Hasil dan Pembahasaan
Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3
Araneae Hymenoptera Orthoptera Hemiptera Blattaria
140 rufescens dari Sacariidae, Dichromorpha viridis dari Acrididae, family Blatiddae, Comptopus lateralis dari family Alydinae, dan Anoplocnemis sp. dari family Coredae.
Jenis serangga yang paling mendominasi terdapat pada golongan atau family Formacidae, kemudian disusul oleh family Sicariidae, Acrididae dan Gryllidae. Ketiga family tersebut selalu ditemukan pada setiap ulangan jebakan dengan metode pitfill trap. Serangg tanah dengan nama spesies Anoplolepis gracilipes dan Componotus sp. merupakan serangga tanah yang selalu ditemukan pada setiap ulangan, hal ini dikarenakan jenis serangga tersebut termasuk ke dalam family Formacidae dari ordo Hymenoptera. Serangga ini aktif pada permukaan tanah untuk mencari makan dan tinggal di atas pohon dan membuat sarang semut. Hidupnya yang secara berkoloni dan tersusun dalam kasta-kasta sehingga memiliki jumlah yang sangat banyak merupakan salah satu faktor banyaknya individu dari family Formacidae yang didapat. Hidup secara berkoloni membuat serangga ini memiliki peluang untuk mempertahankan hidupnya semakin meningkat.
Kemudian, kelompok dari family Gryllidae dan Acrididae termasuk ordo Orthoptera merupakan jenis serangga yang juga ditemukan pada setiap ulangan. Selain dikarenakan pertumbuhan populasinya yang tinggi, juga dikarenakan serangga ini hidup sebagian atau seluruh hidupnya di permukaan tanah. Golongan serangga ini termasuk kelompok temporal yaitu golongan serangga yang bertelur di dalam tanah, dan akan keluar setelah menetas dan berkembang menjadi dewasa. Selain itu, pada umumnya kelompok serangga tanah ini menyukai tanah yang kering atau tidak berlumpur untuk mereka bertelur [4]. Pernyataan itu sesuai dengan kondisi lokasi pengamatan yang bertekstur kering dan berkerikil. Selanjutnya, kelompok lain yang juga selalu ditemukan pada setiap ulangan jebakan yaitu Loxossceles rufescens dari famili Sicariidae, ordo Araneae. Sebagai informasi, Sicariidae tidak termasuk ke dalam kelas insekta, tetapi masuk ke dalam kelas Arachnida.
Karena adanya vegetasi berupa semak dan perdu seperti tanaman prasman (Eupatorium triplinerve ) yang ada disekitar plot atau lokasi pengamtan diperkirakan salah satu faktor ditemukannya spesies ini. Tanaman perdu tersebut bisa dijadikan sebagai sarana untuk tempat membuat jaring atau sarang.
Ordo Araneae merupakan golongan predator yang biasanya memakan serangga-serangga kecil, sedangkan ordo dengan jumlah spesies paling sedikit adalah ordo Blattaria yaitu hanya terdapat satu spesies saja, hal ini diperkirakan karena adanya pengaruh habitat, dimana aktivitas hidup dari ordo tersebut tidak selalu berada di atas permukaan tanah. Blattaria sering ditemukan di bawah serasah tanah, buah yang membusuk, dan batang kayu yang lapuk. Berdasarkan kehadirannya, ordo ini juga
141 termasuk kelompok temporal yaitu golongan serangga yang memasuki tanah dengan tujuan bertelur, setelah menetas dan berkembang menjadi dewasa, serangga akan keluar dari tanah [5].
Kawasan Zona Terbuka yang digunakan sebagai lokasi pengamatan serangga tanah memiliki tekstur tanah kering, berkerikil, dan vegatasi disekitarnya dikelilingi tanaman perdu. Selain itu, lokasi ini juga berdekatan dengan embung KR-Banua dan jarang didatangi pengunjung. Serangga tanah yang ditemukan di Zona Terbuka KR-Banua, provinsi Kalimantan Selatan tentunya memiliki peran terhadap lingkungan pada zona tersebut. Serangga tanah yang ditemukan terdiri dari 5 ordo yaitu Araneae, Hymenoptera, Hemiptera, Orthoptera, dan Blattaria.
