh tingkat efisiensi teknis yang rendah?. Produktivitas yang rendah akan berpengaruh pada keuntungan usahatani, sehingga perlu dilakukan analisis hubungan antara tingkat efisiensi teknis yang dicapai dengan produktivitas dan keuntungan usahatani cabai.
Perbedaan produktivitas yang dicapai antar daerah dapat dijadikan tolak ukur dalam upaya peningkatan produktivitas. Dengan mengacu pada daerah yang memiliki produktivitas tinggi, maka daerah yang memiliki produktivitas rendah masih memiliki peluang untuk meningkatkan produktivitasnya. Peningkatan produktivitas tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan efisiensi usahatani maupun inovasi teknologi. Pada kondisi teknologi tetap, maka peningkatan produktivitas dapat diupayakan melalui peningkatan efisiensi usahatani. Efisiensi usahatani meliputi efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi. Beberapa hasil penelitian menunjukkan produktivitas dipengaruhi oleh efisiensi teknis, sehingga upaya peningkatan produktivitas diarahkan pada peningkatan efisiensi teknis.
rendah dengan meningkatkan efisiensi teknis usahatani?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu diukur capaian tingkat efisiensi teknis yang dicapai di daerah sentra tersebut.
Keputusan dalam penggunaan input-input produksi dan alokasinya, serta pemilihan teknologi budidaya yang tepat menjadi penting untuk meningkatkan efisiensi teknis. Dengan menyesuaikan agroekosistem, maka penggunaan input pada satu daerah dapat berbeda dengan daerah lain baik jenis maupun jumlahnya. Oleh karena itu, jenis input atau faktor-faktor produksi yang paling berpengaruh nyata terhadap kegiatan usahatani perlu diketahui. Pertanyaannya adalah faktor-faktor produksi apa saja yang masih dapat ditingkatkan penggunaannya untuk meningkatkan produktivitas cabai di daerah sentra yang produktivitasnya rendah?. Salah satu teknologi baru dalam budidaya cabai adalah penggunaan mulsa plastik. Sebagian besar petani di sentra produksi cabai di Jawa Barat juga menerapkan mulsa plastik pada kegiatan budidayanya. Hasil penelitian Anjarwati
et al. (2013) melalui studi kasusnya menemukan bahwa penggunaan mulsa plastik secara signifikan mampu meningkatkan efisiensi teknis cabai merah di lahan pasir pantai. Namun, hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Saptana et al. (2011) yang menyebutkan bahwa penerapan mulsa plastik berpengaruh negatif terhadap efisiensi teknis cabai merah di Jawa Tengah. Oleh karena itu, perlu dibuktikan pengaruh penerapan mulsa plastik terhadap efisiensi teknis.
Tingkat efisiensi teknis juga dipengaruhi oleh kapabilitas manajerial petani yang meliputi faktor-faktor sosial-ekonomi petani (Kumbakhar 2002 dan Saptana
et al. 2011). Saptana et al. (2011) menyebutkan bahwa faktor sosial-ekonomi yang berpengaruh nyata terhadap efisiensi teknis cabai merah adalah rasio luas lahan garapan, pendidikan petani dan pengalaman melakukan usahatani. Dadzie dan Dasmani (2010) serta Essilfie et al. (2011) juga menemukan bahwa pendidikan dan pengalaman berhubungan positif dengan efisiensi teknis atau mendorong peningkatan efisiensi teknis. Sementara Nwaru et al. (2011) menyebutkan bahwa keanggotaan koperasi dan kunjungan penyuluh pertanian berpengaruh secara positif terhadap efisiensi teknis. Pertanyaannya adalah faktor-faktor apa saja yang memengaruhi efisiensi teknis pada usahatani cabai?.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, penting untuk melakukan penelitian tentang efisiensi teknis pada usahatani cabai dengan tujuan: (1) menduga fungsi produksi usahatani cabai, (2) menduga tingkat efisiensi teknis usahatani cabai, (3) menentukan faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi teknis usahatani cabai, dan (4) menetapkan hubungan efisiensi teknis dengan produktivitas dan keuntungan usahatani cabai.
Ruang Lingkup Penelitian
Pemilihan jenis cabai tersebut didasarkan pada jenis cabai yang secara luas dan dominan dibudidayakan di Kabupaten Bogor. Analisis difokuskan pada efisiensi teknis dan tidak menganalisis hingga efisiensi alokatif dan ekonomi. Oleh karena itu, data yang digunakan merupakan data pada tahapan budidaya atau produksi, Analisis tidak dilakukan hingga pasca panen. Sementara pada aspek pemasaran, informasi yang dikumpulkan hanya terbatas pada harga cabai untuk keperluan penghitungan keuntungan usahatani. Aspek pemasaran lebih luas tidak dibahas pada penelitian ini. Dalam pelaksanaannya penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu: data yang digunakan adalah data primer sehingga variabel-variabel yang dimasukkan pada penelitian ini menyesuaikan ketersediaan data di tingkat petani, penelitian dibatasi hanya pada data usahatani cabai tahun 2013 yaitu pengamatan dilakukan untuk output dan input tertentu pada satu periode (cross sectional data), serta pembahasan dibatasi pada hasil analisis produksi dan efisiensi teknis usahatani cabai.
