Kelurahan Cempaka, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan
3) Keragaman Plankton Planktonik dan Kualitas Air
Menurut Dawes (1981), salah satu ciri khas organisme plakton yang merupakan dasar mata rantai pakan di perairan. Plankton merupakan mata rantai utama dalam rantai makanan di perairan, oleh karenanya plankton dalam perairan mempunyai peranan sangat penting. Keberadaan plankton diperairan disamping berfungsi sebagai pakan bagi biota air dapat pula berperan sebagai salah satu ari parameter biologis yang dapat menggambarkan kondisi suatu perairan. Oleh karena itu, kehadirannya disuatu perairan dapat menggambarkan karakteristik suatu perairan apakan perairan dalam keadaan subur atau tidak. Raynolds et al., (1984), mengemukakan bahwa kelimpahan plankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan dan karakteristik fisiologinya.
Keragaman biota air planktonik dalam perairan Sungai Tiung dipengaruhi oleh kualitas air sungai, dimana keragaman yang rendah terjadi karena pengaruh nilai parameter kualitas air, terutama kadar TSS dan Fe yang tinggi dan tidak memenuhi BMA yang dipersyaratkan. Hasil studi Febri Hermawan (2019) mengguna-kan PCA (Principal Component Analysis) menunjukan bahwa nitrat, DO, pH dan kecerahan berkorelasi positif dengan kelimpahan phytoplankton sedangkan fosfat berkorelasi negatif dengan kelimpahan phytoplankton.
Dari sejumlah parameter kualitas air yang diukur dan dianalisa, maka parameter TSS diduga memiliki hubungan yang kuat dengan keragaman plankton, karena berdasarkan teori keberadaan
128 plankton tertama phytoplankton berhubungan dengan TSS untuk proses fotosintesis. Hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian Ardian Dwi Pratama (2019) pada perairan teluk, dimana berdasarkan hasil uji regresi linear sederhana, hubungan kandungan TSS dengan kelimpahan plankton menunjuk-kan hubungan negatif yang kuat, artinya dengan meningkatnya menunjuk-kandungan TSS maka kelimpah-an plankton di perairan akan menurun. Namun ternyata tidak demikian dengan hubungan antara TSS dengan kelimpahan dalam perairan mengalir (lotic). Hal ini ditunjukkan dari hasil uji korelasi-regresi yang menyatakan bahwa pada kondisi cerah nilai signifikan (Sig.(2 tailed) sebesar 0,556 lebih besar dari 0,05 dan kondisi hujan nilai signifikan (Sig.(2 tailed) sebesar 0,492 lebih besar dari 0,05 maka disimpulkan bahwa antara kedua variabel tidak berkorelasi. Selanjutnya derajat hubungan antara kedua variabel pada kondisi cerah (-0,444) berarti tidak ada korelasi, sedangkan saat kondisi hujan (0,508) berarti nilai Pearson Correlation (PC) berada diantara kisaran 0,41 s/d 0,60 berarti korelasi sedang. Perbandingan PC (-0,444) dengan r tabel (0,950) saat kondisi cerah disimpulkan tidak berhubungan karena PC < r tabel, kemudian saat kondisi hujan PC (0,508) < r tabel (0,950), maka disimpulkan tidak berhubungan. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dari grafik hubungan antara parameter kualitas air TSS dengan kelimpahan plankton seperti pada Gambar 5.
Kelimpahan dan TSS
Titik Sampling Kondisi Cerah
Kadar TSS (mg/L)
Kelimpahan Phytoplankton (=N) (sel//L)
Kelimpahan Zooplankton (=N) (ind//L)
129 Gambar 5. Hubungan TSS dengan Kelimpahan Plankton Disepanjang Aliran Sungai Tiung Saat
Kondisi Cerah dan Hujan
Gambar 5 (atas=saat kondisi cerah) menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif (-0,444) dan lihat pada Gambar 6 yang menurun. Saat kondisi hujan (bawah=saat kondisi hujan) menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif (0,508) dan lihat juga Gambar 7 yang meningkat.
Kelimpahan dan TSS
Titik Sampling Kondisi Hujan
Kadar TSS (mg/L)
Kelimpahan Phytoplankton(=N) (ind/L)
Kelimpahan Zooplankton(=N) (ind/L)
130 Gambar 6. Regresi-Korelasi TSS dengan Kelimpahan Saat Kondisi Cerah
131 Gambar 7. Regresi-Korelasi TSS dengan Kelimpahan Saat Kondisi Hujan
Adanya hubungan antara TSS dengan kelimpahan saat kondisi hujan meskipun dalam korelasi sedang ditunjukkan dibagian awal, dimana kadar TSS yang tinggi diikuti kelimpahan yang tinggi pula, kemudian saat kadar TSS menurun, maka nilai kelimpahan juga menurun, namun seterusnya saat kadar TSS meningkat diikuti oleh kelimpahan yang menurun.
Pada beberapa lokasi titik sampling hubungan antara kadar TSS dengan kelimpahan dalam perairan Sungai Tiung sesuai dengan teori, dimana dengan kandungan TSS yang tinggi menyebabkan kelimpahan plankton dalam perairan menurun, namun pada titik sampling lainnya sebaliknya.