Ordo Araneae (laba-laba) cukup banyak ditemukan pada pengamatan ini, hal diperkirakan karena lokasi pengamatan yang bervegatasi semak dan tumbuhan perdu. Laba-laba memiliki hubungan erat denga karakteristik komunitas tumbuhan perdu tersebut. Laba-laba akan membuat jaring pada tumbuhan perdu, khususnya tanaman prasman yang ada di lokasi pengamatan sebagai tempat menangkap mangsa ataupun sebagai sarang/tempat berlindung. Ordo Araneae yang ditemukan di Zona Terbuka Kebun Raya Banua mememiliki peran penting sebagai pengendali alami serangga hama. Araneae (laba-laba) merupakan predator generalis sehingga berpotensi untuk menekan perkembangan populasi hama yang ada di perkebunan atau lokasi pengamatan tersebut [6].
Famili Formicidae dari ordo Hymenoptera merupakan kelompok serangga tanah yang paling mendominasi. Formicidae memiliki peran penting dalam ekosistem permukaan tanah di mana kelompok serangga ini berperan sebagai musuh alami atau serangga predator. Serangga ini akan memakan serangga kecil dari jenis lain yang ada pada tanaman [7]. Selain berperan sebagai predator, semut (Hymenoptera: Formicidae) juga berperan sebagai pemakan bahan organik tanah [8].
Kemudian, ordo Hemiptera dan Ortophtera memiliki peran sebagai hama karena sifatnya yang parasite ataupun polifag pada tanaman dan serangga jenis lain [5]. Sedangkan Blattidae dari ordo Nocticolidae berperan sebagai dekomposer yang sangat penting dalam proses jaringan makanan, dimana hasil penguraian akan dimanfaatkan sebagai sumber makanan bagi tanaman. Perlu diketahui peran serangga tanah sebagai sumber makan dan pelindung bagi tanaman sangat kecil kemungkinannya, sebaliknya tanaman berperan besar sebagai pakan dan tempat berlindung bagi seraangga tanah. Akan tetapi, serangga tanah cukup berperan besar sebagai vector tanaman tingkat rendah [9].
142 Kehadiran serangga tanah di permukaan tanah tentunya dipengaruhi beberapa faktor lingkungan, faktor abiotik dan biotik. Faktor lingkungan dibagi menjadi 2 yaitu faktor mikro dan faktor makro lingkungan permukaan tanah. Faktor mikro diantaranya adalah ketebalan serasah, kandungan bahan organik, pH, kesuburan tanh, jenis tanah, kepadatan tanah, dan kelembapan tanah.
Sedangkan faktor makro antara lain geologi, iklim, ketinggian tempat, jenis tumbuhan, dan penggunaan lahan [5].
Faktor abiotik dan biotik berhubungan satu sama lain dalam suatu ekosistem guna menetukan kehadiran, kelimpahan, dan tampilan organisme. Faktor biotik yang dapat mempengaruhi serangga tanah seperti adanya kehadiran suatu organisme lain dalam ekosistem permukaan tanah. Faktor ini akan mempengaruhi jenis serangga tanah yang dapat hidup di habitat tersebut. Kemudian, faktor abiotik yang akan mempengaruhi serangga tanah antara lain, suhu udara, kelembapan udara, kelembapan tanah, dan intisitas cahaya [10]. Selain itu, menurut Usman (2017), ada 6 faktor abiotik yang saling berinteraksi untuk menentukan derajat naik turunya keragaman jenis serangga yaitu waktu, heterogenitas ruang, kompetesi, pemangsa, kestabilan iklim, dan produktivitas. Kekurangan penelitian dalam kerja praktik ini adalah tidak dilakukannya pengamatan parameter terhadap faktor lingkungan yang mempengaruhi keberadaan serangga tanah. Sehingga, untuk kegiatan kerja praktik yang berhubungan dengan pengamatan serangga tanah selanjutnya diharapakan melakukan analisis parameter lingkungan di lokasi pengamatan guna mendukung hasil pengataman yang didapat.