2 TINJAUAN PUSTAKA
Efisiensi Teknis Usahatani Cabai
Efisiensi menjadi kata kunci untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan usahatani. Penelitian efisiensi telah banyak dilakukan oleh para peneliti dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap efisiensi teknis dan besarnya tingkat efisiensi dari suatu kegiatan produksi. Begitu pula untuk penelitian tentang efisiensi cabai. Dari beberapa hasil penelitian, tidak semua memberikan kesimpulan yang sama mengenai besarnya tingkat efisiensi teknis dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi teknis cabai. Oleh karena itu, penelitian mengenai hal tersebut masih terus dilakukan di berbagai wilayah sentra produksi cabai. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Saptana et al. (2011) terhadap komoditas cabai merah besar dan cabai merah keriting di Jawa Tengah. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa tingkat efisiensi teknis (TE) cabai merah besar tergolong tinggi dengan tingkat efisiensi teknis sebagian besar (lebih dari 50 persen pengamatan) telah mencapai TE lebih dari 0.80. Sedangkan tingkat efisiensi cabai merah keriting sebesar 0,83 persen.
negatif); (c) pendidikan petani (berpengaruh positif); dan (d) pengalaman dalam berusahatani cabai merah besar (berpengaruh positif).
Sementara itu, faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi cabai merah keriting secara positif dan nyata adalah luas lahan garapan, ZPT, kapur, TKLK dan TKDK, serta benih. Pada usahatani cabai merah besar terdapat indikasi kelebihan penggunaan pupuk N, P2O5, dan kekurangan penggunaan pupuk K2O5, ZPT, pupuk organik, kapur, dan pestisida. Sementara pada usahatani cabai merah keriting terdapat indikasi kelebihan penggunaan pupuk P2O5, fungisida, dan kekurangan penggunaan terutama benih, pupuk N, pupuk K2O, ZPT, pupuk kandang, kapur, pestisida, serta TKDK dan TKLK (Saptana et al.
2011). Berbeda dengan Saptana et al. (2011), peneliti lain mendapatkan kesimpulan berbeda yaitu terdapat tujuh variabel yang signifikan terhadap produksi cabai merah di lahan pasir pantai, yakni jumlah benih, tenaga kerja, penggunaan pupuk kotoran ayam, penggunaan pupuk NPK Mutiara, penggunaan fungisida Ampligo, jenis benih, dan penggunaan mulsa (Anjarwati et al. 2013).
Faktor-faktor yang Memengaruhi Efisiensi Teknis
Efisiensi teknis suatu usahatani dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut dapat berupa Faktor-faktor internal yang dapat dikendalikan oleh petani maupun faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan oleh petani. Pengaruh dari faktor-faktor tersebut juga dapat berupa pengaruh positif maupun negatif. Faktor-faktor yang berpengaruh positif akan meningkatkan efisiensi teknis usahatani, sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh negatif akan mengakibatkan semakin rendahnya tingkat efisiensi teknis. Penelitian efisiensi teknis di bidang pertanian telah banyak dilakukan dengan tujuan mengukur tingkat efisiensi teknis dan mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi teknis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi teknis memberikan kesimpulan yang sama antar peneliti, bertentangan, atau bahkan belum dapat disimpulkan pengaruhnya (inconclusive). Seperti hasil penelitian Gichimu et al. (2013) yang menyatakan bahwa pelatihan memiliki hubungan positif yang signifikan dengan efisiensi teknis perkebunan markisa di Highlands, Kenya. Penelitian lain yang juga mendukung bahwa faktor pendidikan dan pelatihan pertanian memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap efisiensi teknis diantaranya Hassan dan Ahmad (2005); Amaza et al. (2006); Gul et al. (2009); Kilic et al. (2009); Dadzie dan Dasmani (2010); dan Makki et al. (2012).
diberikan penjelasan mengenai pengaruh faktor-faktor sosial-ekonomi terhadap efisiensi teknis berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah ada.
Pengaruh usia dan pengalaman petani terhadap efisiensi teknis
Beberapa peneliti mengungkapkan hasil temuannya terkait hubungan usia dengan efisiensi teknis usahatani yang memiliki hubungan positif. Hal ini terkait dengan semakin bertambahnya usia petani, maka semakin banyak pengalaman bertani yang diperoleh. Seperti yang dikemukakan oleh peneliti Dadzie dan Dasmani (2010) bahwa efisiensi teknis tanaman pangan di Kabupaten Juaboso, Ghana dipengaruhi secara signifikan oleh usia. Penemuan ini didukung oleh hasil temuan Essilfie (2011) yang mengatakan bahwa usia petani berdampak positif pada efisiensi usahatani jagung skala kecil di Kota Mfantseman di Central Region Ghana.
Beberapa peneliti lain mengungkapkan hasil yang bertentangan. Peneliti Fernandez et al. (2009) dan Khan (2012) menyatakan bahwa variabel usia tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan efisiensi teknis usahatani. Khan (2012) menyatakan bahwa faktor usia berkontribusi besar dalam ketidakefisienan produksi tomat, dimana petani dengan usia yang lebih muda lebih efisien dibandingkan dengan petani yang lebih tua. Hal ini merupakan penemuan yang cukup penting mengingat petani muda umumnya lebih berpendidikan dibandingkan dengan petani yang lebih tua. Hasil tersebut diperkuat oleh hasil-hasil penelitian lain yang menemukan bahwa usia petani berpengaruh negatif terhadap tingkat efisiensi teknis, seperti Gul et al. (2009), Kilic et al. (2009), Otitoju et al. (2010), dan Effendy et al. (2013).
Beberapa peneliti menyimpulkan pengaruh yang berbeda antara faktor usia dan pengalaman. Dalam penelitiannya, Fernandez et al. (2009) menemukan bahwa usia memiliki koefisien negatif sementara pengalaman positif. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Msuya dan Ashimogo (2005) yang menemukan bahwa pengalaman menjadi prediktor yang lebih baik dalam efisiensi teknis daripada usia pada petani plasma Mtibwa Sugar Estate di Tanzania. Oleh karena itu, pemisahan kedua variabel tersebut dapat diterima dalam menduga efisiensi teknis.