Tingginya nilai padatan tersuspensi, akan menghambat intensitas cahaya matahari masuk ke perairan sekaligus menghambat pertumbuhan fitoplankton. Hal ini senada dengan pernyataan Febriyati et al.
(2012) yang menyebutkan bahwa semakin tinggi nilai zat padat tersuspensi pada suatu perairan, maka akan mempengaruhi proses fotosintesis pada fitoplankton dan kelimpahannya.
132 Korelasi antara parameter kualitas air dengan keragaman planktonik hanya terjadi pada perairan teluk yang tidak banyak dipengaruhi oleh arus dan dalam kondisi yang masih baik kualitasnya, sebaliknya pada perairan mengalir (sungai) terlebih pada perairan sungai yang sudah rusak kondisi ekologisnya, maka hubungan antara kedua variabel relatif tidak korelasi.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam penyelesaian studi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat, teruma kepada Allah SWT dengan segala rahmat serta karunia-Nya, kedua Orang Tua dan keluarga Saya, Rektor ULM, Dekan FMIFA, Ketua Prodi Biologi FMIPA, Bapak Dr.Drs.Krisdianto, M.Sc sebagai Ketua Pembimbing, Ir.H.Muhammad Adriani, M.Sc sebagai dosen Pembimbing I & II, Anang Kadarsyah, S.Si.,M.Si dan Ibu Sasi Gendro Sari, S.Si., M.Sc. sebagai dosen penguji I dan II, , Laboratorium BBTKL&PM Banjarbaru, Laboratorium Barinstand Banjarbaru, Laboratorium Biota Air Banjarbaru, serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Semoga Allah memberikan ganjaran yang setimpal atas jasa baiknya, sehingga saya dapat menyelesaikan studi dan semoga llmu yang diperoleh dapat memberikan kontribusi terhadap perbaikan kondisi sumber daya alam yang ada di negara kita yang tercinta ini.
Daftar Pustaka
Badan Standarisasi Nasional. 1994. Metode Pengujian Jenis dan Jumlah Hewan Benthos. Standar Nasional Indonesia. SNI 03-3401-1994. Jakarta.
Badan Standarisasi Nasional. 1995. Metode Pengujian Jenis dan Jumlah Plankton Dalam Air. Standar Nasional Indonesia. SNI 06-3963-1995. Jakarta.
Badan Standarisasi Nasional. 1998. Teknik Pengambilan Percontoh Plankton Pada Badan Perairan Umum. Standar Nasional Indonesia. SNI 13-4717-1998. Jakarta.
Badan Standarisasi Nasional. 1998. Tata Pengambilan Percontoh Benthos Pada Badan Perairan Umum. Standar Nasional Indonesia. SNI 13-4718-1998. Jakarta.
Badan Standarisasi Nasional. 2004. Tata Cara Pengambilan Contoh Dalam Rangka Pemantauan Kualitas Air Pada Suatu Daerah Pengaliran Sungai. Standar Nasional Indonesia. SNI 03-7016-2004. Jakarta.
133 Dhia, D.I., 2019.Evaluasi Dampak Lingkungan Tambang Intan Rakyat Di Desa Pumpung, Cempaka, Terhadap Kualitas Air Sungai Tiung, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Program Studi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Yogyakarta. Skripsi.
Febri Hermawan, 2019. Hubungan Faktor Fisika Kimia Perairan Dengan Kelimpahan Fitoplankton Di Perairan Belawan Provinsi Sumatera Utara. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Skripsi.
Indrayatie, Eko Rini, 2011. Dampak Pasca Penambangan Intan Terhadap Kualitas Tanah Dan Air Di Kelurahan Palam,Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru Kalsel. Jurnal Hutan Tropis. Volume 12 Nomor 31 Edisi Maret 2011 Tahun XII ISSN 1412-4645.
Krebs, C.J. 1985. Ecology: The Experimental Analysis of Distribution and Abundan-ce. Third edition.
Haeper and Row Publisher, New York.
Krebs, C. J. 1989. Ecological Methodology. Harper Collins Publisher. New York. 649p.
Lee CD, Wang SB dan Kuo CL. 1978. Benthic Macroinvertebrate and Fish as Biological Indicators of Water Quality, With Reference of Community Diversity Index. International Conference on Water Pollution Control in Development Countries. Bangkok.
Magurran AE. 1987. Ecological Diversity and Its Measurement. London: Chapman and Hill.
Needham, J.G dan Needham, P.R., 1963. A Guide to the Study of Fresh-Water Biology. Fith edition, revised and enlarget. Holden-Day, Inc., San Francisco. 107p.
Wardhana Wisnu., 1997. Teknik Sampling, Pengawetan dan Analisis Plankton. [Jurnal] Jakarta : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. 12 halaman.
Wilhm, Jerry L., Dorris, Troy C., 1968. Biological Parameters for Water Quality Criteria, BioScience, Volume 18, Issue 6, , Pages 477–481.
134