Serangga tanah yang ditemukan pada Zona Terbuka KR-Banua, Kalimantan Selatan sendiri diperkirakan karena beberapa faktor salah satunya adanya vegetasi tanaman yang cenderung semak dan perdu pada sekitar lokasi pengamatan, jenis tanah yang kering, berpasir dan berkerikil, serta pemberian pupuk organik. Vegetasi tanaman memberikan pengaruh terhadap keragaman jenis serangga tanah yang ditemukan, dimana serangg tanah yang dominan ditemukan pada lokasi pengamatan terdiri ordo Hymenoptera, Araneae, dan Orthopterea. Kemudian jenis tanah pada lokasi pengamatan cenderung kering, berpasir, dan berkerikil, kondisi ini mendukung kehidupan organisme dari family Formicidae, Arcrididae, dan Gryllidae. Hal tersebut didukung oleh literature yang menyatakan bahwa serangga permukaan tanah dari golongan Formicidae, Arcrididae, dan Gryllidae lebih menyukai tanah yang kering atau tidak berlumpur [4].
Sekedar informasi, berdasarkan hasil penjelasan dari beberapa pengelola Kebun Raya Banua (Zona Terbuka) mengatakan bahwa dalam perawatan kebun, pengelola hanya menggunakan pupuk
143 organik berupa kotoran ayam. Hal ini juga diperkirakan salah satu faktor yang mempengaruhi keanekaragaman serangga tanah pada zona tersebut. Pemupukkan digunakan dengan tujuan untuk membasmi hama tanaman perkebunan misalnya dari golongan Orthoptera (Belalang ) dan Celeopatra (kumbang), kedua serangga tersebut merupakan serangga hama yang bersifat polifag atau pemakan bermacam-macam jenis tumbuhan yan mengakibatkan kerusakkan pada tanaman. Akan tetapi, berdasarkan informasi usaha tersebut dirasa masih kurang efisien dalam membasmi serangga hama pada tanaman perkebunan.
Serangga tanah yang ditemukan di Kebun Raya Banua tentunya memiliki manfaat berdasarkan perannya. Seperti spesies dari golongan Araneae dan Hymenoptera yang merupakan serangga yang paling banyak ditemukan. Kedua golongan atau ordo ini merupakan predator generalis sehingga dapat dimanfaatkan dalam mengendalikan hama serangga guna mengurangi resiko terhadap kesehatan dan kerusakan lingkungan pada ekosistem Kebun Raya Banua [6]. Selain itu, semut (Hymenoptera) juga bermanfaat dalam menyuburkan tanah hal ini dikarenakan peran lain yang dimiliki semut yaitu sebagai pengurai, baik secara sendiri maupun bersimbiosis dengan tumbuhan dan berbagai organisme lainnya. Menurut Supriati et al (2019), aktivitas semut dalam mencari dan mengumpulkan bahan makanan di sarang, ikut memicu bertambahnya kesuburan tanah di sekitar sarang semut. Kemudian, semut juga dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator dalam perubahan habitat suatu kawasan untuk melihat perubahan pada lingkungan [11].
Serangga tanah lain yang memiliki manfaat yaitu dari golongan Blattaria. Blattaria dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator keseburan tanah pada lokasi pengamatan karena perannya yang merupakan serangga detritivor [3]. Serangga detritivor adalah serangga pemakan sampah, sehingga sisa makanannya dapat dikembalikan sebagai pupuk di dalam tanah. Ordo Blattaria sangat berguna dalam proses jaring makanan, hasil uraiannya akan dimanfaatkan oleh tumbuhan [4]. Diketahuinya peranan dan manfaat dari serangga yang ditemukan di Zona Terbuka Kebun Raya Banua ini, menunjukkan bahwa kondisi tanah di lokasi pengamatan tersebut cukup subur, sehingga berpotensi untuk ditanami tanaman lainnya.
Berdasarkan pembahasan di atas, data hasil identifikasi serangga tanah yang di temukan di zona Terbuka Kebun Raya Banua, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai data informasi bagi pihak pengelola UPT Kebun Raya Banua, Kalimantan Selatan, untuk dijadikan bahan rujukkan dalam mengkaji serangga tanah lebih lanjut, salah satunya sebagai rujukkan bioindikator kesuburan tanah di
144 kawasan Kebun Raya Banua. Dengan ini, tentunya juga akan mendukung tujuan reklamasi tanah pasca tambang intan tradisional di kawasan tersebut ( UPT Kebun Raya Banua, Provinsi Kalimantan Selatan). Kemudian , adanya pengamatan identifikasi serangga tanah di Kebun Raya Banua juga bermanfaat sebagai tambahan variasi penelitian yang pernah dilakukan di Kebun Raya Banua dan dapat dijadikan sumber referensi belajar , serta dapat meningkatkan standar 5 fungsi Kebun Raya Banua, salah satunya sebagai tempat kegiatan penelitian.