Pengaruh tingkat pendidikan petani terhadap efisiensi teknis
Pendidikan petani merupakan variabel penting dalam efisiensi usahatani. Peningkatan pendidikan formal maupun non formal dapat meningkatkan kualitas pengelolaan karena menambah pengetahuan, wawasan, keterampilan, inisiatif, serta lebih berani mengambil risiko. Banyak peneliti yang mendukung bahwa peningkatan pendidikan mampu meningkatkan efisiensi usahatani seperti Battese dan Coelli (1995) pada petani padi di India; Amaza et al. (2006) yang menganalisis faktor berpengaruh pada efisiensi teknis tanaman pangan di wilayah Borno, Nigeria; Gul et al. (2009); Dadzie dan Dasmani (2010); Essilfie et al. (2011); dan Makki et al. (2012). Semua peneliti tersebut menemukan bahwa peningkatan pendidikan dapat meningkatkan efisiensi teknis usahatani.
karakteristik petani seperti pendidikan, pengalaman bertani, dan frekuensi konseling tidak dapat membantu meningkatkan efisiensi teknis pada produksi kakao di Kabupaten Sigi, Indonesia.
Pengaruh kelompok tani dan penyuluhan terhadap efisiensi teknis
Terbatasnya kemampuan petani secara individu dalam mengakses input-input produksi terutama modal telah mendorong petani untuk membentuk kelompok yang memiliki tujuan yang sama. Kelompok tani ini pada umumnya tidak berbadan hukum dan bersifat terbuka. Petani yang menjadi anggota dapat memanfaatkan fasilitas yang terdapat pada kelompok tani dengan kesepakatan bersama. Oleh karena itu, petani yang tergabung dalam kelompok tani ini umumnya adalah petani kecil. Fasilitas yang diberikan oleh kelompok tani diantaranya pinjaman modal berupa kredit, penyediaan input-input produksi, penyuluhan pertanian, dan pemasaran hasil pertanian. Bagi petani kecil fasilitas seperti ini dapat membantu kelangsungan kegiatan usahatani. Lebih jauh, adanya fasilitas tersebut dapat meningkatkan efisiensi teknis usahatani karena mampu mengatasi keterbatasan yang dimiliki petani secara individu.
Pernyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian Mapemba et al. (2013) dan Khan (2012) yang menemukan bahwa akses terhadap kredit berpengaruh positif terhadap efisiensi teknis petani tomat. Hasil penelitian serupa juga didukung oleh penemuan Bozoglu dan Ceyhan (2007) yang memberikan kesimpulan sama terhadap pengaruh kredit pada efisiensi teknis. Akan tetapi, Maganga (2012) mendapatkan hasil yang berbeda dengan menemukan tidak adanya pengaruh yang signifikan antara akses terhadap kredit dan kunjungan penyuluh pertanian terhadap efisiensi teknis. Hasil ini didukung oleh peneliti Nwaru et al. (2011) yang menemukan bahwa keanggotaan koperasi tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi teknis.
Nwaru et al. (2011) lebih jauh menjelaskan bahwa pengaruh positif terhadap efisiensi teknis justru terdapat pada kunjungan penyuluh pertanian. Penemuannya ini didukung oleh peneliti Khan (2012). Akan tetapi, peneliti Bozoglu dan Ceyhan (2007) menentang hasil ini dengan menyatakan bahwa faktor penyuluhan berpengaruh negatif terhadap efisiensi produksi petani sayuran di Turki. Sementara Maganga (2012) menemukan tidak adanya pengaruh yang signifikan antara kunjungan penyuluh pertanian terhadap efisiensi teknis.
Pengaruh perubahan teknologi terhadap efisiensi teknis
Sebelum hadirnya teknologi-teknologi baru dalam bidang pertanian, petani terbiasa menggunakan cara-cara penanganan tradisional yang kurang efisien pada kegiatan budidaya. Hadirnya teknologi baru dibidang pertanian membuat pekerjaan-pekerjaan berkenaan dengan budidaya dan pasca panen menjadi semakin cepat dan memungkinkan untuk memperluas skala usaha dengan adanya bantuan teknologi. Secara teoritis, inovasi atau perbaikan teknologi dapat menggeser kurva produksi ke atas, yang berarti pada penggunaan input-input produksi yang sama, petani yang menggunakan teknologi yang lebih tepat akan mendapatkan hasil produksi yang lebih banyak dibandingkan petani lainnya.
yang dihadapi oleh petani antara lain adalah harga pupuk yang tinggi, kekurangan air irigasi, keterbatasan investasi, minimnya pengetahuan tentang proteksi tanaman, serta sulitnya memperoleh benih yang berproduktivitas tinggi. Petani dengan skala besar memiliki efisiensi teknis tertinggi yaitu sebesar 0.77 atau di atas petani skala menengah dan kecil. Implikasinya adalah pemerintah seharusnya melanjutkan dukungannya dalam investasi publik dan teknologi untuk meningkatkan efisiensi teknis dan tingkat produktivitas. Peneliti lain yang juga mendukung pendapat bahwa teknologi berpengaruh positif pada peningkatan efisiensi teknis diantaranya Ahmad et al. (2002), Si dan Wang (2011), Srisompun dan Isvilanonda (2012), dan Yami et al. (2013).
Pendekatan Pengukuran Efisiensi Teknis Usahatani
Berbagai metode telah dicoba untuk mengukur efisiensi. Konsep efisiensi
frontier sudah sering dipakai, di mana deviasi dari frontier diasumsikan mewakili inefisiensi. Model frontier telah banyak dipakai dalam mengukur tingkat efisiensi produksi usahatani. Beberapa alasan penggunaan model frontier antara lain: (1) istilah frontier adalah konsisten dengan teori ekonomi perilaku optimisasi, (2) deviasi dari frontier dengan tujuan efisiensi teknis dan perilaku unit ekonomi memiliki interpretasi alami sebagai pengukuran efisiensi, dan (3) informasi tentang efisiensi unit ekonomi memiliki banyak implikasi kebijakan yang dapat diimplementasikan (Bauer 1990). Fungsi produksi frontier digunakan untuk lebih menekankan pada kondisi output maksimum yang dapat dihasilkan dalam proses produksi (Coelli et al. 1998).
Farrell (1957) memperkenalkan metode sederhana untuk mengukur efisiensi petani langsung dari data observasi, dalam kasus output tunggal, dengan melibatkan banyak input. Lebih lanjut Farrell (1957) mengembangkan literatur untuk melakukan estimasi empiris untuk efisiensi teknis (tehcnical efficiency/TE), efisiensi alokatif (alocative efficiency/AE), dan efisiensi ekonomi (economic efficiency/EE). Kemudian penggunaannya banyak dilakukan oleh peneliti lain diantaranya Taylor et al. (1986) serta Ogundari dan Ojo (2007). Efisiensi teknis (TE) didefinisikan sebagai kemampuan seorang produsen atau petani untuk mendapatkan output maksimum dari penggunaan sejumlah input. Efisiensi teknis (TE) berhubungan dengan kemampuan petani untuk berproduksi pada kurva batas isoquan (frontier isoquan). Apabila suatu kegiatan usahatani berada pada titik fungsi produksi frontier artinya usahatani tersebut efisien secara teknis. Jika fungsi produksi frontier diketahui maka dapat diestimasi inefisiensi teknis melalui perbandingan posisi aktual relatif terhadap frontier-nya.
Sementara itu, metode estimasi tingkat efisiensi teknis yang banyak digunakan adalah pendekatan frontier statistik stokastik atau frontier stokastik, yang dalam implementasinya menggunakan stochastic production frontier (SPF). Metode ini dalam perkembangannya banyak dipakai oleh peneliti lain seperti Ahmad et al. (2002), Jorge dan Suarez (2004), Sukiyono (2005), Amaza et al.
(2006), Bozoglu dan Ceyhan (2007), Baten et al. (2010), Chang et al. (2011), Essilfie et al. (2011), dan Gichimu et al. (2013). Di samping pendekatan parametrik Stochastic Production Frontier (SPF), banyak pula peneliti yang menggunakan pendekatan non parametrik dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Meskipun Battese (1992) dan Coelli (1995) menunjukkan bahwa
frontier parametrik lebih populer dari frontier non parametrik, namun banyak peneliti yang ternyata menggunakan pendekatan non parametrik.
Gul et al. (2009) menganalisis efisiensi teknis pertanian kapas di wilayah Cukurova, Turki dengan menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA) dengan skor efisiensi teknis dihitung menggunakan input DEA berorientasi. Analisis regresi Tobit digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penentu efisiensi teknis. Peneliti lain yang juga menggunakan DEA diantaranya Dhungana
et al. (1999) yang menjelaskan sumber inefisiensi ekonomi pada pertanian padi di Nepal. Sumber inefisiensi telah diuji dengan menggunakan analisis data
envelopment (DEA) metode dekomposisi. Indeks inefisiensi dihitung oleh DEA kemudian digunakan sebagai variabel dependen dalam model regresi Tobit dengan menggunakan atribut pengambilan keputusan sebagai variabel penjelas. Penelitian lainnya yang menggunakan pendekatan non parametrik adalah penelitian Kilic et al. (2009).
3 KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
Pada perumusan masalah diajukan beberapa pertanyaan penelitian yang mendasari dilakukannya penelitian ini. Dari hasil telaah literatur yang disajikan pada bagian tinjauan pustaka, didapatkan jawaban-jawaban dari hasil studi empiris dengan kesimpulan yang berbeda-beda. Beberapa hasil penelitian menunjukkan kesamaan hasil satu sama lain, namun tidak sedikit yang memberikan hasil saling bertentangan. Oleh karena itu, pada bagian ini akan dijelaskan teori-teori yang berhubungan dengan penelitian sebagai arahan dalam penelitian dan penyajian hasil sekaligus pembanding bagi hasil-hasil penelitian empiris. Teori-teori tersebut antara lain mengenai konsep efisiensi dan produktivitas, produksi dan fungsi produksi, serta teori lainnya yang sesuai dengan topik penelitian. Teori-teori tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.
Teori produktivitas dan efisiensi
dan pengaruhnya terhadap produktivitas. Beberapa peneliti mencoba mengemukakan sumber-sumber pertumbuhan produktivitas salah satunya Coelli
et al. (1998). Berdasarkan hasil-hasil studi empirisnya, Coelli et al. (1998) mengemukakan bahwa terdapat tiga sumber pertumbuhan produktivitas yaitu: (1) perubahan teknologi (technological change), (2) peningkatan efisiensi teknis, dan (3) skala usaha. Secara teoritis produktivitas dapat didefinisikan sebagai konsep mutlak dan diukur dengan rasio output terhadap input. Dalam pengukurannya, produktivitas dapat dibagi menjadi dua sub-konsep yaitu produktivitas faktor parsial (PFP) dan produktivitas faktor total (TFP). PFP adalah produktivitas rata-rata input tunggal, diukur dengan output total dibagi dengan kuantitas suatu input. TFP adalah produktivitas dari semua input bersama-sama. Produktivitas mengacu kepada sejumlah faktor produktivitas yang melibatkan semua faktor produksi. Produktivitas dan efisiensi sering digunakan secara bergantian, namun kedua istilah ini memiliki perbedaan.