Kesimpulan
Hasil dari penelitian menunjukkan serangga tanah yang teridentifikasi terdiri dari 5 ordo, 7 famili, dan 9 spesies. Serangga tanah yang paling mendominasi yaitu Formicidae dari Ordo Hymenoptera, sedangkan yang paling sedikit yaitu Blattidae dari Ordo Hemiptera dan Alydinae dari ordo Hemiptera. Jenis-jenis serangga tanah yang ditemukan memiliki manfaat dan peran masing-masing dan kehadirannya di Zona Terbuka KR-Banua dipengaruhi beberapa faktor lingkungan seperti vegetasi tumbuhan, jenis tanah, dan cuaca. Serangga tanah yang ditemukan menggambarkan kesuburan tanah di Zona Terbuka KR-Banua, sehingga dapat dijadikan sebagai bioindikator keseburan tanah untuk pengamatan lebih lanjut.
Daftar Pustaka
[1] Dodo and S. Agung, “Kiprah Kebun Raya Dalam Menjalankan Lima Fungsi,” War. Kebun Raya Ed. Khusus, vol. 18, no. 1, pp. 502–515, 2020.
[2] A. A. Usman, “Identifikasi Serangga Tanah Di Perkebunan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan,” Makassar, 2017.
[3] I. D. Pratiwi, D. A. Arisandy, and Y. Febrianti, “Keanekaragaman Serangga Permukaan Tanah Di Kebun Kopi Desa Belumai Kecamatan Padang Ulak Tanding Kabupaten Rejang Lebong,”
Sumatera Selatan, 2018.
[4] N. Gesriantuti, Y. Badrun, and O. Lestari, “Keanekaragaman dan Peranan Serangga
Permukaan Tanah Pada Ekosistem Mangrove di Desa Sungai Rawa ,” Lp2M-Umri, vol. 1, no.
5, pp. 44–50, 2016.
[5] D. Bangli and K. Baturiti, “Diversitas Serangga Permukaan Tanah Pada Pertanian Hortikultura
145 Organik Di Banjar Titigalar, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan-Bali,” J.
Biol. Udayana, vol. 18, no. 1, pp. 28–32, 2015, doi: 10.24843/jbiounud.
[6] R. T. Maramis, “Diversitas Laba-laba (Predator Generalis) pada Tanaman Kacang Merah (Vigna angularis) di Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa,” J. Chem. Inf. Model., vol.
53, no. 9, pp. 1689–1699, 2014.
[7] S. Utami, “Identifikasi Keanekaragaman Serangga pada Perkebunan Jeruk Pamelo di Desa Bandar, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan Sebagai Bahan Penyusunan LKS Pokok Bahasan Keanekaragaman Hayati,” J. Chem. Inf. Model., vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2019, [Online]. Available: http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JP/article/download/165/139.
[8] F. Soesanthy and I. M. Trisawa, “Pengelolaan Serangga-Serangga Yang Berasosiasi Dengan Tanaman Jambu Mete,” Bul. RISTRI, vol. 2, no. 2, pp. 221–230, 2011.
[9] N. Anas, W. Prihanta, and P. Wahyono, “Kelimpahan dan keanekaragaman makrofauna tanah pada lahan agroforestri kopi dan perkebunan kopi di kawasan Lereng Gunung Ijen Kabupaten Bondowoso,” Cambridge Univ. Press, vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2019.
[10] L. M. A. Villela, “Identifikasi Insekta dihutan pantai kondang merak sebagai sumber belajar Biologi,” J. Chem. Inf. Model., vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2013.
[11] R. Supriati, W. P. Sari, and N. Dianty, “Identifikasi Jenis Semut Famili Formicidae Di Kawasan Taman Wisata Alam Pantai Panjang Pulau Baai Kota Bengkulu,” Konserv. Hayati, vol. 15, no. 1, pp. 1–9, 2019, doi: 10.33369/hayati.v1i1.10941.
146