Produktivitas tidak sama dengan efisiensi, meskipun kedua istilah ini sering dianggap sama. Produktivitas adalah konsep mutlak dan diukur dengan rasio output terhadap input, sedangkan efisiensi adalah konsep relatif dan diukur dengan membandingkan rasio aktual output input dengan rasio output input yang optimal. Pada umumnya kegiatan yang memiliki tingkat efisien tinggi akan diikuti dengan peningkatan produktivitas, namun hal ini tidak selalu berlaku.
Farrel (1957) mengemukakan bahwa efisiensi perusahaan merupakan produktivitas aktual sebuah perusahaan relatif terhadap produktivitas potensial maksimum. Produktivitas potensial maksimum (juga dikenal sebagai batas dari praktik terbaik) didefinisikan oleh frontier produksi. Pengukuran efisiensi melibatkan pengukuran jarak suatu titik observasi dengan titik frontiernya. Efisiensi dalam produksi biasanya diartikan sebagai efisiensi ekonomi atau efisiensi produksi perusahaan yang berarti perusahaan mampu memproduksi sebanyak mungkin output dari sejumlah input tertentu. Efisiensi produksi terkait dengan kinerja relatif dari proses transformasi input menjadi output.
Farrel (1957) lebih jauh menyatakan bahwa efisiensi memiliki dua komponen yaitu efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Efisiensi teknis adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan output maksimum dari sejumlah input atau kemampuan perusahaan menggunakan input sekecil mungkin untuk menghasilkan sejumlah output tertentu. Efisiensi teknis (TE) juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu petani untuk mendapatkan output maksimum dari penggunaan suatu set (bundle) input (Taylor et al. 1986, Ogundari and Ojo 2007). Efisensi teknis (TE) berhubungan dengan kemampuan petani untuk berproduksi pada kurva frontier isoquan. Dapat juga diartikan sebagai kemampuan petani untuk memproduksi pada tingkat output tertentu dengan menggunakan input minimum pada tingkat teknologi tertentu.
Efisiensi alokasi adalah kemampuan perusahaan untuk menggunakan input dalam proporsi yang optimal dengan mempertimbangkan harga setiap input dan teknologi produksi. Efisiensi alokatif (AE) juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu petani untuk menggunakan input pada proporsi yang optimal pada harga-harga faktor produksi dan teknologi produksi yang tetap (Taylor et al.
dengan nilai jualnya. Dengan kata lain, inefisiensi alokatif muncul ketika suatu perusahaan gagal untuk menyamakan rasio produk marjinal input terhadap rasio harga pasar.
Berdasarkan konsep efisiensi teknis dan alokatif, maka dapat dikatakan bahwa proses produksi tidak efisien karena dua hal (Sumaryanto 2003). Pertama, secara teknis tidak efisien karena ketidakberhasilan mewujudkan produktivitas maksimal, artinya per unit paket masukan tidak dapat menghasilkan produksi maksimal. Kedua, secara alokatif tidak efisien karena pada tingkat harga-harga masukan dan keluaran tertentu, proporsi penggunaan masukan tidak optimum. Hal ini terjadi karena produk penerimaan marginal (marginal revenue product) tidak sama dengan biaya marginal (marginal cost) masukan yang digunakan.
Gabungan kedua efisiensi teknik dan alokatif disebut efisiensi ekonomi (EE), artinya bahwa produk yang dihasilkan efisien secara teknik maupun secara alokatif. Efisiensi ekonomi adalah hasil kali dari efisiensi teknis dan alokatif. Sebuah perusahaan baik yang secara teknis maupun alokatif efisien adalah perusahaan yang efisien secara ekonomi. Secara ringkas dapat dikatakan EE sebagai kemampuan yang dimiliki oleh petani dalam berproduksi untuk menghasilkan sejumlah output yang telah ditentukan sebelumnya.
Secara empiris walaupun petani telah memiliki pengalaman panjang dalam berusahatani, namun petani tidak selalu dapat mencapai tingkat efisiensi teknis tertinggi. Hal ini dikarenakan hasil yang dicapai dalam kegiatan produksi dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal yang dapat dikendalikan oleh petani maupun faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan oleh petani. Faktor-faktor internal pada umumnya berkaitan erat dengan kapabilitas manajerial petani dalam usahatani diantaranya luas penguasaan lahan, tingkat penguasaan teknologi budidaya, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, pengalaman, umur, akses terhadap kredit, kegiatan penyuluhan, serta kemampuan petani dalam mengolah pengetahuan dan berbagai informasi agar pengambilan keputusan usahatani dilakukan dengan tepat. Sementara faktor ekternal yang berada di luar kendali petani diantaranya iklim, cuaca, hama dan penyakit, bencana alam, harga input maupun ouput produksi, dan sebagainya.
Secara teoritis, analisis efisiensi teknis dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan output (indeks efisiensi Timmer) dan pendekatan input (indeks efisiensi Kopp). Kedua indeks efisiensi tersebut menghasilkan nilai efisiensi teknis yang sama jika skala usahatani adalah konstan. Konsep efisiensi teknis dari sisi input merupakan rasio dari input atau biaya batas (frontier) terhadap input observasi. Sementara pengukuran efisiensi teknis dari sisi output merupakan rasio dari output observasi terhadap output batas. Berikut dijelaskan perbedaan kedua pendekatan tersebut.
Teoriefisiensi teknis berorientasi input
Pendekatan dari sisi input membutuhkan ketersediaan informasi harga dan kurva isoquan yang menunjukkan kombinasi input yang digunakan untuk menghasilkan output yang maksimal. Gambar 1 menjelaskan konsep pengukuran efisiensi dari sisi penggunaan input pada suatu usahatani yang menggunakan dua input x1 dan x2 untuk menghasilkan output tunggal y dengan asumsi constant
kurva SS' merupakan kurva isoquant frontier yang menunjukkan kombinasi input
x1 dan x2 yang efisien secara teknis untuk menghasilkan output y maksimal.
Titik S merupakan titik yang efisien secara teknis karena titik tersebut berada pada kurva isoquan. Titik P dan Q menggambarkan dua kondisi usahatani yang berproduksi menggunakan kombinasi input x1/y dan x2/y yang sama, karena keduanya berada pada garis yang sama dari titik 0 untuk memproduksi satu unit Y. Jika suatu usahatani berada pada titik P, maka jarak antara titik S dan P
menunjukkan adanya inefisiensi teknis yaitu jumlah input yang dapat dikurangi tanpa mengurangi jumlah output, sedangkan titik Q menunjukkan perusahaan beroperasi pada kondisi secara teknis efisien karena beroperasi pada kurva
isoquant frontier.
Gambar 1 Efisiensi teknis dan alokatif pada pengukuran orientasi inputa
a Sumber: Coelli et al. (2005)
Titik Q mengimplikasikan bahwa kegiatan usahatani memproduksi sejumlah output yang sama dengan usahatani di titik P, tetapi dengan jumlah input yang lebih sedikit. Dengan demikian, rasio OQ/OP menggambarkan efisiensi teknis (TE) usahatani P, yang menunjukkan proporsi dimana kombinasi input pada titik P dapat diturunkan sampai ke titik Q, dengan rasio input per output (X1/Y dan X2/Y) konstan, namun dengan output tetap. Sementara inefisiensi teknisnya adalah QP/OP. Nilai efisiensi teknis terletak antara 0 dan 1. Usahatani mengalami efisien teknis sempurna jika TE=1. Jika nilai TE<1, perusahaan secara teknis tidak efisien secara sempurna.
Jika harga input tersedia, efisiensi alokatif (AE) dapat dihitung. Titik R
menunjukkan rasio input-output optimal yang meminimumkan biaya produksi pada tingkat output tertentu karena slope isoquant sama dengan slope garis
isocost. Titik R dapat dikatakan efisien secara alokatif. Titik Q secara teknis efisien tetapi secara alokatif inefisien karena titik Q berproduksi pada tingkat biaya yang lebih tinggi daripada di titik Q'. Jarak RQ menunjukkan penurunan biaya produksi jika produksi terjadi di titik Q' (secara alokatif dan teknis efisien), sehingga efisiensi alokatif (AE) untuk perusahaan yang beroperasi di titik P
Teori efisiensi teknis berorientasi output
Konsep efisiensi melalui pendekatan output pada Gambar 2 menunjukkan suatu usahatani yang menghasilkan dua output (Y1 dan Y2) dengan satu input (X1). Kurva ZZ' adalah kurva kemungkinan produksi (KKP) yang menunjukkan kombinasi yang berbeda dari dua output (Y1 dan Y2) dengan menggunakan tingkat input tertentu (X1). Kurva ZZ' menunjukkan perusahaan beroperasi efisien secara teknis sehingga setiap perusahaan yang beroperasi pada tingkat produksi sepanjang kurva ZZ' merupakan perusahaan yang efisien secara teknis. Jarak AB
misalnya usahatani yang berproduksi pada tingkat A menunjukkan tingkat inefisiensi teknis, karena terletak di bawah kurva kemungkinan produksi ZZ'
dimana di sepanjang kurva tersebut jumlah output dapat ditingkatkan tanpa memerlukan input tambahan.
Gambar 2 Efisiensi pada orientasi outputa
a Sumber: Coelli et al. (2005)
Efisiensi teknis dari perusahaan yang diamati ditentukan oleh rasio jarak dari titik A ke titik asal dengan jarak titik B ke titik asal (OA/OB). Jika informasi harga diketahui, maka efisiensi alokatif dapat dihitung. Garis DD' menunjukkan kurva isorevenue yang ditarik bersinggungan dengan kurva kemungkinan produksi pada titik B'. Garis OB memotong garis DD' di titik C. Efisiensi alokatif perusahaan ditentukan oleh rasio jarak titik B ke titik asal dengan jarak titik C ke titik asal (OB/OC). Efisiensi ekonomis dari perusahaan yang diamati adalah perkalian antara efisiensi teknis dengan efisiensi alokasi. Pada umumnya, konsep efisiensi berorientasi output digunakan saat input tersedia namun petani belum optimal dalam menghasilkan output.
uit= 0 + zit + wit
dimana zi merupakan variabel penjelas yang nilainya konstan, adalah parameter yang dicari, dan wi adalah variabel acak.
Teori produksi dan fungsi produksi
Berdasarkan perumusan masalah dan tinjauan pustaka diketahui bahwa efisiensi dan produktivitas merupakan capaian dari kegiatan produksi. Dengan demikian, pemahaman mengenai konsep produksi menjadi penting untuk dipelajari. Secara teoritis produksi didefinisikan sebagai suatu hubungan teknis yang merubah input (sumberdaya) menjadi output atau hasil produksi (Debertin 2002). Input yang digunakan dalam proses produksi dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu input variabel dan input tetap. Input variabel adalah jumlah input yang berubah jika menginginkan output berubah (selama periode produksi tertentu), sedangkan input tetap adalah input yang jumlahnya tidak berubah walaupun menginginkan perubahan output (selama periode produksi tertentu). Dalam proses produksi jangka panjang, semua input yang digunakan dalam proses produksi dianggap sebagai input variabel, sedangkan dalam jangka pendek setidaknya satu input dianggap sebagai input tetap sedangkan input lainnya dianggap input variabel.
Produksi sebenarnya merupakan proses kompleks yang melibatkan banyak faktor yang tidak mudah untuk diukur. Untuk memermudah dalam penjelasan dan pengukurannya, maka digunakan pendekatan matematis untuk menyederhanakan dan memudahkan dalam memelajari proses produksi. Model matematis proses produksi dituangkan ke dalam sebuah fungsi yang dikenal sebagai fungsi produksi. Secara teoritis, fungsi produksi adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara hasil produksi fisik dengan faktor produksi. Faktor produksi merupakan masukan (input) yang dapat berupa tanah, tenaga kerja, modal dan manajemen. Beattie dan Taylor (1985) memerjelas bahwa fungsi produksi adalah deskripsi matematis atau kuantitatif dari berbagai macam kemungkinan-kemungkinan produksi teknis yang dihadapi oleh suatu perusahaan. Fungsi produksi memberikan output maksimum dalam pengertian fisik dari tiap-tiap tingkat input dalam pengertian fisik.
Secara teori, fungsi produksi dibagi menjadi dua yaitu fungsi produksi tradisional dan fungsi produksi batas (frontier). Perbedaan antara fungsi produksi tradisional dengan fungsi produksi frontier stokastik terletak pada error term-nya. Untuk fungsi produksi tradisional error term tunggal (dampak faktor eksternal dan inefisiensi tidak dapat dibedakan), sedangkan pada fungsi produksi frontier
stokastik error term dibedakan menjadi peubah acak yang tidak dapat dikendalikan berkaitan dengan faktor eksternal (perubahan cuaca atau iklim, serangan organisme penggangu tanaman/OPT) dan error term yang dapat dikendalikan yang berkaitan dengan inefisiensi teknis (berkaitan dengan kapabilitas manajeral petani).
Model matematis yang menggambarkan proses produksi ditunjukkan oleh persamaan (2).
Y = f(X1, X2)
dimana Y adalah output, X1 adalah input variabel, dan X2 adalah input tetap.
Diantara fungsi produksi yang umum dibahas dan dipakai oleh para peneliti adalah fungsi produksi Cobb Douglas. Dalam sebagian besar penelitian, fungsi produksi Cobb-Douglas telah banyak digunakan. Berdasarkan hasil-hasil studi empiris, disimpulkan bahwa kelebihan dari model fungsi produksi Cobb-Douglas yaitu:
a. Koefisien pangkat dari masing-masing fungsi produksi Cobb-Douglas menunjukkan besarnya elastisitas produksi dari masing-masing faktor produksi yang digunakan dalam menghasilkan output.
b. Merupakan pendugaan terhadap keadaan skala usaha dari proses produksi yang berlangsung.
c. Bentuk linear dari fungsi produksi Cobb-Douglas ditransformasikan dalam bentuk log e (ln), dalam bentuk tersebut variasi data menjadi sangat kecil. Hal ini dilakukan untuk mengurangi terjadinya heterokedastisitas.
d. Perhitungannya sederhana karena persamaannya dapat diubah dalam bentuk persamaan linear.
e. Bentuk fungsi Cobb-Douglas paling banyak digunakan dalam penelitian khususnya bidang pertanian.
Bentuk umum model fungsi produksi Cobb-Douglas ditunjukkan pada persamaan (3).
Y = β0 X1β1 X2β2 X3β3... Xnβn eu
dimana:
Y = jumlah produksi yang diduga 0 = intersep
n = parameter penduga variabel ke-i dan merupakan elastisitas Xi = faktor produksi yang digunakan (i = 1, 2, 3, ..., n)
e = bilangan natural (2,718) u = kesalahan (disturbance term)
Pendugaan terhadap fungsi produksi akan lebih mudah dilakukan jika persamaan diubah menjadi bentuk linear berganda dengan cara melogaritmakan persamaan tersebut. Logaritma dari persamaan di atas dapat ditulis seperti persamaan (4).
log Y = log β0+β1 log X1+β2 log X2+β3 log X3+...+βn log Xn+u
atau dapat ditulis dalam bentuk logaritma natural (ln) seperti persamaan (5). ln Y = ln β0+β1 ln X1+β2 ln X2+β3 ln X3+...+βn ln Xn+u
Nilai 1, 2, 3, ..., n pada fungsi produksi Cobb-Douglas adalah sekaligus menunjukkan elastisitas X terhadap Y.
….… (4)
…..…... (5)
…..…...…… (γ)
Meskipun bentuk fungsi Cobb-Douglas relatif mudah diubah ke dalam bentuk linier sederhana, namun berkenaan dengan asumsi yang melekat padanya, bentuk Cobb-Douglas mempunyai beberapa keterbatasan diantaranya: (1) memiliki elastisitas produksi konstan, (2) elastisitas substitusi inputnya bersifat elastis sempurna, atau (3) elastisitas harga silang untuk semua faktor dalam kaitannya dengan harga input lain mempunyai besaran dan arah yang sama, (4) elastisitas harga input terhadap harga output selalu elastis, dan (5) tidak dapat menduga pengamatan yang bernilai nol atau negatif.
Teori fungsi produksi stochastic frontier
Ada dua konsep fungsi produksi yang perlu diperhatikan perbedaannya dalam mengukur efisiensi yaitu fungsi produksi batas (frontier production function) dan fungsi produksi rata-rata (average production function). Menurut Coelli et al. (1998) pada umumnya kajian empirik mengenai fungsi produksi menduga hubungan input dan output tersebut menggunakan metode least square
sehingga menghasilkan fungsi produksi rata-rata dan bukan produksi maksimum. Fungsi produksi batas menunjukkan kemungkinan produksi tertinggi yang dapat dicapai oleh petani dengan menggunakan faktor produksi tertentu pada tingkat teknologi tertentu.
Fungsi produksi frontier diturunkan dengan menghubungkan titik-titik output maksimum untuk setiap tingkat penggunaan input sehingga fungsi produksi tersebut mewakili kombinasi input-output secara teknis paling efisien dan setiap titik pada kurva produksi frontier menunjukkan kondisi tercapainya efisiensi teknis pada suatu usahatani. Berdasarkan konsep tersebut maka di dalam fungsi produksi frontier tidak diijinkan terjadi negative gap atau tidak ada observasi di bawah fungsi produksi frontier. Sementara usahatani yang berproduksi di sepanjang kurva produksi rata-rata belum tentu yang paling efisien karena kemungkinan terdapat usahatani yang mampu berproduksi di atas kurva atau lebih besar dari produksi rata-rata.
Model fungsi produksi stochastic frontier (stochastic production frontier) diperkenalkan oleh Aigner et al. pada tahun 1977. Model stochastic frontier
merupakan perluasan dari model asli deterministik untuk mengukur efek-efek yang tidak terduga (stochastic effects) di dalam batas produksi. Pendekatan
stochastic frontier menghasilkan dua kondisi secara simultan yakni faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi dan sekaligus inefisiensi petani.
Konsep efisiensi dari sisi input dan output yang akan dibahas dalam fungsi produksi stochastic frontier secara terintegrasi membutuhkan sebuah fungsi yang bersifat homogen. Fungsi produksi yang memenuhi kriteria homogenitas adalah fungsi produksi Cobb-Douglas karena dalam Cobb-Douglas berlaku asumsi constant return to scale. Selain itu bentuk fungsi produksi ini mengurangi terjadinya heterokedastisitas dan bentuk fungsi Cobb-Douglas paling banyak digunakan dalam penelitian, khususnya penelitian bidang pertanian. Oleh karena itu, dalam penelitian ini fungsi produksi yang digunakan dalam menduga produksi frontier adalah fungsi produksi stochastic frontier Cobb-Douglas.
Ln Yit= β0 + ji i n
i
i X
ln 1
Aigner dan Chu (1968) mempertimbangkan estimasi parametrik frontier
dari fungsi produksi Cobb-Douglas dengan menggunakan data atas sejumlah N
sampel dari suatu usahatani. Dalam fungsi produksi stochastic frontier
ditambahkan random error vi ke dalam variabel acak non negatif ui. Dengan penambahan random error vi ke dalam variabel acak non negatif ui, maka fungsi produksi stochastic frontier disebut juga sebagai composed error model karena mempunyai dua komponen error term, yaitu disebabkan oleh random effects (vi) dan inefisiensi teknis (ui), dimana i = vi– ui. Sehingga bentuk umum persamaan
stochastic frontier menjadi seperti pada persamaan (7):
Ln Yit= βXit + (vit– uit), i = 1,2,3,...,n
dimana:
Yit = produksi yang dihasilkan petani i pada waktu t Xit = vektor masukan yang digunakan petani i pada waktu t
i = vektor koefisien parameter yang akan diestimasi
Vit = variabel acak yang berkaitan dengan faktor-faktor eksternal, sebaran simetris, dan menyebar normal (vit ~ N(0,v2))
Uit = variabel acak non negatif yang diasumsikan memengaruhi tingkat inefisiensi teknis dan berkaitan dengan faktor-faktor internal dengan sebaran bersifat setengah normal ( ui ~ | N(0,u2)| ).
Variabel i pada model fungsi produksi stochastic frontier Cobb-Douglas adalah variabel spesific error term dari observasi ke-i. Variabel acak vi berfungsi untuk menghitung ukuran kesalahan dan faktor acak lainnya yang termasuk di luar kontrol petani (faktor eksternal) seperti cuaca, serangan hama, bencana alam, dan sebagainya yang tidak terdefinisi di fungsi produksi. Variabel vi merupakan variabel acak bebas (random shock) yang secara identik terdistribusi normal dengan rataan (μi) bernilai nol dan variansnya konstan atau N(0,v2), simetris serta bebas dari ui.
Variabel ui disebut sebagai one side disturbance yang berfungsi untuk menangkap efek inefisiensi yang merefleksikan komponen galat (error) yang sifatnya internal (dapat dikendalikan petani) dan biasanya berkaitan dengan kapabilitas managerial petani dalam mengelola usahataninya. Variabel ui juga merupakan variabel acak non negatif dengan sebaran asimetris yakni ui ≥ 0. Jika
proses produksi berlangsung efisien maka keluaran yang dihasilkan berimpit dengan potensi produktivitas maksimal untuk the best practice yang berarti ui = 0 sementara jika ui > 0 berarti berada di bawah potensi maksimumnya tersebut.
……….. (6)